Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

HEALTH BELIEF MODEL DAN FAKTOR LAIN YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN VAKSINASI COVID-19 PADA IBU HAMIL DI WILAYAH TANGERANG TAHUN 2021 Effendi, Dian Puspitasari; Nurrika, Dieta; Triastuty, Agil; Novrinda, Herry; Susilawati, Ela
Majalah Kesehatan Vol. 11 No. 2 (2024): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/majalahkesehatan.2024.011.02.5

Abstract

Perubahan fisiologi serta penurunan imunitas merupakan faktor kerentanan ibu hamil terhadap penularan virus COVID-19. Kebijakan mengenai vaksinasi COVID-19 bagi ibu hamil sudah tertuang dalam peraturan pemerintah Indonesia. Ibu hamil diperkirakan tidak ingin melakukan vaksinasi, yang dikenal dengan fenomena keragu-raguan vaksin. Oleh karena itu, sangat diprioritaskan untuk memahami niat, motivasi, dan hambatan yang mempengaruhi ibu hamil untuk melakukan vaksinasi COVID-19. Faktor sosiodemografi, status kesehatan ibu hamil (Health-Related Variable) dan model teoritis keyakinan kesehatan dan persepsi risiko (Health Belief Model) merupakan instrumen penting untuk memahami faktor-faktor yang ada di balik pengambilan keputusan pada Ibu hamil dengan menilai apa saja yang akan memotivasi dan menghambat ibu hamil untuk melakukan perilaku yang berhubungan dengan kesehatan. Metode penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional study. Sampel diambil menggunakan teknik quota sampling dengan jumlah 172 sampel. Hasil penelitian, sebanyak 161 ibu hamil memiliki kesediaan menerima vaksinasi COVID-19 yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, usia kehamilan, isyarat untuk bertindak dan pengetahuan mengenai kebijakan pemerintah tentang vaksinasi COVID-19. Kesimpulan, pengambilan keputusan vaksinasi COVID-19 pada ibu hamil di wilayah Tangerang dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti informasi dari media massa, nasihat dari orang lain, kejadian COVID-19 pada kenalan/keluarga, serta berita  tentang vaksin COVID-19.
Hubungan Kualitas Hidup Dengan Kesejahteraan Psikologis Pada Pasien Kanker Payudara Di Yayasan RCBADAK Siallagan, Dorsinta; Amalia Nur Apriliani; Dieta Nurrika
Jurnal Kesehatan Vol 13 No 2 (2024): Jurnal Kesehatan
Publisher : Universitas Yatsi Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37048/kesehatan.v13i2.293

Abstract

Latar belakang: Kanker payudara merupakan benjolan dari sel-sel yang memperbanyak diri diluar kendali sehingga merusak jaringan tubuh yang normal dan dapat menyebar kebagian tubuh lain. Kanker Payudara juga termasuk kedalam penyakit yang mematikan dan diderita kebanyakan oleh perempuan. Pengobatan kanker payudara memiliki efeksamping negatif yang berupa dampak fisik seperti mual, muntah, kelelahan, dan dampak psikologis seperti kecemasan, stress, dan depresi. Tujuan penelitian: Penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara kualitas hidup dengan kesejahteraan psikologis pada pasien kanker payudara. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dengan uji spearman rank. Hasil penelitian: Dari 30 orang responden, kualitas hidup kesehatan global tidak berhubungan dengan ansietas dengan nilai sig. (2-tailed) 0,230 dan stress sig. (2-tailed) 0,283. Tetapi kualitas hidup global berhubungan dengan depresi sig. (2-tailed) 0,018. Kemudian kualitas hidup secara skala fungsional berhubungan dengan depresi sig. (2-tailed) 0,000, ansietas sig. (2-tailed) 0,005, dan stress sig. (2-tailed) 0,000. Adanya hubungan kualitas hidup skala gejala dengan depresi, ansietas, dan stress dengan nilai sig. (2-tailed) 0,000. Kesimpulan penelitian: kualitas hidup pasien kanker payudara skala global dapat mempengaruhi tingkat stress. Kualitas hidup skala fungsional dan gejala dapat mempengaruhi tingkat depresi, ansietas, dan stress pasien kanker payudara.
Kepatuhan Lima Momen Hand Hygiene pada Petugas Kesehatan Antika, Zainu Purbaini; Apsari, Dwi Astuti Sih; Sabarguna, Boy S.; Purwadi, Happy Novriyanti; Nurrika, Dieta
Jurnal Masyarakat Sehat Indonesia Vol. 4 No. 02 (2025): Jurnal Masyarakat Sehat Indonesia
Publisher : Yayasan Masyarakat Peduli Anak Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelaksanaan hand hygiene enam langkah pada lima momen kritis oleh petugas kesehatan di fasilitas kesehatan sangat penting dilakukan. Namun, tingkat kepatuhan melakukan hand hygiene di antara petugas kesehatan belum optimal. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis gambaran kepatuhan petugas kesehatan dalam mengimplementasikan prosedur hand hygiene di fasilitas pelayanan kesehatan. Penelitian ini adalah observasional deskriptif dengan melakukan pengamatan pada seluruh tindakan hand hygiene 28 petugas kesehatan di salah satu pelayanan kesehatan primer di Kabupaten Tangerang. Observasi dilakukan Selama 14 hari. Hasil observasi menunjukkan 409 dari 707 tindakan hand hygiene dikategorikan patuh dan 298 tindakan (42,15%) tidak patuh. Persentasi kepatuhan hand hygiene sebelum kontak 51,44%, sebelum tindakan aseptik 61.98%, setelah paparan cairan tubuh pasien 75,79%, setelah kontak dengan pasien 57,76%, dan setelah kontak dengan lingkungan pasien 46,58%. Persentase kepatuhan hand hygiene dan kepatuhan pada setiap indikasi hand hygiene lebih tinggi dibandingkan persentase ketidakpatuhan. Namun, persentase tersebut masih dibawah target Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI).
Determinants of Gynecological Ultrasound Utilization Among Pregnant Women: Evidence from Indonesia’s National Health Insurance Claims Mahwati , Yeni; Hasibuan, Syarif Rahman; Nurrika, Dieta
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 16 No 1 (2025): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 16 NOMOR 1 TAHUN 2025
Publisher : IAKMI South Tangerang Branch

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Equitable access to prenatal ultrasound (USG) is critical for improving maternal health outcomes in Indonesia. Although hospital-based USG is covered under the national health insurance scheme (JKN), utilization may vary across demographic and socioeconomic groups. Objective: To examine how maternal age, place of residence, geographic region, and insurance membership segment are associated with hospital-based USG use among pregnant women covered by JKN. Methods: This cross-sectional study analyzed the 2023 maternal health dataset from BPJS Kesehatan (Healthcare). Of 468,922 pregnant women, 13,787 with at least one hospital-based ultrasound visit (INA-CBG code Z-3-25-0) were included. Descriptive statistics and negative binomial regression assessed associations with age, domicile, region, insurance segment, and ward class. Results: Among 13,787 women with hospital-based ultrasound visits, the average utilization was two scans per year. In Model 1, regency residents had lower utilization than city residents (IRR = 0.90, 95% CI: −0.11 to −0.10), while women in Java–Bali showed slightly higher use (IRR = 1.06, 95% CI: 0.04–0.07). Utilization was lower in Sumatra (IRR = 0.89), Sulawesi (IRR = 0.84), and Kalimantan (IRR = 0.97). Compared with formal workers, lower rates were observed among subsidized groups such as PBI-APBN (IRR = 0.89), PBI-APBD (IRR = 0.90), and non-workers (IRR = 0.84). Age was positively associated with higher use (IRR = 1.01 per year). In Model 2, interaction terms revealed regional variations: for instance, disparities by insurance segment were most pronounced in Java, Sulawesi, and Kalimantan, with IRRs ranging from 0.60 to 1.09. Overall, while statistically significant, the effect sizes remained modest. Conclusion: Although in-hospital USG services under JKN are guided by clinical indications, geographic and insurance-related disparities persist. These patterns suggest the influence of structural and access-related factors, highlighting the need to strengthen equitable referral and service delivery across regions.
Kepatuhan Lima Momen Hand Hygiene pada Petugas Kesehatan Antika, Zainu Purbaini; Apsari, Dwi Astuti Sih; Sabarguna, Boy S.; Purwadi, Happy Novriyanti; Nurrika, Dieta
Jurnal Masyarakat Sehat Indonesia Vol. 4 No. 02 (2025): Jurnal Masyarakat Sehat Indonesia
Publisher : Yayasan Masyarakat Peduli Anak Indonesia (YMPAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70304/jmsi.v4i02.18

Abstract

Pelaksanaan hand hygiene enam langkah pada lima momen kritis oleh petugas kesehatan di fasilitas kesehatan sangat penting dilakukan. Namun, tingkat kepatuhan melakukan hand hygiene di antara petugas kesehatan belum optimal. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis gambaran kepatuhan petugas kesehatan dalam mengimplementasikan prosedur hand hygiene di fasilitas pelayanan kesehatan. Penelitian ini adalah observasional deskriptif dengan melakukan pengamatan pada seluruh tindakan hand hygiene 28 petugas kesehatan di salah satu pelayanan kesehatan primer di Kabupaten Tangerang. Observasi dilakukan Selama 14 hari. Hasil observasi menunjukkan 409 dari 707 tindakan hand hygiene dikategorikan patuh dan 298 tindakan (42,15%) tidak patuh. Persentasi kepatuhan hand hygiene sebelum kontak 51,44%, sebelum tindakan aseptik 61.98%, setelah paparan cairan tubuh pasien 75,79%, setelah kontak dengan pasien 57,76%, dan setelah kontak dengan lingkungan pasien 46,58%. Persentase kepatuhan hand hygiene dan kepatuhan pada setiap indikasi hand hygiene lebih tinggi dibandingkan persentase ketidakpatuhan. Namun, persentase tersebut masih dibawah target Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI).
Analisis Ketahanan Hidup Lima Tahun Penderita Kanker Ovarium Epithelial di Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta Trihandini, Indang; Nurrika, Dieta
Kesmas Vol. 5, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kanker ovarium merupakan salah satu penyebab utama kematian wanita. Dalam kasus kanker, jumlah serum albumin adalah indikator prognostik bertahan hidup yang penting, sementara probabilitas global pasien kanker ovarium dengan serum albumin ³ 3,6 g/dL dan ² 3,5 g/dL untuk bertahan hidup lima tahun masing-masing 23% and 10%. Namun di Indonesia, ketahanan hidup pasien-pasien kanker ovarium epithelial belum diteliti secara intensif. Penelitian yang dilaporkan ini bertujuan untuk menentukan probabilitas ketahanan hidup pasien-pasien kanker ovarium epithelial menurut tingkat serum albumin tertentu. Dengan menggunakan rancangan studi kohort retrospektif dan analisis ketahanan hidup, 48 orang pasien Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta diamati sejak pertama kali mereka didiagnosis kanker ovarium epithelial sampai sembuh, meninggal atau tidak dapat ditindaklanjuti lagi. Ditemukan bahwa selama tahun 1996-2004, secara umum probabilitas pasien dengan bertahan hidup lima tahun adalah 26,2%. Secara spesifik, probabilitas pasien dengan serum albumin ³ 3,6 mg/dL dan < 3,6 mg/dL untuk bertahan hidup lima tahun masing-masing 36,1% dan 15,7%. Jika dikontrol dengan stadium kanker, kadar asite dan hemoglobin, risiko mati pasien karena kanker ovarium epithelial dengan kadar serum albumin < 3,6 mg/dL ternyata 2,077 kali lipat daripada pasien dengan serum albumin ³ 3,6 mg/dL. Disimpulkan bahwa di Indonesia ketahanan hidup lima tahun pasien-pasien kanker ovarium epithelial lebih tinggi daripada tingkat global. Ovarian cancer is one of the largest causes of death in women. In cancer, albumin serum level is an important prognostic indicator of survival, whereas globally the probability of ovarian cancer patient with serum albumin ³ 3,6 g/dL and ² 3,5 g/dL to survive for five years is 23% and 10%, respectively. In Indonesia, however, the survival of epithelial ovarian cancer patient with respect to serum albumin level has not been investigated intensively. The present study was to determine the probability of epithelial ovarian cancer patients to survive for five years at particular level of serum albumin. Using retrospective cohort design with survival analysis, 48 patients of the Dharmais Cancer Hospital Jakarta were observed from the time when the epithelial ovarian cancer was first diagnosed until they were cured, death, or lost to follow up. The results showed that during 1996-2004 the overall probability of five-year survival was 26,2%. Specifically, the probability of patients to survive for five years at serum albumin level ³ 3,6 mg/dL and < 3,6 mg/dL was 36,1% and 15,7%, respectively. When the cancer stages, ascites, and hemoglobin level were controlled, risk of death from epithelial ovarian cancer of the patients with an albumin level of < 3,6 mg/dL was 2,077 fold higher than those with an albumin level of ³ 3,6 mg/dL. It is concluded that in Indonesia the five-year survival probability of epithelial ovarian cancer patients is higher than that the global rate.
Obesity Indicators and C-Reactive Protein in Indonesian Adults (More than Equal to 40 Years Old): The Indonesian Family Life Survey 5 Mahwati, Yeni; Nurrika, Dieta
Kesmas Vol. 15, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

C-reactive protein (CRP) is the best clinical marker for systemic inflammation. Obesity is associated with increased CRP levels. Systemic inflammation is present before morbidity occurs. Research reveals that the identification of obesity indicators and CRP levels is limited among Indonesians. The present study investigated the associations between obesity indicators (body mass index [BMI], waist circumference [WC], waist-to-hip ratio [WHR], waist-to-height ratio [WHtR]) and CRP levels among Indonesian adults. This cross-sectional study based on Indonesian Family Life Survey-5 2014–2015 was conducted among 3,386 adults (≥ 40 years) living in 13 provinces in Indonesia during the study period. All data were collected in 2014. Multiple logistic regression was used to estimate the odds ratio (ORs) and 95% confidence interval (95% CIs) for hs-CRP levels on obesity indicators by using underweight (BMI) and normal (WC, WHR, and WHtR) as references. Our multivariable logistic regression analysis indicated that respondents with increased WHR (OR: 1.278, 95% CI: 1.005–1.625, p-value < 0.001) were more likely to have high-risk hs-CRP levels than those with normal WHR. Compared with respondents with normal WHtR, those with increased WHtR were found associated with high-risk hs-CRP levels (OR: 1.980, 95% CI: 1.544–2.541, p-value < 0.001). Therefore, WHR and WHtR can predict central obesity, which is associated with hs-CRP levels.
Effect of A Booklet Media on Increasing the Knowledge of Complementary Feeding among Mothers in South Tangerang, Indonesia Dieta Nurrika; Reni Nofita; Rizka Ardiana Septiyani; Hana Febriyanti; Boy Sabarguna
Journal Of Nursing Practice Vol. 9 No. 1 (2025): October
Publisher : Universitas STRADA Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30994/jnp.v9i1.914

Abstract

Background: Nutritional issues among toddlers remain a serious problem in Indonesia. The age of 6–24 months is a critical period in the growth and development of toddlers. Furthermore, children aged 12–23 months were more likely to meet complementary foods (e.g., minimum dietary diversity and minimum acceptable diet) than those younger, indicating that the older the child is, the greater the possibility of them meeting minimum complementary foods. Therefore, understanding complementary foods among mothers is essential for meeting the nutritional needs of children aged 6–11 months. Purpose: To compare mothers' knowledge about complementary foods for children aged 6–11 months in the intervention and control groups in South Tangerang. Methods: This research utilized a quasi-experimental design with a pretest-posttest control group design, carried out between August to September 2022. Participants (n=40) were selected through simple random sampling and then divided into intervention group (n=20) or the control group (n=20). To assess differences in knowledge changes between the two groups, the Wilcoxon signed-rank test was applied in the analysis. Results: The mean scores in the intervention group before and after receiving the booklet were 50.5 and 75.5, respectively. This implies a significant difference between complementary food knowledge mothers in the pre-test and post-test (p-value £0.05). On the other hand, the control group's mean value did not change significantly (pre-test 51.5 and post-test 50.5; p-value >0.05). Conclusion: The present study suggests that the booklet intervention had an impact on increasing mothers' understanding of complementary foods. Thus, health education through booklets is useful in changing knowledge and might be used in posyandu.
Pengaruh Edukasi Digital Tentang Perawatan Kaki Terhadap Niat Perilaku Pencegahan Luka Kaki Pasien Diabetes Melitus Susilawati, Ela; Lestari, Yulia Puja; Nurrika, Dieta; Puspitasari E, Dian
Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) Vol 8, No 1 (2024): Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS)
Publisher : LPPM Universitas Respati Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52643/jukmas.v8i1.3585

Abstract

Pasien diabetes melitus memilki risiko terkena luka kaki jika tidak dirawat akan semakin parah dan menjadi ulkus kaki yang berisiko amputasi. Melakukan perawatan kaki rutin dapat mencegah terjadinya luka kaki pada pasien diabetes melitus. Pendidikan kesehatan menggunakan media digital berupa video dapat memfasilitasi peningkatan pengetahuan dan sikap penderita diabetes mellitus melakukan perawatan kaki secara mandiri. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan niat perilaku pencegahan luka kaki pasien diabetes melitus pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi sebelum dan sesudah kelompok intervensi diberikan edukasi digital tentang perawatan kaki. Metode penelitian menggunakan Quasi Eksperimental design dengan pendekatan pretest and posttest with control group design. Sampel berjumlah 48 responden dengan pembagian 24 responden kelompok kontrol dan 24 responden kelompok intervensi. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode Non Probability Sampling dengan pendekatan Quota Sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji MC.Nemar. Hasil penelitian kelompok kontrol yaitu p = 1,000 artinya tidak ada perbedaan niat perilaku pencegahan luka kaki pasien diabetes melitus dan kelompok intervensi yaitu p = 0,000 artinya ada perbedaan niat perilaku pencegahan luka kaki pasien diabetes melitus. Edukasi perawatan kaki melalui media digital berkontribusi secara positif dalam menambah pengetahuan dan wawasan dalam merawat kaki sebagai tindakan pencegahan luka kaki pasien diabetes melitus. Kata kunci: diabetes melitus, edukasi digital, perawatan kaki
An Analysis of the Implementation and Challenges of the 2024 Indonesian Nutrition Status Survey (SSGI) Validation in East Kalimantan Province Anshory, Jamil; G, Riska Mayang Saputri; Pijaryani, Indria; Kawareng, Andi Tenri; Safika, Erri Larene; Khuzaimah, Ummi; Wahyuni, Leny Eka Tyas; Rahayu, Agustin Putri; Kurniasari, Lia; Mardiana, Mardiana; Sabarinah, Sabarinah; Nurrika, Dieta; Nurzihan, Nastitie Cinintya
Journal of Global Nutrition Vol 5 No 2 (2025)
Publisher : Ikatan Sarjana Gizi Indonesia (ISAGI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53823/jgn.v5i2.157

Abstract

The Indonesian Nutritional Status Survey (SSGI) is a national tool for monitoring population nutritional status and serves as an evidence base for policy formulation. The accuracy of nutritional prevalence estimates depends on the quality of survey implementation and validation. This study aimed to evaluate the validation process of the 2024 SSGI in East Kalimantan Province, specifically in Samarinda City and Penajam Paser Utara District. A descriptive-evaluative design was applied between July and August 2024, involving households and individuals from validation clusters according to the 2024 sampling design. Data collection included anthropometric measurements, household and individual interviews, field observations, and document reviews, complemented by in-depth interviews with enumerators, validators, and supervisors. Quantitative analysis was performed to calculate procedural deviations, while qualitative thematic analysis was applied to identify recurring challenges related to training adequacy, logistics, supervision, and data quality assurance, with triangulation and inter-rater reliability checks used to strengthen validity. Results show that geographical and accessibility constraints, administrative barriers during sample updating, insufficient technical guidelines, and inconsistent recruitment mechanisms hindered the input stage. At the process stage, deviations were observed in anthropometric measurements, hygiene protocol adherence, and interview completeness, while environmental conditions, limited facilities, and weak coordination influenced the output stage. These findings highlight gaps between standardized protocols and field practices that may compromise data validity. Systemic improvements are required through updated sampling frames, written technical guidelines, practice-based training, layered supervision, and context-specific adaptation strategies to strengthen future national nutrition surveys.