Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Jadwal Imunisasi Anak Usia 0 – 18 tahun Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia 2017 Hartono Gunardi; Cissy B. Kartasasmita; Sri Rezeki Hadinegoro; Hindra Irawan Satari; Soedjatmiko Soedjatmiko; Hanifah Oswari; Hardiono D Pusponegoro; Jose R Batubara; Arwin AP Akib; Badriul Hegar; Piprim B Yanuarso; Toto Wisnu Hendrarto
Sari Pediatri Vol 18, No 5 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.754 KB) | DOI: 10.14238/sp18.5.2017.417-22

Abstract

Ikatan Dokter Anak Indonesia melalui Satuan Tugas Imunisasi mengeluarkan rekomendasi Imunisasi IDAI tahun 2017 untuk menggantikan jadwal imunisasi sebelumnya. Jadwal imunisasi 2017 ini bertujuan menyeragamkan jadwal imunisasi rekomendasi IDAI dengan jadwal imunisasi Kementerian Kesehatan RI khususnya untuk imunisasi rutin. Jadwal imunisasi 2017 juga dibuat berdasarkan ketersediaan kombinasi vaksin DTP dengan hepatitis B seperti DTPw-HB-Hib, DTPa-HB-Hib-IPV, dan dalam situasi keterbatasan atau kelangkaan vaksin tertentu seperti vaksin DTPa atau DTPw tanpa kombinasi dengan vaksin lainnya. Hal baru yang terdapat pada jadwal 2017 antara lain: vaksin hepatitis B monovalen tidak perlu diberikan pada usia 1 bulan apabila anak akan mendapat vaksin DTP-Hib kombinasi dengan hepatitis B; bayi paling sedikit harus mendapat satu dosis vaksin IPV (inactivated polio vaccine) bersamaan (simultan) dengan OPV-3 saat pemberian DTP-3; vaksin DTPw direkomendasikan untuk diberikan pada usia 2,3 dan 4 bulan. Hal baru yang lain adalah untuk vaksin influenza dapat diberikan vaksin inaktif trivalen atau quadrivalen, vaksin MMR dapat diberikan pada usia 12 bulan apabila anak belum mendapat vaksin campak pada usia 9 bulan. Vaksin HPV apabila diberikan pada remaja usia 10-13 tahun, pemberian cukup 2 dosis dengan interval 6-12 bulan; respons antibodi setara dengan 3 dosis. Vaksin Japanese Encephalitis direkomendasikan untuk diberikan mulai usia 12 bulan pada daerah endemis atau pada turis yang akan bepergian ke daerah endemis. Vaksin dengue direkomendasikan untuk diberikan pada anak usia 9-16 tahun dengan jadwal 0, 6, dan 12 bulan. Dengan pemberian imunisasi sesuai rekomendasi, diharapkan anak-anak Indonesia terlindungi dari penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi. 
Korelasi Nilai APGAR Menit Kelima Kurang dari Tujuh dengan Kadar Transaminase Serum pada Bayi Baru Lahir Ali K Alhadar; Idham Amir; Hanifah Oswari; Endang Windiastuti
Sari Pediatri Vol 12, No 3 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.562 KB) | DOI: 10.14238/sp12.3.2010.190-6

Abstract

Latar belakang. Asfiksia dapat menyebabkan disfungsi multiorgan pada bayi baru lahir. Belum ada bakuemas mengenai definisi asfiksia. Hingga saat ini belum ada data di FKUI/RSCM mengenai insidens disfungsihati pada bayi yang mengalami asfiksia.Tujuan. Mengetahui insidens disfungsi hati pada bayi baru lahir dengan nilai Apgar menit kelima kurangdari 7 serta mengetahui korelasi antara nilai Apgar menit kelima kurang dari 7 dengan parameter uji fungsihati (AST/SGOT, ALT/SGPT, bilirubin total, bilirubin direk, bilirubin indirek serta waktu protrombin).Penelitian dilakukan di 5 rumah sakit di Jakarta dan Tangerang.Metode. Studi analitik potong lintang sejak Januari-Mei 2010. Subjek penelitian adalah bayi usia gestasi􀁴37 minggu dengan nilai Apgar menit kelima kurang dari 7. Dilakukan satu kali pemeriksaan uji fungsihati dalam rentang waktu usia bayi 24-96 jam. Bayi mengalami disfungsi hati bila didapatkan nilai ASTatau ALT lebih dari 100 U/L.Hasil. Disfungsi hati ditemukan pada 16 (34%) bayi dari 47 bayi dengan asfiksia. Tidak ada subjek yangmengalami kolestasis. Terdapat 5 (11%) subjek dengan pemanjangan PT >1,5 kali nilai kontrol. Tidak terbuktiterdapat korelasi antara nilai Apgar menit kelima kurang dari 7 dengan parameter uji fungsi hati.Kesimpulan. Bayi dengan nilai Apgar menit kelima kurang dari 7 mempunyai kecenderungan mengalamidisfungsi hati. Namun pada bayi dengan nilai Apgar menit kelima kurang dari 7, tidak terbukti adanyakorelasi.
Proporsi Seroproteksi Hepatitis B pada Usia 10-12 Tahun dengan Riwayat Imunisasi Dasar Hepatitis B Lengkap pada dua Sekolah Dasar di Jakarta Suraiyah Suraiyah; Hanifah Oswari; Hardiono D Poesponegoro
Sari Pediatri Vol 9, No 6 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.243 KB) | DOI: 10.14238/sp9.6.2008.423-8

Abstract

Latar belakang. Hepatitis virus B merupakan penyakit yang tersebar di seluruh dunia dan menjadi masalahkesehatan yang serius dan mendesak. Indonesia termasuk daerah dengan endemisitas hepatitis B sedangsampai tinggi, maka sejak tahun 1996/1997 imunisasi hepatitis B di Indonesia telah mencakup 27 propinsi.Pemberian booster sampai saat ini masih kontroversi. Menurut WHO, seroproteksi hepatitis B bertahanpaling sedikit 15 tahun, namun beberapa penelitian menunjukkan penurunan seroproteksi pada vaksinseiring dengan pertambahan waktu.Metode. Studi deskriptif, potong lintang, pada anak kelompok usia 10–12 tahun pasca imunisasi dasarhepatitis B lengkap. Penelitian dilakukan pada bulan April-Juni 2007 di 2 SD Negeri di Jakarta.Hasil. Dari 100 subjek yang diteliti didapatkan HBsAg negatif pada semua subjek. Usia rerata subjek 130bulan (10 tahun 9 bulan), SB = 6,11. Proporsi seroproteksi 38%, rerata titer anti-HBs pada subjek seropositif188,1 mIU/mL (SB = 97,6). Diantara semua subjek seropositif didapatkan 68,7% dengan respons rendah,26,3% dengan respons sedang, dan 5% subjek dengan respons tinggi.Kesimpulan. Proporsi seroproteksi anti-HBs pada usia 10–12 tahun pasca imunisasi dasar lengkap 38%.Rerata titer anti-HBs pada 38 anak seropositif 188,1 mIU/mL (SB = 97,6). Di antara 38 subjek seropositif,sebagian besar mempunyai respons antibodi antihepatitis B rendah
Peran Operasi Kasai pada Pasien Atresia Bilier yang Datang Terlambat Elina Waiman; Hanifah Oswari
Sari Pediatri Vol 11, No 6 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.325 KB) | DOI: 10.14238/sp11.6.2010.463-70

Abstract

Kasus atresia bilier di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RS Dr Cipto Mangunkusumo Jakarta selamasepuluh tahun terakhir mengalami peningkatan. Namun disayangkan pasien pada umumnya datangberobat terlambat, sehingga telah terjadi sirosis bilier dengan prognosis buruk. Operasi Kasai merupakanpilihan tata laksana utama pasien dengan atresia bilier, karena keterbatasan melakukan transplantasi hatidi Indonesia. Dari penelusuran literatur didapatkan bahwa keberhasilan operasi Kasai dipengaruhi olehberbagai faktor, antara lain keadaan histologi hati dan tipe atresia bilier, kadar bilirubin serum dan kejadiankolangitis asenden pascaoperasi, serta pengalaman pusat pelayanan yang bersangkutan dalam melakukanoperasi Kasai dan perawatan pascaoperasi. Apabila operasi dilakukan pada pasien yang berusia lebih darienampuluh hari, umumnya hasil tidak memuaskan. Namun, beberapa peneliti melaporkan sejumlah pasienyang dioperasi pada usia lebih dari enampuluh hari memiliki kesintasan hingga 10-15 tahun pascaoperasi.Hal ini menjadi peringatan kepada petugas kesehatan terutama dokter anak agar dapat mendeteksi atresiasecara dini dan merujuk pada saat yang tepat sehingga meningkatkan kesintasan jangka panjang pasien atresiabilier. Edukasi dan informasi kepada masyarakat mengenai bayi yang mengalami kuning berkepanjangantampaknya perlu disosialisasi kembali. 
Hepatitis C pada Thalassemia mayor: pengaruh Iron Overload pada perjalanan penyakit Ferry Damardjati; Hanifah Oswari
Sari Pediatri Vol 5, No 1 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp5.1.2003.16-20

Abstract

Indonesia sebagai negara yang termasuk dalam thalassemia belt juga mengalami masalahdan komplikasi yang timbul akibat penyakit tersebut. Masalah klasik thalassemia adalahpemberian transfusi darah berulang yang mengakibatkan penularan penyakit melaluitransfusi darah seperti hepatitis C, di samping penimbunan besi di dalam berbagaiorgan dan jaringan. Penimbunan besi yang berlebihan (iron overload) akan mengakibatkanpenurunan fungsi sistim imun pada pasien thalassemia yang juga akan berpengaruhpada perjalanan penyakit apabila terinfeksi oleh mikro organisme patogen. Pasienthalassemia yang terinfeksi virus hepatitis C (VHC) akan mengalami kerusakan hatibaik akibat infeksi VHC maupun akibat terjadinya penimbunan besi karena mendapattranfusi darah berulang tanpa pemberian kelasi besi yang adekuat. Pengobatan VHCpada thalassemia sampai saat ini belum ada yang adekuat sehingga uji tapis merupakaninstrumen yang penting dalam mencegah penyakit tersebut.
Hubungan Habitual Snoring dengan Prestasi Akademis Anak Sekolah Dasar Hendri Tanu Jaya; Darmawan B. Setyanto; Hanifah Oswari
Sari Pediatri Vol 15, No 5 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.978 KB) | DOI: 10.14238/sp15.5.2014.313-8

Abstract

Latar belakang. Habitual snoring dapat menimbulkan berbagai komplikasi. Berbagai penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara habitual snoring dengan prestasi akademis anak yang rendah, tetapi belum terdapat penelitian mengenai hal ini di Indonesia.Tujuan. Mengetahui hubungan habitual snoring dengan prestasi anak sekolah dasar berdasarkan rata-rata nilai mata pelajaran matematika, Bahasa Indonesia, dan IPA.Metode. Desain studi potong lintang dengan kriteria inklusi berupa anak habitual snoring dan non snoring minimal 6 bulan sebelum penelitian ini berdasarkan kuesioner yang diisi oleh orangtua anak.Hasil. Didapatkan prevalens snoring 29,3 dari 249 subjek dengan prevalens occasional snoring 20,08% dan habitual snoring 9,24%. Prevalens habitual snoring pada anak laki-laki lebih tinggi dibandingkan anak perempuan (10,87% vs 7,2%) tetapi tidak bermakna secara statistik. Prevalens habitual snoring pada subjek kelompok usia >9 tidak berbeda bermakna dibandingkan dengan kelompok usia ≤9 tahun. Dari 199 subjek yang memenuhi kriteria inklusi penelitian, terdiri dari 176 subjek non snoring dan 23 habitual snoring. Kelompok subjek habitual snoring memiliki pencapaian nilai rerata mata pelajaran matematika lebih rendah 11,47 point (nilai p=0,001), mata pelajaran IPA lebih rendah 10,75 point (nilai p= 0,001), Bahasa Indonesia lebih rendah 8,01 point (nilai p=0,01), dan pencapaian nilai rerata yang lebih rendah 10,8 point (nilai p=0,001) berdasarkan rata-rata nilai dari ketiga mata pelajaran tersebut dibandingkan kelompok subjek non snoring.Kesimpulan. Anak habitual snoring memiliki prestasi akademis yang lebih rendah dibandingkan dengan anak non snoring.
Protokol Evaluasi Infeksi Virus Pasien Transplantasi Hati Anak Mulya Rahma Karyanti; Nina Dwi Putri; Hanifah Oswari
Sari Pediatri Vol 20, No 4 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.421 KB) | DOI: 10.14238/sp20.4.2018.258-64

Abstract

Uji tapis terhadap infeksi virus sebelum transplantasi hati dapat memperkecil risiko reaktivasi atau transmisi infeksi virus dalam proses transplantasi hati. Biasanya, pasien transplantasi hati mendapatkan terapi imunosupresan untuk mencegah rejeksi sehingga memperbesar risiko terkena infeksi. Cytomegalovirus (CMV), Ebstein-barr virus (EBV), dan Herpes Simplex Virus (HSV) merupakan virus penyebab tersering komplikasi infeksi pada pasien transplan hati. Komplikasi disebabkan oleh CMV, antara lain, viral syndrome, hepatitis, pneumonitis, dan kolitis. Ebstein-Barr Virus dapat menyebabkan Post-transplant Lymphoproliferative Disorder (PTLD). Infeksi HSV pasien transplan hati akan memberikan manifestasi klinis yang lebih berat dan respon terapi yang lambat. Makalah ini bertujuan untuk membuat protokol evaluasi infeksi virus pada saat uji tapis, pencegahan dan tata laksana antivirus untuk pasien transplantasi hati.
Infeksi Saluran Kemih Sebagai Penyebab Kolestasis Intrahepatik Hanifah Oswari; Harijadi Harijadi; Julfina Bisanto; Purnamawati SP
Sari Pediatri Vol 6, No 4 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp6.4.2005.166-71

Abstract

Diagnosis banding etiologi kolestasis intrahepatik (KIH) pada bayi sangat beragam,salah satu di antaranya adalah infeksi dan yang tersering adalah infeksi saluran kemih(ISK). Infeksi saluran kemih pada KIH akan mempunyai prognosis baik bila dapatdidiagnosis dan diobati. Pengamatan sehari-hari di Departemen Ilmu Kesehatan AnakFKUI/RS Dr. Cipto Mangunkusumo didapatkan kesan bahwa ISK pada KIH cukupsering ditemukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi ISK pada bayidengan KIH dan mengetahui karakteristik pasien tersebut. Subyek adalah bayi dengankolestasis intrahepatik yang berusia kurang dari 1 tahun yang datang berobat di DivisiGastrohepatologi di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM pada periodeJanuari sampai dengan Desember 2003. Diagnosis ISK ditegakkan bila ditemukanbakteriuria lebih dari 100.000 cfu/mL. Hasil penelitian ini mendapatkan prevalens ISKpada bayi dengan KIH sebesar 24 dari 34 subyek, dengan dominasi lelaki (3:1). Bakteripenyebab tersering adalah bakteri Gram negatif ditemukan sebanyak 21 dari 24 subyek.Pada lima belas dari 24 orang di antaranya ditemukan E. coli. Tidak ada gejala klinisyang spesifik pada kolestasis dengan ISK. Gejala demam ditemukan pada 3 dari 24subyek . Leukosituria ditemukan pada 1 dari 24 subyek dengan ISK. Oleh sebab itudianjurkan untuk melakukan pemeriksaan biakan urin untuk mendeteksi ISK.
Bayi Terlahir Dari Ibu Pengidap Hepatitis B Purnamawati S Pujiarto; Zuraida Zulkarnain; Yulfina Bisanto; Hanifah Oswari
Sari Pediatri Vol 2, No 1 (2000)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp2.1.2000.48-9

Abstract

Indonesia adalah negara endemis tinggihepatitis B dengan prevalensi HBsAg positifdi populasi antara 7 – 10%. Pada kondisiseperti ini, transmisi vertikal dari ibu ke bayimemegang peran penting. Di lain pihak, terdapatperbedaan natural history antara infeksi hepatitis B yangterjadi pada awal kehidupan dengan infeksi hepatitisB yang terjadi pada masa dewasa. Infeksi yang terjadisejak awal kehidupan atau bahkan sejak dalamkandungan, membawa risiko kronisitas sebesar 80 –90%. Infeksi pada masa dewasa yang disebabkan olehtransmisi horisontal, mempunyai risiko kronisitashanya sebesar 5%.1,2Berdasarkan imunopatogenesis hepatitis B, infeksikronik pada anak umumnya bersifat asimtomatik. Disatu pihak, yang bersangkutan tidak menyadari bahwadirinya sakit. Di lain pihak, individu tersebut potensialsebagai sumber penularan.2Dalam rangka memotong transmisi infeksihepatitis B maka kunci utama adalah imunisasihepatitis B segera setelah lahir, secara universal,terhadap semua bayi baru lahir di Indonesia. Makalahini akan membahas tatalaksana terhadap bayi yang lahirdari ibu mengidap/menderita hepatitis B kronik.
Prevalence of exclusive breastfeeding in Indonesia: a qualitative and quantitative study Elizabeth Yohmi; Nanis Sacharina Marzuki; Eveline Nainggolan; I Gusti Ayu Nyoman Partiwi; Badriul Hegar Sjarif; Hanifah Oswari
Paediatrica Indonesiana Vol 55 No 6 (2015): November 2015
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.643 KB) | DOI: 10.14238/pi55.6.2015.302-8

Abstract

Background Breast milk is the best and most ideal food for babies because it contains all nutrition needed for their optimal growth and development. Babies who receive breast milk will have strong immune system, good brain development, and closer emotional bonding with their mothers. Considering the importance of breast milk, Indonesian government has been campaigning to endorse exclusive breastfeeding up to six months in the last four years. To date, there is no national data available to evaluate the exclusive breastfeeding program. Therefore, Indonesian Pediatric Society (IDAI) conducted a national survey on breastfeeding to investigate exclusive breastfeeding rate in Indonesia. Objective To find out the prevalence of exclusive breastfeeding in Indonesia. Methods This study included 22 provinces in Indonesia and targeted on mothers with infants aged 0-11 months. For the quantitative portion of the study we used simple random sampling design to get the prevalence from the population. For the qualitative interview data we used a stratified random sampling design to ensure that each infant age group was well represented. Survey location in each province was selected based on defining the capital city to be urban area and its sub-urban areas to be rural. This study was performed between October – November 2010. Results We found that the prevalences of breastfeeding among baby 0-11 months was quite high which were 91%, 86%, and 72% in infants aged 0-3 months, 0-6 months, and 6-11 months, respectively. Interestingly, the prevalence of breastfeeding in urban area was higher than in rural area for infants aged 6-11 months. However, despite the high prevalence of giving breast milk, less than half of mothers gave breast milk exclusively, to babies aged 0-3 months and to those aged 0-6 months. The awareness to exclusively breastfeed was greater for urban mothers than for rural ones in those with infants aged 0-6 months. Mothers with high socioeconomic status had the highest prevalence of exclusive breastfeeding. The prevalence of breastfeeding without formula was still the highest up to 12 months but the role of giving formula was increasing especially in rural area. The prevalence of breast milk introduced as the first milk was around 60%. Java and Sumatra had lower prevalence of breast milk introduced as the first milk compared to Kalimantan and Sulawesi. We also found that mothers started giving solid food from an early age, especially in rural areas. With increasing age, the frequency of giving breast milk declined in both urban and rural areas. Conclusion The overall prevalence of exclusive breastfeeding up to 6 months of age in Indonesia was 49.8%. Maternal unemployment and high family socioeconomic status were associated with longer duration of breastfeeding.
Co-Authors Abdul Latief Afina Syarah Lidvihurin Ali K Alhadar Alif Gilang Perkasa Arfianti Chandra Dewi Ari Prayitno, Ari Arwin AP Akib Ashadi, Dhiya Athaullah Nurfateen Badriul Hegar Badriul Hegar Badriul Hegar Badriul Hegar Sjarif Bambang Supriyatno Bina Akura Catrawardhana, Prajnadiyan Cissy B. Kartasasmita Cissy B. Kartasasmita Clara Riski Amanda Darmawan B Setyanto Darmawan B. Setyanto Diah Rini Handjari Djajadiman Gatot Dominicus Husada Dwi Prasetyo Elina Waiman Elina Waiman Elizabeth Yohmi Elizabeth Yohmi Elizabeth Yohmi Ellen Gandaputra Endang Windiastuti Endang Windiastuti Ening Krisnuhoni Eveline Nainggolan Eveline Nainggolan Eveline Panjaitan Fadilah Fadilah, Fadilah Ferry Damardjati Ferry Damardjati S.P. Gatot Irawan Sarosa, Gatot Irawan Grace N.A. Simatupang Hardiono D Poesponegoro Hardiono D Pusponegoro Harijadi Harijadi Hartono Gunardi Hartono Gunardi Hartono Gunardi Hendri Tanu Jaya Hindra Irawan Satari I Gusti Ayu Nyoman Partiwi I Gusti Ayu Nyoman Partiwi I Gusti Ayu Nyoman Partiwi Idham Amir Idham Amir Imral Chair Ismoedijanto Jason, Jason Jose RL Batubara Julfina Bisanto Julfina Bisanto Julfina Bisanto, Kadim S. Bachtiar Kemas Firman Kristo B. P. Siahaan Kusnandi Rusmil Laila Laila Maddepunggeng, Martira Maheranny, Marethania Marini Stephanie Marini Stephanie Mei Neni Sitaresmi Meutia Ayuputeri Kumaheri Muhamad Rizqy Fadhillah Mulya Rahma Karyanti, Mulya Rahma Najib Advani Nanis S. Marzuki Nanis Sacharina Marzuki Nanis Sacharina Marzuki Nastiti Kaswandani Nina Dwi Putri Nur Azizah Nur Azizah Nur Rahadiani Nurul Gusti Khatimah Pamela Kartoyo Partini Trihono Piprim B Yanuarso Purnama, Asep Aziz Purnamawati S P Purnamawati S Pujiarto Purnamawati SP Pustika Amalia Rachmajati, Arinurtia Raihan Raihan, Raihan Rhea Putri Ulima Rinawati Rohsiswatmo Rismala Dewi Rita Mey Rina Rizky Clarinta Putri Sastiono, Sastiono Setyo Handryastuti, Setyo SJATHA, FITHRIYAH Soedjatmiko Soedjatmiko Soedjatmiko Sri Rezeki Hadinegoro Sri Rezeki S. Hadinegoro, Sri Rezeki S. Suraiyah Suraiyah Teny Tjitra Theola, Jason Toto Wisnu Hendrarto Tri H. Rahayatri Tuty Rahayu William Jayadi Iskandar Yovita Ananta Yulfina Bisanto Zakiudin Munasir Zuraida Zulkarnain