Claim Missing Document
Check
Articles

Edukasi Pembuatan Rebusan Daun Salam untuk Meningkatkan Pengetahuan dalam Upaya Menurunkan Tekanan Darah pada Lansia dengan Hipertensi Zahra Istikomah, Wakhidatus; Maryoto, Madyo; Ningrum, Ema Wahyu
Kolaborasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 5 No 5 (2025): Kolaborasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/kolaborasi.v5i5.644

Abstract

Introduction: Hypertension is a condition commonly experienced by the elderly, defined as systolic blood pressure above 140 mmHg and diastolic blood pressure above 90 mmHg. Boiled bay leaves are known as one of the natural remedies that can help treat this condition. Objective: This program was implemented to provide seniors with knowledge about the benefits and methods of making bay leaf tea. Method: This activity employed both oral presentations and practical demonstrations of making bay leaf decoctions. Result: The results of the community service program showed a significant increase in the level of knowledge of the elderly, as measured by pre-tests and post-tests. In the pre-test, out of a total of 14 respondents, 8 participants (57%) had a low level of knowledge. After the intervention, the elderly participants' level of knowledge increased to 7 participants (50%) in the good category, and only 1 elderly participant (7%) remained in the poor category. Conclusion: This knowledge gain is expected to motivate older adults to use boiled bay leaves for self-managing hypertension.
Edukasi Relaksasi Guided Imagery pada Lansia Penderita Hipertensi Alfiah, Viqi Fatatun; Maryoto, Madyo; Ningrum, Ema Wahyu
Jurnal Peduli Masyarakat Vol 7 No 4 (2025): Jurnal Peduli Masyarakat: Juli 2025
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jpm.v7i4.7163

Abstract

Lansia merupakan fase yang paling rawan terhadap masalah kesehatan. Hipertensi merupakan salah satu masalah yang sering dihadapi lansia. Kondisi ini dikenal sebagai hipertensi ketika tekanan darah sistolik melebihi 140 mmHg dan tekanan darah diastolik melebihi 90 mmHg. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 1 miliar orang di seluruh dunia menderita hipertensi, dan angka ini diperkirakan akan meningkat secara signifikan. Pada tahun 2025, diperkirakan 29% orang dewasa di seluruh dunia akan menderita hipertensi, dengan Indonesia memimpin dengan 26,5%. Provinsi Jawa Tengah memiliki kejadian hipertensi sebesar 13.4%. Tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan kesadaran akan teknik relaksasi imajinasi terbimbing di kalangan orang dewasa lanjut usia yang menderita hipertensi. Karena peserta dapat langsung berlatih di rumah, metode demonstrasi langsung ini memiliki pengaruh yang signifikan dalam meningkatkan pemahaman. Hal ini sejalan dengan gagasan bahwa praktik langsung membantu lansia mengingat lebih banyak informasi. PkM melibatkan 14 orang lansia penderita hipertensi sebagai peserta. Maka edukasi tentang relaksasi guided imagery dan bagaimana relaksasi ini dapat menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi. Selanjutmya, responden akan kembali diberikan lembar post-test untuk mengetahui tingkat pengetahuan mengenai teknik relaksasi guided imagery pada lansia penderita hipertensi. Tingkat pengetahuan baik adalah 2 (15%), cukup 3 (21%), dan kurang 9 (64%), berdasarkan hasil pra-tes. Tingkat pengetahuan baik adalah 7 (50%), cukup 6 (43%), dan kurang 1 (7%), berdasarkan hasil pasca-tes. Dengan menangani hipertensi tanpa menggunakan obat-obatan, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup lansia.
Edukasi Pemberian Kompres Jahe pada Lansia dengan Nyeri Sendi karena Asam Urat Ramadanti, Sahra; Maryoto, Madyo; Kurniawan, Wasis Eko
Jurnal Peduli Masyarakat Vol 7 No 4 (2025): Jurnal Peduli Masyarakat: Juli 2025
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jpm.v7i4.7165

Abstract

Lansia merupakan seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas semakin meningkatnya usia fisik semakin sensitive mengalami masalah kesehatan salah satu nya asam urat. Penyakit asam urat merupakan penyakit yang ditimbulkan oleh penumpukan kristal pada persendian. Ditandai dengan sendi yang tertekan, terasa nyeri dan kemerahan pada daerah tertentu. Penanganan asam urat bisa dilakukan secara farmakologis dan non farmakologis. Teknik non farmakologi yaitu dengan kompres jahe. Kompres jahe bermanfaat untuk menurunkan nyeri sendi dimana jahe mempunyai sifat hangat dan aromatic seperti oleoresin seperti zingeron, gingerol dan shogoal. Hasil tingkat skala nyeri sebelum kompres jahe hari ke-1 sebagian besar lansia mengalami nyeri berat 6 (86%) dan setelah kompres jahe seluruh responden (100%) nyeri ringan. Hasil tingkat skala nyeri sebelum kompres jahe hari ke-2 mayoritas lansia mengalami nyeri sedang 4 (57%) dan setelah kompres jahe sebagian besar mengalami nyeri ringan 5 (71%). Hasil tingkat skala nyeri sebelum kompres jahe pada hari ke-3 semua lansia (100%) pada kategori nyeri sedang dan setelah kompres tidak merasakan nyeri 4 (57%). Dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat, seperti memberikan skala nyeri dan kompres jahe kepada orang lanjut usia untuk membantu meredakan ketidaknyamanan akibat asam urat secara efisien.
Edukasi Upaya Peningkatan Tingkat Kepatuhan Minum Obat Penderita Hipertensi pada Lansia Sari, Nurlita Lidya; Maryoto, Madyo; Ma’rifah, Atun Raudotul
Jurnal Peduli Masyarakat Vol 7 No 4 (2025): Jurnal Peduli Masyarakat: Juli 2025
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jpm.v7i4.7175

Abstract

Tahap terakhir perkembangan manusia adalah usia lanjut. Hipertensi adalah penyakit tidak menular yang terkadang disebut "pembunuh diam-diam" karena seringkali tidak menunjukkan gejala apa pun. Di Indonesia, hipertensi memengaruhi 34,11% penduduk. Angka kejadiannya mencapai 37,57% di Provinsi Jawa Tengah. Pada tahun 2023, 8.554.672 orang, atau 38,2 persen dari populasi, diprediksi menderita hipertensi, menurut data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Karena hipertensi merupakan kondisi yang tidak dapat disembuhkan, sangat penting bagi pasien untuk mengonsumsi obat sesuai resep. PkM ini penting dilakukan untuk meningkatkan kepatuhan lansia dalam minum obat hipertensi. Tujuan program komunitas ini adalah meningkatkan pemahaman dan kesehatan umum lansia terkait penggunaan obat antihipertensi secara konsisten. Tujuan dari proyek pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pemahaman dan kepuasan warga lanjut usia terhadap pengobatan antihipertensi. Untuk menerapkan metode pengabdian masyarakat, pertanyaan pra-tes digunakan untuk menilai pengetahuan dan kepatuhan lansia sebelum konseling diberikan kepada 14 lansia. Konseling kemudian diberikan untuk meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan lansia dengan mengonsumsi obat antihipertensi, dan pertanyaan pasca-tes digunakan untuk menilai pengetahuan dan kepatuhan lansia. Hasil pre tes mengumpulkan data lansia dengan pengetahuan tertinggi, yaitu tingkat pengetahuan kurang dari 11 lansia (79%) dan untuk tingkat kepatuhan sebelum edukasi dilakukan, sebagian besar berada pada kelompok rendah, yaitu sebanyak 11 lansia (79%). Pada post tes, sebanyak 10 responden memiliki tingkat pengetahuan yang berada pada kelompok baik (71%). Sepuluh (10) responden, atau 71% dari sampel, menunjukkan kepatuhan pengobatan yang tinggi, menurut data kepatuhan pengobatan setelah edukasi.
Asuhan Keperawatan Gangguan Memori Pada Tn. I Dengan Demensia Menggunakan Terapi Bermain Puzzle Di Panti Wredha Nishihara Keiaen Ferdian, Fadli Reka; Kurniawan, Wasis Eko; Maryoto, Madyo
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 11 No 9.D (2025): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Memasuki usia tua berarti mengalami beberapa kemunduran diantaranya terjadi degenerasi sel organ, salah satunya terjadi degenerasi pada otak yang dapat mengakibatkan gangguan kognitif (proses fikir) sehingga berdampak dalam kehidupan sehari-hari. Gangguan kognitif pada lansia ini bisa menyebabkan demensia. Demensia merupakan suatu gangguan fungsi daya ingat yang terjadi perlahan-lahan, serta dapat mengganggu kinerja dan aktivitas kehidupan sehari-hari. Salah satu terapi non farmakologi untuk klien demensia adalah dengan menggunakan terapi puzzle. Terapi puzzle adalah suatu gambar yang dibagi menjadi potongan-potongan gambar yang bertujuan untuk mengasah daya pikir. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi asuhan keperawatan Gangguan Memori Pada Tn. I Dengan Demensia Menggunakan Terapi Puzzle Di Panti Wredha Nishihara Keiaen. Metode penelitian ini adalah studi kasus. Subjek dalam studi kasus ini yakni klien dengan demensia di Panti Wredha Nishihara Keiaen. Instrumen pada penelitian ini yaitu format asuhan keperawatan. Waktu pengambilan data dilakukan selama 3 hari yaitu pada tanggal 20-22 Agustus 2024. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu wawancara, pemeriksaan fisik, dokumentasi dan observasi. Pada hari pertama respon pasien belum ada peningkatan. Pada implementasi hari kedua respon dari belum menunjukkan adanya peningkatan memori. Selanjutnya pada hari ketiga respon dari tindakan yang diberikan menunjukkan perubahan seperti klien mengatakan tau tanggal dan hari ini, sudah tidak lupa usianya sekarang dan mampu mengatakan mengingat dengan hal-hal yang baru saja dilakukan serta respon obyektif tampak tidak bingung dan mampu menjawab pertanyaan perawat serta skor MMSE meningkat menjadi 28 (kemampuan kognitif normal) dari yang sebelumnya skor 19 (gangguan kognitif ringan).
Asuhan Keperawatan Gerontik Nyeri Akut dengan Osteoarthritis di Puskesmas Khoiruroch, Ragil Umi; Ulfah, Mariah; Maryoto, Madyo
Journal of Management Nursing Vol. 2 No. 2 (2023): Journal of Management Nursing
Publisher : Scipro Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53801/jmn.v2i2.84

Abstract

Latar Belakang: Osteoarthritis adalah kondisi muskuloskeletal progresif, mengakibatkan rasa nyeri, disfungsi gerakan dan kesulitan dalam melakukan aktivitas atau kegiatan sehari-hari yang mempengaruhi kesejahteraan individu. Sudut Q-angle adalah sudut yang di bentuk antara tarikan otot-otot quadriceps superior dan patella yang inferior, dan itu merupakan resultan yang memberikan gaya lateral pada patella. Penyakit ini mengakibatkan nyeri disabilitas pada lansia yang mengalaminya sehingga mengganggu kegiatan atau aktivitas sehari hari secara teratur. Nyeri yang terjadi pada osteoarthritis bersifat multifactorial, nyeri dapat bersumber dari regangan serabut saraf  periosteum, regangan ligament, spasme otot, atau bursitis. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa Asuhan Keperawatan Gerontik Nyeri Akut Pada pasien dengan Osteoarthritis. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif berbentuk studi kasus. Asuhan keperawatan diberikan kepada Ny.T selama 3 hari. Teknik pengumpulan data diperoleh dari hasil wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan keluhan utama Pasien mengatakan nyeri pada kaki sebelah kiri saat berjalan, dengan data subyektif P: Pasien mengatakan nyeri saat berjalan, Q: Pasien mengatakan nyeri terasa cenut - cenut seperti tertusuk, R: Pasien mengatakan nyeri di area kaki kiri ( lutut), S: Pasien mengatakan dari angka 1–10 nyeri dirasakan pada angka 6, T: Pasien mengatakan nyeri hilang timbul. Data obyektif Pasien jalan menggunakan tongkat dan pasien terlihat meringis menahan nyeri, Tekanan darah: 140/70 mmHg, Nadi: 70 x/menit, Rentang gerak: terbatas pada ekstremitas bawah dengan skor ekstermitas bawah kanan 5 kiri 4 Kesimpulan: Penanganan nyeri pada lansia dengan metode non farmakologik telah terbukti dapat membantu lansia dalam menurunkan nyeri dan efek samping yang ditimbulkan sangat kecil dan tidak mahal, sehingga penggunaan metode non farmakologik sangat disarankan dalam menurunkan nyeri pada lansia.
Asuhan Keperawatan Gerontik Gangguan Mobilitas Fisik dengan Stroke Non Hemoragik di Puskesmas Sumbang 1 Dwijayanti, Elisia; Maryoto, Madyo; Kurniawan, Wasis Eko
Journal of Management Nursing Vol. 2 No. 3 (2023): Journal of Management Nursing
Publisher : Scipro Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53801/jmn.v2i3.105

Abstract

Latar Belakang: Stroke yaitu gangguan suplai darah ke otak dan biasanya gangguan suplai darah keotak ini akibat pecahnya atau tersumbatnya pembuluh darah otak oleh gumpalan darah. Masalah keperawatan yang sering ditemukan seperti gangguan mobilitas yaitu keterbatasan dalam gerak fisik atau lebih ekstremitas secara mandiri, biasanya meyebabkan kelemahan atau kelumpuhan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa asuhan keperawatan pada pasien stroke non hemoragik yang mengalami gangguan mobilitas fisik. Metode: Penelitian ini dirancang dengan metode deskriptif kualitatif berbentuk studi kasus. Asuhan keperawatan diberikan kepada Tn. M selama 3 hari. Teknik pengumpulan data diperoleh dari hasil wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukan pasien mengalami gangguan mobilitas fisik dimana hasil pemeriksaan menunjukan Pasien mengatakan kaki dan tangan sebelah kanan lemah dan susah digerakan, kaki dan tangan terasa kaku dan kebas, pasien juga mengeluhkan pusing. Kekuatan otot ekstremitas kanan atas 4 kiri atas 4, kekuatan otot ekstremitas kanan bawah 3 kiri kiri bawah 3, rentan gerak pasien terbatas. Dari hasil pengkajian katz indeks menunjukan skor 7 yaitu pasien memiliki tingkat ketergantungan. Dari hasil pemeriksaan diatas diagnosa medis pasien mengalami gangguan mobilitas fisik. Kekuatan otot pasien mengalami perbaikan setelah dilakukan tindakan ROM. Kesimpulan: Berdasarkan data yang didapat, pasien mengalami gangguan mobilitas fisik. Peneliti memberikan terapi ROM dan terbukti efektif dilakukan untuk meningkatkan kemampuan mobilitas fisik pada pasien stroke non hemoragik ditunjukkan dengan adanya peningkatan kekuatan otot pada hari ke-3 setelah pemberian terapi ROM. Sehingga hasil evaluasi asuhan keperawatan selama 3 hari pada pasien stroke non hemoragik dengan gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot dapat teratasi.
Gambaran Quality of Life Peserta Prolanis di Puskesmas Kutawis Purbalingga Mu'thiya Hasymah; Madyo Maryoto; Ita Apriliyani
JURNAL KEPERAWATAN MERSI Vol. 14 No. 2 (2025): Oktober
Publisher : Prodi Keperawatan Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jkm.v14i2.13925

Abstract

Background: The increasing number of elderly in Indonesia has an impact on the increasing  prevalence of chronic diseases, especially hypertension and diabetes mellitus, which has implications for reducing Quality of Life. The Chronic Disease Management Program (Prolanis) organized by BPJS Kesehatan aims to maintain the health condition of participants to avoid complications and improve Quality of Life. Objective: This study aims to determine the description of Quality of Life of Prolanis participants at the Kutawis Community Health Center, Purbalingga. Method: This study used a quantitative descriptive design with a cross-sectional approach. The research sample was 49 respondents from 93 Prolanis participants selected using an accidental sampling technique. The research instrument used the WHOQOL-BREF questionnaire that assesses quality of life in four domains, namely physical, psychological, social, and environmental. Results: The results showed that the quality of life of Prolanis participants was generally in the moderate category (49%). Based on the domain, most respondents had a moderate quality of life category, namely physical (75.5%), psychological (85.7%), social (71.4%), and environmental (83.7%). Conclusion: It can be concluded that the quality of life of Prolanis participants at the Kutawis Community Health Center in Purbalingga is mostly in the moderate category across all four domains. Therefore, although Prolanis plays a role in maintaining quality of life, further intervention and evaluation are needed to improve participants' quality of life to the high category.
Upaya Peningkatan Pengetahuan Remaja tentang Pencegahan HIV/AIDS dengan Audio Visual Naqzi, Niam Three; Ulfah, Mariah; Maryoto, Madyo
Kolaborasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 5 No 6 (2025): Kolaborasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/kolaborasi.v5i6.697

Abstract

Introduction: HIV/AIDS remains a global health issue with increasing incidence rates, including in Indonesia. Adolescents are a vulnerable group due to limited information and the absence of a specific curriculum on reproductive health in schools. Prevention efforts can be carried out through socialization and health education, one of which is the use of audio-visual media that is more interesting and easier to understand. Objective: This activity aims to measure adolescents’ knowledge before and after HIV/AIDS prevention education using audio-visual media. Method: The activity was conducted at SMK Al Hikmah 1 Benda Sirampog on May 22, 2025, involving 20 male participants. The implementation included a pre-survey and media preparation, a pre-test, HIV/AIDS education through lectures, discussions, and question-and-answer sessions, followed by a post-test to assess the increase in knowledge. Result: The results showed a significant increase in adolescents’ knowledge after audio-visual education, from 13 respondents (65%) in the poor category and 7 respondents (35%) in the fair category, to 19 respondents (95%) in the good category and only 1 respondent (5%) in the fair category. The average knowledge score also increased from 1.35 to 2.95, confirming the effectiveness of audio-visual media in improving understanding of HIV/AIDS. Conclusion: Audiovisual-based health education has been proven effective in increasing adolescents' knowledge about HIV/AIDS, making it a viable intervention strategy. These findings confirm that interactive educational media can be a powerful alternative in building awareness and encouraging HIV/AIDS prevention among adolescents.
Upaya Peningkatan Pengetahuan tentang Diet Hipertensi pada Lansia Farhani, Muhammad Fatih; Maryoto, Madyo; Sumarni, Tri
Kolaborasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 5 No 6 (2025): Kolaborasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/kolaborasi.v5i6.712

Abstract

Introduction: Hypertension is a condition characterized by an increase in blood pressure that forces the heart to work harder and often occurs without noticeable symptoms, hence it is known as “The Silent Killer.” One of the preventive and management efforts for hypertension is through dietary modification by regulating eating patterns and limiting the consumption of salt, preserved foods, soft drinks, coffee, tea, and alcohol to help lower blood pressure. Objective: This community service activity aimed to increase the knowledge of elderly individuals at the Baseh Village Elderly Health Center regarding the hypertension diet and healthy lifestyle practices. Method: The implementation involved lectures and discussions accompanied by a pre-test and post-test to measure participants’ knowledge. Knowledge was assessed using a structured questionnaire consisting of multiple-choice questions covering the definition, risk factors, prevention, and dietary management of hypertension. The questionnaire was reviewed for content validity by public health experts. The intervention was conducted in one session lasting approximately 60 minutes and involved 25 elderly participants. Blood pressure was measured before and after the educational intervention using a calibrated sphygmomanometer to assess physiological changes. Result: The pre-test results showed that 40% of participants had good knowledge, 52% had sufficient knowledge, and 8% had poor knowledge. After the education session, 80% demonstrated good knowledge and 20% had sufficient knowledge. Blood pressure measurements showed a decrease in the number of participants with stage 1 hypertension from 13 to 6 people and an increase in the pre-hypertension category from 12 to 19 people. Conclusion: Health education through lectures and discussions effectively increased knowledge about hypertension and contributed to lowering blood pressure by encouraging healthy lifestyle changes among elderly participants.