Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

The Success Rate for Diagnosing Congenital Anomalies During Prenatal Firmansyah, Silva Elifa; Pribadi, Adhi; Pramatirta, Akhmad Yogi; Rachmawati, Anita; Rinaldi, Andi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.722

Abstract

Introduction: This study aimed to determine the success of prenatal diagnosis in cases of congenital abnormalities at RSHS Bandung.Methods: This study was descriptive and cross-sectional. We collected data from all neonatal patients with congenital abnormalities who received prenatal care at RSHS Bandung between January 1, 2021, and December 31, 2023. Data processing used Microsoft Excel 16.66.1 and IBM SPSS Statistics.Result: The results show that 59 patients, or 93.6%, had appropriate abnormalities diagnosed, while only 4 patients, or 6.3%, had inappropriate abnormalities.Conclusion: Prenatal diagnosis of congenital abnormalities showed a fairly high concordance value, namely 93.6%.Tingkat Keberhasilan Penegakan Diagnosis Kelainan Kongenital pada saat PrenatalAbstrakTujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keberhasilan diagnosis prenatal pada kasus kelainan kongenital di RSHS Bandung.Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif cross-sectional. Data diperoleh dari seluruh pasien neonatal yang disertai kelainan kongenital pada saat prenatal di RSHS Bandung 1 Januari 2021 – 31 Desember 2023. Pengolahan data menggunakan Microsoft Excel 16.66.1 dan IBM SPSS Statistics.Hasil: Hasil yang didapatkan yaitu akurasi pasien terdiagnosis sesuai ada kelainan sebanyak 59 atau sebesar 93.6% dan terdiagnosis tidak sesuai ada kelainan sebanyak 4 atau sebesar 6.3%. Kesimpulan: Penegakan diagnosis kelainan kongenital pada saat prenatal menunjukkan nilai kesesuaian yang cukup tinggi, yaitu sebesar 93,6%.Kata kunci: Prenatal, kelanan kongenital,
Profile and Pregnancy Outcome in Preeclampsia with and Without Cardiac Abnormalities Complication Aqilah, Nurjihan Syarifah; Pribadi, Adhi; Cool, Charlotte Johanna; Aziz, Muhammad Alamsyah; Pramudyo, Miftah; Astuti, Astri; Putra, Ridwan Abdullah
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.742

Abstract

Introduction: This study was conducted to determine the profile of maternal characteristics and outcomes, as well as neonatal outcomes of mothers giving birth with preeclampsia and complications of cardiac abnormalities compare to preeclampsia without complications of cardiac abnormalities.Methods: This study used a descriptive cross-sectional research method with purposive sampling.Results: Out of 78 samples, there were 10 pregnant women with cardiac abnormalities. The predominant age is in the 18 - 35 years range at 51 (65.4%) samples. Comorbidities found were eclampsia 8 (10.3%) and HELLP syndrome 3 (3.8%). There was no maternal mortality. The major method of delivery was perabdominal in preeclampsia with cardiac abnormalities 10(100.0%). The neonatal outcome obtained APGAR scores of 7-10 as many as 57 (73.1%) babies, 8 (10.2%) babies with score 4-6, and 13 (16.7%) babies with score 0-3. There were 16 (20.5%) babies born with SGA, 58 (74.4%) with AGA, and 4 (5.1%) with LGA. Most neonatal born with normal APGAR score (58 babies or 74.4%). In the PE group with heart defects, there was 1 (10.0%) baby with severe asphyxia as in stillbirth. While in preeclampsia without cardiac abnormalities 11 (16.2%) babies were born with severe asphyxia and 8 (10.2%) stillbirths.Conclusion: The maternal outcomes were (1) comorbidities of eclampsia and HELLP syndrome, (2) the majority of delivery methods being caesarean section., and in neonatal outcomes, most babies were born with normal APGAR score and appropriate gestational age (AGA).Profil dan Luaran Kehamilan pada Preeklamsia dengan dan Tanpa Komplikasi Kelainan JantungAbstrakPendahuluan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui profil karakteristik dan luaran maternal, serta luaran neonatal ibu melahirkan dengan preeklamsia dengan komplikasi kelainan jantung dan preeklamsia tanpa komplikasi kelainan jantung.Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif potong lintang dan pengambilan sampel penelitian purposif.Hasil: Dari 78 sampel, didapatkan 10 ibu hamil dengan kelainan jantung. Usia paling banyak ada pada rentang usia 18 - 35 tahun 51(65.4%) sampel. Penyakit pernyerta didapatkan eklamsia 8(10.3%) dan sindrom HELLP 3(3.8%). Tidak ditemukan kematian ibu. Metode persalinan terbanyak yaitu perabdominal pada PE dengan kelainan jantung 10(100.0%). Hasil luaran neonatal kelahiran bayi tunggal, didapatkan skor APGAR 7-10 sebanyak 57(73.1%) bayi, 8(10.2%) bayi dengan skor 4-6, dan 13(16.7%) bayi dengan skor 0-3. Terdapat 16(20.5%) bayi lahir dengan SGA, 58(74.4%) dengan AGA, dan 4(5.1%) dengan LGA. Hasil luaran neonatal terbanyak dengan kondisi APGAR normal (58 bayi atau 74.4%). Pada kelompok PE dengan kelainan jantung ditemukan 1(10.0%) bayi dengan luaran asfiksia berat begitu pun dengan stillbirth. Sedangkan pada PE tanpa kelainan jantung sebanyak 11(16.2%) lahir dengan asfiksia berat dan 8(10.2%) stillbirth.Kesimpulan: Luaran kehamilan yang ditemukan yaitu (1) penyakit penyerta berupa eklamsia dan sindrom HELLP, (2) metode persalinan terbanyak yaitu caesarean section, dan hasil luaran neonatal terbanyak adalah dengan kondisi APGAR normal dan AGA.Kata kunci: Luaran kehamilan; Luaran neonatal; Preeklamsia dengan kelainan jantung
Digitalisasi Skrining Faktor Risiko Preeklamsi pada Buku KIA Berbasis Aplikasi Multiplatform Pangesti, Wilis Dwi; Dewi, Sawitri; Fauzan, Achmad; Setiawati, Elsa Pudji; Pribadi, Adhi; Hilmanto, Dany
Jurnal Teknologi Informatika dan Komputer Vol. 10 No. 1 (2024): Jurnal Teknologi Informatika dan Komputer
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/jtik.v10i1.2136

Abstract

Preeklamsi merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas pada 5-10% kehamilan di dunia. Berdasarkan etiologi dan perjalanan penyakitnya, telah dikembangkan skrining melalui identifikasi faktor risiko awitan dini preeklamsi pada wanita hamil sebelum usia kehamilan 20 minggu. Di Indonesia, skrining telah dilaksanakan menggunakan pedoman skrining buku KIA secara manual. Tujuan penelitian ini untuk mengembangkan sistem informasi skrining faktor risiko preeklamsi berbasis multiplatform. Digitalisasi skrining preeklamsi ini dilakukan dengan membangun sistem informasi dengan pendekatan System Development Life Cycle (SDLC) model Waterfall. Tahapan pengembangan sistem dimulai dari analisis, perancangan, implementasi, pengujian, dan perawatan. Sistem dibangun berbasis multiplatform agar aplikasi dapat digunakan di beberapa sistem operasi yang berbeda. Sistem informasi skrining preeklamsi dikembangkan sebagai aplikasi untuk melakukan skrining preeklamsi dan mendokumentasikan secara digital oleh tenaga kesehatan khususnya bidan. Aplikasi yang dikembangkan terdiri dari aplikasi admin berbasis Web yang digunakan oleh penanggungjawab program skrining preeklamsi untuk mengelola data pengguna, data puskesmas, data bidan, data rekapitulasi pasien dan laporan. Sedangkan aplikasi bidan bebasis mobile digunakan  oleh bidan yang bertanggungjawab langsung terhadap pasien dalam satu wilayah kerja puskesmas untuk melakukan skrining faktor risiko preeklamsi, input data, observasi dan mendokumentasikan hasil observasi. Digitalisasi skrining faktor risiko preeklamsi dikembangkan untuk memudahkan tenaga kesehatan dalam melakukan skoring dan pendokumentasian faktor risiko preeklamsi.
Pengembangan Aplikasi Skrining dan Pemantauan Risiko Preeklamsi Awitan Dini Berbasis Android untuk Ibu Hamil di Layanan Primer Pangesti, Wilis Dwi; Fauzan, Achmad; Syahdony, Farrel Nolan; Riani, Evicenna Naftuchah; Pratiwi, Erlina Lutfiayu; Suri, Mulhamatus Latifatus; Setiawati, Elsa Pudji; Pribadi, Adhi; Hilmanto, Dany
Jurnal Teknologi Sistem Informasi dan Aplikasi Vol. 7 No. 2 (2024): Jurnal Teknologi Sistem Informasi dan Aplikasi
Publisher : Program Studi Teknik Informatika Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/jtsi.v7i2.38931

Abstract

Early onset preeclampsia is a hypertensive condition during pregnancy that has a significant impact on maternal morbidity and mortality rates globally. The incidence of preeclampsia with complications in Indonesia is 14%, which is higher than the general incidence of preeclampsia. This serious condition can be a threat to the lives of the mother and fetus if not prevented. One effort to reduce the incidence of early onset preeclampsia is to take preventive measures by identifying risk factors from the start. The application of technology to education in the health sector has been widely developed. Android-based applications make it easier for users to gain knowledge about the risk factors for pregnancy, one of which is early onset preeclampsia. Early onset preeclampsia can be predicted by screening for risk factors at less than 20 weeks of gestation. The activeness of pregnant women in Understanding the risk of early onset preeclampsia plays an important role in reducing the incidence of preeclampsia complications in pregnancy. The development of an application for the screening and monitoring of early onset preeclampsia aims to make it easier for pregnant women to independently screen and monitor pregnancy. The resulting features included risk factor screening, health worker consultation, and early onset preeclampsia education. A Likert scale was used to assess the material in the application by three material expert validators. The results of the total validation of material experts obtained highly feasible results (92.22%) to be tested on users with several improvements.
The Relationship Between Pre-Pregnancy Body Mass Index and the Incidence of Preeclampsia in Primigravida at Cibabat Regional Hospital Utami, Hasri Larasati; Gurnadi, Jeffry Iman; Pribadi, Adhi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.972

Abstract

Objective: This study investigates the association between pre-pregnancy body mass index (BMI) and the incidence of preeclampsia in primigravida women.Methods: This cross-sectional study includes women who delivered at Cibabat General Hospital between 2023 and 2024. Pre-pregnancy BMI (kg/m²) was classified according to WHO categories: underweight (less than 18.5), normal (18.5–22.9), overweight (23.0–24.9), obese class I (25.0–29.9), and obese class II (≥30.0). The Spearman-Rho correlation coefficient was employed to analyze the relationship between pre-pregnancy BMI and the incidence of preeclampsia. Result: Our study demonstrated that, among 217 participants, 159 (73.3%) experienced preeclampsia. The proportion of women with an overweight/obese BMI who have preeclampsia is higher (36%-38%) compared to those with normal BMI (19%) and underweight BMI (15%). The Spearman-Rho correlation coefficient suggested a positive correlation between pre-pregnancy BMI and the incidence of preeclampsia (r = 0.367; p < 0.001), indicating that an increased BMI is statistically associated with an increased risk of preeclampsia.Conclusion: A BMI is associated with an increased risk of preeclampsia in primigravida women.Hubungan antara Indeks Massa Tubuh Sebelum Kehamilan terhadap Kejadian Preeklamsia pada Ibu Primigravida di RSUD CibabatAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan antara IMT pra-kehamilan dan insiden preeklamsia pada ibu primigravida.Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian potong lintang dan melibatkan ibu primigravida yang menjalani persalinan di RSUD Cibabat pada periode 2023 hingga 2024. IMT partisipan sebelum kehamilan dikategorikan berdasarkan standar WHO: berat badan kurang (< 18.5), normal (18.5-22.9), berat badan berlebih (23.0 – 24.9), obesitas tipe 1 (25.0 – 29.9), dan obesitas tipe 2 (≥30.0). Data kemudian dianalisis lebih lanjut menggunakan metode spearman-rho correlation coefficient untuk menetukan korelasi antara IMT pra kehamilan dan kejadian preeklampsia. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan, dari 217 partisipan pada penelitian ini, 73,3% diantaranya mengalami kejadian preeklamsia. Proporsi preeklampsia tampak lebih tinggi pada partisipan dengan berat badan berlebih/obesitas (36–38%) dibandingkan dengan partisipan dengan IMT normal (19%) dan IMT kurang berat badan (15%). Hasil uji spearman-Rho correlation coefficient menunjukkan korelasi positif antara IMT pra-kehamilan dan kejadian preeklamsia (r = 0,367; p < 0,001), mengindikasikan peningkatan IMT sebelum kehamilan berhubungan dengan risiko preeklamsia.Kesimpulan: Peningkatan IMT pra-kehamilan berhubungan dengan peningkatan risiko preeklamsia pada wanita primigravida.Kata kunci: Edukasi prakonsepsi; Indeks massa tubuh; Primigravida 
Cadmium Exposure and Preeclampsia: A Systematic Review of Environmental Risk in Pregnancy Sanjaya, I Nyoman Hariyasa; Andonotopo, Wiku; Bachnas, Muhammad Adrianes; Dewantiningrum, Julian; Pramono, Mochammad Besari Adi; Mulyana, Ryan Saktika; Pangkahila, Evert Solomon; Akbar, Muhammad Ilham Aldika; Yeni, Cut Meurah; Aldiansyah, Dudy; Bernolian, Nuswil; Wiradnyana, Anak Agung Gede Putra; Pribadi, Adhi; Sulistyowati, Sri; Stanojevic, Milan; Kurjak, Asim
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.951

Abstract

Objective: To systematically evaluate current scientific evidence on the association between cadmium (Cd) exposure and the risk of preeclampsia in pregnant women, and to explore underlying mechanisms and population-specific patterns.Methods: This systematic review was conducted according to PRISMA guidelines. Comprehensive literature searches were performed across PubMed, Scopus, Web of Science, ScienceDirect, and Google Scholar without time restriction, focusing on the past 15 years. Inclusion criteria encompassed original human studies measuring cadmium exposure—biological, dietary, or environmental—and reporting preeclampsia as an outcome. Risk of bias was assessed using the Newcastle-Ottawa Scale.Results: Twenty-five eligible studies were included, spanning case-control, cohort, and cross-sectional designs across diverse geographic regions. Most studies found a positive association between cadmium exposure and increased preeclampsia risk, though methodological heterogeneity exists. Proposed mechanisms include cadmium-induced oxidative stress, endothelial dysfunction, placental insufficiency, and hormonal dysregulation. Evidence also highlights differences in risk based on diet, region, and environmental regulation. However, inconsistencies in exposure metrics and population stratification remain.Conclusion: The cumulative evidence suggests cadmium is a plausible environmental risk factor for preeclampsia. Future research must standardize exposure assessments and address population-specific modifiers. This review provides critical groundwork for hypothesis-driven studies and policy frameworks addressing toxic metal exposure in maternal health.Paparan Kadmium dan Preeklampsia: Tinjauan Sistematis terhadap Risiko Lingkungan pada KehamilanAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melakukan tinjauan sistematis terhadap bukti ilmiah terkini mengenai hubungan antara paparan kadmium (Cd) dan risiko preeklampsia pada ibu hamil, serta mengeksplorasi mekanisme biologis yang mendasari dan pola risiko spesifik populasi.Metode: Tinjauan sistematis ini disusun berdasarkan pedoman PRISMA. Pencarian literatur dilakukan secara menyeluruh melalui basis data PubMed, Scopus, Web of Science, ScienceDirect, dan Google Scholar tanpa batasan waktu, dengan fokus pada publikasi 15 tahun terakhir. Kriteria inklusi meliputi penelitian asli pada manusia yang mengukur paparan kadmium—baik secara biologis, dietetik, maupun lingkungan—dan melaporkan preeklampsia sebagai luaran. Risiko bias dinilai menggunakan Newcastle-Ottawa Scale.Hasil: Sebanyak 25 studi memenuhi kriteria dan dianalisis, mencakup desain studi kasus-kontrol, kohort, dan potong lintang dari berbagai wilayah geografis. Mayoritas studi menunjukkan adanya hubungan positif antara paparan kadmium dan peningkatan risiko preeklampsia, meskipun terdapat heterogenitas metodologis. Mekanisme yang diusulkan meliputi stres oksidatif akibat kadmium, disfungsi endotel, insufisiensi plasenta, dan disregulasi hormonal. Bukti juga menunjukkan perbedaan risiko berdasarkan pola diet, lokasi geografis, dan tingkat pengawasan lingkungan. Namun, masih terdapat ketidakkonsistenan dalam metrik paparan dan stratifikasi populasi.Kesimpulan: Bukti kumulatif mendukung bahwa kadmium merupakan faktor risiko lingkungan yang potensial terhadap preeklampsia. Penelitian selanjutnya perlu menstandarkan metode pengukuran paparan dan mempertimbangkan faktor-faktor spesifik populasi. Tinjauan ini memberikan landasan penting bagi studi berbasis hipotesis dan penyusunan kebijakan terkait paparan logam toksik dalam kesehatan maternal.Kata kunci: Komplikasi kehamilan; paparan kadmium; preeklampsia; stres oksidatif; toksikologi lingkungan
Rising Adolescents Pregnancy Cases: An Additional Problem in Efforts to Reduce Maternal Mortality Rates Pribadi, Adhi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.998

Abstract

In the past three months, our institution have cared for 17 cases of pregnancies involving mothers under 20 years old. The youngest case involved a 14-year-old adolescent. These adolescent pregnancies are accompanied by various pregnancy pathologies, such as preterm birth, cephalopelvic disproportion, preeclampsia and eclampsia, mental disorders, and the potential for death for both the mother and the baby. In past decades, the majority of adolescent pregnancies were due to early marriage, while currently, unmarried pregnancies are on the rise. This is noteworthy, as it may be not only in Bandung and its surrounding areas but also throughout Indonesia and even globally. The increase in adolescent pregnancies results in the potential for maternal deaths, which are expected to increase in the future if this is not prevented and controlled properly.
Perinatal exposure to ultraprocessed foods and its impact on maternal gut dysbiosis, placental inflammation, and neonatal immune programming: A systematic review Sanjaya, I Nyoman Hariyasa; Andonotopo, Wiku; Bachnas, Muhammad Adrianes; Dewantiningrum, Julian; Pramono, Mochammad Besari Adi; Mulyana, Ryan Saktika; Pangkahila, Evert Solomon; Akbar, Muhammad Ilham Aldika; Yeni, Cut Meurah; Aldiansyah, Dudy; Bernolian, Nuswil; Wiradnyana, Anak Agung Gede Putra; Pribadi, Adhi; Sulistyowati, Sri; Stanojevic, Milan; Kurjak, Asim
Majalah Obstetri & Ginekologi Vol. 33 No. 3 (2025): December
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mog.V33I32025.236-248

Abstract

HIGHLIGHTS Perinatal ultraprocessed food (UPF) exposure disrupts maternal gut microbiota composition, increasing pro‑inflammatory taxa and systemic endotoxemia. Placental immune activation and oxidative stress represent key mediators linking maternal diet to fetal immune and metabolic programming. Neonatal outcomes include altered regulatory T‑cell development, Th2 immune skewing, allergic sensitization, and early metabolic risk. Integrated dietary counseling, microbiota‑targeted interventions, and public health policies are urgently needed to mitigate transgenerational immune health risks.   ABSTRACT Objective: To synthesize and critically evaluate evidence linking perinatal exposure to ultraprocessed foods (UPFs) with maternal gut dysbiosis, placental inflammation, and neonatal immune programming, and to identify translational implications for perinatal care. Materials and Methods: A systematic narrative review was conducted following PRISMA 2020 guidelines, without PROSPERO registration. Literature searches of major databases (2000–March 2025) identified 1,845 records. After screening and eligibility assessment, 20 studies were included. Study quality was appraised using validated tools, and data were synthesized thematically into evidence domains covering maternal microbiota, inflammatory pathways, placental changes, and neonatal immune outcomes. Results: Maternal UPF consumption was associated with gut dysbiosis characterized by reduced microbial diversity, increased pro-inflammatory taxa, and systemic endotoxemia. Elevated inflammatory biomarkers including lipopolysaccharide, interleukin‑6, tumor necrosis factor‑a, and C‑reactive protein were frequently reported. Limited placental studies revealed increased innate immune activation and oxidative stress. Neonatal immune alterations included regulatory T cell suppression, T helper 2 skewing, increased allergic sensitization, and metabolic programming changes. Evidence strength was highest for maternal gut dysbiosis and immune programming but limited for direct placental mechanisms. Translational opportunities include dietary counseling, microbiota-targeted interventions, and public health strategies aimed at improving maternal diet quality. Conclusion: Perinatal exposure to UPFs adversely impacts the maternal gut–placenta–fetal immune axis. Integrated dietary interventions and population-level nutrition policies are urgently needed to mitigate downstream transgenerational immune risk.