Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Digitalisasi Pelaporan Indeks K menggunakan K-Smard: Studi Empiris pada Industri Kelapa Sawit Kalimantan Selatan Dahniar, Dahniar; Sudirwo, Sudirwo; Mikrianto, Edi; Herteno, Rudy; Wibowo, Alan Dwi; Septiana, Nurmelati
Jurnal Samudra Ekonomi dan Bisnis Vol 17 No 1 (2026): JSEB
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33059/jseb.v17i1.13711

Abstract

The K Index, which serves as the basis for revenue sharing between palm oil mills and smallholders, still exhibits monthly fluctuations that should not theoretically occur. This condition highlights the need for a more consistent, standardized, and user-friendly K Index calculation system supported by digital applications. This study aims to develop and validate the K-SMARD application as an information system for the automated calculation and reporting of the K Index. System development employed the waterfall model, while testing used real K Index data from palm oil mills and was evaluated using a comparative statistical approach against the conventional Excel-based method. The results show that K-SMARD produces accurate and consistent K Index values with no significant differences, while improving efficiency and reporting reliability.
Penyuluhan Artifak Museum Lambung Mangkurat: Potensi De-Extinction Fosil Gajah Kalimantan Susilo, Tanto Budi; yunus, rahmat; Soesanto, Oni; Hindarto, Imam; Utami, Umi Baroroh Lili; Idris, Muddatstsir; Mikrianto, Edi; Mursyidin, Dindin Hidayatul
Jurnal Pengabdian ILUNG (Inovasi Lahan Basah Unggul) Vol 5, No 3 (2026)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ilung.v5i3.16203

Abstract

Abstrak Museum bukan hanya tempat untuk koleksi artefak kebudayaan bangsa, tetapi juga tempat untuk artefak intelektual bangsa, atau tempat koleksi epistemologi intelektual bangsa. Sementara itu, ibu kandung kebudayaan adalah pendidikan. Museum Lambung Mangkurat adalah rumah bagi anak kandung artefak kebudayaan dan ibu kandung bagi pendidikan masyarakat Kalimantan ini. Nama Lambung Mangkurat sendiri, diambil dari putra seorang pedagang (kasta Waisya) keturunan etnis Keling, era kerajaan Mapapahit. PKM ini membahas temuan artefak bendawi (tangible), berupa fosil gajah kisaran 5000 tahun lalu. Fosil ini berperan strategis dalam projek pembangkitan spesies yang punah (de-extintion) pada masa depan. Pokok bahasan ini menjelaskan peristiwa sejarah tentang asal usul gajah kecil (hobbit elephant) yang ada di Kalimantan. Fosil gajah menjelaskan bahwa gajah Kalimantan adalah asli (indigenius) meski kolonial Inggris juga mendatangkan sebagai gajah introduser dari India. Program kreatifitas masyarakat (PKM) ini berupaya mengapresiasi terhadap temuan gajah Kalimantan di daerah Kabupaten Batola. Metode hermeneutika yang dielaborasi structural equation modelling (SEM) digunakan sebagai koleksi tanggapan responden generasi muda. Hasil evaluasi PKM ini adalah sebagai berikut; sangat mengerti (12,5%), mengerti (45%), kurang mengerti (30%) dan tidak mengerti (12,5%) terhadap 12 responden. Hasil PKM menyatakan bahwa generasi muda mengerti atas pentingnya temuan fosil gajah yang terhubung dengan perdagangan era kolonial Inggris di Kalimantan.Kata kunci: Museum; Lambung Mangkurat; fosil gajah 
Pemanfaatan Limbah Ikan Gabus Sebagai Pakan Fungsional untuk Mendukung Usaha Berkelanjutan Burung Puyuh Mikrianto, Edi
Jurnal Pengabdian ILUNG (Inovasi Lahan Basah Unggul) Vol 5, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ilung.v5i2.16756

Abstract

Kegiatan PKM ini di mulai dengan riset awal tentang pengaruh penambahan pakan alternative burung puyuh dari limbah ikan gabus terhadap produktifitas telur burung puyuh. Burung puyuh (Coturnix coturnix japonica) dikenal sebagai salah satu jenis unggas potensial yang dapat dimanfaatkan baik sebagai penghasil telur maupun daging. Dalam usaha budidaya, pakan merupakan faktor dominan karena sekitar 80% biaya produksi dialokasikan untuk kebutuhan tersebut. Salah satu alternatif yang dapat digunakan adalah pemanfaatan limbah ikan gabus sebagai bahan substitusi tepung ikan pada pakan buatan. Pemanfaatan limbah ini diharapkan mampu menekan penggunaan tepung ikan konvensional. Hasil analisis kimia proksimat menunjukkan kadar protein kasar pada tepung limbah ikan gabus sebesar 48,43%. Pengabdian PKM ini bertujuan mengevaluasi kandungan nutrisi tepung limbah ikan gabus serta pengaruhnya terhadap performa pertumbuhan puyuh. Kegiatan pengabdian PKM dengan menerapkan hasil pengabdian PKM yaitu menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan empat ulangan. Parameter yang diamati meliputi konsumsi ransum, pertambahan bobot badan rata-rata, dan konversi pakan. Hasil pengabdian PKM memperlihatkan bahwa tepung limbah ikan gabus berperan positif terhadap efisiensi pakan, pertumbuhan, serta konversi ransum. Dengan demikian, limbah ikan gabus berpotensi sebagai pengganti tepung ikan dalam formulasi pakan puyuh petelur dengan produksi telur yang sama dengan pakan komersil.
INOVASI PAKAN DAN PEMASARAN ONLINE PUYUH : PRODUKTIVITAS DAN KEBERLANJUTAN UKM DESA PUNTIK TENGAH Edi Mikrianto; Dahniar Dahniar; Rahmat Yunus
Jurnal Sinergitas PKM & CSR Vol. 9 No. 3 (2025): June
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Program pengabdian kepada masyarakat ini berfokus pada pemanfaatan limbah ikan gabus sebagai bahan tambahan pakan alternatif bagi burung puyuh (Coturnix coturnix japonica). Burung puyuh memiliki prospek tinggi sebagai sumber telur dan daging, namun biaya pakan masih mendominasi sekitar 70 - 80% dari total biaya produksi. Untuk menekan ketergantungan pada tepung ikan komersial, limbah ikan gabus diolah menjadi tepung dan diuji kualitas nutrisinya. Hasil analisis proksimat menunjukkan kandungan protein kasar sebesar rata-rata 48,50% dengan tiga perlakuan, sehingga berpotensi digunakan sebagai bahan substitusi. Kegiatan ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan empat ulangan, dengan parameter pengamatan berupa konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, serta rasio konversi pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung limbah ikan gabus mampu meningkatkan efisiensi pakan, memperbaiki pertumbuhan, dan menurunkan rasio konversi tanpa menurunkan produktivitas telur dibandingkan pakan komersial. Selain itu, program ini juga mengintegrasikan penggunaan berbagai metode multimedia sebagai sarana promosi dan pemasaran hasil produksi telur puyuh, sehingga diharapkan dapat memperluas jangkauan konsumen dan meningkatkan nilai tambah bagi peternak. This community service program focuses on the utilization of snakehead fish (Channa striata) waste as an alternative feed additive for quails (Coturnix coturnix japonica). Quails have high potential as a source of eggs and meat; however, feed costs still account for approximately 70–80% of total production expenses. To reduce dependence on commercial fish meal, snakehead fish waste was processed into fish meal and evaluated for its nutritional quality. Proximate analysis showed an average crude protein content of 48.50% across three treatments, indicating its potential as a substitute ingredient. The activity employed a Completely Randomized Design (CRD) with five treatments and four replications, with observed parameters including feed consumption, body weight gain, and feed conversion ratio. The results demonstrated that snakehead fish waste meal improved feed efficiency, enhanced growth, and reduced the feed conversion ratio without decreasing egg productivity compared to commercial feed. Moreover, this program integrated the use of various multimedia tools as a means of promoting and marketing quail egg products, thereby expanding consumer reach and increasing added value for local farmers.