Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Pemberian Dosis yang Berbeda Melalui Rotifer dan Artemia Diperkaya dengan Probiotik Bacillus Sp Terhadap Tingkat Ketahanan Stres Larva Kepiting Bakau (Scylla olivacea) dan Populasi Bakteri Nursyahran Nursyahran; Hasri Hasri; Dina U
Lutjanus Vol 25 No 2 (2020): Lutjanus Edisi Desember
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51978/jlpp.v25i2.282

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian probiotik Bacillus sp melalui Rotifer dan Artemia dengan dosis yang berbeda terhadap tingkat ketahanan stres zoea kepiting bakau (S. olivacea). Penelitan ini dilaksanakan di Balai Budidaya Air Payau (BBAP), Desa Bontoloe, Kecamatan Galesong Selatan, Kaupaten Takalar, Sulawesi Selatan dari bulan Maret sampai Juni 2012. Hewan uji yang digunakan pada penelitian ini adalah larva kepiting bakau stadia zoea. Larva tersebut diperoleh dari hasil penetasan di Balai Budidaya Air Payau Takalar. Rancangan Percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan 3 ulangan. Data dianalisis dengan menggunakan analisis ragam dan uji tukey digunakan untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketahanan larva kepiting bakau terhadap stres tertinggi dicapai pada perlakuan dengan dosis 0.1 g/L (perlakuan C) dan terendah pada perlakuan dengan dosis 0.0 g/L (perlakuan A). Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perbedaan dosis probiotik Bacillus sp melalui rotifer dan artemia berpengaruh sangat nyata (P<0.01) terhadap tingkat stres larva kepiting bakau stadia zoea sampai megalopaSementara kualitas air Suhu media untuk semua perlakuan berkisar 26.7-29.4 oC, oksigen terlarut 5,37 – 6,37 ppm, pH 7.5-8.0 dan amonia 0.003-0.009 ppm
Pengaruh Suhu Terhadap Kualitas Telur Ikan Mas Koki (Carassius auratus) Faradilla Sandi; Nursyahran Nursyahran
Lutjanus Vol 26 No 1 (2021): Lutjanus Edisi Juni
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51978/jlpp.v26i1.413

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu penetasan dan daya tetas telur ikan mas koki (Carassius auratus) diberikan suhu yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Juli sampai Agustus 2019 di UPTD Balai Benih Ikan (BBI) Air Tawar Bantimurung Kabupaten Maros. Metode peneltian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Sampel diambil dengan teknik acak sederhana. Perlakuan yang diuji adalah suhu 250C sebagai control (perlakuan A), suhu 280C (perlakuan B), suhu 300C (perlakuan C)., dan 320C (perlakuan D). Parameter yang diuji adalah waktu penetasan dan daya tetas telur. Analisis data menggunakan analisis ragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu penetasan tertinggi diperoleh pada perlakuan C 34.2 detik, disusul pelakuan D 44.09 detik tidak berbeda jauh pada pada perlakuan B 46.45 detik dan yang terendah 66.92 detik. Daya tetas telur tertinggi diperoleh pada perlakuan C sebesar 93,81%, disusul perlakuan D 89.18% tidak berbeda jauh dengan perlakuan B sebesar 82.33% dan yang terendah pada perlakuan A sebesar 80.93%. hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian suhu yang berbeda berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap waktu penetasan dan daya tetas telur. Suhu berpengaruh terhadap waktu penetasan dan daya tetas telur ikan mas koki (Carrasius auratus) dengan suhu inkubasi 300C
Kondisi Tutupan Karang Perairan Kepulauan Tanakeke Kabupaten Takalar Sri Wulandari; Nursyahran Nursyahran; Mesalina Tri Hidayani; Nurwina Nurwina
Lutjanus Vol 27 No 1 (2022): Lutjanus Edisi Juni
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51978/jlpp.v27i1.449

Abstract

Terumbu karang mempunyai nilai dan arti yang sangat penting dari segi sosial, ekonomi maupun budaya, pemantauan tutupan terumbu karang penting dilakukan untuk mengetahui tingkat kesehatan ekosistem karang tujuan pengelolaan. Tanakeke merupakan salah satu gugusan kepulauan sebagian besar perairannya dikelilingi oleh ekosistem terumbu karang yang dimanfaatkan oleh nelayan sebagai area Fishing Ground untuk menangkap ikan dan sebagai alur pelayaran transportasi kapal. Namun beberapa penelitian yang telah terpublikasikan sebelumnya lebih fokus pada komunitas ikan di sekitar terumbu karang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi tutupan karang dengan menggunakan Metode Point Intercept Transect (PIT), metode ini merupakan salah satu metode yang dikembangkan untuk memantau kondisi karang hidup dengan cara menghitung persen tutupan substrat dasar secara acak. Penelitian ini dilakukan pada Bulan Oktober 2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekosistem terumbu karang yang berada di Perairan Kepulauan Tanakeke khususnya di sebelah timur-timur laut, di sebelah barat laut, dan di sebelah timur laut Kecamatan Kepulauan tergolong karang rusak, karang baik, dan karang sedang. Pada stasiun 1, tutupan karang jenis Acropora sebesar 18% dan tutupan karang jenis Non-Acropora sebesar 22%. Pada stasiun 2, tutupan karang jenis Acropora sebesar 70% dan tutupan karang jenis Non-Acropora sebesar 18%. Sedangkan pada stasiun 3, tutupan karang jenis Acropora sebesar 28% dan tutupan karang jenis Non-Acropora sebesar 48%.
Optimasi Kinerja Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) dengan Suplementasi Daun Kelor dan Probiotik pada Pakan Buana Basir; Nursyahran Nursyahran; Jufiyati Jufiyati; Ika Apriliani
Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan Vol 17, No 1 (2022): Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan
Publisher : University of PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/jipbp.v17i1.8333

Abstract

Permasalahan yang sering dijumpai dalam budidaya yaitu penggunan pakan komersial yang cukup tinggi, mencapai sekitar 60-70% dari biaya produksi yang dikeluarkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penambahan daun kelor dan probiotik pada pakan terhadap performa udang vaname. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai Juli 2020. Metode penelitian menggunakan RAL dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan yaitu, pakan komersil, pakan komersil dengan penambahan daun kelor, pakan komersil dengan penambahan probiotik dan pakan komersil dengan penambahan daun kelor dan probiotik. Variabel penelitian adalah frekuensi molting, aktivitas enzim, dan pertumbuhan udang vaname. Analisis data menggunakan Anova dan uji W-Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap frekuensi molting dan pertumbuhan udang vaname. Perlakuan terbaik untuk semua parameter penelitian yaitu pada penambahan daun kelor dan probiotik, dengan frekuensi molting sebesar 2 kali/hari, aktivitas enzim sebesar 0,179 U/mL, pertumbuhan spesifik sebesar 7,59 %/hari dan pertumbuhan bobot mutlak sebesar 2,28 gram. Penambahan tepung daun kelor dan probiotik pada pakan dapat meningkatkan frekuensi molting, aktivitas enzim, dan pertumbuhan udang vanamei.
Analisis Kelayakan Usaha Penangkaran Kakap Putih (Lates calcarifer) Arni Arni; Nuraeni L Rapi; Muh. Ikramullah Akmal; Nursyahran Nursyahran
Lutjanus Vol 27 No 2 (2022): Lutjanus Edisi Desember
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini untuk menganalisis kelayakan usaha penangkaran ikan kakap putih (Lates calcarifer) di Pulau salemo menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui survei yaitu melakukan pengamatan langsung dan metode kuantitatif melalui wawancara dengan responden. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha penangkaran ikan kakap putih (Lates calcarifer) sistem KJA di Pulau Salemo diperoleh nilai R/C ratio sebesar 1,34, keuntungan sebesar Rp. 2.604.504,-, NPV rata-rata Rp. 4.790.393, dan Net B/C ratio 1,27 yang berarti usaha penangkaran ikan kakap putih (Lates calcarifer) di Pulau Salemo dapat dikatakan layak, karena hasil perhitungan yang dilakukan memberikan manfaat secara finansial.
Practical application of sea urchin shell flour supplementation as a stimulant moulting in vannamei shrimp Heriansah Heriansah; Nursyahran Nursyahran; Nursidi Nursidi; Nur Fajriani Nursida; Najamuddin Najamuddin
Depik Vol 10, No 2 (2021): August 2021
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.408 KB) | DOI: 10.13170/depik.10.2.19456

Abstract

The practical application of waste recycling as feed supplement is potentially required by small-scale aquaculturist. Furthermore, some of the flour derived from waste sea urchin shells and in adopted in feed, including Deadema setosum were evaluated to estimate the effect on white shrimp Litopenaeus vannamei moulting. This research required the experimentation of four doses with triplicate supplementation (0, 2, 4, and 6 g 100 g-1 of feed) on shrimps four times daily (12% of body weight) for 35 days test period. The juvenile specimens, characterized by an initial weight of 1.61±0.11 g, were stocked at a density of 12 individuals in a 12 L aquarium. In addition, four compartments were created in each aquarium to facilitate progress observations. The proximate analysis results showed a 53.76±0.27% calcium content in the shell flour, which significantly increased (P0.05) after higher dose supplementation, in the sequential order 18.65±0.13%, 20.04±0.08%, 23.18±0.10%, and 25.04±0.11%. Moreover, the frequency and moulting interval with 4 g doses (16.59%±0.36% day-1 and 5.91±0.18 days-1) were significant (P0.05) and considered the best, compared to 0 g (10.48% ± 0.24% day-1 and 9.97±0.37 days-1), 2 g (13.49%±0.96% day-1 and 8.10±0.29 days-1), and 6 g (13.81%±0.24% day-1 and 7.90±0.06 days-1). In addition, the respective trend pattern for both parameters increased and decreased at 4 g and 6 g, correspondingly. The highest moulting intensity was also obtained with the 4 g doses, at a range of 4 to 6 times, while the lowest (0 g) varied from 3 to 4 times. These sea urchin shell flour was determined to have numerous practical applications as a feed supplement with proven ability to stimulate moulting in vannamei shrimp.Keywords:MoultingCalciumShellSea urchinFeed supplementationVannamei shrimp 
Morphometric characteristic of seagrass Thalassia hemprichii in the waters of Barrang Lompo island and Kodingareng Lompo island Riskawati Putri; Nursyahran Nursyahran; Mesalina Tri Hidayani
Akuatikisle: Jurnal Akuakultur, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Wuna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.akuatikisle.7.1.45-51

Abstract

Seagrass beds in the waters of Barrang Lompo Island and Kodingareng Lompo have their own characteristics, especially for the type of Thalassia hemprichii. The purpose of this study was to determine the morphometric characteristics of seagrass Thalassia hemprichii and the environmental conditions of the waters on Barrang Lompo Island and Kodingareng Lompo Island. This research was conducted in June-July 2022 in the waters of Barrang Lompo Island and Kodingareng Lompo Island. The research method used was purposive sampling. Morphometrics of seagrass Thalassia hemprichii on Barrang Lompo Island at station 1 average leaf length 10.88 cm, leaf width 1 cm, rhizome length 5 cm, root length 6.46 cm, number of roots 8. At station 2 leaf length measures 7.5 cm, leaf width 1 cm, rhizome length 7.84 cm, root length 6.64 cm and number of roots 5. Meanwhile on Kodingareng Lompo Island at station 1 the size of leaf length was 10.33 cm, leaf width 1 cm, rhizome length 4 cm , root length 4.33 cm and number of roots 5. At station 2 the size of leaf length was 9.63 cm, leaf width 1 cm, rhizome length 4.85 cm, root length 4 cm, number of roots 5. Morphometrics of seagrass Thalassia hemprichii on islands Barrang Lompo and Kodingareng Lompo islands did not show a significant difference. The environmental conditions of the waters on both islands are still in optimum conditions for seagrass growth for the parameters of current speed and brightness.
Community structure of macrozoobenthos in seagrass bed on Barrang Lompo Island Ayu Ayu; Nursyahran Nursyahran; Mesalina Tri Hidayani
Akuatikisle: Jurnal Akuakultur, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Wuna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.akuatikisle.7.1.53-58

Abstract

Macrozoobenthos are bottom animals that play an important role in the productivity of waters in seagrass beds. This study aims to determine the species composition, density of macrozoobenthos, community structure of macrozoobenthos and the relationship between seagrass density and density of macrozoobenthos. The research method used is purposive sampling method, this method is taken based on certain reasons and criteria. This research was conducted in June-July 2022 on Barrang Lompo Island. Sangkarrang District, Makassar City. There were 26 species found consisting of 4 classes namely Bivalvia, Gastropods, Chepalopods and Crustacea with a total of 283 ind and dominated by the Gastropod class, both from the number of species and individual density. Macrozoobenthos community structure on Barrang Lompo Island at station I and II with a moderate diversity index (H'), moderate uniformity index (E') and low dominance index (D). The types of seagrass found at stations I and II were Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, and Cymodocea rotundata. The regression results of the relationship between seagrass density and macrozoobenthos density on Barrang Lompo Island show a weak relationship, which means that seagrass density has no relationship with macrozoobenthos density but macrozoobenthos density is influenced by physical and chemical factors of the waters and the type of sandy substrate.
Morphometric characteristic of seagrass Thalassia hemprichii in the waters of Barrang Lompo island and Kodingareng Lompo island Riskawati Putri; Nursyahran Nursyahran; Mesalina Tri Hidayani
Akuatikisle: Jurnal Akuakultur, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Wuna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.akuatikisle.7.1.45-51

Abstract

Seagrass beds in the waters of Barrang Lompo Island and Kodingareng Lompo have their own characteristics, especially for the type of Thalassia hemprichii. The purpose of this study was to determine the morphometric characteristics of seagrass Thalassia hemprichii and the environmental conditions of the waters on Barrang Lompo Island and Kodingareng Lompo Island. This research was conducted in June-July 2022 in the waters of Barrang Lompo Island and Kodingareng Lompo Island. The research method used was purposive sampling. Morphometrics of seagrass Thalassia hemprichii on Barrang Lompo Island at station 1 average leaf length 10.88 cm, leaf width 1 cm, rhizome length 5 cm, root length 6.46 cm, number of roots 8. At station 2 leaf length measures 7.5 cm, leaf width 1 cm, rhizome length 7.84 cm, root length 6.64 cm and number of roots 5. Meanwhile on Kodingareng Lompo Island at station 1 the size of leaf length was 10.33 cm, leaf width 1 cm, rhizome length 4 cm , root length 4.33 cm and number of roots 5. At station 2 the size of leaf length was 9.63 cm, leaf width 1 cm, rhizome length 4.85 cm, root length 4 cm, number of roots 5. Morphometrics of seagrass Thalassia hemprichii on islands Barrang Lompo and Kodingareng Lompo islands did not show a significant difference. The environmental conditions of the waters on both islands are still in optimum conditions for seagrass growth for the parameters of current speed and brightness.
Community structure of macrozoobenthos in seagrass bed on Barrang Lompo Island Ayu Ayu; Nursyahran Nursyahran; Mesalina Tri Hidayani
Akuatikisle: Jurnal Akuakultur, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Wuna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.akuatikisle.7.1.53-58

Abstract

Macrozoobenthos are bottom animals that play an important role in the productivity of waters in seagrass beds. This study aims to determine the species composition, density of macrozoobenthos, community structure of macrozoobenthos and the relationship between seagrass density and density of macrozoobenthos. The research method used is purposive sampling method, this method is taken based on certain reasons and criteria. This research was conducted in June-July 2022 on Barrang Lompo Island. Sangkarrang District, Makassar City. There were 26 species found consisting of 4 classes namely Bivalvia, Gastropods, Chepalopods and Crustacea with a total of 283 ind and dominated by the Gastropod class, both from the number of species and individual density. Macrozoobenthos community structure on Barrang Lompo Island at station I and II with a moderate diversity index (H'), moderate uniformity index (E') and low dominance index (D). The types of seagrass found at stations I and II were Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, and Cymodocea rotundata. The regression results of the relationship between seagrass density and macrozoobenthos density on Barrang Lompo Island show a weak relationship, which means that seagrass density has no relationship with macrozoobenthos density but macrozoobenthos density is influenced by physical and chemical factors of the waters and the type of sandy substrate.