Claim Missing Document
Check
Articles

STRATEGI PENGEMBANGAN PARIWISATA DI KECAMATAN AIRMADIDI DAN KECAMATAN KALAWAT KABUPATEN MINAHASA UTARA Laipi, Cornelia Inri; Rondonuwu, Dwight; Mononimbar, Windy
SPASIAL Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pariwisata yang merupakan industri besar yang dapat berkontribusi untuk meningkatkan pendapatan daerah maupun Negara. Hal telsebut dapat dilakukan dengan memanfaatkan potensi-potensi wisata dan pengembangan fasilitas infrastrukturnya. Daerah yang memiliki potensi wisata seperti Kecamatan Airmadidi dan Kecamatan Kalawat Kabupaten Minahasa Utara harus dikembangkan dan dimanfaatkan agar terlihat signifikan bagi para wisatawan. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi potensi-potensi wisata, dan menganalisis strategi pengembangan pariwisata. Metode penelitian ini dilakukan dengan random sampling dan  analisis SWOT yang mengacu pada teori pariwisata yaitu 3A (Atraksi, Aksesibilitas dan Amenitas/Fasilitas). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa potensi-potensi pariwisata yang ada Kecamatan Airmadidi dan Kecamatan Kalawat cukup beragam, terdiri dari daya tarik wisata alam, budaya dan buatan, seperti Gunung Klabat, Arung Jeram Sawangan, peninggalan warisan budaya Waruga, Mata Air Tumatenden, Goa Jepang, Monumen Walanda Maramis, River Park Sawangan, Raewaya Hills, Hutan Kota Kuwil, Hutan Kota Kenangan, dan Kaki Dian. Namun pengelolaan pada sejumlah lokasi wisata tersebut kurang baik misalnya fasilitas yang belum ada seperti toilet, tempat sampah, akses jalan yang masih berbatu dan berlubang serta belum adanya transportasi yang dikhususkan untuk ke lokasi wisata. Melalui analisis SWOT yang dilakukan maka dapat dirumuskan strategi pengembangan pariwisata di Kecamatan Airmadidi dan Kecamatan Kalawat, yakni membangun infrastruktur pendukung pariwisata dengan pengawasan dan pemeliharaan terhadap fasilitas-fasilitas wisata yang sudah tersedia, peningkatkan kerjasama dengan pihak investor untuk mengembangkan potensi –potensi wisata yang ada di Kecamatan Airmadidi dan Kecamatan Kalawat Kabupaten Minahasa Utara.Kata Kunci : Strategi Pengembangan, Pariwisata, Analisis SWOT, Minahasa Utara
STUDI KELAYAKAN KAWASAN PERKOTAAN RATAHAN SEBAGAI KOTA RAMAH ANAK Poludu, Ruth Wahyuni; Syafriny, Reny; Mononimbar, Windy
SPASIAL Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan Kota Ramah Anak akan memberikan kontribusi bagi kesejahteraan anak, khususnya masyarakat yang tinggal dan menetap di suatu wilayah. Kontribusi yang diberikan misalnya anak mampu memanfaatkan waktu luang untuk kegiatan budaya, serta yang terpenting anak mendapatkan hak-haknya dalam menggunakan fasilitas-fasilitas umum. Konsep ini belum sepenuhnya diterapkan di berbagai kota di Indonesia salah satunya di Kawasan Perkotaan Ratahan yang merupakan pusat kegiatan Kabupaten Minahasa Tenggara. Hal ini berdasarkan pengamatan awal bahwa secara makro ketersediaan prasarana dan sarana belum layak untuk mendukung konsep kota ramah anak sementara di Kabupaten Minahasa Tenggara telah mendapatkan penghargaan kategori Pratama sebagai kabupaten ramah anak. Oleh karena itu maka dilakukan penelitian yang bertujuan pertama untuk mengetahui persepsi anak tentang lingkungan tempat tinggal yang diinginkan, kedua untuk mengidentifikasi kondisi prasarana dan sarana sebagai penunjang kota ramah anak, ketiga untuk mengetahui kelayakan Kawasan Perkotaan Ratahan sebagai kota ramah anak dari segi persepsi anak dan kondisi eksisting yang diuraikan secara deskriptif. Untuk mencapai tujuan tersebut maka dilakukan observasi kondisi Kawasan Perkotaan Ratahan dan wawancara kepada anak yang merupakan responden melalui gambar. Hasilnya adalah sebagian besar anak berpersepsi bahwa lingkungan tempat tinggal bersama teman dengan adanya taman bermain di sekolah dan di lingkungan sekitar rumah merupakan keinginan mereka sementara di Kawasan Perkotaan Ratahan belum tersedia bermain, sebaran sekolah sebagian besar belum ramah anak serta jalan yang ada juga belum ramah anak sehingga dapat dikatakan persepsi anak belum diikutsertakan dalam menunjang kota ramah anak di Kawasan Perkotaan Ratahan.Kata kunci: Kawasan perkotaan, kota ramah anak, studi kelayakan.
ANALISIS TINGKAT LAHAN KRITIS BERBASIS SIG (SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS) (STUDI KASUS: KECAMATAN AMURANG, KECAMATAN AMURANG TIMUR, KECAMATAN AMURANG BARAT, DAN KECAMATAN TUMPAAN) Tuhehay, Krisandi; Gosal, Pierre H.; Mononimbar, Windy
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lahan kritis merupakan tanah yang mengalami atau dalam proses kerusakan kimia, fisik, dan biologi yang dapat mengganggu atau kehilangan fungsinya di dalam lingkungan. Kondisi ini dapat merusak tata air dan lingkungan sekitarnya. Dampak dari lahan kritis adalah penurunanan tingkat kesuburan tanah, berkurangnya ketersediaan sumber air pada musim kemarau serta banjir pada musim hujan. Seperti diketahui pada tahun 2018 hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang mengakibatkan bencana alam seperti banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah tempat di Kabupaten Minahasa Selatan. Dari aspek penggunaan lahan daerahnya merupakan dominasi penggunaan lahan berupa kebun campuran dan tegalan/ladang, penggunaan lahan seperti ini merupakan penggunaan lahan yang kurang baik apabila pengelolaanya tidak didasarkan pada kaidah-kaidah konservasi tanah maka lahan dapat menjadi rusak dan cenderung akan berubah menjadi lahan agak kritis atau kritis.  Penyebab utama lahan kritis pada daerah penelitian adalah karena aktivitas pertanian yang tidak memperhatikan aspek-aspek kelestarian lahan. Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan metode skoring dapat digunakan untuk pengambilan keputusan mengenai pengelolaan lahan secara tepat untuk menghindari kerusakan ekosistem yang ada. Peta tingkat lahan kritis dihasilkan dari overlay peta kemiringan lereng, penutupan tajuk, bahaya erosi, dan manajemen lahan yang sesuai dengan peraturan Departemen Kehutanan No. P.4/V-SET/2013. Berdasarkan hasil penelitian maka diketahuilah persebaran tingkat lahan kritis yang ada di Kecamatan Amurang terdapat tingkat potensial kritis yang mendominasi di Kecamatan ini dengan persebaran di Kecamatan Amurang meliputi Kelurahan Bitung, Buyungon, Kilometer tiga, Lewet, Ranoketang tua, dan Uwuran satu. Kecamatan Amurang Barat terdapat tingkat agak kritis yang mendominasi di Kecamatan ini dengan persebaran di Kecamatan Amurang Barat meliputi Kelurahan Elusan, Kapitu, Kawangkoan bawah, Pondos, Desa rumoong bawah, Teep, Tewasen, Wakan, dan Rumoong bawah. Kecamatan Amurang Timur terdapat tingkat potensial kritis yang mendominasi di Kecamatan ini dengan persebaran di Kecamatan Amurang Timur meliputi Kelurahan Kota Menara, Lopana, Malenos baru, Maliku, Pinaling, Pondang, Ranomea, dan Ritey. Sedangkan untuk Kecamatan Tumpaan terdapat tingkat potensil kritis yang mendominasi di Kecamatan ini dengan persebaran di Kecamatan Tumpaan meliputi Kelurahan Lelema, Matani, Matani satu, Munte Popontolen, Tangkuney, Tumpaan, Tumpaan baru, Tumpaan satu, dan Tumpaan dua.Melalui data persebaran lahan kritis, maka dipetakan wilayah mana saja yang perlu diperbaiki atau dapat disebut rehabilitasi lahan.Kata kunci:  Sistem Informasi Geografis, Tingkat Lahan Kritis
PENGEMBANGAN KAWASAN AGROWISATA DI KECAMATAN MODOINDING Mpila, Gerald P; Gosal, Pierre H; Mononimbar, Windy
SPASIAL Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Provinsi Sulawesi Utara memiliki salah satu wilayah yang memiliki potensi agrowisata yakni Kecamatan Modoinding yang berada di Kabupaten Minahasa Selatan yang meliputi hamparan tanaman hortikultura Kawasan Agropolitan Modoinding dan Bukit Doa Kakenturan. Namun potensi agrowisata yang dimiliki Kecamatan Modoinding ini belum sepenuhnya dikembangkan dan dimanfaatkan secara optimal. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan menganalisa potensi dan permasalahan serta strategi pengembangan Kawasan Agrowisata di Kecamatan Modoinding dengan menggunakan metode deskriptif-kualitatif. Hasil dari penelitian, selain potensi perkebunan, Kecamatan Modoinding juga memiliki potensi alam dan potensi budaya yang dapat di kembangkan menjadi daya tarik objek wisata yang mendukung pengembangan kawasan agrowisata, sedangkan kendalanya adalah kurangnya fasilitas penunjang wisata, kondisi objek wisata yang tidak terawat, terbatasnya informasi kawasan agrowisata dan belum maksimalnya pengelolaan yang dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat lokal. Oleh karena itu, prioritas strategi pengembangan kawasan agrowisata di Kecamatan Modoinding berdasarkan analisis SWOT adalah peningkatan sumber daya manusia dalam menegelola agrowisata, kerjama pemerintah dan masyarakat, peningkatan aksesabilitas, penyediaan fasilitas wisatawan, pengembangan ekonomi, dan meningkatkan promosi kawasan agrowisata. Selanjutnya arahan pengembangan Kawsasan Agrowisata di Kecamatan Modoinding berdasarkan konsep 4A (atraction, accesability, amenities, ancillary) yakni pengembangan atraksi sesuai potensi lokal desa, penyediaan prasarana dan sarana transportasi, penyediaan, perbaikan dan pengoptimalan fasilitas wisata, pembentukan kelompok sadar wisata, dan promosi melalui sarana periklanan dan penyelenggaraaan ivent-ivent khusus.Kata Kunci : Pengembangan, Kawasan Agrowisata, Kecamatan Modoinding
CHRISTIAN YOUTH CENTER DI AMURANG. Arsitektur Simbolisme Sangkoy, Farly R.; Mononimbar, Windy; Warouw, Fela
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 9, No 1 (2020): Volume 9 No. 1 Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia sebagai negara yang majemuk dengan berbagai macam suku bangsa, bahasa dan agama merupakan Negara yang ber-Ke-Tuhanan, sesuai dengan ideologi Pancasila sila pertama yaitu Ke-Tuhan-an Yang Maha Esa. Atas dasar ideologi Pancasila, negara menjamin kebebasan dalam kehidupan umat beragama untuk memilih dan beribadah  menurut agama dan kepercayaannya masing-masing. Kabupaten Minahasa Selatan yang merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Utara, yang memiliki penduduk yang mayoritas beragama Kristen. Di mana anak muda Kristen yang ada di Kabupaten Minahasa Selatan cukup aktif dalam kegiatan-kegiatan keagamaan seperti kegiatan Festival Seni Pemuda yang dilaksanakan setiap tahunnya, kegiatan seminar-seminar keKristenan yang hampir tiap bulan dilaksanakan, kegiatan AEYA, dll.Untuk mewadahi kebutuhan tersebut maka diperlukan fasilitas-fasilitas penunjang, akan tetapi di Kabupaten Minahasa Selatan, belum ada fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan tersebut untuk bisa menunjang kegiatan kerohanian komunitas remaja/pemuda. Kehadiran Christian Youth Center diharapkan bisa menjadi salah satu wadah yang dapat menampung aktifitas remaja/pemuda Kristen dengan fasilitas yang memadai dan menjadi tempat pelatihan bagi siapapun yang memiliki keinginan untuk mengembangkan talenta dalam melayani Tuhan. Pada perancangan Christian Youth Center di Amurang, “Arsitektur Simbolisme” digunakan sebagai pendekatan tema. Istilah simbolisme pada dasarnya berbicara tentang tanda dan simbol. Lewat Penggunaan tema tersebut diharapakan Christian Youth Center di Amurang dapat menjadi media komunikasi Firman Tuhan secara arsitektural. Kata Kunci: Arsitektur, Christian Youth Center, Simbolisme
PAPENDANGAN DI AMURANG “ARSITEKTUR BAMBU” Mamangkey, Meliza; Gosal, Pierre H.; Mononimbar, Windy
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 5, No 1 (2016): Volume 5 No.1 Mei 2016
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sektor pendidikan merupakan salah satu program prioritas pembangunan daerah Kabupaten Minahasa Selatan. Saat ini, pendidikan nonformal khususnya pendidikan yang mengajarkan budaya lokal dalam hal ini budaya Minahasa merupakan alternatif yang dibutuhkan generasi muda dalam penemuan jati diri dan pengembangan diri, khususnya di Minahasa Selatan yang memiliki jumlah penduduk terbanyak kedua dan memiliki luas wilayah terbesar di Minahasa Raya. Selain itu, letak Amurang sebagai ibukota Kabupaten Minahasa Selatan merupakan letak yang sangat strategis dilihat dari perspektif regional. Melihat pentingnya anak muda di Minahasa Selatan bahkan Minahasa secara keseluruhan untuk belajar tentang budaya Minahasa maka ada baiknya dihadirkan kembali Papendangan yang pada sejarahnya sebagai pusat pendidikan orang Minahasa tempo dulu. Untuk membangun Papendangan berdasarkan RTRW Kabupaten Minahasa Selatan dan kriteria pemilihan lokasi site lainnya, Papendangan sebagai fasilitas pendidikan berlokasi di Desa Rumoong Bawah, Kecamatan Amurang Barat. Dalam menghadirkan kembali Papendangan yang berlokasi di Amurang maka penulisan ini berisi konsep-konsep perancangan Papendangan dengan racikan baru berdasarkan studi literatur tentang objek Papendangan dan hasil studi komparasi dengan objek yang memiliki fungsi sejenis. Arsitektur Bambu digunakan sebagai tema perancangan karena bambu dianggap mengandung filosofi yang sejalan dengan visi Papendangan yang ingin melindungi generasi muda Minahasa dengan ilmu budaya yaitu budaya Minahasa. Kata Kunci : Pendidikan Nonformal, Papendangan, Amurang, Arsitektur Bambu
PUSAT KONSERVASI EKSITU TAMAN NASIONAL WASUR DI MERAUKE (Simbiosisme Arsitektural) Liem, Adrianus; Sondakh, Julianus A. R.; Mononimbar, Windy; Moniaga, Ingerid L.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 3, No 1 (2014): Volume 3 No.1 Mei 2014
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Daya tarik alam Papua secara umum dan Kabupaten Merauke secara lebih khusus merupakan anugerah dan warisan alam yang sangat menjanjikan dan sepatutnya harus dijaga untuk keberlangsungannya kedepan. Provinsi Papua  dan Papua Barat memiliki luas hutan terluas di Indonesia, Taman Nasional Wasur di Kabupaten Merauke sendiri memiliki luas mencapai 413.800. Taman nasional ini merupakan aset kabupaten merauke untuk menjamin kestabilan alam dari segala interaksi sosial masyarakat disekitarnya, Tetapi dalam kenyataannya keberadaan Taman Nasional Wasur ini sendiri mulai mendapat ancaman yang dapat mengganggu kehidupan ekosistem didalamnya, sehingga upaya pelestarian warisan alam ini tentu menjadi tidak mudah dengan permasalahan yang ada Dari berbagai latar belakang permasalahan yang ada maka perlu di hadirkan sebuah sarana yang dapat menjadi wadah arsitektural sebagai Pusat Konservasi Eksitu yang melindungi dan menjamin kelestarian ekosistem didalamnya, dan juga sebagai sarana informasi untuk masyarakat umum. Kata Kunci: Taman Nasional Wasur, Pusat Konservasi Eksitu.
GEDUNG KULIAH JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNSRAT (Ekspresi Struktur sebagai Optimalisasi Konsep Sekuen) Supit, Hendra C.; MT, Suryono; Mononimbar, Windy
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 4, No 2 (2015): Volume 4 No.2 November 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keadaan fasilitas gedung kuliah mahasiswa dan dosen Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Unsrat yang tidak memadai dimana hanya menempati gedung sementara karena gedung perkuliahan yang lama rusak akibat kebakaran, selain itu gedung perkuliahan sementara tidak nyaman untuk fasilitas perkuliahan karena gedung tersebut direncanakan penggunaannya sebagai laboratorium.Permasalahan lainnya adalah fasilitas penunjang kuliah arsitektur seperti laboratorium-laboratorium dan studio tugas akhir yang terpisah dari gedung perkuliahan, yang mana menjadi kendala dalam akses ke fasilitas tersebut.Dari permasalah-permasalahan tersebut sehingga dirasakan perlu adanya pembangunan kembali gedung perkuliahan Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Unsrat yang representatif dimana mampu menampung seluruh aktifitas perkuliahan dan mampu memberikan fasilitas perkuliahan yang nyaman serta terwadahi dalam satu lokasi.Dalam pendekatan perancangan gedung kuliah ini digunakan pendekatan tema Ekspresi Struktur sebagai Optimalisasi Konsep Sekuen, konsep sekuen merupakan penyajian secara beurutan sebagai pergantian pengalaman pengamat dalam pengamatannya terhadap suatu komposisi. Pada perancangan kali ini komposisi yang dimaksud adalah ekspresi struktur yaitu perwujudan raut wajah dari elemen struktur. Dari perancangan gedung kuliah ini ditemukan bahwa kebisingan yang muncul selain faktor background noise, adalah terlalu besarnya sirkulasi di luar ruangan kelas yang menjadi tempat berkumpulnya para mahasiswa untuk bercengkrama setelah kegiatan perkuliahan, sehingga pada perancangan sirkulasi di luar ruangan kelas diperkecil dan dibuat ruang-ruang sebagai tempat para mahasiswa untuk menjadi tempat bercengkrama. Pada perancangan ini juga fasilitas-fasilitas pendukung perkuliahan dirancang dalam satu lokasi dan untuk mempermudah akses antar fasilitas dirancang jembatan penghubung. Kata Kunci :Gedung kuliah, ekspresi struktur, konsep sekuen
KAMPUNG SUSUN NELAYAN DI TUMINTING (EKSPRESI PERILAKU PADA GUBAHAN BENTUK DAN RUANG ARSITEKTUR) Kiroh, Christian I.; Mononimbar, Windy; Makainas, Indradjaja
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 3, No 1 (2014): Volume 3 No.1 Mei 2014
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dengan melihat wajah Kota Manado saat ini bisa dikatan sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, itu dikarnakan banyak terjadi pembenahan di bagian-bagian yang merupakan pusat-pusat dari Kota Manado,  dapat dikatakan sebagai bentuk keindahan dari Kota yang sering sekali dilalui oleh masyarakat ataupun turis-turis lokal dan asing. Tetapi ada hal yang di lupakan oleh pemerintah Kota, bahwa ada pula bagian lain dari waja Kota yang perlu di tata serta di benahi agar dapat mendukung dan memberikan keuntungan bagi masyarakat pinggiran pesisiri pantai tuminting yang dimana kurang sekali di perhatikan, oleh karna itu timbulah satu ide pembangunan atau penataan ulang kawasan perkampungan secara bertahap dalam bentuk “ Kampung Susun Nelayan Di Tuminting “ Proses perancangan ini mengunakan tema yaitu: ”EKSPRESI PERILAKU PADA GUBAHAN BENTUK DAN RUANG ARSITEKTUR”. Kenapa Tema ini yang di angkat/di gunakan karna melihat dua hal yaitu dari segi prinsib sebuah perkampungan pada umunya adalah Kebersamaannya, serta Kebudayaan yang takpernah lepas dari perilaku masyarakat kampung tersebut. Oleh karna itu dari sisi Arsitektur yang menampung masalah-masalah serta menganalisa sebuah kawasan sehingga dapat menghasilkan sebuang ide perancangan yang dapat memberikan wajah yang baru pada satu perkampungan yang ada pada umumnya. Lokasi pembangunan “Kampung Susun Nelayan” ini terletak di Kota Manado. Terdapat beberapa lokasi yang dimana masyarakat di dalamnya berprofesi sebagai seorang nelayan, namun dengan melihat daerah tuminting terutama di Kec. Sindulang yang sedang di persiapkan sebagai daerah yang terbuka area pesisirnya, yang nantinya akan di lewati banyak kendaraan pribadi dan angkutan umum itu di karnakan posisi daerah site ini sangat dekat dengan jembatan Soekarno yang sedang dibangun. Karna itu, lokasi yang ada di Sindulang ini sangat cocok digunankan untuk ide perancangan.   Kata Kunci : Kampung, Penataan, Nelayan.
BALIKPAPAN CONVENTION CENTER (IMPLEMENTASI STRATEGI “SINSIGN” DALAM ARSITEKTUR) Dondokambey, Olivia O.; Mononimbar, Windy; Makarau, Vicky H.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 3, No 1 (2014): Volume 3 No.1 Mei 2014
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

seperti konser / show, seminar serta pertemuan bertaraf nasional maupun internasional, namun Kota Balikpapan tidak mempunyai wadah khusus yang dapat menunjang aktivitas kovensi tersebut. Maka Balikpapan Convention Center yang berfungsi sebagai tempat pertemuan dan wadah seluruh kegiatan konvensi dihadirkan untuk menjawab permasalahan tersebut. Pada Laporan Perancangan Tugas Akhir ini, proses perancangan yang dipakai adalah proses desain generasi II yang terdiri dari tahap pengembangan wawasan komprehensif dan tahap siklus image-present-test. Substansi pembahasan meliputi kajian terhadap objek perancangan, kajian terhadap lokasi yang ada di Balikpapan, dan kajian terhadap implementasi strategi “Sinsign” dalam Arsitektur. Implementasi prinsip-prinsip Sinsign dapat dijadikan sebagai patokan untuk mengolah gubahan massa bangunan, façade, sistem struktur serta konsep ruang dalam. Berdasarkan hasil perancangan, dapat dilihat bahwa bangunan Balikpapan Convention Center pada bangunan Meeting Avenue terlihat seperti Rig minyak, bagian Crown Tower pada dianalogikan sebagai Sky View, bagian Moon Pool dianalogikan sebagai Sky Bridge, Subs-Structure dari Rig diterapkan sebagai struktur bangunan dan ornament façade, serta Rig Supplier Ship diambil sebagai dasar bentukan Conference Avenue dalam perancangan. Kata kunci : Konvensi, Sinsign, Convention Center, Balikpapan
Co-Authors . Pierre H. Gosal Adrianus Liem Alfa A. Joseph Ali, Sadam Alvin J. Tinangon Amanda Sembel Annastasia Gadis Pradiptasari, Annastasia Gadis Azzahra Putri Utami Celine Claudia Ticoalu Christian I. Kiroh Claudia S. Punuh Cynthia E. V. Wuisang, Cynthia E. V. Cynthia E.V. Wuisang Da Costa, Alarico Dapas, Gisella A Dowes D. C. Larungkondo Dwight M Rondonuwu, Dwight M Elvira Florensia Metekohy, Elvira Florensia Esli D. Takumansang Faizah Mastutie Farly R. Sangkoy Fela Warouw Fela Warouw Franklin J.C Papia Franklin, Papia J. Fredrik T. Andries Frits O. P. Siregar Gabriela I. Sarira, Gabriela I. Sarira Gryzella L. Tangkau Hanny Poli Hanny Poli Hendra C. Supit, Hendra C. Hendriek H. Karongkong Indah Cipta Gobel Indah Cipta Gobel, Indah Cipta Indradjaja Makainas Ingerid L. Moniaga Inri I. Tilaar Ixnando J. Ondang Josua Rifaldo Sangkoy Judy O Waani Julianus A. R. Sondakh Julianus A. R. Sondakh Kamuh, Amelia Kevin T. S. Laotongan Kezia G. Wowiling Kolanus, Marchall Kuhu, Raine Amelia Kuhu, Raine Amelia Laipi, Cornelia Inri Langoy, Rilly Algi O. Lawene, Chilfy Lewina Linda Tondobala Linda Tondobala Malau, Febri Irwandi Mandang, Velline N.V. Marchall Kolanus Mariani R.G.O Sakul Mario Y. Maturbongs Meliza Mamangkey, Meliza Mirah, Edbert M Mpila, Gerald P Mursid, Azzahra Ngangi, Reddy Silvano Ngion, Renaldy Miracle Olivia O. Dondokambey Papia J.C. Franklin Papia, Franklin J.C Pierre H Gosal, Pierre H Pierre H. Gosal Poli Hanny, Poli Poludu, Ruth Wahyuni Pricilia F. F. Soputan Rachmat Prijadi Rachmat Prijadi Ramlan Balahanti Rate, Johanes Van Raymond Ch. Tarore Reny Syafriny Reynaldo Tampinongkol Richard A. Nelwan, Richard A. Rimer P. A. Walelang Rondonuwu, Dwight Sadam Ali Sangkoy, Farly R. Sangkoy, Josua Rifaldo Sonny Tilaar Sonny Tilaar Surijadi Supardjo Suryono MT Tambajong, Josal Tampinongkol, Reynaldo Tangkau, Gryzella L. Tesalonika M. Wungow Ticoalu, Celine Claudia Tuhehay, Krisandi Tumembouw, Eunike D. K. Umi Muliya, Umi Utami, Azzahra Putri Verry Lahamendu, Verry Vicky H. Makarau Vicky H. Makarau Welang, Cindy P Wiarni, Suci Zekry N Mamahit, Zekry N