Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search
Journal : Mahasiswa S2 PAH

UPACARA MESAYUT TIPAT SASIH KEWULU DI DESA PAKRAMAN KAWAN, KECAMATAN BANGLI, KABUPATEN BANGLI ( PERSPEKTIF PENDIDIKAN AGAMA HINDU ) Mudana, Nyoman
Mahasiswa S2 PAH Vol 1, No 1 (2013): E-Journal S2 Dharma Acarya
Publisher : Mahasiswa S2 PAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (33.87 KB)

Abstract

Keterbukaan komunikasi dengan dunia luar tersebut mempertemukan dua arus tipe budaya,yaitu antara budaya Barat sebagai budaya progresif yang dimuarai oleh nilai rasionalitas dengan budaya Timur yang dimuarai nilai religius dan estetik termasuk Bali. Keadaan ini membuka peluang untuk masyarakat Bali mempertanyakan berbagai ritual, tradisi dan konsep agama yang diterima secara turun temurun dalam bingkai rasionalisme. Evolusi pemikiran masyarakat Bali secara konstan membawa gesekan-gesekan ditingkat masyarakat awam atau bahkan dikalangan intelektual, mengingat adanya perbedaan pendidikan dan sudut pandang. Agama Hindu memiliki dua sistem penentuan upacara yajña yaitu berdasarkan sasih yaitu datangnya setiap tahun (sasih) dan berdasarkan wuku yang datangnya setiap enam bulan sekali. Yajña  yang datangnya setahun seperti hari raya Nyepi dan Siwaratri yang semuanya itu bersifat penyucian pada buana alit (diri manusia), sedangkan yajña yang datangnya setiap enam bulan (wuku)  seperti Hari Raya Galungan Kuningan, Saraswati, Tumpek  dan Lain-lainnya adalah bersifat persembahan  (yajña) kepada Panca yajña. Akan tetapi pelaksanaan Upacara Mesayut Tipat dilaksanakan setiap tahun yaitu pada sasih kawulu umumnya disamping bersifat penyucian pada buana alit juga persembahan kepada para Dewa (Dewa yajña) dan juga pada sesama mahluk (manusa yajña) dengan sarana utama ketipat sirikan yang jumlahnya disesuaikan dengan jumlah urip dari panca wara maupun sapta wara kelahiranTujuan penelitian secara umum  mengkaji  perspektif pendidikan Agama Hindu. Adapun masalah yang dikaji meliputi (1) Pola Upacara mesayut Tipat di desa Pakraman. (2) fungsi Upacara Mesayut Tipat. (3) nilai-nilai Pendidikan Agama Hindu  yang terdapat dalam upacara tersebut. Masalah dibedah dengan menggunakan teori fungsional struktural yaitu untuk membedah latar belakang pelaksanaan Upacara Mesayut Tipat, teori  simbol untuk membedah fungsi Upacara Mesayut Tipat, dan teori pendidikan untuk membedah nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam Upacara Mesayut Tipat. Teknik pengumpulan data menggunakan: observasi, wawancara,  dan studi dokumen. Teknik analisis data menggunakan metode kualitatif, dan penyajian bersifat deskriptif.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa yang melatarbelakangi pelaksanaan Upacara Mesayut Tipat: a). ucapan terima kasih dan permohonan keselamatan dan kerahayuan kepada leluhur dan Ida Sang Hyang Widhi beserta manifestasinya, b). Untuk mengembalikan keseimbangan Buana Alit (mikrokosmos) dan Buana Agung (makrokosmos)Pola Upacara Mesayut Tipat mencakup: a) Persiapan pelaksanaan yaitu dari pengumpulan sarana yang akan dipakai dalam upacara mesayut tipat.  b). Pelaksanaan upacara diawali dari persembahan kepada leluhur / Ida sang Hyang Widhi beserta manifestasinya dilanjutkan dengan ngayab atau natab pada setiap umat secara bersamaan c).setelah pemimpin menyeleasikan tugasnya dalam upacara mesayut tipat sebagai penutup dilanjutkan dengan prasadam dengan nunas banten ayaban masing- masing disertai dengan ramah tamah dalam keluarga .Fungsi Upacara Mesayut Tipat yaitu : a) Fungsi Religius adalah  memohon keselamatan yang datang dari dorongan rohani manusia dari lubuk hatinya yang suci sehingga dapat meyakinkan diri serta berusaha untuk dapat menyesuaikan diri dengan seluruh tata aturan alam semesta, kepada Hyang Widhi untuk mencapai keseimbangan Bhuana Agung dan Bhuana Alit, b) Fungsi Sosiologi adalah pengunaan sesayut  sebagai sarana upacara karena adanya keyakinan masyarakat sesayut dapat memberikan kerahayuan terhadap umat yang melaksanakannya, c) Fungsi Etika yaitu persembahan yang dilakukan hendaknya tidak mengikat, tetapi harus tetap disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki serta dengan rasa suci dan bhakti yang mendalam, d) Fungsi Estetika yaitu keindahan perwujudan cita, rasa dan karsa untuk memuja Tuhan, sehingga dalam pelaksanaan Upacara Mesayut Tipat dipahami sebagai konsep seni dalam ruang pikir untuk kemahakuasaan Tuhan Yang Maha Esa serta upakara merupakan bentuk seni ritual, mengandung rasa indah (sunddaram) ke-Tuhanan yang sejati (satyam), mengandung unsur siwam sekaligus kebenaran (satyam), e) Fungsi pendidikan yaitu adanya pengaruh edukatif yang baik kepada orang lain (Tukang Banten) yang memberikan pengaruh yang positif kepada orang lain yang belajar atau ingin mengetahui mengenai Banten Mesayut Tipat untuk menjaga dan memelihara keseimbangan alam.Nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam upacara ini; a).Nilai pendidikan Religiusitas yakni dengan pelaksanaan Upacara Mesayut Tipat dengan memakai ketipat sirikan yang jumlahnya disesuaikan dengan urip kelahiran membuat perasaan seseorang menjadi tenang, tentram dan nyaman. Nilai Sosial pendidikan yakni adanya jalinan kekerabatan yang kental dalam keluarga baik dari proses persiapan dan saat prasadam secara bersamaan dalam Upacara Mesayut Tipat tersebut. c) Nilai Tattwa yakni kegiatan yang bersifat ritual sebagai usaha mendekatkan diri kehadapan Ida Sang Hyang Widhi sebagai wujud bhakti dan penyampaian terima kasih kepada-Nya, d) Nilai Harmonisasi yaitu dengan penggunaan sarana seprti buah-buahan local yang ada pada sasih tersebut diharapkan dapat terjalin hubungan harmonis antara manusia dengan alam, e) nilai pendidikan  yakni pembuatan banten sayut ketipat dengan reringgitan yang artistik diatur sesuai aturan yang diwariskan secara turun-temurun.   Kata kunci : Upacara Mesayut Tipat Sasih Kawulu, Pendidikan Agama Hindu
Co-Authors A.A Ayu Wulan Ratna Dewi Abdillah, Andi Adiwati - Ahyandi, Syarif Syamsi Aminuyati Anak Agung Ayu Putri Tunggal Dewi Anak Agung Ketut Sukranatha Ansyah, A. Rusli Budi Badrul Munir, Badrul Citra Prameswari Debby Tri Sebbiana Tarigan Dewa Gde Rudy Gede Herda Virgananta Gusti Ayu Inten Ardianti Dewi Gusti Ayu Nadina Utama Pramadani Handika, Ehwanul I Dewa Ayu Widiantari I Gede Angga Dananjaya I Gede Komang Agus Wirajaya I Gede Oki Adi Saputra I Gusti Agung Manik Juliantari I Gusti Ayu Puspawati I Gusti Made Chandra Wijaya I Gusti Ngurah Alit Jaya Praditha I Gusti Ngurah Nyoman Arnawa I Gusti Nyoman Agung I Kadek Yoga Semarayana I Ketut Agus Surya Opriyana I Ketut Markeling I Komang Wijana I Made Dedy Priyanto I Made Dedy Priyatno I Made Dwi Pradnya Dita I Made Khrisna Sujaya I Made Pujawan I Made Sarjana I Made Udiana I Made Wisnu Saputra I Nyoman Darmada I Nyoman Darmadha I Putu Aris Udiana Putra I Putu Gede Yoga Pramana I Putu Widhi Semarajaya I Wayan Agus Sumandika Ida Ayu Kade Trisna Wulandewi Ida Ayu Sukihana Ida Ayu Utami Prabandari Ida Bagus Gede Surya Kumara Yoga Ida Bagus Putu Emanda Pramana Imelda Sutoyo Indah Dwi Rahmawati Javier, R. Mohamad Jeffryanto Hamonangan Komang Mahendra l Gusti Ngurah Janardana Limanto, Ericko Julian Luh Gede Pebby Gitasari Luh Putu Ani Sulistiana Dewi Made Aditya Ambara Made Gede Angga Bagus Setiawan Made Nadya Pradnya Sari Made Yogi Prasada Made Yunita Asrini Maisuri T. Chalid, Maisuri T. Marwanto Marwanto Mu’ammar Kadafi Ngurah Agung Khrisna Kusuma Kepakisan Ni Ketut Supasti Dharmawan Ni Komang Lina Permatasari Ni Luh Ayu Desi Putri Pratami Ni Luh Putu Astriani Ni Made Ayu Sri Lestari Ni Made Denny Ambarwati Ni Made Dharmika Yogiswari Ni Made Gearani Larisa Paramita Ni Nyoman Dalem Andi Yusianti Ni Putu Ayu Ersania Prami Ni Putu Indianita Cahyanti Ni Putu Queen Mahayani Tenaya Ni Wayan Indah Junyanitha Niedia Happy Pertiwi Febriana Chandrawati Pio Salvator Ginting Suka Putu Gede Surya Eka Prayuda Putu Lia Apriyanti Randy Saputra Rialdi, Andisa Fadhila Rina Florensa Sitompul Robin Wiradinata Sang Ayu Nyoman Johani Selvi Marcellia Theresya Agnes Anugrah Verjenia Beatriks Regon Wicaksono, Himawan Yanu Prapto Sudarmojo