Claim Missing Document
Check
Articles

KEBUTUHAN PERAWATAN ORTODONSI BERDASARKAN INDEX OF ORTHODONTIC TREATMENT NEED PADA SISWA KELAS II DI SMP NEGERI 2 BITUNG Rumampuk, Monica A. V.; Anindita, P. S.; Mintjelungan, Christy
e-GiGi Vol 2, No 2 (2014): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.2.2.2014.5134

Abstract

Abstract: Orthodontic treatment need increases with the number of cases of malocclusion as one of the major problems in Indonesia and an oral health problems are sufficiently large as dental caries and periodontal disease. Orthodontic treatment need in a population is described by one measure, namely Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN). The purpose of this study was to determine the needs of orthodontic treatment in the second-grade students of Junior High School 2 Bitung based IOTN consisting of Aesthetic Component and Dental Health Component. It was a cross sectional study of descriptive obsevational, conducted in Junior High School 2 Bitung at December 2013. It research was used the total population of the second grade students of Junior High School 2 Bitung, amounting to 460 students. The results showed, orthodontic care needs based on the AC is 304 people 77 % do not require nursing care or only mild, 74 people 19% of borderline and need care 18 4.5 really need treatment. While orthodontic treatment needs based DHC is 76% of 303 people do not require treatment or light treatment only, 63 people took care borderline 16%, 7.6% and 30 people really need treatment. Orthodontic treatment need by Index of Orthodontic Treatment Needs in second grade at Junior High School 2 Bitung mostly do not require or need minor maintenance in AC 77% and DHC 76%.Keywords: treatment need, IOTN, Student junior High School.  Abstrak: Kebutuhan perawatan ortodonsi meningkat seiring bertambahnya jumlah kasus maloklusi sebagai salah satu permasalahan utama di Indonesia dan merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut yang cukup besar setelah karies gigi dan penyakit periodontal. Kebutuhan perawatan ortodonsi pada suatu populasi digambarkan dengan salah satu alat ukur yaitu Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN). Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui kebutuhan perawatan ortodonsi pada siswa-siswi kelas II SMP Negeri 2 Bitung berdasarkan IOTN yang terdiri dari Aesthetic Component (AC) dan Dental Health Component (DHC). Penelitian ini merupakan suatu penelitian Cross sectional yang bersifat deskriptif observasional, yang dilakukan di SMP Negeri 2 Bitung pada bulan Desember 2013. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik total populasi pada siswa-siswi kelas II di SMP Negeri 2 Bitung yang berjumlah 460 orang. Hasil penelitian didapatkan, kebutuhan perawatan ortodonsi berdasarkan AC yaitu 304 orang 77 % tidak membutuhkan perawatan atau hanya perawatan ringan, 74 orang 18,7% butuh perawatan borderline dan 18 orang 4,5 sangat butuh perawatan. Sedangkan kebutuhan perawatan ortodonsi berdasarkan DHC yaitu 303 orang 76,5% tidak membutuhkan perawatan atau hanya perawatan ringan, 63 orang 15,9% butuh perawatan borderline, dan 30 orang 7,6% sangat butuh perawatan. Kebutuhan perawatan ortodonsi berdasarkan IOTN pada siswa kelas II di SMP Negeri 2 Bitung sebagian besar tidak membutuhkan atau butuh perawatan ringan pada AC 77% dan DHC 76%. Kata kunci: Kebutuhan Perawatani, IOTN, Siswa SMP.
Status kebersihan gigi dan mulut berdasarkan cara menyikat gigi dengan teknik kombinasi pada anak kidal dan non-kidal Lumempouw, Novany; Mintjelungan, Christy N.; Zuliari, Kustina
e-GiGi Vol 5, No 1 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.1.2017.15525

Abstract

Abstract: During the developmental stage, children begin to do a variety of activities including tooth brushing. Generally, children use their right hands dominantly to do their activities (right-handed), however, there are also children who use their left hands (left-handed) dominantly. This study was aimed to assess the oral hygiene status based on tooth brushing with a combination technique among left-handed and right-handed children. This was a descriptive study with a cross-sectional design. Population study consisted of left-handed and right-handed children at Kalawat, North Minahasa, North Sulawesi province. Respondents were 60 children consisted of 30 left-handed children and 30 right-handed children obtained by using the purposive sampling method. Data were obtained by using checking form of oral hygiene status. The results showed that oral hygiene status of most left-handed and right-handed children was in good category. The average of OHI-S score of the left-handed children before tooth brushing was 0.7 and after tooth brushing was 0.3, whereas, of the right-handed children, the average of OHI-S score before tooth brushing was 0.6 and after tooth brushing was 0.2. Conclusion: Oral hygiene status of right-handed children who brushed their teeth with a combination technique was better than of the left-handed children. Keywords: oral hygiene status, left-handed children, right-handed children, tooth brushing, combination techniqueAbstrak: Seiring berjalannya tahap perkembangan, anak-anak mulai melakukan aktivitas termasuk menyikat gigi. Umumnya anak dominan melakukan aktivitas menggunakan tangan kanan (non-kidal) tetapi ada juga yang dominan melakukan aktivitas menggunakan tangan kiri (kidal). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan status kebersihan gigi dan mulut nerdasrkan cara menyikat gigi dengan teknik kombinasi pada anak kidal dan non-kidal. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Populasi penelitian ialah anak kidal dan non-kidal di Kecamatan Kalawat Kabupaten Minahasa Utara Provinsi Sulawesi Utara. Jumlah responden sebanyak 60 orang anak terdiri dari 30 anak kidal dan 30 anak non-kidal diambil dengan metode purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan formulir pemeriksaan status kebersihan gigi dan mulut. Hasil penelitian menunjukkan status kebersihan gigi dan mulut pada anak kidal dan anak non-kidal sebagian besar memiliki kategori baik. Rerata skor OHI-S anak kidal sebelum menyikat gigi yaitu 0,7 dan sesudah menyikat gigi 0,3 sedangkan pada anak non-kidal rerata skor OHI-S sebelum menyikat gigi 0,6 dan sesudah menyikat gigi 0,2. Simpulan: Status kebersihan gigi dan mulut berdasarkan cara menyikat gigi menggunakan teknik kombinasi pada anak non-kidal lebih baik dibandingkan pada anak kidal.Kata kunci: status kebersihan gigi dan mulut, anak kidal, anak non-kidal, menyikat gigi teknik kombinasi.
Uji konsentrasi hambat minimum (KHM) ekstrak daun pacar air (Impatiens balsamina L.) terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans Lolongan, Raymond A.; Waworuntu, Olivia; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.14161

Abstract

Abstract: Impatiens balsamina L. is an herbal plant which contains flavonoids that has been proven to inhibit the growth of Streptococcus mutans. This study was aimed to determine the minimum inhibitory concentration (MIC) of the balsamina leaf extract on the growth of Streptococcus mutans. This was a true experimental study with a randomized pretest-postest control group design. The method used was serial dilution and tested with the spectrophotometer and turbiditry measurements. Balsamina leaf was extracted by using maceration method with 96% ethanol. The Streptococcus mutans bacteria were obtained from pure stock bacteria at Microbiology Laboratory of Pharmacy Faculty of Mathematics, University of Sam Ratulangi. The results indicated that the minimum inhibitory concentration (MIC) of the balsamina leaf (Impatiens balsamina L.) extract on the growth of Streptococcus mutans was at a concentration of 3.125%.Keywords: balsamina leaf (Impatiens balsamina L.), Streptococcus mutans, MIC Abstrak: Pacar Air (Impatiens balsamina L.) merupakan tanaman herbal yang mengandung flavonoid yang telah terbukti dapat menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi hambat minimum (KHM) dari ekstrak daun Pacar Air terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans. Jenis penelitian ialah eksperimental murni dengan Randomized Pretest-Posttest Control Group Design. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode serial dilusi dengan metode pengujian turbidimetri dan spektrofotometri. Daun Pacar air diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Bakteri Streptococcus mutans diperoleh dari stok bakteri murni Laboratorium Mikrobiologi Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Sam Ratulangi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsentrasi hambat minimum (KHM) ekstrak daun Pacar Air terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans pada konsentrasi 3,125%. Kata kunci: daun pacar air (Impatiens balsamina L), Streptococcus mutans, KHM
DAYA HAMBAT EKSTRAK KULIT MANGGIS (Garcinia Mangostana L.) TERHADAP Streptococcus mutans Komansilan, Julian G.; Mintjelungan, Christy N.; Waworuntu, Olivia
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.8824

Abstract

Abstract: Mangosteen fruit which in Latin is called Garcinia mangostana Linn identical with the nickname queen tropical fruit (Queen of tropical fruit) is a plant that can be utilized all its parts, including the skin of the fruit. Dental caries is an oral disease that often occurs. Streptococcus mutans is one of the causes of dental caries. This study is an experimental laboratory, using pure experimental designs (true experimental design) with a post-test only research design control design conducted in the Laboratory of Microbiology General Hospital Prof. DR. R.D. Kandou Manado in December 2014-May 2015 with research subjects using Streptoccocus mutans bacteria and as a research sample taken mangosteen peel extract (Garcinia mangostana L) were extracted using maceration method by ethanol 90%. The result showed the average broad zones of inhibition of mangosteen peel extract against Streptococcus mutans amounted at 669.42 mm2. Results of statistical calculations with independent t-test test is known that there were significant differences between groups of mangosteen peel extract and the control group (P <0.05). From this study it can be concluded that the mangosteen peel extract (Garcinia mangostana L.) has an antibacterial effect in inhibiting the growth of Streptococcus mutans bacteria. Wide zone of inhibition of mangosteen peel extract (Garcinia mangostana L.) is smaller than the broad zone of inhibition of antibiotics.Keywords: Skin Extract Mangosteen (Garcinia mangostana L.), Streptoccocus mutansAbstrak: Buah manggis yang dalam bahasa latin disebut Garcinia mangostana Linn yang identik dengan julukan ratu buah tropis (Queen of tropical fruit) merupakan tanaman yang seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan, termasuk kulit buahnya. Karies gigi merupakan penyakit gigi dan mulut yang sering terjadi. Streptococcus mutans merupakan salah satu penyebab karies gigi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium, menggunakan rancangan eksperimental murni (true experimental design) dengan rancangan penelitian post test only control design yang dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Rumah Sakit Umum Prof. DR. R. D. Kandou Manado pada bulan Desember 2014–Mei 2015 dengan subjek penelitian mengunakan bakteri Streptoccocus mutans dan sebagai sampel penelitian diambil ektrak kulit manggis (Garcinia mangostana L) yang diekstraks menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 90%. Hasil penelitian didapatkan rata-rata luas zona hambat ekstrak kulit manggis terhadap Streptococcus mutans sebesar sebesar 669.42 mm2. Hasil perhitungan statistik dengan uji independent t-test diketahui terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok ekstrak kulit manggis dan kelompok kontrol (P < 0.05). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak kulit manggis (Garcinia mangostana L.) memiliki efek antibakteri dalam menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans. Luas zona hambat dari ekstrak kulit manggis (Garcinia mangostana L.) lebih kecil dibandingkan dengan luas zona hambat dari antibiotik.Kata kunci: Ektrak Kulit Manggis (Garcinia mangostana L.), Streptoccocus mutans
Status Periodontal Anak Usia 8-12 Tahun di Sekolah Dasar Negeri 126 Manado Mantiri, Amanda N. P.; Wowor, Vonny N. S.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 6, No 2 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.2.2018.21207

Abstract

Abstract: Periodontal disease is a serious chronic infection that involves the destruction of tooth supporting tissues, including gum, periodontal ligaments, and alveolar bone. It is the second most common dental and oral disease suffered by people in the world after dental caries. According to WHO, age 12 years has been chosen as an age group of global indicators for international comparison and surveillance of disease trends. This study was aimed to obtain the periodontal status of students 8-12 years old at SD Negeri 126 Manado (elementary school). This was a descriptive study with a cross sectional design. Respondents were 76 students obtained by using purposive sampling technique. Data of gum examination of all subjects were obtained by using WHO CPI probe and flat dental mirror and were analyzed univariately and presented in distribution tables. The results showed that 7 students (9.2%) had healthy gums, meanwhile 69 students (90.8%) had unhealthy gums, consisting of 66 students (86.8%) with bleeding gums ≤50%, and 3 students (4%) with bleeding gums ≥51%. Conclusion: Most students in this study had bleeding gum ≤50%. Albeit, some students still had healthy gums.Keywords: students aged 8-12 years, periodontal status, gingival bleeding Abstrak: Penyakit periodontal adalah infeksi kronis serius yang melibatkan penghancuran jaringan pendukung gigi, termasuk gingiva, ligamen periodontal, dan tulang alveolar. Penyakit ini tergolong penyakit gigi dan mulut kedua terbanyak yang diderita masyarakat di dunia setelah karies gigi. Menurut WHO, usia 12 tahun dipilih sebagai kelompok usia indikator global untuk perbandingan internasional dan surveilans kecenderungan penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status periodontal siswa usia 8-12 tahun di SD Negeri 126 Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Responden penelitian ialah 76 siswa, diambil dengan teknik purposive sampling. Data diperoleh berdasarkan pemeriksaan gingiva terhadap subyek menggunakan probe CPI WHO dan kaca mulut, kemudian diolah dengan cara analisis univariat serta disajikan dalam tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 7 siswa (9,2%) memiliki gingiva sehat, dan 69 siswa (90,8%) yang tidak sehat terdiri dari 66 siswa (86,8%) mengalami perdarahan gingiva ≤50%, dan 3 siswa (4%) mengalami perdarahan gingiva ≥51%. Simpulan: Sebagian besar siswa usia 8-12 tahun di SD Negeri 126 Manado mengalami perdarahan gingival ≤50%. Walaupun demikian, sebagian kecil siswa masih memiliki gingiva yang sehat.Kata kunci: anak usia 8-12 tahun, status periodontal, perdarahan gingiva
PENGGUNAAN BAHAN TUMPATAN DI RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT PSPDG FAKULTAS KEDOKTERAN UNSRAT PADA TAHUN 2014 Anang, Dewi Y.; Mariati, Ni Wayan; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.8764

Abstract

Abstract: Resin composite has been known since the sixtieth generation and generally it is known as the dentists? cosmetic restorative material. Amalgam is the oldest restorative material and it is famous due to its mechanical strength, endurance, and less expensive. Glass ionomer cement is an isochromatic tooth dentifrice; its main component is liquid consisted of water and polyacid, and a kind of fluoroaluminosilicate glass powder. This study aimed to obtain the profile of patients using dental restorative composite at the RSGM Manado in 2014. This was a descriptive retrospective study. There were 400 dental samples from the medical record categorized according to gender, age, kinds of treatment, and occupation. The results showed that dental treatment with filling was most frequent among females (65%) compared to males (35%). Most of the subjects (70%) were 21-30 years old. Moreover, most of the subjects (62.5%) used amalgam as the restorative material.Keywords: restorative material, composite resin, amalgam, GICAbstrak: Resin komposit ialah tumpatan pada generasi ke 60-an, dan secara umum dikenal sebagai bahan tumpatan kosmetik dentis. Amalgam merupakan bahan restorasi tertua dan cukup terkenal di masyarakat luas oleh karena kekuatan, daya tahan, dan harganya yang relatif murah. Glass Ionomer Cement ialah bahan tambal sewarna gigi yang komponen utamanya terdiri dari likuid yang merupakan gabungan air dengan polyacid (Asam poliakrilat, maleat, itakonat, tartarat) dan bubuk berupa fluoroaluminosilicate glass. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pasien yang menggunakan tumpatan gigi di RSGM Unsrat pada tahun 2014. Jenis penelitian ini deskriptif retrospektif. Jumlah data penelitian yang didapat yaitu 400 sampel data dental dari rekam medik dan dikategorikan sesuai jenis kelamin, usia, jenis perawatan dan pekerjaan. Hasil penelitian menunjukkan perawatan dengan bahan tumpatan lebih sering dilakukan oleh pasien berjenis kelamin perempuan (65%) dibandingkan laki-laki (35%). Distribusi subyek terbanyak pada usia 21-30 tahun (70%). Sebagian besar (62,5%) menggunakan bahan tumpatan amalgam.Kata kunci: tumpatan, resin komposit, amalgam, GIC
GAMBARAN PENYAKIT PERIODONTAL PADA PENDERITA DIABETES MELITUS DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT PROF. DR. R. D KANDOU MANADO Tambunan, Ezra G. R.; Pandelaki, Karel; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10399

Abstract

Abstract: Diabetes mellitus (DM) is a group of metabolic diseases with characteristic hyperglycemia that occurs due to insulin secretion, insulin action or both. This disease affects many societies and continuously growing in Indonesia. Periodontal disease is an oral health problem which has a relatively high prevalence in the community where periodontal disease in all age groups in Indonesia.The purpose of this study was to determine the periodontal disease in patients with diabetesmellitus in RSUP Prof. dr. R. D. Kandou Manado. This descriptive study has 68 sample taken with total sampling technique. The sample is examined using evaluation criteria gingival index and CPITN index. The result show that subjects with periodontitis with a score of 4 is the highest as many as 18 people (44%) and subject with a score of 2 is that at least as many as 8 people (19.5%). And subjects with bad gingivitis is the highest as many as 10 people (52.6%) and subject with the good gingivitis is the at least as many as 5 people (26.3%). Based on the result of this study, periodontal disease in patients with diabetes mellitus in RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou most that periodontitis with the number of 41 people (68.3%) compared to gingivitis which is just as many as 19 people (31.7%)Keywords: diabetes mellitus, periodontitis, gingivitis, periodontalAbstrak:Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Penyakit ini merupakan penyakit yang banyak diderita kalangan masyarakat dan terus berkembang di Indonesia. Penyakit periodontal merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut yang memiliki prevalensi cukup tinggi di masyarakat dimana penyakit periodontal pada semua kelompok umur di Indonesia.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penyakit periodontal pada penderita diabetes mellitus di RSUP Prof. dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan jumlah sampel 60 orang yang diambil dengan teknik total sampling. Sampel diperiksa dengan menggunakan kriteria penilaian indeks gingiva dan indeks CPITN. Hasil menunjukkan bahwa yang mengalami periodontitis dengan skor 4 adalah yang paling tinggi yaitu sebanyak 18 orang (44%), dan subjek yang mengalami skor 2 adalah yang yang paling sedikit yaitu sebanyak 8 orang (19.5%). Sedangkan yang mengalami gingivitis yang paling tinggi yaitu gingivitis buruk sebanyak 10 orang (52.6%) dan yang paling sedikit adalah yang mengalami gingivitis ringan yaitu sebanyak 5 orang (26.3%). Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penyakit periodontal yang paling banyak ditemui pada penderita diabetes melitus di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado adalah penyakit periodontitis yaitu sebanyak 41 orang (68.3%) dan yang paling sedikit adalah gingivitis yaitu sebanyak 19 orang (31.7%)Kata kunci: diabetes melitus, periodontitis, gingivitis, periodontal
Efektivitas Penggunaan Gigi Tiruan Sebagian Lepasan terhadap Fungsi Pengunyahan pada Masyarakat Desa Pinasungkulan Kecamatan Modoinding Mangundap, Gledis C. M.; Wowor, Vonny N. S.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 7, No 2 (2019): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.7.2.2019.24161

Abstract

Abstract: Removable partial denture is indicated to patients who lose some of their original teeth. The use of denture plays an important role in the recovery of masticatory system lost or disturbed due to tooth loss. This study was aimed to obtain the effectiveness of the use of removable partial dentures on the function of mastication. This was a quasi experimental study with one group pre and post test design. Population consisted of the community using removable dentures at Desa Pinasungkulan Modoinding, based on the prevalence of 879 denture users. There were 16 denture users as samples obtained by using purposive sampling method. We used questionnaire that had been tested for validity and reliability and the Wilcoxon test for data analysis. The results showed that the score of the effectiveness of mastication without using dentures was 207, categorized as 'less effective', meanwhile, the score of with using denture was 293, categorized as 'effective'. The Wilcoxon test resulted in a p-value of 0.004 which meant that there was a difference in masticatory function between using denture and without using denture. In conclusion, the use of removable partial denture was effective on the masticatory function of the community at Desa Pinasungkulan, Modoinding.Keywords: partial removable denture, effectiveness of mastication Abstrak: Gigi tiruan sebagian lepasan (GTSL) diindikasikan pada pasien yang kehilangan sebagian gigi aslinya. Penggunaan gigi tiruan berperan penting dalam pemulihan sistem pengunyahan yang hilang atau terganggu akibat kehilangan gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan GTSL terhadap fungsi pengunyahan. Jenis penelitian ialah quasi eksperimental dengan one group pre and post test design. Populasi penelitian yakni masyarakat pengguna GTSL di Desa Pinasungkulan Kecamatan Modoinding yang dihitung berdasarkan prevalensi pengguna gigi tiruan sebanyak 879, dengan besar sampel 16 pengguna GTSL diperoleh dengan menggunakan metode purposive sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang telah dilakukan uji validitas dan reabilitas. Analisis hasil penelitian menggunakan uji statistik Wilcoxon. Hasil penelitian mendapatkan skor pengukuran efektivitas pengunyahan tanpa memakai GTSL sebesar 207 (kategori ‘kurang efektif’) sedangkan setelah pemakaian GTSL perolehan skor sebesar 293 (kategori ’efektif’). Hasil uji Wilcoxon mendapatkan nilai p=0,004, yang berarti terdapat perbedaan fungsi pengunyahan tanpa menggunakan GTSL dan setelah menggunakan GTSL. Simpulan penelitian ini ialah penggunaan GTSL efektif terhadap fungsi pengunyahan pada masyarakat Desa Pinasungkulan Kecamatan ModoindingKata kunci: gigi tiruan sebagian lepasan, efektivitas pengunyahan
UJI EFEKTIVITAS JAMBU BIJI MERAH (Psidium guajava) TERHADAP LAJU ALIRAN SALIVA PADA PENDERITA XEROSTOMIA YANG MENGONSUMSI TELMISARTAN Waworuntu, Jemima L.; Wuisan, Jane; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9602

Abstract

Abstract: A study done by National Center for Biotechnologi Information (NCBI) to the user of antihypertension drugs, 50% of the individuals are suffering xerosomia or dry mouth. The reduction of saliva because of xerostomia may increase the risk of tooth damage. Vitamin C contained in red guava (Psidium Guajava) is expected to induce salivary flow rate in Xerostomia patients who consume antihypertensive Telmisartan.The purpose of this study is to acknowledge the effect of red guava in increasing salivary flow rate in Xerosotmia patients who consume antihypertensive Telmisartan. This is a clinical trial study with nonequivalent control group experimental design. Each group has 15 samples from the population of hypertensive patients who consume antihypertensive Telmisartan and are suffering Xerostomia in Pancaran Kasih Hospital and Prof. Dr. RD. Kandou Hospital. The treatment group is given red guava fruit that is already served as pure juice while the control group is only given mineral water. Saliva is collected twice, that is before treatment and after treatment. Saliva is collected by spitting method and the salivary flow rate is measured by using disposable syringe with the measurement of ml/minute.The result of this study shows that the average of salivary flow rate before of control group is 0.23 ml/minute and the average of salivary flow rate after is 0.28 ml/minute. While the average of salivary flow rate before treatmen in treatment group is 0.24 ml/minute and the average of salivary flow rate after treatment is 0.83 ml/minute. It can be concluded that red guava has been proved to be effectively increase salivary flowrate of xerostomia patients who consume antihypertensive Telmisartan.Keywords: xerostomia, red guava, salivary flow rateAbstrak: Sebuah studi yang dilakukan oleh National Center for Biotechnology Information (NCBI) yang melakukan penelitian terhadap pengguna obat antihipertensi, sebanyak 50% menderita Xerostomia atau mulut kering. Laju aliran saliva yang menurun akibat Xerostomia dapat menyebabkan meningkatnya resiko kerusakan gigi. Kandungan vitamin C pada buah jambu biji merah (Psidium guajava) diharapkan dapat meningkatkan laju aliran saliva pada penderita xerostomia yang mengonsumsi obat antihipertensi golongan Telmisartan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek jambu biji merah dalam meningkatkan laju aliran saliva pada penderita Xerostomia yang mengonsumsi Telmisartan. Penelitian ini adalah penelitian uji klinis dengan rancangan eksperimental nonequivalent control group design. Setiap kelompok beranggotakan 15 orang dari populasi pasien pengguna obat antihipertensi golongan Telmisartan yang menderita Xerostomia di RSU Pancaran Kasih dan RSUP Prof. DR. R. D. Kandou Malalayang. Kelompok perlakuan mengonsumsi buah jambu biji merah yang disajikan dalam bentuk jus murni sedangkan kelompok kontrol hanya mengonsumsi air mineral. Saliva dikumpulkan sebanyak dua kali yaitu sebelum dan sesudah mengonsumsi buah jambu biji merah. Saliva dikumpulkan dengan metode spitting dan laju aliran saliva diukur menggunakan disposable syringe dengan satuan ml/ menit.Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata laju aliran saliva awal pada kelompok kontrol yaitu 0,23 ml/menit dan laju aliran saliva akhir kelompok kontrol yaitu 0,28 ml/menit. Sedangkan rerata laju aliran saliva awal pada kelompok perlakuan yaitu 0,24 ml/menit dan laju aliran saliva akhir kelompok perlakuan yaitu 0,83 ml/menit. Dapat disimpulkan bahwa buah jambu biji merah dapat meningkatkan laju aliran saliva pada penderita Xerostomia yang mengonsumsi Telmisartan.Kata kunci: xerostomia, jambu biji merah, laju aliran saliva.
mbaran Status Kebersihan Gigi dan Mulut pada Pengguna Alat Ortodontik Cekat di SMA Negeri 7 Manado Mararu, Wahyu P.; Zuliari, Kustina; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 5, No 2 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.2.2017.17128

Abstract

Abstract: Oral and dental health is a part of the body health that can not be separated from each other because it can affect the whole body. Fixed orthodontic appliance has a more complex design that makes it more difficult to be cleaned compared to the removable orthodontic appliance. Therefore, people who use fixed orthodontic appliance are more difficult to maintain their oral hygiene. This study was aimed to obtain the oral and dental hygiene status of students at SMA Negeri 7 Manado (senior high school) that used fixed orthodontic appliance. This was a descriptive study with a cross-sectional design. This study was conducted at SMA Negeri 7 Manado with a total of 43 respondents obtained by using total sampling method. The results showed that the mean OHI-S of the respondents was 1.73 classified as moderate category. Conclusion: Oral and dental hygiene status of students at SMA Negeri 7 Manado that used fixed orthodontic appliance was categorized as moderate.Keywords: OHI-S, fixed orthondontics appliance, high school students Abstrak: Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian dari kesehatan tubuh yang tidak dapat dipisahkan satu dan lainnya karena akan memengaruhi kesehatan tubuh secara keseluruhan. Alat ortodontik cekat memiliki desain yang lebih sulit untuk dibersihkan dibandingkan dengan alat ortodontik lepasan, sehingga pasien pengguna ortodontik cekat lebih sulit untuk memelihara kebersihan mulut selama perawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status kebersihan gigi dan mulut pada siswa SMA Negeri 7 Manado yang menggunakan alat ortodontik cekat. Jenis penelitian ini ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Penelitian ini dilaksanakan di sekolah SMA Negeri 7 Manado dengan reponden sebanyak 43 siswa diperoleh dengan metode total sampling. Hasil penelitian menunjukkan nilai rerata indeks OHI-S dari 43 responden yang menggunakan alat ortodontik cekat di SMA Negeri 7 Manado sebesar 1,73 yang berada dalam kategori sedang. Simpulan: Status kebersihan gigi dan mulut siswa/i pengguna alat ortodontik cekat di SMA Negeri 7 Manado tergolong pada kriteria sedang.Kata kunci: OHI-S, ortondotik cekat, siswa SMA
Co-Authors . Juliatri, . A.A. Ketut Agung Cahyawan W Andi I. A. Marhaban Angelia Langkir Anggow, Ollivia R. Aruperes, Geraldo Y. Aurelia S. R. Supit Aurelia S. R. Supit Aurelia Supit B. S. Lampus Bawenti, Suryani Bayahu, Cintia Billy J. Kepel Billy O. S. Mayusip, Billy O. S. Celin L. Sindar Christal G. Oroh, Christal G. Christian F. Poluan Citra Ilery D. H. C. Pangemanan Damajanty H. C. Pangemanan Damajanty H. C. Pengemanan Damajanty H.C. Pangemanan Deisye Supit Dewi Y. Anang, Dewi Y. Dinar A. Wicaksono Ekarisma, Verena M. Elita Tambunan, Elita Ezra G. R. Tambunan, Ezra G. R. Farrah F. Sumangando Felisa E. K. Bagaray, Felisa E. K. Freddy Wagey Gabrielle Warongan Galong, Junistika Priskila Galongi, Junistika P. Gary S. J. Nayoan, Gary S. J. Gerung, Ayumi Y. Gracecylia R. Salampessy Grant T. H. Mawei Hassan, Ewithya H. Herwanto, Adine V. K. Hontong, Cheny Imelda Ch. Manurung Indry Worotitjan Inoi, Archi G. P. Jane Wuisan Janno B. B. Bernadus Jefrianto Wololy Jeiska Triska Tulangow Jemima L. Waworuntu, Jemima L. Jimmy Posangi Joan Christiany, Joan Joenda Soewantoro Johanna A. Khoman Julian G. Komansilan, Julian G. Juliatri . Juliatri Juliatri Jumrah Jamil Kaida, Dita C. Karamoy, Deborah Karamoy, Keysha A. Karel Pandelaki Keloay, Princess Keynes Y. Supit Khoman, Johanna Kindangen, Miranda L. Kinontoa, Fitrisya C. Koagouw, Marco S. Kojongian, Gloria M. P. Kolonio, Fanessa E. Krista V. Siagian Kustina Zuliari, Kustina Kusumawardani, Chendrakasih Lidia Iswanto, Lidia Lolongan, Raymond A. Lumempouw, Novany Lydia E. N. Tendean, Lydia E. N. Mangindaan, Rocky J. Mangowal, Maya P. Mangundap, Gledis C. M. Mantiri, Amanda N. P. Mararu, Wahyu P. Marimbun, Betrix E. Mario S. Howarto, Mario S. Marsela Liwe, Marsela Maureen M. Mawuntu, Maureen M. Meartriecs Tandilangi, Meartriecs Mega S. J. Warongan, Mega S. J. Meilan M. Suleh, Meilan M. Meily Ivane Esther Neman Mendur, Sheren Ch. M. Meyke Widyaningrum Michael A. Leman Milinia Mongkaren Mo'o, Billie A. F. P. Mokodompit, Moh. Fahmi M. Mongi, Pebrian B. Monica A. V. Rumampuk Monica M. Sengkey, Monica M. Motto, Christavia J. Nadhira Thereza Manoy, Nadhira Thereza Najwa F. Modjo Ni Made Windrawati, Ni Made Ni Wayan Mariati Ni Wayan Mariati Nonutu, Stevia E. Nur I. Martin Octavian, David Olivia Waworuntu Olyvia Octaviany Monoarfa P. S. Anindita Pardanus, Darlene G. Paulina Gunawan Paulina N. Gunawan Pemsi M. Wowor, Pemsi M. Pieter L. Suling Priscilia G. J. Tambuwun, Priscilia G. J. Pritartha S. Anindita Pritartha S. Anindita Putra, Febrian S. Putrawan, I Putu G.E. Radiah . Rahayu, Mayangsari P. Rambitan, Wulan K. D. Ratulangi, Marly H.R. Rengkuan, Raissa Y.E. Reyna Agnes Nastassia Lumentut Rizka Wahyuni Rizka Wahyuni Rizki Mulyana Djokja Rizkia Irianti Rizkika, Lilies Rompas, Irene F. Rompis, Kezia R. Sagemba, Pascal G. Sagrang, Patricia S. Shane H.R. Ticoalu Sherry Deiristi Sulangi Shirley E. S. Kawengian Sompie, Grace M. M. Stefani M. Karamoy, Stefani M. Sundah, Michael J. Syukri, Dwi M. Tambunan, Miranda A. Tandra, Noviana F. Tangka’a, Roy R. B. Tato, Enjelin M. Tawas, Stevany A.D. Theodorus Pangalila Ticoalu, Jolanda P. Utomo, Hestia E. Vania, Marella T. Vonny N. S. Wowor Vonny N. S. Wowor Vonny N.S. Wowor, Vonny N.S. Wanti, Melyana Woran, Yobel R. Wowor, Stephanie G. Wulan G. Parengkuan, Wulan G. Wulandari, Fitri K.