Articles
ANALISIS PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN PERTANIAN MENJADI LAHAN TERBANGUN DI KECAMATAN LOLAK KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW
Niandhary M. Putri;
Raymond D. Ch. Taroreh;
Michael M. Rengkung
SPASIAL Vol. 10 No. 1 (2023): Volume 10, No.1, Mei 2023
Publisher : SPASIAL
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Bertambahnya Jumlah penduduk berarti kebutuhan akan lahan juga semakin meningkat Lahan tidak bertamah sehingga terjadi perubahan peruntukan penggunaan lahan yang cenderung mengurangi lahan pertanian yang sebelumnya digunakan menjadi lahan non pertanian atau lahan konstruksi. Menarik untuk dilakukan penelitian tentang evolusi penggunaan lahan pertanian menjadi lahan terbangun. Penelitian ini memiliki beberapa perbedaan dengan penelitian sebelumnya Yuyut Ariyanto (2000) meneliti perubahan penggunaan lahan sawah di permukiman di Kaupaten Pringsewu antara tahun 2010 & 2011. Selain itu Mur&ingsih (2017) memfokuskan analisis spasialnya pada perubahan penggunaan lahan pertanian menjadi mendukung swasembada pangan di Kabupaten Indramayu. Penelitian ini berfokus pada konversi penggunaan lahan dari lahan pertanian menjadi lahan pemukiman di Kecamatan Lolak. Hal ini penting karena perubahan penggunaan lahan pertanian berdampak pada bertambahnya lahan non pertanian atau lahan terbangin. Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi perubahan penggunaan lahan pertanian menjadi lahan terbangun di Kecamatan Lolak & menganalisis factor factor yang menyebabkan perubahan penggunaan lahan pertanian menjadi lahan permukiman di Kecamatan Lolak. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu kualitatif dengan analisis deskriptif & spasial. Hasil penelitian menunjukkan a&ya Perubahan Penggunaan lahan pertanian meliputi pertanian lahan kering perkeunan & persawahan di Kaupaten Lolak tahun 2009 – 2019 seesar 13821 Ha permukiman ertamah seluas 85Ha pertanian lahan kering ertamah 1782 1 Ha luas lahan pertanian campuran kering erkurang 300 ha & sawah 100 ha. Kata Kunci: perubahan lahan, lahan pertanian,lahan permukiman, Kecamatan Lolak.
CHRISTIAN CENTER DI TONDANO . Pendekatan Arsitektur Minahasa
Lovely E. Tampung;
Michael M. Rengkung;
Johanes Van Rate
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35793/daseng.v8i1.24621
Kota Tondano adalah ibu kota Kabupaten Minahasa dan memiliki masyarakat yang beradat dan religious, hal itu terlihat dari banyaknya gereja-gereja yang menghiasi hampir seluruh sudut Kota Tondano. Secara kasat mata akan sangat terlihat banyaknya gereja-gereja dengan berbagai denominasi yang berdiri megah dan mewah menghiasi kota baik dipusat kota maupun daerah pinggiran kota. Ketika suatu daerah mengharapkan lahirnya sumber daya manusia yang mempunyai standar kepribadian yang baik, maka daerah tersebut perlu menunjang sarana dan prasarana yang bisa mendukung lahirnya sumber daya manusia berkepribadian baik, salah satu faktor yang berpengaruh besar dalam pembentukan kepribadian seseorang adalah ketaatanya dalam menganut dan mempercayai ajaran agamanya. Mayoritas penduduk Tondano menganut agama Kristen dalam berbagai denominasi gereja, namun fasilitas untuk mendukung kegiatan-kegiatan keagamaan selain tempai ibadah masih sangat terbatas. Kehadiran Christian Center ini pun diharapkan bisa menjadi salah satu wadah yang dapat menampung berbagai denominasi gereja dalam suatu kegiatan rohani dengan fasilitas memadai, menjadi tempat pelatihan bagi siapapun yang memiliki keinginan untuk mengembangkan talenta untuk melayani Tuhan dan bahkan diharapkan bisa menjadi lokasi wisata religius yang baru, objek ini di harapkan bisa menjadi ikon baru di Tondano sebagai kota religious. Christian Center dengan pendekatan Arsitektur Minahasa akan lebih menambah nilai budaya dari objek Christian Center karena pendekatan ini dianggap mampu memadukan antara kebudayaan orang Tondano yang juga adalah suku Minahasa dengan keagamaan mayoritas orang Tondano yakni Kristen. Kata Kunci : Tondano, Christian Center, Arsitektur Minahasa
SEKOLAH LUAR BIASA (SLB) BAGI ANAK AUTIS & DOWN SYNDROM DI MANADO. Arsitektur Organik
Lisa C. Robot;
Cynthia E. V. Wuisang;
Michael M. Rengkung
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35793/daseng.v8i1.24631
Sekolah Luar Biasa (SLB) Bagi Anak Autis dan Down Syndrom merupakan sebuah lembaga pendidikan mulai dari taman kanak - kanak (TKLB), tingkat sekolah dasar (SDLB), sekolah menengah pertama (SMPLB), dan sekolah menengah atas (SMALB) di Manado yang dikhususkan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Latar belakang yang melandasi perancangan ini yaitu karena fasilitas pendidikan bagi anak autis dan down syndrom tergolong belum memadai dan belum dapat memenuhi segala kebutuhan pendidikan bagi penderita agar mereka dapat mengembangkan bakat dan potensi diri, serta memperoleh pendidikan yang setara dengan anak normal seusianya. Faktanya, anak- anak ini dianggap tidak memiliki bakat dan potensi yang dapat dikembangkan. Kebanyakan masyarakat umum memiliki perspektif negatif mengenai anak berkebutuhan khusus. Hasilnya, terdapat begitu banyak anak berkebutuhan khusus yang memiliki bakat dan potensi diri yang apabila dikembangkan, dapat jauh melebihi apa yang dimiliki anak normal pada umumnya. Berdasarkan permasalahan tersebut mendorong penulis untuk merancang sebuah perancangan Sekolah Luar Biasa yang berlokasi di Manado yang dapat memfasilitasi setiap kebutuhan anak agar mendapat pembimbingan dan pelatihan khusus. Dalam perancanaan dan perancangan Sekolah Luar Biasa ini akan diinterpretasikan melalui konsep Arsitektur Organik dan perilaku. Perpaduan konsep alam dengan perilaku akan sangat menarik dalam aktifitas dan pembentukan pertumbuhan anak autis dan down syndrom melalui bentukan massa, sirkulasi, lansekap, dan berdasarkan fungsinya. Kata Kunci : SLB Autis & Down Syndrom, Arsitektur Organik, Manado.
TERMINAL KAROMBASAN TIPE-B DI MANADO. Arsitektur Hijau
Hendy A. Pajow;
Michael M. Rengkung;
Steven Lintong
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35793/daseng.v9i1.29639
Terminal adalah fasilitas yang sangat kompleks, banyak kegiatan yang dilakukan di terminal terkadang secara bersamaan dan terkadang secara paralel, yang terkait pada variasi dan volume kedatangan atau waktu yang dibutuhkan untuk memproses kendaraan, penumpang, dan barang. Terminal menjadi salah satu bagian penting bagi kelancaran trasnportasi kendaraan umum jalur darat. Selain merupakan tempat pemberhentian dan pemberangkatan kendaraan umum, terminal ternyata memegang peranan untuk mengatur arah sirkulasi dan hirarki jalan. Terminal juga memerlukan beberapa fasilitas yang diperuntukan bagi para calon penumpang pengguna kendaraan umum dan juga semua orang yang berada diterminal.Kata kunci : Terminal, Sirkulasi, Transportasi
BULU TANGKIS CENTER DI MANADO, Arsitektur High Tech
Shelany Suselo;
Michael M. Rengkung;
Hendriek H. Karongkong
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 2 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 2, November 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35793/daseng.v9i2.34587
Sulawesi Utara merupakan salah satu provinsi yang memiliki atlet-atlet dengan prestasi di bidang olahraga, salah satunya di bidang olahraga bulu tangkis. Faktanya bahwa atlet-atlet Sulawesi Utara pernah menjadi penghuni pelatnas bulu tangkis pada tahun 2018 yang direkrut oleh pengurus pusat PBSI. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi olahraga antara lainnya adalah fasilitas sarana dan prasarana olahraga. Dengan adanya sarana dan prasana ini, sehingga para atlet ataupun masyarakat dapat mengapresiasikan atau mengalurkan bakat dan hobi mereka dalam bidang olahraga. Selain itu juga terciptanya atlet-atlet berprestasi yang dapat mengharumkan nama Indonesia di kancah internasiona nantinya. Pada perkembangan zaman saat ini dimana arus moderenisasi semakin kencang dan kuat untuk menaunggi aktivitas seseorang baik dari segi teknologi, hal ini jika diterapkan pada prasarana khususnya bangunan-bangunan olahraga, tentu saja dapat membangkitkan faktor internal maupun faktor ekstrenal seseorang yang berolahraga maupun berlatih dengan suasana ruang yang lebih bersemangat. Sehingga penulis berinisiatif untuk menerapkan konsep pendekatan pada bangunan olahraga bulu tangkis ini yaitu dengan menerapkan pendekatan konsep arsitektur high tech. Arsitektur high tech merupakan arsitektur modern yang mengesankan struktur dan teknologi pada suatu bangunan. Kota Manado merupakan salah satu Kota yang sedang berkembang di Provinsi Sulawesi Utara. oleh karena itu, arsitektur high tech dipilih sebagai pendekatan perencanaan dan perancangan bulu tangkis center di Kota Manado.Kata Kunci: Sulawesi Utara, Atlet,  Bulu Tangkis, Arsitektur High Tech
PUSAT REHABILITASI SKIZOFRENIA DI MANADO, Arsitektur Perilaku
Natalia M. Kaliey;
Judy O. Waani;
Michael M. Rengkung
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 2 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 2, November 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35793/daseng.v9i2.34639
Skizofrenia adalah salah satu penyakit mental serius yang terjadi dalam jangka panjang yang dapat mempengaruhi suasana hati, pola pikir, dan perilaku. Dari data Riset Kesehatan Dasar Kementerian Republik Indonesia tahun 2018 menyebutkan bahwa kasus skizofrenia meningkat dari 1,7% tahun 2013 menjadi 7% di tahun 2018. Melihat tingginya lonjakan orang dengan skizofrenia (ODS), setiap orang di minta agar terus waspada terhadap gejala-gejala yang timbul. Namun pemahaman masyarakat Indonesia terhadap kesehatan jiwa cenderung kurang, orang dengan gangguan jiwa justru tidak di tangani dengan baik karena memiliki alasan yang beragam, mulai dari merasa sudah sehat, tidak rutin beli obat, sering lupa, dan lainnya. Padahal ketidakteraturan mengonsumsi obat dapat memunculkan kembali gejala-gejala psikosis yang mengakibatkan ODS mengalami gangguan yang lebih parah sehingga berpotensi memperkuat stigma di lingkungan ODS. Salah satu solusi adalah melakukan pengawasan rutin dan memaksimalkan terapi bagi ODS dengan cara menciptakan suatu wadah yang mampu meningkatkan kualitas hidup ODS. Menanggapi hal tersebut, rancangan Pusat Rehabilitasi Skizofrenia di Manado menjadi suatu tempat untuk mewadahi berbagai kegiatan didalamnya dengan memperhatikan faktor keamanan dan faktor lingkungan yang berperan penting dalam proses pemulihan. Dalam rancangan ini tema yang di terapkan yaitu Arsitektur Perilaku karena terjadi hubungan timbal balik antara manusia dengan arsitektur. Sedangkan konsep yang diterapkan dalam arsitektur perilaku yaitu lingkungan yang  terpersepsikan. Dalam perancangan ini, metode yang di terapkan merupakan teori dari A. J Christopher Jones. Proses desain dimulai dari gagasan/analisa data hingga hasil akhir berupa visual, rancangan dibuat dengan tujuan membantu perancang dalam menciptakan hasil rancangan yang berkualitas.Kata Kunci: Pusat Rehabilitasi, Skizofrenia, Arsitektur Perilaku
PUSAT KERAJINAN KARAWANG DI GORONTALO, Arsitektur Neo Vernakular
Maulydia Wakid;
Roosje J. Poluan;
Michael M. Rengkung
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 10 No. 1 (2021): DASENG Volume 10, Nomor 1, Mei 2021
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35793/daseng.v10i1.39060
Kerajinan merupakan suatu benda hasil karya seni Manusia yang berkaitan dengan keterampilan tangan. Pada umumnya, karya kerajinan terbuat dari material (bahan) yang mudah didapatkan lewat proses alamiah atau rekayasa. Dari kedua material tersebut hasilnya memiliki fungsi sebagai benda hias maupun benda pakai. Bidang kerajinan pada saat ini telah masuk kepada Handmade (buatan tangan). Kerajinan sendiri diminati oleh semua kalangan dan tidak dibatasi oleh usia dan jenis kelamin. Dengan meningkatnya permintaan dan kebutuhan masyarakat dan penggemar kerajinan tangan saat ini, maka dibutuhkan fasilitas atau sarana yang dapat memenuhi permintaan dan kebutuhan tersebut. Dalam hal ini untuk melestarikan dan mengembangkan kerajinan tangan, diperlukan pembagian fungsi ruang seperti tempat pembuatan dan distribusi kerajinan, area pameran, tempat kursus dan toko souvenir.Indonesia memiliki berbagai macam daerah dimana setiap daerah pasti memiliki ciri khas dan nilai kebudayaannya masing-masing, yang seharusnya tetap dilestarikan sehingga nilai kebudayaan tiap daerah tetap terjaga. Dalam hal ini, salah satu kerajinan Kerawang (Karawo) adalah kain tradisional khas Gorontalo yang pembuatannya merupakan hasil kerajinan tangan. Karawo lahir dari proses panjang yang merupakan buah dari ketekunan para perajin. Seni membuat karawo disebut ‘Makarawo’. Keindahan motif, keunikan cara pengerjaan, dan kualitas yang bagus membuat karawo bernilai sangat tinggi, sehingga keunikan dan kualitas tersebut diminati oleh banyak kalangan, baik dari dalam maupun luar negeri.Kata kunci : Pusat Kerajinan, Karawang, Neo Vernakular, Gorontalo
REDESAIN PASAR TRADISIONAL DI AIRMADIDI, Arsitektur Vernakular Kontemporer
Taufik Supu;
Pingkan P. Egam;
Michael M. Rengkung
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 10 No. 1 (2021): DASENG Volume 10, Nomor 1, Mei 2021
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35793/daseng.v10i1.39064
Pasar merupakan lembaga ekonomi masyarakat yang keberadaannya sangat penting sebagai pemenuhan kebutuhan pokok manusia untuk bertahan hidup. Pasar Airmadidi dulunya di kenal dengan pasar Malam dan di jadikan pasar Tradisional oleh pemerintah minahas Utara karena berdekatan dengan terminal airmadidi. Konsep dari perancanaan tapak di ruang luar yaitu menerapkan konsep arsitektur ramah rlingkungan dengan mengambil konsep alam di sesuikan dengan bentuk dan orientasi masa (bangunan utama) agar dapat terlihat ruang luar, tapak dan massa utama memiliki satu kesatuan. Konsep perancanaan di Airmadidi denga tem vernkular kontemporer dimna masa utama dengan unsur persegi. Penggunaan material kaca dan alumunium sebagai selubung bangunan juga penambahan material konstainer bekas sehingga memberikan kesan modem sesuai dengan latar belakang yang menarik daya tarik pada pengunjung. Konsep tata ruang massa di dasarkan pada pengembangan antara tradisional dan moderen. Melalui kajian tematik yang dilakukan sebelumnya maka memiliki kesimpulan bahwa rancang terhadap objek Redesain Pasar Airmadidi dengan tema Arsitektur Vernakular Konemporere, dapat di lakukan dengan memperhatikan persepsi kenyamanan.Kata Kunci : Pasar Tradisional, Airmadidi, Arsitektur Vernakular Kontenporer
DESAIN PUSAT PERBELANJAAN DAN KULINER DI TONDANO: Pendekatan Arsitektur Lansekap
Grey M. Moningkey;
Cynthia E.V. Wuisang;
Michael M. Rengkung
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 12 No. 3 (2023): DASENG Volume 12, Nomor 3, Juli 2023
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Sektor perdagangan adalah salah satu aspek kegiatan ekonomi yang berperan manjadi urat nadi pergerakan perekonomian untuk kehidupan dalam suatu kota, perdagangan mempunyai peran dalam suatu aspek penanaman modal serta pergerakan ekonomi yang bisa meningkatkan pendapatan wilayah itu sendiri. Namun keterbatasan fasilitas perbelanjaan yang lengkap di kota Tondano, dalam pemenuhan kebutuhan berbelanja membuat masyarakat harus berbelanja ke luar daerah, seperti Tomohon dan Manado yang membutuhkan jarak yang jauh untuk dapat menikmati fasilitas perbelanjaan yang lengkap. Dilihat dari kondisi kota Tondano saat ini yaitu, belum adanya wadah yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat kota Tondano dalam berbelanja dengan fasilitas yang lengkap, sehingga dengan hadirnya objek “Pusat Perbelanjaan dan Kuliner di Tondano”dengan pendekatan perancangan yang tepat, pendekatan lokasional yang strategis serta pendekatan tematik Arsitektur Lansekap yang dapat mewadahi masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan berbelanja serta memanfaatkan potensi wisata yang ada di kota Tondano, sehingga dapat menjadi daya tarik serta peluang besar dalam pertumbuhan dan pengembangan daerah di bidang perdagangan dan ekonomi maupun wisata di kota Tondano. Kata Kunci: Tondano, Pusat Perbelanjaan, Arsitektur Lansekap
KETERSEDIAAN PRASARANA DAN SARANA PERMUKIMAN DI KECAMATAN SONDER
Lefrando J. Rumagit;
Judy O. Waani;
Michael M. Rengkung
MEDIA MATRASAIN Vol. 18 No. 1 (2021)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35792/matrasain.v18i1.37063
Sonder sub-district is one of the districts that is included as a district growth center, namely the local activity center (PKL) in the 2014-2034 RTRW of Minahasa. As for the RTRW direction in article 5 paragraph 2 letter g, regarding increasing the availability and quality of infrastructure services and supporting facilities for urban and rural activities. This study will identify and analyze the availability of infrastructure and facilities for settlements in Sonder District based on SNI 03-1733-2004 supported by other existing standards. The analysis method used is descriptive qualitative method in identifying data by obtaining primary data through field observations, taking documentation, and interviews with sub-district and village governments, as well as quantitative descriptive methods in analyzing data, as well as spatial analysis methods to determine the distribution of infrastructure and settlement facilities. also as an analysis of the service radius of the facility. The results of the discussion show that there are some inadequate infrastructure and facilities such as road infrastructure and solid waste infrastructure. where road infrastructure, traffic lane widths are not up to standard, and solid waste infrastructure, TPS and local TPA are not yet available, so most people still throw garbage in any place, such as drainage, and rivers. For facilities, educational facilities still require an additional 6 units for kindergarten, and 1 unit for senior high schools.