Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Pengembangan Instrumen Diagnostik Three Tier Test pada Materi Pecahan Kelas VII Lu'lu Yu'tikan Nabilah; R. Ruslan; R. Rusli
Issues in Mathematics Education (IMED) Vol 3, No 2 (2019): September
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.252 KB) | DOI: 10.35580/imed12421

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan instrumen diagnostik three tier test untuk materi pecahan kelas VII yang layak dan valid, mengetahui kelayakan instrumen tersebut berdasarkan validitas, reliabilitas, dan taraf kesukaran, serta mengungkap miskonsepsi yang dialami oleh peserta didik kelas VII pada materi bilangan pecahan. Jenis penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan. Subjek penelitian dari uji coba tes esai, tes pilihan ganda beralasan terbuka, hingga penerapan instrumen three tier test akan diuji pada peserta didik kelas VII. Prosedur penelitian dimulai dengan studi pendahuluan, perancangan draft  produk, hingga pengembangan produk dilanjutkan dengan analisis three tier test dari segi validitas, reliabilitas, dan tingkat kesukaran lalu analisis dan interpretasi miskonsepsi dari hasil three tier test. Hasil penelitian diperoleh (1) instrumen diagnostik three tier test yang digunakan untuk mengidentifikasi miskonsepsi pada materi bilangan pecahan dikembangkan melalui tahapan studi pendahuluan, perancangan tes essay, perancangan tes pilihan ganda, hingga three tier test; (2) three tier test yang dikembangkan memenuhi kriteria valid, reliabel, dan dengan taraf kesukaran 6,7% mudah, 26,7% sedang, dan 66,6% sukar; (3) peserta didik mengalami miskonsepsi pada indikator menjelaskan definisi pecahan, membandingkan dan mengurutkan bilangan pecahan, dan menghitung operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian bilangan pecahan.Kata kunci: three tier test, miskonsepsi, instrumen, diagnostik. This study aims to produce a three tier diagnostic test instrument of fraction topic for grade VII that feasible and valid, determine the feasibility of the instrument based on validity, reliability, and degree of difficulty, and reveal the misconceptions experienced by class VII students on fraction topic. This type of research is research and development. Research subjects from essay test trials, open-reasoned multiple choice tests, until the application of the three tier test instruments will be tested on students of class VII. The research procedure starts with a preliminary study, drafting a product, until product development is continued with the analysis of three tier tests in terms of validity, reliability, and the level of difficulty and analysis and interpretation of misconceptions from the results of the three tier test. The results of the study were obtained (1) the three tier test diagnostic instruments used to identify misconceptions in fraction number material were developed through preliminary study stages, designing essay tests, designing multiple choice tests, up to three tier tests; (2) the three tier tests developed meet the criteria of valid, reliable, and with a difficulty level of 6.7% easy, 26.7% medium, and 66.6% difficult; (3) students experience misconceptions on indicators explaining fraction definitions, comparing fractions of numbers, and calculating addition, subtraction, multiplication, and fraction division operations.Keywords: three tier test, misconception, instrument, diagnostic
Pengaruh Self-directed Learning dan Disposisi Matematis terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa R. Ruslan; R. Rusli; R. Rusdi
Issues in Mathematics Education (IMED) Vol 1, No 2 (2017): September
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.006 KB) | DOI: 10.35580/imed9475

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Self-directed Learning (SDL) dan disposisi matematis terhadap hasil belajar matematika siswa. Penelitian ini merupakan penelitian ex post facto. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa pada salah satu SMA Negeri di Sulawesi Selatan tahun ajaran 2017/2018 dengan total 638 siswa. Sebesar 180 sampel diambil menggunakan teknik disproportionated stratified random sampling, dengan ukuran sampel tiap tingkatan kelas sebesar 60 sampel. Data diperoleh dengan menggunakan instrumen skala bertingkat Self-rating Scale of Self-directed Learning(SRSSDL), angket disposisi matematis, dan tes hasil belajar matematika. Analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda. Hasil analisis data menunjukkan bahwa tingkat SDL siswa berada pada kategori sedang, disposisi matematis siswa berada pada kategori tinggi, dan hasil belajar siswa berada pada kategori rendah. SDL dan disposisi matematis secara simultan berpengaruh positif terhadap hasil belajar matematika siswa, dimana sebesar 18,66% dari hasil belajar matematika dapat dijelaskan oleh variabel SDL dan disposisi matematis secara bersama-sama. Secara parsial, variabel SDL mempengaruhi hasil belajar sebesar 5,38% dan variabel disposisi matematis mempengaruhi hasil belajar sebesar 4%. Setiap penambahan satu skor pada SDL akan memberikan peningkatan sebesar 0,164 terhadap hasil belajar matematika. Sedangkan penambahan satu skor disposisi matematis akan memberikan peningkatan sebesar 0,281 terhadap hasil belajar.Kata Kunci: self-directed learning, disposisi matematis, hasil belajar matematikaAbstract. This research aims to find the influence of Self-directed Learning (SDL) and mathematics disposition on mathematics learning achievement of students.This research is an ex-post facto research. Population of this study is the whole student in one of senior high school located in South Sulawesi  academic year 2017/2018 with the total of 638 students. 180 students were selected by using disproportionated stratified random sampling method where the number of sample for each level was 60 students. Data were obtained by using ordered scale instrument of self-rating scale of self-directed learning (SRSSDL), mathematics disposition questionnaire and test of mathematics learning achievement. data analysis technique applied was multiple linear regression by using software IBM SPSS Statistics 24. The results of data analysis show students’ self-directed learning is in intermediate level, students’ mathematics disposition is in high level and students’ mathematics learning achievement is in low level. Simultaneously, Self-directed learning and mathematics disposition positively affect on mathematics learning achievement of students of SMA Negeri 9 Maros, where 18,66% of mathematics learning achievement can be explained by SDL and mathematics disposition simultaneously. Partially, the variable SDL affects learning achievement in the amount of 5,38% while the variable mathematics disposition influence mathematics learning achievement for 4%. Each increasing for one score on SDL will improve mathematics learning achievement for 0,164 while the increase for one score of mathematics disposition will improve the learning achievement for 0,281.Keywords: self-directed learning, mathematics disposition, mathematics learning achievement.
Deskripsi Pemahaman Konsep Matematika Siswa Ditinjau dari Intensitas Penggunaan E-Learning Quipper Video Fitrahlaelah Muh Asri; R. Ruslan; A. Asdar
Issues in Mathematics Education (IMED) Vol 3, No 2 (2019): September
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.723 KB) | DOI: 10.35580/imed11051

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemahaman konsep matematika siswa pada materi perpangkatan ditinjau dari intensitas penggunaan e-learning quipper video. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Subjek pada penelitian ini dipilih secara acak masing-masing satu untuk kategori intensitas tinggi, intensitas sedang, dan intensitas rendah. Adapun teknik pengumpulan data dengan pemberian angket intensitas penggunaan quipper video, tes pemahaman konsep, dan wawancara kemudian melalui tiga tahapan analisis data yaitu kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman konsep matematika: (1) Subjek dengan intensitas penggunaan quipper video tinggi kurang memahami konsep pada indikator mengaplikasikan konsep atau algoritma pada pemecahan masalah. (2) Subjek dengan intensitas penggunaan quipper video sedang mampu menyatakan ulang konsep, mengklasifikasi objek menurut sifat-sifat tertentu sesuai dengan konsepnya, menggunakan dan memanfaatkan serta memilih prosedur atau operasi tertentu,  mengaplikasikan konsep atau algoritma pada pemecahan masalah, memberikan contoh dan bukan contoh, menyajikan konsep dalam berbagai representasi matematis, dan mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup dari suatu konsep. (3) Subjek dengan intensitas penggunaan quipper video rendah kurang memahami konsep pada indikator menyatakan ulang suatu konsep, memberikan contoh dan bukan contoh dari suatu konsep, dan mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup dari suatu konsep.Kata Kunci: pemahaman konsep, intensitas, quipper videoAbstract. This research aims to describe students’ mathematics conceptual understanding understanding with topics exponential considered of the intensity of using quipper video. This type of research is descriptive qualitative. Subjects in this study were randomly selected one for the category of high intensity, one medium intensity, and one low intensity. The data collection techniques by giving intensity questionnaires use quipper video, understanding concept tests, and interviews then through three stages of data analysis, namely data condensation, data presentation, and conclusion. The results showed that understanding mathematical concepts: (1) Subjects with high intensity of using quipper video were unable to understand the concept in indicators apply concepts or algorithms to problem solving. (2) Subjects with medium intensity of using quipper video are able to restate the concept, classify objects according to certain characteristics in accordance with the concept, use and utilize certain procedures or operations, apply concepts or algorithms to problem solving, provide examples and not examples, present concepts in various mathematical representations, and develop necessary requirements or sufficient requirements from a concept.(3) subject with low intensity of using quipper video did not understand the concept in indicator restating the concept, , provide examples and not examples,and develop necessary requirements or sufficient requirements from a concept.Keywords: concept understanding, intensity, quipper video
Deskripsi Kecerdasan Visual Spasial Siswa dalam Memecahkan Masalah Bangun Ruang Sisi Datar Ditinjau Berdasarkan Tingkat Kemampuan Awal Geometri pada Siswa Kelas VII SMP Anisah Syafiqah; R. Ruslan; D. Darwis
Issues in Mathematics Education (IMED) Vol 4, No 1 (2020): Maret
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (641.319 KB) | DOI: 10.35580/imed15292

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum kecerdasan visual spasial siswa kelas VII SMP dalam memecahkan masalah bangun ruang sisi datar berdasarkan tingkat kemampuan awal geometri. Penelitian ini menggunakan Teori Hass yang menggolongkan karakteristik kecerdasan visual spasial atas pengimajinasian, pengkonsepan, pemecahan masalah, dan pencarian pola. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian sebanyak 3 siswa, yaitu 1 siswa dengan kemampuan awal geometri tinggi, 1 siswa dengan kemampuan awal geometri sedang dan 1 siswa dengan kemampuan awal geometri rendah. Instrumen penelitian yang digunakan terdiri atas soal tes kemampuan awal geometri, soal tes kecerdasan visual spasial materi bangun ruang sisi datar, dan pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Karakteristik yang paling dominan muncul pada siswa adalah karakteristik pencarian pola serta pengimajinasian sedangkan karakteristik yang paling tidak dominan muncul adalah karakteristik pemecahan masalah. (2) Subjek berkemampuan awal geometri tinggi 3 karakteristik kecerdasan visual spasial yakni pengimajinasian, pengkonsepan dan pencarian pola. (3) Subjek berkemampuan awal geometri sedang mampu memenuhi 2 karakteristik kecerdasan visual spasia yakni pengimajinasian dan pencarian pola. (4) Subjek berkemampuan awal geometri rendah tidak mampu memenuhi semua karakteristik kecerdasan visual spasial. Kata kunci: Kecerdasan, Kecerdasan Visual Spasial, Kemampuan Awal Geometri, Bangun Ruang Sisi Datar, Teori Hass The aim of this research is to determine the general description of spatial visual intelligence of students from grade VII of SMP in solving solid figure flat side problems based on the initial ability level of geometry. This research used Hass Theory which classifies the characteristics of spatial visual intelligence based of imagining, conceptualizing, problem solving, and problem seeking. The type of this research is descriptive research with qualitative approach. The research subjects were 3 students. The first subject has high initial ability in geometry, the second subject has moderate initial ability, and the third subject has low initial ability. The research instrument used consists of the initial ability of geometry test questions, spatial visual intelligence of solid figure flat side test questions, and interview guidelines. The research result showed that: (1) The most dominant characteristic that appears in students was the characteristic of problem seeking and imagining, while the least dominant characteristic was problem solving. (2) Subjects who had high initial ability of geometry was able to fulfill 3 spatial visual intelligence characteristics, those were imagining, conceptualizing, and problem seeking. (3) Subjects who had moderate initial ability of geometry was able to fulfill 2 spatial visual intelligence characteristics, those were imagining and problem seeking. (4) Subjects who had low initial ability of geometry was not able to fulfill all the characteristics of spatial visual intelligence. Keywords: Intelligence, Visual-Spatial Intelligence, Initial ability of Geometry, Solid Figure Flat Side, Hass Teory
Deskripsi Pemahaman Konseptual Matematika Siswa SMP IT Wahdah Islamiyah pada Materi Pecahan Ditinjau dari Gaya Belajar Visual R Ruslan; B Bernard; Edwin Ali Akbar
Issues in Mathematics Education (IMED) Vol 1, No 1 (2017): Maret
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.38 KB) | DOI: 10.35580/imed9246

Abstract

Abstrak. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan atau mengungkapkan dengan kata-kata wujud atau sifat lahiriah dari suatu objek dan menjelaskannya secara terperinci dan sistematis mengenai pemahaman konsep matematika siswa pada materi pecahan dengan memperhatikan gaya belajar visual. Subjek penelitian ini adalah satu orang siswa yang memiliki gaya belajar visual. Pemilihan subjek ini berdasarkan hasil penilaian angket gaya belajar siswa kelas  sebanyak 32 orang siswa. Dalam proses pengambilan data, penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah tahap penyampaian tujuan penelitian sekaligus tahap pemberian angket gaya belajar. Tahap kedua adalah pemberian tes yang dirangkaikan dengan tahap observasi. Sedangkan tahap ketiga adalah tahap wawancara guna menggali lebih dalam bagaimana pemahaman siswa dalam menjawab soal tes yang diberikan. Instrumen yang digunakan adalah peneliti sendiri, angket gaya belajar, tes pemahaman konsep pecahan, dan pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan gaya belajar visual mampu mencapai dua indikator dengan  cukup baik dari lima indikator yang ditentukan.Kata kunci: Deskripsi, Pemahaman Konsep Pecahan, Gaya Belajar Visual, SiswaAbstract. This is a descriptive research which depicts essentially the object and explains more detail and systematic about students’ conceptual understanding on fraction material towards the students who have a visual-studying style. The subject was a student who had a visual style. The subject was selected based on the questionnaire which was deployed in a class, which consists of 32 pupils. In the process, there were 3 steps; first, giving information about the goal of research and once in a while giving the questionnaire of studying style. Second, giving the test and doing observation step. Third, doing interview in order to know more information about how the pupils answer the problems on the test. The used instruments werequestionnairre of studying style, test of fraction-concept compehention, and interview outlines. The result of this research showed that a student accostumed to visual learning style was sufficiantly able to meet two out of five indicators demand which had been determined.Keywords: Description, Fraction-Concept Comprehention, Visual-Studying Style, Pupil.
Analisis Kemampuan Berpikir Kritis Matematika Siswa SMA Nurhakimah Mujahid; R. Ruslan; Ahmad Thalib
Issues in Mathematics Education (IMED) Vol 2, No 2 (2018): September
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.73 KB) | DOI: 10.35580/imed9492

Abstract

Kemampuan berpikir matematis, khususnya berpikir matematis tingkat tinggi (high order mathematical thinking) sangat diperlukan oleh siswa agar siswa sanggup menghadapi perubahan keadaan atau tantangan-tantangan yang ada dalam kehidupan yang selalu berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Analisis kemampuan berpikir kritis matematik siswa di Sma Negeri 5 Wajo. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Subjek dalam penelitian ini menggunakan siswa kelas XII IPA 1 Sma Negeri 5 Wajo yang ditinjau dari kemampuan awal yang berjumlah 3 orang. Subjek yang diambil menggunakan tes kemampuan awal, kemudian subjek diberikan tes kemampuan berpikir kritis matematik dan diwawancarai. Data tes kemampuan berpikir kritis matematik dan wawancara setiap subjek penelitian dideskripsika. Beradasarkan analisis data dapat disimpulkan bahwa, Analisis kemampuan berpikir kritis matematik siswa ditinjau dari kemampuan awal dengan menggunakan Graded Response Model (GRM) diketahui bahwa kemampuan awal tinggi, sedang dan rendah menunjukkan kemampuan berpikir krtis matematik sama yaitu pada tahap rata-rata antara 1,00 sampai -1,00 Kata kunci: Kemampuan Berpikir Kritis Matematik, Graded Response Model (GRM)Abstract. Mathematical thinking ability, particularly the high level of mathematical thinking (high-order mathematical thinking) badly needed by students in order to make students able to confront changes in circumstances or challenges they have in life is always developing. This study aims to describe the mathematical analysis of the critical thinking ability of students in SMA Negeri 5 Wajo.This research was qualitative with the descriptive approach. The subject in this study using a XII IPA 1 grade in SMA Negeri 5 Wajo reviewed from an initial capability that add up to 3 people. The subject is taken using the test ability early, then the subject is given a test of mathematical and critical thinking abilities were interviewed. Test data of mathematical and critical thinking abilities interview each of the subject is described.On the analysis of the data it can be concluded that the ability of critical thinking, analysis of the mathematical ability of students beginning by using Graded Response Model (GRM) noted that the ability of the initial of the high, medium and low indicating the same mathematics critical thinking ability in stages an average between 1,00 to -1,00Keyword: Mathematics Critical Thinking Ability, Graded Response Model (GRM)
The Effect of Students' Interest and Motivation in Participating in Online Mathematics Learning on Mathematics Learning Outcomes for VII SMP Class Ruslan Ruslan; Asdar Asdar; Sri Kurniati
SAINSMAT: Journal of Applied Sciences, Mathematics, and Its Education Vol. 11 No. 2 (2022)
Publisher : PT Mattawang Mediatama Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35877/sainsmat693

Abstract

This study aims to determine the effect of students' interest and motivation in participating in online mathematics learning on mathematics learning outcomes for class VII SMP. In this study, the interest and motivation of students to take part in learning mathematics in the network is the independent variable, while the learning outcomes of mathematics are the dependent variable. The sampling technique in this study used a random sampling technique and the number of samples was 78 students of class VII. The data collection technique was using test and non-test instruments. The instruments used are (1) a questionnaire on student learning interest in the network (2) a questionnaire on student learning motivation in the network (3) a test of mathematics learning outcomes. The data analysis method used multiple linear regression. The results showed that (1) students' interest in learning was in the high category (2) students' learning motivation was in the high category (3) student learning outcomes tests on algebraic form material were in the low category (4) students' interest and motivation in online learning were networked. together have no effect on the learning outcomes of class VII on algebraic material.
Pengaruh Metode Probing Prompting Setting Kooperatif dalam Pembelajaran Matematika terhadap Hasil Belajar Siswa Muhammad Shiddiqien Kuddus; R. Ruslan; Awi Dassa
Issues in Mathematics Education (IMED) Vol 1, No 2 (2017): September
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.303 KB) | DOI: 10.35580/imed9472

Abstract

Abstrak. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu yang bertujuan untuk mengkaji: (1) hasil belajar siswa sebelum dan setelah diterapkan metode Probing Prompting setting kooperatif pada kelas eksperimen; (2) hasil belajar siswa sebelum dan setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif pada kelas kontrol; (3) apakah metode Probing Prompting berpengaruh terhadap hasil belajar siswa dilihat dari peningkatan hasil belajar siswa kedua kelas; (4) seberapa besar tingkat hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan menggunakan metode Probing Prompting. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X MIPA yang terdiri dari 6 kelas. Peneliti memilih dua kelas dengan menggunakan simple random sampling. Data diperoleh dari hasil observasi dan tes. Data dianalisis menggunakan analisis statistika deskriptif dan inferensial. Hasil dari analisis statistika deskriptif adalah: (1) rata-rata hasil pretest dan posttest siswa yang diajar dengan metode Probing Prompting setting kooperatif dan model pembelajaran koperatif berturut-turut adalah: (i) 3.18 dan 64.76; dan (ii) 3.42 dan 52.35; (2) peningkatan hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan menggunakan metode Probing Prompting sebesar 64.76 dalam kategori sedang. Hasil dari analisis statistika inferensial adalah: peningkatan hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan metode Probing Prompting setting kooperatif lebih besar dari peningkatan hasil belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif.Kata Kunci: Probing Prompting, Pembelajaran Kooperatif, Hasil Belajar.Abstract. This study is a quasi-experimental research that aims to identify: (1) student learning outcomes before and after applied cooperative Probing Prompting method in the experimental class; (2) student learning outcomes before and after applied cooperative learning model in the control class; (3) Probing Prompting method affected to student learning outcomes based on the increase of student learning outcomes from both classes; (4) the increase of mathematics learning outcomes of the students taught using Probing Prompting method. The population of this study is all students in grade X MIPA on six classes. The writer chose two classes using simple random sampling. The data were collected by using observation and test. The method of analyzing data used descriptive and inferential statistical analysis. The result of descriptive statistical analysis is (1) the average of pretest and posttest results of the students taught using cooperative Probing Prompting method and cooperative learning model are: (i) 3.18 and 64.76; (ii) 3.42 and 52.35; (2) the increase of mathematics learning outcomes of the students taught using Probing Prompting method is 64.76 classified as moderate category. The result of inferential statistical analysis is the increase of mathematics learning outcomes of the students taught using cooperative Probing Prompting method is greater than cooperative learning model.Keywords: Probing Prompting, Cooperative Learning, Learning Outcames.
PKM MEDIA INFOGRAFIS BERBASIS KONTEKS DAN STRATEGI PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK BAGI GURU MATEMATIKA DI KABUPATEN PANGKEP Nasrullah Nasrullah; Ruslan Ruslan; Fajar Arwadi
Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat SEMINAR NASIONAL 2022:PROSIDING EDISI 9
Publisher : Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Mitra Program Kemitraan Komunitas (PKM) ini adalah MGMP Matematika Kabupaten Pangkep. Adapun permasalahan yang dihadapi adalah 1) Guru belum memaksimalkan kegiatan pembelajaran aktif di kelas, salah satunya matematika. 2) Guru belum maksimal memanfaatkan media dan strategi dalam kegiatan pembelajaran. Untuk implementasinya, peserta dilibatkan dalam kegiatan pelatihan yang pelaksanaannya meliputi sajian materi dan kegiatan praktek. Dalam penyajian materi peserta diberikan materi-materi mengenai konsep media infografis berbasis konteks, Konteks pembelajaran matematika realistik, strategi pembelajaran matematika realistik, dan Penggunaan media infografis berbasis konteks dan strategi pembelajaran matematika realistik.. Pada bagian kegiatan praktikum peserta melakukan kegiatan praktek penyusunan infografis menggunakan Canva dan pengembangan konteks pembelajaran terpadu strategi pembelajaran Matematika Realistik. Untuk mendukung pelaksanaan kegiatan, peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat mereka dengan kegiatan ini media infografis berbasis konteks dan Strategi Pembelajaran Matematika Realistik (PMR). Hasilnya menunjukkan bahwa kegiatan pelatihan memberikan tambahan pengetahuan yang berfungsi meningkatkan pengetahuan guru tentang media pembelajaran alternatif untuk pembelajaran yang mengembangkan konteks dan strategi pembelajaran matematika realistik.  Kata kunci: Media Infografis, Konteks, Strategi Pembelajaran Matematika Realistik
Deskripsi Kreativitas dalam Menyelesaikan Soal Berbasis Timss Ditinjau dari Kemampuan Awal Matematika Siswa SMPN 2 Barombong Ruslan Ruslan; Hamda Hamda; Nur Rahayu
Issues in Mathematics Education (IMED) Vol 5, No 1 (2021): Maret
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35580/imed44856

Abstract

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskripsi yang bertujuan untuk mengetahui kreativitas siswa dalam menyelesaikan soal berbasis TIMSS domain kognitif. Subjek penelitian sebanyak enam siswa dari kelas VIII C SMPN 2 Barombong. Pengambilan subjek dilakukan berdasarkan kemampuan awal matematika kelas VIII C yang kemudian dari hasil tersebut dikelompokkan siswa yang berkemampuan tinggi dan rendah. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data adalah tes kreativitas matematika dan pedoman wawancara. Penelitian ini mengacu pada tiga aspek kemampuan berpikir kreatif yaitu kefasihan, keluwesan, dan kebaruan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) subjek pada domain kognitif penerapan konten aljabar yang berkemampuan awal tinggi memenuhi aspek kefasihan dan keluwesan. Artinya memperoleh tingkat kemampuan berfikir kreatif 3 (kreatif); (2) subjek pada domain kognitif penerapan konten aljabar tidak memenuhi aspek kefasihan, keluwesan, dan kebaruan. Artinya kemampuan awal rendah memperoleh tingkat kemampuan berfikir kreatif 0 (tidak kreatif); (3) subjek pada domain kognitif penalaran konten aljabar bahwa kemampuan awal tinggi memenuhi aspek keluwesan. Artinya memperoleh tingkat kemampuan berfikir kreatif 2 (cukup kreatif); (4) subjek pada domain kognitif penalaran konten aljabar bahwa kemampuan awal rendah tidak memenuhi aspek kefasihan, keluwesan, dan kebaruan. Artinya memperoleh tingkat kemampuan berfikir kreatif 0 (tidak kreatif).Kata kunci: kreativitas, aljabar, TIMSS, kemampuan awal matematikaThe research is a qualitative study using a descriptive method that aims to determaine students’ creativity in solving TIMSS-based questions the cognitive domain. The subjects in this study were six students from the VIII C class of SMPN 2 Barombong. The research’s subject is based on the mathematical ability result of the VIII C class. Then, the result is divides students into two categories of mathematical ability: students with high and low abilities. The researcher used the creativity test and interview guidelines to collect the data. The result of this study indicates that (1) the subject in the cognitive domain of applying algebraic content, high initial abilities meet the aspects of fluency and flexibility. Which meant that obtained creative thinking ability level 3 (creative); (2) the subject in the cognitive domain of applying algebraic content, low initial abilities do not meet the aspects of fluency, flexibility, and novelty. Which meant that obtained creative thinking ability level 0 (not creative); (3) the subject n the cognitive domain of reasoning algebraic content that high initial abilities meet the aspect of flexibility. Which meant that obtain creative thinking ability level 2 (creative enough); (4) the subjects in the cognitive domain of reasoning algebraic content that low initial abilities do not meet the aspects of fluency, flexibility, and novelty. Which meant that obtained creative thinking ability level 0 (not creative).Keywords: creativity, constructing, area of flat shape, learning style