Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Formulasi dan Uji Antibakteri Sediaan Bodywash Ekstrak Daun Pare (Momordica Charantia L) Kombinasi Kopi Robusta (Coffea Canephora L) terhadap Bakteri Staphyloccocus Aureus dan Staphyloccocus Epidermis Latu, Saparuddin; Inayah, Nurul; Syamsidar; Suleman, Abdul Wahid; Padjalangi, Andi Muhammad Yaqkin; Mansur
Proceedings Series on Health & Medical Sciences Vol. 7 (2025): Proceedings of the 1st National Seminar on Global Health and Social Issue (LAGHOSI)
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pshms.v7i.1440

Abstract

Formulasi Dan Uji Antibakteri Sediaan Bodywash Ekstrak Daun Pare (Momordica chrantia L) Kombinasi Kopi Robusta (Coffea canephora L) Terhadap Staphylococcus aureus Dan Staphylococcus epidermis. Ekstrak daun pare (Momordica charantia L) dikenal kaya akan manfaat untuk kesehatan selain itu berfungsi juga sebagai antibakteri. Kopi robusta (Coffea canephora L) selain banyak peminatnya tetapi dapat juga berfungsi sebagai antibakteri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kemampuan dari esktrak daun pare kombinasi kopi robusta dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphyloccocus aureus dan Staphyloccocus epidermis. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu menggunakan metode semuran yang dilakukan dengan 3 perlakuan di masing-masing bakteri. Perlakuan tersebut terdiri dari konsentrasi 2%, 3% dan 5%. Hasil dari penelitian yang telah dilakukan semua konsentrasi mampu menghambat pertumbuhan bakteri yang dimana konsentrasi yang paling efektif menghambat pertumbuhan pada F2 (3%) sebesar 11,98mm untuk bakteri Staphylococcus aureus, sedangkan bakteri Staphylococcus epidermis juga pada F1 (2%) sebesar 11,3mm yang paling efektif menghambat bakteri. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah konsentrasi 2%, 3% dan 5% mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococus aureus yaitu pada F2 (3%) dengan diameter zona hambat 11,98mm dan untuk bakteri Staphyloccus epidermis yaitu pada F1(2%) dengan zona hambat bakteri 11,3mm.
The Antibacterial Activity Test of Methanol and N-Hexane Fractions of Yellow Pumpkin Fruit Extract (Cucurbita moschata Duch) Against Escherichia coli and Staphylococcus aureus Suleman, Abdul Wahid; Saparuddin Latu; Sriyanty Sadsyam; Safaruddin; Pradila
CERATA Jurnal Ilmu Farmasi Vol 16 No 1 (2025): Cerata Jurnal Ilmu Farmasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61902/cerata.v16i1.1370

Abstract

Infectious diseases are still a major health problem in several countries, especially in developing countries. The medication used to treat bacterial infections is obtained by utilizing herbal plants obtained from natural ingredients. Pumpkin fruit extract (Cucurbita moschata) contains flavonoids. tannins, saponins, and alkaloids Pumpkin fruit is effective as an antidiabetic, an antihypertensive, an antitumor, an antibacterial, and an antioxidant. This study aims to determine the antibacterial activity of the methanol and n-hexane fractions of yellow pumpkin (Cucurbita moschata) fruit extract and at what concentration the methanol and n-hexane fractions of yellow pumpkin (Cucurbita moschata) fruit extract can have antibacterial activity against Escherichia coli and Staphylococcus aureus. This research uses laboratory-experimental research methods. Antibacterial testing in this research involved sterilization, making test solutions, and testing. The results of the antibacterial test on the inhibition zone of the methanol fraction of pumpkin fruit against Escherichia coli and Staphylococcus aureus bacteria at concentrations of 20%, 30%, and 40% were in the strong category, while the n-hexane fraction had an inhibition zone in the weak category for Escherichia coli and Staphylococcus aureus bacteria. Conclusion: The methanol and n-hexane fractions have antibacterial activity against Escherichia coli and Staphylococcus aureus, and the concentrations with antibacterial activity are 20%, 30%, and 40%.
Formulasi dan Uji Aktivitas Sediaan Salep Anti Jerawat Ekstrak Etanol Bunga Kenop (Gomphrena globosa) terhadap Staphylococcus aureus Suleman, Abdul Wahid; Yusuf, Muhammad; Safaruddin, Safaruddin; Pratiwi, Rizky Indah
INPHARNMED Journal (Indonesian Pharmacy and Natural Medicine Journal) Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/inpharnmed.v7i2.3277

Abstract

Bunga kenop (Gomphrena globosa) mengandung senyawa flavonoid, saponin dan tanin yang dapat berfungsi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekstrak etanol bunga kenop dapat dibuat dalam bentuk formulasi sediaan salep anti jerawat yang stabil secara fisika dan kimia serta aktivitas sediaan sebagai anti jerawat terhadap Staphylococcus aureus. Metode penelitian ini dilakukan secara eksperimental, dengan membuat sediaan salep anti jerawat dari ekstrak etanol bunga kenop dengan variasi konsentrasi yaitu F1 (konsentrasi 7%), F2 (konsentrasi 8%), F3 (konsentrasi 9%), F4 (kontrol negatif), F5 (kontrol positif) dan menguji aktivitas sediaan terhadap Staphylococcus aureus menggunakan metode sumuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula salep anti jerawat ekstrak etanol Bunga Kenop stabil secara fisik dan kimia dan tidak terdapat perbedaan bermakna (p<0,05) sebelum dan sesudah Cycling test baik pada uji organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, daya lekat, dan viskositas. Pengujian aktivitas anti jerawat terhadap Staphylococcus aureus menunjukkan bahwa F1 (7%) diameter zona hambat 10,2±0,15 mm, F2 (8%) diameter zona hambat 10,9±0,50 mm, F3 (9%) diameter zona hambat 11,4±0,52 mm, F4 (K-) diameter zona hambat 0±0,00 mm, dan F5 (K+) diameter zona hambat 16,2±0,52 mm. Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa ekstrak bunga kenop dapat dibuat dalam bentuk formulasi sediaan salep yang memiliki aktivitas antijerawat terhadap Staphylococcus aureus pada konsentrasi 7%, 8%, dan 9%
Formulation and Activity Test of Grapefruit Peel Extract Anti-Acne Gel Preparation (Citrus maxima Merr.) Against Staphylococcus aureus and Propionibacterium acne Bacteries Latu, Saparuddin; Jangga; Suleman, Abdul Wahid; Putri, Hardyanti Eka; Herman, Sriyana; Mahmudah, Rifa’atul; Rusli; Nurhikmah
Public Health of Indonesia Vol. 11 No. 3 (2025): July - September
Publisher : YCAB Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36685/phi.v11i3.1005

Abstract

Background: Grapefruit (Citrus maxima Merr.) peel is known to contain bioactive compounds such as alkaloids, tannins, and flavonoids, which exhibit potential antibacterial properties, particularly against acne-causing bacteria.Objective: This study aimed to formulate an anti-acne gel incorporating grapefruit peel extract, evaluate its antibacterial activity against Staphylococcus aureus (SA) and Propionibacterium acnes (PA), and determine the optimal extract concentration for inhibiting bacterial growth.Methods: A laboratory-based experimental study was conducted using the well diffusion (pitting) method to assess antibacterial activity. Gel formulations containing grapefruit peel extract at concentrations of 5%, 10%, and 15% were tested against SA and PA.Results: The formulated gels demonstrated acceptable physical stability. The inhibition zones against SA were as follows: 5% (F1) = 10.2 mm, 10% (F2) = 11.2 mm, and 15% (F3) = 11.1 mm. Against PA, the inhibition zones were: F1 = 11.7 mm, F2 = 13.3 mm, and F3 = 11.7 mm. The 10% formulation (F2) exhibited the highest antibacterial activity against both bacterial strains, falling within the "strong" inhibition category.Conclusion: Grapefruit peel extract can be successfully formulated into an anti-acne gel and demonstrates effective antibacterial activity against Staphylococcus aureus and Propionibacterium acnes. Among the tested concentrations, 10% was identified as the most effective for bacterial inhibition. Keywords: grapefruit peel; citrus maxima; extract; antibacterial activity; anti-acne gel
FORMULASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI CLAY MASK KOMBINASI DAUN PEGAGAN (CENTELLA ASIATICA L) DAN DAUN AFRIKA (VERNONIA AMYGDALINA DEL) TERHADAP STAPHYLOCOCCUS AUREUS Sari, Putri Indah; Suleman, Abdul Wahid; Patti, Seliana
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 1 (2024): MARET 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i1.26198

Abstract

Daun pegagan (Centella asiatica L) dan daun afrika (Vernonia amygdalina Del) telah diidentifikasi mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, tanin dan saponin yang memiliki potensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi ekstrak etanol daun pegagan dan daun afrika dapat di formulasikan menjadi sediaan clay mask yang stabil secara fisik dan kimia dan dapat menghambat bakteri Staphylococcus aureus. Metode penelitian ini merupakan eksperimental laboratorium, dengan membuat formulasi sediaan clay mask kombinasi ekstrak etanol daun pegagan dan daun afrika dengan berbagai konsentrasi yaitu Formula 1 (2,5%:7,5%), Formula 2 (5%:5%), Formula 3 (7,5%:2.5%), Formula 0 (tanpa ekstrak), Kontrol Positif (clay mask whitelab), kemudian dilakukan evaluasi sediaan yaitu berupa uji organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, viskositas, cycling test dan uji aktivitas antibakteri.  Hasil penelitian pada uji evaluasi sediaan, didapatkan hasil bahwa baik Formula 1 (2,5%:7,5%), Formula 2 (5%:5%) dan Formula 3 (7,5%:2.5%) stabil secara fisik dan kimia sedangkan pada uji aktivitas antibakteri hasil yang didapatkan pada Formula 1 (2,5%:7,5%) sebesar 15,58 mm ±0.39, Formula 2 (5%:5%), sebesar 15.01 mm ± 0.15, Formula 3 (7.5%:2.5%) sebesar 15.15 mm ± 0.38, Kontrol Positif sebesar 15.77 mm ± 0.89, Kontrol Negatif tidak memiliki zona hambat.  Kesimpulan penelitian ini sediaan clay mask kombinasi ekstrak etanol daun pegagan dan daun afrika memiliki aktivitas sebagai antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dengan konsentrasi yang paling efektif yaitu pada Formula 1 (2,5%:7,5%) dengan zona hambat sebesar 15.58 mm ±0.39 termasuk kategori kuat.
Pemanfaatan Kolagen Tulang Ayam Broiler dalam Sediaan Serum: Nilai SPF, Eritema, Pigmentasi, Kelembapan Kulit Suleman, Abdul Wahid; Safaruddin, Safaruddin; Mustamin, Sharnawati; Wahyuningsih, Sri; Jannah, Miftahul
Journal of Pharmaceutical and Health Research Vol 6 No 3 (2025): October 2025
Publisher : Forum Kerjasama Pendidikan Tinggi (FKPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47065/jharma.v6i3.8459

Abstract

Chicken bones (Gallus gallus domestica) are a type of solid waste that contain protein sources in the form of collagen. Collagen is one of the main connective tissue proteins in animals, widely used as a biomedical material, and is effective as an anti-aging agent that helps prevent the appearance of aging signs on the skin. This study aims to determine the potential of broiler chicken bone collagen in serum formulations as a photoprotective, anti-pigmentation, and skin moisturizing agent. The research method used was an in vitro experimental method using a UV-Vis spectrophotometer. Collagen was extracted using NaOH and CH₃COOH 1 M, and serum formulations were prepared with concentrations F1 (1%), F2 (1.5%), F3 (2%), and F4 (2.5%). The SPF value, erythema and pigmentation levels, as well as skin moisture, were then determined. The results of the serum formulation showed physical and chemical stability, indicated by no significant differences before and after the cycling test in organoleptic, pH, homogeneity, viscosity, and spreadability evaluations. The SPF values of the serum preparations were: F1 (1%) = 2.814999, F2 (1.5%) = 3.287317, F3 (2%) = 4.659954, and F4 (2.5%) = 8.574363. The %Te and %Tp tests showed that F0 (without extract) fell under the “Sunblock <1” category, while F1, F2, F3, and F4 were categorized as “Fast tanning” with values between 45–86. In conclusion, this study demonstrates that chicken bone extract can be formulated into a serum preparation that is physically and chemically stable. The best SPF, %Te, and %Tp values were obtained in the F4 formula, categorized as optimal, with %Te and %Tp values in the fast tanning category. Additionally, the F4 formula increased skin moisture by 5%.
In vitro Evaluation of Anti-inflammatory Protein-Denaturation Activity of Cashew (Anacardium occidentale Linn) Stem Bark Using a UV–Vis Spectrophotometer Jangga; Sri Wahyuningsih; Abdul Wahid Suleman; Sulaiman
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 11 No 10 (2025): October
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v11i10.13160

Abstract

Inflammation is a protective response of the body caused by tissue damage due to abnormal physical conditions, harmful chemical compounds, or microbiological agents. The protein denaturation method for anti-inflammatory testing aims to determine whether the ethyl acetate and ethanol–water fractions of cashew (Anacardium occidentale Linn) stem bark exhibit anti-inflammatory activity using the protein denaturation method, and to determine the IC₅₀ values of both fractions. The anti-inflammatory activities of the ethyl acetate and ethanol–water fractions, along with the positive control, were tested using a UV–Vis spectrophotometer at concentrations of 100 ppm, 200 ppm, 400 ppm, 800 ppm, and 1600 ppm. The results showed that the ethyl acetate fraction of cashew stem bark (Anacardium occidentale L.) had an IC₅₀ value of 531.74 µg/mL, the ethanol–water fraction had an IC₅₀ value of 101.31 µg/mL, and the positive control had an IC₅₀ value of –70.85 µg/mL. These findings indicate that the ethanol–water fraction exhibited moderate anti-inflammatory activity, while the ethyl acetate fraction showed weak activity.
Phytochemical Constituents and Pharmacological Effects of Baeckea Frutescens: A Review Abdul Wahid Suleman; Nurkhasanah Mahfudh; Nanik Sulistyani
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 11 No 12 (2025): December
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v11i12.13476

Abstract

Baeckea frutescens is a medicinal species widely used in traditional practices and known for its rich phytochemical diversity, yet its pharmacological profile remains fragmented across multiple studies. This systematic review aims to integrate current evidence on the phytochemical constituents and pharmacological activities of B. frutescens, focusing on anti-inflammatory, antimicrobial, antioxidant, anticancer, wound-healing, and insecticidal effects. A literature evaluation was conducted using previously compiled research comprising 16 studies from China, Indonesia, Malaysia, and Southeast Asia, covering chemical isolation, essential oil analysis, in vitro assays, in vivo experiments, and computational approaches. The results indicate that B. frutescens contains meroterpenoids, phloroglucinol derivatives, flavonoids, phenolics, and terpenes that collectively contribute to significant modulation of NF-κB, MAPK, TLR4–MyD88, and COX-related pathways. Essential oils and polar extracts exhibit broad antimicrobial and antioxidant activities, while cytotoxic and wound-healing assays demonstrate promising therapeutic potential. Insecticidal studies further highlight ecological relevance through antifeedant and repellent properties. Overall, the review confirms B. frutescens as a pharmacologically versatile species with strong prospects for drug discovery and functional applications. However, further mechanistic and in vivo investigations are needed to strengthen its translational value.
Analisis Tingkat Pengetahuan Masyarakat Mengenai Obat Generik Dan Obat Paten Di Perumahan Madaniland Makassar Abdul Wahid Suleman; Quthratunnada Ruslan; Mutmainnah Siradjuddin
Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 15, No 2 (2026): Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/pjif.v15i2.8928

Abstract

Penurunan obat generik terjadi karena rendahnya sumber informasi yang diperoleh masyarakat, serta kurangnya sosialisasi obat generik oleh pemerintah di berbagai daerah, rendahnya penggunaan obat generik di masyarakat dikarenakan obat generik masih dipandang sebelah mata oleh sebagian besar masyarakat. Penyebab masalah ini terkait dengan tenaga medis baik itu dokter bahkan pasien sendiri masih menganggap obat generik obat murah dan tidak berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis: Pengetahuan masyarakat di Perumahan Madaniland Makassar tentang perbedaan antara obat generik dan obat paten, Tingkat pengetahuan masyarakat mengenai  obat generik dan obat paten di Perumahan Madaniland Makassar. Jenis penelitian yang dilakukan yaitu penelitian observasional dengan teknik survei dimana informasi/data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang dibagikan ke responden. Pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner tersebut terdiri dari 2 bagian yaitu karakteristik dan pengetahuan masyarakat di Perumahan Madaniland Makassar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Masyarakat di Perumahan Madaniland Makassar sudah mengetahui perbedaan antara obat generik dan obat paten, Masyarakat di Perumahan Madaniland Makassar, dari 40 responden memiliki pengetahuan mengenai obat generik dan obat paten yang masuk kategori baik sebanyak 19 orang (47,5%), kategori cukup baik sebanyak 13 orang (32,5%) dan kategori kurang sebanyak 8 orang (20%). Kesimpualan: Masyarakat di Perumahan Madaniland Makassar memiliki pemahaman yang baik mengenai perbedaan antara obat generik dan obat paten ditandai dengan persentase baik sebanyak 19 orang (47,5%).
Penentuan Nilai Spf (Sun Protection Factor) Dari Sediaan Serum Fraksi Ekstrak Rimpang Galoba (Hornstedtia Alliacea (K.Schum.) Valeton) Sebagai Tanaman Endemik Dari Maluku Abdul Wahid Suleman; Ummu Kalsum; Febrianty Kelmaskossu
CERATA Jurnal Ilmu Farmasi Vol 17 No 1 (2026): Cerata Jurnal Ilmu Farmasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61902/cerata.v17i1.1671

Abstract

Rimpang galoba (Hornstedtia alliacea (K.Schum.) Valeton) adalah tanaman yang memiliki kandungan senyawa bersifat antioksidan. Kandungannya yaitu flavonoid, alkaloid, saponin, tanin dan triterpenoid untuk melindungi kulit dari radikal bebas akibat sinar matahari (UV). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fraksi ekstrak rimpang galoba dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan serum, menentukan nilai SPF (Sun Protection factor) dari sediaan serum serta untuk mengetahui konsentrasi dari sediaan serum yang memiliki nilai SPF tertinggi. Metode penelitian menggunakan eksperimental laboratorium dengan memformulasikan fraksi ekstrak rimpang galoba menjadi sediaan serum menggunakan metode meserasi dengan pelarut etanol 96% dan difraksinasi berdasarkan tingkat kepolaran dengan pelarut air, n-heksan dan etil asetat serta penentuan nilai SPF. Hasil penelitian menunjukan evaluasi sediaan serum secara fisik dan kimia antara lain uji organoleptik, pemeriksaan homogenitas, pengukuran pH, pengujian daya sebar, pengujian daya lekat, pengujian viskositas dan cycling test didapatkan hasil yang stabil, untuk nilai pada formula 1 (polar) didapatkan 1,88 pada formula 2 (non polar) 3,08 dan pada formula 3 (semi polar) 4,96 serta formula 4 (basis) 1,63. Nilai SPF yang memiliki nilai tertinggi yaitu F3 (semi polar) yaitu 4,96. Sehingga dapat disimpulkan bahwa fraksi ekstrak rimpang galoba dapat diformulasikan menjadi sediaan serum, didapatkan nilai SPF pada setiap formulasi serum dan formula yang paling tinggi nilai SPF terdapat pada F3 (semi polar) sebesar 4,96 yang termasuk proteksi sedang.