Claim Missing Document
Check
Articles

Solidaritas Digital "Brave Pink Hero Green" Di Instagram: Analisis Wacana Kritis Model Fairclough Afthoniya Nurin Nadhifa; Sri Yanuarsih; I Wayan Letreng
Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 19 No 2 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/st.v19i2.30312

Abstract

The phenomenon of digital solidarity on Instagram from late August to early September 2025 reflected the transformation of the discourse of resistance and collective consciousness in the virtual public space. This study aims to analyze the construction of meaning, the processes of production, and socio-cultural context of the digital solidarity discourse that developed during that period. The method used is descriptive qualitative with a Critical Discourse Analysis approach modeled after Norman Fairclough, which encompasses the dimensions of text, discourse practice, and socio-cultural practice. The research data consists of five Instagram posts representing the use of slogans, color symbols, and reflective narratives. The results show that the discourse was constructed through linguistic and semiotic strategies that emphasize empathy, moral courage, and collective solidarity. At the level of discourse practice, production and distribution are collaborative and participatory. Socio-culturally, this discourse marks a shift in resistance towards non-confrontational cultural practices oriented towards collective moral consciousness in the landscape of digital capitalism.
NOVEL SAGA DARI SAMUDRA KARYA RATIH KUMALA: KAJIAN MIMETIK Firdausi Nunzula; Sri Yanuarsih; I Wayan Letreng
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 2 (2026): JURNAL BASTRA EDISI APRIL 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i2.2496

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya memahami hubungan antara karya sastra dan realitas melalui pendekatan mimetik, khususnya dalam novel Saga dari Samudra karya Ratih Kumala yang memadukan unsur sejarah dan imajinasi. Masalah penelitian ini adalah belum banyak kajian yang secara mendalam menelaah representasi realitas sejarah, sosial, dan budaya maritim Nusantara dalam novel melalui perspektif mimetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana realitas tersebut direpresentasikan dalam aspek tokoh, latar, peristiwa, struktur sosial, ekonomi, dan kekuasaan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisis teks sastra melalui teknik baca dan catat serta interpretasi berbasis teori mimetik Aristoteles dan konsep representasi realitas M. H. Abrams. Data penelitian berupa kutipan-kutipan teks dalam novel yang merepresentasikan realitas sosial, budaya, dan sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel ini merefleksikan kehidupan masyarakat maritim Nusantara pada masa perdagangan rempah melalui penggambaran tokoh yang merepresentasikan struktur sosial, latar yang sesuai dengan kondisi historis dan geografis, serta konflik yang mencerminkan dinamika ekonomi, politik, dan sosial. Selain itu, ditemukan adanya representasi stratifikasi sosial, sistem budaya, praktik ekonomi maritim, serta kekuasaan yang bersifat hierarkis. Kontribusi penelitian ini terletak pada penguatan kajian sastra melalui pendekatan mimetik sebagai alat untuk memahami hubungan antara teks sastra dan realitas historis, sekaligus memperkaya kajian sastra Indonesia dalam konteks representasi budaya dan sejarah maritim.
FUNGSI CAMPUR KODE DALAM LAGU SEBATAS FRIENDLY KARYA NDX A.K.A KAJIAN SOSIOLINGUISTIK Siti Khasanah; Sri Yanuarsih; I Wayan Letreng
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 2 (2026): JURNAL BASTRA EDISI APRIL 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i2.2502

Abstract

Praktik campur kode menjadi fenomena linguistik yang menonjol dalam musik populer Indonesia, terutama sebagai bentuk ekspresi bahasa generasi muda yang hidup dalam ruang budaya digital. Lagu Sebatas Friendly karya NDX A.K.A menghadirkan perpaduan bahasa Indonesia, Jawa, dan Inggris yang membentuk dinamika emosional sekaligus identitas linguistik penuturnya. Penelitian ini menelaah praktik campur kode dalam lirik lagu tersebut melalui perspektif sosiolinguistik untuk mengungkap bentuk serta fungsi komunikatifnya dalam membangun makna relasional dan ekspresi perasaan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik simak dan catat terhadap teks lirik lagu, sedangkan analisis dilakukan melalui tahap identifikasi, klasifikasi, dan interpretasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa campur kode muncul dalam tiga pola utama, yaitu campur kode ke dalam, campur kode ke luar, dan campur kode campuran. Bahasa Jawa mendominasi penggunaan campur kode dan berperan sebagai medium utama penguatan ekspresi emosional seperti kekecewaan, konflik batin, dan kedekatan personal. Sementara itu, unsur bahasa Inggris berfungsi sebagai penanda modernitas, strategi kesantunan, serta sarana penegasan batas hubungan secara rasional melalui ungkapan seperti friendly dan sorry. Temuan ini memperlihatkan bahwa campur kode dalam lagu populer tidak hanya menjadi variasi bahasa, tetapi juga strategi sosiolinguistik dan estetis yang merepresentasikan negosiasi identitas generasi muda antara bahasa lokal dan global. Dengan demikian, praktik campur kode dalam musik populer menunjukkan bagaimana bahasa berfungsi sebagai medium ekspresi emosi sekaligus konstruksi identitas dalam budaya digital kontemporer.
REPRESENTASI EMOSI DAN PERASAAN DALAM LIRIK LAGU ”MONOLOG” KARYA PAMUNGKAS Syadeka Nisa Hanifah; Sri Yanuarsih
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 2 (2026): JURNAL BASTRA EDISI APRIL 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i2.2510

Abstract

Lirik lagu tidak sekadar menghadirkan ekspresi estetis, tetapi juga merekam dinamika psikis yang bekerja di balik pengalaman manusia. “Monolog” karya Pamungkas memperlihatkan bagaimana bahasa puitis menjadi medium artikulasi konflik batin yang bergerak dari ketegangan emosional menuju kestabilan perasaan. Kajian ini memosisikan lirik sebagai representasi simbolik dari proses psikologis yang berlangsung secara bertahap, dengan menautkannya pada kerangka psikologi analitik Carl Gustav Jung. Melalui pendekatan kualitatif interpretatif, data berupa satuan lingual dalam lirik dianalisis menggunakan teknik simak-catat untuk menelusuri jejak emosi, ketidaksadaran personal, serta fungsi perasaan dalam struktur teks. Pembacaan menunjukkan bahwa fase awal lirik ditandai oleh dominasi emosi yang intens, sporadis, dan cenderung destruktif sebagai manifestasi konflik antara ego dan ketidaksadaran. Simbol kegelapan, diam, dan keterasingan mengindikasikan tekanan psikis yang belum terintegrasi. Pada fase berikutnya, terjadi pergeseran signifikan menuju perasaan (feeling) yang lebih stabil dan reflektif, di mana tokoh lirik mulai melakukan evaluasi batin secara sadar terhadap relasi yang dijalani. Cinta dan rindu tidak lagi tampil sebagai gejolak emosional, melainkan sebagai konstruksi makna yang tenang, konsisten, dan penuh penerimaan. Transformasi makna keheningan dari simbol stagnasi menjadi ruang harmoni menegaskan adanya integrasi psikis. Temuan ini menguatkan bahwa lirik lagu mampu merepresentasikan proses individuasi, yakni pergerakan dari konflik internal menuju keseimbangan batin. Pergeseran dari emosi menuju perasaan menandai kematangan psikologis individu dalam memaknai pengalaman relasional secara lebih utuh dan sadar.