Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan Pemakaian Alat Ortodontik Cekat dengan Status Kebersihan Gigi dan Mulut Siswa SMA Kristen 1 Tomohon Rambitan, Wulan K. D.; Anindita, Pritartha S.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 7, No 1 (2019): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.7.1.2019.23309

Abstract

Abstract: Fixed orthodontic devices are the most commonly used orthodontic appliances in the community especially adolescent because they have become an important part of lifestyle. Albeit, users of fixed orthodontic appliances do not realize that fixed orthodontic appliances could become a risk factor for poor dental and oral hygiene. This study was aimed to determine the relationship between the use of fixed orthodontic devices and the dental and oral hygiene status of students at SMA Kristen 1 Tomohon (senior high school). This was an analytical observational study with a cross sectional design. Subjects were 43 students who used fixed orthodontics appliances obtained by using total sampling method. The results showed that most subjects used fixed orthodontic appliance for less than one year (58.1%). Moreover, the dental and oral hygiene status of most subjects were in the moderate category. The Chi-square showed a p-value of 0,060 for the relationship between the use of fixed orthodontic devices and the dental and oral hygiene status. Conclusion: There was no significant relationship between the duration of use of fixed orthodontic devices and the dental and oral hygiene status of students at SMA Kristen 1 TomohonKeywords: fixed orthodontic appliances, oral hygiene, adolescents Abstrak: Alat ortodontik cekat merupakan peralatan ortodontik yang paling sering dipakai oleh masyarakat khususnya remaja karena sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Namun pemakai alat ortodontik cekat tidak menyadari bahwa alat ortodontik cekat merupakan faktor risiko terganggunya kebersihan gigi dan mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemakaian alat ortodontik cekat dengan status kebersihan gigi dan mulut siswa SMA Kristen 1 Tomohon. Jenis penelitian ialah observasional analitik dengan desain potong lintang. Subyek penelitian yaitu 43 siswa yang memakai alat ortodontik cekat yang diperoleh dengan metode total sampling. Hasil penelitian menunjukkan pemakaian alat ortodontik cekat terbanyak yaitu di bawah satu tahun (58,1%) dan status kebersihan gigi dan mulut berada dalam kategori sedang. Hasil uji Chi-square terhadap hubungan antara pemakaian alat ortodontik cekat dengan status kebersihan gigi dan mulut subyek penelitian mendapatkan nilai p=0,060. Simpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara lama pemakaian alat ortodontik cekat dengan status kebersihan gigi dan mulut siswa SMA Kristen 1 Tomohon.Kata kunci: alat ortodontik cekat, kebersihan gigi dan mulut, remaja
Hubungan status gingiva dengan kebiasaan menyirih pada masyarakat di Kecamatan Manganitu Hontong, Cheny; Mintjelungan, Christy N.; Zuliari, Kustina
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.14157

Abstract

Abstract: Oral health is very important for every individual. Gingivitis is an inflammation of the gingiva caused by the interaction of microorganisms in plaques and bad habits inter alia the habit of chewing betel. This study was aimed to determine the relationship of gingival status and chewing habits based on the duration of betel chewing and chewing frequencies per day among Manganitu district community. This was a descriptive-analytical study with a cross-sectional design. Samples were taken by using purposive sampling. There were 39 respondents as samples. Clinical data of the gingival status was measured by using gingival index (GI) of Loe and Sillnes. The results of chi-square analysis showed a significant correlation between the gingival status and the betel chewing habit based on the duration of betel chewing habit (p = 0.000) and the frequency of betel chewing per day (p = 0.001). Conclusion: Gingival status of Manganitu district community who had betel chewing habit was classified in the severe category.Keywords: Status gingiva, chewing habits, Manganitu districts. Abstrak: Kesehatan gigi dan mulut sangat penting bagi setiap individu. Gingivitis merupakan inflamasi pada gingiva yang disebabkan oleh interaksi mikroorganisme pada plak dan kebiasaan buruk, salah satunya ialah kebiasaan menyirih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status gingiva dengan kebiasaan menyirih berdasarkan lama menyirih dan frekuensi menyirih perhari pada masyarakat kecamatan Manganitu. Jenis penelitian ialah deskriptif-analitik dengan desain potong lintang. Sampel diperoleh dengan metode purposive sampling sebanyak 39 responden. Data klinis tentang status gingiva diukur menggunakan gingival index (GI) menurut Loe dan Sillnes. Berdasarkan hasil uji analisis chi-square terdapat hubungan bermakna antara status gingiva dengan kebiasaan menyirih berdasarkan lama menyirih (p=0,000) dan frekuensi menyirih (p=0,001). Simpulan: Status gingiva masyarakat kecamatan Manganitu yang memiliki kebiasaan menyirih tergolong dalam kategori berat. Kata kunci: status gingiva, kebiasaan menyirih
Gambaran kebersihan gigi dan mulut pada siswa berkebutuhan khusus di SLB YPAC Manado Motto, Christavia J.; Mintjelungan, Christy N.; Ticoalu, Shane H.R.
e-GiGi Vol 5, No 1 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.1.2017.15632

Abstract

Abstract: Oral health is an important part of the overall body health. Children with special needs are at risk or have chronic physical, developmental, behavioral, or emotional condition, therefore, they commonly require some assistance in maintaining their cleanliness, especially the oral hygiene. The indicator degree of oral hygiene in Indonesia is the status of oral hygiene degree with an average of Simplified Oral Hygiene Index (OHI-S) <1.2 obtained from summing the number debris index and calculus index. This study was aimed to describe the dental and oral hygiene in students with special needs at SLB YPAC Manado. This was a descriptive study with a cross sectional design. Subjects were 36 students, aged 10-28 years, cooperative, and had letters of consent signed by their parents or proxy parents, obtained by using total sampling method. Data were analyzed manually and presented in tables, figures, and percentages, grouped based on their characteristics. The results showed that the students with special needs in SLB YPAC Manado had an average score of OHI-S of 1.3 with a total scores of Simplified Debris Index (DI-S) 0.9 and Simplified Calculus Index (CI-S) 0.4 which belonged to the moderate category.Keywords: oral hygiene, students with special needs Abstrak: Kesehatan gigi dan mulut menjadi salah satu bagian penting dari kesehatan tubuh secara keseluruhan. Anak berkebutuhan khusus (ABK) berisiko tinggi atau mempunyai kondisi kronis secara fisik, perkembangan, perilaku atau emosi sehingga memerlukan bantuan dalam menjaga kebersihan diri sendiri khususnya kebersihan gigi dan mulut. Indikator derajat kebersihan gigi dan mulut di Indonesia ialah status derajat kebersihan gigi dan mulut dengan rerata Oral Hygiene Index Simplified (OHI-S) <1,2 yang didapatkan dari menjumlahkan angka debris indeks dan kalkulus indeks. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kebersihan gigi dan mulut pada siswa berkebutuhan khusus di SLB YPAC Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Subyek penelitian sebanyak 36 siswa berusia 10-28 tahun, kooperatif, serta bersedia menjadi responden berdasarkan surat persetujuan yang ditandatangani oleh orang tua atau wali, diperoleh dengan metode total sampling. Data diolah secara manual dan ditampilkan dalam bentuk tabel, gambar, dan persentase yang dikelompokkan berdasarkan karakteristiknya. Hasil penelitian menunjukkan dari 36 siswa berkebutuhan khusus di SLB YPAC Manado didapatkan rerata skor OHI-S 1,3 dengan jumlah skor Debris Index Simplified (DI-S) 0,9 dan skor Calculus Index Simplified (CI-S) 0,4 yang tergolong pada status kebersihan gigi dan mulut sedang.Kata kunci: kebersihan gigi dan mulut, siswa berkebutuhan khusus
GAMBARAN XEROSTOMIA PADA KELOMPOK LANSIA YANG MENGGUNAKAN GIGI TIRUAN DI KABUPATEN MINAHASA Salampessy, Gracecylia R.; Mariati, Ni Wayan; Mintjelungan, Christy
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6458

Abstract

Abstack: A person who has entered the elderly group will experience a change in the composition of saliva, causing the production of saliva does not function normally and lead to a complaint of dry mouth or xerostomia. This study aimed to identify and clarify the picture of xerostomia in the elderly group who use denture in Minahasa district. Xerostomia is a common problem that many occur in the elderly. Clinically, patients with dry mouth will feel dry on the lips and the corners of the mouth become irritated. This was a descriptive study using a cross sectional design. This study was carried out in all elderly nursing homes in Minahasa district. The samples of this study were all elderly who used denture in nursing homes in Minahasa district. Salivary flow rate was measured with a measuring cup. The results showed that xerostomia was found in 93.75% of the elderly, more dominant in females (96.7%), and more frequent in the age group 65-69 years (63.3%). Conclusion: Xerostomia was more common in female elderly, therefore, it is expected that the elderly have to maintain their oral health by eating nutritious foods and vitamin C.Keywords: denture, elderly, xerostomia.Abstrak: Seseorang yang sudah memasuki kelompok lansia akan mengalami perubahan dalam komposisi saliva, sehingga menyebabkan produksi saliva tidak berfungsi dengan normal dan mengakibatkan keluhan mulut kering atau xerostomia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan gambaran xerostomia pada kelompok lansia yang menggunakan gigi tiruan di kabupaten Minahasa. Xerostomia merupakan masalah umum yang banyak terjadi pada lansia. Secara klinis pasien dengan mulut kering akan terasa kering pada bibir dan bagian sudut mulut mengalami iritasi. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif dengan pendekatan potong lintang. Penelitian ini dilakukan di seluruh panti werda di kabupaten Minahasa. Sampel penelitian ini ialah semua lansia yang menggunakan gigi tiruan di panti werda di kabupaten Minahasa. Pengukuran laju aliran saliva dilakukan dengan menggunakan metode gelas ukur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa xerostomia ditemukan pada 93,75% dari populasi, kelamin lebih dominan pada perempuan (96,7%), dan tersering pada rentang usia 65-69 tahun (63,3%). Simpulan: Xerostomia sering terjadi pada lansia terutama yang berjenis kelamin perempuan. Diharapkan para lansia dapat menjaga kesehatan gigi dan mulut dengan mengonsumsi makanan bergizi dan kaya vitamin C.Kata kunci: gigi tiruan, lansia, xerostomia
Kebutuhan perawatan ortodonsi berdasarkan index of orthodontic treatment need pada siswa usia 12-13 tahun di SMP Negeri 1 Wori Kolonio, Fanessa E.; Anindita, P. S.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.14164

Abstract

Abstract: Malocclusion is a form of occlusal disorders caused by irregular teeth growthas well as sizes and position of teeth. Malocclusion could create some disturbances in both physical and mental health of a person including problems in oral function, mastication, highly risk of trauma, periodontal diseases, and caries. Esthetically, malocclusion could affect a person’s appearances and psychological development especially in adolescent. Orthodontic treatment is performed to fix the malocclusion that could affect one’s oral health. The needs of orthodontic treatment itself can be leveled by using Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN). This study was aimed to obtain the needs of orthodontic treatment based on IOTN among students aged 12-13 years old at SMPN 1 Wori. This was an observational descriptive study with a cross sectional design. There were 30 respondents obtained by using purposive sampling technique. The need of treatment was leveled by using IOTN consisted of two components: aesthetic component (AC) and dental health component (DHC). The needs of orthodontic treatment measured with AC, 27 person (90%) were as follows: no need or little need for treatment in 27 students (90%); borderline need in 2 students (6.7%); and treatment required in 1 student (3.3%). The needs of orthodontic treatment based on DHC were as follows: no need or little need for treatment in 18 students (60%); borderline need in 8 students (26.7%); and treatment required in 4 students (13.3%).Keywords: malocclusion, needs of orthodontic treatment, IOTN. Abstrak: Maloklusi merupakan penyimpangan oklusi akibat tidak teraturnya pertumbuhan, posisi, serta ukuran gigi. Maloklusi dapat menyebabkan gangguan kesehatan fisik dan psikis, antara lain dapat mengganggu fungsi oral, mastikasi, berisiko tinggi terhadap trauma, penyakit periodontal, dan karies. Maloklusi secara estetis juga dapat memengaruhi penampilan wajah seseorang dan perkembangan psikologis terutama pada remaja. Perawatan ortodonsi ditujukan untuk memperbaiki maloklusi yang dapat memengaruhi kesehatan gigi dan rongga mulut. Perawatan ortodonsi yang tepat dapat dilihat dari tingkat kebutuhan perawatan ortodonsi yang diukur dengan Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebutuhan perawatan ortodonsi berdasarkan IOTN pada siswa berusia 12 - 13 tahun di SMP N 1 Wori. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional dengan desain potong lintang. Subjek penelitian berjumlah 30 siswa diperoleh dengan teknik purposive sampling. Kebutuhan perawatan ortodonsi menggunakan Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN) dengan dua komponen, yaitu Aesthetic Component (AC) dan Dental Health Component (DHC). Kebutuhan perawatan ortodonsi berdasarkan AC yaitu: 27 orang (90%) tidak atau butuh perawatan ringan; 2 orang (6,7%) perawatan borderline; dan 1 orang (3,3%) sangat butuh perawatan. Kebutuhan perawatan ortodonsi berdasarkan DHC yaitu: 18 orang (60%) tidak atau butuh perawatan ringan; 8 orang (26,7%) perawatan borderline, dan 4 orang (13,3%) sangat butuh perawatan. Kata kunci: maloklusi, kebutuhan perawatan, IOTN
Status gingiva siswa tunagrahita di sekolah luar biasa santa anna tomohon Ratulangi, Marly H.R.; Wowor, Vonny N.S.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.13928

Abstract

Abstract: Mental retardation means delayed mental development which is far below average. Students with mental retardation have difficulty to study, communicate, and socialize. They also have limited physical abilities even in daily activities, such as brushing their teeth themselves; therefore, they have higher risk of tooth decay and periodontal tissue disorders such as gingivitis compared with normal individuals. This study aimed to determine the gingival status of students with mental retardation at SLB Santa Anna Tomohon. This was a descriptive study with a cross-sectional design. Population of this study was all of mentally retarded students as many as 51 students obtained by using total sampling method. Data consisted of checking sheets of gingival indexes. The results showed that the gingival status of 39 mentally retarded students (76.5%) was in mild inflammation category. Conclusion: Most students of SLB Santa Anna Tomohon had gingival status of mild inflammation category.Keywords: gingival status, tunagrahita student. Abstrak: Siswa tunagrahita atau retardasi mental ialah siswa yang mengalami keterlambatan perkembangan mental jauh di bawah rata-rata sehingga mengalami kesulitan dalam belajar, berkomunikasi, maupun bersosialisasi. Kemampuan fisik yang terbatas membuat tunagrahita kurang mampu untuk menjalankan aktivitas kehidupan sehari-hari secara normal contohnya dalam hal membersihkan rongga mulutnya sendiri. Hal ini menyebabkan tunagrahita berisiko lebih tinggi dibandingkan dengan individu normal terhadap kerusakan gigi geligi dan kelainan jaringan periodontal seperti gingivitis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status gingiva siswa tunagrahita di SLB Santa Anna Tomohon. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Populasi penelitian yaitu seluruh siswa tunagrahita berjumlah 51 siswa. Pengambilan sampel menggunakan metode total sampling. Pengumpulan data menggunakan lembar pemeriksaan status gingiva dengan indeks gingiva. Hasil penelitian menunjukkan status gingiva siswa tunagrahita Sekolah Luar Biasa Santa Anna Tomohon sebagian besar termasuk kategori inflamasi ringan (indeks gingiva 0,7) yaitu sebanyak 39 responden (76,5%). Simpulan: Status gingiva sebagian besar siswa tunagrahita Sekolah Luar Biasa Santa Anna Tomohon termasuk dalam kategori inflamasi ringan. Kata kunci: status gingiva, siswa tunagrahita.
STATUS PERIODONTAL DAN KEBUTUHAN PERAWATAN PADA USIA LANJUT Lumentut, Reyna Agnes Nastassia; Gunawan, Paulina N.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.2619

Abstract

Abstract: Elderly is a phase of declinemind and physical abilities caused by various degenerative diseases, environmental conditions and lifestyles. Changes that occur can lead the elderly to become susceptible to various diseases and one of it in oral is periodontal disease. The purpose of this research is to find out description of periodontal status and treatment need on elderly.This research is a descriptive research of Cross Sectional Study. The research did in the village of Ratatotok Muara with the community sample aged ≥ 55 years as many as 41 responden.Periodontal status examination performed by using an index of the WHO Community periodontal index of treatment needs (CPITN).Results showed that there was no healty periodontal, 1 person (2,44%) had bleeding on probing, 17 person (41,46%) have calculus, 19 orang (46,34%) had periodontal pocket 4-5 mm and patient with periodontal pocket ≥ 6 mm were 4 person (9,76%). Key words: Elderly, periodontal disease, CPITN.     Abstrak: Usia lanjut adalah fase menurunnya kemampuan akal dan fisik akibat berbagai penyakit degeneratif, kondisi lingkungan serta gaya hidup. Perubahan yang terjadi mengakibatkan usia lanjut rentan terhadap berbagai penyakit termasuk penyakit periodontal. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran status periodontal dan kebutuhan perawatan periodontal pada usia lanjut. Penelitian ini merupakan suatu penelitian deskriptif dengan pendekatan Study Cross Sectional.Penelitian dilakukan di desa Ratatotok Muara dengan sampel masyarakat yang berusia ≥ 55 tahun sebanyak 41 orang.Pemeriksaan status periodontal dilakukan dengan menggunakan indeks dari WHO yaitu Community index of periodontal treatment needs (CPITN). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ditemukan periodontal sehat, 1 orang (2,44%) yang mengalami perdarahan pada saat probing, 17 orang (41,46%) yang memiliki karang gigi, 19 orang (46,34%) yang mengalami poket periodontal 4-5 mm dan sebanyak 4 orang (9,76%) yang mengalami poket periodontal ≥ 6 mm. Kata kunci : Usia lanjut, penyakit periodontal, CPITN.
PENGARUH TEKNIK MENYIKAT GIGI VERTIKAL TERHADAP TERJADINYA RESESI GINGIVA Christiany, Joan; Wowor, Vonny N. S.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10484

Abstract

Abstract: Gingival recession is a state or condition of the marginal gingiva that is more apical than the cementoenamel junction and is usually accompanied by opening of the root surface of teeth. Wrong brushing technique is the most common cause of gingival recession. Brushing technique that is most widely used is vertical direction. This study aimed to determine the influence of vertical brushing technique to the occurrence of gingival recession in students of Dentistry study program Sam Ratulangi University. This was a descriptive analytical study with a cross sectional design. Samples were obtained by using the purposive sampling method. Data of brushing technique were obtained by observing the vertical movement of tooth brushing used by respondents and were filled in a check list. Gingival recession was obtained by examination of the oral cavity and the severity of gingival recession was determined. There were 71 students as samples. Data were analyzed with the chi-square test. The results showed the influence of vertical brushing technique to gingival recession with a p value = 0.000 (p = <0.005).Keywords: gingival recession, vertical techniques, brushing techniqueAbstrak: Resesi gingiva adalah kondisi marginal gingiva yang lebih ke apikal dari Cemento Enamel Junction dan biasanya disertai dengan terbukanya permukaan akar gigi. Kesalahan dalam menyikat gigi merupakan penyebab resesi gingiva yang paling umum. Kesalahan yang dimaksud yaitu kesalahan dalam teknik menyikat gigi. Teknik menyikat gigi yang paling banyak di gunakan ialah teknik menyikat gigi vertikal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa besar pengaruh teknik menyikat gigi vertikal terhadap terjadinya resesi gingiva pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Universitas Sam Ratulangi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan rancangan potong lintang. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Pengambilan data teknik menyikat gigi vertikal dengan cara melihat gerakan menyikat gigi yang digunakan subjek penelitian. Hasil pengamatan dimasukkan pada check list sesuai dengan teknik menyikat gigi yang digunakan. Resesi gingiva didapat dengan melakukan pemeriksaan rongga mulut kemudian dihitung tingkat keparahan resesi gingiva. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 71 mahasiswa. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji chi-square. Hasil data menunjukkan adanya pengaruh teknik menyikat gigi vertikal terhadap resesi gingiva dengan nilai p = 0,000 (p = <0,005).Kata kunci: resesi gingiva, teknik vertikal, teknik menyikat gigi
Analisis Kualitas Hidup Pasien Usia Produktif Pengguna Gigi Tiruan Sebagian Lepasan di RSGM PSPDG Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado Siagian, Krista V.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 5, No 2 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.2.2017.17985

Abstract

Abstract: Working-age population has a great potential in terms of productivity and creativity of work as well as health problems including oral and dental health that will affect the quality of life (QoL). This study was aimed to analyze the QoL of the productive age patients who wore partial removable dentures made at Dental and Oral Hospital (RSGM) Sam Ratulangi University in Manado. This was a descriptive analytical study with a cross sectional design. This study was conducted at Dental and Oral Hospital from March to October 2017. We used OHIP 14 questionnaire to assess the QoL. Data were statistically analyzed by using univariate, bivariate, and multivariate analysis. There were 30 respondents of working age (16-54 years) wearing partial removable dentures obtained by purposive sampling. The results of OHIP-14 showed that 25 respondents (83.3%) had good QoL and 5 respondents (16.7%) had moderate QoL. The chi-square test showed a significant relationship between the duration of wearing denture and QoL (P-value of 0.041). Conclusion: In this study, the quality of life of most working-age patients wearing partial removable dentures was good. There was a significant correlation between the duration of wearing denture and the quality of life based on OHIP-14.Keywords: productive age, partial removable denture, OHIP-14 Abstrak: Populasi usia produktif memiliki potensi besar dalam hal produktivitas dan kreativitas bekerja, namun juga masalah kesehatan termasuk kesehatan gigi dan mulut yang akan memengaruhi kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas hidup pasien usia produktif pengguna gigi tiruan sebagian lepasan (GTSL) yang dibuat di Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Program Studi Pendidikan Dokter Gigi (PSPDG) Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Penelitian dilaksanakan di RSGM PSPDG Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi sejak bulan Maret sampai Oktober 2017. Instrumen penelitian ialah kuesioner OHIP 14 untuk menilai kualitass hidup. Data dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat. Responden dalam studi ini berjumlah 30 pasien usia produktif (16-54 tahun) pengguna GTSL yang dibuat di RSGM PSPDG Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, diperoleh dengan metode purposive sampling. Hasil penilaian dimensi OHIP-14 memperlihatkan 25 responden (83,3%) dengan kualitas hidup baik dan 5 responden (16,7%) dengan kualitas hidup sedang. Hasil uji chi-square terhadap hubungan antara lama pemakain GTSL dan kualitas hidup pasien pengguna GTSL mendapatkan nilai P=0,041. Simpulan: Kualitas hidup pasien pengguna GTSL di RSGM PSPDG Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi berdasarkan OHIP-14 tergolong baik. Terdapat hubungan antara lama pemakaian GTSL dan kualitas hidup berdasarkan OHIP-14 pada pasien pengguna GTSL.Kata kunci: usia produktif, gigi tiruan sebagian lepasan, kualitas hidup OHIP-14
Perbedaan Intensitas Nyeri Saat Tindakan Skeling Ultrasonik Berdasarkan Kriteria OHI-S di RSGM Universitas Sam Ratulangi Karamoy, Deborah; Pangemanan, Damajanty H. C.; Mintjelungan, Christy N.; Khoman, Johanna
e-GiGi Vol 7, No 2 (2019): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.7.2.2019.23881

Abstract

Abstract: Pain is defined as an unpleasant sensory and emotional experience related to actual or the potential to cause tissue damage. Ultrasonic scaling is easier and more preferred to remove calculus on the tooth surface compared to manual scaling. The Oral Hygiene Index Simplified (OHI-S) is an index for assessing dental and oral hygiene status. This study was aimed to obtain the differences in pain intensity during ultrasonic scaling treatment among patients with varied OHI-S at RSGM Unsrat. This study is an analytical study using a cross sectional analysis. There were 36 patients involved in this study, obtained by using total sampling method. The results showed that the means of pain intensity during ultrasonic scaling in patients with good OHI-S was 6.50%; in patients with moderate OHI-S was 18.50%; and in patients with poor OHI-S was 28.79%. The Kruskal Wallis test showed a p-value of 0,000 for the differences in pain intensity during ultrasonic scaling. It is concluded that there were significant differences in the pain intensity during ultrasonic scaling based on the OHI-S criteria.Keywords: pain, ultrasonic scaling, Oral Hygiene Index Simplified (OHI-S).Abstrak: Nyeri didefinisikan sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan yang aktual atau berpotensi untuk mengakibatkan kerusakan jaringan. Skeling ultrasonik merupakan skeling yang lebih mudah dan lebih banyak dilakukan untuk menghilangkan kalkulus pada permukaan gigi dibanding dengan skeling manual. Oral Hygiene Index Simplified (OHI-S) merupakan indeks untuk menilai status kebersihan gigi dan mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan intensitas nyeri saat tindakan skeling ultrasonik berdasarkan kriteria OHI-S di RSGM Unsrat. Jenis penelitian ialah analitik dengan desain potong lintang. Sampel diperoleh secara total sampling yang berjumlah 36 orang. Hasil pemeriksaan menunjukkan nilai rerata intensitas nyeri saat skeling ultrasonik dengan OHI-S baik sebesar 6,50%; dengan OHI-S sedang sebesar 18,50%; dan dengan OHI-S buruk sebesar 28,79%. Hasil uji Kruskal Wallis terhadap perbedaan nilai rerata intensitas myeri mendapatkan nilai p=0,000. Simpulan penelitian ini ialah terdapat perbedaan bermakna dalam intensitas nyeri saat tindakan skeling ultrasonik berdasarkan kriteria OHI-S.Kata kunci: nyeri, skeling ultrasonik, Oral Hygiene Index Simplified (OHI-S)
Co-Authors . Juliatri, . A.A. Ketut Agung Cahyawan W Andi I. A. Marhaban Angelia Langkir Anggow, Ollivia R. Aruperes, Geraldo Y. Aurelia S. R. Supit Aurelia S. R. Supit Aurelia Supit B. S. Lampus Bawenti, Suryani Bayahu, Cintia Billy J. Kepel Billy O. S. Mayusip, Billy O. S. Celin L. Sindar Christal G. Oroh, Christal G. Christian F. Poluan Citra Ilery D. H. C. Pangemanan Damajanty H. C. Pangemanan Damajanty H. C. Pengemanan Damajanty H.C. Pangemanan Deisye Supit Dewi Y. Anang, Dewi Y. Dinar A. Wicaksono Ekarisma, Verena M. Elita Tambunan, Elita Ezra G. R. Tambunan, Ezra G. R. Farrah F. Sumangando Felisa E. K. Bagaray, Felisa E. K. Freddy Wagey Gabrielle Warongan Galong, Junistika Priskila Galongi, Junistika P. Gary S. J. Nayoan, Gary S. J. Gerung, Ayumi Y. Gracecylia R. Salampessy Grant T. H. Mawei Hassan, Ewithya H. Herwanto, Adine V. K. Hontong, Cheny Imelda Ch. Manurung Indry Worotitjan Inoi, Archi G. P. Jane Wuisan Janno B. B. Bernadus Jefrianto Wololy Jeiska Triska Tulangow Jemima L. Waworuntu, Jemima L. Jimmy Posangi Joan Christiany, Joan Joenda Soewantoro Johanna A. Khoman Julian G. Komansilan, Julian G. Juliatri . Juliatri Juliatri Jumrah Jamil Kaida, Dita C. Karamoy, Deborah Karamoy, Keysha A. Karel Pandelaki Keloay, Princess Keynes Y. Supit Khoman, Johanna Kindangen, Miranda L. Kinontoa, Fitrisya C. Koagouw, Marco S. Kojongian, Gloria M. P. Kolonio, Fanessa E. Krista V. Siagian Kustina Zuliari, Kustina Kusumawardani, Chendrakasih Lidia Iswanto, Lidia Lolongan, Raymond A. Lumempouw, Novany Lydia E. N. Tendean, Lydia E. N. Mangindaan, Rocky J. Mangowal, Maya P. Mangundap, Gledis C. M. Mantiri, Amanda N. P. Mararu, Wahyu P. Marimbun, Betrix E. Mario S. Howarto, Mario S. Marsela Liwe, Marsela Maureen M. Mawuntu, Maureen M. Meartriecs Tandilangi, Meartriecs Mega S. J. Warongan, Mega S. J. Meilan M. Suleh, Meilan M. Meily Ivane Esther Neman Mendur, Sheren Ch. M. Meyke Widyaningrum Michael A. Leman Milinia Mongkaren Mo'o, Billie A. F. P. Mokodompit, Moh. Fahmi M. Mongi, Pebrian B. Monica A. V. Rumampuk Monica M. Sengkey, Monica M. Motto, Christavia J. Nadhira Thereza Manoy, Nadhira Thereza Najwa F. Modjo Ni Made Windrawati, Ni Made Ni Wayan Mariati Ni Wayan Mariati Nonutu, Stevia E. Nur I. Martin Octavian, David Olivia Waworuntu Olyvia Octaviany Monoarfa P. S. Anindita Pardanus, Darlene G. Paulina Gunawan Paulina N. Gunawan Pemsi M. Wowor, Pemsi M. Pieter L. Suling Priscilia G. J. Tambuwun, Priscilia G. J. Pritartha S. Anindita Pritartha S. Anindita Putra, Febrian S. Putrawan, I Putu G.E. Radiah . Rahayu, Mayangsari P. Rambitan, Wulan K. D. Ratulangi, Marly H.R. Rengkuan, Raissa Y.E. Reyna Agnes Nastassia Lumentut Rizka Wahyuni Rizka Wahyuni Rizki Mulyana Djokja Rizkia Irianti Rizkika, Lilies Rompas, Irene F. Rompis, Kezia R. Sagemba, Pascal G. Sagrang, Patricia S. Shane H.R. Ticoalu Sherry Deiristi Sulangi Shirley E. S. Kawengian Sompie, Grace M. M. Stefani M. Karamoy, Stefani M. Sundah, Michael J. Syukri, Dwi M. Tambunan, Miranda A. Tandra, Noviana F. Tangka’a, Roy R. B. Tato, Enjelin M. Tawas, Stevany A.D. Theodorus Pangalila Ticoalu, Jolanda P. Utomo, Hestia E. Vania, Marella T. Vonny N. S. Wowor Vonny N. S. Wowor Vonny N.S. Wowor, Vonny N.S. Wanti, Melyana Woran, Yobel R. Wowor, Stephanie G. Wulan G. Parengkuan, Wulan G. Wulandari, Fitri K.