Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Struktur komunitas ekosistem mangrove dan kepiting bakau di Desa Lamanggo dan Desa Tope, Kecamatan Biaro, Kabupaten Kepulauan Siau, Tagulandang, Biaro Reinol Jacobs; Janny Kusen; Calvyn Sondak; Farnis Boneka; Veibe Warouw; Winda Mingkid
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 7 No. 1 (2019): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.7.1.2019.22817

Abstract

Tujuan dari penelitian yaitu untuk mengetahui struktur komunitas mangrove di Desa Lamanggo dan Desa Tope, untuk mengetahui kelimpahan kepiting bakau di hutan mangrove, dan untuk mengetahui hubungan antara kerapatan mangrove dengan kepadatan kepiting.Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode line transek kuadran dengan menentukan lima lokasi titik pengamatan pengambilan sampel, dan untuk mengetahui kondisi mangrove maka dilakukan perhitungan kerapatan jenis, frekuensi jenis, penutupan jenis, dominasi, indeks nilai penting dan keanekaragaman serta analisis kelimpahan kepiting bakau yang berhubungan dengan kerapatan mangrove dengan rumus Y = a + b X.. Dari hasil penelitian yang dilakukan, diketahui bahwa jenis mangrove yang memiliki nilai kerapatan tertinggi yaitu Rhizophora apiculata, dan untuk nilai frekuensi tertinggi juga yaitu jenis Rhizophora apiculata, sedangkan untuk nilai dominasi tertinggi dimiliki oleh jenis Sonneratia alba.Berdasarkan uji korelasi antara kerapatan pohon mangrove (X) terhadap kepadatan kepiting (Y) sebagaimana terlihat diperoleh r sebesar = 0,814 dengan Fhitung sebesar 1.94 < Ftabel 10.12. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kerapatan  mangrove dengan kepadatan kepiting bakau. Selanjutnya untuk melihat besarnya kontribusi kerapatan mangrove terhadap kepadatan kepiting dicari melalui koefisien determinasi R² = 0.66 yang berarti variabel kerapatan pohon mangrove tidak memberikan kontribusi terhadap kepadatan kepiting. Karena jika setiap penambahan variabel X, maka variabel Y akan berkurang sebesar 67.54937 - 0.110 X.
STUDI PERUMUSAN STRATEGI PENGELOLAAN EKOWISATA BAHARI KOTA MANADO DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0 BERDASARKAN ANALISIS SWOT Sarif Hidayat; Antonius P Rumengan; Suria Darwisito; Medy Ompi; Winda M Mingkid; Billy Th Wagey; Carolus P Paruntu
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 7 No. 3 (2019): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.7.3.2019.24421

Abstract

The objective of this research was to formulate a strategy for managing maritime ecotourism in the era of industrial revolution 4.0 in the city of Manado. The study was conducted at the coastal areas of the mainland of Manado City and Bunaken Island for 3 months, February - May 2019. The research method was a survey with descriptive analysis and SWOT. The results of the study obtained 4 strategy formulations (key success factors) in the context of managing maritime ecotourism in the industrial revolution era 4.0 in the city of Manado, namely: 1) Increasing law enforcement in the field of marine ecotourism, waste management on land and sea, 2) Awareness of the community environmental hygiene both on land and sea, 3) Empowering biodiversity resources of coral reefs, seagrass beds and mangroves in the park for developing marine maritime ecotourism through digital applications, and 4) managing and developing resorts, coastal culinary attractions, points of diving spots, and tourism  ports. The results of the SWOT curve show the condition of marine ecotourism in the city of Manado in quadrant 2, namely a situation where the threat to the development of marine ecotourism is more dominant than opportunity, but there are strengths of tourism organizations that can be relied on. Stakeholders are expected to be able to improve performance so that quadrant 2 conditions change to quadrant 1, which is to support an aggressive strategy: a very good situation because of the power that is used to seize profitable opportunities. In the era of industrial revolution 4.0, every stakeholder in the maritime ecotourism industry in the city of Manado was supposed to change the management system towards digital-based by making applicationsKeywords: Bunaken island, revolution industry 4.0, Manado city, marine ecotourism, strategyTujuan penelitian adalah untuk merumuskan strategi pengelolaan ekowisata bahari di era revolusi industri 4.0 di Kota Manado.  Penelitian dilakukan di wilayah pesisir daratan Kota Manado dan Pulau Bunaken selama 3 bulan, Februari - Mei 2019. Metode penelitian adalah survei dengan analisis deskriptif dan SWOT. Hasil penelitian diperoleh 4 rumusan strategi (faktor-faktor kunci keberhasilan) dalam rangka pengelolaan ekowisata bahari era revolusi industri 4.0 di Kota Manado, yaitu: 1) Meningkatkan penegakan hukum di bidang ekowisata bahari, pengelolaan sampah di darat maupun laut, 2) Menyadarkan masyarakat tentang kebersihan lingkungan baik di daratan maupun lautan, 3) Memberdayakan sumber daya keanekaragaman hayati terumbu karang, padang lamun dan mangrove di kawasan TNB untuk pengembangan ekowisata bahari melalui aplikasi digital, dan 4) Mengelola dan mengembangkan resort, tempat-tempat wisata kuliner pantai, titik-titik penyelaman, dan pelabuhan pariwisata.  Hasil kurva SWOT memperlihatkan kondisi ekowisata bahari Kota Manado berada dalam kuadran 2, yaitu situasi dimana ancaman terhadap pengembangan ekowisata bahari lebih dominan dibandingkan peluang, namun ada kekuatan organisasi kepariwisataan yang dapat diandalkan. Pemangku kepentingan diharapkan dapat meningkatkan kinerja agar kondisi kuadran 2 berubah menjadi kuadran 1, yaitu mendukung strategi agresif: situasi yang sangat baik karena adanya kekuatan yang dimanfaatkan untuk meraih peluang yang menguntungkan.  Dalam era revolusi industri 4.0, maka setiap pemangku kepentingan industri ekowisata bahari di Kota Manado sudah seharusnya merubah sistem pengelolaan yang ada ke arah berbasis digital dengan cara membuat aplikasi pengelolaan ekowisata bahari.Kata Kunci: Ekowisata bahari, revolusi industri 4.0, Kota Manado, Pulau Bunaken, strategi
IDENTIFIKASI JENIS KEPITING DI PERAIRAN MOLAS, KECAMATAN BUNAKEN, KOTA MANADO (Identification Of Crab Species in Molas Waters, Bunaken District, Manado City) Reygina B.S Roring; Erly Y. Kaligis; Robert A. Bara; Nickson J. Kawung; Winda M. Mingkid
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 11 No. 2 (2023): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.11.2.2023.53364

Abstract

Crustaceans are an important part of the bentic fauna and one of the groups is infra theorderbrachyura. Brachyura crabs cover about 700 genera and about 5000 to 10000 species. Thepurpose of this study is first to identfy the types of crabs, secondly to calculate abundance, thirdly tofind out the environmetal conditions of the surrounding waters both pH, temperature, salinity occupiedby the types of crabs in Molas waters, Bunaken District, Manado Cit. Identification technique based onthe color and shape of the carapace. The data collection location consists of 2 different places (station)which are 150 m between stations. To compelte the data in the field, supporting water quality data wasalso collected such as: temperature, pH, and salinity at each station. Identification results in Molaswaters, Bunaken District, Manado City found 7 types of crabs with the number recorded namely,Austruca annulipes 155 individuals, followed by Ocypode sp 55 individuals, Ocyopde palidula 53individuals, Leptograpsus variegatus 30 individuals, Gelasimus vocans 20 individuals, Aratus pisonii 15individuals and Portunus pelagicus 10 individuals. Based on the analysis of abudance data with thehighest value, namely Crab Austruca annulipes that is1,55 ind/m2. The quality parameters in Molaswaters are temperature 29-30 oC, Salinity ppt 29-30 ppt, pH 6-8.Keywords: Molas, Crabs, Abudance ABSTRAKKrustasea adalah bagian penting dari fauna bentik dan salah satu kelompok adalah infra ordobrachyura. Kepiting brachyura mencakup sekitar 700 genera dan sekitar 5000 hingga 10.000 spesies.Tujuan dari penelitian ini adalah yang pertama mengidentifikasi jenis-jenis kepiting, kedua yaitumenghitung kelimpahan, ketiga yaitu mengetahui keadaan lingkungan perairan sekitar baik pH, suhu,salinitas yang di tempati oleh jenis-jenis kepiting di perairan Molas, Kecamatan Bunaken, Kota Manado.Penelitian ini menggunakan metode jelajah. Teknik identifikasi berdasarkan warna serta bentukkarapas. Lokasi pengambilan data terdiri 2 tempat (stasion) berbeda yang berjarak 150 m antar stasion.ntuk melengkapi data di lapangan diambil juga data pendukung kualitas air, seperti: suhu, pH, dansalinitas pada masing-masing stasiun. Hasil identifikasi di Perairan Molas, Kecamatan Bunaken, KotaManado ditemukan 7 jenis kepiting dengan jumlah yang terdata yaitu, Austruca Annulipes yaitu 155individu, kemudian diikuti jenis kepiting Ocypode sp yaitu 55 individu, Ocypode palidula yaitu 53individu, Leptograpsus variegatus yaitu 30 individu, Gelasimus vocans yaitu 20 individu, Aratus pisonii15 individu dan Portunus pelagicus 10 individu. Berdasarkan analisis data kelimpahan dengan nilaitertinggi yakni Kepiting Austruca annulipes yaitu 1,55 ind/m2. Parameter kualitas di perairan Molas yaitusuhu 29-30 oC, salinitas 29-30 ppt, pH 6-8.Kata kunci: Molas, Kepiting, Kelimpahan
Prevalensi dan insidensi ektoparasit pada udang vaname (Litopenaeus vannamei) di tambak CV. Pasifik Delyano Farm Mokoginta, Leyda H.; Kreckhoff, Reni L.; Tumbol, Reiny A.; Longdong, Sammy N.J.; Sambali, Hariyani; Mingkid, Winda M.
e-Journal BUDIDAYA PERAIRAN Vol. 11 No. 2 (2023): April - Desember
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/bdp.v11i2.51960

Abstract

This study aimed to inventory the parasites that attack vaname shrimp (Litopenaeus vannamei) and to determine and determine the prevalence and incidence rates of parasites that infect vaname shrimp. The research was carried out at CV. Pasifik Delyano Farm, Iyok Village, District. Bolangitang, Kab. North Mongondow. Parasite identification is carried out in the Laboratory of Aquaculture Technology FPIK Unsrat. The test animals used in this rstudy were vannamei shrimp with a weight ranging from 7-10 grams with a length of 10-15 cm. The number of shrimp samples taken was 10 in the pond. Methods for examining and observing ectoparasites were carried out on the gills, walking legs, swimming legs, and tail of vannamei shrimp and then identified to obtain prevalence and incidence rates. The observation results were then analyzed using prevalence and incidence rate formulas. Based on the research results, two types of parasites were found that infect shrimp, walking legs, swimming legs, and tail, namely Vorticella and Zootanium. Prevalence rates based on parasite type were obtained in Vorticella sp. 40% and Zoothamnium sp 30% in the category of infections that generally occur while the prevalence rate based on organs, swimming legs was higher (0.4%) than in tail (0.3%) and walking legs (0.2%). based on the level of parasite incidence in all observed shrimp organs, Zoothamnium sp. was higher than Vorticella sp.  Keywords: diseases, parasites, aquaculture, intensive cultivation
Studi kasus rasio konversi pakan (FCR) di tambak intensif udang vanname (Litopenaeus vannamei) CV. Sinar Limunga Gompi, Wiranto; Sambali, Hariyani; Kalesaran, Ockstan J.; Ngangi, Edwin L.A.; Mudeng, Joppy D.; Mingkid, Winda M.
e-Journal BUDIDAYA PERAIRAN Vol. 11 No. 2 (2023): April - Desember
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/bdp.v11i2.52415

Abstract

Udang vanname (Litopenaeus vannamei) merupakan salah satu komoditas unggulan sektor perikanan budidaya nasional. Salah satu komponen strategi produksi budidaya intensif yang harus sering diperhatikan adalah nilai konversi pakan udang vanname. Tujuan penelitian adalah menganalisis average daily growth (ADG), survival rate (SR) dan feed conversion ratio (FCR) udang vanname di CV.Sinar Limunga Desa Iyok, Kecamatan Bolangitang Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Provinsi Sulawesi Utara. Metode yang digunakan adalah studi kasus terhadap tambak intensif udang vanname dengan masa budidaya Januari-Maret 2023. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemeliharaan udang vanname selama 107 hari di tambak intensif dengan luas 1600 m2 menghasilkan udang dengan populasi akhir 181.780 ekor, berat udang rata-rata 22,7 gram, size 45 ekor/kg, SR 80%, biomassa 2.920 kg, pakan 3.212 kg dan FCR 1,1. Kata kunci : kelangsungan hidup, pertumbuhan, pakan, biomassa
Kajian perubahan warna gonad kerang mutiara hitam Pinctada margaritifera berdasarkan ukuran cangkang di perairan Teluk Talengen, Kepulauan Sangihe Bawekes, Frisley Rici; Kalesaran, Ockstan J.; Lumenta, Cyska; Mingkid, Winda M.; Kusen, Diane J.; Sambali, Hariyani
e-Journal BUDIDAYA PERAIRAN Vol. 12 No. 2 (2024): Juli - Desember
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The black pearl oyster Pinctada margaritifera (Linnaeus, 1758) or black lip pearl oyster is a marine bivalve with important economic value. P. margaritifera is a protandrous hermaphroditic species. Externally it is difficult to differentiate between male and female gonads. This research aimed to determine differences in gonad color and determine the sex of P. margaritifera based on shell size. The test animals used in this research were black pearl mussels P. margaritifera totaling 33 samples taken from Talengen Bay, Sangihe Islands Regency, North Sulawesi. The results of morphometric measurements showed the average shell length was 103.16 mm, where the maximum shell length was 131.61 mm and the minimum was 81.29 mm. The average shell width was 105.65 (max 141.17 mm-min 83.21mm), the average shell thickness was 32.46 mm (max 44.36, min 20.11mm). The gonads were white and slightly yellow in 24 males and yellow in 9 females. P. margaritifera with a shell length of 90-130 mm was found to be female, and most were 110-120 mm in size. Meanwhile, shell lengths <80 mm and 110-130 mm male pearl oysters were still found. Keywords: marine bivalve, growth rate, morphometric, shell length
Plankton Community Structure In Halmahera Barat Coastal Zone Tamrin; Joshian Nicolas William Schaduw; Haryani Sambali; Adnan Sjaltout Wantasen; Desy Maria Helena Mantiri; Rene Charles Kepel; Winda Mercedes Mingkid; Ockstan Jurike Kalesaran; Nurhalis Wahidin; Muhammad Aris
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 12 No. 1 (2024): ISSUE JANUARY-JUNE 2024
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v12i1.53407

Abstract

Research on plankton organisms in supporting aquatic resource management is very important to do. This study aims to see the structure of the plankton community in the coastal waters of West Halmahera Regency. There were 9 sampling sites, namely the waters of Toniku (TO), Tewe (TW), Dodinga (DG), Tuada (TU), Porniti (PR), Payo (PA), Bobo (BO), Sahu (SH), and Ibu (IB). Plankton observations used the Census-SRC method. The parameters observed were abundance, diversity index, uniformity index, and dominance index. The results showed that the highest phytoplankton abundance was found in the TO area, namely 1.7 x 107 cells/m3 and the lowest was 4.1 x 106 cells/m3 in the PR area. The highest phytoplankton diversity index was found in the PR area, namely 2.075 and the lowest was 1.429 in the IB area. The highest uniformity index of phytoplankton was found in the PR area, namely 0.901 and the lowest was 0.624 in the BO and DG areas. The highest phytoplankton dominance index was found in the IB area, namely 0.350 and the lowest was 0.138 in the PR area. The highest zooplankton abundance was found in the DG area at 2.0 x 106 cells/m3 and the lowest was 3.3 x 105 cells/m3 in the IB area. The highest zooplankton diversity index was found in the TU area, namely 1.981 and the lowest was 1.516 in the IB area. The highest uniformity index of zooplankton was found in the IB area, namely 0.942 and the lowest was 0.761 in the DG area. The highest zooplankton dominance index was found in the BO area, namely 0.266 and the lowest was 0.167 in the TU area. The conclusion of this study revealed that the most common type of plankton found was Bacillariophyceae. While the diversity value shows moderate diversity, the uniformity value shows a high level of uniformity, and the dominance value shows low-moderate dominance. Keywords: Diversity index; Uniformity index; Dominance index; Abundance; Plankton Abstrak Penelitian tentang organisme plankton dalam mendukung pengelolaan sumberdaya perairan sangat penting untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan melihat struktur komunitas plankton perairan kawasan pesisir Kabupaten Halmahera Barat. Terdapat 9 lokasi sampling, yaitu perairan Toniku (TO), Tewe (TW), Dodinga (DG), Tuada (TU), Porniti (PR), Payo (PA), Bobo (BO), Sahu (SH), dan Ibu (IB). Pengamatan plankton menggunkan metode Sensus-SRC. Parameter yang diamati adalah kelimpahan, indeks keragaman, indeks keseragaman, dan indeks dominansi. Hasil penelitian menunjukan kelimpahan fitoplankton tertinggi terdapat di kawasan TO yaitu 1,7 x 107 Sel/m3 dan terendah 4,1 x 106 Sel/m3 di kawasan PR. Indeks keragaman fitoplankton tertinggi terdapat di kawasan PR yaitu 2,075 dan terendah 1,429 di kawasan IB. Indeks keseragaman tertinggi fitoplankton terdapat di kawasan PR yaitu 0,901 dan terendah 0,624 di kawasan BO dan DG. Semetara indeks dominansi fitoplankton tertinggi terdapat di kawasan IB yaitu 0,350 dan terendah 0,138 di kawasan PR. Kelimpahan zooplankton tertinggi terdapat di kawasan DG yaitu 2,0 x 106 Sel/m3 dan terendah 3,3 x 105 Sel/m3 di kawasan IB. Indeks keragaman zooplankton tertinggi terdapat di kawasan TU yaitu 1,981 dan terendah 1,516 di kawasan IB. Indeks keseragaman tertinggi zooplankton terdapat di kawasan IB yaitu 0,942 dan terendah 0,761 di kawasan DG. Semetara indeks dominansi zooplankton tertinggi terdapat di kawasan BO yaitu 0,266 dan terendah 0,167 di kawasan TU. Kesimpulan penelitian ini mengungkapkan jenis plankton yang paling banyak ditemukan adalah Bacillariophyceae. Sementara nilai keragaman menunjukkan karagaman sedang, nilai keseragaman menunjukkan tingkat kesergaman tinggi, dan nilai dominasi menunjukkan dominansi rendah – sedang. Kata kunci: Indeks keragaman; Indeks keseragaman; Indeks dominansi; Kelimpahan; Plankton.
POLA PERTUMBUHAN KERANG MUTIARA Pinctada margaritifera DI PERAIRAN SULAWESI UTARA Ockstan Kalesaran; Cyska Lumenta; Winda Mingkid
Jurnal Perikanan Unram Vol 11 No 2 (2021): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v11i2.260

Abstract

The pearl oyster Pinctada margaritifera (Linnaeus, 1758) or black lip pearl oyster is a marinebivalves with important economic value. This Indo-Pacific species is found in abundance in the waters of North Sulawesi, but cultivation activities have not been optimized. Growth information is important for aquaculture activities because it is a useful indicator to determine the health of pearl oysters and environmental suitability (Moussa, 2013). The purpose of this study was to determine the growth pattern of P. margaritifera pearl shells in the waters of North Sulawesi. Species P. margaritifera were collected at a depth of 2-20 m in the waters of North Minahasa Bahoi, Arakan waters South Minahasa and Talengen waters Sangihe Islands, North Sulawesi Province. The morphometric parameters observed included shell length (PC), shell height (TC), shell thickness (tC), and total weight (BT). The relationship between length, height, shell thickness and total weight was analyzed by regression equation. Morphometric measurements of P. margaritifera showed average shell length (PC) of 95.26 mm (Arakan waters), 81.15 mm (Talengen waters) and 70.19 mm (Bahoi waters). The growth pattern of P. margaritifera in the waters of Bahoi, Arakan and Talengen, North Sulawesi Province was allometric negative. This means that the increase in length, height and thickness of the shell is faster than the total weight.
Co-Authors Aditya Sasamu Adnan Sjaltout Wantasen Adnan Wantasen Ali Djamhuri Antonius P Rumengan Bawekes, Frisley Rici Billy Th Wagey Calvyn F. A. Sondak, Calvyn F. A. Carolus P Paruntu Christo V S Aer, Christo V S Christo V.S Aer, Christo V.S Cyska Lumenta Cyska Lumenta Cyska Lumenta Dahlia Malau Diane J. Kusen Edwin D Ngangi Erly Y. Kaligis Erwin Wiradita Mamonto Farnis Boneka Fransine B. Manginsela Gompi, Wiranto Hariyani Sambali Haryani Sambali Hengky J. Sinjal Hengky J. Sinjal Hengky Sinjal Henky Manoppo Henneke Pangkey Henneke Pangkey Henneke Pangkey Janny Kusen Jeffrie F. Mokolensang Jeti K. Rangan Jhonly Solang Jimmy Mamuaya John L. Tombokan Joppy Mudeng Joshian Nicolas William Schaduw Juliaan Ch. Watung Julius Sampekalo Junaidi Asnawi Kreckhoff, Reni L. Kusen, Diane J. Lady D. Khartiono, Lady D. Mamuko, Nelsi Mantiri, Desy M. H Mardiana M Massora Dudung Medy Ompi Metlin Boroallo Mikraim J. Kaseger Mokoginta, Leyda H. Muhammad Aris Nego E. Bataragoa Nego Elvis Bataragoa Nickson J. Kawung Noni Saliwati Sarifudin Ockstan J Kalesaran Ockstan J. Kalesaran Ockstan J. Kalesaran Ockstan Jurike Kalesaran Ockstan Kalesaran Ockstan Kalesaran Paputungan, Fikri Ramses Nainggolan Reinol Jacobs Reiny A. Tumbol Reiny A. Tumbol Rene Charles Kepel, Rene Charles Revol D Monijung Revol D. Monijung Reygina B.S Roring Robert A. Bara Sambali, Hariyani Sammy N. J. Longdong Sammy N. J. Longdong Sammy N.J. Longdong Sammy N.J. Longdong Sarif Hidayat Silalahi, Torang J. P. Suria Darwisito Suzanne L. Undap Tamrin Tamrin Tamrin Taufiq Abdullah Tununu, Riky R. Veibe Warouw Wahidin, Nurhalis