Claim Missing Document
Check
Articles

Aplikasi metabolit sekunder dari tiga isolat Pseudomonas fluorescens untuk mengendalikan penyakit antraknosa pada daun kakao Fitrianti FITRIANTI; Loekas - SOESANTO; Endang MUGIASTUTI; Murti Wisnu Ragil SASTYAWAN; Abdul MANAN
Menara Perkebunan Vol. 90 No. 1 (2022): 90 (1), 2022
Publisher : INDONESIAN OIL PALM RESEARCH INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v90i1.483

Abstract

Anthracnose caused by Colletotrichum gloeosporoides is an important disease in cocoa. This research aimed to determine the effectiveness of secondary metabolites derived from three isolates of Pseudomonas fluorescens to control cocoa leaves anthracnose, and their influence on the growth of cocoa plants. The research was conducted at a smallholder cocoa plantation in Putat Village, Patuk District, Gunung Kidul Regency, Yogyakarta for four months. A randomized block design was used with four replicates and seven treatments consisted of control, application of secondary metabolites from P. fluorescens P60, P. fluorescens P20, P. fluorescens P8, combination P. fluorescens P60 + P20, P. fluorescens P60 + P8, and P. fluorescens P20 + P8. Variables observed were disease intensity, infection rate, number of healthy shoots and qualitative phenolic compound. Resultsof the research showed that the secondary metabolites of P. fluorescens P60, P20 and P8 alone or in combination  suppressed the disease intensity by42.01-54.50%. The infection rate caused by metabolite secondary of P. fluorescens P60, P20, P8, P. fluorescens P60+P20, P. fluorescens P60+P8,and P. fluorescens P20+P8 was 0.23; 0.25; 0.26; 0.26; 0.31; and 0.24 units/day, respectively. The secondary metabolites of P. fluorescens P60 increased the number of healthy shoots by 67.44 %. The secondary metabolites of P. fluorescens P60 increased phenolic compounds (tannin, saponin, and glycosides) in cocoa leaves.[Keyword: leaves anthracnose, Colletotrichum gloeosporoides, cocoa, secondary metabolites, Pseudomonas fluorescens] AbstrakAntraknosa yang disebabkan oleh Colletotrichum gloeosporioides merupakan penyakit penting pada tanaman kakao. Penelitian bertujuan mengkaji keefektifan metabolit sekunder dari tiga isolat Pseudomonas fluorescens untuk mengendalikan penyakit antraknosa pada daun kakao, serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman kakao. Penelitian dilaksanakan di perkebunan kakao rakyat, Desa Putat, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta selama empat bulan. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok untuk menguji 7 perlakuan yang diulang 4 kali, perlakuan yang diuji adalah kontrol, aplikasi metabolit sekunder P. fluorescens P60, P. fluorescens P20, P. fluorescens P8, kombinasi P. fluorescens P60+P20, P. fluorescens P60+P8, dan P. fluorescens P20+P8. Variabel pengamatan meliputi intensitas penyakit, laju infeksi, jumlah tunas sehat, dan kandungan senyawa fenol secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan metabolit sekunder P. fluorescens P60, P20, dan P8 secara tunggal dan gabungan mampu menekan intensitas penyakit berkisar 42,01-54,50%. Laju infeksi perlakuan metabolit sekunder P. fluorescens P60, P. fluorescens P20, P. fluorescens P8, kombinasi P. fluorescens P60+P20, P. fluorescens P60+P8 dan P. fluorescens P20+P8 berturut-turut 0,23; 0,25; 0,26; 0,26; 0,31; dan 0,24 unit/hari. Metabolit sekunder P. fluorescens P60 meningkatkan jumlah tunas sehat sebesar 67,44%. Perlakuan P. fluorescens P60 meningkatkan senyawa fenol (saponin, tanin, dan glikosida) pada daun kakao.[Kata kunci: antraknosa daun, Colletotrichum gloeosporoides, kakao, metabolit sekunder, Pseudomonas fluorescens]
Application of biocontrol products Bio P60 and Bio T10 as single or in combination in suppressing chili fruit anthracnose in the field Mugiastuti, Endang; Hidayat, Fitrian; Sastyawan, Murti Wisnu Ragil; Leana, Ni Wayan Anik; Soesanto, Loekas
Jurnal Hama dan Penyakit Tumbuhan Tropika Vol. 25 No. 2 (2025): SEPTEMBER, JURNAL HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN TROPIKA: JOURNAL OF TROPICAL PLAN
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jhptt.225230-240

Abstract

This study aimed to evaluate the effectiveness of single or combined applications of Bio P60 and Bio T10 products in suppressing anthracnose disease in chili pepper under field conditions. The research was conducted at an altitude of 1200 m above sea level using a randomized block design with five treatments: control, chemical fungicide, Bio P60, Bio T10, and a combination of Bio P60 and Bio T10, each replicated five times. Observed variables included incubation period, disease incidence, disease intensity, area under disease progress curve (AUDPC), infection rate, plant height, number of leaves, time of first flower, time of first fruit, number of fruits, fruit weight per plant, harvest weight per plot, and qualitative phenolic compound content. The results showed that the combined application of Bio P60 and Bio T10 was the most effective, delaying the incubation period, suppressing disease intensity, and reducing AUDPC by 13.71%, 69.34%, and 47.06%, respectively, compared to the control. The combination treatment also enhanced plant growth and yield, increasing plant height, number of fruits, fruit weight per plant, and harvest weight per plot by 27.38%, 62.65%, 90.85%, and 82.99%, respectively. Furthermore, the application of Bio P60, Bio T10, and their combination increased phenolic compound content qualitatively in chili pepper plants.
Teknologi Pembuatan Metabolit Sekunder Agens Hayati Secara Sederhana Untuk Mengendalikan Penyakit Karat Merah Rahayuniati, Ruth Feti; Manan, Abdul; Mugiastuti, Endang; Soesanto, Loekas
Jurnal SOLMA Vol. 14 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/solma.v14i2.17216

Abstract

Pendahuluan: Penyakit karat merah pada tanaman buah dan tanaman keras menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas hasil panen. Penggunaan pestisida kimia secara tidak bijak berisiko menimbulkan residu berbahaya. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan petani tentang organisme pengganggu tanaman (OPT) hortikultura tahunan serta keterampilan membuat biopestisida berbasis metabolit sekunder dari agensia hayati. Metode: Sasaran kegiatan adalah Gapoktan Berkah Abadi di Desa Pagerandong, Kecamatan Mrebet, Purbalingga. Teknologi ditransfer melalui pendidikan dan pelatihan pembuatan metabolit sekunder dari agensia hayati secara sederhana. Hasil: Kegiatan berhasil meningkatkan pengetahuan petani tentang OPT dan pengendaliannya. Petani juga mampu memproduksi metabolit sekunder secara mandiri. Kesimpulan: Sosialisasi meningkatkan pengetahuan petani lebih dari 75%, dan pelatihan meningkatkan keterampilan dalam memperbanyak Trichoderma sp., serta membuat biopestisida dan metabolit sekunder.
Rhizospheric Bacillus spp. as biocontrol agents against maize downy mildew and growth promoters Mugiastuti, Endang; Manan, Abdul; Soesanto, Loekas; Primayuri, Deviana; Sundari, Dini
Jurnal AGRO Vol. 12 No. 1 (2025)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.45887

Abstract

Downy mildew is one of the major patogen limiting maize productivity in Indonesia. Effective mitigation strategies are essential due to the significant yield losses it causes. Biological control is an environmentally viable alternative method of disease management. Bacillus spp. are biological control agent capable of producing metabolic chemicals that can inhibit plant infections, hence holding potential for downy mildew management. This study aimed to evaluate the effectiveness of Bacillus spp. from the maize rhizosphere to manage downy mildew and promote maize plant growth. The research employed a completely randomized block design, consisting of four treatments and six replications. The treatments comprised Bacillus amyloliquefaciens BB.R3, B. subtilis BK.R5, Bacillus spp. BK.R9, fungicides treatment (metalaxyl), and control group for comparison. The observed variables included spore germination, incubation period, disease incidence, disease severity, Area Under Disease Progression Curve (AUDPC), number of leaves, plant height, fresh shoot weight, and fresh root weight. The findings revealed that B. amyloliquefaciens BB.R3, B. subtilis BK.R5, and Bacillus spp. BK.R9 effectively inhibited downy mildew by decreasing spore germination by 80.55-100%, prolonging the incubation period, and inhibiting disease incidence by 20.37-53.70%, disease severity by 25.64-62.56%, and AUDPC by 22.21-63.37%. B. amyloliquefaciens BB.R3 can enhance plant growth by augmenting root weight by 122.63% and maize plant weight by 80.26%.   ABSTRAK   Penyakit bulai merupakan salah satu penyakit utama yang menghambat produksi jagung di Indonesia. Upaya pengelolaan penyakit bulai perlu dilakukan mengingat besarnya kehilangan yang ditimbulkan.  Pengendalian hayati merupakan salah satu alternatif pengendalian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Bacillus spp. adalah bakteri yang mampu menghasilkan senyawa metabolik, dapat mengendalikan pathogen tanaman sehingga berpotensi sebagai pengendali penyakit bulai.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan Bacillus spp. asal rizosfer untuk mengendalikan penyakit bulai dan mengoptimalkan pertumbuhan tanaman jagung. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap, dengan 4 perlakuan dan 6 ulangan. Perlakuan meliputi Bacillus amyloliquefaciens BB.R3, Bacillus subtilis BK.R5, Bacillus spp.. BK.R9, serta fungisida (metalaksil) dan kontrol sebagai pembanding. Variabel yang diamati meliputi perkecambahan spora, masa inkubasi, kejadian penyakit, intensitas penyakit, AUDPC, jumlah daun, tinggi tanaman, bobot tanaman segar, dan bobot akar segar. Hasil penelitian menunjukkan B. amyloliquefaciens BB.R3, B. subtilis BK.R5, Bacillus spp.. BK.R9 mampu menekan penyakit bulai jagung, dengan menurunkan perkecambahan spora 80,55-100 %, menunda masa inkubasi, menurunkan kejadian penyakit sebesar 20,37-53,70 %, intensitas penyakit sebesar 25,64-62,56%, dan AUDPC sebesar 22,21-63,37%. B. amyloliquefaciens BB.R3 dapat memacu pertumbuhan tanaman, dengan meningkatkan bobot akar sebesar 122,63 % dan bobot tanaman jagung sebesar 80,26%.   Kata kunci: Bacillus, jagung, pengendalian hayati,  Peronosclerospora maydis, ramah lingkungan
PENGOMPOSAN LIMBAH SAYUR DENGAN EMPAT ISOLAT Trichoderma harzianum DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN MENTIMUN IN PLANTA Ersapoetri, Fida Suci; Soesanto, Loekas; Mugiastuti, Endang; Rahayuniati, Ruth Feti; Manan, Abdul; Rohadi, Slamet
Agrin Vol 24, No 2 (2020): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2020.24.2.536

Abstract

Penelitian bertujuan mengetahui kemampuan empat isolat Trichoderma harzianum dalam mengomposkan limbah sayur, isolat T. harzianum terbaik pada pengomposan limbah sayur, dan isolat T. harzianum terhadap pertumbuhan tanaman mentimun in planta. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca dan Laboratorium Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto selama lima bulan. Rancangan Acak Kelompok digunakan dengan empat ulangan dan kombinasi antara empat isolat T. harzianum (T10, T213, T14, dan T15) dengan dua limbah sayur (kubis dan tomat). Variabel yang diamati adalah panjang tanaman, bobot tanaman segar, bobot tanaman kering, panjang akar, jumlah daun, pH akhir kompos, C/N ratio kompos, kepadatan akhir T. harzianum, kegigasan T. harzianum, dan analisis jaringan secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat isolat T. harzainum efektif dan cepat dalam mengkomposkan limbah tomat dan kubis. Isolat T. harzianum yang paling baik pada pengomposan adalah T10 dan T213. Aplikasi kompos limbah mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman mentimun. Isolat terbaik adalah T. harzianum T16 pada kompos tomat dan T10 pada kompos kubis dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman mentimun pada panjang tanaman, panjang akar, bobot tanaman segar, dan bobot tanaman kering dengan peningkatan masing-masing 66,61 dan 52,17%, 61,01 dan 46,55%, 76,41 dan 59,77%, serta 77,99 dan 52,03%.Kata kunci: limbah sayur, mentimun, pengomposan, Trichoderma harzianum.
PENGUJIAN KEMAMPUAN MIKROBA ANTAGONIS UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT HAWAR DAUN DAN LAYU BAKTERI PADA TANAMAN KENTANG DI DAERAH ENDEMIS Wachjadi, Muljo; Soesanto, Loekas; Manan, Abdul; Mugiastuti, Endang
Agrin Vol 17, No 2 (2013): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2013.17.2.202

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui kemampuan beberapa mikroba antagonis untuk mengendalikanpenyakit hawar daun dan layu bakteri pada tanaman kentang di daerah endemik. Penelitian ini dilaksanakan dilahan kentang Desa Kejajar, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, pada bulan Juni sampai Agustus 2013.Mikroba antagonis yang digunakan hasil isolasi dari pertanaman kentang dan telah diuji di rumah kaca danlapangan terbatas, yaitu dengan Bacillus sp. B2 dan B4, serta Pseudomonas sp. P19 dan P21. Berdasarkan hasilpenelitian yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa mikroba antagonis belum mampu mengendalikanpenyakit hawar daun dan layu bakteri, serta belum mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanamankentang. Akan tetapi, mikroba antagonis mampu mengimbas senyawa tanin pada tanaman kentang.Kata kunci: mikroba antagonis, penyakit hawar daun, layu bakteri, kentangABSTRACTThe research aimed at knowing ability of some antagonistic microbes to control leaf blight and bacterialwilt on potato at endemic field. This research was carried out at Kejajar Village, Kejajar Subdistrict, WonosoboRegency from June up to August 2013. The antagonists used were isolated from potato field and had been testedin the screen house and the limited field, i.e., Bacillus sp. B2 and B4, and Pseudomonas sp. P19 and P20. Basedon the research result, the antagonists could not control leaf blight and bacterial wilt, and could not increasegrowth and yield of potato. However, the antagonists could induce tannin content of the crop.Key words: antagonistic microbes, leaf blight, bacterial wilt, potato.
PEMANFAATAN BOKHASI MAHKOTA DEWA UNTUK PENGENDALIAN PENYAKIT LAYU FUSARIUM PADA CABAI MERAH Utami, Darini Sri; Mugiastuti, Endang
Agrin Vol 14, No 1 (2010): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2010.14.1.95

Abstract

Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh bokhasi dari mahkota dewa dalam pengendalianpenyakit layu Fusarium dan pengaruhnya terhadap hasil cabai merah. Penelitian menggunakan Rancangan AcakKelompok dengan 6 perlakuan, masing-masing diulang sebanyak 4 kali. Perlakuan yang dicoba adalah Fusariumoxysporum Schlecht konsentrasi 2 x 10 6 konidium per ml, tanpa mahkota dewa, 50 ml per tanaman. F.oxysporum dan air rebusan biji-cangkang mahkota dewa 40 g /100 ml air 50 ml/tanaman, F. oxysporum danbokhasi dari buah mahkota dewa yang berturut-turut ditambah laru, 200 g / tanaman, ditambah EM-4 sebanyak100 ml/tanaman, ditambah superdegra 200g /tanaman, F. oxysporum dan buah mahkota dewa, 2 buah/tanaman.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan air rebusan biji-cangkang mahkota dewa dan bokhasi darimahkota dewa yang berturut-turut ditambah dengan laru, EM-4, superdegra dan perlakuan buah mahkota dewaberturut-turut tdk dapat menunda masa inkubasi, menekan populasi konidium dalam tanah, meningkatkan bobotbasah dan kering tanaman. Akan tetapi, air rebusan biji-cangkang mahkota dewa berpotensi menurunkanintensitas penyakit sebesar 22,03 %. Semua perlakuan tidak dapat meningkatkan hasil total cabai merah secaranyata, tetapi bokhasi dari mahkota dewa yang ditambah EM-4 atau air rebusan biji-cangkang mahkota dewaberpotensi meningkatkan hasil cabai merah masing-masing sebesar 73,18 % atau 64,32 %.Kata kunci: bokhasi mahkota dewa, pengendalian layu fusarium, cabai merah ABSTRACTThis research aimed at knowing the effect of the mahkota dewa bokhasi for controlling the disease andthe effect of the mahkota dewa bokhasi on the red chili yield. Randomized Block Design was used with sixtreatments and four replicates. The treatments tested were Fusarium oxysporum Schlecht without the mahkotadewa, F. oxysporum with the mahkota dewa seed and shell boiled water of 40 g/100 ml for 50 ml crop-1 ,F.oxysporum and the mahkota dewa fruits bokhasi added with decomposer agent (laru) of 200 g crop-1,F.oxysporum and the mahkota dewa fruits bokhasi added with EM-4 of 100 ml crop-1 , F. oxysporum and themahkota dewa fruits bokhasi added with superdegra of 200 g crop-1 , F. oxysporum and mahkota dewa fruits of 2fruits crop-1 .Result of the research showed that the treatments of the seed and shell boiled water or bokhasiadded with laru, EM-4, superdegra, and the fruis could not postpone incubation period, suppress the conidialpopulation in soil, and not increase the root weight. The mahkota dewa seed and shell boiled water treatment,however, had potency to decrease the disease intensity for 22,03%. All treatments could not increase the redchili yield, but the bokhasi made from the mahkota dewa fruits added with EM-4 and the mahkota dewa seed andshell boiled water had potency to increase the red chili yield for 74.18% and 64.32%, respectively.Key words: bokhasi mahkota dewa, fusarium wilt control, red chili.
POTENSI CAMPURAN MIKROBA ANTAGONIS UNTUK MENGENDALIKAN NEMATODA PURU AKAR (Meloidogyne incoqnita) PADA TANAMAN TOMAT Manan, Abdul; Mugiastuti, Endang
Agrin Vol 19, No 1 (2015): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2015.19.1.343

Abstract

Penelitian ini betujuan mengetahui kemampuan campuran mikroba antagonis Bacillus B8,B11,Pseudomonas fluorescens P8 dan Trichoderma untuk mengendalikan Meloidogyne incoqnita padatanaman tomat. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Perlakuan yangdicoba adalah : campuran Bacillus sp. B8, B 11 dan Trichoderma sp., campuran Bacillus sp. B 8, P.flourescens P8 dan Trichoderma sp. , pestisida kimia sintetik, serta kontrol. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa : campuran mikroba antagonis Bacillus B11, Pseudomonas fluorescens P8 danTrichoderma mampu menekan 48,78% populasi nematoda dalam tanah serta menekan tingkatkerusakan akar, namun belum mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman tomat.Kata kunci: Meloidogyne incoqnita, mikroba antagonis, tomatABSTRACTThe aim of this research was to know the capability mixed antagonistic miccrobes of Bacillus sp.B8, B11, Pseudomonas fluorescens P8 and Trichoderma against Meloidogyne incoqnita on tomato.This research was used Randomized Block Design (RBD). The treatment consist of mixed of Bacillussp. B8, B 11 and Trichoderma sp., mixed of Bacillus sp. B 8, P. flourescens P8 and Trichoderma sp.,synthetic pesticide, and control. The results of this research showed that mixed Bacillus B11,Pseudomonas fluorescens P8 dan Trichoderma sp. could suppressed 48.78% of nematode population inthe soil and suppressed the root damage, but could not increased the tomato growth.Key words: Meloidogyne incoqnita, antagonistic microbes, tomato
Induksi ketahanan tanaman padi terhadap serangan pathogen busuk pelepah (Rhizoctonia solani) menggunakan halotoleran bakteri Diazotrof asal pantai utara Pemalang, Jawa Tengah Isnaeni, Fenty Chakimatul; mugiastuti, Endang; Leana, Ni Wayan Anik; Oktaviani, Eka; Purwanto, Purwanto
Jurnal AGRO Vol. 9 No. 1 (2022)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/18516

Abstract

Padi merupakan komoditas pangan yang memiliki peranan terpenting dalam memenuhi kebutuhan pokok masyarakat Indonesia. Ekstensifikasi produksi padi dapat dilakukan dengan memanfaatkan lahan marjinal seperti lahan salin. Lahan salin merupakan lahan yang memiliki kadar kadar garam tinggi akibat intrusi air laut maupun tingginya laju evaporasi. Pengembangan budidaya padi di lahan salin memiliki kendala berupa serangan patogen busuk pelepah (Rhizoctonia solani). Alternatif pengendalian patogen selain menggunakan pestsida kimia, dapat dilakukan menggunakan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR), seperti kelompok bakteri diazotrof. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi bakteri diazotrof lahan salin dalam meningkatkan ketahanan tanaman padi serta kemampuannya dalam memacu pertumbuhan padi yang terinfeksi R. solani. Penelitian dilaksanakan di Experimental Farm dan Laboratorium Agronomi & Hortikultura, Fakultas Pertanian Unsoed pada bulan Oktober 2021 - Februari 2022. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 11 perlakuan dan diulang tiga kali, meliputi kontrol tanpa inokulasi bakteri diazotrof dan inokulasi isolat Ju1, Jn3, Jn1, J, J12, J5, Kn1, A3, Jn dan K3. Semua tanaman juga dinokulasi dengan Rhizoctonia solani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi bakteri diazotrof dapat meningkatkan ketahanan padi yang terinfeksi jamur R. solani, ditandai dengan penurunan intensitas penyakit hingga 70%, peningkatan kandungan saponin, tanin dan hidrokuinon, serta peningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman dan panjang akar total padi.ABSTRACTRice is the most important  food commodity that supply the basic needs of the Indonesian people. The development of rice cultivation in salin land has obstacles in the form of attacks by sheat blight pathogen (Rhizoctonia solani). Alternative to controlling pathogens other than using chemical pesticides is by using Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR), such as diazotroph bacteria. This research aimed to determine the potential of diazotrof bacteria in increasing rice resistance and its ability to stimulate the growth of rice infected with R. solani. The research was carried out at Experimental Farm and Agrohorti Laboratory, Faculty of Agriculture Unsoed in October 2021 - February 2022. The design used was Randomized Completely Block Design (RCBD) with 11 treatments and repeated three times, including controls without inoculation of diazotroph bacteria and inoculation of isolates Ju1, Jn3, Jn1, J, J12, J5, Kn1, A3, Jn and K3. All plants were also inoculated with R. solani. The results showed that inoculation with diazotrof bacteria could increase the rice resistance towards attack of sheath blight pathogen (R. solani) that characterized by a decrease disease intensity up to 70%, increase saponins, tannins and hydroquinones content, also increase growth of plant height and total root length of rice.
ABILITY TEST OF SEVERAL ANTAGONISTS TO CONTROL POTATO BACTERIAL WILT IN THE FIELD Soesanto, Loekas; Manan, Abdul; Wachjadi, Muljo; Mugiastuti, Endang
AGRIVITA Journal of Agricultural Science Vol 35, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Agriculture University of Brawijaya in collaboration with PERAGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17503/agrivita.v35i1.227

Abstract

The research objective was to know ability of antagonistic microbes to control bacterial wilt on potato in the field. This research was carried out at Serang Village, Karangreja Subdistrict, Purbalingga Regency from June up to August 2012. The antagonist, originally isolated from potato field, was Bacillus sp. B2 and B4, and Pseudomonas sp. P19 and P20. Based on the research result, Pseudomonas P19 could control the disease on potato with delaying incubation period of 78.95%, suppressing disease intensity of 51.57%, decreasing final pathogenic population of 99.74%, and inducing plant resistance with increasing saponin, tannin, and glycoside content. However, the antagonist could not increase growth and yield of potato.  Keywords: antagonistic microbes, bacterial wilt, potato