Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

The Relevance of Maqāṣid al-Sharī‘ah in Modern Governance Rifqah Husnul Khatimah; Duski Samad; Firdaus Mamad
The Future of Education Journal Vol 4 No 9 (2025): Continued
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Yayasan Pendidikan Tumpuan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61445/tofedu.v4i9.1388

Abstract

The development of modern governance presents complex ethical, institutional, and social challenges, particularly in the context of globalization, digitalization, and increasing organizational complexity. Amid growing demands for transparent, accountable, and people-centered governance, maqāṣid al-sharīʿah offers a comprehensive ethical and normative framework capable of addressing these challenges. This article highlighting the urgency of understanding the concept of Islamic law and maqashid sharia in the context of Islamic religious education. In this context, an in-depth understanding of the principles of Islamic law and maqashid sharia is considered very important to strengthen the foundation of Islamic teachings in the education system.This study aims to examine the relevance and contribution of maqāṣid al-sharīʿah to strengthening modern governance practices across public administration, corporate governance, and contemporary social institutions. Employing a qualitative descriptive approach through a systematic literature review. The findings indicate that the core principles of maqāṣid al-sharīʿah including the protection of religion, life, intellect, property, progeny and environment are strongly aligned with fundamental principles of modern governance, such as justice, accountability, transparency, inclusiveness, and sustainability. Moreover, maqāṣid al-sharīʿah can function not only as an ethical foundation but also as an operational and evaluative framework for public policymaking, economic governance, anti-corruption initiatives, and institutional management in the digital era. This study concludes that integrating maqāṣid al-sharīʿah into modern governance has the potential to enhance moral legitimacy, policy effectiveness, and holistic human well-being, thereby contributing to sustainable and value-based governance systems.
Maqashid As-Syariah dalam Bingkai Tata Kelola Pendidikan: Analisis Relevansi Hifz An-Nafs Terhadap Kebijakan Anti Perundungan di Sekolah Mutiara Heidi Fernanda; Duski Samad; Firdaus ST Mamad
Al-Khazin: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 1 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : PT. Nawa Edukasi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67864/al-khazin.v1i2.43

Abstract

Bullying is a crucial issue within the school environment. Bullying behavior can have highly detrimental physical and mental impacts on victims; therefore, there is a need for educational governance policies that align with Islamic Sharia. This is essential to achieve benefit (maslahah) and well-being in accordance with Maqashid Sharia (the objectives of Sharia). This study aims to analyze and examine Maqashid Sharia within the framework of educational governance, specifically the relevance of the principle of Hifz an-Nafs (protection of life) toward anti-bullying policies in schools. The method applied in this study is a literature review, utilizing books, scientific journals, research reports, and other relevant documents applicable to the social situation under investigation. The results of this study indicate that the principles of Maqashid Sharia integrated into Hifz an-Nafs are effective because they are supported by the fundamental belief that safeguarding human life is an ethical imperative aimed at the welfare of the community, particularly in school governance.
Cinta Tanah Air dalam Perspektif Al-Qur’an : Eksplorasi Nilai Kebangsaan dan Keagamaan di Indonesia Ridwan Ridwan; Duski Samad; Khairul Fahmi
Menara Ilmu : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmiah Vol 19, No 2 (2025): Vol 19 No. 02 OKTOBER 2025
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/mi.v19i2.7103

Abstract

AbstrakDalam konteks meningkatnya krisis identitas kebangsaan dan maraknya wacana keislaman yang eksklusif, kajian ini bertujuan untuk menelaah secara tematik representasi nilai cinta tanah air dalam al-Qur’an sebagai basis ideologis dan spiritual bagi nasionalisme yang inklusif. Penelitian ini memfokuskan pada variabel utama berupa nilai kebangsaan dalam teks suci, seperti pluralitas sosial, keamanan kolektif, keadilan sosial, dan tanggung jawab pendidikan. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode tafsir tematik (maudhū‘ī), serta didukung oleh analisis literatur klasik dan kontemporer untuk mengkaji tujuh ayat utama yang mencerminkan spektrum nasionalisme Qur’ani. Temuan menunjukkan bahwa al-Qur’an mengintegrasikan nilai-nilai kebangsaan dalam narasi tauhid dan etika sosial secara menyeluruh, tanpa menciptakan dikotomi antara spiritualitas dan loyalitas kebangsaan. Penafsiran yang dilakukan juga berhasil memetakan fondasi teologis bagi nasionalisme moderat yang kontekstual dengan realitas sosial Indonesia. Kesimpulan menyatakan bahwa cinta tanah air dalam Islam bukan hanya sah, tetapi merupakan bagian dari tanggung jawab keimanan. Penelitian ini merekomendasikan integrasi nilai-nilai nasionalisme Qur’ani ke dalam kurikulum pendidikan Islam dan kajian tafsir sosial untuk memperkuat kohesi bangsa dalam bingkai nilai-nilai religius.Kata Kunci: cinta tanah air, nasionalisme Qur’ani, tafsir tematik, pluralisme Islam, etika sosial 
Dialog Filsafat Islam Dan Filsafat Barat Ikhwan Al Hafiz; Duski Samad; Firdaus ST Mamad
Studia : Journal of Humanities and Education Studies Vol. 1 No. 2 (2025): November: Studia: Journal of Humanities and Education Studies
Publisher : CV Edukastra Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian ini membahas dialog antara filsafat Islam dan filsafat Barat sebagai upaya memahami corak perkembangan pemikiran manusia dalam menjawab persoalan ontologis, epistemologis, dan aksiologis di era modern. Filsafat Islam berkembang dengan landasan tauhid yang mengintegrasikan akal, wahyu, dan pengalaman sebagai sumber pengetahuan yang saling melengkapi. Filsafat Barat tumbuh melalui tradisi rasionalisme, empirisme, serta kritisisme yang menekankan kebebasan berpikir dan pengujian rasional terhadap realitas. Pertemuan dua tradisi pemikiran ini menunjukkan adanya perbedaan pendekatan dalam memahami hakikat keberadaan, sumber kebenaran, serta tujuan moral manusia. Dialog filsafat Islam dan filsafat Barat tidak hanya berhenti pada wilayah teoretis, tetapi juga memiliki implikasi nyata dalam pengembangan pendidikan, sains, dan teknologi. Sintesis antara rasionalitas ilmiah dan nilai spiritual membuka ruang bagi lahirnya paradigma keilmuan yang lebih seimbang dan berorientasi pada kemaslahatan manusia. Kajian ini menegaskan bahwa dialog merupakan sarana penting untuk membangun pemahaman lintas tradisi, memperkaya khazanah keilmuan, serta menghadirkan alternatif pemikiran yang mampu merespons tantangan modernitas tanpa kehilangan dimensi etika dan spiritualitas.