Claim Missing Document
Check
Articles

Pemurnian Emas dari Bijih Emas Berkadar Rendah Menggunakan Karbon Aktif dari Arang Tempurung Kelapa Mulyasuryani, Ani; Ismuyanto, Bambang; Purwonugroho, Danar
Jurnal Natur Indonesia Vol 14, No 1 (2011)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (57.031 KB) | DOI: 10.31258/jnat.14.1.1-6

Abstract

The activated carbon from the coconut shell can be used as an adsorbent for the recovery of gold. The optimum condition for gold recoverywas obtained at pH 3 (for adsorption) and pH 5 (for desorption) with 1 M thyocyanate solution and a 5 cm length of column (the mass ofactivated carbon is 20 grams). In this condition, the average gold recovery is 90.00%, silver 7.28% and copper 4.93%, that were used severalgold ore samples. The average purity degree of gold is 49.67%, depend on the concentration of gold, silver and copper in the gold oresample.
PENGARUH pH DAN JUMLAH KITOSAN MODIFIKASI PADA EKSTRAKSI FASA PADAT TEMBAGA(I)TIOSULFAT Safitri, Alfita; Mulyasuryani, Ani; Sabarudin, Akhmad
Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.822 KB)

Abstract

Kitosan modifikasi dapat digunakan sebagai fasa padat pada ekstraksi tembaga(I)tiosulfat. Efisiensi ekstraksi bergantung pada pH dan jumlah fasa padat. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pH dan jumlah kitosan modifikasi terhadap efisiensi ekstraksi tembaga(I)tiosulfat. Modifikasi kitosan menggunakan senyawa TMAS (Trimetilamine Sulfur Trioxide) yang direaksikan dalam larutan Na2CO3. Pengaruh pH dipelajari pada kisaran pH 4-10 dengan kitosan modifikasi yang digunakan sebanyak 0,1 g. Pengaruh jumlah kitosan modifikasi dipelajari pada 0,1; 0,15; 0,2; dan 0,25 g kitosan modifikasi. Ekstraksi dilakukan untuk mengekstrak 10 mL tembaga(I)tiosulfat 10 ppm baik pada pengaruh pH maupun pengaruh jumlah kitosan modifikasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pH dan jumlah kitosan modifikasi mempengaruhi efisiensi ekstraksi tembaga(I)tiosulfat. Efisiensi ekstraksi optimum diperoleh pada pH 6 dan peningkatan jumlah kitosan modifikasi sebanding dengan jumlah tembaga terekstrak. Kata kunci: ekstraksi fasa padat, kitosan, tembaga(I)tiosulfat.
BIOSENSOR KONDUKTOMETRI BERBASIS SPCE-KITOSAN UNTUK MENDETEKSI DIAZINON DAN MALATHION Azizah, Alfi; Mulyasuryani, Ani; Sutrisno, Sutrisno
Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.936 KB)

Abstract

Pestisida organofosfat merupakan jenis pestisida yang direkomendasikan oleh Departemen pertanian RI. Penelitian untuk mengukur residu pestisida organofosfat telah dilakukan menggunakan biosensor. Perancangan biosensor dilakukan dengan tahapan optimasi luas elektroda kerja yakni 3 mm2; 5 mm2; dan 7 mm2. Elektroda kerja merupakan Screen Printed Carbon Electrode(SPCE) yang telah dilapisi dengan membran kitosan,  glutaraldehid 0,5%, dan organofosfat hidrolase (OPH). OPH merupakan enzim hasil isolasi bakteri Pseudomonas putida dengan konsentrasi yakni 142 µg/mL  dan 177 µg/mL. Larutan uji yang digunakan adalah larutan diazinon dan malathion pada kisaran konsentrasi 0 sampai 0,1 ppm dalam buffer tris –asetat 0,05 M pH 8,5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biosensor organofosfat dengan konsentrasi OPH mempunyai kinerja lebih baik daripada konsentrasi OPH 142 µg/mL. Hasil optimasi biosensor organofosfat menunjukkan bahwa luas elektroda screen-print carbon 5 mm2 menggunakan enzim OPH 177 µg/mL  memiliki kisaran kepekaan paling tinggi (144-162 µS/ppm) dengan batas deteksi untuk masing-masing organofosfat, yaitu, 0,06 ppm (diazinon) dan 0,04 ppm (malathion). Kata kunci: biosensor, organofosfat, organofosfat hidrolase, SPCE
PENGARUH pH DAN JUMLAH NATA DE COCO TRIMETILAMIN SULFUR TRIOKSIDA TERHADAP EKSTRAKSI FASA PADAT TEMBAGA(I)TIOSULFAT Dewi, Latifah Tribuana; Mulyasuryani, Ani; Sabarudin, Akhmad
Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.694 KB)

Abstract

Nata de coco merupakan bakteria sellulosa yang dapat dimodifikasi menggunakan trimetilamin sulfur trioksida (TMAS) untuk ekstraksi fasa padat tembaga(I)tiosulfat. Tembaga(I)tiosulfat ((Cu(S2O3)2)3-) dapat diekstraksi melalui mekanisme penukar ion dengan ion trimetilammonium ((CH3)3NH+) dari TMAS sehingga diperlukan pengaturan pH agar fasa padat dan analit dapat terionisasi. Berdasarkan persamaan stokiometri untuk mengekstraksi satu mol (Cu(S2O3)2)3- diperlukan tiga mol (CH3)3NH+ sehingga jumlah fasa padat perlu ditingkatkan. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh pH dan jumlah nata de coco-TMAS terhadap efisiensi ekstraksi tembaga(I)tiosulfat. Pengaruh pH dipelajari pada kisaran pH 4 hingga pH 9 sedangkan pengaruh jumlah nata de coco-TMAS dipelajari dari 1 hingga 6 lembar. Metode ekstraksi yang digunakan adalah metode batch dengan cara perendaman selama 24 jam menggunakan larutan tembaga(I)tiosulfat 15 ppm sebanyak 25 mL. Nata de coco-TMAS yang digunakan memiliki ketebalan  rata-rata 1 cm, diameter rata-rata 3 cm, volume rata-rata 7 mL, luas permukaan rata-rata 23 cm2. Berdasarkan hasil penelitian diketahui efisiensi ekstraksi optimum sebesar 80,67% pada pH 6 dengan jumlah fasa padat sebanyak 5 lembar. Kata kunci: ekstraksi fasa padat, nata de coco, tembaga(I)tiosulfat, trimetilamin sulfur trioksida.
PENENTUAN KAFEIN SECARA AMPEROMETRI DENYUT MENGGUNAKAN ELEKTRODA KARBON SCREEN-PRINTED Setyorini, Dian Ayu; Mulyasuryani, Ani; Fardiyah, Qonitah
Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (438.369 KB)

Abstract

Caffeine is usually used as an additive in drinks, foods and medicines. Caffeine has a negative effect on the human body so ithas a limited dose to consume. Amperometric detection can be used to measure caffeine by using SPCE. Determination of caffeine by amperometry can use single-pulse (SPA) and double-pulse (DPA). SPA applied detection potential 1,3 V (0,05 s) and has limit of detection 22 µM. DPA applied detection potential 1,3 V (0,05 s) and cleaning potential 0,35 V (0,1 s) and has limit of detection 0,9 µM. DPA was used to measure caffeine in sample of energy drinks and it concludes good accuracy. Keywords: pulse amperometry, caffeine, SPCE.
PENGARUH PH DAN JUMLAH NATA DE COCO TERMODIFIKASI CETILTRIMETILAMMONIUM BROMIDA (CTAB) TERHADAP EKSTRAKSI FASA PADAT TEMBAGA (I) TIOSULFAT Khairunnisa, Alda; Mulyasuryani, Ani; Rumhayati, Barlah
Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.942 KB)

Abstract

Ekstraksi fasa padat tembaga (I) tiosulfat menggunakan nata de coco-CTAB dipengaruhi oleh pH. Perubahan pH dapat mempengaruhi  kestabilan kompleks tembaga (I) tiosulfat dan CTAB pada nata de coco. Pada penelitian ini dipelajari pengaruh pH pada kisaran 4 sampai 9. Pengaruh jumlah nata de coco-CTAB  dipelajari mulai dari  1 sampai 6 lembar yang dilakukan untuk meningkatkan  efisiensi ekstraksi  tembaga (I) tiosulfat. Proses ekstraksi tembaga (I) tiosulfat menggunakan sistem batch tanpa pengocokan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pH dan jumlah nata de coco-CTAB mempengaruhi efisiensi ekstraksi tembaga (I) tiosulfat. Efisiensi ekstraksi tembaga (I) tiosulfat optimum pada pH 8 dengan nilai 34 %. Pada pengaruh jumlah nata de coco-CTAB,  kenaikan jumlah nata de coco-CTAB 1 sanpai 4 lembar dapat menaikan efisiensi ekstraksi tembaga (I) tiosulfat. Efisiensi ekstraksi optimum dicapai pada jumlah nata de coco-CTAB ke-4 dengan  efisiensi ekstraksi 85%.
PENGARUH MASSA ORGANOFOSFAT HIDROLASE DAN LUAS ELEKTRODA TERHADAP KINERJA BIOSENSOR KONDUKTOMETRI UNTUK MENDETEKSI RESIDU PESTISIDA KLORPIRIFOS DAN PROFENOFOS BERBASIS SPCE-KITOSAN Nareswari, Aninda; Mulyasuryani, Ani; Sutrisno, Sutrisno
Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.238 KB)

Abstract

Batas maksimum residu (BMR) dari profenofos dan klorpirifos pada buah-buahan dan sayuran, yaitu berturut-turut 0.05 – 0.5 mg/kg dan 0.05 – 0.1 mg/kg. Tujuan dari penelitian adalah pembuatan biosensor untuk mendeteksi profenofos dan klorpirifos. Penelitian mempelajari pengaruh massa Organofosfat hidrolase dan luas elektroda terhadap kinerja biosensor. Massa OPH dipelajari menggunakan massa 142 µg dan 177 µg yang diamobilkan pada elektroda SPC berbasis kitosan. Luas elektroda dioptimalisasi pada luas 3, 5 , dan 7. Biosensor dievaluasi menggunakan larutan profenofos dan klorpirifos pada konsentrasi 0 – 0.1 ppm dalam buffer tris-asetat pada pH 8,5. Hasil penelitian menunjukkan biosensor dengan OPH 177 µg menunjukkan kinerja yang lebih baik. Kepekaan biosensor lebih tinggi ditunjukkan oleh biosensor dengan luas elektroda 5 mm2 dengan kepekaan 93 µS/ppm and 174 µS/ppm berturut-turut untuk klorpirifos dan profenofos. Limit deteksi yang didapatkan adalah 0.05 ppm untuk klorpirifos dan 0.04 ppm untuk profenofos Kata kunci: biosensor, luas elektroda, Organofosfat hidrolase, profenofos, klorpirifos, Screen-Printed Carbon Electrode
PENGARUH KONSENTRASI CETYLTRIMETHYLAMMONIUM BENZOAT DAN pH LARUTAN TERHADAP KINERJA ELEKTRODA SELEKTIF ION BENZOAT BERBASIS SCREEN PRINTED CARBON ELECTRODE Suryantoro, Angga; Mulyasuryani, Ani; Sabarudin, Akhmad
Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.663 KB)

Abstract

Benzoat merupakan bahan pengawet makanan dan minuman yang diperbolehkan pemerintah Indonesia. Tingkat maksimum benzoat dalam makanan dan minuman adalah 600-1000 ppm. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan elektroda ion selektif benzoat (ESI-benzoat). Desain dari ESI-benzoat berbasis pada Screen printed carbon electrode(SPCE). SPCE dilapisi oleh cetyltrimethylammonium benzoat (CTBz) di dalam kitosan. Oleh karena itu, penelitian ini akan dipelajari pengaruh konsentrasi CTABz dan pH terhadap kinerja ESI-benzoat. Kinerja ESI-benzoat ditunjukkan oleh bilangan Nernst , kisaran konsentrasi, batas deteksi, dan respon waktu. Pada penelitian ini, ESI-benzoat dibuat dari CTABz dalam kitosan adalah 0,5 %; 1 %; 1,5 %; 2 %; dan 2,5 % (b/v) dan pH yang dipelajari dari 4 hingga 9. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa konsentrasi CTABz dan pH berpengaruh terhadap kinerja ESI-benzoat. Konsentrasi CTABz dan pH yang optimum adalah 0,5% dan pH 8. ESI-benzoat mempunyai bilangan Nersnt sebesar 43,2 ± 0,27 mV / dekade pada kisaran konsentrasi benzoat 1x10-4 sampai 1x10-1 M (12,11 ppm sampai 12,110 ppm). Batas deteksi dari ESI-benzoat adalah 1,44 x10-4 M dan waktu respon 60 detik. Batas deteksi lebih rendah daripada tingkat maksimum benzoat dalam makanan dan minuman..
OPTIMASI PEMBUATAN BIOSENSOR DIAZINON MENGGUNAKAN ENZIM ALKALIN FOSFATASE DI PERMUKAAN SPCE–KITOSAN Isvani, Nuzulul Kurniawan; Mulyasuryani, Ani; Roosdiana, Anna
Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.725 KB)

Abstract

Kinerja biosensor didasarkan pada reaksi hidrolisis diazinon menjadi O,O dietil fosforotioat, 2-isopropil-6-metil pirimidin-4-ol dan ion H+ yang dikatalisis oleh alkalin fosfatase (ALP). Kinerja biosensor dipengaruhi oleh ALP yang teramobil, luas permukaan elektroda dan metode amobilisasi enzim. Pada penelitian ini alkalin fosfatase diamobilkan pada membran kitosan-glutaraldehid di permukaan SPCE. Pengukuran diazinon dilakukan pada pH larutan 8,5 dengan ALP sebanyak 0,325; 0,650; 0,975; 1,30; 1,65 mg yang diamobilkan secara adsorpsi. Luas SPCE dipelajari pada 5 mm ´ 1,5 mm dan 7 mm ´ 1,5 mm. Tahap akhir adalah karakterisasi biosensor menggunakan metode amobilisasi adsorpsi dan ikatan silang. Hasil penelitian menunjukkan kinerja optimum diperoleh pada massa ALP amobil 1,65 mg secara ikatan silang, luas SPCE 5 mm ´ 1,5 mm, dengan  kisaran konsentrasi (0,27 - 1,5) ppm, kepekaan 32,61 mV/ppm, dan batas deteksi 0,27 ppm.
Adsorpsi Pb2+ dan Cu2+ Menggunakan Kitosan-Silika dari Abu Sekam Padi Ani Mulyasuryani; Barlah Rumhayati; Chandrawati Cahyani; Soebiantoro soebiantoro
Jurnal Kimia Valensi Jurnal Valensi Volume 3, No.2, November 2013
Publisher : Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.982 KB) | DOI: 10.15408/jkv.v3i2.504

Abstract

Abstrak Silika dari abu sekam padi yang dimodifikasi dengan kitosan menghasilkan suatu adsorben yang dapat meningkatkan daya adsorpsi terhadap ion logam. Adsorben kitisan – silika dari abu sekam padi dibuat dengan komposisi 100, 95, 85, 75 dan 65 %  silika dalam kitosan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan jumlah kitosan dapat meningkatkan nilai kapasitas tukar kation (KTK) adsorben. Adsorben terbaik dihasilkan pada % silika 65% dengan KTK 0,45 mekiv H+/g adsorben. Adsorbent tersebut mempunyai daya adsorpsi terhadap Pb2+ sebesar 11,8 mg/g adsorben dan 0,3 mg/g adsorben terhadap Cu2+.   Kata kunci : adsorpsi, abu sekam padi, kapasitas tukar kation, kitosan   Abstract Modification of silica from rice husk ash with chitosan resulted a high capacity adsorbant. The composition of silica from rice husk ash in adsorbent are 100, 95, 85, 75, and 65% in chitosan. The result of researsh show that the chitosan increasing cation exchange capasity (CEC) of adsorbent. The best adsorbent is 65% silica with CEC 0,45 mekiv H+/g adsorbent. The adsorbent has ability to adsorb Pb2+ is 11,8 mg/g adsorben and 0,3 mg/g adsorben to Cu2+.   Keywords : adsorption, rice ash husk, cation exchange capacity, chitosan
Co-Authors - Muhiroh Adam Wiryawan Adam Wiryawan Afifah Muhimmatul Mustaghfiroh Akhmad Sabarudin Akhmad Sabarudin Akhmad Sabarudin Akhmad Sabarudin Akhmad Sabarudin Alfita Safitri Alfita Savitri Anisa Resti Anna Roosdiana Arie Srihardyastutie Arumdati, Rara Aulia Asnaili Alfi Nurillah Attasith Parnsubsakul Ayu Rahayu Anggraeni Azizah, Alfi Bambang Ismuyanto Barlah Rumhayati Barlah Rumhayati Barlah Rumhayati Chandrawati Cahyani Danar Purwonugroho Dewi Umaningrum Dewi, Latifah Tribuana Diah Mardiana Diah Mardiana Diah Mardiana Dian Nur Fajariati Didik Pramana Dwi Oktavianti Eka Krisnaniningrum, Elvian Eka Novitasari Elvian Eka Krisnaniningrum Elvian Eka Krisnaniningrum Enggar Dwi Prasetya, Desta Erasti Pratiwi Erica Marista Rosida Hanandayu Widwiastuti Hasanuddin Hasanuddin Helmi Auliyah Istiqomah Hermin Sulistyarti Ika Diah Safitri Intan Frina Utamiyanti Isvani, Nuzulul Kurniawan Khairunnisa, Alda Khoirul Ngibad Krisnaniningrum, Elvian Eka Layta Dinira Layta Dinira Mardhatillah Mardhatillah Maria Dewi Astuti Moftah Ali Mokhammad W. Dahlan Muhammad Iqbal Fahmi Muhimmatul Mustaghfiroh, Afifah Mustaghfiroh, Afifah Muhimmatul Nanang Tri Widodo Nareswari, Aninda Nashiroh, Ni'matun Nongnoot Wongkaew Nuzulul Kurniawan Isvani Oki Mandalia Antasari Okky Anggraito Patsamon Rijiravanich Pazar Ramadani, Dhody Ponco Prananto, Yuniar Prasetya, Desta Enggar Dwi Prayoga, Indrajid Qonitah Fardiyah Qonitah Fardiyah Rachmat Triandi Tjahjanto Radna Nurmasari Rahmani, Indri Alidha Ramadani, Dhody Pazar Rika Endara Safitri Risti, Sandria Gita Rizki Sugiri Roosdiana, Anna Rossy Dwi Adhi Pratiwi Rumhayati, Barlah Sabarudin, Akhmad Safitri, Alfita Sasangka Prasetyawan Sasangka Prasetyawan Sendy Kurniawan Septi Fajar Raeni Setyorini, Dian Ayu Soebiantoro soebiantoro Suryantoro, Angga Sutrisno, Sutrisno Ulfa Andayani Ulfa Andayani Ulfa Andayani, Ulfa Unsania Haresmawati Yuniar Ponco Prananto ZAINUL ABIDIN Zainuri, Akhmad