Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

ALTERNATIF PERENCANAAN JETTY DI MUARA TUKAD PANGI KABUPATEN BADUNG Ni Made Krisna Werdi; I Gusti Agung Putu Eryani
PADURAKSA: Jurnal Teknik Sipil Universitas Warmadewa Vol. 9 No. 1 (2020)
Publisher : Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik dan Perencanaan, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/pd.9.1.1678.102-113

Abstract

Pantai Pererenan setiap tahunnya mengalami perubahan garis pantai, tercatat rata-rata perubahan garis pantai sepanjang 15,07 m dan rata-rata laju erosi 2,15 m/tahun selama 10 tahun dan penumpukan sedimen sepanjang mulut muara Tukad Pangi. Melihat kondisi saat ini maka perlu dilakukan perencanaan bangunan yang mampu menanggulangi permasalahan sedimen dan perubahan alur yang terjadi. Dalam perencanaan ini dipilih bangunan jenis jetty dengan meggunakan material geobag, geobag dipilih untuk menghemat biaya konstruksi karena dapat menggunakan material pasir yang ada di lokasi. Hasil perencanaan menunjukkan tinggi bangunan jetty 2.60 m dengan lebar bangunan jetty 1 m. Rencana anggaran biaya untuk merencanakan bangunan jetty di muara Tukad Pangi adalah sebesar Rp 2.543.918.000 dan durasi pekerjaan selama 122 hari.
PERUBAHAN GARIS PANTAI DENGAN CITRA SATELIT DI KABUPATEN GIANYAR Putu Aryastana; I Gusti Agung Putu Eryani; Kadek Windy Candrayana
PADURAKSA: Jurnal Teknik Sipil Universitas Warmadewa Vol. 5 No. 2 (2016)
Publisher : Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik dan Perencanaan, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/pd.5.2.379.70-81

Abstract

Perkembangan teknologi yang cukup cepat membuat arah studi monitoring dan analisa perubahan garis pantai lebih banyak menggunakan citra satelit penginderaan jauh. Pemanfaatan citra satelit dalam monitoring dan analisa perubahan garis pantai sudah banyak dilakukan, antara lain: Landsat, Quickbird, Allos dan IKONOS. Pada penelitian ini dilakukan analisa terhadap perubahan garis pantai dan laju erosi dengan dengan membandingkan 2 (dua) buah citra satelit yaitu data citra satelit SPOT 5 pada tahun 2009 memiliki resolusi spasial 10 m (multispectral) dan SPOT 6/SPOT 7 pada tahun 2015 yang memiliki resolusi hingga 1.5 m yang nantinya akan dilakukan koreksi dengan hasil pengamatan lapangan untuk kawasan pantai di Kabupaten Gianyar. Penelitian ini memberikan kontribusi kepada pemerintah daerah dan pemerintah pusat sebagai data dasar (data base) dalam pengambilan keputusan untuk penanganan kawasan pantai. Hasil analisa menunjukan bahwa rata-rata perubahan garis pantai yang terjadi di Kabupaten Gianyar berdasarkan citra satelit SPOT tahun 2009 dan 2015 adalah sebesar 22.441 m. Rata-rata laju erosi pantai yang terjadi di Kabupaten Gianyar berdasarkan citra satelit SPOT tahun 2009 dan 2015 adalah sebesar 3.202 m/tahun. Kata kunci: garis pantai, SPOT, citra satelit
PERENCANAAN BANGUNAN PEMECAH GELOMBANG TERENDAM (SUBMERGED BREAKWATER) DENGAN BAHAN BATU BUATAN (DOLOS) DI PANTAI MASCETI, KABUPATEN GIANYAR I Gusti Agung Angga Nuryana; I Gusti Agung Putu Eryani; Dewa Ayu Nyoman Sriastuti
PADURAKSA: Jurnal Teknik Sipil Universitas Warmadewa Vol. 6 No. 2 (2017)
Publisher : Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik dan Perencanaan, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/pd.6.2.489.203-212

Abstract

Masceti beach is one of beach area in Gianyar Regency has erosion 2.006 km. Selection of the type of building breakwaters in terms of aesthetic aspects without reducing the beauty and sanctity of the temple, then selected submerged breakwaters with artificial stone materials (dolos). The use of artificial stone materials (dolos) is used considering the previous building that has not been too effective and has begun to break because it is not strong to withstand the onslaught of waves that hit the area. Result of analysis shown heigh of submerged break water is 3.2 m, 1st layer stone weight is 1 ton, 2nd layer stone weight is 61 kg, 3rd layer stone weight is 3 kg, top wide is 2.652 m, 1st layer width is 1.268 m, 2nd layer width is 0.588, foot width is 0.8 m, foot wide is 1.14 m, foot stone weight is 44 kg. Budget plan for construct two submerged breakwater are IDR 4,872,332,000.00. Keyword: erosion, wave, submerged, breakwater
ANALISIS KUALITAS DAN KEBUTUHAN AIR MASYARAKAT DUSUN BLOKAGUNG DESA KARANGDORO BANYUWANGI Putu Aryastana; I Gusti Agung Putu Eryani; Cok Agung Yujana
PADURAKSA: Jurnal Teknik Sipil Universitas Warmadewa Vol. 7 No. 2 (2018)
Publisher : Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik dan Perencanaan, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/pd.7.2.950.230-238

Abstract

Water is a requirements for all humanity. Banjar Kiadan is one of the hamlets located in Pelaga Village, Petang Sub-district, Badung Regency witness raw water problem, so it is necessary to analyze the requirements of water needs. The analysis of raw water supply needs includes: water demand analysis for the next 25 years, analysis of water supply system planning, and analysis of budged plan of water supply system. The source of water that can be utilized is “Peninjauan Spring” with discharge 1.85 lt/sec. Total water demand is calculated based on the number of water users to be projected for the next 25 years. The water requirement is calculated based on 2 (two) scenario plan of the network that is if built SR (Home Connection) or just made KU (Public Faucet). The results showed that the total water requirement in 2042 was 2.264 lt/sec for the assumption of using home connection, while for the assumption using the public faucet was 0.903 lt/sec. The water supply system used is a gravity system with a public faucet as a distribution system. The budget plan for the water supply system is IDR.3,386,655,000.00.
PERENCANAAN BANGUNAN JETTY DARI BAHAN BRONJONG PADA MUARA TUKAD MELANGIT DI BANJAR TEGAL BESAR KABUPATEN KLUNGKUNG I Nyoman Suryawan; I Gusti Agung Putu Eryani; A.A.Sagung Dewi Rahadiani
PADURAKSA: Jurnal Teknik Sipil Universitas Warmadewa Vol. 8 No. 1 (2019)
Publisher : Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik dan Perencanaan, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/pd.8.1.1107.16-26

Abstract

Muara sungai di Bali banyak yang mengalami masalah seperti perubahan alur muara dan banyaknya sedimentasi pada mulut muara. Salah satunya adalah pada muara Tukad Melangit yang terletak di antara pantai Siyut dan Tegal Besar telah mengalami perubahan arah alur akibat perubahan arah gelombang dan penutupan mulut muara sungai oleh pasang surut dan debit sungai, dimana sepanjang lokasi ini merupakan daerah kosentrasi energi akibat gelombang yang mengakibatkan gerak sedimen yang terjadi pada muara Tukad Melangit yang cukup besar. Maka dari itu dilokasi ini akan direncanakan bangunan pengaman muara yaitu berupa jetty.
STRATEGI PERENCANAAN KAWASAN HILIR SUNGAI DAN PANTAI DI KOTA DENPASAR BERBASIS EKOWISATA I Gusti Agung Putu Eryani; Putu Gede Suranata; I Kadek Merta Wijaya
WICAKSANA: Jurnal Lingkungan dan Pembangunan Vol. 3 No. 2 (2019)
Publisher : Lembaga Penelitian, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wicaksana.3.2.2019.98-109

Abstract

Perencanaan kawasan hilir sungai dan pantai adalah sebagian dari pengelolaan sumber daya air dan lingkungan. Ekowisata sebagai suatu bentuk wisata yang menekankan tanggung jawab terhadap kelestarian alam, dan meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat. Berdasarkan data BPS Provinsi Bali 2018, total jumlah penduduk Kota Denpasar 788.589 jiwa. Bertambahnya jumlah penduduk dibutuhkan kebijakan dan strategi pengembangan pola ruang Kota Denpasar dengan mengembangkan ruang-ruang muka tepian air (waterfront) dalam bentuk kota tepian sungai (riverside city), yang terpadu dengan ruang terbuka hijau, mengkonservasi daerah aliran sungai dan konservasi daerah pantai yang produktif dan turistik sebagai usaha untuk memberi batas jelas antara kawasan konservasi dengan kawasan budidaya perkotaan. Tujuan kajian ini adalah menetapkan metode dalam perencanaan kawasan hilir sungai dan pantai di Kota Denpasar berbasis Ekowisata. Lokasi di kawasan hilir Sungai Ayung dan kawasan Pantai Padanggalak. Analisis menggunakan metode deskriptif kualitatif. Responden yang diambil adalah tim pengelola Pura Windu Segara, wisatawan, serta komunitas peduli hilir Sungai Ayung. Data yang dikumpulkan adalah topografi, bathimetri hilir sungai dan pantai, data gelombang, pasang surut, potensi air dan kondisi lingkungan. Perencanaan ekowisata bahari di hilir sungai Ayung dan pantai Padanggalak sampai saat ini belum berkembang secara optimal karena tidak didukung oleh aksesibilitas dan jaringan penataan sungai dan pantai yang baik. Strategi perencanaan dalam penataan kawasan berbasis ekowisata dapat dilaksanakan dengan tahapan : pertama kawasan yang dikembangkan sebagai daerah pariwisata disesuaikan dengan fungsi dan daya dukung masing-masing ruang/zone. Normalisasi kawasan hilir sungai, pengerukan sedimen di mulut muara sungai. Send by passing dan pembersihan sampah plastik di daerah pantai, terbentuknya bank sampah dengan melibatkan komunitas masyarakat peduli hilir sungai, menekan alih fungsi lahan pertanian di kawasan hilir sungai dan membangun pengaman pantai dari bahan yang ramah lingkungan. Penataan kawasan hilir sungai dan pantai sebagai daerah pariwisata yang berwawasan lingkungan, hendaknya melibatkan masyarakat, pemandu wisata dan agen perjalanan. Keywords: ekowisata, pantai, hilir sungai
Perencanaan Infrastruktur Air Bersih dalam Mewujudkan Pilar Pembangunan Lingkungan Desa Pengejaran I Kadek Merta Wijaya; I Gusti Agung Putu Eryani; Komang Adi Kurniawan Saputra
Jurnal Sutramas Vol. 5 No. 01 (2025): Jurnal Sutramas
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Pengejaran memiliki potensi alam berupa hutan dan sumber air bersih yang berlimpah. Sumber mata air tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari dan juga untuk pertanian. Lokasi sumber mata air berada pada elevasi yang rendah dengan permukiman, masyarakat memanfaatkan sumber mata air dengan metode hidran (pelontar dan gravitasi) namun debit air yang sampai ke permukiman tidak maksimal untuk kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah daerah memberikan bantuan berupa pompa air dan reservoir, akan tetapi dalam jangka waktu yang pendek mesin pompa mengalami kerusakan dan hal tersebut menyebabkan masyarakat kembali menggunakan metode lama. Di samping itu juga, akses jalan menuju sumber mata air tidak efektif karena kondisi masih berupa jalan tanpa pekerasan dan belum ada rekayasa kontur dalam akses jalan. Tujuan kegiatan ini untuk merencanakan kembali infrastruktur jariangan air bersih dan perencanaan jalan menuju sumber mata air. Metode yang dipergunakan adalah sosialisasi, identifikasi, penerapan, dan pendampingan. Hasil kegiatan ini dalam bentuk desain penataan infrastruktur jariangan air bersih dan akses jalan menuju sumber mata air.