Claim Missing Document
Check
Articles

OBESITAS BERHUBUNGAN DENGAN PRE MENSTRUAL SYNDROME (PMS) PADA MAHASISWI Daniartama, Bela; Murbawani, Etisa Adi; Wijayanti, Hartanti Sandi; Syauqy, Ahmad
Journal of Nutrition College Vol 10, No 3 (2021): Juli
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v10i3.30808

Abstract

Latar Belakang: Pre Menstrual Syndrome (PMS) dapat menyebabkan masalah berupa gangguan fisik, kesehatan mental, dan gangguan fungsional dalam konteks sosial dan pekerjaan perempuan. Faktor yang dapat mempengaruhi PMS yaitu status gizi.Tujuan: Mengetahui hubungan status gizi dengan risiko dan tingkat intensitas PMS pada mahasiswi dengan beberapa pengukuran antropometri.Metode: Penelitian cross sectional yang melibatkan 77 mahasiswi Universitas Diponegoro. Pengukuran status gizi dilakukan dengan pengukuran berat badan, tinggi badan, Indeks Massa Tubuh (IMT), lingkar pinggang, lingkar panggul, rasio lingkar pinggang panggul, dan persen lemak tubuh. Shortened Premenstrual Assesment Form (sPAF) untuk mengukur intensitas gejala PMS. International Physical Activity Questionaire-Short Form (IPAQ-SF) untuk mengukur aktivitas fisik. Food recall 3×24 untuk mengukur rata-rata asupan. Data dianalisis dengan uji Chi Square dan uji Regersi Logistik.Hasil: Obesitas dengan IMT ≥23 kg/m2 (OR 3,944; 95% CI 1,091-14,251; p<0,05), persen lemak tubuh ≥32% (OR 3,289; 95% CI 1,022-10,584; p<0,05), dan lingkar pinggang ≥80 cm (OR 4,696, 95% CI 1,201-18,360; p<0,05) dapat meningkatan risiko dan intensitas PMS.Simpulan: Peningkatan IMT, persen lemak tubuh, lingkar pinggang dapat meningkatkan risiko dan intensitas PMS.
Tinggi Badan yang Diukur dan Berdasarkan Tinggi Lutut Menggunakan Rumus Chumlea pada Lansia Etisa Adi Murbawani; Niken Puruhita; Yudomurti Yudomurti
MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2012:MMI VOLUME 46 ISSUE 1 YEAR 2012
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.234 KB)

Abstract

Measured height and calculated height based on knee height using chumlea formula in elderlyBackground: Height is an important anthropometric measurement. Height calculation equation for elderly with dorsal deformity using knee height was developed by Chumlea. However, the equation is not appropriate for elderly in Asian population. The aim of this study was to compare measured height with calculated height based on knee height using Chumlea formula for elderly in Indonesia.Method: A cross sectional study was conducted in 86 elderly in geriatric outpatient clinic in Kariadi hospital, nursing home, and eldery integrated health service (posyandu lansia) in Semarang which were randomly selected in July-September 2009. The inclusion criteria were elderly without deformities and able to stand up straightly. Data collected were demography characteristics, height and knee height. Height was measured using microtoise, knee height was measured using knee calliper. Both microtoise and knee calliper had 0.1 cm accuracy. Data were analysed using Wilcoxon signed rank test.Result: Most samples were female, aged 59-88 years. The average age was 71±8.7 years. The average measured height in female and male subjects were 146.8±5.6 cm and 160.8±6.2 cm respectively. The average calculated height in female and male subjects were 154.3±7.03 cm and and 159.1±6.78 cm respectively. There was no different (p=0.077) in measured height and calculated height using Chumlea formula.Conclusion: There was no different in measured height and calculated height using Chumlea formula.Keywords: Elderly, height, knee height, nutritional assesmentABSTRAKLatar belakang: Tinggi badan merupakan salah satu indikator pengukuran antropometri yang penting. Persamaan perhitungan tinggi badan pada lansia (lanjut usia) dengan deformitas punggung telah dikembangkan oleh Chumlea. Persamaan yang ada saat ini tidak tepat untuk populasi Asia. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kesesuaian antara tinggi badan yang diukur dengan microtoise dengan perhitungan berdasarkan tinggi lutut menggunakan rumus Chumlea untuk lansia di Indonesia.Metode: Desain penelitian ini adalah belah lintang. Subyek penelitian adalah 86 (delapan puluh enam) lansia yang menjadi pasien rawat jalan Poliklinik Geriatri di RSUP Dr. Kariadi Semarang, lansia yang menjadi penghuni panti wredha dan lansia yang menjadi anggota posyandu lansia di Semarang pada bulan Juli-September 2009. Kriteria inklusi pasien adalah tidak ada deformitas pada struktur tubuh dan mampu berdiri tegak. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik demografi, tinggi badan dan tinggilutut. Tinggi badan diukur menggunakan microtoise, sedangkan tinggi lutut diukur menggunakan knee calliper dengan akurasi 0,1 cm. Analisis data menggunakan uji beda Wilcoxon signed rank test.Hasil: Sebagian besar subyek berjenis kelamin perempuan, dengan usia 59-88 tahun. Rerata umur subyek sebesar 71±8,7 tahun. Rerata tinggi badan perempuan dan laki-laki adalah 146,8±5,6 cm, dan 160,8±6,2 cm. Rerata tinggi badan perempuan dan laki-laki dengan rumus Chumlea, adalah 154,3±7,03 cm dan 159,1±6,78 cm, dengan perbedaan yang tidak bermakna (p=0,077).Simpulan: Tidak ada perbedaan pengukuran tinggi badan menggunakan microtoise dan rumus Chumlea.
Kekuatan Genggam pada Lansia Wanita Aktif dan Tidak Aktif Berolahraga Gheby Soraya S; Etisa Adi Murbawani
MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2011:MMI Volume 45 Issue 2 Year 2011
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.889 KB)

Abstract

Handgrip strength in active and inactive elderly womanBackgrounds: Exercise is one of the factors determining handgrip strength. Lower handgrip strength is an indicator for lower Body Mass Index (BMI). The aim of this study is to compared differences in handgrip strength between active and inactive elderly woman. Methods: This was a cross-sectional study of 26 elderly active woman (spent ≥30 minutes for five times or more a week for exercise) and 26 elderly inactive woman (spent <30 minutes and less than five times a week for exercise). Subject were chosen through purposive sampling. Handgrip strength was measured with handgrip dynamometer. Questionnaire was used for measuring exercise activity. BMI value were obtained from body weight was measurement with digital scale and height measurement with microtoise. Data on energy and protein intake were obtained from food frequency semi quantitative questionnaire (FFSQ). Data analysed were using Kolmogorov-Smirnov, independent t-test, and anacova. Result: Most of active elderly woman (69.2%) had handgrip strength in sufficient category. There were significant differences of handgrip strength between the active and inactive elderly woman (p=0.001) and after being controlled by BMI, energy and protein intake per day (p=0.005). Conclusion: Routine exercise should be recommended to elderly for better handgrip strength.. ABSTRAKLatar belakang: Lansia wanita mempunyai kekuatan genggam yang lebih rendah daripada pria. Kebiasaan olahraga merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kekuatan genggam. Nilai kekuatan genggam merupakan indikator nilai Indeks Massa Tubuh (IMT). Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan kekuatan genggam pada lansia wanita yang aktif dan tidak aktif berolahraga. Metode: Studi cross-sectional pada 26 lansia wanita yang aktif (menghabiskan waktu ≥30 menit dan 5 kali atau lebih dalam seminggu untuk berolahraga) dan 26 lansia wanita yang tidak aktif (menghabiskan waktu <30 menit dan kurang dari 5 kali dalam seminggu untuk berolahraga). Sampel diperoleh dengan cara purposive sampling. Kekuatan genggam diukur menggunakan Handgrip Dynamometer. Kuesioner digunakan untuk mengetahui kebiasaan olahraga. IMT diperoleh dari data berat badan yang diukur dengan timbangan digital dan tinggi badan yang diukur dengan mikrotoa, sedangkan data asupan energi dan protein diperoleh dari Food Frequency Semi Quantitative Questionnaire (FFSQ). Analisis data dengan Kolmogorov-smirnov, Independent t-test dan Anacova. Hasil: Nilai kekuatan genggam sebagian besar lansia wanita yang aktif berolahraga (69,2%) dalam kategori cukup sedangkan sebagian lansia wanita yang tidak aktif berolahraga (53,8%) dalam kategori sangat kurang. Terdapat perbedaan kekuatan genggam sangat bermakna antara lansia wanita yang aktif dan tidak aktif berolahraga (p=0,001) dan setelah dikontrol dengan IMT, asupan energi dan protein (p=0,005).Simpulan: Latihan teratur perlu dilakukan para lansia agar memiliki kekuatan genggam yang baik.
Kekuatan Genggam pada Lansia Wanita Aktif dan Tidak Aktif Berolahraga Gheby Soraya S; Etisa Adi Murbawani
MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2010:MMI VOLUME 44 ISSUE 2 YEAR 2010
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.889 KB)

Abstract

Handgrip strength in active and inactive elderly womanBackgrounds: Exercise is one of the factors determining handgrip strength. Lower handgrip strength is an indicator for lower Body Mass Index (BMI). The aim of this study is to compared differences in handgrip strength between active and inactive elderly woman. Methods: This was a cross-sectional study of 26 elderly active woman (spent ≥30 minutes for five times or more a week for exercise) and 26 elderly inactive woman (spent <30 minutes and less than five times a week for exercise). Subject were chosen through purposive sampling. Handgrip strength was measured with handgrip dynamometer. Questionnaire was used for measuring exercise activity. BMI value were obtained from body weight was measurement with digital scale and height measurement with microtoise. Data on energy and protein intake were obtained from food frequency semi quantitative questionnaire (FFSQ). Data analysed were using Kolmogorov-Smirnov, independent t-test, and anacova. Result: Most of active elderly woman (69.2%) had handgrip strength in sufficient category. There were significant differences of handgrip strength between the active and inactive elderly woman (p=0.001) and after being controlled by BMI, energy and protein intake per day (p=0.005). Conclusion: Routine exercise should be recommended to elderly for better handgrip strength.. ABSTRAKLatar belakang: Lansia wanita mempunyai kekuatan genggam yang lebih rendah daripada pria. Kebiasaan olahraga merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kekuatan genggam. Nilai kekuatan genggam merupakan indikator nilai Indeks Massa Tubuh (IMT). Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan kekuatan genggam pada lansia wanita yang aktif dan tidak aktif berolahraga. Metode: Studi cross-sectional pada 26 lansia wanita yang aktif (menghabiskan waktu ≥30 menit dan 5 kali atau lebih dalam seminggu untuk berolahraga) dan 26 lansia wanita yang tidak aktif (menghabiskan waktu <30 menit dan kurang dari 5 kali dalam seminggu untuk berolahraga). Sampel diperoleh dengan cara purposive sampling. Kekuatan genggam diukur menggunakan Handgrip Dynamometer. Kuesioner digunakan untuk mengetahui kebiasaan olahraga. IMT diperoleh dari data berat badan yang diukur dengan timbangan digital dan tinggi badan yang diukur dengan mikrotoa, sedangkan data asupan energi dan protein diperoleh dari Food Frequency Semi Quantitative Questionnaire (FFSQ). Analisis data dengan Kolmogorov-smirnov, Independent t-test dan Anacova. Hasil: Nilai kekuatan genggam sebagian besar lansia wanita yang aktif berolahraga (69,2%) dalam kategori cukup sedangkan sebagian lansia wanita yang tidak aktif berolahraga (53,8%) dalam kategori sangat kurang. Terdapat perbedaan kekuatan genggam sangat bermakna antara lansia wanita yang aktif dan tidak aktif berolahraga (p=0,001) dan setelah dikontrol dengan IMT, asupan energi dan protein (p=0,005).Simpulan: Latihan teratur perlu dilakukan para lansia agar memiliki kekuatan genggam yang baik.
Asupan Mikronutrien, Kadar Hemoglobin dan Kesegaran Jasmani Remaja Putri Citta Cendani; Etisa Adi Murbawani
MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2011:MMI Volume 45 Issue 1 Year 2011
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.126 KB)

Abstract

ABSTRACTMicronutrient intake, hemoglobin levels and physical fitness amongst female adolescentsBackground: Female adolescents is a group that is suspectible to anemia. Iron, zinc, copper, folic acid, vitamin B6 and vitamin B12 intake are factors among others that influence hemoglobin level. People with anemia would have the low physical fitness. The objective of this study was to understand the association between micronutrient intake (iron, zinc, copper, folic acid, vitamin B6, vitamin B12) with hemoglobin level, and hemoglobin level with physical fitness of female adolescents.Method: The design of this study was a cross sectional and the number of subject were 40 chosen by simple random sampling from 10th and 11th grade students that fulfill the inclusion criteria. Data on nutrients intake were obtained using semi quantitative food frequencies. The hemoglobin level was measured by cyanmethaemoglobin method, whereas physical fitness level was measured byharvard step test.Results: There were 32 subjects (80%) categorized as having very low and low from physical fitness. There were 10 subjects (25%) anemic. Eight subjects had low from physical fitness. There were significant associations between iron, zinc, copper, folic acid and vitamin B6 intake with hemoglobin level. There were no significant association between vitamin B12 with hemoglobin level.Regression analysis showed that iron intake contributed 67.7% variant to hemoglobin level. There were no significant association between hemoglobin level with physical fitness after controlled by nutritional status and physical activity.Conclusion: Intake of Fe, Zn, Cu, folic acid and B6 are associated with hemoglobin level, but hemoglobin level is not associated with physical fitness.Keyword: Female adolescents, physical fitness, hemoglobin, iron, zinc, copper, folic acid, vitamin B6, vitamin B12ABSTRAKLatar belakang: Remaja putri merupakan golongan yang rawan terhadap anemia. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya anemia diantaranya adalah asupan mikronutrien seperti besi, seng, tembaga, folat, vitamin B6, vitamin B12. Seseorang yang mengalami anemia dapat memiliki tingkat kesegaran jasmani yang kurang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara asupan mikronutrien (besi, seng, tembaga, folat, vitamin B6, vitamin B12) dengan kadar hemoglobin dan hubungan kadar hemoglobin dengan kesegaran jasmani remaja putri.Metode: Desain penelitian cross sectional dengan jumlah subyek 40 dipilih secara simple random sampling dari kelas X dan XI yang memenuhi kriteria inklusi. Data asupan diperoleh dengan semi quantitative food frequencies. Kadar Hb diukur dengan metodecyanmethaemoglobin, sedangkan tingkat kesegaran jasmani diukur dengan metode harvard step test.Hasil: Sebanyak 32 subyek (80%) termasuk dalam kategori tingkat kesegaran jasmani sangat kurang sampai kurang. Sebanyak 10 subyek (25%) termasuk dalam kategori anemia. Sebanyak 8 subyek diantaranya memiliki tingkat kesegaran jasmani kurang. Ada hubungan antara asupan besi, seng, tembaga, folat, vitamin B6 dengan kadar hemoglobin. Analisis data dengan uji regresi didapatkan bahwa 67,7% kadar hemoglobin dapat dijelaskan oleh asupan zat besi. Tidak ada hubungan antara asupan vitamin B12 dengan kadar hemoglobin. Tidak ada hubungan antara kadar hemoglobin dengan kesegaran jasmani setelah dikontrol dengan status gizi dan aktivitas fisik .Simpulan: Asupan Fe, Zn, Cu, asam folat dan B6 berhubungan dengan kadar hemoglobin, namun kadar hemoglobin tidak berhubungan dengan kesegaran jasmani
PROGRAM PENDIDIKAN DAN PELATIHAN GIZI UNTUK ANAK USIA SEKOLAH DI KELURAHAN JOMBLANG SEMARANG Martha Ardiaria; Aryu Candra; Enny Probosari; Etisa Adi Murbawani; Niken Puruhita
JNH (Journal of Nutrition and Health) Vol 9, No 1 (2021): JNH (JOURNAL OF NUTRITION AND HEALTH)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnh.9.1.2021.24-30

Abstract

Latar BelakangStatus gizi adalah kondisi kesehatan tubuh yang dihasilkan oleh keseimbangan antara kebutuhan dan asupan zat gizi. Status gizi sangat berpengaruh terhadap status kesehatan. Status gizi anak di wilayah Kelurahan Jomblang berdasarkan penelitian yang dilakukan pada tahun 2014, sebesar 30,9% tergolong kurang. Kejadian malnutrisi yang tinggi di kelurahan Jomblang salah satunya disebabkan oleh  kurangnya pengetahuan tentang makanan yang sehat dan bergizi dan kurangnya kemampuan untuk membuat makanan yang sehat dan bergizi.MetodeKegiatan pengabdian masyarakat ini akan dilakukan di wilayah RW 11 Kelurahan Jomblang , Kecamatan Candisari, Kota Semarang pada awal hingga pertengahan tahun 2020. Sasaran kegiatan ini adalah kelompok TPQ yang beranggotakan anak usia sekolah di wilayah RW 11.  Metode yang digunakan adalah ceramah, pelatihan dan praktek menggunakan modul serta video yang berisi materi untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan.HasilKegiatan dilakukan dalam 2 tahap yaitu tahap 1: sosialisasi, penyuluhan  pre test tentang pengetahuan gizi, pembagian kuesioner ffq, dan pembagian modul; tahap 2: pelatihan keterampilan menmbuat makanan sehat menggunakan video.SimpulanProgram pendidikan dan pelatihan gizi pada anak sekolah mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tentang makanan bergizi.Kata kunci:  pendidikan, pelatihan, gizi, anak sekolah
Hubungan antara Lingkar Leher dengan Rasio Trigliserida/High-Density Lipoprotein pada Remaja Etisa Adi Murbawani
JNH (Journal of Nutrition and Health) Vol 6, No 1 (2018): JOURNAL OF NUTRITION AND HEALTH
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (537.367 KB) | DOI: 10.14710/jnh.6.1.2018.9-16

Abstract

Latar Belakang : Peningkatan kadar trigliserida dan High-Density Lipoprotein erat kaitannya dengan kejadian obesitas, penyakit kardiovaskuler, dan sindrom metabolik. Lingkar leher merupakan salah satu metode pengukuran antropometri yang dapat digunakan untuk melakukan skrining terhadap beberapa indikator biokimia. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara lingkar leher dengan rasio trigliserida / High-Density Lipoprotein pada remaja.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional terhadap 28 remaja berusia 12-15 tahun di Semarang. Data lingkar leher diperoleh dengan melakukan pengukuran menggunakan pita ukur melingkar pada bagian tengah leher. Pengambilan darah dan uji laboratorium dilakukan setelah subyek berpuasa 6 – 8 jam. Hubungan antara lingkar leher dan rasio TG/HDL akan dianalisis menggunakan uji korelasi spearman. Uji korelasi spearman juga dilakukan untuk melihat hubungan variabel confounding dengan rasio TG/HDL. Selanjutnya dilakukan uji regresi linear bertingkat untuk mengetahui variabel yang paling berhubungan dengan rasio TG/HDL.Hasil :: Terdapat hubungan positif yang kuat antara lingkar leher dengan rasio TG/HDL (p=0,000, r=0,677). Setelah dilakukan analisis multivariat, lingkar pinggang juga berpengaruh terhadap rasio TG/HDL. Hal ini dapat disebabkan oleh tidak meratanya distirbusi sunyek dalam penelitian ini.Kesimpulan : Rasio TG/HDL dipengaruhi oleh lingkar leher dan lingkar pinggang.Kata Kunci : lingkar leher, rasio trigliserda/HDL, remaja
AKTIVITAS PERMAINAN TRADISIONAL UNTUK MENGURANGI SCREEN TIME DAN OVERNUTRISI PADA ANAK Aryu Candra; Enny Probosari; Etisa Adi Murbawani
JNH (Journal of Nutrition and Health) Vol 8, No 1 (2020): JNH (JOURNAL OF NUTRITION AND HEALTH)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.878 KB) | DOI: 10.14710/jnh.8.1.2020.46-50

Abstract

Prevalensi obesitas pada anak semakin meningkat. Salah satu faktor penyebabnya adalah kurangnya aktivitas fisik karena anak lebih suka bermain gadget  di dalam rumah. Screen time atau waktu di depan layar yang panjang berdampak negatif karena menurunkan aktivitas fisik dan paparan terhadap sinar matahari. Hal ini dapat menyebabkan obesitas dan osteoporosis.       Permainan tradisional seperti gobak sodor, betengan, dan congklak merupakan permainnan yang memerlukan aktivitas fisik tinggi dan dapat menggantikan olehraga.. Permainan tersebut juga dimainkan di luar ruangan sehingga anak akan lebih banyak terpapar sinar matahari. Namun sayang, permainan ini sekarang mulai menghilang dan tidak dikenal. Oleh karena itu pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk membentuk kelompok bermain untuk memperkenalkan permainan tradisional yang  dapat mengurangi screen time dan menurunkan prevalensi obesitas pada anak.       Kegiatan pengabdian dilakukan di wilayah kelurahan Jomblang kota Semarang pada tahun 2019. Jumlah anak yang mengikuti kegiatan sebanyak 30 anak. Kegiatan permainan tradisional dilakukan seminggu sekali pada hari libur. Kegiatan dilakukan selama 2 bulan, dan di akhir kegiatan diadakan lomba untuk menentukan pemenangnya.        Hasil dari kegiatan adalah terdapat peningkatan aktivitas fisik anak dan penurunan waktu screen time. Sedangkan kejadian overweight dan obesitas belum mengalami penurunan secara signifikan karena waktu kegiatan yang singkat.
Hubungan Persen Lemak Tubuh dan Aktifitas Fisik dengan Tingkat Kesegaran Jasmani Remaja Putri Etisa Adi Murbawani; Lailatul Firiana
JNH (Journal of Nutrition and Health) Vol 5, No 2 (2017): JOURNAL OF NUTRITION AND HEALTH
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (632.406 KB) | DOI: 10.14710/jnh.5.2.2017.69-84

Abstract

Latar belakang: Kesegaran jasmani merupakan indikator yang penting bagi remaja. Lemak tubuh yang berlebihan dapat menurunkan kesegaran jasmani dan beresiko terserang berbagai penyakit. Penurunan aktivitas fisik dapat berakibat penurunan aktivitas organ tubuh yang berperan pada kesegaran jasmani. Tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan persen lemak tubuh dan aktivitas fisik dengan tingkat kesegaran jasmani remaja putri SMA N 1 Semarang.Metode: Penelitian analitik dengan desain cross sectional. Empat puluh remaja putri usia 15-17 tahun diperoleh dengan metode purposive sampling. Kesegaran jasmani diukur dengan metode Multistage Fitness Test. Persen lemak tubuh diukur dengan BIA Omron HBF-200. Aktivitas fisik diukur dengan kuesioner Physical Activity Questionnaire for Adolescents. Data asupan diperoleh dengan FFQ- SQ.Hasil: Sebagian besar subjek memiliki tingkat kesegaran jasmani kategori rendah (47,5%). Ada hubungan antara persen  lemak tubuh dengan tingkat kesegaran jasmani (p 0,001). Ada hubungan aktivitas fisik dengan tingkat kesegaran jasmani (p 0,001). Ada hubungan antara asupan energi    (p 0,003) dan karbohidrat (p 0,002) dengan tingkat kesegaran jasmaniSimpulan: Ada hubungan persen lemak tubuh dan aktivitas fisik dengan  tingkat kesegaran jasmani remaja putri SMA N 1 Semarang. Kata kunci: kesegaran jasmani, persen lemak tubuh, aktivitas fisik, remaja putri
KESESUAIAN ANTARA A.S.P.E.N MALNUTRITION GUIDELINE (A.S.P.E.N MG) DENGAN SUBJECTIVE GLOBAL ASSESSMENT (SGA) PADA PASIEN GAGAL JANTUNG KRONIK NYHA 3-4 Adinda Maharani; Siti Fatimah Muis; Yushila Meyrina; Etisa Adi Murbawani; Enny Probosari
JNH (Journal of Nutrition and Health) Vol 8, No 2 (2020): JNH (JOURNAL OF NUTRITION AND HEALTH)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (909.721 KB) | DOI: 10.14710/jnh.8.2.2020.86-99

Abstract

Latar Belakang : Pasien gagal jantung adalah kelompok yang sangat rentan terhadap malnutrisi karena dipengaruhi banyak faktor, seperti anoreksia, inflamasi dan cachexia jantung, karena itu dibutuhkan asesmen gizi untuk dapat mendiagnosis malnutrisi pada pasien-pasien jantung. Asesmen gizi adalah pendekatan komprehensif untuk mendiagnosa masalah nutrisi, mencegah berlanjut terjadinya cachexia penyakit jantung kronis dengan menggunakan kombinasi beberapa aspek seperti aspek medis, gizi, riwayat pengobatan, pemeriksaan fisik, pengukuran antropometri dan data laboratorium. Banyak cara asesmen gizi yang dipakai, antara lain adalah SGA dan ASPEN MG. Tujuan : Menilai kesesuaian asesmen gizi antara A.S.P.E.N MG terhadap SGA pada pasien gagal jantung kronik (GJK) NYHA 3-4 dan menganalisis sensitifitas dan spesifisitas ASPEN MG dan SGA dalam menentukan derajat malnutrisi pada pasien GJK NYHA 3-4. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional. Desain Uji Diagnostik dengan quota sampling untuk metode pengambilan sampling. Rancang bangun penelitian ini dengan tabel 2x2, dengan SGA sebagai referensi dan ASPEN MG sebagai alat asesmen yang di tes. Untuk uji kesesuaian menggunakan Chi Square. Subyek penelitian semua pasien dengan GJK NYHA 3-4 yang dirawat di Unit Perawatan Jantung dan bangsal Rajawali di RSUP Dr Kariadi Semarang pada bulan Juli - Agustus tahun 2019 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian : Uji kesesuaian dengan menggunakan Chi-Square dengan hasil 0.620 artinya tidak ada kesesuaian antara ASPEN dan SGA untuk kategori severe malnutrition dan non severe. Berdasarkan hasil dari tabel uji diagnostik, diketahui bahwa pasien dengan ASPEN MG severe malnutrition dan SGA C sebanyak 7% (positif benar), sedangkan ASPEN MG severe malnutrition dan SGA Non C sebanyak 56% (positif semu). Pasien dengan ASPEN MG non severe malnutrition dengan SGA C sebanyak 4% (negatif semu) sedangkan ASPEN MG non severe malnutrition dan SGA Non C sebanyak 33% (negatif benar). Nilai sensitivitas ASPEN MG adalah 63.6% dan spesifisitas nya sebesar 37.0%. Simpulan : Terdapat ketidak sesuaian antara alat asesmen ASPEN MG dan SGA. Hasil dari uji sensitivitas dan spesifisitas ASPEN MG lebih rendah dari SGA sebagai semi standar emas. Kata kunci : Kesesuaian, SGA, ASPEN MG, alat asesmen gizi, nilai sensitifitas, nilai spesifisitas, gagal jantung kronik NYHA 3-4
Co-Authors A Fahmy Arif Tsani A Fahmy Arif Tsani Adinda Maharani Af Idah Nur Chauliyah, Af Idah Nur Agustya Dewi Anggraini Ahmad Syauqy Alfadila, Tsania Izza Ali Manfaluthi Ahmad Amalia Sukmadianti Amalia Sukmadianti Amalia Sukmadianti Ana Betal Haq Anis Nuraini Annta Kern Nugrohowati Anwar, Rylandnia Sucha Arima, Lia Andriani Titik Arum Bunga Pertiwi Aryu Candra Astri Pratiwi, Astri Aufa, Mahya Ayu Rahadiyanti Binar Panunggal Brotoarianto, Happy Kurnia Camelia Bomaztika Sari Citta Cendani Daniartama, Bela Darmono SS Darmono SS Deny Yudi Fitranti Deny Yudi Fitranti Deny Yudi Fitranti Dewi Masitha Dewi, Suci Noviya Dwi Arum Sulistyaningsih Eiyta Ardinasari Enny Probosari Etika Ratna Noer Fachrana Fachrana Fatimah, Putri Nur Febe Christianto Fillah Fithra Dieny Fitriani, Luthfia Indra Fredian Suhardinata, Fredian Gheby Soraya S Gusria Yuana Hagnyonowati Hagnyonowati Handayani, Endah Nur Hapsari, Prima Kusuma Hartanti Sandi Wijayanti Hastuti, Vivilia Niken Heidi Listya Heri Nugroho Hertanto Wahyu Subagio Hertanto Wahyu Subagyo Husna, Adisty Nurul Ira Mulyani Izzaty Izzul Hawa, Izzaty Izzul Jennifer Setiawan Khairuddin Khairuddin Khoiriyah, Dian Khusna, Fera Hidayatul Kirana, Stela Maris Adinda Budi Kusnadi, Gita Lailatul Firiana Lana Alfiyana Luluk Hidayatul Maghfiroh MARTHA ARDIARIA Minidian Fasitasari Muhammad Ryan Radifan Gustisiya Muhammad Sulchan Muhammad Sulchan Mulyani, Ira Nabila, Rumaisha NANI WAHYUNI Nathalia Safitri Niken Puruhita Nissa, Choirun Novi Diah Pusparini Nugroho, M. Arif Nurhasanah Nurhasanah Nurmasari Widyastuti Nurmasari Widyastuti Nurrohmiati, Siti Oksidriyani, Safrina Prabu Giusta Nugraha Pristina Adi Rachmawati, Pristina Adi Putri Nur Fatimah Putri Wohing Ati Rachma Purwanti Rachmayanti, Annisa Alifaradila Renjani Gina Ramadhani Restutiwati, Fidi Risky Wijaya Utami Rizkita, Maura Sania Sahid, Ayu Prahartini Nur Sefri Noventi Sofia Sekar Ratry Nurramadhani Siallagan, Rini Martina SIGIT ADIANTO Siti Fatimah Muis Siti Fatimah Muis Siti Fatimah Muis Siti Fatimah Muis Sugiri, Sugiri Sulistyaningnagari, Putri Gayatri Tiara Aris Dahriani Tri Agrina Tri Damayanti, Tri Tsani, A Fahmy Arif Tsani, Ahmed Fahmy Arif Utami, Sulistiyati Bayu Winarto, Zahra Qurrota A'yun Yudomurti Yudomurti Yuliyani, Ni Nyoman Sri Yunita, Rhona Dian Yushila Meyrina