Claim Missing Document
Check
Articles

REFLEKSI FILOSOFIS TRANSFORMASI MENUJU MASYARAKAT TERBUKA: WAWASAN LIBERALISME INDONESIA PERSPEKTIF FRANCIS FUKUYAMA Marianus Elki Semit; Pius Pandor
Jurnal Reinha Vol 15 No 2 (2024)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/ejr.v15i2.366

Abstract

Fokus tulisan ini membahas transformasi menuju masyarakat terbuka di Indonesia melalui perspektif liberalisme menurut Francis Fukuyama. Kajian ini bertujuan untuk mengeksplorasi sejauh mana pemikiran Fukuyama dapat menjadi landasan teoretis bagi perubahan masyarakat Indonesia. Perihal gagasan Fukuyama diharapkan memberikan pandangan kritis terhadap relevansi dan kontribusinya terhadap proses transformasi tersebut. Implementasi liberalisme di Indonesia menghadapi tantangan signifikan, termasuk kekuasaan pemerintah yang cenderung otoriter dan membatasi kebebasan masyarakat. Kondisi ini memperlambat pergerakan menuju kesejahteraan individu maupun kolektif. Fukuyama menawarkan potensi dampak positif bagi Indonesia, meski harus melalui proses panjang dan menghadapi berbagai hambatan. Transformasi ini menuntut tindakan nyata untuk membangun negara yang lebih terbuka dan menjunjung tinggi nilai-nilai deliberatif.  Tulisan ini  menggunakan metode tinjauan kepustakaan untuk menganalisis relevansi dan implikasi gagasan Fukuyama dalam konteks Indonesia. Pemetaan analisis transformasi menuju masyarakat terbuka serta memberikan rekomendasi untuk mengoptimalkan potensi perubahan tersebut demi masa depan Indonesia yang lebih baik.
Toxic Self-Improvement dan Reduksi Manusia menjadi Animal Laborans Rafael Aglis Ariya Tamtama; Pius Pandor
Dekonstruksi Vol. 12 No. 3 (2026): Jurnal Dekonstruksi Volume 12, Nomor 03, 2026
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v12i3.415

Abstract

Perkembangan masyarakat modern dan kapitalisme digital telah mengubah makna self-improvement. Jika sebelumnya pengembangan diri bertujuan untuk membantu manusia berkembang secara pribadi dan memperkaya kehidupan batin, kini pengembangan diri sering berubah menjadi tuntutan untuk terus produktif dan meningkatkan nilai ekonomi diri. Fenomena ini dikenal sebagai toxic self-improvement, yaitu kondisi ketika seseorang merasa harus terus bekerja, berkembang, dan mencapai standar tertentu tanpa henti hingga menimbulkan tekanan mental. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena tersebut menggunakan perspektif pemikiran Hannah Arendt, khususnya konsep Vita Activa. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan dengan pendekatan kualitatif yang bersifat filosofis-analitis. Data diperoleh dari buku The Human Condition karya Hannah Arendt serta berbagai jurnal dan literatur pendukung yang membahas toxic self-improvement, hustle culture, burnout, dan kapitalisme digital. Data dianalisis menggunakan metode deskriptif-analitis dan analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya toxic self-improvement membuat manusia semakin terjebak dalam tuntutan kerja dan produktivitas tanpa akhir. Kehidupan pribadi dan pekerjaan menjadi sulit dipisahkan, sehingga memicu kelelahan mental atau burnout dan membuat manusia kehilangan ruang untuk beristirahat serta berefleksi. Dalam perspektif Arendt, kondisi ini menunjukkan dominasi animal laborans, yaitu manusia yang hidupnya sepenuhnya dikuasai oleh aktivitas kerja dan kebutuhan ekonomi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa budaya produktivitas modern menyebabkan manusia kehilangan kebebasan, ruang refleksi, dan hubungan sosial yang bermakna. Manusia akhirnya lebih sibuk mengejar produktivitas dan pengakuan sosial daripada membangun kehidupan yang otentik dan manusiawi.
Javanese Gamelan as Sacred Manifestation: Exploring Its Role in Catholic Liturgical Inculturation and Spiritual Dialogue Pius Pandor; Sekundus Septo Pigang Ton; Petrus Yuniarto; Heribertus Heribertus
Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya Vol 10 No 1 (2025)
Publisher : the Faculty of Ushuluddin, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jw.v10i1.44788

Abstract

Javanese gamelan, a traditional musical ensemble deeply embedded in Javanese culture, serves as a profound symbol of harmony and spiritual values, reflecting principles such as balance, restraint, and tolerance. Historically integral to religious and ceremonial contexts, gamelan embodies a sacred medium through which the Javanese engage with the Divine, aligning with Mircea Eliade’s concept of hierophany—the manifestation of the sacred in the profane world. Despite its rich cultural and philosophical significance, contemporary shifts have led to a decline in gamelan’s popularity and its associated values, impacting cultural practices including the inculturation process within the Catholic Church among Javanese communities. This qualitative study, based on interviews, observations, and literature review, demonstrates that gamelan transcends mere musical function, offering a theological and cultural framework that can enhance Catholic liturgical music. Integrating gamelan into worship not only enriches faith expression but also fosters cultural identity and supports liturgical inculturation. The findings contribute to the discourse on cultural heritage preservation and religious adaptation by proposing a model that harmonises local artistic traditions with Christian worship, encouraging further interdisciplinary research and practical application.
Polemik Hak Individu dan Hak Kolektif dalam Budaya Patriarki: Analisis Keseimbangan Hak Asasi Manusia Semar Paonganan; Rafael Aglis Ariya Tamtama; Pius Pandor; Bahrul Ulum Selo Pamungkas; Roinaldo Roinaldo
Jurnal Ilmiah Dan Karya Mahasiswa Vol. 4 No. 4 (2026): Agustus : JURNAL ILMIAH DAN KARYA MAHASISWA (JIKMA)
Publisher : Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54066/jikma.v4i4.4846

Abstract

The polemic between individual rights and collective rights is an important issue in the study of human rights, particularly in societies that remain influenced by patriarchal culture. This tension arises when the recognition of culturally based collective rights encounters the demand for the protection of individual rights as the foundation of human dignity. In this context, an analysis is needed to explain how these two rights can be positioned in a balanced manner within social life. This study aims to analyze the polemic between individual rights and collective rights in patriarchal culture and to formulate a form of human rights balance that can be applied within such a context. This study employs a qualitative method with a literature review approach. The findings indicate that, in Budi Hardiman's thought, the polemic between individual and collective rights reflects a tension between individual freedom and group interests. Within a patriarchal culture, this tension becomes evident when traditions are used to justify inequality. Collective rights remain important as a foundation of cultural identity; however, they must not undermine individual rights as the basis of human dignity. Therefore, both rights need to be positioned in a balanced manner so that neither negates the other. Such a balance enables cultural traditions to be preserved without sacrificing individual rights and freedoms. Thus, an appropriate solution is to uphold both individual and collective rights fairly within social life.