Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

UJI TOKSISITAS KAPSUL EKSTRAK IKAN TOMAN (Channa micropeltes) TERHADAP PERUBAHAN PROFIL DARAH TIKUS WISTAR Muhammad Ikhlasul Amal Sangadji; Amy Nindia Carabelly; Maharani Laillyza Apriasari; I Wayan Arya Krishnawan Firdaus
Dentin Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i2.17745

Abstract

ABSTACTBackground: The people of South Kalimantan traditionally use Haruan fish as an alternative medicine to accelerate wound healing. However, Haruan fish is difficult to cultivate, making Toman fish a potential alternative. Toman fish contains 5.35% albumin, whereas Haruan fish contains 4.35% albumin. Objective: To determine whether Toman fish extract capsules exert toxic effects on hematological profiles. Methods: This study consisted of three treatment groups: a group receiving Toman fish extract capsules at a dose of 0.7 grams, a positive control group receiving Haruan fish extract capsules at a dose of 0.7 grams, and a negative control group receiving only BR2 feed. The treatments were administered twice daily for 28 days. For administration, the capsule shells were opened, and 500 grams of dried extract were mixed with distilled water and given to Wistar rats using an oral gavage. After 28 days, blood samples were collected from the rats and analyzed using a Sysmax hematology analyzer. Results: The mean hemoglobin levels in the treatment, positive control, and negative control groups were 11.8 g/dl, 12.02 g/dl, and 12.12 g/dl, respectively. The mean erythrocyte counts in the treatment, positive control, and negative control groups were 6.46 million/mm³, 7.07 million/mm³, and 5.50 million/mm³, respectively. The mean leukocyte counts in the treatment, positive control, and negative control groups were 17.86 million/mm³, 13.62 million/mm³, and 9.24 million/mm³, respectively. Conclusion: Administration of Toman fish extract capsules at a dose of 0.7 grams produced negative effects on erythrocyte and leukocyte levels, while hemoglobin levels were not affected. These findings indicate that Toman fish extract capsules exhibit toxic effects on hematological profiles.Keywords: haruan fish, hematological profile, toman fish, toxicity test  ABSTRAK  Latar Belakang: Masyarakat Kalimantan Selatan menggunakan ikan Haruan sebagai obat alternatif mempercepat penyembuhan luka. Akan tetapi  ikan Haruan sulit dibudidayakan sehingga dipilih ikan Toman untuk alternatif. Ikan Toman mengandung albumin 5,35%, sedangkan ikan Haruan mengandung albumin 4,35%. Tujuan : Untuk mengetahui apakah kapsul ekstrak ikan Toman memiliki efek toksik terhadap profil hematologi. Metode : Penelitian ini meliputi tiga kelompok perlakuan yaitu pemberian kapsul ekstrak ikan Toman dosis 0,7 gram, kontrol positif berupa kapsul ekstrak ikan Haruan dosis 0,7 gram serta kontrol negatif yang hanya diberikan pakan BR2. Perlakuan dilakukan sebanyak 2 kali sehari selama 28 hari. Cara perlakuan adalah dengan membuka cangkang kapsul, kemudian ekstrak kering 500 gram ditambahkan aquades dan diberikan ke tikus Wistar menggunakan sonde lambung. Setelah 28 hari, tikus diambil sampel darah dan diuji menggunakan alat Hematology analyzer sysmax. Hasil : Rata-rata jumlah hemoglobin pada kelompok perlakuan, kelompok kontrol positif, dan kelompok kontrol negatif masing-masing adalah 11,8 g/dl, 12,02 g/dl, dan 12,12 g/dl. Rata-rata dari jumlah eritrosit pada kelompok perlakuan, kelompok kontrol positif, dan kelompok kontrol negatif masing-masing adalah 6,46 juta/mm3, 7,07 juta/mm3, dan 5,50  juta/mm3. Rata-rata dari jumlah leukosit pada kelompok perlakuan, kelompok kontrol positif, dan kelompok kontrol negatif masing-masing adalah 17,86 juta/mm3, 13,62 juta/mm3, dan 9,24 juta/mm3. Kesimpulan : Terdapat pengaruh negatif pemberian kapsul ekstrak ikan Toman dosis 0,7 gram terhadap perubahan kadar eritrosit dan leukosit, sedangkan pada hemoglobin tidak terdapat pengaruh. Hal ini menunjukkan bahwa kapsul ekstrak ikan Toman memiliki efek toksik terhadap profil darah.Kata Kunci : ikan haruan, ikan toman, uji toksisitas, profil hematologi
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS MEDIA POP-UP BOOK & VIDEO ANIMASI KARTUN TERHADAP PENGETAHUAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT PADA ANAK SD (Tinjauan Siswa SDN Kuripan 2 Banjarmasin) Stevani Stevani; Raden Harry Dharmawan Setyawardhana; Beta Widya Oktiani; I Wayan Arya Krishnawan Firdaus
Dentin Vol 8, No 3 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i3.14229

Abstract

Background: Dental and oral health is part of overall body health. In Indonesia, dental and oral health problems are still relatively high and the proportion of correct dental and oral health knowledge among elementary school children is still low. Providing health education through pop up books and animated cartoon videos can be used as information media to increase knowledge of dental and oral health in elementary school children. Objective: This study aims to analyze dental and oral health knowledge in elementary school children through pop up book media and animated cartoon videos on dental and oral health knowledge in elementary school children at SDN-SN Kuripan 2 Banjarmasin, Banjar Regency. Methods: Using a true experimental design with a pretest-posttest with control design with a simple random sampling technique. The research was carried out at SDN-SN Kuripan 2 Banjarmasin, Banjar Regency with a sample of 76 respondents. Results: The results of the T-Test Normality test data analysis showed that there was no difference in dental and oral health knowledge among elementary school children and before and after counseling (pop up book: p=13.16; animated cartoon video: p=13.63), There was no difference in dental and oral health knowledge in elementary school children between pretest and posttest (pop up book: p= 13.16; animated cartoon video: p=13.63). The results of the Mann Whitney test data analysis were p=0.097, which means oh, it is accepted, indicating there is no difference in knowledge of dental and oral health among elementary school children. Conclusion:. The conclusion of this research is that health knowledge education through pop up books and animated cartoon videos is equally effective for dental and oral health knowledge in elementary school children.Keywords: Counseling, dental and oral health, Pop Up Book, animated cartoon video ABSTRAKLatar belakang: Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian dari kesehatan tubuh secara keseluruhan. Di Indonesia masalah kesehatan gigi dan mulut masih tergolong tinggi dan proporsi pengetahuan kesehatan gigi dan mulut pada anak sekolah dasar yang benar masih rendah. Pemberian penyuluhan kesehatan melalui pop up book dan video animasi kartun dapat dijadikan sebagai media informasi untuk meningkatkan pengetahuan Kesehatan gigi dan mulut pada anak sekolah dasar. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengetahuan kesehatan gigi dan mulut pada anak sekolah dasar melalui media pop up book dan video animasi kartun terhadap pengetahuan kesehatan gigi dan mulut pada anak sekolah dasar pada siswa SDN-SN Kuripan 2 Banjarmasin, Kabupaten Banjar. Metode: Menggunakan true eksperimental design dengan rancangan pretest-postest with control design dengan teknik pengambilan sampel simple random sampling. Penelitian dilaksanakan di SDN-SN Kuripan 2 Banjarmasin, Kabupaten Banjar dengan sampel berjumlah 76 responden. Hasil: Hasil analisis data uji Normalitas T-Test menunjukkan tidak ada perbedaan pengetahuan Kesehatan gigi dan mulut pada anak sekolah dasar dan sebelum dan setelah penyuluhan (pop up book: p=13,16; video animasi kartun: p=13,63), tidak ada perbedaan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut pada anak sekolah dasar antara pretest dan posttest (pop up book: p= 13,16; video animasi kartun: p=13,63). Hasil analisis data uji Mann Whitney p=0,097 yang berarti oh diterima menunjukkan tidak ada perbedaan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut pada anak sekolah dasar Kesimpulan:. Kesimpulan penelitian ini adalah penyuluhan pengetahuan kesehatan melalui pop up book dan video animasi kartun sama efektif untuk pengetahuan kesehatan gigi dan mulut pada anak sekolah dasar.
UJI TOKSISITAS EKSTRAK DAUN KARAMUNTING (Rhodomyrtus tomentosa (Aiton) Hassk.) TERHADAP GINJAL TIKUS WISTAR (Berdasarkan Ureum dan Kreatinin) M. Ridhotama Wibowo; Beta Widya Oktiani; Melisa Budipramana; Maharani Laillyza Apriasari; I Wayan Arya Krishnawan Firdaus
Dentin Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i2.13113

Abstract

ABSTRACTBackground: Karamunting leaf have been used among community as traditional medication. Karamunting leaf have many properties because they contain secondary metabolite compounds such as flavonoids, triterpenoids, phenols, saponins and tannins. Administration as medicine is usually through oral. Oral administration of karamunting leaf in high dosage is considered to damage kidney microscopically. In vivo toxicity testing can be done to determine the toxicity effects of caramunting leaf extract at doses 600, 1200, 2400 mg/kg body weight before being tested on humans. Purpose: This study was conducted to determine whether karamunting leaf extract is toxic to the kidneys of Wistar rats subchronically with the parameters ureum and creatinine. Methods: The Rhodomyrtus Tomentosa (Aiton) Hassk. leaf were extracted using 96% ethanol and then given to male Wistar strain (Rattus norvegicus) with a 600, 1200, and 2400 mg/kg/body weight two times a day for 28 days. Rat blood was taken to check the levels of urea and creatinine. Result: The kidney ureum levels of Wistar rats in all treatment groups were still normal and did not exceed the normal range of ureum (10-50 mg/dL) while creatinine levels in all treatment groups were potentially toxic because they exceeded normal limits (0.578-1.128 mg/dL). Conclusion: The parameters of ureum and creatinine levels are not toxic because both can reduce the average value of both levels although some decrease significantly and some do not.Keywords : Creatinine, Excretion, Karamunting leaf, Kidney, Toxicity, Ureum ABSTRAKLatar Belakang: Daun karamunting telah digunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional. Daun karamunting banyak memiliki khasiat karena memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, triterpenoid, fenol, saponin dan tanin. Pemberiannya sebagai obat biasanya melalui oral. Pemberian daun ini secara oral dengan dosis tinggi diduga dapat merusak ginjal secara mikroskopis. Pengujian toksisitas secara in vivo dapat dilakukan untuk mengetahui efek toksisitas ekstrak daun karamunting pada dosis 600, 1200, 2400 mg/kg BB sebelum diujikan pada manusia. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah ekstrak daun karamunting bersifat toksik terhadap ginjal tikus Wistar secara subkronik dengan parameter ureum dan kreatinin. Metode: Daun Rhodomyrtus Tomentosa (Aiton) Hassk. diekstraksi menggunakan etanol 96% dan kemudian diberikan pada tikus jantan galur Wistar (Rattus norvegicus) dengan dosis 600, 1200, dan 2400 mg/kg BB dua kali sehari selama 28 hari. Darah tikus diambil untuk memeriksa kadar urea dan kreatinin. Hasil: Kadar ureum ginjal tikus Wistar pada semua kelompok perlakuan masih normal dan tidak melebihi kisaran normal ureum (10-50 mg/dL), dan kadar kreatinin pada semua kelompok perlakuan juga normal karena tidak melebihi batas normal (0,578-1,128 mg/dL). Kesimpulan: Parameter kadar ureum dan kreatinin tidak toksik karena keduanya dapat menurunkan nilai rata-rata dari kedua kadar walaupun ada yang turun secara signifikan dan ada     yang tidak. Kata kunci: Ekskresi, Ekstrak Daun Karamunting, Ginjal, Kreatinin, Toksisitas, Ureum
Lactobacillus sp. IDENTIFICATION IN CARIES-AFFECTED STUDENTS IN SMP NEGERI 1 SUNGAI PINANG KABUPATEN BANJAR Rosihan Adhani; Isnur Hatta; Muhammad Genadi Askandar; I Wayan Arya Krishnawan Firdaus
Dentin Vol 9, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i3.17915

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Karies adalah penyakit infeksi yang menyerang jaringan keras gigi. Karies adalah penyakit multifaktorial, yang dipicu oleh interaksi antara inang, mikroorganisme/agen, substrat, dan waktu. Salah satu agen patogen yang paling utama adalah Lactobacillus sp. Agen ini sebagian besar ditemukan pada lesi karies aktif, dapat menghasilkan asam laktat dan merupakan organisme yang toleran terhadap lingkungan asam. Paparan timbal juga merupakan faktor yang dapat memperburuk karies. Timbal adalah antagonis kalsium dan dapat menghambat metabolisme kalsium dalam remineralisasi gigi. Timbal dapat mengendap ke dalam air minum setelah mengkristal di udara, dibantu oleh hujan. Paparan ini sangat mengkhawatirkan bagi masyarakat yang masih bergantung pada air sungai yang tidak disaring untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi koloni Lactobacillus sp. pada anak-anak yang terkena karies dan menilai perbedaan antara anak-anak yang mengonsumsi air sungai dan anak-anak yang mengonsumsi air sumur. Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan desain kelompok kontrol menggunakan pendekatan potong lintang, yang dilakukan di SMP Negeri 1 Sungai Pinang Kabupaten Banjar, November-Desember 2017. Populasi penelitian terdiri dari 60 siswa, yang dikategorikan menjadi dua kelompok (masing-masing 30 siswa): kelompok pengguna air sungai dan kelompok pengguna air sumur. Indeks DMF-T dan sampel usap gigi dicatat untuk dianalisis. Sampel usap kemudian dikirim ke laboratorium untuk diolah dengan pewarnaan dan menggunakan metode Huccer untuk menilai koloni Lactobacillus sp. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara jumlah koloni Lactobacillus sp. dan indeks DMT pada anak-anak pengguna air sungai dan anak-anak pengguna air sumur.Keywords: indeks DMF-T, karies, konsumsi air, timbal ABSTRACTBackground: Caries is an infectious disease affecting a tooth’s hard tissues. It is a multifactorial disease, initiated by the interaction of host, microorganisms/agents, substrates, and time. One of the most pathogenic agents is Lactobacillus sp. This agent is mostly found in active lesions of caries, can produce lactate acid and is an acidic-environment tolerant organism. Lead exposure is also a factor that can worsen caries. Lead is a calcium-antagonist and can hamper the metabolism of calcium in remineralization of tooth. Lead can precipitate into drinking water after being crystallized in the air, assisted by rain. This exposure is especially worrying to the community which still depends on unfiltered water from the river to fulfill their daily needs. Purpose: This study was proposed to identify Lactobacillus sp. colony in caries-affected children and assess the difference between river water consuming and well-water consuming children. Methods: This was an observational analytics with control group design study using cross sectional approach, performed in SMP Negeri 1 Sungai Pinang Kabupaten Banjar, November-December 2017. The population was 60 students, categorized into two groups (30 students each): river water consuming and well-water consuming groups. The samples’ DMF-T indexes and teeth swab samples were recorded for analysis. The swab samples were then delivered to laboratories to be treated by staining and using Huccer methods to assess the Lactobacillus sp. colony. Results: The results showed that there was a significant difference between colony count of Lactobacillus sp. and DMT-index in both river water consuming and well-water consuming children.  Keywords: caries, DMF-T index, lead, water consumption