Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

ANALISIS PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN PERTANIAN MENJADI LAHAN TERBANGUN DI KECAMATAN LOLAK KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW Niandhary M. Putri; Raymond D. Ch. Taroreh; Michael M. Rengkung
SPASIAL Vol. 10 No. 1 (2023): Volume 10, No.1, Mei 2023
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bertambahnya Jumlah penduduk berarti kebutuhan akan lahan juga semakin meningkat Lahan tidak bertamah sehingga terjadi perubahan peruntukan penggunaan lahan yang cenderung mengurangi lahan pertanian yang sebelumnya digunakan menjadi lahan non pertanian atau lahan konstruksi. Menarik untuk dilakukan penelitian tentang evolusi penggunaan lahan pertanian menjadi lahan terbangun. Penelitian ini memiliki beberapa perbedaan dengan penelitian sebelumnya Yuyut Ariyanto (2000) meneliti perubahan penggunaan lahan sawah di permukiman di Kaupaten Pringsewu antara tahun 2010 & 2011. Selain itu Mur&ingsih (2017) memfokuskan analisis spasialnya pada perubahan penggunaan lahan pertanian menjadi mendukung swasembada pangan di Kabupaten Indramayu. Penelitian ini berfokus pada konversi penggunaan lahan dari lahan pertanian menjadi lahan pemukiman di Kecamatan Lolak. Hal ini penting karena perubahan penggunaan lahan pertanian berdampak pada bertambahnya lahan non pertanian atau lahan terbangin. Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi perubahan penggunaan lahan pertanian menjadi lahan terbangun di Kecamatan Lolak & menganalisis factor factor yang menyebabkan perubahan penggunaan lahan pertanian menjadi lahan permukiman di Kecamatan Lolak. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu kualitatif dengan analisis deskriptif & spasial. Hasil penelitian menunjukkan a&ya Perubahan Penggunaan lahan pertanian meliputi pertanian lahan kering perkeunan & persawahan di Kaupaten Lolak tahun 2009 – 2019 seesar 13821 Ha permukiman ertamah seluas 85Ha pertanian lahan kering ertamah 1782 1 Ha luas lahan pertanian campuran kering erkurang 300 ha & sawah 100 ha. Kata Kunci: perubahan lahan, lahan pertanian,lahan permukiman, Kecamatan Lolak.
TAMAN BUDAYA BOLAANG MONGONDOW DI KOTAMOBAGU. “ARSITEKTUR SEBAGAI SIMBOL BUDAYA” Teguh K. P. Kangiden; Rieneke L.E. Sela; Michael M. Rengkung
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17092

Abstract

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki banyak suku bangsa, adat budaya, yang harus dijaga kelestariannya, seperti tertera dalam undang-undang nomor 5 tahun 1992 yang berisi tentang; bahwa benda cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa yang penting artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan sehingga perlu dilindungi dan dilestarikan demi pemupukan kesadaran jati diri bangsa dan kepentingan nasional, untuk itu salah satu yang dilakukan seperti menghadirkan taman budaya di Kotamobagu. Perancangan taman budaya bertujuan sebagai tempat  berbagai macam kegiatan seni dan budaya yang bersifat edukatif, rekreatif dan informatif, dengan metode perancangan seperti pendekatan tematik arsitektur sebagai simbol budaya, pendekatan tipologi objek, pendekatan lingkungan, wawancara, studi komparasi, dan opini. Perancangan taman budaya dengan pendekatan tematik yaitu arsitektur sebagai simbol budaya membuat suatu rancangan yang mencerminkan nilai-nilai budaya, pada rancangan ini yang berlokasi di Kotamobagu sehingga budaya tersebut diangkat atau diterapkan pada perancangan taman budaya yaitu budaya Kotamobagu atau Bolaang Mongondow. Konsep perancangan yang digunakan seperti konsep berbalas pantun atau masyarakat Kotamobagu mengenal dengan sebutan salamat, dimana konsep ini seakan-akan bangunan saling berbalas bentuk. Konsep penerapan kabela dimana mengunakan salah satu gerak dari tari kabela yang melingkar, gerak tersebut diaplikasikan dalam konsep perancangan taman budaya dimana gerak melingkar tersebut akan mencangkup semua aktifitas dalam taman budaya. Kabela dari segi tampilan memiliki motif khas berupa bentuk-bentuk geometri, bentuk bunga dan bentuk lainnya. Motif tersebut diaplikasikan pada bangunan sebagai fasad. Hasil perancangan taman budaya ini adalah salah satu bentuk sarana untuk memfasilitasi kegiatan kesenian dan kebudayaan yang ada di Bolaang Mongondow khususnya di Kota Kotamobagu.Kata Kunci : Taman Budaya, Arsitektur, Simbol Budaya
CHILDREN EDUCATION PLAYGROUND DI MANADO. Hi-Tech Architecture: Gaya Rancang Santiago Calatrava Ceria T. Sumanti; Jefrey I. Kindangen; Michael M. Rengkung
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17271

Abstract

Suatu Negara yang berkembang memiliki perhatian khusus bagi pertumbuhan bangsanya. Pemerintah setiap Negara menyadari bahwa kesuksesan suatu bagsa dimulai dari usia dini. Untuk itu beragam metode pengajaran mulai bermunculan. Selain pendidikan dasar yang formal, metode informal yang meungkinkan anak belajar ssambil bermain dihadirkan dalam sebuah theme park bernama Kidzania. Penggabungan metode pendidikan formal dan informal kemudian disajikan dalam “Children Education Playground”. Perkembangan suatu Negara beriringan dengan perkembangan tersebut dunia arsitektural. Hi-Tech Architecture yang menjadi bukti nyata akan beragam perkembangan tersebut diaplikasikan pada perancangan “Children Education Playground” dengan konsentrasi pada struktur yang berpedoman pada gaya rancang Santiago Calatrava. Children Education Playground dirancang sebagai wadah edukatif dan kreatif dengan tujuan mengembangkan potensi suatu bangsa lewat anak-anak. Selain itu kolaborasi dengan tema Hi-Tech Architecture: gaya rancang Santiago Calatrava diharapkan dapat menjadi acuan perkembangan dibidang teknologi dan industry dalam arsitektur di kota Manado.Kata Kunci : Hi-Tech Architecture, Santiago Calatrava, Children, Education, Playground 
AGRO RESEARCH CENTER DI KOTAMOBAGU. Biomimicry dalam Arsitektur Tiara D. Hamin; Cynthia E. V. Wuisang; Michael M. Rengkung
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17287

Abstract

Seiring dengan bertambahnya jumlah jiwa penduduk di Indonesia konsumsi hasil pertanian juga semakin meningkat. Kota Kotamobagu merupakan wilayah yang memiliki kawasan pertanian pangan yang seluas 3.250 ha. Terkait ketahanan pangan, Kotamobagu menjadi salah satu daerah dari Sulut yang diundang pemerintah pusat guna melakukan ketahanan pangan daerah. Rencananya setiap tahun ada persediaan pangan yang akan dibiayai oleh daerah, kurang lebih 2.500 ton. Selain itu belum tersedianya tempat untuk mengembangkan kualitas pertanian, maka pusat penelitian (research center) diharapkan mampu mewadahi kegiatan tersebut. Research Center atau Pusat penelitian adalah bangunan yang didirikan untuk penelitian. Bangunan ini menyediakan ruang dan fasilitas khusus untuk meneliti lebih spesifik tentang suatu obyek. Dengan penggunaan tema Arsitektur Biomimicry dalam perancangan sehingga mampu menghadirkan tempat penelitian yang memiliki perpaduan dengan alam serta fasilitas yang baik sehingga memberikan kenyamanan dalam penggunaannya.Kata kunci : Agro Research Center, Kotamobagu, Penelitian, Biomimicry.
CHRISTIAN CENTER DI TONDANO . Pendekatan Arsitektur Minahasa Lovely E. Tampung; Michael M. Rengkung; Johanes Van Rate
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.24621

Abstract

Kota Tondano adalah ibu kota Kabupaten Minahasa dan memiliki masyarakat yang beradat dan religious, hal itu terlihat dari banyaknya gereja-gereja yang menghiasi hampir seluruh sudut Kota Tondano. Secara kasat mata akan sangat terlihat banyaknya gereja-gereja dengan berbagai denominasi yang berdiri megah dan mewah menghiasi kota baik dipusat kota maupun daerah pinggiran kota. Ketika suatu daerah mengharapkan lahirnya sumber daya manusia yang mempunyai standar kepribadian yang baik, maka daerah tersebut perlu menunjang sarana dan prasarana yang bisa mendukung lahirnya sumber daya manusia berkepribadian baik, salah satu faktor yang berpengaruh besar dalam pembentukan kepribadian seseorang adalah ketaatanya dalam menganut dan mempercayai ajaran agamanya. Mayoritas penduduk Tondano menganut agama Kristen dalam berbagai denominasi gereja, namun fasilitas untuk mendukung kegiatan-kegiatan keagamaan selain tempai ibadah masih sangat terbatas. Kehadiran Christian Center ini pun diharapkan bisa menjadi salah satu wadah yang dapat menampung berbagai denominasi gereja dalam suatu kegiatan rohani dengan fasilitas memadai, menjadi tempat pelatihan bagi siapapun yang memiliki keinginan untuk mengembangkan talenta untuk melayani Tuhan dan bahkan diharapkan bisa menjadi lokasi wisata religius yang baru, objek ini di harapkan bisa menjadi ikon baru di Tondano sebagai kota religious. Christian Center dengan pendekatan Arsitektur Minahasa akan lebih menambah nilai budaya dari objek Christian Center karena pendekatan ini dianggap mampu memadukan antara kebudayaan orang Tondano yang juga adalah suku Minahasa dengan keagamaan mayoritas orang Tondano yakni Kristen. Kata Kunci : Tondano, Christian Center, Arsitektur Minahasa
SEKOLAH LUAR BIASA (SLB) BAGI ANAK AUTIS & DOWN SYNDROM DI MANADO. Arsitektur Organik Lisa C. Robot; Cynthia E. V. Wuisang; Michael M. Rengkung
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.24631

Abstract

Sekolah Luar Biasa (SLB) Bagi Anak Autis dan Down Syndrom merupakan sebuah lembaga pendidikan mulai dari taman kanak - kanak (TKLB), tingkat sekolah dasar (SDLB), sekolah menengah pertama (SMPLB), dan sekolah menengah atas (SMALB) di Manado yang dikhususkan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Latar belakang yang melandasi perancangan ini yaitu karena fasilitas pendidikan bagi anak autis dan down syndrom tergolong belum memadai dan belum dapat memenuhi segala kebutuhan pendidikan bagi penderita agar mereka dapat mengembangkan bakat dan potensi diri, serta memperoleh pendidikan yang setara dengan anak normal seusianya. Faktanya, anak- anak ini dianggap tidak memiliki bakat dan potensi yang dapat dikembangkan. Kebanyakan masyarakat umum memiliki perspektif negatif mengenai anak berkebutuhan khusus. Hasilnya, terdapat begitu banyak anak berkebutuhan khusus yang memiliki bakat dan potensi diri yang apabila dikembangkan, dapat jauh melebihi apa yang dimiliki anak normal pada umumnya. Berdasarkan permasalahan tersebut mendorong penulis untuk merancang sebuah perancangan Sekolah Luar Biasa yang berlokasi di Manado yang dapat memfasilitasi setiap kebutuhan anak agar mendapat pembimbingan dan pelatihan khusus. Dalam perancanaan dan perancangan Sekolah Luar Biasa ini akan diinterpretasikan melalui konsep Arsitektur Organik dan perilaku. Perpaduan konsep alam dengan perilaku akan sangat menarik dalam aktifitas dan pembentukan pertumbuhan anak autis dan down syndrom melalui bentukan massa, sirkulasi, lansekap, dan berdasarkan fungsinya. Kata Kunci : SLB Autis & Down Syndrom, Arsitektur Organik, Manado.
TERMINAL KAROMBASAN TIPE-B DI MANADO. Arsitektur Hijau Hendy A. Pajow; Michael M. Rengkung; Steven Lintong
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i1.29639

Abstract

Terminal adalah fasilitas yang sangat kompleks, banyak kegiatan yang dilakukan di terminal terkadang secara bersamaan dan terkadang secara paralel, yang terkait pada variasi dan volume kedatangan atau waktu yang dibutuhkan untuk memproses kendaraan, penumpang, dan barang. Terminal menjadi salah satu bagian penting bagi kelancaran trasnportasi kendaraan umum jalur darat. Selain merupakan tempat pemberhentian dan pemberangkatan kendaraan umum, terminal ternyata memegang peranan untuk mengatur arah sirkulasi dan hirarki jalan. Terminal juga memerlukan beberapa fasilitas yang diperuntukan bagi para calon penumpang pengguna kendaraan umum dan juga semua orang yang berada diterminal.Kata kunci : Terminal, Sirkulasi, Transportasi
BULU TANGKIS CENTER DI MANADO, Arsitektur High Tech Shelany Suselo; Michael M. Rengkung; Hendriek H. Karongkong
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 2 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 2, November 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i2.34587

Abstract

Sulawesi Utara merupakan salah satu provinsi yang memiliki atlet-atlet dengan prestasi di bidang olahraga, salah satunya di bidang olahraga bulu tangkis. Faktanya bahwa atlet-atlet Sulawesi Utara pernah menjadi penghuni pelatnas bulu tangkis pada tahun 2018 yang direkrut oleh pengurus pusat PBSI. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi olahraga antara lainnya adalah fasilitas sarana dan prasarana olahraga. Dengan adanya sarana dan prasana ini, sehingga para atlet ataupun masyarakat dapat mengapresiasikan atau mengalurkan bakat dan hobi mereka dalam bidang olahraga. Selain itu juga terciptanya atlet-atlet berprestasi yang dapat mengharumkan nama Indonesia di kancah internasiona nantinya. Pada perkembangan zaman saat ini dimana arus moderenisasi semakin kencang dan kuat untuk menaunggi aktivitas seseorang baik dari segi teknologi, hal ini jika diterapkan pada prasarana khususnya bangunan-bangunan olahraga, tentu saja dapat membangkitkan faktor internal maupun faktor ekstrenal seseorang yang berolahraga maupun berlatih dengan suasana ruang yang lebih bersemangat. Sehingga penulis berinisiatif untuk menerapkan konsep pendekatan pada bangunan olahraga bulu tangkis ini yaitu dengan menerapkan pendekatan konsep arsitektur high tech. Arsitektur high tech merupakan arsitektur modern yang mengesankan struktur dan teknologi pada suatu bangunan. Kota Manado merupakan salah satu Kota yang sedang berkembang di Provinsi Sulawesi Utara. oleh karena itu, arsitektur high tech dipilih sebagai pendekatan perencanaan dan perancangan bulu tangkis center di Kota Manado.Kata Kunci: Sulawesi Utara, Atlet,  Bulu Tangkis, Arsitektur High Tech
PUSAT REHABILITASI SKIZOFRENIA DI MANADO, Arsitektur Perilaku Natalia M. Kaliey; Judy O. Waani; Michael M. Rengkung
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 2 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 2, November 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i2.34639

Abstract

Skizofrenia adalah salah satu penyakit mental serius yang terjadi dalam jangka panjang yang dapat mempengaruhi suasana hati, pola pikir, dan perilaku. Dari data Riset Kesehatan Dasar Kementerian Republik Indonesia tahun 2018 menyebutkan bahwa kasus skizofrenia meningkat dari 1,7% tahun 2013 menjadi 7% di tahun 2018. Melihat tingginya lonjakan orang dengan skizofrenia (ODS), setiap orang di minta agar terus waspada terhadap gejala-gejala yang timbul. Namun pemahaman masyarakat Indonesia terhadap kesehatan jiwa cenderung kurang, orang dengan gangguan jiwa justru tidak di tangani dengan baik karena memiliki alasan yang beragam, mulai dari merasa sudah sehat, tidak rutin beli obat, sering lupa, dan lainnya. Padahal ketidakteraturan mengonsumsi obat dapat memunculkan kembali gejala-gejala psikosis yang mengakibatkan ODS mengalami gangguan yang lebih parah sehingga berpotensi memperkuat stigma di lingkungan ODS. Salah satu solusi adalah melakukan pengawasan rutin dan memaksimalkan terapi bagi ODS dengan cara menciptakan suatu wadah yang mampu meningkatkan kualitas hidup ODS. Menanggapi hal tersebut, rancangan Pusat Rehabilitasi Skizofrenia di Manado menjadi suatu tempat untuk mewadahi berbagai kegiatan didalamnya dengan memperhatikan faktor keamanan dan faktor lingkungan yang berperan penting dalam proses pemulihan. Dalam rancangan ini tema yang di terapkan yaitu Arsitektur Perilaku karena terjadi hubungan timbal balik antara manusia dengan arsitektur. Sedangkan konsep yang diterapkan dalam arsitektur perilaku yaitu lingkungan yang  terpersepsikan. Dalam perancangan ini, metode yang di terapkan merupakan teori dari A. J Christopher Jones. Proses desain dimulai dari gagasan/analisa data hingga hasil akhir berupa visual, rancangan dibuat dengan tujuan membantu perancang dalam menciptakan hasil rancangan yang berkualitas.Kata Kunci: Pusat Rehabilitasi, Skizofrenia, Arsitektur Perilaku
PUSAT KERAJINAN KARAWANG DI GORONTALO, Arsitektur Neo Vernakular Maulydia Wakid; Roosje J. Poluan; Michael M. Rengkung
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 10 No. 1 (2021): DASENG Volume 10, Nomor 1, Mei 2021
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v10i1.39060

Abstract

Kerajinan merupakan suatu benda hasil karya seni Manusia yang berkaitan dengan keterampilan tangan. Pada umumnya, karya kerajinan terbuat dari material (bahan) yang mudah didapatkan lewat proses alamiah atau rekayasa. Dari kedua material tersebut hasilnya memiliki fungsi sebagai benda hias maupun benda pakai. Bidang kerajinan pada saat ini telah masuk kepada Handmade (buatan tangan). Kerajinan sendiri diminati oleh semua kalangan dan tidak dibatasi oleh usia dan jenis kelamin. Dengan meningkatnya permintaan dan kebutuhan masyarakat dan penggemar kerajinan tangan saat ini, maka dibutuhkan fasilitas atau sarana yang dapat memenuhi permintaan dan kebutuhan tersebut. Dalam hal ini untuk melestarikan dan mengembangkan kerajinan tangan, diperlukan pembagian fungsi ruang seperti tempat pembuatan dan distribusi kerajinan, area pameran, tempat kursus dan toko souvenir.Indonesia memiliki berbagai macam daerah dimana setiap daerah pasti memiliki ciri khas dan nilai kebudayaannya masing-masing, yang seharusnya tetap dilestarikan sehingga nilai kebudayaan tiap daerah tetap terjaga. Dalam hal ini, salah satu kerajinan Kerawang (Karawo) adalah kain tradisional khas Gorontalo yang pembuatannya merupakan hasil kerajinan tangan. Karawo lahir dari proses panjang yang merupakan buah dari ketekunan para perajin. Seni membuat karawo disebut ‘Makarawo’. Keindahan motif, keunikan cara pengerjaan, dan kualitas yang bagus membuat karawo bernilai sangat tinggi, sehingga keunikan dan kualitas tersebut diminati oleh banyak kalangan, baik dari dalam maupun luar negeri.Kata kunci : Pusat Kerajinan, Karawang, Neo Vernakular, Gorontalo