Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Practical application of sea urchin shell flour supplementation as a stimulant moulting in vannamei shrimp Heriansah Heriansah; Nursyahran Nursyahran; Nursidi Nursidi; Nur Fajriani Nursida; Najamuddin Najamuddin
Depik Vol 10, No 2 (2021): August 2021
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.10.2.19456

Abstract

The practical application of waste recycling as feed supplement is potentially required by small-scale aquaculturist. Furthermore, some of the flour derived from waste sea urchin shells and in adopted in feed, including Deadema setosum were evaluated to estimate the effect on white shrimp Litopenaeus vannamei moulting. This research required the experimentation of four doses with triplicate supplementation (0, 2, 4, and 6 g 100 g-1 of feed) on shrimps four times daily (12% of body weight) for 35 days test period. The juvenile specimens, characterized by an initial weight of 1.61±0.11 g, were stocked at a density of 12 individuals in a 12 L aquarium. In addition, four compartments were created in each aquarium to facilitate progress observations. The proximate analysis results showed a 53.76±0.27% calcium content in the shell flour, which significantly increased (P0.05) after higher dose supplementation, in the sequential order 18.65±0.13%, 20.04±0.08%, 23.18±0.10%, and 25.04±0.11%. Moreover, the frequency and moulting interval with 4 g doses (16.59%±0.36% day-1 and 5.91±0.18 days-1) were significant (P0.05) and considered the best, compared to 0 g (10.48% ± 0.24% day-1 and 9.97±0.37 days-1), 2 g (13.49%±0.96% day-1 and 8.10±0.29 days-1), and 6 g (13.81%±0.24% day-1 and 7.90±0.06 days-1). In addition, the respective trend pattern for both parameters increased and decreased at 4 g and 6 g, correspondingly. The highest moulting intensity was also obtained with the 4 g doses, at a range of 4 to 6 times, while the lowest (0 g) varied from 3 to 4 times. These sea urchin shell flour was determined to have numerous practical applications as a feed supplement with proven ability to stimulate moulting in vannamei shrimp.Keywords:MoultingCalciumShellSea urchinFeed supplementationVannamei shrimp 
EDUKASI, PEMBIMBINGAN DAN PELATIHAN PEMBUATAN PAKAN BUATAN PADA PEMBUDIDAYA LOBSTER AIR TAWAR DI DESA PACELLEKANG, KECAMATAN PATALLASANG, GOWA, SULAWESI SELATAN Jayadi Jayadi; Harlina Harlina; Wahyuti Wahyuti; Beddu Tang; Nursyahran Nursyahran
Jurnal Abdi Insani Vol 10 No 4 (2023): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v10i4.1228

Abstract

The Community Partnership Program is Bumdes Bumi Pacellekang Sejahtera (BPS) which is located in Pacellekang Village, Patallasang District, Gowa Regency, South Sulawesi. Bumdes BPS has carried out freshwater lobster cultivation as part of the integrated tourism village program activities. The problem with cultivating freshwater lobsters is that there is a 61% reduction in production due to the high cost of artificial feed. The aim of this service is to increase the knowledge and skills of community groups cultivating freshwater lobsters through education, guidance and training in making artificial feed or pellets. Education and training activities were carried out on Thursday 14 September 2023 at the Assembly Hall, Pacellekang Village. The participants were 15 freshwater lobster cultivators, Bumdes administrators and students who carried out field work practices as MBKM participants. The method used in this activity is a combination of theoretical understanding and the Andragogic learning technique approach method by providing education, guidance and training for the application of appropriate technology for making artificial feed. The material presentation was delivered by the resource person, starting from preparing freshwater lobster feed rations and introducing feed raw materials. Next, guidance and training on making artificial feed is carried out, starting from mixing the feed ingredients and the process of making/molding pellets. The raw materials for feed formulation consist of flour: fish, maggot, bamboo shoots, soybeans, taiopan, fine bran, vitamin mix and CMC with a total protein of 39%. Artificial feed produce used a machine with a production capacity of 100-150 kg/hour. Groups of freshwater lobster farmers can now mix, mix and print artificial feed independently. The Community Partnership Program have independently produced artificial feed for freshwater lobsters.
Pengaruh Penggunaan Media Pencucian Telur terhadap Daya Tetas Telur Ikan Patin Daif Kurniawan; Nursyahran Nursyahran; Indra Cahyono
Jurnal Sosial Teknologi Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Sosial dan Teknologi
Publisher : CV. Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jurnalsostech.v3i2.644

Abstract

Ikan patin merupakan jenis ikan air tawar yang mempunyai rasa daging yang enak, lezat, dan gurih, serta tekstur daging yang lembut sehingga banyak masyarakat yang gemar mengonsumsinya maka dari itu perlu peningkatan produksi ikan patin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media pencucian telur terhadap daya rekat dan daya tetas telur ikan patin. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan april 2022 selama 7 hari. Perlakuan yang diuji cobakan adalah Perlakuan pencucian telur menggunakan media batu bata sebanyak 14 gram(A), pencucian telur menggunakan media sekam padi sebanyak 14 gram (B), pencucian telur menggunakan media lumpur sebanyak 14 gram (C). Dan kontrol atau tanpa melakukan perlakuan pencucian telur (D). Variabel penelitian terdiri dari daya rekat telur ikan patin dan juga daya tetas telur ikan patin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik yaitu dari penggunaan media batu bata dengan persentase rata-rata daya rekat yaitu 90,50% dan daya tetas sebesar 68,83%, kemudian di susul oleng perlakuan media lumpur dengan persentase rata-rata daya rekat yaitu 75,33% dengan daya tetas sebesar 58,33%, dan ketiga dari perlakuan media sekam padi dengan persentase rata-rata daya rekat yaitu 61,83% dan daya tetas sebesar 45,17%, dan yang terakhir atau yang paling buruk dari kontrol atau tanpa perlakuan dengan nilai rata-rata daya rekat yaitu 42,67% dan daya tetas sebesar 24,17%. Hasil analisis of varians menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh nyata (P<0.05). Hasil uji W-Tukey menunjukkan adanya perbedaan pengaruh antar perlakuan. Penggunaan media pencucian telur berpengaruh nyata terhadap daya tetas telur ikan patin.
SINTASAN, PERTUMBUHAN DAN PROKSIMAT TUBUH IKAN OPUDI, Telmatherina bonti (Weber and De Beaufort, 1922) SELAMA DOMESTIKASI Nursyahran, Nursyahran; Heriansah, Heriansah; Jayadi, Jayadi; Ilmiah, Ilmiah; Yusuf, Andi
Media Akuakultur Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/ma.19.1.2024.41-46

Abstract

Ikan opudi, Telmatherina bonti, termasuk ikan endemik di Danau Towuti. Ikan opudi sudah menurun populasinya, sehingga perlu dilestarikan dengan domestikasi. Tujuan penelitian adalah untuk mengevaluasi pengaruh pemberian pakan alami yang berbeda terhadap kelangsungan hidup, pertumbuhan dan kandungan proksimat tubuh ikan opudi dengan masa pemeliharaan selama 60 hari.  Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan, yaitu pemberian Daphnia sp., Artemia salina dan  Chironomus sp dengan 3 kali ulangan. Sintasan dan pertumbuhan mutlak dan kandungan protein tubuh ikan yang tertinggi diperoleh pada pemberian Chironomus sp. Sintasan, pertumbuhan berat mutlak, pertumbuhan panjang mutlak, dan kandungan protein tubuh ikan yang diperoleh berturut-turut adalah 83,33±6,67%, 3,53±0,36 g, 4,98±0,50 cm, dan 64,85%. Kualitas air selama pemeliharaan adalah sebagai berikut suhu 27,2 - 28,60C, pH 7,4 - 8,3, oksigen terlarut 6,0 -  8,7 mg/l dan amoniak 0,044 - 0,074 mg/l. Ikan opudi sudah dapat dipelihara secara ex-situ.Opudi fish, Telmatherina bonti is an endemic fish in Lake Towuti. Opudi fish population has decreased, so it needs to be preserved through domestication. The aim of the study was to analyze the effect of different natural feeds on survival, growth and proximate body content of opudi fish during 60 days of rearing. The study was used a completely randomized design with the treatment of Daphnia sp, Artemia salina and Chironomus sp with 3 replications. The highest natural food for survival and absolute growth as well as protein content of fish body was Chironomus sp. The survival, absolute weight growth, absolute length growth, and body protein content of fish obtained were 83.33 ± 6.67 %, 3.53 ± 0.36 g, 4.98 ± 0.50 cm, and 64 .85%, respectively. Water quality during maintenance was as follows: temperature 27.2 - 28.60C, pH 7.4 - 8.3, dissolved oxygen 6.0 - 8.7 mg/l and ammonia 0.044 - 0.074 mg/l. Opudi fish was reared ex-situ.
Analisis Tingkat Pencemaran Industri Tambak Udang Intensif di Perairan Kecamatan Gantarang Kabupaten Bulukumba Suharda, Suharda; Nursyahran, Nursyahran; Hidayani, Mesalina Tri
Lutjanus Vol 28 No 2 (2023): Lutjanus Edisi Desember
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51978/jlpp.v28i2.706

Abstract

Parameter oseanografi merupakan tolak ukur yang menjadi penentu kualitas perairan untuk keberlangsungan organisme perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas perairan dan menganalisis tingkat pencemaran industri tambak udang di perairan Kecamatan Gantarang Kabupaten Bulukumba. Penelitian ini tergolong survei kuantitatif dengan metode purposive sampling melakukan pengukuran parameter oseanografi pada tiga stasiun yaitu pada stasiun I di aliran air sungai, stasiun II di outlet dan stasiun III di dekat budidaya rumput laut. Sampel air dianalisis secara insitu dan eksitu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan PP RI No. 22 Tahun 2021, parameter fisika dan kimia yaitu suhu dan pH masih memenuhi kisaran baku mutu, sedangkan parameter oksigen terlarut dan salinitas tidak sesuai baku mutu yang telah ditetapkan. BOD dan ammonia masih di bawah ambang batas baku mutu, sedangkan parameter kekeruhan, TSS, fosfat, dan nitrat sudah berada diatas ambang batas baku mutu. Indeks pencemaran pada stasiun I pada saat pasang 8,23 dan surut 8,12 dengan tingkat pencemaran sedang, stasiun II pada saat pasang 20,82 dan surut 22,25 dengan tingkat pencemaran berat dan stasiun III pada saat pasang 17,89 dan surut 20,71 dengan tingkat pencemaran berat. Tingkat pencemaran perairan yang paling tinggi berada pada stasiun II.
Efektivitas Penggunaan Lampu Celup Dalam Air (Lacuda) Modifikasi Pada Alat Tangkap Bubu Lipat di Perairan Galesong Utara Angreni, Husni; Nurfadillah, Nurfadillah; Nursyahran, Nursyahran; Jumrawati, Jumrawati
Lutjanus Vol 28 No 2 (2023): Lutjanus Edisi Desember
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51978/jlpp.v28i2.711

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan lampu celup dalam air (Lacuda) modifikasi jenis LED terhadap hasil tangkapan. Manfaat penelitian ini diharapkan sebagai tambahan informasi dan pengembangan ilmu dalam penggunaan teknologi pencahayaan pada alat tangkap bubu lipat. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus sampai September 2021 di Perairan Galesong utara, Kabupaten Takalar. Metode penelitian adalah experimental fishing dan melakukan pemasangan Lacuda LED dengan warna yang berbeda pada setiap bubu yakni: hijau, merah, putih, dan ungu dengan pengamatan 21 kali trip menggunakan umpan ikan peperek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil tangkapan bubu lipat pada Lacuda LED hijau 29,51% (18 ekor), merah 18,03% (11 ekor), putih 21,31% (13 ekor), dan ungu 31,15% (19 ekor). Jenis hasil tangkapan bubu lipat berdasarkan jenis kelamin rajungan (Portunus pelagicus) pada Lacuda LED hijau adalah jantan 28.57% (8 ekor) dan betina 30.30% (10 ekor), lacuda LED berwarna merah jantan 17.86% (5 ekor) dan betina 18.18% (6 ekor), lacuda LED berwarna putih jantan 17.86% (5 ekor) dan betina 24.24% (8 ekor), dan Lacuda LED berwarna ungu jantan 35.71% (10 ekor) dan betina 27,27% (9 ekor). Penggunaan lacuda LED modifikasi termasuk efektif khususnya menggunakan warna ungu, hal ini juga menandakan bahwa rajungan memiliki ketertarikan terhadap cahaya (fototaksis positif) tertentu.
Identifikasi peralatan keselamatan nelayan penangkap dan pengangkut ikan di Pelabuhan Perikanan Untia Wulandari, Sri; Rapi, Nuraeni L; Putra, Dandi Pratama; Nursyahran, Nursyahran
Agrokompleks Vol 24 No 1 (2024): Agrokompleks Edisi Januari
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketersediaan peralatan keselamatan nelayan penangkap dan pengangkut ikan merupakan salah satu faktor utama dalam menjamin keselamatan nelayan saat melakukan operasi penangkapan ikan. Insiden bisa terjadi kapan saja pada nelayan tanpa diduga. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kelengkapan alat keselamatan serta menganalisis tingkat pengetahuan dan keterampilan nelayan yang mendaratkan kapalnya di Pelabuhan Perikanan Untia dalam menggunakan alat keselamatan. Penelitian dilaksanakan selama tiga bulan di Pelabuhan Perikanan Untia Kota Makassar, yakni mulai pada Bulan Agustus hingga Bulan Oktober Tahun 2022. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survei lapangan, wawancara terstruktur dan studi literatur. Wawancara terstruktur dilakukan kepada nelayan purse seine, pancing ulur, dan nelayan pengangkut ikan yang ber-gross tonage kapal < 30GT. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis deskriptif kualitatif dengan menguraikan data dalam bentuk tabel, gambar dan narasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat keselamatan berupa life jacket, radio dan kompas tersedia di setiap kapal responden, namun tidak semua kapal menyiapkan life buoy, APAR, peralatan P3K, echosounder, dan fish finder. Mayoritas kapal nelayan Pelabulan Perikanan Untia juga menyiapkan alat keselamatan konvensional berupa ban dalam, ban luar dan sempang. Selain itu, mayoritas responden mengakui telah mengetahui dan terampil dalam penggunaan dan perawatan alat keselamatan nelayan, meskipun beberapa diantaranya menyatakan berada dalam taraf cukup mengetahui.
Pengaruh perendaman daun mangrove (Rhizophora mucronata) sebagai daya hambat mikroba terhadap nilai angka lempeng total ikan nila (Oreochromis niloticus) Nurhaliza, Siti; Angreni, Husni; Alifia, Frida; Nursyahran, Nursyahran
Agrokompleks Vol 24 No 2 (2024): Agrokompleks Edisi Juli
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51978/japp.v24i2.743

Abstract

Kesegaran ikan merupakan salah satu faktor penting yang sangat menentukan kualitas serta daya awet ikan sebelum diolah menjadi suatu produk. Salah satu cara untuk menghambat kerusakan ikan setelah ditangkap yaitu dengan cara pengawetan alami menggunakan daun mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman daun mangrove sebagai daya hambat mikroba pada ikan nila terhadap nilai Angka Lempeng Total (ALT). Penelitian ini dilakukan mulai bulan Mei sampai bulan Juni 2023. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental. Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 konsentrasi (0%, 25% dan 50%) selama penyimpanan 12 jam. Data dianalisis menggunakan uji t. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa konsetrasi yang terbaik untuk menghambat pertumbuhan mikroba pada ikan nila yaitu pada konsentrasi 50% dengan nilai ALT sebesar 17.000 koloni/g.
ANALISIS KESESUAIAN PERAIRAN RUMPUT LAUT (Kappaphycus alvarezii) DI PERAIRAN DESA KAMBUNONG KABUPATEN MAMUJU TENGAH MENGGUNAKAN CITRA SENTINEL-2A Arpin Hardiana; Ardi Eko Mulyawan; Fathuddin Fathuddin; Nursyahran Nursyahran; Heriansah Heriansah
Jurnal Perikanan Unram Vol 13 No 1 (2023): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v13i1.459

Abstract

Produksi rumput laut dari Provinsi Sulawesi Barat masih lebih rendah dibandingkan Sulawesi Selatan. Untuk meningkatkan produksi, pemetaan potensi wilayah menggunakan penginderaan jauh merupakan salah satu solusi yang baik. Perairan Desa Kambunong di Kabupaten Mamuju Tengah Sulawesi Barat merupakan salah satu wilayah yang berpotensi untuk mengembangkan budidaya rumput laut khususnya di Mamuju Tengah. Penentuan lokasi perairan Budidaya rumput laut harus mempertimbangkan aspek ekologis, dan faktor pembatas budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian perairan Kambunong untuk budidaya rumput laut (Kappaphycus alvarezii) di perairan Desa Kambunong. Metode penelitian yang digunakan adalah eksploratif dengan mengambil data parameter fisik dan kimia oseanografi perairan. Citra satelit yang digunakan adalah citra Sentinel-2A. Hasil penelitian menunjukkan luas perairan untuk kategori sesuai adalah 167 ha, sedangkan untuk kategori tidak sesuai adalah 578 ha.
Prevalensi penyakit pada karang di kawasan transplantasi coral tree nursery, Pulau Barrang Lompo Fathuddin, Fathuddin; Noor, Rahmat Januar; Zulkarnain, Muh; Lapong, Muhammad Imran; Nursyahran, Nursyahran; Megawanto, Rony; Alanshar, Toufik
Agrokompleks Vol 25 No 1 (2025): Agrokompleks Edisi Januari
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51978/japp.v25i1.916

Abstract

Upaya pelestarian karang perlu dilakukan secara berkelanjutan termasuk dalam penyediaan bibit karang menggunakan berbagai metode salah satunya coral tree nursery (CTN). Untuk memperoleh bibit karang berkualitas maka perlu dilakukan pemantauan utamanya terhadap prevalensi penyakit serta gangguan yang berpotensi timbul. Penelitian bertujuan untuk mengetahui gangguan hama dan jenis penyakit yang terdapat pada fragmen karang di media coral tree nursery. Metode penelitian menggunakan eksperimen lapangan dengan menempatkan 3 modul coral tree nursery yang dipasangi fragmen di Pulau Barrang Lompo, Kecamatan Kepulauan Sangkarrang, Kota Makassar. Pengamatan menggunakan kamera macro-underwater camera selama 1 bulan dan disertai pengukuran parameter oseanografi. Hasil pengamatan kemudian dianalisis secara deskriptif. Data parameter oseanografi menunjukkan kondisi yang sesuai untuk biota karang yaitu pH 8,01, suhu 30oC, salinitas 27,67 ppt, arus 0,07 m/s, kecerahan 100%, dan kedalaman 7 m. Spesies karang yang teramati yaitu Acropora cervicornis, Monitipora digitata, Pocilopora demicornis, Porites compressa, dan Echinopora horrida. Gangguan hama yang peneliti identifikasi yaitu alga, sponge, teritip, bekas gigitan ikan, bleaching, kerang, dan cacing kipas (Sabellidae). Jenis penyakit yang peneliti temukan yaitu White Band Disease (WBD) pada karang jenis Acropora cervicornis dengan frekuensi 6 koloni. Keberadaan hama dan penyakit pada fragmen karang yang dibudidayakan perlu memperoleh perhatian sebab secara jangka panjang akan berdampak pada tingkat kelulusan hidup dan pertumbuhan karang.