Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

LEGAL SOCIOLOGY OF LAND CONFLICT VS ORANG RIMBA’S LAND CONFLICT IN JAMBI PROVINCE Ulma, Riri Oktari; Rahmi, Elita; Fitria, Fitria; Pratiwi, Cholillah Suci
Communale Journal Vol 1 No 2 (2023): July
Publisher : Pusat Unggulan Ipteks-PUI Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/communale.v1i2.28796

Abstract

The sociology of Orang Rimba Law, which portrays the issue of land conflict versus land conflict, is a crucial legal issue, even though so far, the Orang Rimba (Suku Anak Dalam) has been part of a beneficial symbiosis between Natural Resources and Human Resources (HR), because between the factors of mutual care between humans and nature, but in legal reality, land and land tenure in Indonesia,  The existence of the Orang Rimba institution as the original entity of the Malay tribe is a problem, because its living entity has been displaced by the laws of outsiders, namely the state and government, especially since the rolling of the issue of forest utilization through Forest Tenure Rights (HPH) and the use of forest products through legal entities whose ownership is by forest outsiders, plus natural disasters (forest fires) outsiders as people whom people have long feared as eating creatures human. The purpose of the study is to know the law in reality, especially society. Conclusion The Orang Rimba, as an indigenous entity in Jambi Province, must be brought to the attention of the local government. The right to life and other social rights, namely distinctive economic and cultural rights, must be fostered continuously so that their customary rights are protected from land grabs under the guise of plantations and forestry based on state approval of forests and non-forests and ignore the history of the Orang Rimba struggle which always maintains the forest ecosystem and its distinctive land and culture such as ritual rituals between man and nature to dispel nature's various kinds of anger against humans in the form of disasters, wrath, and even climate change, cultural mantras and dialects were developed by them, but have not been seen by Indonesian law as genuine and distinctive legal institutions.
From Ceremony to Substance: Reforming Problem Inventory List-Based Local Regulation Discussion in Indonesia Syam, Fauzi; Rahmi, Elita; Syamsir, Syamsir; Maulana, Rio Yusri; Sukmana, Teja
Jambe Law Journal Vol. 8 No. 1 (2025)
Publisher : Faculty of Law, Jambi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/home.v8i1.505

Abstract

One of the key weaknesses in the quality of regional legislation in Indonesia is the lack of an explicit requirement to use a Problem Inventory List (DIM) during the deliberation of draft regional regulations (Ranperda). This study aims to fill an academic gap by analyzing the regulation and practical use of DIM in the Rules of Procedure of provincial Regional People's Representative Councils (DPRD), a topic that has received limited attention in Indonesian legal literature. Using a normative legal approach and a descriptive-qualitative method, the study examines 14 provincial DPRD Rules of Procedure from 2024 and includes participatory observations conducted at the Jambi Provincial DPRD. The findings reveal that most DPRDs do not regulate the use of DIM-based deliberation for Ranperda. As a result, the legislative process is often ceremonial in nature, lacks public participation, and contributes to the low quality of regional legislation. The study recommends revising Government Regulation concerning the Formation of Regional Legal Products to make the use of DIM mandatory in Ranperda deliberations at the national level
Cancer in Pregnancy in Indonesia: A Global Review and 2022–2025 Cohort Analysis of Maternal and Neonatal Outcomes Elita Rahmi; Bachnas, Muhammad Adrianes; Sri Sulistyowati
Journal of Maternal and Child Health Vol. 10 No. 5 (2025)
Publisher : Masters Program in Public Health, Universitas Sebelas Maret, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26911/thejmch.2025.10.05.03

Abstract

Background: Cancer during pregnancy is rare but presents serious challenges, especially in low- and middle-income countries like Indonesia. Limited national data, delayed diagnosis, and lack of standardized care make management difficult. Global awareness is growing, but regional differences in outcomes remain poorly understood. This study aims to provide a comprehensive overview of cancer during pregnancy, including its clinical characteristics and maternal-fetal outcomes both in Indonesian and global data. Subjects and Method: This systematic review was conducted following PRISMA guidelines from databases of PubMed, EMBASE, Scopus, and additional search, published between 2022 and April 2025. The included studies reported the global depiction of pregnancy-associated cancer. Newcastle-Ottawa Quality Assessment Scale (NOS) was used to assess the quality of observational included studies, while the Joanna Briggs Institute checklists for assessment of case reports. Results: A total of 14 studies were included based on the criteria, with a total population of 29,403 pregnant women associated with cancer. From this systematic review, the most found cancers during pregnancy were breast cancer, cervical cancer, and ovarian cancer, both from Indonesian data and global studies. Compared to global studies, obstetric complications were more prevalent in Indonesia, including preterm birth (64% vs 52%, respectively); very preterm birth (22% vs 15%, respectively); caesarean delivery (76% vs 65%, respectively); preeclampsia (18% vs 12%, respecti­vely); and postpartum haemorrhage (15% vs 10%, respectively). Conclusion: The global literature shows wide variation in cancer types, gestational timing, and outcomes. Indonesian cohort data show higher rates of preterm birth, low birth weight, and maternal complications compared to global averages. Delays in diagnosis and limited access to integrated cancer-obstetric care may explain these differences. The findings support the urgent need for national guidelines, early detection programs, and multidisciplinary care models for managing cancer in pregnancy in resource-limited settings.
PROSPEKTIF OMNIBUS LAW BIDANG SUMBER DAYA ALAM Rahmi, Elita; Mushawirya, Rustian; Nuriyatman, Eko
Bina Hukum Lingkungan Vol. 5 No. 2 (2021): Bina Hukum Lingkungan, Volume 5, Nomor 2, Februari 2021
Publisher : Asosiasi Pembina Hukum Lingkungan Indonesia (PHLI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.957 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji prospektif model pengaturan Sumber Daya Alam, yang dapat menjadi umbrella act dan keterpaduan dalam menyatukan kebijakan Sumber Daya Alam (kelembagaan), sehingga terbentuk sinergi pengelolaan Sumber Daya Alam guna mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang dapat memotret tindakan pemerintah. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan menggunakan bahan hukum primer, sekunder dan tersier. Sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan historis, pendekatan perundang-undangan, pendekatan konsep serta pendekatan prospektif, dengan didasari kuesioner yang menjadi bahan hukum primer. Hasil penelitian menunjukkan, pengaturan Sumber Daya Alam yang ditemui dalam banyak peraturan perundang-undangan menjadi penyebab kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup yang tidak terkendali karena konflik norma yang tidak terhindarkan. Model harmonisasi perundangundangan bidang Sumber Daya Alam dalam wujud omnibus law wajahnya tumpang tindih perlu diakhiri. Saatnya pengaturan dan kelembagaan Sumber Daya Alam segera dirampingkan dalam suatu kelembagaan yang terpadu, sehingga koordinasi kebijakan bidang ekologi, ekonomi dan sosial dapat terawasi melalui sistem pembangunan berkelanjutan. Sinergi kebijakan Sumber Daya Alam akan mempercepat proses pembangunan dan meminimalisir konflik serta sengketa bidang Sumber Daya Alam.
PROSPEKTIF OMNIBUS LAW BIDANG SUMBER DAYA ALAM Rahmi, Elita; Mushawirya, Rustian; Nuriyatman, Eko
Bina Hukum Lingkungan Vol. 5 No. 2 (2021): Bina Hukum Lingkungan, Volume 5, Nomor 2, Februari 2021
Publisher : Asosiasi Pembina Hukum Lingkungan Indonesia (PHLI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji prospektif model pengaturan Sumber Daya Alam, yang dapat menjadi umbrella act dan keterpaduan dalam menyatukan kebijakan Sumber Daya Alam (kelembagaan), sehingga terbentuk sinergi pengelolaan Sumber Daya Alam guna mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang dapat memotret tindakan pemerintah. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan menggunakan bahan hukum primer, sekunder dan tersier. Sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan historis, pendekatan perundang-undangan, pendekatan konsep serta pendekatan prospektif, dengan didasari kuesioner yang menjadi bahan hukum primer. Hasil penelitian menunjukkan, pengaturan Sumber Daya Alam yang ditemui dalam banyak peraturan perundang-undangan menjadi penyebab kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup yang tidak terkendali karena konflik norma yang tidak terhindarkan. Model harmonisasi perundangundangan bidang Sumber Daya Alam dalam wujud omnibus law wajahnya tumpang tindih perlu diakhiri. Saatnya pengaturan dan kelembagaan Sumber Daya Alam segera dirampingkan dalam suatu kelembagaan yang terpadu, sehingga koordinasi kebijakan bidang ekologi, ekonomi dan sosial dapat terawasi melalui sistem pembangunan berkelanjutan. Sinergi kebijakan Sumber Daya Alam akan mempercepat proses pembangunan dan meminimalisir konflik serta sengketa bidang Sumber Daya Alam.
“WAJAH BARU” PPAT DALAM PROSES PENDAFTARAN TANAH DI INDONESIA (STUDI PP NOMOR 24 TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN PP NOMOR 37 TAHUN 1998 TENTANG PPAT) Elita Rahmi
NOTARIIL Jurnal Kenotariatan Vol. 1 No. 1 (2016): November 2016
Publisher : Warmadewa Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/jn.1.1.177.1-13

Abstract

Tujuan penelitianpertama untuk menganalisis ketentuan baru yang diatur pada PP Nomor 24 Tahun 2016 tentang Perubahan atas PP Nomor 37 Tahun 1998 tentang PPAT. Kedua Untuk mengkritisi eksistensi PPAT dalam kaitannya dengan pendaftaran tanah di Indonesia terjadi dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2016.Metode penelitian yuridis normative, dengan mengunakan pendekatan perundang-undangan (Statuta approach) pedekatan konseptual (conceptual approach) dan pendekatan sejarah (historical approach).Pengumpulan bahan hukum meliputi bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tertier. Dalam menganalisis bahan hukum dilakukan dengan cara mengkasifikasikan peraturan yang terkait dengan PPAT dan pendaftaran tanah dan mengsistemasikan peraturan perundang-undangan serta menginterpretasikan peraturan perundang-undangan. Kesimpulan berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa : Dengan disempurnakannya PP nomor 37 Tahun 1998 menjadi PP Nomor 24 Tahun 2016 tentang PPAT, yang mengalami perubahan hanya terkait denganpersoalan usia calon PPAT dan kewajiban magang sebelum calon PPAT di angkat, penambahan masa kerja PPAT semula 65 (enam puluh lima ) tahun dapat diperpanjang menjadi 67 (enam puluh tujuh) tahun,Penambahan jenis pemberhentian terhadap PPAT, perluasan daerah kerja semula 1 (satu) wilayah kerja kabupaten/kota menjadi 1 (satu) wilayah kerja provinsi terakhir penambahan larangan rangkap jabatan. Sedangkan untuk aspek yuridis Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2016 Tentang Perubahan atas PP Nomor 37 Tahun 1998 tetap menindaklanjuti PP Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah, ketentuan perubahan dimaksud, sesungguhnya menuntut adanya sistim pendaftaran tanah on line dan reforma agraria pada kementerian agraria dan jajarannya, tanpa sinergi teknologi dan pelayanan bidang pertanahan maka fungsi PP Nomor 24 tahun 2016 tidak mmberikan fungsi signifikan dengan pelayanan cepat, murah dan sederhana dalam proses pendaftaran tanah.
Akibat Hukum Ketiadaan Akta Notaris dalam Perseroan Terbatas Perorangan dalam Perspektif Peraturan Perundang-Undangan Kesuma Dewi; Elita Rahmi; Firdaus Abu Bakar
SUPREMASI: Jurnal Pemikiran, Penelitian Ilmu-ilmu Sosial, Hukum dan Pengajarannya Volume 21, Nomor 2 (April 2026)
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/supremasi.v21i2.82866

Abstract

Kehadiran Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja membawa perubahan signifikan terhadap sejumlah regulasi, termasuk Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Kondisi ideal yang diharapkan dari pembaharuan tersebut adalah terciptanya kemudahan berusaha bagi pelaku Usaha Mikro dan Kecil (UMK) melalui pengakuan badan hukum Perseroan Terbatas Perorangan tanpa kewajiban akta notaris. Namun secara aktual, kebijakan ini menimbulkan problematika kepastian hukum karena akta notaris selama ini dipandang sebagai alat bukti otentik yang menjamin validitas pendirian perseroan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis status badan hukum Perseroan Terbatas Perorangan serta menelaah akibat hukum dari ketiadaan akta notaris dalam perspektif peraturan perundang-undangan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan normatif dengan analisis peraturan perundang-undangan dan doktrin hukum terkait pendirian badan usaha berbadan hukum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun kebijakan ini mempermudah UMK dalam membentuk badan usaha, absennya akta notaris berimplikasi pada lemahnya kepastian hukum dan perlindungan bagi pihak-pihak terkait. Simpulan penelitian menegaskan perlunya harmonisasi regulasi agar tujuan kemudahan berusaha tetap tercapai tanpa mengorbankan prinsip kepastian hukum yang menjadi fondasi sistem hukum nasional.
Problematika Yuridis Pelepasan Hak Milik Menjadi HGB pada Perumahan Subsidi di Indonesia Natanael Klose Hasiholan Simbolon; Elita Rahmi; Fitria Fitria
Nuansa Akademik: Jurnal Pembangunan Masyarakat Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Lembaga Dakwah dan Pembangunan Masyarakat Universitas Cokroaminoto Yogyakarta (LDPM UCY)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47200/jnajpm.v11i1.3575

Abstract

The conversion of freehold land rights into building use rights (HGB) in Indonesia’s subsidized housing program raises various legal issues. This study aims to analyze the mechanism for converting as well as legal certainty following the enactment of Ministerial Regulation ATR/BPN No. 5 of 2025. The research method employed is normative legal research using a legislative and conceptual approach through a literature review of primary, secondary, and tertiary legal sources. The research results indicate that the shift in mechanism from a system of rights reduction to the transfer of rights and the granting of new rights has created procedural complexities and legal ambiguity regarding the transitional phase of state-owned land prior to the issuance of HGB. In conclusion, harmonization of regulations and clarification of transitional norms are necessary so that the mechanism for the relinquishment of land ownership rights to HGB can provide legal certainty, administrative efficiency, and support the success of sustainable society development in the subsidized housing sector.
Political Law’s Reconstruction of Village Apparatus To Realize Independent Village in Indonesia Hartati Hartati; Pahrudin HM; Elita Rahmi
Journal of Government and Civil Society Vol 4 No 2 (2020): Journal of Government and Civil Society (October)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/jgcs.v4i2.2461

Abstract

Indonesian Village Law 2014 states that the purpose of village regulation is to create an independent village. Village management in Indonesia is carried out using a self-governing community system that requires apparatus that has good capacity. On the other hand, the existence of village apparatus in Indonesia still does not have the capacity needed to organize the government to become an independent village. Therefore, it is necessary to do a political law reconstruction to find a solution to the inequality of expectations of village regulation and the reality of the quality of village officials like this. Political law functions as a bridge to the goals to be achieved and is strongly influenced by the social reality of society. This research was conducted using a qualitative approach with the type of library research by reviewing data related to villages in Indonesia, especially village government. The results of this study revealed that only 7.43% were independent villages, most of village apparatuses unprofessional, poverty rate 9.66%, and unemployment rate of 5.01%. This requires a solution through a series of solution policies so that the objectives of village regulation towards independent villages can be achieved so that the prosperous community can be achieved.Undang-Undang Desa Tahun 2014 menyebutkan bahwa tujuan peraturan desa adalah untuk mewujudkan desa yang mandiri. Pengelolaan desa di Indonesia dilakukan dengan sistem kemasyarakatan swakelola yang membutuhkan aparatur yang memiliki kapasitas yang baik. Di sisi lain, keberadaan perangkat desa di Indonesia masih belum memiliki kapasitas yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan pemerintahan menjadi desa yang mandiri. Oleh karena itu, perlu dilakukan rekonstruksi politik hukum untuk mencari solusi atas ketimpangan ekspektasi peraturan desa dan realitas kualitas aparatur desa seperti ini. Hukum politik berfungsi sebagai jembatan menuju tujuan yang ingin dicapai dan sangat dipengaruhi oleh realitas sosial masyarakat. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi pustaka dengan mengkaji data-data terkait desa di Indonesia khususnya pemerintahan desa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desa mandiri hanya 7,43%, perangkat desa sebagian besar tidak profesional, tingkat kemiskinan 9,66%, dan tingkat pengangguran 5,01%. Untuk itu diperlukan solusi melalui serangkaian kebijakan solusi agar tujuan peraturan desa menuju desa mandiri dapat tercapai sehingga masyarakat sejahtera dapat tercapai.