Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Location of Signs and Symptoms of Gout Arthritis Patients Rumambi, Magda Fiske; Sitio, Rosiana; Sidauruk, Sari Putri Rohani; Kristanti, Stephany Angeline; Pangkey, Ballsy Cicilia Albertina
Holistic Nursing and Health Science Vol 8, No 1 (2025): June
Publisher : Master of Nursing, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/hnhs.8.1.2025.32-41

Abstract

Gouty arthritis is a joint disorder that is on the rise among adults worldwide experiencing pain and swelling. Gouty arthritis often causes significant pain and swelling that can limit physical activity due to joint damage. Recently, lack of detailed information regarding the location pain and swelling. Therefore, this study aimed to identify characteristics (age, gender, BMI, and alcohol consumption), pain location and swelling location in patients with gouty arthritis at a private hospital in Western Indonesia. This study used quantitative methods with a retrospective documentation design. The sampling technique was total sampling, involving 47 medical records from one of the private hospitals in Western Indonesia. Instrument, data analysis The results of the study showed that pain most frequently occurred in the infrapatellar bursa (34%), while swelling was not found in 34% of patients with gout arthritis. The instrument used was a form sheet consisting of demographic data and information regarding location of pain and swelling. The data was analyzed using univariate analysis. Results show that the most pain and swelling were found in the infrapatellar bursa. Further research is recommended to explore effective interventions for managing these symptoms. The high incidence of gouty arthritis in individuals aged 55–65 years highlights the importance of prioritizing screening and early detection efforts for this age group. Given the high frequency of pain and swelling complaints among patients, further research on appropriate management strategies is essential for individuals with gouty arthritis.
Karakteristik & Diagnosis Keperawatan Pasien Covid-19: Studi Dokumentasi Juhdeliena, Juhdeliena; Pangkey, Ballsy Cicilia Albertina; Hutasoit, Elissa Oktoviani; Hutasoit, Exadina Romaito
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 7 (2023): Volume 3 Nomor 7 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.548 KB) | DOI: 10.33024/mahesa.v3i7.10723

Abstract

ABSTRACT Health workers are at the forefront of health services needed for suspected and confirmed COVID-19 patients. Nurses have considerable control over conducting initial examinations of patients. The initial examination is carried out by nurses as part of the nursing process. Knowing the characteristics of COVID-19 patients who are treated will help nurses formulate nursing diagnoses, intervene, and evaluate.  Analyze patient characteristics and nursing diagnoses of COVID-19 patients. The research design was descriptive-quantitative with a retrospective documentation study approach. The sample amounted to 40 medical record documents. The results of this study found that cough (75%) was the main symptom complained of by COVID-19 patients, with the average age of COVID-19 patients treated being 48.13 years, the mean systolic blood pressure being 132.25 mmHg, the mean diastolic blood pressure being 81.03 mmHg, the mean temperature at initial admission being 36.6 oC, and the mean length of stay being 13.1 days. The nursing diagnosis most often raised in patients with COVID-19 is airway clearance ineffectiveness (45%). There were 18 characteristics of COVID-19 patients obtained during the initial assessment, and seven nursing diagnoses were raised when the patient was hospitalized. Keywords: Nursing Diagnosis, COVID-19 Patient Characteristics, COVID-19 Pandemic  ABSTRAK Tenaga Kesehatan menjadi lini garis terdepan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan pada pasien suspek maupun terkonfirmasi COVID-19. Perawat memegang kendali yang cukup besar dalam melakukan pemeriksaan awal pada pasien. Pemeriksaan awal yang dilakukan oleh perawat sebagai bagian dari proses keperawatan. Dengan mengetahui karakteristik pasien COVID-19 yang dirawat maka akan membantu perawat untuk merumuskan diagnosis keperawatan, melakukan intervensi dan evaluasi. Menganalisis karakteristik pasien dan diagnosis keperawatan pasien COVID-19. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan studi dokumentasi retrospektif. Sampel berjumlah 40 dokumen rekam medis. Hasil penelitian ini didapatkan batuk (75%) menjadi gejala utama yang dikeluhkan oleh pasien COVID-19, dengan rerata usia pasien Covid- 19 yang dirawat adalah 48,13 tahun, rerata tekanan darah sistolik 132,25 mmHg, rerata tekanan darah diastolic 81,03 mmHg, rerata suhu saat awal masuk 36,6oC, rerata lama rawat 13,1 hari. Untuk diagnosis keperawatan yang paling sering diangkat pada pasien dengan COVID-19 adalah ketidakefektifan bersihan jalan napas (45%). Terdapat 18 karakteristik pasien COVID-19 yang didapatkan saat pengkajian awal, dan tujuh diagnosis keperawatan yang diangkat saat pasien menjalani rawat inap. Kata Kunci: Diagnosis Keperawatan, Karakteristik Pasien COVID-19, Pandemi COVID-19
Kajian Literatur: Gambaran Tingkat Risiko Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada Perawat Pangkey, Ballsy Cicilia Albertina; Hutasoit, Exadina Romaito; Nenohaifeto, Felix Irianto; Juhdeliena, Juhdeliena; Sari, Elizabeth Christina Yunita
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 8 (2023): Volume 3 Nomor 8 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v3i8.10731

Abstract

ABSTRACT Musculoskeletal Disorders (MSDs) are disorders of pain, discomfort, and or even injury to bones, joints, ligaments, and other soft tissues, such as nerves and blood vessels due to prolonged and excessive use (Kim, 2014). From the Occupational Safety and Health Administration (OSHA) data in 2010, nurses have the highest MSDs of 27,020 cases. MSDs complaints if left untreated can cause dislocation of the spine which causes pain and can be persistent (Suma'mur, 2014). The purpose of this study was to identify the level of risk of MSDs in nurses and the body parts of nurses who often experience MSDs. This research uses the literature review method. The databases used are Google Scholar, EBSCO, Garuda, and Science Direct with the keywords used are the risk level of Musculoskeletal Disorders (MSDs) in nurses, Musculoskeletal Disorders (MSDs) in nurses, Musculoskeletal Disorders (MSDs) and nurses. Inclusion criteria for articles within the last ten years, Indonesian or English, full text, using quantitative methods, and Musculoskeletal Disorders (MSDs) in nurses. The exclusion criteria for this study were the results of research using the literature review method and articles with a qualitative research design. The data analysis method used was the PRISMA diagram method. From 12 articles, researchers found that the risk level of MSDs in nurses is high and higher than other health workers. MSDs in nurses often occur in the lower back, neck, right shoulder and knee. The level of risk of MSDs in nurses is high so intervention is needed by providing tools for transferring patients and providing programs for nurses to maintain the correct ergonomic position during work. Keywords: Musculoskeletal Disorders, Nurses  ABSTRAK Musculoskeletal Disorders (MSDs) merupakan gangguan rasa sakit, ketidaknyamanan, dan atau bahkan cedera pada tulang, sendi, ligamen, dan jaringan lunak lainnya, seperti saraf dan pembuluh darah akibat penggunaan yang terlalu lama dan berlebihan (Kim, 2014). Dari data Occupational Safety and Health Administration (OSHA) tahun 2010, perawat memiliki MSDs tertinggi yaitu 27.020 kasus. Keluhan MSDs jika terus dibiarkan dapat menyebabkan dislokasi pada tulang punggung yang menimbulkan rasa nyeri dan dapat bersifat menetap (Suma’mur, 2014). Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi gambaran tingkat risiko MSDs pada perawat serta bagian tubuh perawat yang sering mengalami MSDs. Penelitian ini menggunakan metode kajian literatur. Database yang digunakan adalah Google Scholar, EBSCO, Garuda, dan Science Direct dengan kata kunci yang digunakan yaitu tingkat risiko Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada perawat, Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada perawat, Musculoskeletal Disorders (MSDs) dan perawat. Kriteria inklusi artikel dalam rentang sepuluh tahun terakhir, Bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, full text, menggunakan metode kuantitatif, dan Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada perawat. Kriteria eksklusi penelitian ini adalah hasil penelitian dengan metode kajian literatur dan artikel dengan desain penelitian kualitatif. Metode analsisi data yang digunakan adalah metode diagram PRISMA. Dari 12 artikel peneliti mendapatkan tingkat risiko MSDs pada perawat tinggi dan lebih tinggi dibandingkan tenaga kesehatan lainnya. MSDs pada perawat sering terjadi pada bagian punggung bawah, leher, bahu kanan dan lutut. Tingkat risiko MSDs pada perawat tinggi sehingga diperlukan intervensi dengan menyediakan alat untuk transferring pasien dan memberikan program untuk perawat agar menjaga posisi ergonomis yang benar selama bekerja. Kata Kunci: Musculoskeletal Disorders, Perawat
MEMBANGUN GENERASI TANGGAP DARURAT: EDUKASI DAN PELATIHAN FIRST AID PEMUDA DAN REMAJA GEREJA BETHESDA TO'OH AMABI OEFETO NTT Pangkey, Ballsy Cicilia Albertina; Olang, Janwar; Paula, Veronica; Fangidae, Erniyati
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 8 (2025): Penguatan Ekonomi Masyarakat Berbasis Ekologis untuk Mencapai Keberlanjutan Menuju Ind
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37695/pkmcsr.v8i0.2657

Abstract

Pertolongan pertama (First Aid) merupakan upaya awal yang dilakukan sebelum dibawa ke Rumah Sakit ketika seseorang mengalami masalah kesehatan seperti kecelakaan, pingsan, digigit serangga, patah tulang, pendarahan, kejang ataupun kondisi yang mengganggu kesehatan seseorang. Kecelakaan maupun gangguan kesehatan dapat terjadi di mana saja dan tidak dapat diprediksi secara pasti, dapat terjadi di rumah maupun lingkungan lainnya termasuk gereja. Pemuda dan remaja di gereja bisa saja menghadapi cedera, patah tulang, pingsan, serta situasi yang akan menimbulkan masalah bagi diri mereka sendiri dan orang lain. Oleh karena itu, langkah-langkah pertolongan pertama secara benar sangat penting. Tujuan: Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini berfokus pada memberikan edukasi dan pelatihan tentang pertolongan pertama di gereja untuk meningkatkan keselamatan jemaat. Metode: Kegiatan PkM menggunakan metode penyuluhan, pelatihan, dan diskusi. Penyuluhan dan pelatihan dipaparkan oleh tim PkM Fakultas Keperawatan UPH. Kegiatan ini diikuti oleh pemuda dan remaja Gereja Bethesda To'oh Amabi Oefeto NTT yang berjumlah 30 orang, dan kegiatan dievaluasi menggunakan pre dan post-test. Hasil: Kegiatan PkM terlaksana dengan baik dan sesuai dengan jadwal yang direncanakan dengan hasil pre/post-test menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan remaja setelah diberikan edukasi dan pelatihan dengan nilai rata-rata pre-test 42.91 dan post-test 53.95. Kegiatan yang dilakukan dirasakan berdampak bagi remaja dan pemuda dan diharapkan dilakukan secara berkelanjutan.
EDUKASI PENYAKIT KRONIK DAN PEMERIKSAAN KESEHATAN DI MASYARAKAT DESA FATUKNUTU KABUPATEN KUPANG Olang, Janwar; Saputra, Bima Adi; Fangidae, Erniyati; Pangkey, Ballsy C. A.; Paula, Veronica
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 8 (2025): Penguatan Ekonomi Masyarakat Berbasis Ekologis untuk Mencapai Keberlanjutan Menuju Ind
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37695/pkmcsr.v8i0.2599

Abstract

Abstrak Penyakit kronik berkembang secara bertahap, berlangsung lama, dan sering kali tidak menunjukkan gejala awal, sehingga terkadang masyarakat tidak menyadari akan hal tersebut. Hipertensi merupakan kondisi dimana tekanan darah sistolik melebihi 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90 mmHg, namun seringkali tidak menimbulkan gejala dan dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung, gagal ginjal dan stroke. Tujuan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai hipertensi dan diabetes melitus, serta pentingnya gaya hidup sehat dan pemeriksaan kesehatan rutin. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan, pemeriksaan kesehatan serta pre-dan post test. Hasil menunjukkan peserta didominasi usia 51-60 tahun (21.49%) dengan laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan. Nilai rata-rata pre-test adalah 32,87% dengan nilai terendah 20 dan tertinggi 70 sedangkan rata-rata post-test meningkat menjadi 78,16% dengan nilai terendah 60 dan tertinggi 100. Pemeriksaan tekanan darah menunjukkan 43,80% kategori normal dan 28,10% pre-hipertensi, kadar gula darah menunjukkan 91,74% dalam batas normal (70–200 mg/dL), kadar asam urat, 63,64% berada dalam batas normal (1,5–7 mg/dL) dan pemeriksaan kadar kolesterol kolesterol 69,42% dalam batas normal (<200 mg/dL). Diharapkan masyarakat dapat mengaplikasikan pola hidup sehat guna mencegah terjadinya penyakit kronik dan komplikasinya. Kata kunci: Edukasi, Penyakit Kronik, Pemeriksaan Kesehatan
EDUKASI HIPERTENSI DAN LATIHAN SLOW DEEP BREATHING PADA LANSIA Arkianti, Maria Maxmila Yoche; Diannita, Catharina Guinda; Paula, Veronica; Pangkey, Ballsy C. A.; Suntoro, Suntoro
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 8 (2025): Penguatan Ekonomi Masyarakat Berbasis Ekologis untuk Mencapai Keberlanjutan Menuju Ind
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37695/pkmcsr.v8i0.2650

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang masih memerlukan penanganan. Di wilayah Asia Tenggara, dua pertiga dari semua kematian disebabkan akibat penyakit tidak menular. Salah satu faktor risiko dari hipertensi adalah usia. Riwayat hipertensi dalam keluarga, usia di atas 65 tahun. Provinsi Kalimantan Selatan menduduki peringkat pertama dari provinsi-provinsi yang ada di Indonesia. Upaya untuk menurunkan tekanan darah dapat dilakukan secara farmakologi dan non farmakologi. Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan dan membantu lansia dalam melakukan pencegahan penyakit tidak menular bagi dirinya sendiri maupun keluarga maupun komunitasnya serta mengatasi hipertensi tanpa obat-obatan. Metode pelaksanaan yaitu melalui edukasi kesehatan dan latihan dalam satu kali pertemuan. Hasil dari kegiatan ini, peserta mayoritas perempuan (68%), berusia antara 49-84 tahun, tekanan darah peserta rata-rata dalam klasifikasi hipertensi terisolasi,tekanan darah minimum peserta,berada dalam klasifikasi normal dan tekanan darah maksimun peserta berada pada klasifikasi hipertensi stage 2. Implikasi dari kegiatan ini, peserta menyadari terkait dengan pencegahan dan pengendalian terkait hipertensi. Peserta dapat melakukan latihan slow deep breathing secara mandiri dan teratur di rumah.
FROM SECURITY TO SAFETY HERO: EDUKASI DAN PELATIHAN PERTOLONGAN PERTAMA Simarmata, Jon Parulian; Pangkey, Ballsy C. A.; Tompunu, Marianna Rebecca Gadis; Pangemanan, Alice Yvonne Yovita; Sihombing, Yulia
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 8 (2025): Penguatan Ekonomi Masyarakat Berbasis Ekologis untuk Mencapai Keberlanjutan Menuju Ind
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37695/pkmcsr.v8i0.2660

Abstract

Background: First aid is the initial action taken before someone is taken to hospital when they experience health problems such as accidents, fainting, insect bites, broken bones, bleeding, or other conditions. Accidents and health problems can occur anywhere, whether at home or at work. A security officer may face injuries, broken bones, fainting, and situations that will cause problems for themselves or others. Therefore, proper first aid measures are very important. First aid is so important that basic first aid training must also be known by security officers. Objective: This Community Service programme focuses on providing education and training on first aid to security personnel to improve the safety of themselves, visitors, and other employees. Method: The community service activity uses a method of outreach, discussion, and training. The outreach and training are presented by the community service team from the Faculty of Nursing, Pelita Harapan University. This activity was attended by 100 security personnel from PT BSS Jakarta and evaluated using a pre-post test. Results: The community service activity was carried out successfully with a pre-test score of 66.02 and a post-test score of 83.47. The activity showed an increase in knowledge after education and training were provided. It is hoped that the community service first aid activity can be carried out on an ongoing basis.
SEHAT DAN BUGAR DI USIA SENJA : EDUKASI DAN LATIHAN PEREGANGAN (STRETCHING) BAGI LANSIA DI TANJUNG PRIOK JAKARTA UTARA Midu, Sergio Yudi; Saputra, Bima Adi; Pangkey, Ballsy C. A.; Olang, Janwar; Paula, Veronica; Saputri, Agustina
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 8 (2025): Penguatan Ekonomi Masyarakat Berbasis Ekologis untuk Mencapai Keberlanjutan Menuju Ind
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37695/pkmcsr.v8i0.2767

Abstract

Penuaan merupakan proses alami yang menyebabkan penurunan fungsi jaringan tubuh, termasuk fleksibilitas otot dan sendi. Penurunan fleksibilitas dapat meningkatkan risiko cedera pada lansia. Latihan peregangan merupakan salah satu metode yang efektif untuk menjaga fleksibilitas dan mengurangi nyeri sendi pada usia lanjut. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan lansia tentang kesehatan tulang dan sendi serta keterampilan melakukan latihan peregangan secara mandiri melalui kegiatan edukasi dan praktik langsung. Metode: Kegiatan pengabdian Masyarakat Fakultas Keperawatan Universitas Pelita Harapan dilaksanakan di Tanjung Priok, Jakarta, dengan melibatkan 85 lansia. Intervensi dilakukan melalui edukasi kesehatan dan latihan peregangan. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test pengetahuan, pemeriksaan kesehatan, serta penilaian kepuasan peserta menggunakan skala Likert. Hasil: Terdapat peningkatan skor rata-rata pengetahuan dari 82,96 menjadi 85,75 setelah edukasi. Pemeriksaan kesehatan menunjukkan 37,6% lansia memiliki tekanan darah tidak normal, 28,2% memiliki kadar kolesterol tinggi, dan 88,2% memiliki kadar gula darah sewaktu dalam batas normal. Evaluasi kepuasan menunjukkan 90% peserta menilai kegiatan secara keseluruhan, latihan peregangan, dan sesi diskusi sebagai “Sangat Baik” . Edukasi dan latihan peregangan terbukti efektif meningkatkan pengetahuan lansia tentang kesehatan otot dan sendi. Kegiatan ini mendapat respons sangat positif dan layak untuk diterapkan secara berkala sebagai upaya promotif dan preventif dalam meningkatkan kualitas hidup lansia.