Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN KELIMPAHAN EPIFAUNA DENGAN TINGKAT KERAPATAN LAMUN YANG BERBEDA DI PERAIRAN BANDENGAN JEPARA Wulan, Sonia; Rudiyanti, Siti; Sulardiono, Bambang
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.262 KB)

Abstract

ABSTRAK Ekosistem padang lamun di Perairan Bandengan Jepara penting bagi biota akuatik khususnya epifauna. Kerapatan lamunakan mempengaruhi bahan organik yang digunakan oleh epifauna, selain itu kerapatan lamun juga dapat mengendapkan bahan organik yang akan mempengaruhi kelimpahan epifauna. Penelitian dilakukan pada bulan Maret 2016 di Perairan Bandengan yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kelimpahan epifauna dengan kerapatan lamun yang berbeda di Perairan Bandengan Jepara serta hubungan antara kandungan bahan organik dengan tingkat kerapatan lamun di Perairan Bandengan Jepara. Metode penelitian yang digunakan yaitu pendekatan survei dengan metode sampling yaitu Purposive Random sampling. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 1 jenis lamun yang ditemukan di Pantai Bandengan  yaitu Thalassia sp. dengan kerapatan pada stasiun jarang (A) 178 ind/m2, stasiun padat (B) 368 ind/m2. Kelimpahan epifauna di kerapatan jarang dan padat di Perairan bandengan 140 ind/3m2, dan 91 ind/3m2. Rerata kandungan bahan organik sedimen pada kerapatan jarang, dan padat berturut-turut adalah 12.86% dan 76.85%.Berdasarkan hasil uji regresi menunjukkan antara kelimpahan epifauna dengan tingkat kerapatan lamun menunjukkan hubungan tidak searah, setiap kenaikkan kerapatan lamun tidak diikuti oleh kenaikkan kelimpahan epifauna, serta tingkat kerapatan lamun dengan bahan organik terdapat korelasi yang kuat, semakin tinggi tingkat kerapatan lamun akan diikuti oleh bahan organik.  Kata Kunci; Perairan Bandengan; Kerapatan Lamun; Kelimpahan Epifauna; Bahan Organik.  ABSTRACT Seagrass ecosystem in Bandengan coastal Jepara is important for epifauna. Different seagrass density will affect levels of organic matter used epifauna, in addition the density of seagrass can also precipitate organic particles which affect the abundance of epifauna. This research was conducted on March 2016. The aimed of this research was to determine the relationship of epifauna’s abundance to density seagrass and the relationship of organic matter to the density of seagrass. This research used survey method and random sampling technique. Samples were taken from three different station there are (A) sparse density, and (B) dense density. Sample epifauna were taken once a week for three time. The results showed only 1 type of seagrass found in Bandengan coastal Jepara that is Thalassia sp. With density on sparse station (A) 178ind/m2, dense station 368 ind/m2. The abundance of epifauna on station sparse (A) 140 ind/3m2, dense station (B) 91 ind/3m2, The highest abundance Sconsia sp 52 ind/m2 dan 28 ind/m2 and Cerithium sp 34 ind/m2 dan 19 ind/m2Organic material content of sedimen on density was sparse and dense was 5.71%, 9.81%. Based on the result of the correlation show that between the abundance of epifauna with seagrass density level there is a relation undirectional, density of seagrass will not increase accordingly to the abundance of epifauna, as well as to the content of organic matter. There is a close correlation that higher of density of seagrass will be followed by organic matter. Key Word; Coastal of Bandengan; Seagrass Beds Density; Abundance of Epifauna; Organic matter
ASPEK BIOLOGI UDANG Metapenaeus conjunctus DI PERAIRAN PEMALANG, JAWA TENGAH Biological Aspects of Metapenaeus conjunctus Shrimp in the Pemalang Water, Central Java Siraj, Ahmad Zhafran; Saputra, Suradi Wijaya; Rudiyanti, Siti
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 8, No 4 (2019): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (910.168 KB) | DOI: 10.14710/marj.v8i4.26556

Abstract

Penangkapan udang Metapenaeus conjunctus secara intensif serta tidak berpedoman kepada pendekatan pembangunan berkelanjutan dapat menyebabkan sumber daya M. conjunctus terkuras dan juga tingkat eksploitasinya menjadi tidak efisien. Tujuan dari penelitian ini yaitu pengkajian kepada aspek-aspek biologi udang M. conjunctus seperti: komposisi hasil tangkapan, struktur ukuran, nisbah kelamin, ukuran pertama kali udang tertangkap (L50%), sifat pertumbuhan, faktor kondisi, dan Tingkat Kematangan Gonad. Pelaksanaan penelitian dimulai dari bulan April sampai Juni 2017. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode survey. Sampel udang M. conjunctus diambil 1 kali setiap bulan dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Asemdoyong dan Tanjungsari di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Setiap bulan dilakukan satu kali pengambilan sampel. Sampel udang diambil dari total hasil tangkapan salah satu perahu pada setiap TPI. Jumlah sampel udang M. conjunctus yang diteliti yaitu 898 ekor.  Hasil penelitian menunjukkan modus panjang karapas udang bulan April 114-129 mm, bulan Mei 82-97 mm, bulan Juni 66-81 mm. Udang M. conjunctus jantan memiliki sifat pertumbuhan isometrik, dan pada udang betina allometrik positif. Nilai faktor kondisi udang jantan adalah 1, sedangkan udang betina 1,15 yang berarti udang betina lebih montok. Ukuran pertama kali tertangkap (L50%) udang jantan 95 dan 92 mm pada udang betina. Tingkat Kematangan Gonad udang pada bulan April didominasi TKG II 47% udang jantan dan 50% udang betina, bulan Mei didominasi TKG I 76%, bulan Juni didominasi TKG I sebesar 75%. Perbandingan nisbah kelamin udang M. conjunctus jantan dan betina yaitu 1:1,99. Konsep pengelolaan udang M. conjunctus di perairan Kabupaten Pemalang penggunaan alat tangkap selektif dengan mesh size yang sesuai, dan operasi penangkapan dilakukan jauh dari bibir pantai. Hal tersebut sesuai dengan prinsip pengelolaan perikanan berkelanjutan. The intensive catching of Metapenaeus conjunctus shrimp and not guided by the sustainable development approach can cause M. conjunctus resources to be drained and also the level of exploitation becomes inefficient. The purpose of this study is to study the biological aspects of M. conjunctus shrimp such as catch composition, size structure, sex ratio, size of the first time the shrimp was caught (L50%), growth characteristics, condition factors, and Gonad Maturity Level. The research was conducted from April to June 2017. The research method used was the survey method. M. conjunctus shrimp samples were taken once a month from Asemdoyong and Tanjungsari Fish Auction Sites in Pemalang District, Central Java. Every month sampling is done. Shrimp samples were taken from the total catch of one boat at each TPI. The number of samples of M. conjunctus shrimp studied was 898. The results showed the long mode of shrimp carapace in April 114-129 mm, in May 82-97 mm, in June 66-81 mm. Male M. conjunctus shrimp have isometric growth properties, and in allometric positive shrimp. The value of the condition factor of male shrimp is 1, while female shrimp is 1.15, which means female shrimp is plumper. The first size caught (L50%) was 95 and 92 mm male shrimp in female shrimp. Maturity Level of shrimp in April was dominated by TKG II 47% male shrimp and 50% female shrimp, in May dominated TKG I 76%, in June dominated TKG I by 75%. A comparison of male and female M. conjunctus shrimp sex ratio is 1: 1,99. The concept of management of M. conjunctus shrimp in Pemalang Regency waters uses selective fishing gear with an appropriate mesh size, and fishing operations are carried out far from the shoreline. This is by following the principles of sustainable fisheries management.
ANALISIS KESESUAIAN WISATA PANTAI BLEBAK SEBAGAI OBYEK REKREASI PANTAI DI KABUPATEN JEPARA JAWA TENGAH Febrilia, Anggita Yohana; Rudiyanti, Siti; Purwanti, Frida
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 7, No 1 (2018): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (635.895 KB) | DOI: 10.14710/marj.v7i1.22538

Abstract

Pantai Blebak adalah destinasi wisata pantai di Desa Sekuro Kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara yang memiliki peluang untuk dikembangkan akan tetapi terdapat kendala yaitu informasi mengenai pantai ini belum terekspose dengan baik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui potensi wisata, persepsi masyarakat dan pengunjung tentang daya tarik, fasilitas, aksesibilitas dan kepedulian lingkungan; serta menilai kesesuaian wisata Pantai Blebak. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret 2018. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu metode kualitatif dengan membagikan kuesioner kepada 30 responden masyarakat menggunakan teknik purposive sampling, 30 responden pengunjung menggunakan teknik accidental sampling dan metode kuantitatif untuk mengukur kesesuaian wisata Pantai Blebak. Potensi wisata  yaitu 1). Potensi Biologi : empat jenis mangrove (Rhizopora mucronata , R. apiculata, Avicenia alba, Sonneratia sp) dan terdapat satu jenis lamun (Thalassia hemprichii) serta makrofauna (kepiting, gastropoda dan bivalvia); 2.) Potensi Fisik : Atraksi wisata (Pemandangan alam, pasir putih, perairan jernih dan ombak tenang); Aksesibilitas (sejauh 13 km dari Kota Jepara, kondisi jalan sudah beraspal); Fasilitas (akomodasi penginapan, kurangnya penerangan jalan, tersedianya air bersih dari sumur tanah, hanya terdapat 4 toilet dan 2 mushola; Aktivitas masyarakat dan pengujung berjalan dengan baik 3.) Potensi Budaya : sedekah laut dilaksanakan satu minggu setelah hari raya Idul Fitri. Persepsi responden tentang daya tarik wisata yaitu baik, fasilitas yaitu kurang baik, aksesibilitas dan kepedulian lingkungan yaitu baik. Hasil perhitungan Indeks Kesesuaian Wisata Pantai Blebak yaitu tergolong dalam kategori pantai yang sesuai untuk kegiatan rekreasi pantai Blebak Beach is coastal tourist destinations in the Sekuro Village, Mlonggo Sub-district that has a chance to be developed but there are constraints on information about this beach that has not being well exposed. The purpose of this study were to reveal the potential of tourism, perception of community and visitors about attractivenees, facility, accessibility and environmental awareness; and to assess the tourism suitability of the beach. This research was conducted in March 2018. The methods used in this research was qualitative method by distribute questionnaires to 30 community respondents using purposive sampling technique, 30 visitors respondents using accidental sampling technique and quantitative method to measure the tourism suitability of the beach. Tourism potentials include 1). Biological Potentials: four types of mangrove (Rhizopora mucronata, R. apiculata, Avicenia alba, Sonneratia sp) and one type lamun (Thalassia hemprichii), macrofauna (crabs, gastropods and bivalves); 2.) Physical Potentials: Tourist attraction (Natural scenery, white sand, clear waters and calm waves); Accessibility (as far as 13 km from Jepara City, road conditions have been paved); Facilities (Hotel accommodation, poor lighting, availability of clean water  from ground wells, 4 toilets and 2 mushollas, Activity of community and visitors are going well 3.) Cultural Potentials: sea charity which held in a week after Eid Mubarak. Perception of the respondents  about attraction are good, facilities are deficient, accessibility and environmental awareness are good. The calculation result of Suitability Index of Blebak Beach is classified into the appropriate category for recreational beach activities. 
ANALISIS PERBANDINGAN FITOPLANKTON DAN ZOOPLANKTON SERTA TSI (TROPHIC SAPROBIC INDEX) PADA PERAIRAN TAMBAK DI KAMPUNG TAMBAK LOROK SEMARANG Suwandana, Achmad Fuad; Purnomo, Pujiono Wahyu; Rudiyanti, Siti
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 7, No 3 (2018): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (897.658 KB) | DOI: 10.14710/marj.v7i3.22547

Abstract

Lokasi Tambak Lorok dekat dengan jalan raya, pemukiman penduduk serta pabrik-pabrik besar sehingga berpotensi menampung bahan pencemarnya. Bahan-bahan pencemar tersebut akan mengganggu keseimbangan organisme di dalam tambak salah satunya adalah plankton. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan fitoplankton dan zooplankton, mengetahui perbandingan fitoplankton dan zooplankton, dan mengetahui status saprobitas. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yang dilaksanakan pada bulan September 2017 di perairan tambak di Kampung Tambak Lorok Semarang. Sampling dilakukan dengan menggunakan purposive sampling pada 4 stasiun dengan masing-masing stasiun 3 titik. Variabel yang diukur adalah kelimpahan fitoplankton, kelimpahan zooplankton, dan nilai saprobitas. Hasil penelitian menunjukkan kelimpahan fitoplankton berkisar antara 47-154 ind/l dan kelimpahan zooplankton berkisar antara 0-9 ind/l. Perbandingan fitoplankton dan zooplankton berkisar antara 7:1 sampai 47:0. Nilai SI (Saprobik Indeks) berkisar antara 1,28-1,33 dan nilai TSI (Tropik Saprobik Indeks) berkisar antara 1,89-2,50. Berdasarkan nilai SI dan TSI dapat diketahui bahwa kondisi tambak di Kampung Tambak Lorok Semarang termasuk ke dalam perairan Oligosaprobik atau perairan belum tercemar sampai tercemar ringan dan sebagian besar dalam status β-Mesosaprobik atau tercemar ringan sampai sedang.  Tambak Lorok Village is located in residential areas-densely populated, not far from highway and large factories which potentially accomodating pollution. They, the pollutants disrupt the balance of organismd in the pond, one of them plankton are going to study is plankton. Purpose of this research is to know the abundance of phytoplankton and zooplankton, the comparison of phytoplankton and zooplankton as well as the status of saprobity. This research was carried out on September 2017 in the pond waters at Tambak Lorok Semarang Village by using descriptive method. Sampling was applied by using purposive at 4 station, each station using 3 point. Measured variables were phytoplankton abundance, zooplankton abundance, and saprobity value. The results showed that phytoplankton abundance ranged between 47-154 ind/l, while zooplankton abundance betweem 0-9 ind/l. Comparison of phytoplankton and zooplankton ranged from 7:1 to 47:0. The SI (Sabrobik Index) value ranged from 1,28-1,33 and the TSI (Tropic Saprobik Index) value ranged from 1,89-2,50. Based on SI dan TSI values mentioned above the condition of ponds in Tambak Lorok Village is classified as Oligosaprobik or uncured waters to minor contaminated and mostly in β-Mesosaprobik status or mild to moderate contamination. 
Kadar Logam Berat Besi (Fe), Seng (Zn) Pada Sedimen Dan Jaringan Lunak Kerang Hijau (Perna viridis) Di Perairan Tambak Lorok Semarang Triantoro, Dian Dwi; Suprapto, Djoko; Rudiyanti, Siti
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 3 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (774.856 KB)

Abstract

ABSTRAKLimbah yang berasal dari aktifitas manusia diindikasikan mengandung logam berat Besi dan Seng yang berasal dari industri, PLTU, pelabuhan Tanjung Mas Semarang dan kegiatan rumah tangga di sekitar perairan Tambak Lorok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar logam berat Besi dan Seng pada sedimen, dan jaringan lunak kerang hijau (P. viridis) di perairan Tambak Lorok, Semarang. Pengambilan sampel dilakukan pada tanggal 14 Oktober 2016 dan 06 Maret 2017 sampel yang di ambil berupa air, sedimen dan biota kerang hijau dan pengukuran kualitas perairan. Penentuan titik sampling berdasarkan kebiasaan nelayan mengambil ataupun membudidayakan kerang hijau dengan membagi menjadi tiga stasiun dengan jarak antar stasiun satu dan stasiun dua yaitu kisaran ±500 meter kemudian jarak dari stasiun dua dengan stasiun tiga yaitu kisaran ±1 km. Untuk mengetahui kadar logam berat menggunakan metode SNI atau APHA yaitu AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer). Hasil penelitian menunjukan kadar logam berat besi pada air yaitu <0,001 hingga 0,062 dan seng kisaran <0,001 - 0,009 mg/l, sedangkan untuk sedimen dengan rerataan (Fe) 50498,5 mg/kg hingga 55616,3 mg/kg kemudian kandungan logam berat sedimen rataan (Zn) 69,51 mg/kg hingga 403,45 mg/kg, selanjutnya untuk kadar logam berat yang terdapat pada jaringan lunak kerang hijau adalah (Fe) 102,52 mg/kg hingga 129,72 mg/kg dan (Zn) 13,75 mg/kg hingga 62,84 mg/kg. Hasil yang didapat menggambarkan bahwa sampel yang sudah di analisis bernilai fluktuatif. Kata kunci: Pesisir; Logam Berat; Fe; Zn; Sedimen; Kerang Hijau; AirABSTRACKThe waste that originated from human activities is indicated in having the content of Iron (Fe) and Zinc (Zn) from the industry, coal fired steam power plant (PLTU), Tanjung Mas Semarang harbour and household activities near the coastal area of Tambak Lorok. This study aims to know the condition of Iron (Fe) and Zinc (Zn) in the sediment and soft tissue of mussels (Perna viridis) at Tambak Lorok waters, Semarang. The sampling has been done on 14th October 2016 and 6th March 2017. The sampling is taken from water, sediment, mussels biota and waters quality measurement. The points of sampling are determined based on fishermen customs in taking and cultivating mussels, also divided to three stations with the distance of the first to the second station is around 500 meters, the distance of the second to the third station is around 1 kilometers. The content of Iron (Fe) and Zinc (Zn) is known by using SNI or APHA methods, that called as AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer). The result shows that the content of Iron (Fe) in water is <0,001 to 0,062, and Zinc (Zn) is <0,001 to 0,009 mg/l, while for the sediment with rerataan is (Fe) 50498,5 mg/kg to 55616,3 mg/kg and the content of sediment rerataan metal (Zn) is 69,51 mg/kg to 403,45 mg/kg, and next the content of metal in soft tissue of mussels is (Fe) 102,52 mg/kg to 129,72 mg/kg and (Zn) is 13,75 mg/kg to 62,84 mg/kg.  Key words: Costal Area; Meta;, Fe; Zn; Sediment; Mussels; Water
KONDISI WISATA MANGROVE DI DESA PASAR BANGGI, KABUPATEN REMBANG Mangrove Tourism Conditions in Pasar Banggi Village, Rembang Regency Saputro, Danang Adi; Purwanti, Frida; Rudiyanti, Siti
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 8, No 3 (2019): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.711 KB) | DOI: 10.14710/marj.v8i3.24259

Abstract

ABSTRAK Mangrove merupakan tumbuhan yang hidup di daerah pasang surut sebagai ekosistem interface antara daratan dengan lautan. Ekosistem mangrove di desa Pasar Banggi Kabupaten Rembang merupakan perpaduan antara mangrove alami dan hasil rehabilitasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kondisi mangrove di Desa Pasar Banggi, Rembang dilihat dari  komposisi jenis, kerapatan dan ketebalan mangrove serta menganalisis tingkat kesesuaian wisata mangrove di Desa Pasar Banggi, Rembang. Metode yang digunakan adalah metode survey lapangan yang bersifat eksploratif, dimana  teknis pengumpulan data menggunakan sistematik sampling. Data yang diambil meliputi 5 variabel yaitu: jenis, kerapatan mangrove dan asosiasi biota (hasil pengamatan lapangan dan perbandingan dari penelitian terdahulu), ketebalan (citra Google Earth Oktober 2016), pasang surut (data BMKG Oktober 2016). Pengambilan sampel dilakukan pada 3 stasiun, dimana setiap stasiun terdapat 3 titik sampling. Komposisi jenis mangrove di desa Pasar Banggi terdapat 3 jenis mangrove yaitu Rhizopora stylosa, R. mucronata, dan R. Apiculata, dengan kerapatan mangrove tertinggi yaitu 62 ind/100m2 dan ketebalan mangrove tertinggi sepanjang 139 m. Kondisi hutan mangrove desa Pasar Banggi termasuk dalam kategori sesuai (S2) untuk kegiatan wisata berkelanjutan di Kabupaten Rembang. ABSTRACT Mangroves are plants that grow in a tidal areas an interface ecosystems between terrestrial and marine. Mangrove ecosystem in the Pasar Banggi Village,  Rembang Regency is a combination results of natural mangrove and rehabilitation. The purpose of this study were to determine condition of mangroves in the Pasar Banggi Village, Rembang, seen from the species composition, density and thickness of mangroves and to analyze the suitability level of mangrove tourism in the Pasar Banggi Village, Rembang. The method used in this study was an exploratory survey method, data collected using systematic sampling techniques. Mangrove tourism data collection was carried out of 5 variables, i.e.: type of mangrove, density of mangroves and associations of biota (from observations and comparisons of previous studies), thickness (Google Earth image October 2016), tides (data BMKG October 2016). Sampling was conducted at 3 stations, each station has 3 sampling points. The composition of mangrove species in Pasar Banggi village consists of 3 types of mangroves, namely Rhizopora stylosa, R. mucronata, and R. Apiculata, with the highest density of mangrove 62 ind / 100m2 and the highest thickness of mangrove along 139 m. The condition of mangrove forest in the Pasar Banggi village was included in the appropriate category (S2) for sustainable tourism activities in the Rembang Regency.
KESESUAIAN PERAIRAN DAN DAYA DUKUNG LINGKUNGAN TANJUNG GELAM UNTUK WISATA REKREASI PANTAI DI TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA Dewi, Kartika Puspita; Anggoro, Sutrisno; Rudiyanti, Siti
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 7, No 4 (2018): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (599.657 KB) | DOI: 10.14710/marj.v7i4.22570

Abstract

Pantai Tanjung Gelam adalah salah satu objek wisata yang berada dibagian barat pulau Karimunjawa. Pantai ini termasuk kedalam kawasan Taman Nasional Karimunjawa, dan merupakan salah satu zona yang termasuk kedalam zona pemanfataan pariwisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi wisata Pantai Tanjung Gelam, menganalisis indeks kesesuaian wisata pantai dan menganalisis daya dukung lingkungan Pantai Tanjung Gelam Pulau Karimunjawa, ditinjau dari aspek biogeofisik dan tata ruang. Penelitian dilakukan pada bulan April 2018. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu metode studi kasus dengan kajian adalah potensi wisata pantai, indeks kesesuaian wisata, daya dukung lingkungan dan teknik purposive sampling digunakan untuk menentukan tiga titik sampling berdasarkan lokasi kegiatan wisata dengan pertimbangan kemudahan dalam menjangkau lokasi titik sampling serta efisiensi waktu dalam melakukan penelitian. Penentuan persepsi daya tarik Pantai Tanjung Gelam menggunakan metode accidental sampling dengan membagikan 33 kuisioner kepada responden pengunjung. Potensi yang dimiliki Pantai Tanjung Gelam yaitu ekosistem terumbu karang dan karakteristik budaya lokal. Indeks kesesuaian wisata pantai Tanjung Gelam dari ke tiga stasiun memiliki kriteria S1 yaitu sangat sesuai untuk kegiatan wisata. Daya dukung kawasan di perairan pantai Tanjung Gelam dihitung berdasarkan indeks kesesuaian wisata kawasan dengan daya tampung 81 orang untuk bananaboat, daya tampung 135 orang untuk berenang dan daya tampung 17 orang untuk snorkling. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa Pantai Tanjung Gelam merupakan pantai yang sesuai untuk kegiatan wisata seperti rekreasi pantai, bananaboat dan snorkling dengan daya tampung sebanyak 233 orang/hari dalam kawasan tersebut.   Tanjung Gelam Beach is one of the tourist attraction located in the western part of Karimunjawa island. This beach is included into the area of Karimunjawa National Park, and is one of the zones belonging to the zone of tourism utilization. The study aims to assess the potential for coastal tourism Tanjung Gelam Beach, analyze the suitability index of coastal tourism and analyze the environmental carrying capacity of Tanjung Gelam beach, Karimunjawa Island, in terms of biogeophysical and spatial aspects. This research was conducted in April 2018. The methods used in the research method of case studies with the study is the potential for coastal tourism, tourism, power suitability index support environment and purposive sampling technique was used to determine the three sampling points based on location tourism activities with consideration of ease in reaching out to the location of the sampling point and time efficiency in doing research. Determination of the perception of attractiveness of Tanjung Gelam method using accidental sampling with a respondent distributed a questionnaire to 33 respondents. The potential of Tanjung Gelam Beach is the coral reef ecosystem and the characteristics of local culture. Tanjung Gelam beach tourism suitability index of the three stations have S1 criteria that is suitable for tourism activities. The carrying capacity of the area in Tanjung Gelam coastal waters is calculated based on regional tourism suitability index with a capacity of 81 people for bananaboat, 135 people for swimming and 17 people for snorkeling capacity. Based on the research result, it is concluded that Tanjung Gelam Beach is a suitable beach for tourism activities such as beach recreation, bananaboat and snorkling with a capacity of 233 people / day in the area. 
HUBUNGAN NITRAT DAN FOSFAT DENGAN KLOROFIL-A DI MUARA SUNGAI WULAN KABUPATEN DEMAK Prihatin, Meina Siska; Suprapto, Djoko; Rudiyanti, Siti
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.981 KB)

Abstract

Muara Sungai Wulan merupakan aliran sungai yang banyak dimanfaatkan untuk aktivitas manusia seperti tempat pemukiman penduduk, budidaya perikanan, hutan mangrove, serta jalur transportasi kapal nelayan sehingga mempengaruhi kesuburan perairan, secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi kandungan Nitrat, Fosfat dan Klorofil-a. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kandungan  Nitrat, Fosfat, dan Klorofil-a dan  hubungan Nitrat dan Fosfat dengan Klorofil-a. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2015 di Muara Sungai Wulan Demak, Jawa Tengah. Pengambilan sampel dilakukan pada empat stasiun yang berbeda. Parameter utama dalam penelitian ini adalah Nitrat, Fosfat dan Klorofil-a. Parameter pendukung dalam penelitian ini adalah kelimpahan fitoplankton, pengukuran kecepatan arus, pH, temperatur, DO, salinitas, kedalaman, dan kecerahan. Hasil penelitian kandungan nitrat pada keempat stasiun berkisar antara 1,53 – 1,70 mg/l, kandungan Fosfat berkisar antara 0,15 - 0,32 mg/l, dan kandungan Klorofil-a berkisar antara 0,039 - 0,058 µg/l.  Hubungan antara Nitrat dengan Klorofil-a diperoleh nilai r sebesar 0,904, hubungan antara Fosfat dengan Klorofil-a diperoleh nilai r sebesar 0,760 menunjukkan bahwa hubungan variabel tersebut sama-sama kuat. Estuary is a river that is widely used for human activities such as a place of settlement, aquaculture, mangrove forests, as well as fishing boat transportation thus affecting the fertility of the waters, directly or indirectly will influence the content of nitrates, phosphates and chlorophyll-a. The purpose of this research is to know the content of nitrates, phosphates, and chlorophyll-a and Nitrate and Phosphate with Chlorophyll-a. This research was carried out in September 2015 at Estuary Wulan Demak, Central Java. Sampling was conducted at four different stations. The main parameter in this research are Nitrates, Phosphates and Chlorophyll-a. Supporting parameters in this study is the abundance of phytoplankton, the measurement of the speed of the flow, pH, temperature, salinity, depth, D.O, and brightness. The research content of nitrates in the four stations ranged from 1.53 – 1.70 mg/l Phosphate content, ranging between 0.15-0.32 mg/l, and chlorophyll-a range between 0.039-0.058 µ g/l. Relationship between Nitrate with Chlorophyll-a retrieved value r of 0.904, the relationship between Phosphate with Chlorophyll-a retrieved value r of 0.760 shows that the relationship of these variables are equally strong.
ASPEK REPRODUKSI BULU BABI (Sea Urchin) DI PERAIRAN PULAU MENJANGAN KECIL, KEPULAUAN KARIMUNJAWA, JEPARA (Aspects Reproduction of Sea Urchin in the Waters of Menjangan Kecil Island, Karimunjawa Islands, Jepara) Puspitaningtyas, Indrie Hapsari; Rudiyanti, Siti; Sulardiono, Bambang
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 6, No 4 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (784.78 KB)

Abstract

Gugusan terumbu karang yang terdapat di Kepulauan Karimunjawa termasuk ke dalam gugusan terumbu karang tepi dengan kisaran penutupan karang keras antara 6,7% - 68,9% dan indeks keragaman berkisar antara 0,43 - 0,91. Salah satu biota yang berasosiasi di ekosistem terumbu karang adalah bulu babi, yang merupakan biota filum echinodermata yang tersebar dari daerah intertidal dangkal hingga ke laut dalam. Gonad bulu babi di pasaran dikenal sebagai uni atau roe merupakan makanan populer dan salah satu komoditi utama di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Chili, Rusia, Prancis, Barbados dan Jepang. Penangkapan hingga overfishing menjadi masalah utama di berbagai negara, yang  akan mengakibatkan penurunan jumlah populasi bulu babi di perairan. Penelitian ini dilakukan di Pulau Menjangan Kecil, Karimunjawa pada bulan Mei 2017. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui aspek reproduksi bulu babi melalui nilai IKG, nilai TKG, dan Fekunditas Bulu Babi di Pulau Menjangan Kecil. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap yaitu, tahap sampling lapangan yang terdiri dari pengambilan sampel bulu babi, dengan metode acak menggunakan kuadran transek, dan pengukuran kualitas perairan. Tahap analisis laboratorium yang terdiri dari analisis Indeks Kematangan Gonad, Tingkat Kematangan Gonad, dan Fekunditas. Penelitian ini ada dua spesies yang ditemukan di lokasi sampling yaitu Diadema setosum dan Echinothrix calamaris. Hasil yang diperoleh untuk bulu babi jenis Diadema setosum nilai IKG berkisar antara 1,66% - 4,26% dan fekunditas berkisar antara 641 butir – 1.087 butir dan bulu babi jenis Echinothrix calamaris nilai IKG berkisar antara 5,32% - 7,54% dan fekunditas berkisar antara 1.159 butir – 2.192 butir, sedangkan nilai TKG kedua jenis bulu babi berada pada fase 5 (lima) yaitu tahap memijah.  The coral reefs found in the Karimunjawa Islands are included in the cluster of coral reefs with hard coral cover ranges between 6.7% - 68.9% and the diversity index ranges from 0.43 to 0.91. One of the associated biota in the coral reef ecosystem is the sea urchin, which is an echinodermata physiological biota scattered from the shallow intertidal region to the deep sea. The sea urchin gonad on the market is known as uni or roe is a popular food and one of the main commodities in some countries such as USA, Canada, Chile, Russia, France, Barbados and Japan. Overfishing is a major problem in many countries, which will lead to a decrease in the number of sea urchin populations. This research was conducted in Menjangan Kecil Island, Karimunjawa in May 2017. The purpose of this research is to know the reproductive aspect of the sea urchin through IKG value, TKG value, and Fecundity of sea urchin on Menjangan Kecil Island. This research was conducted in two stages, field sampling stage consisting of sampling of sea urchins, by random method using transect quadrant, and measurement of water quality. Phase of laboratory analysis consisting of Gonad Maturity Index analysis, Gonad Maturity Level, and Fecundity. The study used only two species found at the sampling site is Diadema setosum and Echinothrix calamaris. The results obtained for Diadema setosum type IKG ranged from 1.66% - 4.26% and fecundity ranged from 641 grains - 1.087 grains and Echinothrix calamaris type IKG in the range of 5.32% - 7.54% and fecundity ranges from 1,159 grains - 2,192 grains, while the TKG value of both types of sea urchins is in phase 5 (five) or spawning phase.
ANALISIS KONSENTRASI LOGAM BERAT TIMBAL (Pb) DAN KADMIUM (Cd) DI SUNGAI SILANDAK, SEMARANG Heavy Metal Lead (Pb) and Cadmium (Cd) Concentration Analysis in Silandak River, Semarang Hanifah, Nisrina Nurfitria; Rudiyanti, Siti; Ain, Churun
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Vol 8, No 3 (2019): MAQUARES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.384 KB) | DOI: 10.14710/marj.v8i3.24264

Abstract

ABSTRAKSungai Silandak terletak di Kota Semarang, Jawa Tengah yang menerima limbah dari hasil kegiatan transportasi, industri dan domestik masyarakat sekitar. Limbah tersebut mengandung logam berat Timbal (Pb) dan Kadmium (Cd) yang mengalami perubahan konsentrasi disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya curah hujan. Curah hujan menyebabkan debit air menjadi lebih tinggi sehingga terjadi proses pengenceran konsentrasi pada badan perairan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi Pb dan Cd yang kemudian dibandingkan dengan baku mutu lingkungan, perbedaan konsentrasi Pb dan Cd pada Bulan Oktober – Desember 2018 serta hubungan debit air dengan konsentrasi Pb dan Cd. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan teknik sampling purposive sampling. Pengambilan sampel dilakukan empat kali (pada Oktober – Desember 2018) di lima stasiun. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi Pb = 0,03 – 0,003 mg/l dan Cd = 0,001 – 0,005 mg/l. Konsentrasi tersebut berada di bawah baku mutu lingkungan menurut PP No. 82 Tahun 2001 (Pb < 0,03 mg/l dan Cd < 0,01 mg/l) namun beberapa masih berada di atas baku mutu lingkungan menurut Kepmen LH No. 51 Tahun 2004 (Pb > 0,008 mg/l dan Cd > 0,001 mg/l). Terdapat perbedaan konsentrasi Pb dan Cd pada Bulan Oktober – Desember 2018, (Sig. < 0,05) Pb = 0,048 dan Cd = 0,037. Debit air dengan konsentrasi Pb dan Cd menunjukkan hubungan yang cukup erat, Pb (R = 0,576) dan Cd (R = 0,563).ABSTRAKSungai Silandak terletak di Kota Semarang, Jawa Tengah yang menerima limbah dari hasil kegiatan transportasi, industri dan domestik masyarakat sekitar. Limbah tersebut mengandung logam berat Timbal (Pb) dan Kadmium (Cd) yang mengalami perubahan konsentrasi disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya curah hujan. Curah hujan menyebabkan debit air menjadi lebih tinggi sehingga terjadi proses pengenceran konsentrasi pada badan perairan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi Pb dan Cd yang kemudian dibandingkan dengan baku mutu lingkungan, perbedaan konsentrasi Pb dan Cd pada Bulan Oktober – Desember 2018 serta hubungan debit air dengan konsentrasi Pb dan Cd. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan teknik sampling purposive sampling. Pengambilan sampel dilakukan empat kali (pada Oktober – Desember 2018) di lima stasiun. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi Pb = 0,03 – 0,003 mg/l dan Cd = 0,001 – 0,005 mg/l. Konsentrasi tersebut berada di bawah baku mutu lingkungan menurut PP No. 82 Tahun 2001 (Pb < 0,03 mg/l dan Cd < 0,01 mg/l) namun beberapa masih berada di atas baku mutu lingkungan menurut Kepmen LH No. 51 Tahun 2004 (Pb > 0,008 mg/l dan Cd > 0,001 mg/l). Terdapat perbedaan konsentrasi Pb dan Cd pada Bulan Oktober – Desember 2018, (Sig. < 0,05) Pb = 0,048 dan Cd = 0,037. Debit air dengan konsentrasi Pb dan Cd menunjukkan hubungan yang cukup erat, Pb (R = 0,576) dan Cd (R = 0,563).  ABSTRACTThe Silandak River is located in Semarang City, Central Java, that receives a lot of waste from the transportation, industrial, and local’s (domestic) activities. These waste contained the heavy metal Lead (Pb) and Cadmium (Cd), that concentration in waters caused by many factors, one of which is rainfall. Rainfall caused a rise in water discharge and causes a dilution of concentration in the waters. The purpose are to identify Pb and Cd concentration that will be compared with the quality of the environment, the difference of Pb and Cd concentration in October – December 2018, and also the correlation of water discharge with Pb and Cd concentration. The survey method was used in this study with purposive sampling for the sampling method. The sampling was done four times (in October – December 2018) at five stations. The result showed concentration of Pb = 0,03 – 0,003 mg/l and Cd = 0,001 – 0,005 mg/l. The concentration are below the quality standards according to The Government Regulation No. 82, Year 2001 (Pb < 0,03 mg/l and Cd < 0,01 mg/l), but some are still above the quality standards according to Minister of Environment Decree No. 51, Year 2004 (Pb > 0,008 mg/l dan Cd > 0,001 mg/l). There is a difference in the Pb and Cd concentration on October – December 2018, (Sig. < 0,05) Pb = 0,048 and Cd = 0,037. The water discharge and the concentration of Pb (R = 0,576) and Cd (R = 0,563) showed a quite strong relationship.
Co-Authors 'Ain, Churun - Revika, - A'in, Churun Abdul Ghofar Adi, Micael Tri Anggoro Adriani, Arina Afifatul Isroliyah Afifatul Isroliyah agung Suryanto Agus Hartoko Alfizhari, Ananda Erza Putra Ali Djunaedi Amalo, Nancy Marcelina Reinatha Anhar Solichin Aninditia Sabdaningsih Aprilia Kukuh Dwijayati, Aprilia Kukuh Aqil Mushthofa Arif Aji Nugroho Arif Rahman Asih, Dilia Puspita Astri Diana Ekasari Aulia, Namira Aurumitha, Fatikhasiwi Nur Awita, Rida Azzahra, Rizqina Nafa Nur A’in, Churun ‘Ishmah, Amalina Zata Bambang Sulardiono Boedi Hendrarto Brenda Sabrina Marsha Putri Churun Ain Churun Ain Churun Ain Churun Ain Churun Ain Churun A’in Dafit Ariyanto Delianis Pringgenies Devi Asmiyatna Sari Deviana, Desi Avinda Dewi, Kartika Puspita Dewi, Mayda Anggita Dewi, Prasasti Anugrahini Dian Tri Pramesti Dian Wijayanto Djoko Suprapto Dominig, Amryta Dwi Banu Purnomo Dyah Prajna Swayati, Dyah Prajna Elok Faiqoh Faizin, Khabib Ahsanul Fajar Sidik Pamungkas Febrianto, Sigit Febrilia, Anggita Yohana Fian Anggrita Prabandini FITRIYAH, AINUN Frida Purwanti Fristiwi Silvi Melinda Gozion, Akwila Haeruddin Haeruddin Haeruddin Haeruddin Halimatus Sa’diyah Hanifah, Nisrina Nurfitria Harjanto, Wirawan Harry Saxena Saragih Helmi Ardi, Helmi Henny Liestiana, Henny Herda Mustika Sari, Herda Mustika Herimawan M.F. Ika Rianita Azizah, Ika Rianita Ikhsan, Muhammad Khoirul Isna Yunita Rahmawati Isnanda, Angghardian Kafin Aulia Mayagitha Kartika Putri Kusumaatmaja, Kartika Putri Kukuh Prakoso, Kukuh Lestari, Abid Lubis, Denisya Alyifiya Gusfa Mahaka, Titan Yuri Mardani, Arif Marsaoly, Micail Max Rudolf Muskananfola Max Rudolf Muskanonfola Mei Larasati Meina Siska Prihatin, Meina Siska Menur Rumanti Mohammad Gilang Nur Fajar, Mohammad Gilang Nur Muhammad Dwi Hudoyo Swarto Mustofa Nitisupardjo Nailirohmah, Ulya Melly Nela Sukmawati Nilna Almuna Rizqi Niniek Widyorini Norma Afiati Novananda Nadia Oktavianto Eko Jati Panjaitan, Theresia Pintya Dwanita Ayu Pratesthi, Pintya Dwanita Ayu Prasasti Nusa Pertiwi Nur Fatimah Prijadi Soedarsono Pujiono Wahyu Purnomo Purba, Raymond Doresmas Puspitaningtyas, Indrie Hapsari Putri Dellia Mukhtar, Putri Dellia Putri, Nanda Bunga Sukma Wijaya Rahma, Dwi Aprilia Rahmadhati, Kharisma Yulia Rahmawan, Dimas Yoga Rajib Jaka Dwinta Chandra Rendra Rini Rismatul Chusna Rina Mariana Rini Pramesti Riska Apriliana Salsabila, Ananda Tania Saputro, Danang Adi Sari, Dita Yuliana Setiaji Nugroho Siahaan, Debora Ernika Sinulingga, Hiskia Arapenta Siraj, Ahmad Zhafran Sonia Wulan, Sonia Subiyanto Subiyanto Sulistiyani, Heni Supriharyono Supriharyono Suradi Wijaya Saputra Suryanti Suryanti - Suryanti Suryanti Susi Sumartini Sutrisno Anggoro Sutrisno Anggoro Suwandana, Achmad Fuad Taufani, Wiwiet Teguh Tiara Esha Kinanti Triantoro, Dian Dwi Untung Ismoyo Utami, Sri Aulia Ramaddini Wilis Ari Setyati Wiwiet Teguh Taufani Zevriawan, Aldhimas Bagus