Claim Missing Document
Check
Articles

NILAI-NILAI EDUKATIF DALAM LIRIK NYANYIAN ONANG-ONANG PADA ACARA PERNIKAHAN SUKU BATAK ANGKOLA KABUPATEN TAPANULI SELATAN PROVINSI SUMATERA UTARA Ismail Rahmad Daulay; Hasanuddin WS; Ngusman Abdul Manaf
Bahasa, Sastra, dan Pembelajaran Vol 1, No 3 (2013): Oktober 2013
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni UNP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.593 KB)

Abstract

Abstrak: Folklore is a culture that has been attached to a community group. Become part of the folklore of wealth and assets that need to be documented and preserved. A society can be identified by knowing their identity and know they have folklore. One of folklore found in Indonesia is one who knows the song of one who knows-wedding Angkola Batak tribe. Folklore is the property or assets located in South Tapanuli, North Sumatra. In order folklore can be maintained continuity, required documentation. One of the efforts is the implementation documentation of this study. In addition, this study aimed to describe more specifically the values ​​of religious educational, toughness, caring, and honesty. This study used a qualitative approach with descriptive methods. Object of this study is Nyanyian Onang-onang at the wedding of Batak Angkola’s tribe. Data collection was done by recording and recording. The data of this study are the lyrics to Nyanyian Onang-onang at the wedding of Batak Angkola tribe in South Tapanuli, North Sumatra. Once the data is obtained and collected in accordance with the method of the study, followed by describing and interpret research results. Based on the results of the data analysis, the results of this study can be obtained in the form of educational values ​​in Nyanyian Onang-onang the following, namely: (1) the values ​​of religious educational indicators peercaya to Almighty God, obedient to the commands of God Almighty, away prohibition of God, and thankful, (2) the values ​​of educational discipline indicators degan toughness and ductile, (3) educational values ​​of caring and compassion with the indicator (4) educational values ​​of honesty with responsibility indicators. Based on the data and discussion of these results, it can be concluded that in the song lyrics of Nyanyian Onang-onang there are four educational value. Of the four educational value can be dimplikasikan the formal world, especially in local content.
KESANTUNAN BERBAHASA DALAM TINDAK TUTUR DIREKTIF GURU PADA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMA NEGERI 15 PADANG Febrina Riska Putri; Ngusman Abdul Manaf; Abdurahman .
Bahasa, Sastra, dan Pembelajaran Vol 2, No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni UNP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.286 KB)

Abstract

Abstract: Speech acts have an impact on student motivation and engagement in learning. Teachers use the speech act quite varied. However, speech acts are performed predominantly by the directive speech act. The purpose of this study was (1) to describe the form of directive speech acts teacher, (2) describe the politeness principle used in teacher directive speech act, (3) describe the context of the use of the principle of modesty in speech acts directive teachers, (4) describe the response of students to the directive speech acts on learning Indonesian teacher in Senior High School 15 Padang. The results of this study indicate that teachers perform direc0ive speech acts ordered by using the maxim of wisdom and maxims on the situation said the deal is not sensitive topics and classes in noisy circumstances. Student response consists of a positive response of the student in response to the type of speech act teacher told the maxim of wisdom in the context of the situation said the topic was not sensitive and conducive situation, and negative responses tend to be aimed at the teacher told directive speech acts that use the maxim of wisdom on the situation said topics insensitive and unconducive situation. That teachers perform speech acts sent using wisdom and maxims in the context of the situation said the deal was not a sensitive topic and the noisy atmosphere resulted in a directive speech act that has been done the teacher in the learning becomes mannered as impressed forcing students in learning.   Kata kunci: kesantunan, tindak tutur direktif, pembelajaran, SMA
KESOPANAN TINDAK TUTUR MENYURUH DALAM BAHASA INDONESIA Ngusman Manaf
LITERA Vol 10, No 2: LITERA OKTOBER 2011
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v10i2.1165

Abstract

This study aims to describe verbal expressions by Indonesian speakers in the speech act of commanding politely in Indonesian. The data sources were Indonesian speech acts made by native speakers of Indonesian; they were collected through observations and interviews. The data were qualitatively analyzed using pragmatic  theories. The results of the analysis show that there are two primary ways that native speakers of Indonesian use to perform the speech act of commanding politely. First, commands are performed by means of phatic expressions showing intimacy and appreciation. Second, they are performed through phatic expressions showing a minimization of force and burden. Keywords: speech acts, phatic express
KONTRIBUSI PENGETAHUAN JURNALISTIK TERHADAP KETERAMPILAN MENULIS BERITA MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS NEGERI PADANG Dewi Anggraini; Ngusman Abdul Manaf; Syahrul R Syahrul R
Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni Vol 20, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni UNP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1042.452 KB) | DOI: 10.24036/komposisi.v20i1.102888

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh hasil pengamatan selama perkuliahan Pengantar Ilmu Jurnalistik. Pada awal matakuliah paket jurnalistik, mahasiswa kurang berminat dalam perkuliahan. Padahal, ini berkaitan dengan pengetahuan jurnalistik. Namun, di akhir matakuliah paket jurnalistik yang berkaitan dengan praktik menulis berita, mahasiswa antusias dalam perkuliahan. Bertolak dari hal tersebut, penelitian ini bermaksud untuk menjelaskan kontribusi pengetahuan jurnalistik terhadap keterampilan menulis berita mahasiswa.Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional distribusional. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS UNP yang berjumlah 453 orang dan tersebar ke dalam empat kelompok (Tahun Masuk). Berdasarkan pertimbangan perbedaan yang ada antar kelompok populasi, maka sampel penelitian ini dipilih dari mahasiswa angkatan 2014. Sampel berjumlah 51 orang diambil dengan teknik acak sederhana menggunakan rumus Taro Yamane dengan presisi10%. Data dikumpulkan dengan menggunakan tes keterampilan menulis berita, tes dan tes pengetahuan jurnalistik.Berdasarkan analisis data hasil penelitian diketahui tiga hal berikut. (1) penguasaan kosakata berkontribusi sebesar 20,93% terhadap keterampilan menulis berita. (2) pengetahuan jurnalistik berkontribusi sebesar 30,73% terhadap keterampilan menulis berita. dan (3) secara bersama-sama penguasaan kosakata dan pengetahuan jurnalistik berkontribusi sebesar 32,39% terhadap keterampilan menulis berita. Berdasarkan temuan ini dapat disimpulkan bahwa ketiga hipotesis penelitian ini diterima. Dengan kata lain, penguasaan kosakata dan pengetahuan jurnalistik, baik secara terpisah maupun secara bersama-sama berkontribusi terhadap keterampilan menulis berita.Kata kunci: kontribusi, pengetahuan jurnalistik, menulis berita
Peminimalan Beban dan Peminimalan Paksaan sebagai Cara Berperilaku Santun dalam Berbahasa Indonesia Ngusman Abdul Manaf
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 16 No. 1 (2010)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v16i1.430

Abstract

This article describes and explains how bahasa Indonesia speakers try to be polite in using bahasa Indonesia by minimizing the load and force to the listener. This article written based on research carried out in Padang in 2006. The data of the research was bahasa Indonesia narration from bahasa Indonesia speakers from various ethnics of Indonesia domiciled in Padang. The data collection method were involved observation and interview. Data was analyzed with qualitative method based on pragmatic theory. The result shows that load minimizing and force minimizing to the listener by the speaker in their speech caused illocution softening so that their speech felt politer by the listener. ABSTRAK  Tujuan penulisan artikel ini adalah mendeskripsikan dan menjelaskan cara penutur bahasa Indonesia berperilaku santun dalam berbahasa Indonesia melalui peminimalan beban dan peminimalan paksaan kepada petutur. Artikel ini ditulis berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Padang pada tahun 2006. Data penelitian berupa tuturan bahasa Indonesia yang dihasilkan oleh penutur bahasaIndonesia dari berbagai etnis di Indonesia yang berdomisili di Padang. Data penelitian dikumpulkan dengan teknik pengamatan terlibat dan wawancara. Data dianalisis dengan teknik kualitatif yang didasarkan pada teori pragmatik. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa peminimalan beban dan peminimalan paksaan kepada petutur yang dilakukan penutur dalam tuturannya menimbulkan dampak pelunakan daya ilokusi sehingga tuturan dirasakan lebih santun oleh petutur.
Analisis Wacana Kritis Sara Mills dalam Novel Berkisar Merah Karya Ahmad Tohari Mella Andriana; Ngusman Abdul Manaf
Deiksis Vol 14, No 1 (2022): Deiksis
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.595 KB) | DOI: 10.30998/deiksis.v14i1.9961

Abstract

Tujuan penelitian ini ialah untuk menganalisis dan mendeskripsikan wacana kritis dalam novel Berkisar Merah karya Ahmad Tohari dengan Pendekaran Sara Mills. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Data penelitian iniiberupa feminisme yaitu teks yang menggambarkan bagaimana perempuan ditampilkan dalam inovel Berkisar Merah Karya Ahmad Tohari. Sumber data penelitian ini adalah teks novel Berkisar Merah Karya Ahmad Tohari. Teknik pengumpulan data iyang ipeneliti igunakan idalam penelitian ini iiadalah membaca keseluruhan inovel secara berulang-iulang, ikemudian imencatat ihali-ihal yang iberkaitan idengan objek penelitian. Teknik pencatatan iyang idigunakan iadalah iteknik pencatatan iselektif. Teknik pencatatan selektif idigunakan untuk imencatat idata idari sumber dataiiyangisesuaiidengan kriteria yang telah ditentukan. Kriteria yang idimaksud adalah penggalan teks iatau idialog itokoh maupuniantartokoh dalam novel yang diduga menampilkan suatuipermasalahaniyang menunjukkan bagaimana perempuan ditampilkan dalam teks. Hasil dari penelitian ini ditemukan posisi subjek 4 data, posisi objek 3 data, dan posisi pembaca 4 data.
Representasi Pejabat Pemerintah terhadap Kebijakan Lockdown Pada Tayangan ILC TV One Yustitiayu Novelly; Siska Andes Madya; Ngusman Abdul Manaf
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 1 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i1.3488

Abstract

The purpose of this study is to see how the representation of government officials about the pros and cons of lockdown by those who are pro with the policy of government officials; and how the representation of government officials about the lockdown counter by those who are counter to the policy of government officials in conveying their ideology in a speech on the ILC TV ONE talk show with the theme Corona: Pro and Counter Lockdown. This type of research is qualitative research with descriptive methods. The data in this study were in the form of speeches from each of the speakers, namely government officials and experts. The subjects in this study were government officials and experts who were the speakers at the ILC TV ONE program. The approach of this research is AWK Norman Fairclough's qualitative approach. The results of this study indicate that, that there is no one vote whether the pros or cons lockdown. Because there are a lot of considerations and shadows if the lockdown is done what the impact is and if nothing is done. There are 3 findings of representation from government officials' statements on the lockdown policy, namely (1) Government officials in their speeches do not have strong control to make decisions, local government officials still play it safe and maintain respect for the government above it. (2) Central government officials, which are represented by the President's spokesman, can only provide an educational explanation on what is social distancing and what is lockdown and the policies that are carried out; and (3) Representative government officials and experts criticizing the policies taken by the government have not been maximized and are not firm. AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan bagaimana representasi pejabat pemerintah  tentang pro dan kontra lockdown oleh pihak yang pro dengan kebijakan pejabat pemerintah; dan bagaimana representasi pejabat pemerintah tentang prokontra lockdown oleh pihak yang kontra dengan kebijakan pejabat pemerintah dalam menyampaikan ideologinya dalam tuturan di talk show ILC TV ONE dengan tema Corona: Pro dan Kontra Lockdown. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis wacana kritis model Norman Fairclough yang meliputi teks, discourse practice, dan sociocultural practice. Pendekatan penelitian ini berupa pendekatan kualitatif prespektif AWK Norman Fairclough. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, bahwa tidak satu suara apakah pro atau kontra lockdown. Karena banyak pertimbangan dan bayangan-bayangan jika lockdown dilakukan apa dampaknya dan jika tidak dilakukan apapula dampaknya. Ada 3 temuan representasi dari tuturan pejabat pemerintah atas kebijakan lockdown, yaitu (1) Pejabat pemerintah dalam tuturannya tidak mempunyai kendali yang kuat untuk membuat keputusan, pejabat pemerintah daerah masih bermain aman dan menjaga kehormatan kepada pemerintah diatasnya. (2) Pejabat pemerintah pusat yaitu diwakili oleh jubir Presiden hanya bisa memberikan penjelasan pendidikan mengenai apa itu sosial distancing dan apa itu lockdown serta kebijakan yang dilakukan; dan (3) Pejabat pemerintah wakil rakyat dan pakar mengkritisi kebijakan yang diambil pemerintah belum maksimal dan tidak tegas.
Prinsip Kesantunan Berbahasa dalam Tindak Tutur Direktif Guru Bahasa Indonesia pada Proses Pembelajaran di SMP Ria Elva Diana; Ngusman Abdul Manaf
Jurnal Basicedu Vol 6, No 3 (2022): June Pages 3200-5500
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/basicedu.v6i3.2759

Abstract

Masalah penelitian ini adalah berdasarkan peristiwa dalam proses berkomunikasi antara pelajar terhadap guru karena kurang memperdulikan pengunaan prinsip kesantunan yang terjadi saat proses pembelajaran. Adapun tujuan penelitian ada menjelaskan pengunaan prinsip kesantunan dalam tindak tutur direktif menyuruh oleh guru bahasa Indonesia dalam proses pembelajaran di SMP Kabupaten Merangin. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriftif kualitatif dengan teknik pengumpulan data (SBLC). Data dalam penelitian ini berupa tuturan direktif guru sumber data adalah guru bidang studi bahasa Indonesia yang ada di SMP Negeri 21 Merangin SMP Negeri 32 Merangin dan SMP Negeri 43 Merangin. Hasil yang diperoleh berdasarkan temuan penelitian tuturan guru bahasa Indonesia SMP Negeri 21 Merangin, SMP Negeri 32 Merangin dan SMP Negeri 43 Merangin Jumlah tuturan yang teridentifikasi tindak tutur menyuruh terdiri dari 668 tuturan pematuhan maksim kesantunan berjumlah 324 tuturan yang terdiri dari maksim (1) Maksim Kearifan, (2) Maksim Kedermawanan, (3) Maksim Pujian, (4) Maksim Kerendahan Hati, (5) Maksim Kesepakatan dan (6) Maksim Kesimpatian. Berdasarkan temuan penelitian kesantunan berbahasa yang sering digunakan guru dalam mematuhi kesantunan berbahasa tindak tutur direktif menyuruh adalah maksim kearifan. Konteks tuturan yang banyak digunakan dalam pematuhan maksim S3 (-S,+R) situasi 3 dengan konteks topik tutur tidak sensitif dan suasana tidak tenang dan S4 (-S,-R) situasi 4 dengan konteks topik tutur tidak sensitif dan suasana tenang.
Strategi Bertutur Mengkritik dan Menolak Oleh Politikus dalam Gelar Wicara Wacana Politik di Televisi dan Pemanfaatanya dalam Pembelajaran Hidayat Herman; Ngusman Abdul Manaf
Jurnal Basicedu Vol 6, No 4 (2022): August Pages 5501-7663
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/basicedu.v6i4.3153

Abstract

Strategi berututur politikus dalam menyampaikan kritik dan penolakan sering menjadi permasalahan di kalangan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan strategi bertutur mengkritik dan menolak oleh politikus dalam gelar wicara wacana politik di televisi dan pemanfaatanya dalam pembelajaran. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Data penelitian ini adalah tuturan atau kalimat-kalimat yang disampaikan oleh Rocky Gerung, Refly Harun, Fahri Hamah, dan Fadli Zon. Sumber data dalam penelitian ini adalah acara televisi yaitu “Indonesia lawyers Club” yang sudah dipublikasikan di platform youtube kemudian ditranskipkan. Penelitian ini menggunakan analisis data kualitatif, yaitu reduksi data, panyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan strategi berututur dalam tindak tutur mengkritik dan menolak yang paling sering digunakan adalah strategi bertutur terus terang tanpa basa-basi dengan konteks penutur sama kedudukanya dengan mitra tutur. Sedangkan strategi berututr yang paling sedikit frekuensi penggunaannya adalah strategi bertutur samar-samar dengan konteks penutur juga sama kedudukannya dengan mitra tutur. Topik yang dibahas adalah topik yang sensitif dengan mengangkat isu-isu politik yang populer di tengah masyarakat. Pemanfaatan strategi bertutur yang digunakan oleh politikus adalah dengan membuat bahan ajar yang sesuai dengan kompetensi dasar pada aspek berbicara. Kompetensi dasar yang berkaitan langsung dengan strategi bertutur adalah wawancara, berpidato, presentasi, memberikan kritikan, ceramah dan kegiatan berbicara lainnya.
Strategi Bertutur dalam Tindak Tutur Ekspresif Siswa pada Proses Pembelajaran Bahasa Indonesia Wita Oktavia; Ngusman Abdul Manaf
Jurnal Basicedu Vol 6, No 3 (2022): June Pages 3200-5500
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/basicedu.v6i3.2783

Abstract

Ketertarikan peneliti untuk melakukan penelitian ini didasari alasan adanya tindak tutur ekspresif yang berpotensi menjatuhkan muka sehingga tindak tutur tersebut perlu dilengkapi dengan penggunaan strategi bertutur yang tepat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan penggunaan strategi bertutur dalam tindak tutur mengucapkan terima kasih dan mengkritik. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Data penelitian ini adalah tuturan yang digunakan siswa yang menunjukkan adanya strategi bertutur dalam tindak tutur mengucapkan terima kasih dan mengkritik pada saat proses pembelajaran bahasa Indonesia berlangsung. Instrumen penelitian berupa gawai, alat tulis, dan lembar pengamatan. Teknik pengumpulan data yang digunakan penelitian ini adalah teknik    simak bebas libat cakap, rekam, dan catat. Hasil penelitian diperoleh data bahwa frekuensi penggunaan strategi bertutur paling banyak, yaitu (1) bertutur terus terang tanpa basa-basi, (2) bertutur terus terang dengan kesantunan positif, (3) bertutur terus terang dengan kesantunan negatif, dan (4) bertutur samar-samar. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan strategi bertutur yang paling banyak adalah staretgi bertutur terus terang tanpa basa-basi dengan konteks penutur memiliki kedudukan yang lebih rendah dari mitra tutur dan penutur memiliki kedudukan yang sama dengan mitra tutur, serta topik yang dibahas tidak sensitif.
Co-Authors Abdurahman . Afnita Afnita Afrinaldi Afrinaldi Agustina Agustina Alfioda, Tia Ali Djamhuri Amelia, Nadya Anggun Satriani Anoza Citra Paramita Asvidyanti, Asvidyanti Atmazaki Atmazaki Azmi, Sari Putri Deriz Nius Hura Dernius Hura Dewi Anggraini Dewi, Anisa Kumala Diana, Ria Elva Emidar Emidar Ena Noveria Ermawati Arief Fajri, Danty Awalliah Febriani Khatimah Herfani Febrianto, Yoko Febrina Riska Putri Febuana Rosita Frisca Waruwu, Elly Frisca, Frisca Dilla Halid, Elan Harris Effendi Thahar Hasanuddin Hasanuddin Hasanuddin WS Hasnah Faizah AR Hendrika Era Farida Herman, Hidayat Hidayat Herman Husnil Amalia Icha Dwi Kartika Ida Ayu Putu Sri Widnyani Idewarni . Ismail Rahmad Daulay Kartini Kartini Kemala, Anisia Khairatun Nisa Lisa Yuniarti Liza Halimatul Humairah Liza Halimatul Humairah M . Firdaus Maria Adriana Mariratul Mawaddah Maulidiani, Nia Mella Andriana Mia Salfita Muhammad Sidiq Muhammad Sidiq Muhibul Fahmi Nila Oktami Nila Oktami Norliza Jamaluddin Novia Juita Novita Juita Nurtia, Syafni oktavia, wita Putra, Rifaldo Sal Putri Wahyuni R.,, Syahrul Rahman, Milna Ramadhani, Nia Elsa Ranti Permatasari Ranti Permatasari Rejeki, Winda Putri Ria Elva Diana Rianti, Nofrika Rosendra, Nayatri Putri Sari, Windy Aulia Sefrianto, Remon Septria, Fauzie Siska Andes Madya Susanti, Weni Sutia, Trisna Syahrul R Syahrul R Syahrul R, Syahrul Syamsul Arifin Syuriadi, Helki Widya Pangestika Winda Putri Rejeki Windi Rostanti Wita Oktavia Yaditta, Puji Detty Yudha, Nicky Prima Yulina Wisna Jaya Yunni Damayanti Yustitiayu Novelly