Claim Missing Document
Check
Articles

BERTAHAN DALAM PERUBAHAN: Modifikasi dan Afiliasi Politik Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Aceh Sehat Ihsan Shadiqin
Jurnal Sosiologi Agama Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsa.2021.151-04

Abstract

Sebuah organisasi sosial-keagamaan secara alamiah memiliki naluri untuk bertahan dalam perubahan sosial yang ada di sekitarnya, termasuk gerakan tarekat. Perubahan ini dilakukan untuk mengumpulkan lebih banyak jamaah dan mempertahankan eksistensi gerakan di tengah lingkungannya. Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Aceh merupakan tarekat yang masih baru dibandingkan tarekat lain yang sudah ada di sana sebelumnya. Perubahan politik yang dinamis di Aceh juga mempengaruhi perubahan dalam bidang keagamaan. Artikel ini akan mencoba menjelaskan proses perubahan yang terjadi dalam gerakan tarekat Naqsyabandiyah di Aceh, bentuk perubahannya, dan relasi perubahan tersebut dengan kekuasaan. Dari pengamatan dan wawancara yang penulis lakukan dengan kelompok pelaku tarekat tampak bahwa perubahan dalam tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah yang ada di Aceh terkait erat dengan peran yang dimainkan oleh aktor-aktor tarekat sebagai agensinya. Perubahan itu juga berbeda antara apa yang dilakukan oleh satu tokoh dengan tokoh lainnya. Penulis berpendapat bahwa perubahan dalam tarekat di Aceh mengarah kepada upaya membangun eksistensi diri di tengah perubahan sosial politik yang ada di sana. Para aktor menyesuaikan praktik tarekat untuk masyarakat urban sehingga mendapat lebih banyak pengikut bahkan terkadang dengan menyamarkan nama tarekat di belakangnya.A socio-religious organization naturally has the instinct to survive in the social changes that surround it, including the tarekat movement. This change was made to gather more worshipers and maintain the existence of the movement in its environment. The Naqsyabandiyah Khalidiyah sufi order in Aceh is a relatively new compared to other tarekat that have existed there before. This article will try to explain the process of change that occurred in the Naqsybanadiyah tarekat movement in Aceh, the form of change, and the relationship between these changes and power. From the observations and several interviews that the author conducted with groups of tarekat actors, it appears that changes in the Naqsyabandiyah Khalidiyah tarekat in Aceh are closely related to the role played by actors as their agencies. The changes also differ between what one character does to another. The author argues that changes in tarekat in Aceh lead to efforts to build self-existence in the socio-political changes that are there. Actors adapt tarekat practices to urban communities so as to gain more followers, sometimes even by disguising the tarekat name behind them
PATRONASE PANOPTIK: HIRARKHI SPIRITUAL DAN KUASA MURSYID DALAM TAREKAT NAQSYABANDIYAH KHALIDIYAH Sehat Ihsan Shadiqin
Ar-Raniry: International Journal of Islamic Studies Vol 9, No 2 (2022): Ar-Raniry: International Journal of Islamic Studies
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jar.v9i2.15588

Abstract

Studi tentang panoptikon dalam kehidupan sosial selalu dihubungkan dengan kuasa dalam pendisiplinan tubuh. Dalam banyak tulisan para sarjana menggunakan teori ini untuk melihat bagaimana relasi kuasa mempengaruhi proses pendisiplinan. Di sisi lain studi tentang tarekat dihubungkan dengan upaya pendisiplinan batin bagi jamaahnya. Artikel ini akan membahas struktur kepemimpinan dalam tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Aceh. Dalam relasi ini kepemimpinan dalam tarekat memiliki dua dimensi sekaligus, dimensi relasi kuasa antara Mursyid dengan jamaah, di sisi lain memiliki proses pendisiplinan batin melalui riyadah. Artikel ini focus pada relasi yang terbangun dalam tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah yanga da di Aceh. Tarekat ini memiliki akar yang kuat pada Syaikh Muda Waly al-Khalidi yang berasal dari Labuhanhaji, Kabupaten Aceh Selatan. Dalam prosesnya tarekat ini memiliki pengembangan variasi kepemimpinan yang menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Artikel ini menunjukkan bahwa hierarkhi kepemimpinan tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Aceh merupakan sebuah patronase panoptic dimana relasi yang ada bukan hanya relasi organisasi biasa, namun memiliki makna spiritual.
Dari Kejawen, Muhammadiyah, ke Dayah: Transformasi Ritual Agama dalam Masyarakat Jawa Pendatang di Aceh Sehat Ihsan Shadiqin
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 16, No 2 (2022)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v16i2.29037

Abstract

This article aims to describe the transformation of religious rituals and understanding among the Javanese Muslim community that migrated to the Gayo Highlands, Aceh Province, in the early twentieth century. This article is based on an ethnographic study by the author in the Gayo highlands of District Bener Meriah, Aceh Province. The author employs three primary data collection methods: observation, in-depth interviews, and documentation. The author also conducted a literature study pertinent to this paper to round out the data analysis. This study showed that religious belief and practice had been transformed among the Javanese migrants in Aceh over nearly a half-century. This transformation occurred from understanding the religion, which tends to be Kejawen, to Muhammadiyah's understanding. Then, after three decades, there was a fresh shift in understanding from Muhammadiyah to Dayah, which has continued until now. The Javanese migrants in Aceh are not resistant to changes in religious thought in their culture. Because not many Javanese migrants in Aceh studied religion specifically, anyone who comes will be easily accepted and welcomed. This makes religious transformation in Javanese migrant society in Aceh possible without significant conflict.AbstrakArtikel ini bertujuan menjelaskan transformasi pemahaman dan praktik beragama masyarakat muslim Jawa yang bermigrasi ke dataran tinggi Gayo provinsi Aceh pada awal abad ke 20. Artikel ini didasarkan pada penelitian etnografi yang penulis lakukan di dataran tinggi Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh dengan. Penulis menggunakan tiga teknik pengumpulan data utama yakni observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Untuk melengkapi analisis dan informasi, penulis juga melakukan kajian literatur yang relevan dengan artikel ini. Kajian ini menunjukkan bahwa transformasi pemikiran dan praktik beragama dalam masyarakat Jawa pendatang di Aceh telah terjadi sepanjang hampir setengah abad terakhir. Perubahan ini terjadi dari pemahaman agama yang cenderung kejawen kepada pemahaman Muhammadiyah. Kemudian, setelah tiga dekade terjadi perubahan baru dari pemahaman Muhammadiyah kepada pemahaman Dayah yang masih bertahan hingga saat ini. Masyarakat Jawa di Aceh cenderung tidak resisten pada perubahan pemikiran keagamaan yang ada di dalam masyarakat mereka. Hal ini disebabkan tidak banyak orang Jawa pendatang yang belajar agama secara khusus sehingga siapa saja yang datang ke sana untuk membawa agama akan diterima dan dipermudah. Hal inilah yang menjadikan transformasi keagamaan di dalam masyarakat Jawa pendatang dapat terjadi tanpa konflik yang berarti.
AI dan Agama: Tantangan dan Peluang dalam Era Digital Sehat Ihsan Shadiqin; Tuti Marjan Fuadi; Siti Ikramatoun
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : FISIP Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jspm.v4i2.12408

Abstract

This article addresses the challenges and opportunities arising from the interaction between Artificial Intelligence (AI) and religion in the digital era. Concurrently with the advancement of technology, AI has demonstrated its capability to access and analyze an extensive array of data, encompassing religious texts among others. This phenomenon introduces new prospects for the interpretation and comprehension of religious texts, previously confined to the purview of theologians and scholars but now rendered accessible to a broader spectrum of individuals. Nevertheless, this development also engenders a constellation of challenges. The present article endeavors to elucidate the manner in which religion can acclimate itself to the progressively augmenting role of AI within our society. The foremost challenges that confront religion in this digital epoch shall be expounded upon. Moreover, an examination of how religion can harness this technology for its own purposes will be undertaken. Furthermore, an inquiry into the ethical boundaries governing the role of technology within the realm of religion will be conducted. With a focal point on these inquiries, the article seeks to furnish a comprehensive delineation of the role of AI in the religiosity of the future.Artikel ini membahas tantangan dan peluang yang muncul dari interaksi antara kecerdasan buatan (AI) dan agama dalam era digital. Seiring dengan semakin canggihnya teknologi, AI telah mampu mengakses dan menganalisis data yang sangat luas, termasuk teks-teks keagamaan. Hal ini di satu sisi memberikan kemungkinan baru untuk interpretasi dan pemahaman teks agama, yang sebelumnya menjadi wilayah eksklusif para teolog dan ulama, sekarang dapat dilakukan oleh siapa saja. Meskipun demikian, hal ini juga menimbulkan sejumlah tantangan. Artikel ini akan menjelaskan bagaimana agama dapat beradaptasi dengan peran AI yang semakin meningkat dalam masyarakat kita. Apa tantangan terbesar yang dihadapi oleh agama di era digital ini? Bagaimana agama bisa memanfaatkan teknologi ini untuk tujuan mereka sendiri? Dan apakah ada batas etika bagi peran teknologi dalam agama? Dengan berfokus pada pertanyaan-pertanyaan ini, artikel ini berusaha untuk memberikan gambaran komprehensif tentang peran AI dalam agama masa depan. 
Implimentasi Parenting Style dalam Pendidikan Karakter berbasis Etnopedagogi Budaya Gayo Mahdi; Sehat Ihsan Shadiqin
Realita: Jurnal Penelitian dan Kebudayaan Islam Vol. 21 No. 1 (2023): Jurnal Realita: Jurnal Penelitian dan Kebudayaan Islam
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/realita.v21i1.168

Abstract

Penelitian ini merupakan literature review terkait dengan implementasi parenting style dalam pendidika karakter berbasis etnopedagogi budaya Gayo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan metode library research (penelitian kepustakaan) serta menggunakan pendekatan etnopedagogi. Hasil literature review ini; nilai-nilai adat Gayo merupakan nilai-nilai yang sesuai dengan ajaran Islam dan tidak bertentangan dengan itu. Hal ini disebabkan oleh dasar kepercayaan masyarakat Gayo yang berlandaskan agama Islam dan nilai ini mendasari pola asuh orang tua Gayo serta usaha dalam membentuk karakter anak yang mencerminkan nilai budaya Gayo itu sendiri.
Implimentasi Parenting Style dalam Pendidikan Karakter berbasis Etnopedagogi Budaya Gayo Mahdi; Sehat Ihsan Shadiqin
Realita: Jurnal Penelitian dan Kebudayaan Islam Vol. 21 No. 1 (2023): Jurnal Realita: Jurnal Penelitian dan Kebudayaan Islam
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/realita.v21i1.168

Abstract

Penelitian ini merupakan literature review terkait dengan implementasi parenting style dalam pendidika karakter berbasis etnopedagogi budaya Gayo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan metode library research (penelitian kepustakaan) serta menggunakan pendekatan etnopedagogi. Hasil literature review ini; nilai-nilai adat Gayo merupakan nilai-nilai yang sesuai dengan ajaran Islam dan tidak bertentangan dengan itu. Hal ini disebabkan oleh dasar kepercayaan masyarakat Gayo yang berlandaskan agama Islam dan nilai ini mendasari pola asuh orang tua Gayo serta usaha dalam membentuk karakter anak yang mencerminkan nilai budaya Gayo itu sendiri.
JEJARING PENDIDIKAN ISLAM; PROSES PEMBENTUKAN RELASI GURU DAN MURID PESANTREN DI KABUPATEN ACEH SINGKIL Dahri, Dahri; Suyanta, Sri; Shadiqin, Sehat Ihsan; Ramli, Ramli
AT-TA'DIB: JURNAL ILMIAH PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Vol. 15, No. 2 (Desember 2023)
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Teungku Dirundeng Meulaboh Aceh Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47498/tadib.v15i2.2532

Abstract

The role of the three Syekh Muda Waly students at the Darussalam Islamic Boarding School is crucial in the social and religious life of the community in Aceh Singkil Regency. They are Abu Bahauddin Tawar (1927-2008), Abu Zamzami Syam (1923-2013) and Abu Baihaqi (1931-2015). Interestingly, although the three have different educational characters, they studied at the Darussalam Islamic Boarding School led by Abu Syekh Muda Waly Al Khalidi (1961). Abu Sheikh Muda Al-Khalidi inherited religious knowledge such as fiqh monotheism of Sufism and the sanad of the Naqsabandiyah Khalidiah order. Through an actor-network theory (ANT) approach, this research attempts to map the process of forming student and teacher relationships between the three ulama and Syekh Muda Waly. The results of this research show. (1) The relationship between teacher and student is formed through scientific networks and tarekat sanad. (2) This relationship also impacts learning in the three Islamic boarding schools, which have the same curriculum structure and emphasize understanding fiqh, monotheism, Sufism, da'wah science, and tool science. (3) Such relations also make Darussalam the axis for scientific institutions in the three Islamic boarding schools. It is common for several students who have completed tsanawiyah or Aliyah education at the three Islamic boarding schools to continue to deepen their knowledge at the Darussalam Islamic Boarding School. This relationship shows the role of Abu Syekh Muda Waly Al-Khalidi and Islamic Boarding School Darussalam in building a scientific network within the social context of the Aceh Singkil community
Sufisme-Based Character Practices At Darul Afkar Islamic Boerding School Klaten Wahyudi, M. Agus; Azhar, Azhar; Shadiqin, Sehat Ihsan
Jurnal Spiritual Healing Vol 4 No 2 (2023): Spiritual Healing
Publisher : Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/sh.v4i2.19147

Abstract

Character education is a system of cultivating character values which includes components of knowledge, awareness or will, and actions to carry out values that are considered noble. Islamic boarding schools are one of the Islamic religious educational institutions that have a role in contributing to instilling character education values in their students or students. One of the studies carried out at Islamic boarding schools is the study of Sufism, namely the science that teaches how to have noble morals. The purpose of this study was to find out how the practice of internalizing character education at the Darul Afkar Klaten Islamic Boarding School which is based on Sufism. The results of the study show that the practice of reciting blessings, reciting zikir, and sufistic therapy has a correlation in inculcating character education. Keywords: Character Education, Sufism, Islamic Boarding Schools.
Aktualisasi Teori-Teori Pembelajaran dalam Pola Asuh di Era Digital Mahdi, Mahdi; Zulfikar, Teuku; Shadiqin, Sehat Ihsan
Itqan: Jurnal Ilmu-ilmu Kependidikan Vol. 15 No. 1 (2024): Itqan: Jurnal Ilmu-ilmu Kependidikan
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/itqan.v15i1.2351

Abstract

This research reveals the issue of actualizing learning theories in parenting in the digital era, using a research synthesis approach in exploring relevant theories and for the accuracy of the data collected, qualitative analysis was used. The results of this research; First, parents as educators and children as students are related by blood. Therefore, his authority is natural. So that in the process of interaction between parents and children is very close. Second, in behaviorism theory, parents act as teachers who provide stimulus, provide reinforcement, and manage the learning environment to achieve learning goals. In cognitivism theory, parents should offer activities that promote cognitive development, improve problem solving skills, and stimulate critical thinking. Meanwhile, in constructivism theory, parents must learn strategies for creating a learning environment for children, in order to foster curiosity, provide hands-on practical experience, and encourage collaboration. Third, challenges in raising children in the digital era, including; digital distraction, overstimulation, and balancing screen time.
Edukasi Karakter Anti-Bullying Melalui Metode Sosialisasi pada Siswa di YLPI Mahyal Ulum Al-Aziziyah Aceh Besar Mahmud, Salami; Pranajaya, Syatria Adymas; Mengki, Jias; Shadiqin, Sehat Ihsan; Silahuddin, Silahuddin
Jurnal Riset dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Riset dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jrpm.v4i2.4240

Abstract

Penindasan adalah perilaku agresif yang disengaja dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan dalam lingkungan sosial. Bullying mempunyai dampak yang serius bagi korbannya, seperti depresi, kecemasan, penurunan prestasi akademik, dan masalah kesehatan lainnya. Pelaku penindasan juga dapat mengalami masalah jangka panjang, seperti masalah perilaku negatif dan kesehatan mental. Tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah untuk memberikan edukasi tentang karakter anti perundungan kepada santriwati YLPI Mahyal Ulum Al-Aziziyah Aceh Besar. Pengabdian masyarakat ini diikuti oleh 132 peserta sosialisasi yang terdiri dari 63 siswa dan 69 siswi, serta beberapa guru yang mendampingi. Metode yang digunakan adalah sosialisasi melalui tahap dakwah, tahap penggunaan Alat Peraga Pendidikan Berbasis Multimedia dan Klasik, serta tahap Diskusi – Tanya Jawab – Dialog – Sharing. Dengan demikian, dengan konsep pengabdian masyarakat ini diharapkan siswa tidak hanya mendapatkan manfaat pengetahuan tentang ruang lingkup anti-bullying tetapi juga membiasakan siswa dalam menyampaikan gagasan, serta dapat menjadi pionir karakter anti-bullying di keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat.