Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Borobudur

MENATA HUTAN MENJAGA TONGKONAN: ALTERNATIF UPAYA PELESTARIAN BUDAYA TORAJA Yadi Mulyadi
Borobudur Vol. 7 No. 2 (2013): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v7i2.110

Abstract

Pelestarian budaya Toraja selama ini cenderung terfokus pada aspek pelestarian fisik semata. Hal itu tercermin dalam bentuk kegiatan pelestarian yang didominasi perbaikan fisik pada bangunan Tongkonan di Toraja. Budaya Toraja sebagaimana pendapat para ahli, terefleksikan dalam budaya Tongkonan, dimana Tongkonan pada hakekatnya bukan semata bangunan rumah adat tetapi merupakan konsep budaya Toraja itu sendiri. Budaya Tongkonan adalah ruh dari budaya Toraja yang merefleksikan hubungan harmonis antara manusia dengan alam, salah satunya diwujudkan dalam bentuk menjadikan hutan sebagai elemen dalam budaya Tongkonan. Oleh karena itu, pelestarian budaya Toraja pada dasarnya dapat disinergikan dengan upaya pelestarian hutan. Dengan demikian upaya nyata dalam menata hutan di Toraja dapat menjamin keberlangsungan budaya Toraja.
Kajian Keterawatan Lukisan Gua Prasejarah di Kawasan Karst Maros Pangkep Sulawesi Selatan Yadi Mulyadi
Borobudur Vol. 10 No. 1 (2016): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v10i1.144

Abstract

Lukisan gua prasejarah di kawasan karst Maros Pangkep merupakan cagar budaya yang rentan dengan kerusakan, baik karena faktor alam maupun budaya. Oleh karena itu, kajian mengenai keterawatan lukisan gua prasejarah di kawasan ini penting untuk dilakukan guna memperoleh data yang akurat terkait tingkat kerusakan lukisan pada masing-masing gua. Metode penelitian arkeologi yang dipadukan dengan pendekatan lingkungan dan konservasi, menjadi panduan dalam kajian ini. Metode penelitian arkeologi dioperasionalkan dalam bentuk pengumpulan data, pengolahan data dan interpretasi data. Adapun pendekatan lingkungan dan konservasi diterapkan dalam observasi flora fauna dan bentang alam kawasan. Jumlah gua yang menjadi objek kajian yaitu 44 gua dengan rincian 24 gua di Maros dan 20 gua di Pangkep. Berdasarkan kajian yang dilakukan, tingkat keterawatan lukisan gua di kawasan karst Maros Pangkep ini bervariasi mulai dari sedang sampai parah, dan hanya lima gua yang kondisi keterawatan lukisan guanya bagus. Hal ini mengacu pada tingkat kerusakan dan pelapukan fisik (retak, pecah, aus), pelapukan biologis (pertumbuhan algae, moss, lichen), pelapukan kimiawi (penggaraman, sementasi), yang juga dipengaruhi oleh faktor alam dan faktor manusia.Oleh karena itu untuk mempertahankan tingkat keterawatan lukisan gua prasejarah diperlukan sebuah sistem konservasi gua prasejarah yang memadukan antara konservasi lingkungan, konservasi arkeologis dan juga pengelolaan sumberdaya arkeologi yang berbasis pelestarian.
POTENSI ANCAMAN PADA BANGUNAN CAGAR BUDAYA BANUA LAYUK RAMBU SARATU DI MAMASA SULAWESI BARAT Yadi Mulyadi; Iswadi A. Makkaraka
Borobudur Vol. 11 No. 2 (2017): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v11i2.174

Abstract

Banua Layuk Rambu Saratu merupakan rumah tradisional Mamasa yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya peringkat Provinsi Sulawesi Barat sejak 2015. Bangunan cagar budaya ini telah berusia ratusan tahun, dengan kontruksi dari kayu sebagai tiang, papan, dan lantai rumahnya. Faktor usia dan material yang dipergunakan menjadikan Banua Layuk Rambu Saratu memiliki potensi ancaman kerusakan yang tinggi. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara di lapangan, terdapat dua macam ancaman yang dapat diidentifikasi. Ancaman yang pertama adalah ancaman non-fisik dan ancaman yang kedua adalah ancaman fisik. Penelitian ini difokuskan pada upaya memetakan potensi ancaman terhadap bangunan Banua Layuk Rambu Saratu, sehingga dapat dijadikan acuan dalam merancang tindakan konservasi sebagai upaya pelestarian Banua Layuk Rambu Saratu.