Claim Missing Document
Check
Articles

Strategi Komunikasi Humas Galeri Nasional Indonesia (Studi Kasus pada Pameran Trienal Seni Patung Indonesia #3 “SKALA”) Agnes Yunita; Sinta Paramita
Prologia Vol 1, No 2 (2017): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v1i2.1932

Abstract

Museum dianggap sebagai tempat yang menyeramkan, gelap dan sepi sehingga kurangnya minat masyarakat untuk datang berkunjung. Hal tersebut membuat humas Galeri Nasional Indonesia melakukan perencanaan agar dapat menarik pengunjung untuk datang melalui special event yang akan diadakan berupa pameran. Pameran tersebut menjadi program utama karena diadakan setiap tiga tahunnya yaitu Pameran Trienal Seni Patung Indonesia #3 “SKALA”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana strategi komunikasi yang dilakukan oleh Humas Galeri Nasional Indonesia melalui pameran yang akan diadakan. Teori yang digunakan adalah teori komunikasi, strategi komunikasi public relations, special event. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif bersifat deskriptif dengan jenis penelitian studi kasus. Data diperoleh melalui hasil observasi dan wawancara melalui empat narasumber yaitu Kepala Seksi Pameran dan Kemitraan, humas bagian media sosial dan digital, humas bagian publikasi dan media massa, serta pengunjung yang kemudian akan dianalisis dengan sumber lain melalui studi kepustakaan dan diperkuat dengan adanya dokumentasi. Hasil dari penelitian ini bahwa perlunya strategi komunikasi yang dilakukan pada museum terutama Galeri Nasional Indonesia melalui pameran.
Komunikasi Pemasaran Terhadap Brand Awareness Brand Rockickz Kevin Kevin; Sinta Paramita
Prologia Vol 4, No 1 (2020): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v4i1.6456

Abstract

Marketing communication is a means by which companies try to inform, persuade, and remind consumers directly or indirectly about the products and brands that are sold. Marketing communication theory covers several marketing communication mixes consisting of advertising, direct marketing, sales promotion, personal selling, interactive marketing, public relations. The purpose of the marketing communication mix is to create brand awareness. This brand awareness is the ability of consumers to recognize or remember a brand, including the name, logo and also certain slogans that have been used by the brand in promoting products. During marketing communications, Rockickz carries out strategies to create brand awareness. Rockickz's strategy is in the marketing communication mix. This research methodology uses qualitative, with the case study method. Data collection is done by interview, observation and literature study. Komunikasi pemasaran (marketing communication) adalah sarana dimana perusahaan berusaha menginformasikan, membujuk, dan mengingatkan konsumen secara langsung maupun tidak langsung tentang produk dan merek yang dijual. Teori komunikasi pemasaran mencangkup beberapa bauran komunikasi pemasaran terdiri dari periklanan, pemasaran langsung, promosi penjualan, penjualan personal, pemasaran interaktif, hubungan masyarakat.Tujuan dari bauran komunikasi pemasaran tersebut adalah untuk menciptakan brand awareness. Brand awareness ini merupakan kemampuan konsumen dalam mengenali atau mengingat sebuah merek, termasuk nama, logo dan juga slogan – slogan tertentu yang pernah digunakan oleh brand tersebut dalam mempromosikan produk – produk. Pada saat melakukan komunikasi pemasaran, Rockickz melakukan strategi – strategi untuk menciptakan brand awareness. Strategi yang dilakukan Rockickz terdapat dalam bauran komunikasi pemasaran. Metodologi penelitian ini menggunakan kualitatif, dengan metode studi kasus.Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan studi kepustakaan.
Tinjauan Etika Periklanan dalam Konten Kreatif (Analisis Semiotik Iklan Shopee Versi Blackpink) Ria Octavani; Sinta Paramita
Prologia Vol 3, No 1 (2019): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v3i1.6243

Abstract

Seiring perkembangan zaman dan juga teknologi yang semakin canggih, iklan sudah dapat kita lihat di berbagai macam media. Banyak perusahaan dari berbagai bidang yang memasang iklan sekreatif mungkin untuk menarik perhatian khalayak agar khalayak membeli atau menggunakan produk yang diiklankan. Shopee salah satunya perusahaan yang bergerak dibidang e-commerce juga mengiklankan brand Shopee itu sendiri. Shopee pun juga memiliki ide kreatifnya tersendiri untuk membuat khalayak semakin sering berbelanja online melalui Shopee. Sehingga pada bulan November 2018, Shopee memilih Blackpink sebagai pemeran pada iklan Shopee. Namun pada akhirnya iklan tersebut harus diturunkan karena dianggap telah melanggar kode etik penyiaran di Indonesia. Tapi terlepas dari kode etik penyiaran, adapula tentang etika periklanan yang harus dipatuhi bagi setiap pengiklan. Dalam penelitian ini, peneliti membahas penerapan prinsip etika periklanan pada iklan Shopee versi Blackpink ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mendalami etika periklanan terhadap iklan Shopee versi Blackpink. Metode yang digunakan oleh peneliti adalah metode kualitatif dengan menggunakan analisis isi dan untuk validitas data yang diamati, peneliti mencari beberapa referensi yang mendukung penelitian ini
Viral Marketing Berbasis Komunitas (Studi Kasus terhadap Dance Cover Playcrew) Indra Ridwan Maulana; Sinta Paramita
Prologia Vol 5, No 1 (2021): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v5i1.8153

Abstract

Viral marketing is another form of word of mouth, or "news from one mouse click to the next click (word of mouse)." Which encourages consumers to tell products and services developed by the company or audio, video and written information to others online. In human community, the individuals within it can have intentions, beliefs, resources, preferences, needs, risks and a number of other similar conditions. The purpose of the research is to find out how community- based viral marketing (case study of Playcrew dance cover). This research is a qualitative research using a case study method. theories used in this research are Viral Marketing, Popular Culture, Advertising and Mass Communication, Community and Dance cover theories. This research uses interviews with key informants and informants, literature studies, and documentation for data collection. The results of this study are dance cover playcrew able to influence people to find out about the hallyu culture of South Korea.Viral marketing adalah bentuk lain berita dari mulut ke mulut, atau “berita dari satu klik mouse ke klik berikutnya (word of mouse).” Yang mendorong konsumen menceritakan produk dan jasa yang dikembangkan perusahaan atau informasi audio, video, dan tertulis kepada orang lain secara online. Dalam komunitas manusia, individu- individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko dan sejumlah kondisi lain yang serupa. Adapun maksud dari penelitian tersebut untuk mengetahui bagaimana viral marketing berbasis komunitas (studi kasus terhadap dance cover Playcrew). penelitian ini merupakan sebuah penelitian kualitatif yang menggunakan metode studi kasus. teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Viral Marketing, Budaya Populer,Iklan dan Komunikasi Massa, Komunitas dan Dance cover. penelitian ini menggunakan metode wawancara dengan informan kunci dan informan, studi pustaka, dan dokumentasi untuk pengumpulan data. Hasil dari penelitian ini adalah dance cover playcrew mampu mempengaruhi masyarakat untuk mengetahui tentang budaya hallyu dari korea selatan.
Analisis Semiotik Hiperealitas Dalam Iklan Shopee Versi Sepedanya Mana Yulitasari Yulitasari; Sinta Paramita
Prologia Vol 1, No 2 (2017): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v1i2.1999

Abstract

Periklanan merupakan bentuk dari gejala sosial yang memiliki peran penting bagi masyarakat dalam era globalisasi karena diyakini memiliki kekuatan untuk memacu minat konsumsi konsumen untuk kesekian kalinya dalam arti lain, periklanan berperan dalam merangsang minat pembelian produk maupun jasa konsumen.Hiperealitas merupakan gejala dimana realitas palsu maupun buatan bertebaran dan tidak sesuai dengan realitas asli, iklan ini menggambarkan dengan kontras kondisi-kondisi dimana dunia semu menyatu dengan kenyataan sehingga mampu menghilangkan citra asli.Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif ini memiliki sifat deskriptif  dimana data-data yang akan dikumpulkan adalah kata-kata ataupun gambar dan buka angka-angka. Penelitian deskriptif bertujuan untuk menyoroti isu atau masalah saat ini melalui proses pengumpulan data yang memungkinkan mereka untuk menggambarkan situasi secara lebih lengkap untuk menemukan fakta-fakta baru. Hasil penelitian memaparkan bahwa, Iklan Shopee versi Sepedanya Mana memiliki banyak simulasi-simulasi hiperealitas, dalam iklan tersebut dengan jalan cerita mengilustrasikan berbelanja di Shopee maka Produk maupun Barang yang diinginkan Customer akan segara menjadi wujud nyata dengan proses sekali menyentuh ikon produk maupun barang dininginkan tanpa adanya proses seperti Marketplace kompetitornya yang terkesan terlalu melewati batas kenyataan.
Tradisi Sebambangan Sebagai Penyelesaian Konflik dalam Keluarga di Masyarakat Lampung (Studi Pada Masyarakat Lampung di Kel. Kuripan, Kec. Teluk Betung Barat, Kota Bandar Lampung) Susanti Pusparini; Sinta Paramita
Koneksi Vol 2, No 1 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i1.2449

Abstract

Sebambangan merupakan sebuah tradisi adat Lampung yang mengatur larian gadis oleh bujang ke rumah kerabatnya untuk meminta persetujuan orang tua. Dengan mendatangkan kepala adat dari masing-masing pihak dan dilakukan musyawarah antara kedua keluarga sehingga diambil kesepakatan dan persetujuan antara kedua orang tua tersebut. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah mengetahui bagaimana konflik yang terjadi setelah melakukan sebambangan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi antarpribadi, teori konflik serta manajemen konflik dalam komunikasi antar pribadi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan fenomenologi. Informan dalam penelitian ini merupakan masyarakat Lampung biasa dan juga merupakan pasangan yang melakukan sebambangan. Proses pengumpulan data dilakukan dengan wawancara secara mendalam dengan narasumber, observasi langsung ke wilayah Kuripan dan dokumentasi. Dari hasil penelitian, diketahui bahwa konflik terjadi sebelum dilakukannya sebambangan. Sebambangan ini dilakukan supaya meredam konflik yang terjadi di dalam keluarga yang melakukan sebambangan.
Makna Wayang Golek si Cepot pada Masyarakat Sunda Milenial dan Generasi Z Andrew Limelta; Sinta Paramita
Koneksi Vol 4, No 1 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v4i1.6496

Abstract

In 2003 wayang was recognized by UNESCO as a global masterpiece as well as an intangible cultural heritage. Sundanese culture recognizes the legacy of wayang golek originating from the West Java region, and is usually realized through the display of props or puppets as a dualistic depiction of Javanese minds. In puppet show there are characters and characters that are played, but usually people are more familiar with the character of the Cepot who is considered as a entertainer and identity of the Sundanese. The purpose of this study was to see the meaning of the Cepot figure in puppet show art towards millennial Sundanese people and generation Z. The theories used in this study were the theory of communication, puppetry, and the concept of meaning. In this case the data obtained through the results of observations and interviews. The conclusion in this study is that the Sundanese generation of generation millennial and generation Z considers the puppet show as an important art, but no longer as the main consumption. Besides that, there is a loss of elements from the Cepot character in the puppet show, even the Sundanese people consider the Cepot figure only as an entertaining figure.Pada tahun 2003, wayang diakui oleh UNESCO sebagai karya agung dunia sekaligus warisan budaya tak benda. Budaya Sunda mengenal warisan wayang golek yang berasal dari wilayah Jawa Barat, dan biasanya direalisasikan melalui pertunjukan alat peraga atau boneka sebagai penggambaran alam pikiran orang Jawa yang dualistik. Dalam kesenian wayang golek terdapat tokoh dan karakter yang dimainkan, namun biasanya masyarakat lebih mengenal tokoh si Cepot yang dianggap sebagai penghibur dan jati diri orang Sunda. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat makna tokoh si Cepot dalam kesenian wayang golek terhadap masyarakat Sunda milenial dan generasi Z. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi, wayang, dan konsep makna. Dalam hal ini data yang diperoleh melalui hasil dari observasi dan wawancara. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah bahwa masyarakat Sunda generasi milenial dan generasi Z menganggap kesenian wayang golek sebagai suatu kesenian yang penting, namun bukan lagi sebagai konsumsi utama. Selain itu adanyaunsur dari tokoh si Cepot yang hilang dalam wayang golek. Bahkan masyarakat Sunda menganggap tokoh si Cepot hanya sebagai tokoh penghibur.
Makna Idola Dalam Pandangan Penggemar (Studi Komparasi Interaksi Parasosial Fanboy dan Fangirl ARMY Terhadap BTS) Jeanette Mihardja; Sinta Paramita
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i2.3915

Abstract

Didukung dengan globalisasi dan perkembangan teknologi informasi, budaya popular bisa dengan mudah diakses, terutama K-Pop. BTS merupakan salah satu artis K-Pop paling sukses dan memiliki banyak penggemar di seluruh dunia termasuk Indonesia. Kehadiran idola seperti BTS secara tidak langsung membuat penggemar membentuk interaksi paarasosial. Interaksi parasosial adalah hubungan kelekatan yang terjalin dengan tokoh yang muncul di media. Penelitian ini membahas perbedaan interaksi parasosial antara penggemar perempuan dan laki-laki terhadap BTS. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi penelitian studi kasus. Subjek penelitian berjumlah enam orang ARMY, tiga orang perempuan (fangirl) dan tiga orang laki-laki (fanboy). Kesimpulan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa penggemar perempuan menyukai BTS secara emosional (sahabat, saudara dan hubungan romantis), sedangkan penggemar laki-laki menyukai BTS secara rasional (idola, panutan dan kualitas musik). Penggemar perempuan lebih aktif dalam aktivitas komunitas, di sisi lain penggemar laki-laki tidak tertarik untuk menjadi anggota komunitas dan mendukung BTS dengan batasan-batasan tertentu.
Representasi Counter Hegemoni Film Dokumenter: Analisis Semiotika Umberto Eco dalam Film Salam dari Anak-anak Tergenang Risky Anggraini Putri; Sinta Paramita
Koneksi Vol 2, No 1 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i1.2445

Abstract

Film adalah media dalam penyampaian sebuah pesan. Kekuatan dan kemampuan film menjangkau segmen sosial, lantas membuat para ahli berpendapat bahwa film memiliki potensi untuk mempengaruhi khalayak. Film produksi Satu Lensa pada tahun 2015 yang berjudul “Salam dari Anak-anak Tergenang” termasuk salah satu film yang memiliki potensi untuk mempengaruhi khalayak. Film ini memiliki representasi counter hegemoni. Counter hegemoni menjadi bagian penting dalam pemikiran kajian budaya karena hal ini menunjukan bahwa khalayak tidak selamanya diam dan menurut. Dengan kata lain, sebagai anggota khalayak, tidak bodoh dan submasif. Dalam menganalisis hasil representasi counter hegemoni yang terdapat pada film ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian Semiotika Umberto Eco dengan empat batas-batas politisnya. Dari tujuh belas scene, penulis menemukan enam scene yang memiliki representasi counter hegemoni.
Eksploitasi Loyalitas Penggemar Dalam Pembelian Album K-Pop Maria Veronica; Sinta Paramita
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i2.3920

Abstract

Penelitian ini membahas tentang eksploitasi yang dilakukan oleh agensi-agensi idola di Korea Selatan terhadap loyalitas penggemar K-Pop dalam hal pembelian album. Hal ini berlaku bagi penggemar musik K-Pop yang mengalami kemajuan teknologi yang dapat mempermudah penyebaran budaya populer sehingga menimbulkan perilaku konsumtif akan hal-hal yang berhubungan dengan idolanya. Penelitian ini menggunakan konsep komunikasi massa, media massa, media baru, budaya populer, loyalitas penggemar dan eksploitasi dalam konteks budaya popular. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan bersifat deskriptif dengan metode pengumpulan data wawancara mendalam, telaah dokumen dan observasi. Eksploitasi loyalitas penggemar dilakukan oleh agensi-agensi di Korea Selatan dengan cara mengeluarkan dan menjual album dengan beragam versi sehingga menarik minat beli penggemar. Penggemar ini sendiri menyadari bahwa dirinya telah tereksploitasi tetapi keputusan mereka dalam membeli dan mengoleksi album dalam jumlah banyak dikarenakan adanya konsep diri yang timbul karena munculnya identitas sebagai seorang penggemar. Mereka juga mempunyai rasa kepuasaan diri sendiri ketika sudah membeli album dan sebagai bentuk untuk menghargai karya-karya dari idolanya.