Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Studi Fenomenologi Pengalaman Pasien Penyakit Ginjal Kronik dalam Menjalani Hemodialisis Risa Nurhayati; Sri Wahyuni; Bayhakki Bayhakki; Nurul Huda; Erika Erika
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.55799

Abstract

Introduction: Each patient has a different experience undergoing hemodialysis, depending on individual perceptions, social support, and self-care abilities. This study aims to explore the experiences of chronic kidney disease patients undergoing hemodialysis. Methods: This is a qualitative study with a phenomenological approach. The researcher used a purposive sampling technique to select eight informants for the participants, and analyzed using Colaizzi thematic analysis. Data validity was tested to increase trustworthiness through triangulation, member checking, dependability, confirmability, and transferability. Results: This study yielded three themes: 1) initial response to hemodialysis, 2) the process of accepting hemodialysis, and 3) motivation for regular hemodialysis. Conclusion: Nurses need to actively introduce coping strategies, involve families, and integrate medical and psychological aspects to support patient compliance and resilience
UPAYA PENCAPAIAN PERKEMBANGAN MENTAL REMAJA MELALUI TERAPI KELOMPOK TERAPEUTIK Jumaini Jumaini; Sri wahyuni; Niken Yuniar Sari; Nurul Huda; Yulia Rizka
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2025): Volume 6 No. 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i2.44284

Abstract

Remaja merupakan tahapan usia transisi dari anak-anak menuju dewasa. Pada usia remaja, seseorang akan mengalami berbagai perubahan berkaitan dengan proses transisi menuju kedewasaan. Kemampuan berdaptasi terhadap berbagai perubahn ini sangat penting sehingga yang menunjang pencapaian perkembangan dan kesehatan mental remaja. Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah memberikan terapi kelompok terapeutik kepada remaja untuk meningkatkan perkembangan mentalnya. Kegiatan dilaksanakan di Kelurahan Sri Meranti dengan rentang usia remaja 12-19 tahun. Remaja yang terlibat sebanyak 30 orang. Peserta diberikan pre test sebelum dilakukan terapi dan post test sesudah diberikan terapi. Hasil kegiatan menunjukkan skor rata-rata sebelum diberikan terapi kelompok terapeutik adalah 42 sedangkan skor rata-rata setelah diberikan terapi kelompok terapeutik adalah 59. Hal ini menunjukkan terdapat peningkatan skor perkembangan mental sebesar 17 setelah remaja mendapatkan terapi kelompok terapeutik. Dampak dari pengabdian masyarakat ini terjadi peninkatan perkembangan mental remaja dan diharapkan remaja terus beradaptasi terhadap perubahan yang dialami sehingga dapat berperilaku yang menunjukkan sebagai remaja yang sehat mental.
Hubungan Dukungan Sosial terhadap Stres pada Keluarga yang Merawat Anak dengan Leukemia Resti Maharani; Nurul Huda; Novita Kusumarini
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.490

Abstract

Pendahuluan: Leukemia merupakan salah satu jenis kanker darah yang menyerang anak-anak dan memerlukan perawatan jangka panjang di rumah sakit. Kondisi ini menimbulkan beban fisik, emosional, dan psikologis bagi keluarga. Dukungan sosial dari anggota keluarga, lingkungan, dan tenaga kesehatan berperan penting dalam membantu keluarga mengelola stres selama proses perawatan anak. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dengan tingkat stres pada keluarga yang merawat anak penderita leukemia di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasional dengan pendekatan cross-sectional . Sampel penelitian terdiri dari 41 responden, yang dipilih menggunakan teknik Accidental Sampling . Instrumen penelitian berupa kuesioner Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) untuk mengukur dukungan sosial dan skala Perceived Stress Scale (PSS-10) untuk menilai tingkat stres. Analisis data dilakukan dengan uji Fisher's Exact dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil: Sebagian besar keluarga memperoleh dukungan sosial pada kategori tinggi (48,8%), sedangkan tingkat stres yang dialami berada pada kategori sedang (46,3%). Hasil uji statistik menunjukkan hubungan yang signifikan antara dukungan sosial dan tingkat stres keluarga (p = 0,029 < 0,05), yang menunjukkan bahwa semakin tinggi dukungan sosial, semakin rendah tingkat stres yang dialami. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan sosial dan stres pada keluarga yang merawat anak penderita leukemia. Dukungan sosial berperan sebagai faktor protektif dalam menurunkan tekanan psikologis keluarga. Saran: Tenaga kesehatan diharapkan melibatkan keluarga dalam perawatan anak, memberikan edukasi, serta menyediakan dukungan psikososial. Penelitian selanjutnya disarankan untuk meneliti variabel lain yang berhubungan dengan stres keluarga, seperti strategi penanggulangan dan kualitas hidup.
Hubungan Stres Terhadap Kualitas Tidur Pada Keluarga Yang Merawat Penderita Kanker Payudara Sella Nuraini; Nurul Huda; Yunisman Roni
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.675

Abstract

Pendahuluan: Kanker payudara merupakan salah satu masalah kesehatan utama dengan angka kejadian dan kematian yang tinggi di dunia maupun di Indonesia. Penyakit ini tidak hanya berdampak pada pasien, tetapi juga pada keluarga yang merawatnya. Keluarga memiliki peran penting dalam proses perawatan, namun tanggung jawab tersebut sering menimbulkan stres dan gangguan tidur yang dapat memengaruhi kemampuan mereka memberikan perawatan optimal. Namun, penelitian mengenai hubungan antara stres dan kualitas tidur pada keluarga yang merawat pasien kanker payudara di Indonesia masih terbatas, terutama di lingkungan rumah sakit. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara tingkat stres dan kualitas tidur pada keluarga yang merawat penderita kanker payudara di rumah sakit. Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif korelasional dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 79 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. Kriteria inklusi meliputi keluarga inti pasien berusia ≥18 tahun, memberikan perawatan langsung minimal 4 jam per hari, telah merawat pasien kanker payudara stadium III atau IV lebih dari satu bulan, dan bersedia menjadi responden. Data dikumpulkan menggunakan skala stres dan kuesioner kualitas tidur, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Hasil menunjukkan 38 responden (48,1%) mengalami stres berat dan 51 responden (64,6%) memiliki kualitas tidur buruk, dengan hubungan signifikan antara stres dan kualitas tidur (p-value = 0,007 < 0,05). Semakin tinggi tingkat stres, semakin buruk kualitas tidur keluarga. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara stres dengan kualitas tidur pada keluarga yang merawat penderita kanker payudara
Hubungan Self Efficacy Dengan Illness Perception Pada Pasien Kanker Payudara Yang Sedang Menjalani Kemoterapi Di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau Ira Syahputri Siahaan; Nurul Huda; Darwin Karim
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.679

Abstract

Kanker merupakan suatu keadaan terjadinya mekanisme normal bahkan sel - sel kehilangan kendali kanker payudara merupakan salah satu penyebab tingginya akan kesakitan dan kematian didunia. Pasien kanker payudara biasanya banyak mengalami perubahan dalam dirinya dan kehidupan sehari-hari, meliputi; kondisi fisik, psikologis, sejak proses diagnosis hingga akhir hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara self efficacy dan ilness perception pada pasien kanker payudara yang sedang menjalani kemoterpi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Teknik yang digunakan adalah purposive sampling dan sampel penelitian sebanyak 92 pasien di Poli Rawat Jalan Seruni RSUD Arifin Achmad. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner Self Efficacy Scale Breast Cancer (SMSES-BC) untuk Self Efficacy dan Brief Illness Perception Questionnaire (BIPQ) untuk Illnes Perception. Data dianalisis menggunakan uji Chi-square. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa nilai p-value = 0,014, di mana nilai ini lebih kecil dari α (0,05). Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara Self-Efficacy dan Illness Perception pada pasien kanker payudara yang sedang menjalani kemoterapi di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau. Pasien yang percaya pada kemampuannya untuk menjalani pengobatan cenderung memiliki pandangan yang lebih positif terhadap penyakitnya. Artinya, semakin tinggi efikasi diri pasien, semakin baik pula cara mereka memahami dan menangani penyakit sehingga pentingnya dukungan dan edukasi untuk meningkatkan efikasi diri pasien selama menjalani kemoterapi.
Core competencies of nurses in palliative care in the intensive care unit: A literature review Yosi Rianti; Nurul Huda; Erika Erika
Malahayati International Journal of Nursing and Health Science Vol. 9 No. 4 (2026): Volume 9 Number 4
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/minh.v9i4.3272

Abstract

Background: Palliative care is a healthcare approach that aims to improve the quality of life of patients with life-threatening illnesses through symptom management, psychosocial and spiritual support, and effective communication. The need for palliative care in the Intensive Care Unit (ICU) continues to increase alongside the growing complexity of critically ill patients. Nurses, as frontline healthcare providers, play a crucial role in implementing palliative care and therefore require comprehensive and standardized core competencies. Purpose: To examine research findings related to core competencies in palliative care among ICU nurses and to identify the factors influencing these competencies in clinical practice. Method: This study employed a literature review design using a narrative synthesis approach. Literature searching were conducted in PubMed, Scopus, ScienceDirect, SAGE, and Google Scholar for articles published between 2020 and 2025. Among the 312 articles identified, eight studies met the inclusion criteria and were analyzed in depth. Results: The findings indicate that core competencies in palliative care among nurses consistently encompass several key domains, including clinical symptom management, therapeutic communication, team collaboration, ethical and legal aspects, psychosocial and spiritual support, and self-reflection and professionalism. However, the level of nurses’ competencies, particularly in the ICU, remains predominantly in the low to moderate categories. Various factors influencing competency include work experience, level of education, self-directed learning ability, attitudes toward death, and moral distress. In addition, studies have revealed that palliative care education and training remain suboptimal, which contributes to variations in practice and quality of care. Conclusion: Palliative care competencies among ICU nurses still require strengthening, particularly through structured education, competency-based training, and the integration of palliative care into clinical practice. Strengthening educational systems and organizational support is essential for improving the quality of palliative care services in the ICU.
Mindfulness and Lavender Aromatherapy Techniques for Anxiety in Cervical Cancer Patients Those Undergoing Chemotherapy: Literature Review Rosniati Rosniati; Erika Erika; Nurul Huda
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 6 No 6 (2024): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v6i6.3786

Abstract

One disease that is considered very scary in society is cancer. Treatment such as chemotherapy is needed to kill cancer cells. However, chemotherapy also has side effects both physical and psychological. Psychological disorders occur such as feeling anxious or worrying too much about something that can affect the ability to carry out activities. One of the psychological therapies carried out is mindfulness techniques and lavender aromatherapy to reduce anxiety levels in cervical cancer patients undergoing chemotherapy. Mindfulness techniques can provide benefits for cancer patients in achieving relaxation of anxiety during chemotherapy treatment. Apart from mindfulness techniques, providing aromatherapy is also an alternative for reducing anxiety in patients undergoing chemotherapy. The aromatherapy used to reduce anxiety is the aroma of lavender. Lavender aromatherapy can reduce anxiety and stress because it has relaxing properties that can have a positive effect on the nervous system and mood. The scent of lavender can stimulate receptors in the nose that are connected to the brain and stimulate the release of chemicals such as serotonin which can improve mood. The design used is a literature review, articles were collected using academic databases used in this search, namely Pubmed, Google Scholar, Science Direct with research articles published from 2019 - 2023. Based on the articles collected, we obtained review results from 21 journals that show mindfulness. and aromatherapy can help a person manage anxiety, including anxiety that may arise in connection with cervical cancer and the chemotherapy process.
Mindfulness Technique and Lavender Aromatherapy on Anxiety in Cervical Cancer Patients Undergoing Chemotherapy Rosniati Rosniati; Erika Erika; Nurul Huda; Sri Wahyuni; Misrawati Misrawati
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 7 No 2 (2025): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v7i2.5460

Abstract

Mindfulness technique and lavender aromatherapy in reducing anxiety levels in cervical cancer patients undergoing chemotherapy. This research method uses a quasi-experimental design with a one-group pretest-posttest approach. A total of 49 respondents who experienced mild to moderate anxiety were involved in this study. The level of patient anxiety was measured before and after the intervention using the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) questionnaire. The interventions provided included mindfulness technique training and lavender aromatherapy during chemotherapy sessions. The results showed a significant decrease in patient anxiety levels after the intervention, with the average anxiety level dropping from 43.40 to 34.26. The results of the paired sample t-test statistical test showed a p value <0.05, indicating that mindfulness and lavender aromatherapy interventions were effective in reducing anxiety in cervical cancer patients undergoing chemotherapy. Based on these findings, mindfulness and lavender aromatherapy interventions can be integrated as complementary therapies in cancer patient care to reduce anxiety during the treatment process. This study supports Calista Roy's adaptation theory, which emphasizes the importance of environmental interventions in helping patients adapt emotionally and physically to the disease. Suggestions for educational and health institutions are to integrate mindfulness techniques and lavender aromatherapy into nursing curricula and clinical practice to improve the well-being of cancer patients. These techniques can also be applied independently by the community as a simple way to manage everyday anxiety.
Non-Pharmacological Interventions for Pain Management in Palliative Care Patients: A Literature Review Desi Fitriyanti; Nurul Huda; Erika Erika
Indonesian Journal of Global Health Research Vol. 8 No. 5 (2026): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v8i5.2217

Abstract

Pain is one of the most prevalent symptoms experienced by palliative care patients and significantly affects their quality of life. Although various interventions have been developed, pain management remains suboptimal, particularly regarding the implementation of evidence-based non-pharmacological interventions. Therefore, a literature synthesis is needed to identify effective and practical interventions for palliative nursing care. This study aimed to identify non-pharmacological interventions for pain management in palliative care patients. This study employed a Narrative Literature Review design guided by the PRISMA framework. Articles were searched through PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar databases, covering publications from 2020 to 2026. The inclusion criteria included randomized controlled trials (RCTs) and quasi-experimental studies investigating the use of non-pharmacological interventions for pain management in palliative care patients. Article selection was conducted through identification, screening, and eligibility assessment stages. The data were analyzed descriptively using a narrative synthesis approach. A total of six articles meeting the inclusion criteria. The findings indicated that non-pharmacological interventions, including Progressive Muscle Relaxation (PMR), massage therapy, hot and cold compresses, and movement-based relaxation therapy, were effective in reducing pain intensity and improving the quality of life of palliative care patients. PMR demonstrated the most consistent effectiveness in reducing pain while improving sleep quality and daily functioning. Massage therapy and compress interventions also provided additional benefits by enhancing patient comfort. Non-pharmacological interventions are effective in managing pain among palliative care patients. A multimodal approach integrating both physical and psychological aspects is strongly recommended in nursing practice. PMR may be considered a primary intervention due to its effectiveness, ease of implementation, and ability to support patients' self-management of pain over the long term.
Hubungan Dukungan Sosial dengan Kualitas Hidup Pasien Kanker Serviks Nurul Huda; Lufina Fina; Siti Rahmalia Hairani Damanik
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol. 5 No. 1 (2026): March 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v5i1.7276

Abstract

Kanker serviks adalah kanker yang tumbuh di leher rahim, berasal dari epitel atau lapisan permukaan luar leher Rahim dan 99,7% disebabkan oleh virus HPV (Human Papilloma Virus). Setelah seseorang dinyatakan menderita kanker, secara khas akan mengalami ketakutan, kecemasan, depresi dan ketidakberdayaan yang menjadikan kualitas hidupnya menurun. Umumnya pada kondisi seperti ini, seseorang membutuhkan dukungan dari keluarga dan orang sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan sosial terhadap kualitas hidup pasien kanker serviks. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel pada penelitian ini sebanyak 104 orang yang diambil dengan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Medical Outcomes Study: Social Support Survey Instrument (MOS MSSS) dan Translation and Validation of EORTC QLQ-C30 into Indonesian Version for Cancer Patient in Indonesia. Analisis yang digunakan adalah analisis univariat dan analisis bivariat yaitu uji chi square. Hasil analisis univariat menunjukkan sebagian besar responden berada di masa pralansia (46 – 55 tahun) (45,2%), berpendidikan SMP/sederajat (41,4%), merupakan Ibu Rumah Tangga (IRT) (87,5%). Sebagian besar responden mempunyai dukungan sosial yang sedang (62,5%) dan memiliki kualitas hidup yang kurang baik (53,8%). Hasil analisis bivariat dengan uji chi square didapatkan nilai p value 0,000 dengan nilai α 0,05. Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara dukungan sosial dengan kualitas hidup.