Articles
Komunikasi Virtual dalam Game Online (Studi Kasus dalam Game Mobile Legends)
Caroline Vinci Wijaya;
Sinta Paramita
Koneksi Vol 3, No 1 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/kn.v3i1.6222
Penelitian ini mengangkat mengenai komunikasi virtual dalam game online. Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana komunikasi virtual yang ada di dalam game Mobile Legends. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian menggunakan metode wawancara dengan lima informan pemain game Mobile Legends. Data penelitian yang diperoleh bersumber dari wawancara, observasi dan studi pustaka. Teori yang digunakan dalam penelitian adalah konsep dasar komunikasi virtual menurut Werner J. Severin dan James W. Tankard yakni dunia maya, komunitas maya, chat rooms, MUD&Bot, interaktivitas, hypertext dan multimedia. Hasilnya, terjadi komunikasi virtual dalam game Mobile Legends yaitu dunia maya, komunitas maya, chat rooms, MUD&Bot, interaktivitas, dan multimedia karena adanya interaksi dan komunikasi yang dilakukan di dalam game Mobile Legends secara online dan menggunakan jaringan internet. Komunikasi virtual sangat mempengaruhi efektivitas dalam berkomunikasi dan dengan adanya sarana yang disediakan oleh Mobile Legends pemain dapat berkomunikasi tanpa harus bertatap muka langsung.
Makna Pesan dalam Tari Tradisional (Analisis Deskriptif Kualitatif Makna Pesan dalam Kesenian Tari Piring)
Siti Fathonah;
Sinta Paramita;
Lusia Savitri Setyo Utami
Koneksi Vol 3, No 1 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/kn.v3i1.6151
Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui tentang makna pesan yang terdapat pada setiap gerakan yang ditunjukkan oleh penari serta makna pesan yang ingin disampaikan dalam kesenian Tari Piring. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Subjek dalam penelitian ini adalah masyarakat Solok yang berdomisili di Jakarta yakni, Duta Pariwisata Minangkabau, Director Sanggar Syofyani, pelatih atau penari yang berstatus aktif, serta masyarakat Solok yang mengetahui kesenian tari piring. Hasil yang didapat dalam penelitian yaitu gerakan- gerakan pada kesenian Tari Piring merupakan hasil adaptasi dari kegiatan masyarakat Minangkabau pada saat itu sebagai petani dan pesilat, serta makna pesan yang ingin ditunjukkan pada kesenian Tari Piring adalah karakteristik dari masyarakat Minangkabau sendiri yakni sifat gotong royong, bekerja keras, kebersamaan, dan keberanian. Properti piring yang digunakan melambangkan suatu kesejaheraan dan kemakmuran. Pakaian yang digunakan dalam Kesenian Tari Piring melambangkan suatu jati diri masyarakat Minangkabau yang menjunjung tinggi nilai adab, serta syariat agama islam.
Interaksi Sosial Antar Etnis Tionghoa dan Etnis Jawa di Kawasan Petak Sembilan
Kevin Kurniawan;
Sinta Paramita
Koneksi Vol 1, No 2 (2017): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/kn.v1i2.2020
Indonesia merupakan negera multikultural sehingga rentan konflik antaretnis. Dalam menghindari konflik antaretnis diperlukan tingkat toleransi untuk menjaga kerukunan antaretnis. Petak Sembilan merupakan salah satu kawasan yang dapat memelihara kerukunan antaretnis karena memiliki tingkat toleransi yang tinggi. Petak Sembilan merupakan kawasan dengan mayoritas warga beretnis Tionghoa. Namun,i Petak Sembilan juga memiliki warga dari etnis selain Tionghoa salah satunya adalah etnis Jawa. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsep komunikasi antarbudaya, interaksi sosial oleh Gillin dan Gillin. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif studi kasus, dengan tujuan untuk mencari bentuk interaksi sosial sehingga kerukunan dapat terus terjalin dengan baik. Berdasarkan hasil penelitian ini, didapatkan hasil penelitian bahwa bentuk interaksi sosial yang dianut oleh warga Petak Sembilan, khususnya yang warga etnis Tionghoa dan Jawa mengarah pada bentuk interaksi sosial proses asosiatif. Warga Petak Sembilan saling hidup rukun antarkelompok etnis walaupun terdapat perbedaan nilai yang dianut oleh masing-masing etnis. Tingginya tingkat toleransi menjadikan warga Petak Sembilan hidup rukun satu sama lain.
Analisis Self Disclosure Penari Waacking Dalam Komunitas Waacking Dance (Studi Kasus Acara Battle Dance Grand Finals All Asia Waacking Festival 2018 di Bali)
Gabriel Joshua Natanael;
Sinta Paramita
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/kn.v2i2.3907
Pada era modern saat ini, tarian sangat berkembang dan dikenal dalam ruang lingkup masyarakat di Indonesia sebagai cara untuk menunjukan emosi, berinteraksi sosial, olahraga, dan mengekspresikan ide-ide atau bercerita mengenai apa yang kita inginkan. Salah satunya adalah Waacking, tarian yang terbentuk di klub homoseksual yang terletak di kota Los Angeles dimana mereka berkumpul bersama dan menyembunyikan identitas asli mereka dari publik. Melalui ini mereka menemukan jati diri mereka dan dapat melakukan pengungkapan diri untuk melarikan diri dari asumsi dan prejudis masyarakat mengenai kaum homoseksual. Penelitian ini bertujuan mengetahui, memahami, dan memberikan gambaran bagaimana pengungkapan diri para penari waacking dalam komunitas tarian waacking. Penelitian ini menggunakan konsep komunikasi kelompok, komunikasi antarpribadi, dan teori penetrasi sosial yang berfokus kepada pengungkapan diri. Metode penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif bersifat deskriptif dengan jenis penelitian studi kasus. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengungkapan diri relatif penting dilakukan oleh penari waacking untuk mendapatkan, rasa saling berbagi satu sama lainnya, pengertian antara sesama penari waacking dan juga kenyamanan. Tarian waacking tidak hanya menjadi sebuah tarian, tapi juga menjadi bentuk pengungkapan diri bagi para pelakunya.
Ujaran Kebencian sebagai Salah Satu Bentuk Komunikasi Entertainment
Cahya Anna Versari;
Sinta Paramita
Koneksi Vol 1, No 2 (2017): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/kn.v1i2.1970
Selebriti selalu menjadi pusat perhatian dan pengamatan publik secara luas. Namun tidak jarang selebriti mempunyai haters yang seringkali menebar ujaran kebencian sebagai bentuk komunikasi untuk mengeskpresikan perasaaan, pendapat, dan kritik. Media yang digunakan adalah media sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ujaran kebencian dalam komunikasi entertainment. Sejumlah konsep yang digunakan dalam penelitian ini yaitu komunikasi, komunikasi entertainment dan selebriti, media baru dan media sosial, ujaran kebencian, dan haters. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif bersifat deskriptif dengan jenis penelitian studi kasus. Data diperoleh melalui hasil observasi dan wawancara lima narasumber, yaitu Mulan Jameela, dan masyarakat umum. Hasil penelitian ini ingin menunjukkan bagaimana siklus ujaran kebencian dapat terjadi sebagai salah satu bentuk komunikasi entertainment yang digunakan pada dunia hiburan. Di dalamnya mencakup kehidupan seperti selebriti, tokoh atau publik figur. Hasil penelitian ini menemukan siklus model ujaran kebencian sebagai salah satu bentuk komunikasi entertainment.
Produksi Kritik Iklan Politik melalui Memes
Dyon Liuswanto;
Sinta Paramita
Koneksi Vol 3, No 1 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/kn.v3i1.6152
Iklan politik adalah sebuah iklan yang mengandung unsur politik didalamnya. Bentuk pesan politik ini digunakan untuk kampanye. Nurhadi dan Aldo hadir untuk mengkritik kampanye yang dilakukan pasangan calon presiden dan wakil presiden yang ada dengan menggunakan media sosial facebook sebagai media. Bedasarkan teori goals – planning – action, penggunaan meme itu sendiri dapat menjadi sebuah rencana yang digunakan untuk mengkritik. Meme dilihat sebagai sebuah bentuk penyampaian pesan yang dinamis dimana perlu interpretasi dari penerima pesan untuk mengerti isi dari meme itu sendiri. Etnografi virtual menjadi sebuah basis dalam pembahasan ini dimana ditemukan bahwa selain tujuan untuk mengubah persepsi seseorang agar menjadi lebih waspada terhadap post, mereka juga menggunakan fanpage ini sebagai sebuah sarana lain seperti pembelajaran terhadap situasi politik baik politik negara, maupun politik internal.
Analisis Akun Instagram Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (@Jokowi) Dalam Membangun Reputasi Pada Masyarakat Virtual
Cut Eldina Kulsia;
Sinta Paramita
Koneksi Vol 1, No 2 (2017): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/kn.v1i2.1985
Perangkat elektronik yang tersedia saat ini memudahkan penyampaian pesan. Kecanggihan teknologi yang ditampilkan dalam media sosial memungkinkan pengguna memilih format dan aplikasi yang diinginkan. Instagram merupakan salah satu media sosial yang memiliki beragam fitur yang canggih dan menarik. Kecanggihan tersebut dimanfaatkan hampir seluruh kalangan termasuk orang nomor satu di Indonesia, Presiden Joko Widodo, yang terbilang aktif di media sosial Instagram meski memiliki kegiatan sangat padat. Dalam penelitian ini, penulis ingin mengatahui bagaimana peran Instagram dalam meningkatkan reputasi Presiden Jokowi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan metode etnografi virtual dimana penulis memahami persoalan lapangan atau lokasi penelitian di internet yang juga didukung dengan melakukan wawancara mendalam terhadap sepuluh pengikut (followers) akun instagram @jokowi. Wawancara dilakukan untuk mengetahui bagaimana interpretasi followers terhadap reputasi Presiden Jokowi di Instagram, serta mengetahui seberapa efisien Instagram bagi Presiden RI dalam meningkatkan reputasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial Instagram dapat meningkatkan reputasi Presiden Jokowi dikalangan masyarakat virtual. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya masyarakat yang menjadi followers dan menggunggah kembali (repost) berbagai foto dan/atau video Presiden Jokowi di Instagram.
Upaya Persuasi Calon Legislatif Etnis Tionghoa dalam Meraih Perhatian Generasi Milenial Etnis Tionghoa
Nadya Natasia Ria;
Sinta Paramita
Koneksi Vol 3, No 1 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/kn.v3i1.6207
Etnis adalah salah satu hal yang dapat mempengaruhi keputusan generasi milenial. Opini generasi milenial dapat terbentuk dari komunikasi persuasi yang dilakukan calon legislatif. Upaya persuasi calon legislatif etnis Tionghoa dalam meraih perhatian generasi milenial etnis Tionghoa ada tiga, yaitu propaganda, retorika dan iklan. Hal tersebut bertujuan untuk mengetahui bagaimana upaya persuasi calon legislatif etnis Tionghoa dalam meraih perhatian generasi milenial etnis Tionghoa. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi persuasi, komunikasi politik, persepsi komunikasi dan etnis Tionghoa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu studi kasus dengan pendekatan penelitian secara kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan berupa wawancara, dokumentasi dan studi kepustakaan dengan teknik analisis data yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan serta pengujian kesimpulan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah upaya persuasi yang sangat berpengaruh bagi generasi milenial adalah propaganda. Etnis bukanlah hal utama yang mampu menjadi keputusan memilih bagi generasi milenial.
Makna Simbolik Palang Pintu Pada Pernikahan Etnis Betawi di Setu Babakan
Anggi Melinda;
Sinta Paramita
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/kn.v2i2.3888
Palang Pintu merupakan bagian dari warisan budaya etnis Betawi yang dilestarikan dan hingga saat ini masih diterapkan oleh etnis Betawi dalam proses upacara pernikahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses membangun makna simbolik Palang Pintu pada pernikahan etnis Betawi di Setu Babakan. Penelitian ini dianalisis menggunakan makna simbolik dalam simbol-simbol budaya dan religi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif bersifat deksriptif dengan metode penjaringan data bersifat fenomenologi. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara dengan informan kunci dan informan serta didukung dengan observasi, studi kepustakaan dan penelusuran data secara online. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Palang Pintu merupakan bentuk penyampaian nilai agama, nilai moral dan nilai sosial etnis Betawi sebagai landasan menjalani hidup.
Komunikasi Penyandang Tunanetra Di Lingkungan Sosial
Kevin Richard Sandiata;
Sinta Paramita
Koneksi Vol 1, No 2 (2017): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/kn.v1i2.2021
Keterbatasan seseorang dapat menjadi hambatan dalam berkomunikasi. Keterbatasan seperti masalah penyakit, pertumbuhan atau perkembangan badan/fisik yang kurang baik, dan sebagainya. Keterbatasan dalam melihat (tunanetra) juga menjadi hambatan dalam berkomunikasi sehingga menghambat aktivitas dalam bekerja, atau pengembangan diri. Penelitian ini membahas komunikasi penyandang tunanetra di lingkungan sosial dan pandangan masyarakat terhadap penyandang tunanetra. Penulis mengambil objek penelitian di Panti Tunanetra Elsafan. Penelitian ini menggunakan konsep komunikasi verbal dan nonverbal, dan komunikasi antarpribadi. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan metode case study atau studi kasus. Peneliti mewawancarai pendiri, kepala sekolah, dan anak-anak Elsafan, juga observasi di Yayasan Elsafan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi anak tunanetra dengan sesamanya, serta guru yang mengajar berjalan efektif. Terdapat feedback dalam pesan yang disampaikan. Namun, masih ada masyarakat yang belum bisa mengenal dan memahami penyandang tunanetra, sehingga sulit bagi penyandang tunanetra saat berbaur di lingkungan sosial.