Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Sari Pediatri

Event Free Survival Enam Bulan Kejadian Tumor Cachexia Syndrome pada Anak dengan Keganasan Hesti Kartika Sari; Maria Mexitalia; Yetty M Nency
Sari Pediatri Vol 16, No 6 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.6.2015.397-402

Abstract

Latar belakang. Jumlah kasus kanker pada anak dengan komplikasi tumor cachexia syndrome (TCS) terusmeningkat. Penyebab TCS bersifat multifaktorial, yaitu asupan makanan yang kurang, malabsorbsi, dansitokin oleh tumor. Pengelolaan pasien anak dengan keganasan di rumah sakit tidak hanya dari terapi antikanker tetapi juga nutrisi. Nilai event free survival (EFS) terhadap kejadian TCS merupakan salah satuindikator keberhasilan pengelolaan kanker di rumah sakit.Tujuan. Menentukan EFS 6 bulan terhadap kejadian TCS pada pasien anak dengan keganasan.Metode. Desain kohort retrospektif berdasarkan catatan medik pasien anak dengan keganasan yang dirawatdi RSUP Dr. Kariadi Semarang pada bulan Januari 2007 - Desember 2012. Kriteria inklusi adalah pasienusia 0-14 tahun, dengan diagnosis keganasan baik tumor padat maupun hematologi, dan tidak mengalamikakeksia pada saat diagnosis ditegakkan. Dilakukan pengamatan secara klinis dan laboratoris tiap bulanselama 6 bulan untuk menentukan terjadinya TCS. Analisis statistik menggunakan uji Kaplan Meier.Hasil. Didapatkan 83 subjek dengan keganasan, rerata umur pada kelompok tumor padat 61,2 (SD48,37) bulan, dan keganasan hematologi 79,9 (SD 48,37) bulan p=0,032. Empatbelas dari 40 (35%) anaktumor padat dan 10 dari 43(23,3%) anak dengan keganasan hematologi mengalami TCS. Kejadian TCSdidapatkan mulai pengamatan bulan kedua. Rerata terjadi TCS pada tumor padat 4,4 bulan dan padakeganasan hematologi 4,9 bulan. Event free survival 6 bulan kejadian TCS pada tumor padat 65% dankeganasan hematologi 76,7%, p= 0,207.Kesimpulan. Event free survival 6 bulan kejadian TCS pada pasien tumor padat lebih rendah daripadakeganasan hematologi, tetapi tidak berbeda secara statistik
Kadar Kortisol Serum sebagai Indikator Prognosis Sepsis pada Anak Leny Zabidi; M. Supriatna; Maria Mexitalia
Sari Pediatri Vol 17, No 2 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.2.2015.101-6

Abstract

Latar belakang. Salah satu respon utama terhadap stres adalah aktivasi aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal, diketahui denganpeningkatkan produksi kortisol.Tujuan. Membuktikan kadar kortisol dapat digunakan sebagai prediktor luaran sepsis.Metode. Penelitian prospektif, dilakukan di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Sepsis didiagnosis menurut Konsensus Konfrensi Sepsispada Anak tahun 2005, dikelompokkan sebagai luaran perbaikan dan perburukan. Kortisol serum dianalisis dengan metode ELISA.Uji Mann-Whitney U digunakan untuk menganalisis perbedaan kadar kortisol pada luaran sepsis anak. Kadar kortisol dianalisislebih lanjut menggunakan ROC dan ditentukan titik potong yang optimal.Hasil. Sejumlah 30 anak dengan diagnosis sepsis diikutsertakan dalam penelitian. Kadar kortisol serum subyek berkisar 64,62 – 836,15ng/mL, menunjukkan peningkatan (normal 24 – 229) ng/mL. Median kadar kortisol pada luaran perbaikan 187,05 (64,62-509,08)ng/mL dan pada luaran perburukan 740,91 (299,45-836,15) ng/mL. Terdapat perbedaan bermakna kadar kortisol serum pada luaranperbaikan dan luaran perburukan (p<0,001). Luas area di bawah kurva ROC 0,958, dengan titik potong kadar kortisol 323 ng/mL,RR 48,0 (IK95%:4,304–535,256; p<0,001)Kesimpulan. Kadar serum kortisol lebih dari 323 ng/mL merupakan prediktor luaran perburukan pada sepsis anak.
Asupan Zat Besi Berhubungan dengan Perkembangan Anak Stunting Usia 6 - 36 Bulan di Semarang Maria Martiani; Ani Margawati; Maria Mexitalia; Farid Agung Rahmadi; Etika Ratna Noer; Ahmad Syauqy
Sari Pediatri Vol 23, No 2 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.2.2021.95-102

Abstract

Latar belakang. Salah satu masalah gizi pada anak yaitu stunting (pendek). Salah satu faktor penyebab stunting yakni asupan zat gizi. Salah satu akibat stunting dapat mempengaruhi perkembangan anak. Ibu berperan penting pada asupan gizi serta perkembangan anak. Skrining pada usia dini berperan dalam mengetahui ada tidaknya gangguan perkembangan pada anak stunting.Tujuan. Mengetahui hubungan asupan gizi dengan perkembangan anak stunting usia 6—36 bulan di wilayah Semarang SelatanMetode. Desain penelitian cross sectional yang dilaksanakan di 8 puskesmas di wilayah Semarang Selatan. Data diperoleh dengan cara interview kuesioner serta pemeriksaan perkembangan dilaksanakan dengan instrumen Capute Scales pada bulan September - November 2020. Analisis multivariat regresi linier digunakan untuk mengetahui hubungan perkembangan dengan variabel dengan mengontrol variabel luar (usia, jenis kelamin, status stunting) Hasil. Subjek berjumlah 71 anak stunting. Subjek memiliki asupan energi (63,1%) dan zat besi (66,2%) yang rendah. Terdapat 33,8% anak stunting mengalami suspek gangguan perkembangan, 9,9% gangguan komunikasi dan 11,3% suspek disabilitas intelektual. Uji multivariat regresi linier menunjukkan bahwa asupan zat besi berhubungan positif dengan perkembangan anak stunting (p 0,05).Kesimpulan. Terdapat hubungan signifikan antara asupan zat besi dengan perkembangan anak stunting.
Pengaruh Intervensi Konseling Feeding Rules dan Stimulasi Terhadap Status Gizi dan Perkembangan Anak di Posyandu Kabupaten Jayapura Darwati Darwati; Maria Mexitalia; Soemedi Hadiyanto; Fitri Hartanto; S.A. Nugraheni
Sari Pediatri Vol 15, No 6 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.78 KB) | DOI: 10.14238/sp15.6.2014.377-84

Abstract

Latar belakang. Kesulitan makan dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan gagal tumbuh dan keterlambatan perkembangan anak.Tujuan. Mengkaji dampak intervensi (konseling gizi dengan metode feeding rules dan stimulasi) terhadap status gizi dan perkembangan anak di Posyandu Kabupaten Jayapura.Metode. Penelitian quasi experiment pre post test group dilakukan pada anak usia 6-24 bulan dengan kesulitan makan, di 6 Posyandu Kecamatan Sentani Kabupaten Jayapura. Konseling dengan metode feeding rules dan stimulasi dengan SDIDTK (Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang) selama 4 bulan (Agustus-Desember 2012), diberikan oleh kader Posyandu terlatih kepada ibu /pengasuh dan anaknya. Status gizi setelah intervensi diukur berdasarkan skor WAZ (Weight for Age z-score), HAZ (Height for Age z-score), dan WHZ (Weight for Height z-score) sedangkan perkembangan diukur dengan data skor KPSP (kuesioner pra skrining perkembangan) diuji dengan menggunakan uji t berpasangan dan uji Wilcoxon.Hasil. Subyek berjumlah 119 anak (58,8% laki-laki), 83,2% di antaranya mengalami kesulitan makan kategori inappropriate feeding practice. Peningkatan bermakna skor WAZ -0,59 (SB 0,93) menjadi -0,45 (SB 0,66) (p=0,010), HAZ -0,59 (SB 1,01) menjadi -0,49 (SB 0,83) (p=0,021), dan WHZ -0,38 (SB 0,94) menjadi -0,28 (SB 0,77) (p=0,014), dan skor KPSP dari 8,76 (SB 1,00) menjadi 9,11 (SB 0,72) (p=0,002) antara sebelum dan sesudah intervensi.Kesimpulan. Terdapat peningkatan secara bermakna status gizi dan perkembangan pada anak dengan kesulitan makan usia 6-24 bulan setelah diberikan konseling gizi dengan metode feeding rules dan stimulasi SDIDTK selama 4 bulan di Posyandu.
Hubungan Fungsi Tiroid dengan Energy Expenditure pada Remaja Maria Mexitalia; Isfandiyar Fahmi; Rudy- susanto; Taro Yamauchi
Sari Pediatri Vol 12, No 5 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.829 KB) | DOI: 10.14238/sp12.5.2011.323-7

Abstract

Latar belakang. Hormon tiroid adalah hormon yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid yang berfungsi untukmensintesis hormon tiroksin (T4) dan 3,5,3 triodotironine (T3). Tiroid diatur oleh thyroid stimulatinghormone (TSH), glikoprotein yang diproduksi dan disekresi kelenjar hipofisis anterior. Dilaporkan bahwahormon TSH meningkat pada obesitas, sedangkan FT3 dan FT4 masih menjadi perdebatan.Tujuan. Mengetahui hubungan fungsi tiroid dengan energy expenditure pada remaja obesitas dan normal.Metode. Penelitian dilakukan pada anak SMP usia 12-13 tahun di Semarang pada tahun 2008 denganmetode potong lintang. Semua subyek diperiksa komposisi tubuh (indeks masa tubuh / IMT dan persentaselemak tubuh) dengan menggunakan Tanita BC 545, total energy expenditure (TEE) dengan akselerometer danresting energy expenditure (REE) dihitung berdasarkan rumus WHO. Data dianalisis menggunakan tes t tidakberpasangan dan uji korelasi Spearman.Hasil. Subyek penelitian 75 remaja (37 obesitas dan 38 normal), dengan rerata umur 13,2 tahun. FT4 danTSHs remaja laki-laki obesitas lebih tinggi dibanding subyek normal. Terdapat korelasi negatif (r=-0,29)antara FT3 dengan persentase lemak tubuh, korelasi positif antara TSHs dengan IMT (r=0,30) dan persentaselemak tubuh (r=0,34). Tidak didapatkan korelasi antara hormon tiroid dengan REE, tetapi FT3 berkorelasinegatif dengan TEE (r=–0,29), dan TSHs berkorelasi positif dengan TEE (r=0,25).Kesimpulan. Didapatkan korelasi positif antara TSHs dengan komposisi tubuh dan TSHs dengan TEE.Kadar TSHs pada laki-laki obesitas lebih tinggi dibanding normal walaupun hasilnya tidak signifikan secarastatistik.
Co-Authors Abdul Hakam Adhimah, Ayu Fauziyyah Adriyan Pramono Agustini Utari Ahmad Syauqy Alamsyah, Dedi Alamsyah, Dedi Ali Rosidi Alifiani Hikmah Putranti Ani Margawati Anindita Soetadji Anjani, Gemala Annastasia Ediati Any Setyarini, Any Avionita Latuihamallo Aya Yoshimura Ayu Diana Meilantika Azusa Uemura Bagoes Widjanarko Bambang Hariyana Bandawati, Bandawati Bob Kevin Pardede Darwati Darwati Diana Nur Afifah, Diana Nur Dwi Pudjonarko Edi Dharmana Ekowati, Liana Endrinikapoulos, Ariana Erna Mirani Etika Ratna Noer Faiza, Arif Farid Agung Rahmadi, Farid Agung Fitri Hartanto Hapsari, Widawati Hardhono Susanto Hariyana, Bambang Hendriani Sellina Henry Setyawan Susanto Henry Setyawan Susanto Herman Kristanto Hesti Kartika Sari Ihat Hatimah Ika Rara Rosita Irawan Saputra, Gatot Isfandiyar Fahmi Jaswir, Irwandi JC Susanto Julian Dewantiningrum Julian Dewantiningrum Jumianti Lestari Thamrin Kamilah Budhi Kamilah Budhi Rahardjani, Kamilah Budhi Kristiana Haryanti, Kristiana Kusuma Dewi, Anna Mailasari Latifah Rachmawati Leny Zabidi M. Supriatna M. Zen Rahfiludin Magdalena Sidhartani, Magdalena Maria Bramanwidyantari Maria Fatima Dete Dellu, Maria Fatima Dete Maria Martiani Martha Irene Kartasurya Mateus Sakundarno Mateus Sakundarno Mateus Sakundarno Adi, Mateus Sakundarno Miratul Haya MMDEAH Hapsari Mohamad Supriatna Mohammad Syarofil Anam Mohammad Syarofil Anam, Mohammad Syarofil Mohammad Zen Rahfiludin MS Anam Muflihatul Muniroh Muyassaroh Muyassaroh Neni Susilaningsih Ninung Kusumawati Ninung Rose Diana Kusumawati Noor Pramono Nurdiana Nurdiana Nurkukuh Nurkukuh Nurkukuh, Nurkukuh Nuryanto Nuryanto Nyoman Suci Widyastiti Panunggal, Damianus Galih Perdani, Putri Pratiwi, Juwita Pusaka, Semerdanta Resti, Nina Rina Pratiwi Robi Andoyo Romadhona, Suci Rudy- susanto S.A. Nugraheni Saputra, Epriyan Sarjadi Sarjadi Sellina, Hendriani Soejoenoes, Ariawan Soemedi Hadiyanto Suci Romadhona Sudrajat, Agus Suhartono, Suhartono Suharyo Hadisaputro Suharyo Hadisaputro Susilawati, Martvera SyarofilAnam, Moh. T Mirza Iskandar Taro Yamauchi Taro Yamauchi Taro Yamauchi Taro Yamauchi Thamrin, Jumianti Lestari Wijaya, I Made Ananta Wistiani Wistiani Yetty M Nency Yoshimura, Aya Yudo Murti Mupangati Yulia Wahyuni Yusrina Istanti