Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Efek penggunaan larutan daun kelor (Moringa oleifera lam) dalam “liquid feeding” terhadap konsumsi dan kecernaan kalsium dan fosfor babi peranakan landrace Angelia Noldia Dasalaku; Johanis Ly; Ni Nengah Suryani; I Made Suaba Aryanta
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 2 No. 4 (2020): Desember
Publisher : Jurnal Peternakan Lahan Kering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (786.476 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi penggunaan larutan daun kelor (Moringa oleifera lam) dalam liquid feeding terhadap konsumsi dan kecernaan Kalsium (Ca) dan Fosfor (P) ternak babi.  Materi yang digunakan adalah 12 ekor ternak babi peranakan landrace jantan kastrasi, umur 3 - 4 bulan dengan bobot badan awal 18 – 45 kg, rata-rata 29,17 kg dan koefisien variasi  34,20%.  Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok yang terdiri dari 4 perlakuan dengan 3 kelompok.  Perlakuan yang dicobakan adalah: R0: ransum basal liqiud 100% tanpa larutan daun kelor (Kontrol); R1 ransum basal  + 5% larutan daun kelor; R2 ransum basal  + 10% larutan daun kelor; dan R3 ransum basal  + 15% larutan daun kelor. Variabel yang diukur adalah konsumsi dan kecernaan Ca dan P. Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa penggunaan larutan daun kelor dalam ransum basal basah nyata (P<0.05) meningkatkan konsumsi dan kecernaan Ca dan P pada ternak babi. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah bahwa penggunaan larutan daun kelor dalam ransum basal basah 10% dan 15% meningkatkan konsumsi dan kecernaan Ca dan P pada ternak babi dan tertinggi pada 15%.   Kata kunci: babi, larutan, kelor, Ca, P, konsumsi, kecernaan   The study aimed at evaluating the effect of using Moringa oleifera lam leaves solution in liquid feed on intake and digestibility of Calcium (Ca) and Fosforous (P) in growing landrace pig.  There were 12 growing (3-4 months old) landrace crossbred barrows with 18-45 kg (average 29.17kg with CV 34.20%) initial body weight used in the study.  Block design 4 treatments with 3 replicates procedure was applied in the trial. The 4 treatment feed formulas offered in the trial were: R0: basal feed 100% without Moringa leaves solution; R1: liquid basal + 5% Moringa leaves solution; R2: liquid  basal + 10% Moringa leaves solution; and R3 liquid basal + 15% Moringa leaves solution. Varibles studied were: intake and digestibility of Ca and P. Statisrical analysis shoiws that using Moringa leaves solution in liquid basal feed is significant (P<0.05) on increasing both intake and digestibility of both Ca and P. The conclusion drawn is that using 5 - 15% Moringa leaves solution in liquid basal feed increases both intake and digestibility of both Ca and P in growing pig and the highest at 15%.   Keywords: pig, solution, Moringa, Ca, P, intake, digestibility
Efek penggunaan tepung kulit pisang terfementasi dalam ransum terhadap konsumsi kecernaan serat kasar dan protein pada babi peranakan landrace (Effect of using fermented banana skin on intake and digestibility of crude fiber and protein in landrace crossb Dikson Dethan; Ni Nengah Suryani; Jonas Frits Theedens
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 1 No. 2 (2019): Juni
Publisher : Jurnal Peternakan Lahan Kering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Baumata Timur, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang selama 8 minggu, dibagi dalam 2 minggu masa penyesuain dan 6 minggu pengambilan data. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan tepung kulit pisang terfermentasi terhadap konsumsi kecernaan serat kasar dan protein pada babi peranakan landrace. Materi dalam penelitian ini adalah: 12 ekor ternak babi betina peranakan landrace fase pertumbuhan umur 1,5 bulan, berat badan awal15-25 kg (rata-rata 20,08 kg; KV 15,67%). Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok 4 perlakuan dengan 3 ulangan. Pakan yang diberikan adalah: pakan tanpa kulit pisang terfermentasi (R0), pakan dengan 2% tepung kulit pisang terfermentasi (R1), pakan dengan 4% tepung kulit pisang terfermentasi (R2) dan pakan dengan 6% tepung kulit pisang terfermentasi (R3). Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi serat kasar, kecernaan serat kasar, konsumsi protein dan kecernaan protein. Dengan demikian disimpulkan bahwa penggunaan tepung kulit pisang terfermentasi sebanyak 2-6% dalam ransum memberikan pengaruh yang relatif sama terhadap konsumsi dan kecernaan serat kasar dan protein. Kata kunci: ternak babi, ransum, kulit pisang. The study was carried out in Desa Baumata Timur, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang for 8 weeks, consisting of 2 weeks for adaptation and 6 weeks for data collection. The purpose of this study was to evaluate the effect of including fermented banana skin in the basal feed on intake and digestibility of protein and crude fibre of landrace crossbred pig. There were 12 growing landrace crossbred gilts aged 1.5 months, with 15-25 kg (average 20.08 kg; CV 15.67%) initial body weight. The design used was randomized block design 4 treatments with 3 replicates. The 4 treatment feeds were formulated as: feed without fermented banana skin meal (R0), feed containing 4% fermented corm meal (R1), feed containing 4% fermented banana skin meal (R2), feed containing 6% fermented banana skin meal (R3). The results showed that effect of treatment was not significant (P> 0.05) on either intake or digestibility of either crude fibre or protein. The conclusion is that including 2-6% of fermented banana skin meal into basal feed perform the similar results in both intake and digestibility of both crude fibre and protein. Keywords: Pig, Basal feed, Banana skin, fermentation
Pengaruh Penggunaan Tepung Daun Katuk ( Sauropus Androgynus L. Merr) Dalam Ransum Basal Terhadap Kecernaan Ca dan P Babi Peranakan Landrace Fase Grower (Effect of Including Saoropus androgynus L. Merr leaves meal into the diet on Ca and P intake and dig Agustinus Tanggur; Johanis Ly; Ni Nengah Suryani
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 1 No. 3 (2019): September
Publisher : Jurnal Peternakan Lahan Kering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.104 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan tepung daun katuk ( Sauropus androgynus L. Merr) dalam ransum basal terhadap kecernaan kalsium dan fosfor babi peranakan landrace fase grower. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 12 ekor ternak babi jantan kastrasi peranakan landrace fase grower umur 4-5 bulan, variasi berat badan 26,5-55,5kg, koefisien variasi 19,69%. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode percobaan dengan menggunakan rancangan acak kelompok 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang dicobakan adalah R0: 100% ransum basal tanpa TDK (kontrol), R1: 97% ransum basal  + 3% TDK, R2: 94% ransum basal  + 6% TDK, R3: 91% ransum basal + 9% TDK. Variabel yang diukur adalah konsumsi Ca dan P, dan kecernaan Ca dan P. Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa penggunaan tepung daun Katuk dalam ransum basal berpengaruh tidak nyata (P>0.05) dalam meningkatkan konsumsi dan kecernaan Ca dan P pada ternak babi. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah bahwa penggunaan tepung daun Katuk hingga level 9 % dalam ransum basal cenderung meningkatkan konsumsi dan kecernaan Ca dan P pada ternak babi. Kata kunci: babi, daun, katuk, Ca, P, kecernaan The study aimed at evaluating the effect of including Saoropus androgynus Linn Merr into basal diet on Ca and P intake and digestibility of pig. There were 12 landrace crossbred barrows 4-5 months of age with 26,5-55,5 kg (average 42,29kg; CV= 19.69%) initial body weight used in the study. Completely randomized block design 4 treatments with 3 replicates procedure was applied in the study. The 4 treatment diets offered in the trial were: R0: 100% basal diet without Saoropus androgynus L.Merr (control); R1: 97% basal diet + 3% Saoropus androgynus L.Merr leaves meal; R2: 94% basal diet + 6% Androgynus leaves meal; and R3: 91% basal diet + 9% Saoropus androgynus L.Merr leaves meal. Variables studied were: intake Ca and P, and digestibility Ca and P. Statistic analysis showed that effect o including Saoropus androgynus L. Merr into basal diet is not significant (P>0.05) on either intake or digestibility of Ca or P. The conclusion is that including Saoropus androgynus L. Merr up to 9% into basal diet tend to increase both intake and digestibility of both Ca and P in pigs. Key words: pig, leaf, Saoropus, Ca, P, intake, digestibility
Pengaruh penambahan tepung kunyit dalam ransum basal terhadap konsumsi dan kecernaan bahan kering dan bahan organik pada babi Kasmirus Asa; Ni Nengah Suryani; Tagu Dodu
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 1 No. 2 (2019): Juni
Publisher : Jurnal Peternakan Lahan Kering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji pengaruh penambahan tepung kunyit dalam ransum basalterhadap konsumsi dankecernaan bahan kering dan bahanorganik babi peranakan landrace. Materi yang digunakan adalah 12 ekor ternak babi betina peranakan landrace yang berumur 2 – 3 bulan dengan berat badan awal 8,5 – 15 kg (CV = 23,32%). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat perlakuan dantiga ulangan.Perlakuan yang dicobakan adalah R0 (ransum basal tanpa tepung kunyit), R1 (ransum basal + tepung kunyit 0,25%), R2 (ransum basal + tepung kunyit 0,50 %), dan R3 (ransum basal + 0,75%). Variabel yang diteliti adalah konsumsi bahan kering, konsumsi bahan organic, kecernaan bahan kering dan kecernaan bahanorganik.Analisis statistikmenunjukkan bahwa perlakuaan berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi dankecernaan bahan kering dan bahanorganik pada babi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penambahan tepung kunyit 0,25 – 0,75% memberikan respon yang relatif sama. Oleh karena itu disarankan untuk melaksanakan penelitian lanjutan pada ternak babi peranakan landrace dengan meningkatkan persentase kunyit. Kata kunci : ternak babi, ransum basal, tepung kunyit ABSTRACT The study aimed at evaluating the effect of supplementing Curcuma meal in basal diet on intake and digestibility of dry and organic matter of pigs. There were 12 crossbred landrace gilts of 2-3 months of age with 8.5-15 kg (CV 23.3%) initial body weight used in the study. This study used a randomized block design 4 treatments with 3 replications. The Treatments offered were: R0(basal feed without Curcuma meal); R1 (basal feed with 0.25%Curcuma meal); R2 (basal feed with 0.50% Curcuma meal); and R3 (basal feed with0.75% Curcuma meal). Variable measured were: intake and digestibility dry matter and organic matter on pigs. Statistical analysis showed that effect of treatment is not significant (P>0.05) on either intake or digestibility of dry or organic matter. The conclusion is that supplementing 0.25 – 0.75% Curcuma meal into basal diet performs the similar results in intake and digestibility of dry and organic matter. Further study is needed by increasing the level of including Curcuma meal into basal diet. Key words: pigs, basal diet, curcuma meal
Suplementasi Tepung Daun Asam Terhadap Konsumsi , Kecernaan Kalsium Fosfor Ternak Babi Landrace Fase Grower: Supplementation of Tamarind Leaf Flour on Consumption, Digestibility of Calcium Phosphorus in Landrace Pig Grower Phase Seprianus Punuf; Ni Nengah Suryani; Sabarta Sembiring
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 4 No. 2 (2022): Juni
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57089/jplk.v4i2.1049

Abstract

Tujuan dari penelitian ini  untuk mengetahui konsumsi dan kecernaan kalsium dan fosfor  yang diberi  suplementasi tepung daun asam (Tamarindus indica L.) dalam ransum. Ternak yang dipakai dalam penelitian ini sebanyak  12 ekor ternak babi jantan kastrasi peranakan landrace fase grower dengan umur 2-4 bulan dan berat badan awal ternak 35,5-64 kg dan rata-rata (KV= 23,65%). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan.  Perlakuan yang dicobakan adalah R0: ransum basal tanpa tepung daun asam (kontrol),  R1: ransum basal + tepung daun asam 2,5%  R2: ransum basal + tepung daun asam 5%,  R3: ransum basal + tepung daun asam 7,5%.  Variabel yang diteliti yaitu konsumsi dan kecernaan kalsium dan fosfor. Hasil analisis anova menyatakan bahwa perlakuan berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi dan kecernaan kalsium dan fosfor. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah suplementasi tepung daun asam sebanyak 2,5%; 5%; dan 7,5% dalam ransum basal tidak berpengaruh nyata terhadap  konsumsi, kecernaan, kalsium dan fosfor. Kata kunci: Babi, Daun asam, Fosfor , Kalsium, Kecernaan ABSTRACT The purpose of this study was to determine the consumption and digestibility of calcium and phosphorus supplemented with tamarind leaf flour (Tamarindus indica L.) in the diet. The livestock used in this study were 12 castration landrace crossbreed pigs in the grower phase with an age of 2-4 months and an initial body weight of 35.5-64 kg and an average (KV = 23.65%). This study used a Randomized Block Design (RAK) with 4 treatments and 3 replications. The treatments tested were R0: basal ration without tamarind leaf meal (control), R1: basal ration + tamarind leaf meal 2.5% R2: basal ration + 5% tamarind meal, R3: basal ration + 7.5 tamarind meal %. The variables studied were the consumption and digestibility of calcium and phosphorus. The results of the ANOVA analysis stated that the treatment had no significant effect (P>0.05) on the consumption and digestibility of calcium and phosphorus. The conclusion of this research is the supplementation of tamarind leaf flour as much as 2.5%; 5%; and 7.5% in basal ration had no significant effect on consumption, digestibility, calcium and phosphorus.  
Pengaruh Tepung Limbah Rumput Laut Merah (Eucheuma cottonii) Terfermentasi Terhadap Konsumsi Protein dan Energi Ternak Babi Landrace Fase Starter: Effect of Use of Fermented Red Seaweed Waste Flour (Eucheuma cottonii) on Protein and Energy Stability in Landrace Pig Livestock at Starter Phase Gemima Akulas; Sabarta Sembiring; Tagu Dodu; Ni Nengah Suryani
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 4 No. 2 (2022): Juni
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57089/jplk.v4i2.1084

Abstract

Penelitian bertujuan untuk menguji dampak pemakaian tepung limbah rumput laut merah (Eucheuma cottonii) terfermentasi terhadap  konsumsi dan  kecernaan protein pada ternak babi  Landrace  fase starter.  Materi yang digunakan adalah 12 ekor ternak babi Landrace   berumur 1-2 bulan dengan berat badan awal 6,5 kg - 26 kg, rata-rata 20,11 kg dan koefisien variasi 41,56%.  Penelitaian ini  menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari empat perlakuan dengan 3 ulangan.  Perlakuan yang diuji adalah R0 : 100% pakan dasar tanpa tepung limbah rumput laut terfermentasi, R1 : pakan dasar + 5% tepung limbah rumput laut terfermentasi (TRLLF), R2 : pakan dasar + 10% tepung limbah rumput laut terfermentasi (TRLLF), R3 : ransum basal + 15%  tepung limbah rumput laut (TRLLF). Variabel yang diteliti adalah konsumsi dan kecernaan protein dan energi.   Hasil penelitian    menunjukkan bahwa penggunaan rumput laut merah dalam  ransum basal  berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi protein, energi dan kecernaan energi. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa penggunaan tepung limbah rumput laut merah (eucheuma cottonii) dari taraf 5-15% berpengaruh tidak nyata terhadap konsumsi protein dan kecernaan energi namun mempunyai pengaruh yang cukup besar pada taraf 10% dalam meningkatkan kecernaan protein pada ternak babi landrace fase starter. Kata kunci: Babi, limbah rumput laut, protein, energi, konsumsi, kecernaan   The aim of the study was to examine the impact of using fermented red seaweed (Eucheuma cottonii) waste flour on consumption and protein digestibility in starter phase landrace pigs. The material used was 12 pigs aged 1-2 months with an initial body weight of 6.5 kg-26 kg, an average of 20.11 kg and a coefficient of variation of 41.56%. This study used a randomized block design (RAK) which consisted of four treatments with 3 replications. The treatments tested were R0: 100% basic feed without fermented seaweed meal, R1: basic feed + 5% remaining fermented seaweed meal (TRLLF), R2: basic feed + 10% fermented seaweed waste meal (TRLLF), R3: basal ration + 15% fermented seaweed waste flour (TRLLF). The variables studied were protein and energy intake and digestibility. The results of analysis of variance (ANOVA) showed that the use of red seaweed flour in the basal ration had a significant (P<0.05) effect on protein digestibility at 10% use. The conclusion of this study that the use of red seaweed waste flour (eucheuma cottonii) from a level of 5-15% had no significant effect on protein consumption and energy digestibility but had a significant effect at a level of 10% it would increase protein digestibility in landrace pigs in the starter phase phase. .  
Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Katuk (Sauropus androgynous L. Merr) yang ditambahkan Larutan Em-4 Melalui Air Minum terhadap Konsumsi Serta Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik Induk Babi Sedang Bunting Oktovianus Martins Besin; Tagu Dodu; Ni Nengah Suryani
JAS Vol 8 No 2 (2023): Journal of Animal Science (JAS) - April 2023
Publisher : Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian Universitas Timor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (763.303 KB) | DOI: 10.32938/ja.v8i2.3815

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik babi induk sedang bunting yang diberi ekstrak daun katuk (Sauropus androgynous L. Merr) melalui air minum. Ternak percobaan yang digunakan dalam penelitian terdiri dari 12 ekor induk babi bunting dengan bobot badan antara 121-125 kg (rata-rata 122,5 kg dan berkoefisien variasi 1,46%). Metode dalam penelitian ini adalah metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 ulangan. Adapun perlakuan dalam penelitian ini, yaitu R0 = pemberian air minum tanpa larutan ekstrak daun katuk, R1 = 60 gram ekstrak daun katuk dalam 5 ml EM-4/1 liter air minum, R2 = pemberian 120 gram ekstrak daun katuk dalam 5 ml EM-4/1 liter air minum, dan R3 = pemberian 180 gram ekstrak daun katuk dalam 5 ml EM-4/1 liter air minum. Variabel yang diteliti adalah konsumsi serta kecernaan bahan kering dan bahan organik. Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun katuk berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi bahan kering dan bahan organik ransum, tetapi meningkatkan kecernaan bahan kering dan bahan organik dengan sangat nyata (P<0,01). Kesimpulan hasil penelitian ini adalah pemberian ekstrak daun katuk segar sebanyak 120-180 gram dapat meningkatkan kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik induk babi bunting.
Pengaruh Penggunaan Campuran Tepung Daun Kelor dan Tepung Daun Katuk dalam Ransum terhadap Konsumsi, Kecernaan Kalsium dan Fosfor Ternak Babi Fase Grower: The Effect of The Use of Mixed Leaf Flour and Katuk Leaf Flour in Rating on The Consumption, Digestiveness of Calcium and Phosphors of Livestock Pig Grower Phase Patrix Ignasius Moruk; Ni Nengah Suryani; I Made Suaba Aryanta
Jurnal Peternakan Lahan Kering Vol. 5 No. 1 (2023): Maret
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the effect of a mixture of Moringa leaf flour and katuk leaf flour in the ration on the intake and digestibility of, calcium and phosphorus  of pigs in the grower phase.  this study used a Randomized Block Design (RAK) with 4 treatments and 3 replications. The treatments were R0: 100% basal ration, R1: 95% basal ration + 4% moringa leaf meal and 1% katuk leaf meal, R2: 90% basal ration + 8% Moringa leaf meal and 2% katuk leaf meal, R3 : 85% basal ration + 12% moringa leaf meal  and 3% katuk leaf meal. The ratio of the mixture of Moringa leaf flour and katuk leaf flour is 4:1. The variables measured  were feed intake , calcium and phosphorus intake , calcium and phosphorus digestibility. The results of the ANOVA analysis showed that the treatment had no significant effect (P>0.05) on the variables. It was concluded that the use of Moringa leaf flour and katuk leaves up to 15% in the ration had good effect on  feed intake , calcium and phosphorus intake , calcium and phosphorus digestibility of landrace pigs in the grower-finisher phase. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan campuran tepung daun kelor dan tepung  daun katuk dalam ransum terhadap konsumsi, dan kecernaan kalsium dan fosfor ternak babi fase grower. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang dicobakan adalah R0: 100% ransum basal, R1: 95% ransum basal + 4% tepung daun kelor dan 1% tepung daun katuk, R2: 90% ransum basal + 8% tepung daun kelor dan 2% tepung daun katuk, R3: 85% ransum basal + 12% tepung daun kelor dan 3% tepung daun daun katuk. Perbandingan campuran tepung daun kelor dan tepung daun katuk adalah 4:1. Variable yang diukur dalam penelitian ini adalah konsumsi ransum, konsumsi kalsium dan fosfor, kecernaan kalsium dan fosfor. Hasil analisis ANOVA menunjukkan perlakuan berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap variabel. Disimpulkan bahwa penggunaan tepung daun kelor dan daun katuk hingga level 15% dalam ransum, memberikan efek yang baik terhadap konsumsi ransum, konsumsi kalsium dan fosfor, kecernaan kalsium dan fosfor ternak babi landrace fase grower-finisher.  
PENGARUH PENGGUNAAN AMPAS KELAPA (Cocos nucifera L) FERMENTASI DALAM RANSUM TERHADAP KECERNAAN BAHAN KERING DAN BAHAN ORGANIK BABI GROWER-FINISHER (Effect of fermented coconut (Cocos nucifera L) waste in ration on dry matter and organic matter.....) Elfiana Elita Vilan; Ni nengah suryani; Tagu Dodu; I Made S. Aryanta
JURNAL NUKLEUS PETERNAKAN Vol 10 No 1 (2023): Juni
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/nukleus.v10i1.8532

Abstract

This research aimed to evaluate the effect of using fermented coconut waste (Cocos nucifera L) in the diet on the consumption and digestibility of dry matter and organic matter in grower-finisher pigs. Twelve castration landrace pigs aged 4-5 months with an initial weight of 50-83kg with an average of 66.25kg (KV = 15.75%) were used in this experiment. The experimental was was a Randomized Block Design (RBD) with four treatments and three replications. The treatments were R0: ration without fermented coconut waste (FCW), R1: ration using 5% FCW, R2: ration using 10% FCW, R3: ration using 15% FCW. The results showed that treatment had no significant effect (P>0.05) on the ration consumption, dry matter consumption, organic matter consumption, dry matter digestibility and organic matter digestibility. It can be concluded that coconut waste as much as 0%, 5%, 10% and 15% in the ration gave the same effect on ration consumption, dry matter consumption, organic matter consumption, dry matter digestibility and organic matter digestibility. Fermented coconut waste can be used up to 15% in grower-finisher pig rations.
PERBEDAAN SISA MAKANAN PASIEN BERDASARKAN TINGKAT PENGETAHUAN DIET RENDAH GARAM DAN PERSEPSI CITA RASA DI RSUD WANGAYA KOTA DENPASAR Nengah Suryaningsih; Ida Ayu Eka Padmiari; Ni Made Yuni Gumala
Jurnal Ilmu Gizi : Journal of Nutrition Science Vol 11, No 4 (2022)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Denpasar dan DPD PERSAGI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33992/jig.v11i4.1243

Abstract

The remaining food percentage is a simple indicator to evaluate the success of hospital nutritional services. One of the factors influencing is the level of knowledge of low salt diets and the perception of taste. The amount of food remaining will have an impact on patient nutritional status and patient recovery. Based on hospital nutritional guidelines, Standard indicator of food waste ≤ 20%. The purpose of this research is to find out about the Difference Of Patient Food Waste Based On Knowledge Levels Of Low Salt Diets And Flavor Perception At RSUD Wangaya Denpasar City. This research draft is cross sectional with a total of 62 inpatient samples. Food waste data is obtained by food weighing method. The level of knowledge of low salt diets and the perception of taste collected with questionnaires. The results of the research found that the patient's waste were classified as little is about 33 persons (53,2%), the level of knowledge is good which is about 58 persons (93,55%), and the perception of taste is in the good category which is about 56 persons (90,3%). Research results after the chi square test show no significant difference between foods waste with low salt diet knowledge levels (p=0,082). While analyzed difference food leftovers with taste perception showed (p=0,000) that means there is a significant difference.Keywords : Food Waste, Knowledge Levels of Low Salt Diets, Flavour Perception.