Claim Missing Document
Check
Articles

Inventarisasi Jenis Dan Sebaran Pohon Pakan Julang Sulawesi (Aceros cassidix) di Taman Hutan Raya Gunung Tumpa H.V. Worang, Sulawesi Utara Runtu, Jonathan; Pollo, Hard N.; Nurmawan, Wawan
Silvarum Vol. 2 No. 1 (2023): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.763 KB) | DOI: 10.35791/sil.v2i1.43541

Abstract

Pada awalnya Gunung Tumpa merupakan kawasan hutan lindung yang kemudian melalui SK.434/Menhut-II/2013 tanggal 17 Juni 2013 berubah fungsi menjadi Taman Hutan Raya. Selanjutnya berdasarkan pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republic Indonesia Nomor SK.2364/Menhut-VII/KUH/2015 tanggal 28 mei 2015 Hutan Lindung Gunung Tumpa ditetapkan menjadi Taman Hutan Raya Gunung Tumpa (TAHURA) dengan luas 208, 81 Ha. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui jenis tumbuhan pakan julang sulawesi di kawasan Taman Hutan Raya Gunung Tumpa. Metode pengumpulan data yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diambil di lapangan dengan cara observasi, pengamatan, dan pengukuran. Untuk jalur observasi dengan menggunakan cara eksplorasi dan perjumpaan dengan julang sulawesi didasarkan pada suara dan penglihatan langsung saat burung hinggap dan makan Sedangkan data sekunder diperoleh secara tidak langsung yakni dari studi pustaka sebagai acuan untuk mengetahui jenis pohon pakan. Data yang diperoleh pada hasil pengamatan akan dikelompokkan dan dibuat dalam bentuk tabel kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 15 individu pohon dari 5 famili tumbuhan yang digunakan julang sulawesi sebagai pohon singgah, pohon tidur, dan pohon pakan. Berdasarkan sebaran pohon Terdapat 6 jenis  pohon pakan, yang ditemukan berbuah ada 4 yaitu Ficus fistulosa, Ficus altissima, Cananga odorata dan Ficus tinctoria. sisanya yang tidak berbuah Ficus benjamina, Dracontomelon dao.
Keanekaragaman Jenis Tumbuhan Obat Di Desa Elusan Kabupaten Minahasa Selatan Lanes, Aldo; Nurmawan, Wawan; Pollo, Hard N.
Silvarum Vol. 2 No. 1 (2023): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.08 KB) | DOI: 10.35791/sil.v2i1.43542

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi jenis-jenis tumbuhan obat yang ada di Desa Elusan Kecamatan Minahasa Selatan beserta pemanfaatannya. Metode yang digunakan yaitu wawancara dan observasi lapangan. Pemilihan informan yang digunakan dalam observasi yaitu menggunakan teknik Snowball sampling. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa terdapat 24 jenis tumbuhan dari 16 famili yang dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Anggota famili yang paling banyak dijumpai adalah Euphorbiaceae dan Zingiberaceae masing-masing 4 jenis. Herba merupakan habitus terbanyak yang dimanfaatkan sebanyak 11 jenis, dan bagian daun paling banyak digunakan untuk diolah menjadi obat. Sumber perolehan tumbuhan umumnya ditemukan di pekarangan (16 jenis), cara pengolahan dengan cara direbus paling banyak dilakukan (16 jenis) dan manfaat dari tumbuhan obat dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti, sakit perut, sakit gigi, kolesterol, lambung, diare dan sakit belakang.
Karakteristik Habitat Kuskus Beruang (Ailurops ursinus) di Taman Wisata Alam Batuputih, Bitung, Sulawesi Utara Jacobus, Mauritz Krisma Deo; Tasirin, Johny S.; Nurmawan, Wawan
Silvarum Vol. 2 No. 2 (2023): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v2i2.48500

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik habitat kuskus beruang (Ailurops ursinus) berdasarkan pohon tidur di taman wisata alam batuputih. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2022. Pengamatan terdiri dari penetapan pohon tidur dan komposisi vegetasi dilingkungan pohon tidur. Untuk penetapan pohon tidur dilakukan dengan mengikuti A.ursinus secara terus-menerus pada pukul 08:30-18:30. Ditemukan sebanyak 4 pohon tidur A.ursinus di Taman wisata alam batuputih. Jenis tumbuhan yang dijadikan pohon tidur adalah Dracontomelon dao, Spathodea campanulata, Dracontomelon mangiverum dan Garuga floribunda. Ditemukan 1-4 individu disetiap pohon tidur. Pohon tidur berada pada elevasi 32-75 M dengan kemiringan lahan 19%-34%; intensitas cahaya 438.75±70.26 lx; persentase cahaya 26.01%±3.64%; suhu pagi, siang dan sore berturut-turut 24.24±1.55°C, 25.16±1.00°C dan 23.75±1.35°C; serta kelembaban udara pagi, siang dan sore 93.63%±1.85%, 88.33%±1.42% dan 89.58%±2.19%. Vegetasi di sekitar pohon tidur didominasi oleh Alstonia scholaris (INP 42.98%) untuk pohon, Vitex quinata (INP 35.18%) untuk tiang dan Barringtonia acutangula (INP 25.40%) untuk pancang.
KEKAYAAN DAN KELIMPAHAN JENIS KOMUNITAS BURUNG DI SEKITARAN DANAU LOT SENDOW KECAMATAN LANGOWAN BARAT, KABUPATEN MINAHASA, PROVINSI SULAWESI UTARA. Tabalujan, Elwin Noel; Tasirin, Johny S.; Nurmawan, Wawan
Silvarum Vol. 3 No. 1 (2024): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v3i1.49168

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendata kekayaan dan kelimpahan jenis komunitas burung yang berada di sekitaran Danau Lot Sendow. Metode yang di gunakan adalah metode transek. Dengan menelusuri 2,62 km sepanjang garis tepian danau. Kecepatan perjelanan diatur sedemikian rupa sehingga panjang track 2,62 km bisa dicapai dalam 3 jam perjalanan. Waktu yang di perkirakan untuk mencapai 3 jam perjelalan adalah 14 m/menit. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2023 di Danau Lot Sendow, Kecamatan Langowan Barat, Kabupaten Minahasa. Pengamatan dilakukan secara audio dan visual dengan radius 50 m dari pengamat, dengan bantuan binokuler untuk memperjelas atau mempertegas identifikasi. Pengematan dilakukan dengan tiga segmen waktu yaitu: pagi 06.00 – 09.00, sore 14.00 – 17.00 dan malam 20.00 – 24.00. Pengamatan dilakukan pada semua individu yang ditemui dengan mencakup jenis, waktu dan jumlah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di Danau Lot Sendow memiliki kekayaan burung sebesar 38 jenis dari 23 suku burung yang teramati di sekitaran Danau Lot Sendow. Dengan nilai indeks Margalef = 5,52 Yang artinya tingkat kekayaan jenis tinggi dan 38 jenis terkategori LC (least Concer).
Identifikasi Perilaku Harian Alpha Male Monyet Hitam Sulawesi (Macaca nigra) pada Kelompok Pantai Batu 1B di Taman Wisata Alam Batuputih Marsaoly, Muhammad Ibnu Yusan B.; Tasirin, Johny S.; Nurmawan, Wawan
Silvarum Vol. 2 No. 3 (2023): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v2i3.53221

Abstract

Macaca nigra merupakan satwa liar yang hidup secara berkelompok. Tiap kelompok monyet hitam memiliki pemimpin yang disebut jantan dominan (alpha male). Alpha male memiliki karakteristik tubuh serta suara yang khas. Dampak dari perburuan liar serta perusakan habitat mengakibatkan turunnya populasi beberapa satwa yang dilindungi salah satunya M. nigra sehingga diperlukan berbagai bentuk kegiatan atau penanganan yang bersifat konservasi. Penelitian mengenai perilaku harian alpha male M. nigra dianggap penting dilakukan untuk mendapatkan data yang spesifik terhadap perilaku Alpha male yang berbeda dengan monyet hitam lain pada kelompoknya. Tujuan penelitian ini untuk mengamati perilaku hari dari alpha male monyet hitam Sulawesi pada kelompok Pantai Batu 1b yang berada di Taman Wisata Alam Batuputih. Penelitian ini mengikuti dan mengamati satu individu yang diobservasi dalam durasi waktu tertentu. Pengamatan perilaku dilakukan secara terus menerus selama tujuh hari pengamatan pada pukul 5.00-18.00. Setiap aktivitas jenis perilaku dari alpha male diamati dan dicatat dengan interval waktunya. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa perilaku hari dari alpha male M. nigra pada kelompok Pantai Batu 1b di Taman Wisata Alam Batuputih dengan proporsi perilaku paling tinggi adalah perilaku berpindah yaitu 35.3% frekuensi relatif dengan durasi relatif 35.5%, diikuti perilaku sosial 28.4% frekuensi relatif dengan durasi relatif 18.8%, kemudian perilaku makan 18.8% frekuensi relatif dengan durasi relatif 22.4%. Sedangkan untuk perilaku istirahat merupakan perilaku yang paling rendah yaitu 17.5% frekuensi relatif dengan durasi relatif 23.2%.
PENDIDIKAN KONSERVASI UNTUK SISWA SD DI KELURAHAN KLEAK KOTA MANADO TENTANG PENGENDALIAN BANJIR Saroinsong, Fabiola B.; Nurmawan, Wawan; Sendouw, Recky H. E.
Jurnal Dinamika Pengabdian Vol. 4 (2018): JURNAL DINAMIKA PENGABDIAN VOL. 4 NO. (EDISI KHUSUS) NOVEMBER 2018
Publisher : Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UNHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jdp.v4iK.5400

Abstract

Dalam kurun 3 tahun terakhir, terjadi beberapa banjir besar di wilayah Kota Manado. Tim Pelaksana PKM dan kedua Mitra yaitu SDN 36 dan SDN 70 menyepakati bahwa harus ada upaya pengendalian banjir dari berbagai pihak untuk menghindari dampak bencana yang ditimbulkan. Sementara, masih rendahnya tingkat pendidikan konservasi dari masyarakat menjadi salah satu kendala menggalang sikap, perilaku, dan partisipasi terkait pengendalian banjir. Pendidikan konservasi tentang pengendalian banjir diperlukan untuk menumbuhkembangkan pemahaman dan kesadaran masyarakat dalam hal ini siswa SD, sebagai generasi penerus bangsa, di bidang pengelolaan lingkungan, memotivasi mereka untuk memecahkan atau mencegah masalah lingkungan tertentu dalam hal ini banjir. Diharapkan melalui PKM ini kelompok siswa SD kedua sekolah (sasaran utama) serta guru dan mahasiswa yang dilibatkan (sasaran tambahan) bertambah pemahamannya tentang masalah banjir dan dapat mempraktekkan tindakan-tindakan praktis pengendalian banjir. PKM dilaksanakan di SDN 36 dan SDN 70 Kelurahan Kleak Kecamatan Malalayang Kotamadya Manado. Pelaksanaan pengabdian dilakukan dalam beberapa kegiatan sebagai berikut 1) Inventarisasi situasi lingkungan sekolah dan perilaku siswa berkaitan interaksi mereka dengan lingkungan hidup; 2) Penyusunan program bersama mitra; 3)  Penyiapan modul pengajaran, serta persiapan alat dan bahan demonstrasi dan praktek siswa; 4) Pelaksanaan kegiatan penyuluhan dalam bentuk diskusi dan demonstrasi dengan pelibatan kelompok siswa SD secara aktif; dan  5) Penyusunan laporan dan penulisan artikel untuk publikasi ilmiah.Keywords: Pendidikan konservasi, pengendalian banjir, pengelolaan lingkungan, manajemen penanggulangan kebencanaan, tindakan praktis konservasi.
Pelatihan Kader dalam Deteksi Dini Penyakit Tidak Menular dan Budidaya Tanaman Obat Keluarga Wirawan, Alfonsius Ade; Nurmawan, Wawan; Fernandez, Gratsia Victoria
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 6 No. 1 (2025): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Edisi Januari - Maret
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v6i1.5275

Abstract

Angka penderita penyakit tidak menular (PTM) semakin meningkat tiap tahunnya. Salah satu upaya dalam mengurangi tren peningkatan angka kesakitan ini adalah dengan membentuk Kader sebagai perpanjang tangan Puskesmas kepada warga. Deteksi dini PTM menjadi salah satu kegiatan yang sebaiknya dilakukan secara rutin oleh Kader dalam mencegah PTM serta agar warga juga dapat melakukan monitoring kesehatannya. Namun Kader masih belum memahami cara melakukan deteksi dini PTM. Selain deteksi dini PTM, pemanfaataan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) juga menjadi langkah lain dalam pencegahan PTM bagi warga. Karena itu, penting dilakukan pelatihan Kader dalam deteksi dini PTM serta pemanfaatan TOGA sebagai bagian pencehatan PTM. Metode kegiatan ini pengabdian kepada masyarakat dengan tahapan terdiri dari sosialisasi, pelatihan dan penerapan teknologi, pendampingan dan evaluasi. Hasil kegiatan ini meliputi : (1) pengetahuan Kader tentang PTM dan TOGA meningkat, (2) Kader mampu melakukan deteksi dini PTM, dan (3) Warga memiliki TOGA di pekarangan rumahnya. Simpulan dari kegiatan ini adalah pelatihan dan pendampingan Kader dapat meningkatkan pemahaman dan keterampilan Kader dalam melakukan deteksi dini PTM serta pemanfaatan TOGA.
Analysis of Well Water Quality in The Sumompo Manado Landfill Ogie, Tommy; Nurmawan, Wawan; Walangitan, Hengki D.
Jurnal Agroekoteknologi Terapan (Applied Agroecotechnology Journal) Vol. 7 No. 1 (2026): ISSUE JANUARY-JUNE 2026
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/jat.v7i1.62491

Abstract

The purpose of this study is to assess the quality of well water near the Sumompo Final Processing Site (TPA) in Manado. The method used involves in-situ measurements and laboratory analysis at the Manado Industrial Standardization and Services Center Laboratory on well water samples around the Sumompo TPA. Well water sampling was carried out at four different locations, which were classified based on distance from the TPA: sample A: 0 - <100 m, sample B: 100 - <200 m, sample C: 200 - <300 m, and Sample D: 300 - <400 m. The water quality parameters tested included physico-chemical and microbiological parameters, namely Temperature, pH, Total Dissolved Solids (TDS), Nitrate, Nitrite, Ammonia, Dissolved Lead, Dissolved Iron, and E. Coli. The quality standards used for comparison refer to the Minister of Health Regulation (Permenkes) Number 2 of 2023, Permenkes Number 32 of 2017 and Permenkes Number 492 of 2010. Laboratory test results showed that the temperature parameters of all samples were still within the quality standard range (27–33°C), with values ​​between 29–30°C. The pH value was generally close to the lower limit, where only sample A (pH 7) met the quality standard (6.5–8.5), while samples B, C, and D (pH 6) were slightly below the standard. The TDS value showed that only sample A (846 mg/l) exceeded the threshold of <300 mg/l. For nitrate (NO₃⁻) content, samples B (26 mg/l) and D (46 mg/l) exceeded the 20 mg/l quality standard, while nitrite (NO₂⁻) were all still below the maximum limit of 3 mg/l. The concentrations of ammonia (NH₃), lead (Pb), and iron (Fe) in all samples were still within the safe threshold according to the applicable Ministry of Health Regulation standards. However, the results of the E. coli analysis showed significant microbiological contamination, with all samples containing E. coli far above the tolerance limit of 0 CFU/100 ml, especially in sample D (6,455 CFU/100 ml). Based on the Pollution Index (IP) calculation, all well water samples were classified as severely polluted: sample A showed an IP of 14.91, sample B reached 17.91, sample C was 12.86, and sample D (the furthest) recorded the highest IP value, namely 22.29. With a water quality status of being heavily polluted (IP > 10), the well water around the Sumompo TPA is not suitable for consumption. Keywords: Well water quality, Sumompo landfill, water pollution, pollution index Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas air sumur yang berada di sekitar Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sumompo, Manado. Metode yang digunakan melibatkan pengukuran in-situ dan analisis laboratorium di Laboratorium Balai Standarisasi dan Pelayanan Jasa Industri Manado terhadap sampel air sumur di sekitar TPA Sumompo. Pengambilan sampel air sumur dilakukan di empat lokasi berbeda, yang diklasifikasikan berdasarkan jarak dari TPA: sampel A: 0 - <100 m, sampel B: 100 - <200 m, sampel C: 200 - <300 m, dan Sampel D: 300 - <400 m. Parameter kualitas air yang diuji meliputi parameter fisika-kimia dan mikrobiologi, yaitu Suhu, pH, Total Padatan Terlarut (TDS), Nitrat, Nitrit, Amonia, Timbal terlarut, Besi terlarut, dan E. Coli. Baku mutu yang digunakan untuk perbandingan mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 2 Tahun 2023, Permenkes Nomor 32 Tahun 2017 dan Permenkes Nomor 492 Tahun 2010. Hasil uji laboratorium menunjukkan parameter suhu seluruh sampel masih berada dalam kisaran baku mutu (27–33°C), dengan nilai antara 29–30°C. Nilai pH umumnya mendekati batas bawah, di mana hanya sampel A (pH 7) memenuhi baku mutu (6,5–8,5), sedangkan sampel B, C, dan D (pH 6) berada sedikit di bawah standar. Nilai TDS menunjukkan bahwa hanya sampel A (846 mg/l) melebihi ambang batas <300 mg/l. Untuk kandungan nitrat (NO₃⁻), sampel B (26 mg/l) dan D (46 mg/l) melebihi baku mutu 20 mg/l, sedangkan nitrit (NO₂⁻) seluruhnya masih di bawah batas maksimum 3 mg/l. Konsentrasi amonia (NH₃), timbal (Pb), dan besi (Fe) pada seluruh sampel masih berada dalam ambang batas aman sesuai standar Permenkes yang berlaku. Namun demikian, hasil analisis terhadap E. coli menunjukkan pencemaran mikrobiologis yang signifikan, dengan seluruh sampel mengandung E. coli jauh di atas batas toleransi 0 CFU/100 ml, terutama pada sampel D (6.455 CFU/100 ml). Berdasarkan perhitungan Indeks Pencemaran (IP) seluruh sampel air sumur diklasifikasikan sebagai tercemar Berat: sampel A menunjukkan IP 14,91, sampel B mencapai 17,91, sampel C sebesar 12,86, dan sampel D (terjauh) mencatat nilai IP tertinggi, yaitu 22,29. Dengan status mutu air tercemar berat (IP > 10), air sumur di sekitar TPA Sumompo tersebut tidak layak digunakan untuk dikonsumsi. Kata kunci : Kualitas air sumur, TPA Sumompo, pencemaran air, indeks pencemaran
The Ecological Role and Carbon Sequestration Potential of Mangrove Ecosystems in Sondaken for Climate Change Mitigation Nurmawan, Wawan; Ogie, Tommy B.; Lasut, Marthen T.
Jurnal Agroekoteknologi Terapan (Applied Agroecotechnology Journal) Vol. 6 No. 2 (2025): ISSUE JULY-DECEMBER 2025
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/jat.v6i2.64682

Abstract

Mangrove ecosystems play an important ecological role in maintaining coastal environmental balance and contribute significantly to climate change mitigation through carbon sequestration. This study aims to analyse the vegetation structure, zoning, biomass potential, and carbon storage of the mangrove ecosystem in Sondaken, South Minahasa Regency, North Sulawesi, as well as to examine its ecological role in climate change mitigation. Data collection was conducted on ten plots arranged perpendicular to the coastline. The identification results showed that there were ten true mangrove species with a strong dominance of Rhizophora apiculata at all growth levels. The highest Importance Value Index (IVI) was achieved by R. apiculata with 97.83 at the tree level, indicating good adaptability and regeneration. Mangrove zoning is divided into three main parts, namely the back zone (Avicennia and Bruguiera spp.), the middle zone (Rhizophora apiculata and R. mucronata), and the front zone (Sonneratia alba and Avicennia alba). The average biomass value reached 489.37 tonnes/ha, while the average stored carbon was 230 tonnes/ha, indicating high potential as a blue carbon sink. Ecologically, the Sondaken mangrove plays an important role in absorbing atmospheric carbon, protecting the coast from abrasion, and providing habitat for various coastal biota. The results of this study confirm that the Sondaken mangrove ecosystem has high strategic value in climate change mitigation and adaptation and needs to be managed sustainably through conservation and rehabilitation based on natural zoning.
PENYULUHAN PENGELOLAAN LANSKAP PEMUKIMAN BERBASIS KEANEKARAGAMAN HAYATI DI KELURAHAN WINANGUN DUA KECAMATAN MALALAYANG KOTA MANADO Saroinsong, Fabiola B.; Sumakud, Maria Y. M. A.; Kalangi, Josephus I.; Nurmawan, Wawan
Jurnal Dinamika Pengabdian Vol. 11 No. 2 (2026): JURNAL DINAMIKA PENGABDIAN VOL. 11 NO. 2 JANUARI 2026
Publisher : Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UNHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jdp.v11i2.48401

Abstract

Mitra Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini adalah masyarakat Kelurahan Winangun Dua Kecamatan Malalayang Kota Manado. Masalah mitra adalah ancaman menurunnya keanekaragaman hayati dalam lanskap pemukiman akibat terbatasnya ruang terbuka hijau (RTH) dan tingginya stres lingkungan diantaranya yang disebabkan polusi. Hal ini terkait juga dengan masih rendahnya pengetahuan dan keterampilan yang memadai mengenai pemanfaatan keanekaragaman hayati dalam lanskap pemukiman.  Tujuan pelaksanaan kegiatan PKM ini yaitu memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pengelolaan lanskap pemukiman yang tepat untuk melestarikan sekaligus memanfaatkan keanekaragaman hayati. Solusi yang ingin dicapai adalah 1) meningkatkan pengetahuan beragam vegetasi dan desain lanskap pemukiman kawasan perkotaan untuk mendukung keanekaragaman hayati dan meningkatkan apresiasi dan motivasi untuk berkontribusi (luarannya adalah perbaikan tata nilai masyarakat yaitu pendidikan) dan 2) meningkatkan keterampilan pemanfaatan dan pelestarian keanekaragaman hayati di lanskap pemukiman dengan memberikan demo beberapa tindakan praktis pemilihan vegetasi dan aplikasi desain lanskap pemukiman (luarannya adalah peningkatan penerapan IPTEK di masyarakat dalam hal ini manajemen). Lebih spesifik lagi, melalui penyuluhan Tim Pengusul memperkenalkan beragam vegetasi dan desain lanskap yang cocok untuk pemukiman perkotaan. Pelaksanaan penyuluhan dalam PKM ini terdiri dari ceramah, tanya jawab, dan demonstrasi dengan pelibatan peserta secara langsung. Secara lebih terperinci, tahapan pelaksanaan kegiatan penyuluhan yaitu : a) Tahap peningkatan kesadaran (awareness); b) Tahap peningkatan minat (interest); c) Tahap peningkatan kemampuan menilai (evaluation); d) Tahap stimulasi untuk mencoba (trial). Kegiatan PKM ini memberikan dampak positif berupa meningkatnya pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan masyarakat dalam pengelolaan lanskap pemukiman yang mendukung pelestarian keanekaragaman hayati.    Kata kunci: Keanekaragaman hayati, lanskap pemukiman, pendidikan lingkungan, pengelolaan lanskap, penyuluhan.   ABSTRACT The community partner for this Community Partnership Program (PKM) is the residents of Winangun Dua Village, Malalayang District, Manado City. The partner's issue revolves around the threat of declining biodiversity in residential landscapes due to limited green open spaces (RTH) and high environmental stress, including pollution. This is also related to the still low level of adequate knowledge and skills concerning the utilization of biodiversity in residential landscapes. The objective of this PKM activity is to provide education to the community on the proper management of residential landscapes to conserve and utilize biodiversity. The solutions aimed to be achieved are 1) increasing knowledge of various vegetations and urban residential landscape design to support biodiversity and enhance appreciation and motivation to contribute (the outcome being the improvement of societal values, namely education), and 2) enhancing skills in utilizing and conserving biodiversity in residential landscapes by providing demonstrations of practical actions in selecting vegetation and applying residential landscape design (the outcome being the increase in the application of science and technology in the community, specifically in management). More specifically, through educational outreach, the Proposing Team will introduce various vegetation and landscape designs suitable for urban residential areas. The implementation of educational outreach in this PKM involves lectures, question-and-answer sessions, and demonstrations that engage participants directly. The detailed stages of the educational outreach activities are a) Awareness-raising stage; b) Interest enhancement stage; c) Evaluation skill improvement stage; d) Trial stimulation stage. Keywords: Biodiversity, residential landscape, environmental education, landscape management, outreach.
Co-Authors Abanius Yanengga Alelo, Maria Rosa Mystica Dinche Alfonsius A. Thomas Alfonsius A. Thomas, Alfonsius A. Alfonsius Thomas Alfonsius Thomas Anggreyni Runtunuwu Bawanda, Febriano Rinaldi Darsan Umawaitina Edwan Tuidano Edwan Tuidano, Edwan Fabiola B. Saroinsong Fabiola B. Saroinsong Fabiola Saroisong Fahrudjia Umasugi Faldi Suhendro Gonibala Faris Andong Faris Andong, Faris Febrianti, Eka Mawar Fernandez, Gratsia Victoria Filadelfia Moumou Filadelfia Moumou, Filadelfia Fransisca Solang Fransisca Solang, Fransisca Hard N. Pollo, Hard N. Hengk D. Walangitan Hengki D. Walangitan Hengki D. Walangitan Jacobus, Mauritz Krisma Deo Johandi R. Lingkubi Johny S.Tasirin Josephus I. Kalangi Juwairia Umacina Kendy H. Kolinug Khardy Soamole Kiandreas Tarigan Lanes, Aldo Langi, Martina Agustina Lyndon R. J, Pangemanan M. A. Langi Maria Y.M.A. Sumakud Mariangga, Gebriella Marsaoly, Muhammad Ibnu Yusan B. Marthen T. Lasut Marthen T. Lasut Marthinus Fatemyo Martina A. Langi Martina A. Langi Marwan M. Wowor Meilin S. Sidabutar Meldi Djela Migael, Migael Muhammad Rezah M Ishak Novelianer M. Charvelindah Nurbaya Waisaley Ogie, Tommy B. Opriani Devi Tangilomban Otis Warwer Pangemanan, Euis F. S. Puasa, Orlando Z. Recky H.E. Sendouw Reinold P. Kainde Remina Wandik Remina Wandik Reynold P. Kainde Reynold P. Kainde Reynold P. Kainde Rian S. Darwis Rifahmi Ibrahim Rumambi, Juwita F. Runtu, Jonathan Sabtu, M. Sadman Safrin Radeng Samuel A. Mom Samuel A. Mom, Samuel A. Sanning, Cicilia Semuel P. Ratag Tabalujan, Elwin Noel Terry M. Frans Tiara W. N. Lasantu Tiara W. N. Lasantu Tommy Ogie, Tommy Vederica Agumanis Wahyu D. P. A. Sardi Wirawan, Alfonsius Ade Yosmin Wakur