Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Identifikasi Kandungan Volatil Ekstrak Etanol Benalu Alpukat (Dendrophthoe pentandra) Sebagai Kandidat Antibiotik Alami Tuberkulosis Ainiyah, Roisatul; Nugroho, Endik Deni; Ardiansyah, Reza; Hamdani, Khoirul; Tarmudi, Imam; Kuswanto, Wawan; Hadi, Lukman
Bioscientist : Jurnal Ilmiah Biologi Vol. 12 No. 2 (2024): December
Publisher : Department of Biology Education, FSTT, Mandalika University of Education, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/bioscientist.v12i2.13326

Abstract

Tuberculosis is an infectious disease that spreads through the air and is caused by the bacterium Mycobacterium tuberculosis. To combat it, synthetic drugs are commonly used, which can have adverse effects, making natural alternatives like avocado mistletoe (Dendrophthoe pentandra) necessary. This study aims to explore potential tuberculosis compounds from D. pentandra. The method used in this research is an exploratory descriptive method. The identification of compound content in the ethanol extract of D. pentandra leaves was performed using GC-MS, along with potential testing as an antituberculosis agent through in silico molecular docking. The research results showed that there were 13 volatile compounds contained in the ethanol extract of D. Pentandra leaves, predominantly consisting of propane, 1-methoxy, with a concentration of 9.39%. D. pentandra has the potential as a ClpP1P2 antituberculosis agent with four promising compounds:2-amino-1-(5-bromo-2-pyridinyl)-4-(2,4-dichlorophenyl)-7,7-dimethyl-5-oxo-1,4,5,6,7,8-hexahydro-3-quinolinecarbonitrile, stigmasterol acetate, β-sitosterol acetate, and γ-sitosterol. PASSOnline predictions support the potential of ethanol extract of D. Pentandra leaves as anti-tuberculosis and anti-mycobacteria agent.
Pendampingan Penerapan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) Pada UMKM Pengolahan Abon Lele Ernawati, Ernawati; Ainiyah, Roisatul; Palupi, Hapsari Titi; Syarwani, Muhammad; Hasyim, Mochamad; Huda, Miftahul; Ahwan, Zainul; Hakim, Lukman; Sulhan, Muhammad; Swasono, Muh Aniar Hari
Jurdimas (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Royal Vol. 8 No. 2 (2025): April 2025
Publisher : STMIK Royal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33330/jurdimas.v8i2.3630

Abstract

Suole MSME is a catfish floss producer committed to enhancing product quality through the implementation of the Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) system.  Implementation is carried out by development and verification of the production process flow diagram, hazard identification, determination of Critical Control Points (CCPs), and establishment of critical limits. This community service activity aimed to provide knowledge and assistance in HACCP implementation to enhance food safety, product quality, and competitiveness. The activity was conducted from October to December 2024 at UMKM Suole, and included interviews, field observations, and HACCP assistance and analysis. The results show that the catfish floss production process involves several critical stages that require monitoring, such as raw material reception, meat separation, frying, and packaging. Hazard identification and determination of Critical Control Points (CCPs) have been carried out to prevent biological, chemical, and physical contamination. The importance of developing Standard Operating Procedures (SOPs), maintaining sanitation, and controlling processing time and temperature was emphasized. Improving the understanding of HACCP among MSME actors is a key factor in effective hazard control and achieving food safety.Keywords: catfish floss; food safety; HACCP; hazard Abstrak: UMKM Suole merupakan salah satu produsen abon lele yang berupaya meningkatkan kualitas produk melalui penerapan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP). Penerapan dilakukan dengan penyusunan dan verifikasi diagram alir proses produksi abon lele, identifikasi bahaya, serta penetapan CCP dan batas kritis. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memberikan wawasan dan pendampingan penerapan HACCP guna meningkatkan keamanan pangan, mutu, dan daya saing produk. Kegiatan dilaksanakan pada Oktober hingga Desember 2024 di UMKM Suole, meliputi wawancara, observasi lapangan, serta pendampingan dan analisis HACCP. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa proses produksi abon lele mencakup beberapa tahap penting yang memerlukan pengawasan, seperti penerimaan bahan baku, pemisahan daging, penggorengan, dan pengemasan. Telah dilakukan identifikasi bahaya dan penetapan titik kendali kritis (CCP) untuk mencegah kontaminasi biologis, kimia, dan fisik. Selain itu, ditekankan pentingnya penyusunan SOP, sanitasi, serta pengendalian suhu dan waktu proses. Peningkatan pemahaman pelaku UMKM terhadap HACCP menjadi faktor kunci dalam pengendalian bahaya dan pencapaian keamanan pangan produk.Kata kunci: abon lele; bahaya; HACCP; keamanan pangan
Perbedaan Rendemen Minyak Hati Ikan Bandeng (Chanos chanos) dengan Metode Ektraksi Dry Rendering dan Wet Rendering Jamaludin Akbar, Maulana; Ainiyah, Roisatul; Ernawati, Ernawati; Izzah, Nikmatul
OCTOPUS: JURNAL ILMU PERIKANAN Vol. 14 No. 2 (2025): OCTOPUS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/q58kfv53

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan rendemen dan mutu organoleptik (warna dan aroma) minyak hati ikan bandeng (Chanos chanos) yang diekstrak menggunakan dua metode yaitu dry rendering dan wet rendering. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental dengan rancangan acak lengkap satu faktor (metode ekstraksi), dua perlakuan, dan tiga kali ulangan. Rendemen dihitung berdasarkan perbandingan berat minyak terhadap berat hati ikan, sedangkan mutu organoleptik dinilai menggunakan uji hedonik oleh panelis tidak terlatih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode dry rendering menghasilkan rendemen lebih tinggi (rata-rata 3,5%) dibandingkan dengan wet rendering (rata-rata 2,3%). Namun, dari segi parameter warna dan aroma, wet rendering memperoleh nilai lebih baik dengan rata-rata penilaian warna 6,81 dan aroma 5,85 dibandingkan dry rendering dengan rata-rata warna 5,85 dan aroma 5,37. Analisis statistik menunjukkan perbedaan signifikan pada parameter warna tetapi tidak pada parameter aroma. Penelitian ini menunjukkan bahwa pemilihan metode ekstraksi memengaruhi kuantitas dan mutu sensori minyak ikan yang dihasilkan.