Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Perencanaan Daya Tarik Wisata Berbasis Ekowisata di Kecamatan Gane Timur Selatan Kabupaten Halmahera Selatan La Riti, Wayuna; Moniaga, Ingerid L.; Rengkung, Michael M.
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2023): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v12i2.48903

Abstract

Kecamatan Gane Timur Selatan Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara merupakan salah satu Kecamatan yang memiliki potensi Daya Tarik Wisata alam dan wisata bahari yang sangat indah. Daya Tarik yang dapat di kembangkan di lokasi tersebut di antaranya wisata alam dan bahari seperti keindahan bentang alam pulau – pulau kecil, keindahan bawah laut, dan pasir putih yang menciptakan keindahan pulau – pulau kecil di Kepulauan Widi. Adapun tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi potensi Daya Tarik Wisata di Kecamatan Gane Timur Selatan Berbasis Ekowisata, dan mengetahui arahan perencanaan pariwisata menggunakan pendekatan metode analisis SWOT. Hasil identifikasi potensi Daya Tarik Wisata di Kecamatan Gane Timur Selatan diperoleh bahwa Kepulauan Widi memiliki Daya Tarik Wisata alam yang indah dengan persebaran pulau–pulau kecil, hutan mangrove, tempat memancing para masyarakat nelayan, air laut jernih kehijauan dan hamparan pasir putih yang halus dengan panjang 150 km2 menyatukan Kepulauan Widi.Kata kunci; Daya Tarik Wisata Kepulauan WidiAbstractSouth East Gane District, South Halmahera Regency, North Maluku Province is one of the sub-districts that has beautiful natural tourism and marine tourism potential. Attractions that can be developed in this location include natural and marine tourism such as the beauty of the landscape of small islands, the beauty of the underwater world, and the stretch of white sand that creates the beauty of the small islands in the Widi Islands. The purpose of this research is to identify the potential of Ecotourism-Based TouristAttractions in Southeast Gane Regency, as well as to find out the direction of tourism planning with the SWOT analysis method approach. The results of the identification of potential tourist objects in Southeast Gane District found that the Widi Islands have beautiful natural tourist attractions with stretches of small islands, mangrove forests, fishing grounds for fishing communities, clear green sea water and elongated stretches of fine white sand. sand. 150 km2 unites the Widi Islands.Keyword: Tourist Attraction Widi Islands
MITIGASI BENCANA BANJIR PADA PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW TIMUR Modeong, Reyna; Sela, Rieneke L.E.; Rengkung, Michael M.
SPASIAL Vol. 11 No. 2 (2024)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bencana banjir merupakan salah satu bencana alam hidrometeorologi dimana sering terjadi akibat perubahan cuaca atau iklim. Kabupaten Bolaang Mongondow Timur diketahui berada pada topografi -32 sampai 1790 mdpl, akibat topografi yang curam langsung berhadapan dengan pegunungan yang terjal membuat daerah ini sangat berisiko akan terjadinya banjir. Dalam mengurangi risiko bencana banjir dapat dilakukan dengan kegiatan mitigasi baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana. Untuk melihat risiko bencana banjir dapat menggunakan metode analisa kuantitatif dan metode analisa spasial untuk mendapatkan nilai indeks risiko bencana banjir. Berdasarkan hasil analisa, terdapat 19 Desa pada tingkat risiko banjir tinggi dan 28 Desa berada pada tingkat risiko rendah. Setelah mendapatkan tingkat risiko maka konsep mitigasi yang akan direkomendasikan fokus pada perumahan dan kawasan permukiman dimana kelas rendah fokus kegiatan struktur/fisik, sedang fokus kegiatan kombinasi dan tinggi fokus kegiatan non struktur/non fisik. Kata kunci : Mitigasi, Bencana Banjir, Perumahan dan Kawasan Permukiman
Tingkat Kepuasan Masyarakat Terhadap Kualitas Sistem Pengelolaan Persampahan di Kota Manado Hambari, Josua Kevin; Sembel, Amanda S; Rengkung, Michael M.
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 13 No. 1 (2024): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v13i1.55983

Abstract

Abstrak Dalam upaya mengelola dan menangani sampah di wilayah perkotaan, pemerintah Kota Manado telah menerapkan berbagai kebijakan, peraturan, serta strategi guna mengurangi produksi sampah di Kota Manado. Meskipun demikian, situasi kebersihan di Kota Manado masih belum mencapai standar yang diharapkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi sistem pengelolaan persampahan di Kota Manado dan menganalisis tingkat kepuasan masyarakat terhadap kualitas sistem pengelolaan persampahan di Kota Manado. Dalam studi ini, pendekatan analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan bagaimana sistem pengelolaan sampah beroperasi di Kota Manado. Selain itu, metode analisis Indeks Kepuasan Pelanggan (Customer Satisfaction Index - CSI) digunakan untuk mengukur tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan sistem pengelolaan sampah yang tengah berjalan di Kota Manado. Berdasarkan hasil identifikasi sistem persampahan di Kota Manado belum dilakukan secara optimal, kurangnya sosialisasi, serta kurangya kesadaran masyarakat terkait persampahan. Hasil analisis CSI (Customer Satisfaction Index) rata-rata tingkat kepuasan masyarakat terhadap sistem pengelolaan sampah: Prosedur Pelayanan 79,51 (Puas), Waktu Penyelesaian 77,64 (Puas), Biaya Pelayanan 72,57 (Puas), Produk Pelayanan 69,68 (Puas), Sarana dan Prasarana 64,39 (Cukup Puas), Kompetensi Petugas Pelayanan 71,22 (Puas). Kata kunci: Tingkat Kepuasan; Sampah; Pelayanan Publik. Abstract In an effort to manage and handle waste in urban areas, the Manado city government has implemented various policies, regulations, and strategies to reduce waste production in Manado city. However, the cleanliness situation in Manado city still has not reached the expected standard. The purpose of this study is to identify the waste management system in Manado city and analyze the level of public satisfaction with the quality of the waste management system in Manado city. In this study, a descriptive analysis approach is used to describe how the waste management system operates in Manado City. In addition, the Customer Satisfaction Index (CSI) analysis method is used to measure the level of public satisfaction with the ongoing waste management system services in Manado City. Based on the identification results, the waste system in Manado City has not been carried out optimally, lack of socialization, and lack of public awareness regarding waste. The results of the CSI (Customer Satisfaction Index) analysis of the average level of public satisfaction with the waste management system: Service Procedures 79.51 (Satisfied), Completion Time 77.64 (Satisfied), Service Fees 72.57 (Satisfied), Service Products 69.68 (Satisfied), Facilities and Infrastructure 64.39 (Moderately Satisfied), Service Officer Competence 71.22 (Satisfied). Keyword: Satisfaction Level; Garbage; Public Service.
TAMAN BUDAYA BOLAANG MONGONDOW DI KOTAMOBAGU. “ARSITEKTUR SEBAGAI SIMBOL BUDAYA” Kangiden, Teguh K. P.; Sela, Rieneke L.E.; Rengkung, Michael M.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17092

Abstract

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki banyak suku bangsa, adat budaya, yang harus dijaga kelestariannya, seperti tertera dalam undang-undang nomor 5 tahun 1992 yang berisi tentang; bahwa benda cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa yang penting artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan sehingga perlu dilindungi dan dilestarikan demi pemupukan kesadaran jati diri bangsa dan kepentingan nasional, untuk itu salah satu yang dilakukan seperti menghadirkan taman budaya di Kotamobagu. Perancangan taman budaya bertujuan sebagai tempat  berbagai macam kegiatan seni dan budaya yang bersifat edukatif, rekreatif dan informatif, dengan metode perancangan seperti pendekatan tematik arsitektur sebagai simbol budaya, pendekatan tipologi objek, pendekatan lingkungan, wawancara, studi komparasi, dan opini. Perancangan taman budaya dengan pendekatan tematik yaitu arsitektur sebagai simbol budaya membuat suatu rancangan yang mencerminkan nilai-nilai budaya, pada rancangan ini yang berlokasi di Kotamobagu sehingga budaya tersebut diangkat atau diterapkan pada perancangan taman budaya yaitu budaya Kotamobagu atau Bolaang Mongondow. Konsep perancangan yang digunakan seperti konsep berbalas pantun atau masyarakat Kotamobagu mengenal dengan sebutan salamat, dimana konsep ini seakan-akan bangunan saling berbalas bentuk. Konsep penerapan kabela dimana mengunakan salah satu gerak dari tari kabela yang melingkar, gerak tersebut diaplikasikan dalam konsep perancangan taman budaya dimana gerak melingkar tersebut akan mencangkup semua aktifitas dalam taman budaya. Kabela dari segi tampilan memiliki motif khas berupa bentuk-bentuk geometri, bentuk bunga dan bentuk lainnya. Motif tersebut diaplikasikan pada bangunan sebagai fasad. Hasil perancangan taman budaya ini adalah salah satu bentuk sarana untuk memfasilitasi kegiatan kesenian dan kebudayaan yang ada di Bolaang Mongondow khususnya di Kota Kotamobagu.Kata Kunci : Taman Budaya, Arsitektur, Simbol Budaya
CHILDREN EDUCATION PLAYGROUND DI MANADO. Hi-Tech Architecture: Gaya Rancang Santiago Calatrava Sumanti, Ceria T.; Kindangen, Jefrey I.; Rengkung, Michael M.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17271

Abstract

Suatu Negara yang berkembang memiliki perhatian khusus bagi pertumbuhan bangsanya. Pemerintah setiap Negara menyadari bahwa kesuksesan suatu bagsa dimulai dari usia dini. Untuk itu beragam metode pengajaran mulai bermunculan. Selain pendidikan dasar yang formal, metode informal yang meungkinkan anak belajar ssambil bermain dihadirkan dalam sebuah theme park bernama Kidzania. Penggabungan metode pendidikan formal dan informal kemudian disajikan dalam “Children Education Playground”. Perkembangan suatu Negara beriringan dengan perkembangan tersebut dunia arsitektural. Hi-Tech Architecture yang menjadi bukti nyata akan beragam perkembangan tersebut diaplikasikan pada perancangan “Children Education Playground” dengan konsentrasi pada struktur yang berpedoman pada gaya rancang Santiago Calatrava. Children Education Playground dirancang sebagai wadah edukatif dan kreatif dengan tujuan mengembangkan potensi suatu bangsa lewat anak-anak. Selain itu kolaborasi dengan tema Hi-Tech Architecture: gaya rancang Santiago Calatrava diharapkan dapat menjadi acuan perkembangan dibidang teknologi dan industry dalam arsitektur di kota Manado.Kata Kunci : Hi-Tech Architecture, Santiago Calatrava, Children, Education, Playground 
AGRO RESEARCH CENTER DI KOTAMOBAGU. Biomimicry dalam Arsitektur Hamin, Tiara D.; Wuisang, Cynthia E. V.; Rengkung, Michael M.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17287

Abstract

Seiring dengan bertambahnya jumlah jiwa penduduk di Indonesia konsumsi hasil pertanian juga semakin meningkat. Kota Kotamobagu merupakan wilayah yang memiliki kawasan pertanian pangan yang seluas 3.250 ha. Terkait ketahanan pangan, Kotamobagu menjadi salah satu daerah dari Sulut yang diundang pemerintah pusat guna melakukan ketahanan pangan daerah. Rencananya setiap tahun ada persediaan pangan yang akan dibiayai oleh daerah, kurang lebih 2.500 ton. Selain itu belum tersedianya tempat untuk mengembangkan kualitas pertanian, maka pusat penelitian (research center) diharapkan mampu mewadahi kegiatan tersebut. Research Center atau Pusat penelitian adalah bangunan yang didirikan untuk penelitian. Bangunan ini menyediakan ruang dan fasilitas khusus untuk meneliti lebih spesifik tentang suatu obyek. Dengan penggunaan tema Arsitektur Biomimicry dalam perancangan sehingga mampu menghadirkan tempat penelitian yang memiliki perpaduan dengan alam serta fasilitas yang baik sehingga memberikan kenyamanan dalam penggunaannya.Kata kunci : Agro Research Center, Kotamobagu, Penelitian, Biomimicry.
Analisis Strategi Pengembangan Kawasan Transit Oriented Development di Kota Manado Rawis, Gloria Mariane; Rogi, Octavianus H. A.; Rengkung, Michael M.
MEDIA MATRASAIN Vol. 22 No. 2 (2025): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertumbuhan penduduk dan aktivitas yang meningkat menyebabkan perkembangan transportasi di Kota Manado, namun juga memicu kemacetan. Sebagai solusi, penerapan konsep TOD merupakan pendekatan alternatif dalam mengatasi permasalahan transportasi, tujuan utama TOD adalah menciptakan kawasan yang terintegrasi dan efisien yang menggabungkan berbagai fungsi (mixed-use), memiliki tingkat kepadatan yang tinggi, serta mendukung mobilitas pejalan kaki. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskripstif kuantitatif dengan proses analisis spasial yang dilakukan pada lima lokasi potensial zona TOD di Kota Manado yakni zona Malalayang, Zona Pusat Kota, zona Tuminting, zona Paal Dua dan zona Kota Baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir semua zona potensial belum memenuhi standar ideal baik variabel design, diversity maupun density, dengan zona Pusat Kota (PPK) sebagai yang paling mendekati kriteria TOD terutama pada aspek desain jalur pedestrian dan keberagaman fungsi lahan, sementara zona Malalayang, Tuminting, Paal Dua, dan Kota Baru masih mengalami kekurangan signifikan dalam fasilitas pedestrian, kepadatan bangunan, serta integrasi moda transportasi. Analisis gap mengungkap perlunya peningkatan eksisting variabel penyusun TOD, dengan prioritas pengembangan berdasarkan metode AHP berturut-turut pada Pusat Kota (skor 0,332), Malalayang (skor 0,287), Paal Dua (skor 0,277), Kota Baru (skor 0,193), dan Tuminting (skor 0,182), di mana zona dengan kesiapan rendah membutuhkan perencanaan pengadaan awal yang lebih besar dari pemerintah dan pemangku kepentingan agar mencapai standar dari pengembangan kawasan TOD.Population growth and increased activity have driven transportation development in Manado City but have also led to traffic congestion. As a solution, the implementation of the Transit Oriented Development (TOD) concept offers an alternative approach to addressing transportation problems. The primary goal of TOD is to create integrated and efficient areas that combine various functions (mixed-use), have high density levels, and support pedestrian mobility. This study employs a quantitative descriptive analysis method combined with spatial analysis conducted across five potential TOD zones in Manado City: Malalayang, Pusat Kota, Tuminting, Paal Dua, and Kota Baru. The results indicate that nearly all potential zones have yet to meet the ideal standards in terms of design, diversity, and density variables. The Pusat Kota zone (PPK) is closest to the TOD criteria, particularly regarding pedestrian pathway design and land use diversity, while Malalayang, Tuminting, Paal Dua, and Kota Baru still face significant deficiencies in pedestrian facilities, building density, and transportation mode integration. Gap analysis reveals the need to improve the existing TOD components, with development priorities based on the Analytical Hierarchy Process (AHP) scores in the following order: Pusat Kota (0.332), Malalayang (0.287), Paal Dua (0.277), Kota Baru (0.193), and Tuminting (0.182). Zones with lower readiness require more extensive initial planning and support from the government to receive TOD development standards
ANALISIS KARAKTERISTIK LANSEKAP BUDAYA DI KECAMATAN SANGALLA KABUPATEN TANA TORAJA Tandi, Sri Septyani; Rengkung, Michael M.
MEDIA MATRASAIN Vol. 22 No. 2 (2025): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kecamatan Sangalla merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Tana Toraja yang memiliki karakter lansekap budaya yang telah ada secara turun-menurun. Lokasi yang strategis berbatasan langsung dengan Kota Makale, hanya berjarak tempuh sekitar 7 km dari Kota Makale Kabupaten Tana Toraja. Di Kecamatan Sangalla sendiri terdapat berbagai elemen budaya toraja, seperti tongkonan (rumah adat), alang (lumbung padi), kuburan batu dan tradisi adat rambu solo' (upacara kematian) yang sudah turun-temurun. Kecamatan Sangalla menyimpan kekayaan budaya yang tak kalah menarik dengan Kete’ Kesu kawasan wisata budaya yang sudah dikenal. Salah satu kekhasan yang dimiliki Kecamatan Sangalla adalah keberadaan situs pemakaman bayi di dalam pohon (baby grave) serta memiliki sebuah museum lokal yang menyimpan berbagai peninggalan yang menggambarkan kehidupan puang di masa lalu. Apabila tidak dikelola secara optimal, maka kualitas karakter lansekap budaya yang dimiliki oleh Kecamatan Sangalla ini akan mengalami penurunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik lansekap budaya yang ada di Kecamatan Sangalla, menganalisis kekuatan dan peluang yang dapat mempengaruhi keberlanjutan lansekap budaya serta memberikan rekomendasi pengelolaan untuk pelestarian lansekap budaya di Kecamatan Sangalla. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan analisis spasial untuk mengidentifikasi karakteristik lansekap budaya di Kecamatan Sangalla dan analisis SWOT untuk menganalisis kekuatan dan peluang untuk pengelolaan pelestarian lansekap budaya ABSTRACT Sangalla Sub-district is one of the sub-districts in Tana Toraja Regency that possesses a cultural landscape character inherited through generations. Strategically located, it directly borders Makale City and is only about 7 kilometers away from the capital of Tana Toraja Regency. Sangalla is home to various Torajan cultural elements such as tongkonan (traditional houses), alang (rice barns), stone graves, and the traditional Rambu Solo' (funeral ceremony), all of which have been passed down over time. The sub-district holds cultural richness that is no less significant than Kete’ Kesu, a well-known cultural tourism area. One of Sangalla’s unique features is the presence of baby graves placed inside trees, as well as a local museum that houses various relics representing the historical life of the Torajan nobles (puang). If not managed properly, the cultural landscape character of Sangalla Sub-district is at risk of degradation. This study aims to identify the characteristics of the cultural landscape in Sangalla, analyze the strengths and opportunities that support its sustainability, and provide management recommendations for its preservation. The methods used in this study include descriptive qualitative and spatial analysis to identify the cultural landscape characteristics, and SWOT analysis to assess the strengths and opportunities for the sustainable management of the cultural landscape.
Analisis Strategi Pengembangan Kawasan Transit Oriented Development di Kota Manado Rawis, Gloria Mariane; Rogi, Octavianus H. A.; Rengkung, Michael M.
MEDIA MATRASAIN Vol. 22 No. 2 (2025): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertumbuhan penduduk dan aktivitas yang meningkat menyebabkan perkembangan transportasi di Kota Manado, namun juga memicu kemacetan. Sebagai solusi, penerapan konsep TOD merupakan pendekatan alternatif dalam mengatasi permasalahan transportasi, tujuan utama TOD adalah menciptakan kawasan yang terintegrasi dan efisien yang menggabungkan berbagai fungsi (mixed-use), memiliki tingkat kepadatan yang tinggi, serta mendukung mobilitas pejalan kaki. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskripstif kuantitatif dengan proses analisis spasial yang dilakukan pada lima lokasi potensial zona TOD di Kota Manado yakni zona Malalayang, Zona Pusat Kota, zona Tuminting, zona Paal Dua dan zona Kota Baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir semua zona potensial belum memenuhi standar ideal baik variabel design, diversity maupun density, dengan zona Pusat Kota (PPK) sebagai yang paling mendekati kriteria TOD terutama pada aspek desain jalur pedestrian dan keberagaman fungsi lahan, sementara zona Malalayang, Tuminting, Paal Dua, dan Kota Baru masih mengalami kekurangan signifikan dalam fasilitas pedestrian, kepadatan bangunan, serta integrasi moda transportasi. Analisis gap mengungkap perlunya peningkatan eksisting variabel penyusun TOD, dengan prioritas pengembangan berdasarkan metode AHP berturut-turut pada Pusat Kota (skor 0,332), Malalayang (skor 0,287), Paal Dua (skor 0,277), Kota Baru (skor 0,193), dan Tuminting (skor 0,182), di mana zona dengan kesiapan rendah membutuhkan perencanaan pengadaan awal yang lebih besar dari pemerintah dan pemangku kepentingan agar mencapai standar dari pengembangan kawasan TOD.Population growth and increased activity have driven transportation development in Manado City but have also led to traffic congestion. As a solution, the implementation of the Transit Oriented Development (TOD) concept offers an alternative approach to addressing transportation problems. The primary goal of TOD is to create integrated and efficient areas that combine various functions (mixed-use), have high density levels, and support pedestrian mobility. This study employs a quantitative descriptive analysis method combined with spatial analysis conducted across five potential TOD zones in Manado City: Malalayang, Pusat Kota, Tuminting, Paal Dua, and Kota Baru. The results indicate that nearly all potential zones have yet to meet the ideal standards in terms of design, diversity, and density variables. The Pusat Kota zone (PPK) is closest to the TOD criteria, particularly regarding pedestrian pathway design and land use diversity, while Malalayang, Tuminting, Paal Dua, and Kota Baru still face significant deficiencies in pedestrian facilities, building density, and transportation mode integration. Gap analysis reveals the need to improve the existing TOD components, with development priorities based on the Analytical Hierarchy Process (AHP) scores in the following order: Pusat Kota (0.332), Malalayang (0.287), Paal Dua (0.277), Kota Baru (0.193), and Tuminting (0.182). Zones with lower readiness require more extensive initial planning and support from the government to receive TOD development standards
ANALISIS KARAKTERISTIK LANSEKAP BUDAYA DI KECAMATAN SANGALLA KABUPATEN TANA TORAJA Tandi, Sri Septyani; Rengkung, Michael M.
MEDIA MATRASAIN Vol. 22 No. 2 (2025): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kecamatan Sangalla merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Tana Toraja yang memiliki karakter lansekap budaya yang telah ada secara turun-menurun. Lokasi yang strategis berbatasan langsung dengan Kota Makale, hanya berjarak tempuh sekitar 7 km dari Kota Makale Kabupaten Tana Toraja. Di Kecamatan Sangalla sendiri terdapat berbagai elemen budaya toraja, seperti tongkonan (rumah adat), alang (lumbung padi), kuburan batu dan tradisi adat rambu solo' (upacara kematian) yang sudah turun-temurun. Kecamatan Sangalla menyimpan kekayaan budaya yang tak kalah menarik dengan Kete’ Kesu kawasan wisata budaya yang sudah dikenal. Salah satu kekhasan yang dimiliki Kecamatan Sangalla adalah keberadaan situs pemakaman bayi di dalam pohon (baby grave) serta memiliki sebuah museum lokal yang menyimpan berbagai peninggalan yang menggambarkan kehidupan puang di masa lalu. Apabila tidak dikelola secara optimal, maka kualitas karakter lansekap budaya yang dimiliki oleh Kecamatan Sangalla ini akan mengalami penurunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik lansekap budaya yang ada di Kecamatan Sangalla, menganalisis kekuatan dan peluang yang dapat mempengaruhi keberlanjutan lansekap budaya serta memberikan rekomendasi pengelolaan untuk pelestarian lansekap budaya di Kecamatan Sangalla. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan analisis spasial untuk mengidentifikasi karakteristik lansekap budaya di Kecamatan Sangalla dan analisis SWOT untuk menganalisis kekuatan dan peluang untuk pengelolaan pelestarian lansekap budaya ABSTRACT Sangalla Sub-district is one of the sub-districts in Tana Toraja Regency that possesses a cultural landscape character inherited through generations. Strategically located, it directly borders Makale City and is only about 7 kilometers away from the capital of Tana Toraja Regency. Sangalla is home to various Torajan cultural elements such as tongkonan (traditional houses), alang (rice barns), stone graves, and the traditional Rambu Solo' (funeral ceremony), all of which have been passed down over time. The sub-district holds cultural richness that is no less significant than Kete’ Kesu, a well-known cultural tourism area. One of Sangalla’s unique features is the presence of baby graves placed inside trees, as well as a local museum that houses various relics representing the historical life of the Torajan nobles (puang). If not managed properly, the cultural landscape character of Sangalla Sub-district is at risk of degradation. This study aims to identify the characteristics of the cultural landscape in Sangalla, analyze the strengths and opportunities that support its sustainability, and provide management recommendations for its preservation. The methods used in this study include descriptive qualitative and spatial analysis to identify the cultural landscape characteristics, and SWOT analysis to assess the strengths and opportunities for the sustainable management of the cultural landscape.