Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

The Success Rate for Diagnosing Congenital Anomalies During Prenatal Firmansyah, Silva Elifa; Pribadi, Adhi; Pramatirta, Akhmad Yogi; Rachmawati, Anita; Rinaldi, Andi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.722

Abstract

Introduction: This study aimed to determine the success of prenatal diagnosis in cases of congenital abnormalities at RSHS Bandung.Methods: This study was descriptive and cross-sectional. We collected data from all neonatal patients with congenital abnormalities who received prenatal care at RSHS Bandung between January 1, 2021, and December 31, 2023. Data processing used Microsoft Excel 16.66.1 and IBM SPSS Statistics.Result: The results show that 59 patients, or 93.6%, had appropriate abnormalities diagnosed, while only 4 patients, or 6.3%, had inappropriate abnormalities.Conclusion: Prenatal diagnosis of congenital abnormalities showed a fairly high concordance value, namely 93.6%.Tingkat Keberhasilan Penegakan Diagnosis Kelainan Kongenital pada saat PrenatalAbstrakTujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keberhasilan diagnosis prenatal pada kasus kelainan kongenital di RSHS Bandung.Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif cross-sectional. Data diperoleh dari seluruh pasien neonatal yang disertai kelainan kongenital pada saat prenatal di RSHS Bandung 1 Januari 2021 – 31 Desember 2023. Pengolahan data menggunakan Microsoft Excel 16.66.1 dan IBM SPSS Statistics.Hasil: Hasil yang didapatkan yaitu akurasi pasien terdiagnosis sesuai ada kelainan sebanyak 59 atau sebesar 93.6% dan terdiagnosis tidak sesuai ada kelainan sebanyak 4 atau sebesar 6.3%. Kesimpulan: Penegakan diagnosis kelainan kongenital pada saat prenatal menunjukkan nilai kesesuaian yang cukup tinggi, yaitu sebesar 93,6%.Kata kunci: Prenatal, kelanan kongenital,
Profile and Pregnancy Outcome in Preeclampsia with and Without Cardiac Abnormalities Complication Aqilah, Nurjihan Syarifah; Pribadi, Adhi; Cool, Charlotte Johanna; Aziz, Muhammad Alamsyah; Pramudyo, Miftah; Astuti, Astri; Putra, Ridwan Abdullah
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.742

Abstract

Introduction: This study was conducted to determine the profile of maternal characteristics and outcomes, as well as neonatal outcomes of mothers giving birth with preeclampsia and complications of cardiac abnormalities compare to preeclampsia without complications of cardiac abnormalities.Methods: This study used a descriptive cross-sectional research method with purposive sampling.Results: Out of 78 samples, there were 10 pregnant women with cardiac abnormalities. The predominant age is in the 18 - 35 years range at 51 (65.4%) samples. Comorbidities found were eclampsia 8 (10.3%) and HELLP syndrome 3 (3.8%). There was no maternal mortality. The major method of delivery was perabdominal in preeclampsia with cardiac abnormalities 10(100.0%). The neonatal outcome obtained APGAR scores of 7-10 as many as 57 (73.1%) babies, 8 (10.2%) babies with score 4-6, and 13 (16.7%) babies with score 0-3. There were 16 (20.5%) babies born with SGA, 58 (74.4%) with AGA, and 4 (5.1%) with LGA. Most neonatal born with normal APGAR score (58 babies or 74.4%). In the PE group with heart defects, there was 1 (10.0%) baby with severe asphyxia as in stillbirth. While in preeclampsia without cardiac abnormalities 11 (16.2%) babies were born with severe asphyxia and 8 (10.2%) stillbirths.Conclusion: The maternal outcomes were (1) comorbidities of eclampsia and HELLP syndrome, (2) the majority of delivery methods being caesarean section., and in neonatal outcomes, most babies were born with normal APGAR score and appropriate gestational age (AGA).Profil dan Luaran Kehamilan pada Preeklamsia dengan dan Tanpa Komplikasi Kelainan JantungAbstrakPendahuluan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui profil karakteristik dan luaran maternal, serta luaran neonatal ibu melahirkan dengan preeklamsia dengan komplikasi kelainan jantung dan preeklamsia tanpa komplikasi kelainan jantung.Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif potong lintang dan pengambilan sampel penelitian purposif.Hasil: Dari 78 sampel, didapatkan 10 ibu hamil dengan kelainan jantung. Usia paling banyak ada pada rentang usia 18 - 35 tahun 51(65.4%) sampel. Penyakit pernyerta didapatkan eklamsia 8(10.3%) dan sindrom HELLP 3(3.8%). Tidak ditemukan kematian ibu. Metode persalinan terbanyak yaitu perabdominal pada PE dengan kelainan jantung 10(100.0%). Hasil luaran neonatal kelahiran bayi tunggal, didapatkan skor APGAR 7-10 sebanyak 57(73.1%) bayi, 8(10.2%) bayi dengan skor 4-6, dan 13(16.7%) bayi dengan skor 0-3. Terdapat 16(20.5%) bayi lahir dengan SGA, 58(74.4%) dengan AGA, dan 4(5.1%) dengan LGA. Hasil luaran neonatal terbanyak dengan kondisi APGAR normal (58 bayi atau 74.4%). Pada kelompok PE dengan kelainan jantung ditemukan 1(10.0%) bayi dengan luaran asfiksia berat begitu pun dengan stillbirth. Sedangkan pada PE tanpa kelainan jantung sebanyak 11(16.2%) lahir dengan asfiksia berat dan 8(10.2%) stillbirth.Kesimpulan: Luaran kehamilan yang ditemukan yaitu (1) penyakit penyerta berupa eklamsia dan sindrom HELLP, (2) metode persalinan terbanyak yaitu caesarean section, dan hasil luaran neonatal terbanyak adalah dengan kondisi APGAR normal dan AGA.Kata kunci: Luaran kehamilan; Luaran neonatal; Preeklamsia dengan kelainan jantung
Digitalisasi Skrining Faktor Risiko Preeklamsi pada Buku KIA Berbasis Aplikasi Multiplatform Pangesti, Wilis Dwi; Dewi, Sawitri; Fauzan, Achmad; Setiawati, Elsa Pudji; Pribadi, Adhi; Hilmanto, Dany
Jurnal Teknologi Informatika dan Komputer Vol. 10 No. 1 (2024): Jurnal Teknologi Informatika dan Komputer
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/jtik.v10i1.2136

Abstract

Preeklamsi merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas pada 5-10% kehamilan di dunia. Berdasarkan etiologi dan perjalanan penyakitnya, telah dikembangkan skrining melalui identifikasi faktor risiko awitan dini preeklamsi pada wanita hamil sebelum usia kehamilan 20 minggu. Di Indonesia, skrining telah dilaksanakan menggunakan pedoman skrining buku KIA secara manual. Tujuan penelitian ini untuk mengembangkan sistem informasi skrining faktor risiko preeklamsi berbasis multiplatform. Digitalisasi skrining preeklamsi ini dilakukan dengan membangun sistem informasi dengan pendekatan System Development Life Cycle (SDLC) model Waterfall. Tahapan pengembangan sistem dimulai dari analisis, perancangan, implementasi, pengujian, dan perawatan. Sistem dibangun berbasis multiplatform agar aplikasi dapat digunakan di beberapa sistem operasi yang berbeda. Sistem informasi skrining preeklamsi dikembangkan sebagai aplikasi untuk melakukan skrining preeklamsi dan mendokumentasikan secara digital oleh tenaga kesehatan khususnya bidan. Aplikasi yang dikembangkan terdiri dari aplikasi admin berbasis Web yang digunakan oleh penanggungjawab program skrining preeklamsi untuk mengelola data pengguna, data puskesmas, data bidan, data rekapitulasi pasien dan laporan. Sedangkan aplikasi bidan bebasis mobile digunakan  oleh bidan yang bertanggungjawab langsung terhadap pasien dalam satu wilayah kerja puskesmas untuk melakukan skrining faktor risiko preeklamsi, input data, observasi dan mendokumentasikan hasil observasi. Digitalisasi skrining faktor risiko preeklamsi dikembangkan untuk memudahkan tenaga kesehatan dalam melakukan skoring dan pendokumentasian faktor risiko preeklamsi.
Pengembangan Aplikasi Skrining dan Pemantauan Risiko Preeklamsi Awitan Dini Berbasis Android untuk Ibu Hamil di Layanan Primer Pangesti, Wilis Dwi; Fauzan, Achmad; Syahdony, Farrel Nolan; Riani, Evicenna Naftuchah; Pratiwi, Erlina Lutfiayu; Suri, Mulhamatus Latifatus; Setiawati, Elsa Pudji; Pribadi, Adhi; Hilmanto, Dany
Jurnal Teknologi Sistem Informasi dan Aplikasi Vol. 7 No. 2 (2024): Jurnal Teknologi Sistem Informasi dan Aplikasi
Publisher : Program Studi Teknik Informatika Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/jtsi.v7i2.38931

Abstract

Early onset preeclampsia is a hypertensive condition during pregnancy that has a significant impact on maternal morbidity and mortality rates globally. The incidence of preeclampsia with complications in Indonesia is 14%, which is higher than the general incidence of preeclampsia. This serious condition can be a threat to the lives of the mother and fetus if not prevented. One effort to reduce the incidence of early onset preeclampsia is to take preventive measures by identifying risk factors from the start. The application of technology to education in the health sector has been widely developed. Android-based applications make it easier for users to gain knowledge about the risk factors for pregnancy, one of which is early onset preeclampsia. Early onset preeclampsia can be predicted by screening for risk factors at less than 20 weeks of gestation. The activeness of pregnant women in Understanding the risk of early onset preeclampsia plays an important role in reducing the incidence of preeclampsia complications in pregnancy. The development of an application for the screening and monitoring of early onset preeclampsia aims to make it easier for pregnant women to independently screen and monitor pregnancy. The resulting features included risk factor screening, health worker consultation, and early onset preeclampsia education. A Likert scale was used to assess the material in the application by three material expert validators. The results of the total validation of material experts obtained highly feasible results (92.22%) to be tested on users with several improvements.
Maternal and Neonatal Outcomes of Severe Preeclampsia: Delivery at 34–36 Weeks versus Term: A Retrospective Study at a Tertiary Referral Hospital Subhan Darojat Ar Rizqi; Adhi Pribadi; Dian Tjahyadi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 2 July 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1186

Abstract

Introduction: Severe preeclampsia (SPE) is a leading cause of maternal and perinatal morbidity and mortality in developing countries. The optimal timing of delivery remains debated, particularly whether termination at 34 – 36 weeks worsens outcomes compared with term delivery. This study compared maternal and neonatal outcomes of SPE delivered at 34 – 36 weeks versus at term.Methods: This retrospective observational study used medical records of women with SPE who delivered at Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, during 2020 – 2023. Total sampling yielded 336 women (120 at 34 – 36 weeks; 216 at term). Outcomes were analysed using Chi-square, Fisher exact, and Mann-Whitney tests, with p≤0.05 considered significant.Results: Maternal mortality did not differ between the 34 – 36-week and term groups (5.0% vs 3.7%; p=0.569), nor did delivery mode, postpartum haemorrhage, or premature rupture of membranes. Among singletons, neonatal outcomes differed significantly for birth weight, one-minute APGAR, and five-minute APGAR (all p<0.05); ten-minute APGAR, NICU admission, respiratory distress, and neonatal mortality (6.5% vs 2.9%; p=0.200) did not differ. No outcome differed among twins.Conclusion: Delivery at 34 – 36 weeks for severe preeclampsia did not show a significant difference in maternal and neonatal mortality compared with term delivery, though neonates born earlier had lower birth weight and poorer early APGAR adaptation. Indicated delivery within this window may be considered according to maternal-fetal condition and neonatal readiness, with cautious interpretation given the retrospective design.Luaran Maternal dan Neonatal Preeklamsia Berat: Persalinan Usia 34 – 36 Minggu versus Aterm: Studi Retrospektif di Rumah Sakit Rujukan TersierAbstrakLatar Belakang: Preeklamsia berat (PEB) merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas maternal serta perinatal di negara berkembang. Waktu terminasi optimal masih diperdebatkan, terutama apakah persalinan pada usia 34 – 36 minggu memperburuk luaran maternal dan neonatal dibandingkan aterm. Penelitian ini membandingkan luaran maternal dan neonatal PEB yang dilahirkan pada usia 34 – 36 minggu dan aterm.Metode: Penelitian observasional retrospektif menggunakan rekam medis perempuan dengan PEB yang bersalin di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode 2020 – 2023. Total sampling memperoleh 336 subjek (120 bersalin pada usia 34 – 36 minggu; 216 aterm). Data dianalisis dengan uji Chi-square, Exact Fisher, dan Mann-Whitney; p≤0,05 dianggap bermakna.Hasil: Mortalitas maternal tidak berbeda antara kelompok 34 – 36 minggu dan aterm (5,0% vs 3,7%; p=0,569), demikian pula jenis persalinan, perdarahan pascapersalinan, dan ketuban pecah dini. Pada kehamilan tunggal, luaran neonatal berbeda bermakna pada berat lahir, APGAR menit pertama, dan APGAR menit kelima (semua p<0,05); APGAR menit kesepuluh, perawatan NICU, gangguan napas, dan mortalitas neonatal (6,5% vs 2,9%; p=0,200) tidak berbeda. Tidak ditemukan perbedaan luaran pada kehamilan gemelli.Kesimpulan: Persalinan pada usia 34 – 36 minggu untuk preeklamsia berat tidak menunjukkan perbedaan bermakna dalam mortalitas maternal dan neonatal dibandingkan persalinan aterm, meskipun neonatus yang dilahirkan lebih awal menunjukkan berat lahir lebih rendah dan APGAR awal yang lebih buruk. Persalinan terindikasi pada usia ini dapat dipertimbangkan sesuai kondisi maternal-fetal dan kesiapan neonatal, dengan interpretasi hati-hati mengingat desain retrospektif.