Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN TUTUPAN KARANG DENGAN KEANEKARAGAMAN ECHINODERMATA DI PULAU KARIMUNJAWA, JEPARA Fitriyah, Ainun; Suryanti, Suryanti; Rudiyanti, Siti
Jurnal Pasir Laut Vol 4, No 1 (2020): Februari
Publisher : Magister Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3460.298 KB) | DOI: 10.14710/pasir laut.2020.30527

Abstract

Wilayah terumbu karang merupakan perairan yang memiliki produktivitas dan keanekaragaman yang tinggi. Perairan dengan kondisi karang yang baik akan menjadi habitat yang disenangi oleh berbagai macam biota, salah satunya dari filum Echinodermata. Echinodermata merupakan hewan pemakan serasah yang penting dalam rantai makanan. Beberapa jenis Echinodermata dapat dijadikan sebagai indikator kondisi suatu perairan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kondisi tutupan karang dengan keanekaragaman echinodermata. Penelitian ini dilakukan di bulan April-Mei 2017, pada ekosistem terumbu karang pulau Karimunjawa. Pengamatan terhadap tutupan karang dan keanekaragaman Echinodermata dilakukan dengan pengukuran langsung pada terumbu karang menggunakan kuadran garis dan kuadran transek. Hasil penelitian menunjukkan tutupan karang dalam keadaan sedang dan didominasi oleh karang bercabang, masiv, pasir, dan juga alga. Keanekaragaman Echinodermata dalam kategori rendah dengan nilai H’ berkisar 0,2689-0,3696, dan lebih didominasi bulu babi (Echinoidea). Hubungan tutupan karang dengan keanekaragaman Echinodermata mempunyai nilai koefisien korelasi 0,9303 yang memperlihatkan hubungan yang sangat kuat antara kedua variabel tersebut.
POLLUTION LOAD (TSS, DO, BOD, AND COD) AND THE KALIYASA RIVER POLLUTION INDEX IN CILACAP DISTRICTS Nilna Almuna Rizqi; Haeruddin Haeruddin; Siti Rudiyanti
JURNAL PERIKANAN TROPIS Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jpt.v8i2.3582

Abstract

The Kaliyasa River was one of the many rivers in Cilacap Country. The River Kaliyasa is physically close to populations and industries that produce a wide range of products, making it a great potential for receiving both domestic and industrial wastes. The study was carried out in Oktober-November 2020 with four sample viewing points before the wastewater output, the wastewater outlet, at exactly the time of the wastewater output, and after the wastewater output. The sampling was done three times every two weeks. Based on this study, calculations indicate that the average value of the pollution load from the wastewater outlet was staggering at 32.661,60 kg/day. The average price of the pollution burden from the station after the wastewater output was produced a value of 15.945,92 kg/day. Average TSS, DO, BOD, and COD variables have already surpassed the second of class river quality. The Kaliyasa River pollution index is obtained that according to TSS, DO, BOD, and COD variables measured indicate IP Numbers in level 6, which include 6,16 of moderate pollutants. Keywords: Comparisons with Water Quality, Load Of River Pollution, Pollution Index
Morfologi, Anatomi dan Indeks Ekologi Bulu Babi di Pantai Sepanjang, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta Suryanti Suryanti; Prasasti Nusa Pertiwi Nur Fatimah; Siti Rudiyanti
Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 2 (2020): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v9i2.31740

Abstract

Pantai Sepanjang memiliki karakteristik pantai dengan substrat berupa pasir dan hamparan karang mati yang banyak ditumbuhi makroalga, merupakan habitat berbagai jenis biota, salah satunya bulu babi. Biota tersebut memiliki fungsi ekologi sebagai pemakan detritus dan pengendali populasi makroalga di ekosistem terumbu karang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jenis, morfologi, anatomi, dan kelimpahan bulu babi serta hubungannya dengan parameter lingkungan. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2019 di Pantai Sepanjang, Kabupaten Gunungkidul. Metode sampling menggunakan stratified random sampling dengan membagi lokasi pengamatan menjadi 3 stasiun (A, B, C) berdasarkan perbedaan tutupan substrat dasar perairan. Pengamatan dilakukan terhadap jenis, morfologi, anatomi, kelimpahan dan parameter lingkungan. Hasil penelitian ditemukan 6 jenis Bulu Babi yaitu Echinometra mathaei, Echinometra oblonga, Echinothrix calamaris, Heterocentrotus trigonarius, Diadema setosum dan Stomopneustes variolaris. Enam Jenis Bulu Babi tersebut memiliki karakteristik morfologi dan anatomi yang berbeda. Kelimpahan bulu babi pada stasiun A sebesar 474 ind/ 15m2, stasiun B sebesar 611 ind/ 15m2 dan stasiun C sebesar 81 ind/ 15m2. Berdasarkan Uji korelasi  menunjukkan bahan organik sedimen berkorelasi positif, sedangkan tekstur sedimen, suhu, salinitas berkorelasi negatif  dengan kelimpahan bulu babi. Sepanjang Beach has the characteristics of sand substrates and covered by dead corals, which are overgrown by macroalgae, and is a habitat for various types of biota, one of them sea urchins. This biota has an ecological function as a detritus feeder and macroalgae population controller in a coral reef ecosystem. The aims of the study is to determine the type, morphology, anatomy, and the linkage between the abundance of sea urchins to environmental parameters. The study was conducted in November 2019 at Sepanjang Beach, Gunungkidul Regency. The stratified random sampling was applied as sampling method, by dividing the observation location into 3 stations (A, B, C) based on the difference coverage of substrate. The observation covers the type, morphology, anatomy, abundance, and the environmental parameter. There were 6 sea urchins species namely Echinometra mathaei, Echinometra oblonga, Echinothrix calamaris, Heterocentrotus trigonarius, Diadema setosum and Stomopneustes variolaris, which have different characteristics of morphology and anatomy. The abundance of sea urchins at station A is 474 ind/ 15m2, station B is 611 ind/ 15m2, and station C is 81 ind/ 15m2. The sediment organic material and the abundance of sea urchins showed a significant correlation, while sediment texture, temperature, salinity have an insignificant correlation to the abundance of sea urchins.
DETERMINASI FAKTOR PENTING BERDASARKAN AKTIVITAS MASYARAKAT UNTUK PENGEMBANGAN KAWASAN REHABILITASI HUTAN MANGROVE DI PANTAI KARANGSONG, KABUPATEN INDRAMAYU (Determination of Important Factorson Society Activity for The Development of The Mangrove Forests Rehabilitation Area on The Beach of Karangsong, District of Indramayu) Halimatus Sa’diyah; Boedi Hendrarto; Siti Rudiyanti
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 13, No 1 (2017): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (843.242 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.13.1.12-18

Abstract

 Hutan mangrove di Pantai Karangsong, Kabupaten Indramayu merupakan salah satu hutan mangrove di Pantai Utara Jawa yang telah direhabilitasi. Kawasan rehabilitasi mangrove telah dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai lokasi wisata (ekowisata) dan lokasi mata pencaharian. Agar pengembangan selanjutnya dapat berjalan secara tepat, diperlukan perencanaan berdasarkan faktor-faktor penting yang berkaitan dengan pengelolaan hutan tersebut dalam kategori masyarakat yang berbeda, yaitu masyarakat yang berada dalam kawasan hutan mangrove, pengelola kawasan hutan mangrove dan pelaku perikanan. Tujuan dari penelitian ini adalah adalah untuk mengetahui faktor penting untuk pengembangan di kawasan rehabilitasi mangrove berdasarkan aktivitas masyarakat. Penelitian ini dilakukan di kawasan rehabilitasi hutan mangrove Pantai Karangsong, Kabupaten Indramayu pada bulan Agustus – September 2016. Metode yang digunakan adalah studi kasus yang bersifat deskriptif. Variabel penelitian terdiri dari kondisi sosial dan ekonomi masyarakat yaitu pendidikan, umur, pekerjaan dan pendapatan. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara menggunakan kuisioner tertutup dan observasi untuk melakukan pengamatan terhadap sumberdaya manusia. Analisis data menggunakan analisis multivariat, yaitu analisis faktor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor penting yang didapatkan untuk kategori masyarakat terdiri dari (1) wisata alam, (2) faktor fungsi dan manfaat, (3) faktor partisipasi masyarakat dalam pengelolaan serta frekuensi pemanfaatan dan faktor (4) pengetahuan. Faktor penting untuk kategori pengelola terdiri dari (1) faktor upaya pengelolaan dan (2) faktor pengaruhnya serta respon masyarakat terhadap pengelolaan. Faktor penting untuk kategori pelaku perikanan terdiri dari (1) faktor pengetahuan, (2) faktor frekuensi pemanfaatan serta fungsi dan (3) faktor perusak ekosistem.    The mangrove forest of Karangsong, Indramayu Regency is one of the mangrove forests on the northern coast of Java that has been rehabilitated. Mangrove rehabilitation area had been utilized by the public as a tourist site (ecotourism) and location of livelihood. In order for future development can be run properly, required planning based on important factors related to the forest management in different communities, i.e., communities that are in the area of mangrove forests, mangrove forest area manager and performer fisheries. The purpose of this research was to know the important factors for development of mangrove rehabilitation area based on the activity of the society. This research was conducted in the mangrove forests rehabilitation area on the beach of Karangsong, District of Indramayu in August – September 2016.This research was a case study. The variables consisted of research social and economic conditions, namely education, ages, employment and income.. Data were collected through interviews using the enclosed questionnaire and observations. Data analysis using multivariate analysis of factors. The results showed that the important factors obtained for category community consisted of (1) nature tourism factors, (2) the factors of function and benefits, (3) the factors of community participation in management as well as the frequency of utilization and (4) factors of knowledge. An important factor for the category manager consisted of (1) factors and management efforts (2) factors influence as well as the response of the community towards the management. An important factor for the category of perpetrators of fisheries consisted of (1) the factors of knowledge, (2) the frequency utilization factor as well as the functions and (3) factors of damaging the ecosystem.  
Growth and Survival Rate of Cyprinus carpio Linn Juvenile on Different Concentration of Regent 0.3 g Pesticide Siti Rudiyanti; Astri Diana Ekasari
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 5, No 1 (2009): Jurnal Saintek Perikanan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.604 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.5.1.49-54

Abstract

Pesticide usage in agriculture activities which had been wasted into water environment affect to waters and organism quality. This study tried to investigate growth and survival rate of Cyprinus carpio Linn juvenile that had been exposured by pesticide and running at November 2006 – January 2007 in Center of Fish Hatchery Ungaran, Semarang. Thus, 0.7 – 0.8 gram of fishes were tested on media that contained Regent 0.3 pesticides which has fipronil 0.3% active compound. Furthermore, this study has several steps which are determination of concentration range test, definitive test to determine LC50-96 h and sublethal toxicity test. Result of determination of concentration range test showed that fipronil pesticide has low-level limit concentration 0.1 mg/L and up-level limit concentration 10 mg/L. Definitive test showed that LC50-96 h was 0.84 mg/L. Result of sublethal toxicity test showed that pesticide which has fipronil active compound with different concentrations (0.000 mg/L; 0.084 mg/L; 0.168 mg/L; 0.252 mg/L; 0.336 mg/L) significantly affect to growth and survival rate of tested fish. In addition, water quality during this study period showed that all parameters were suitable for tested fish.  Keywords: Fipronile, Cyprinus carpio juvenile, growth, survival
HUBUNGAN SUBSTRAT DOMINAN DENGAN KELIMPAHAN GASTROPODA PADA HUTAN MANGROVE KULONPROGO, YOGYAKARTA (The Relation of dominant substrate to Gastropods Abundance in the Mangrove Forest of Kulonprogo, Yogyakarta) Rendra Rini Rismatul Chusna; Siti Rudiyanti; Suryanti Suryanti
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 13, No 1 (2017): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.845 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.13.1.19-23

Abstract

 Substrat mangrove terdiri atas fraksi pasir (sand), lumpur (silt), dan liat (clay). Gastropoda adalah kelompok hewan dari filum moluska yang hidup di jenis substrat dari kasar ke halus. Kelimpahan gastropoda dipengaruhi oleh substrat dasar yang merupakan habitat dari gastropoda, serta kandungan nutrien yang berbeda pada tiap fraksi akan mempengaruhi kelimpahan Gastropoda yang berada di dalamnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai hubungan substrat dengan kelimpahan Gastropoda, karena Gastropoda salah satu faktor penting untuk menjaga keseimbangan ekologi pesisir khususnya ekositem mangrove. Penelitian  dilakukan di Hutan Mangrove Kulonprogo Yogyakarta bertujuan untuk mengetahui tipe substrat, kelimpahan Gastropoda dan hubungan kedua variabel tersebut. Penelitian  dilakukan pada bulan April sampai dengan  Mei 2017. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif yaitu metode penelitian yang memberikan gambaran secara sistematis, faktual, akurat mengenai faktor-faktor dan sifat-sifat dari suatu daerah atau populasi. Metode pengambilan sampel substrat dan Gastropoda menggunakan metode Purposive Sampling Method pada 3 stasiun berbeda yaitu stasiun I pada bagian dekat pemukiman penduduk, stasiun II pada bagian dekat tambak, dan stasiun III pada bagian muara sungai. Hasil penelitian menunjukkan jenis substrat pada tiap stasiun adalah lempung dan lempung berdebu yang didominasi oleh fraksi lumpur (silt) dan pasir (sand). Jenis Gastropoda yang didapatkan berasal dari genus Littoraria, Natica, Faunus, Cerithium, Neritina, Polinices, Conus, Telescopium, dan Nerita. Meningkatnya prosentase fraksi pasir (sand) dan liat (clay) akan diikuti oleh meningkatnya kelimpahan Gastropoda, sedangkan untuk fraksi lumpur (silt) akan sebaliknya yaitu meningkatnya fraksi lumpur akan diikuti oleh menurunnya kelimpahan Gastropoda. Kata kunci: Tipe Substrat, Gastropoda, Mangrove, Kulonprogo  Mangrove substrates formed by sands, silts, and clays. Gastropods is a group of animals of the phylum of mollusks lives on the type of substrate from rough to smooth. Gastropod abundance is affected by substrate which habitat of gastropods and nutrients influencing the distribution of gastropods. Therefore, it needs a deeper research about the correlation of substrate and the amount of gastropods , because gastropods are the importants factor of mangrove ecosystem. The research helds in Kulonprogo Mangrove Forest, Yogyakarta, and the goals are to know the type of substrate, the amount of gastropods, and the correlation among them. This research held on April – Mei 2017. This research use descriptivemethod wich research method that provide a systematic, factual, accurate description of the factors and quality an area or population. The method on sampling sediments and gastropods is purposive sampling in 3 station. Station 1 near the settlement, station 2 near ponds, station 3 on the estuary. The results of this research shows that the sediments on every station are clay and dusty clay, which is dominated by silt,and sand fraction. The gastropods that obtained are Littoraria, Natica, Faunus, Cerithium, Neritina, Polinices, Conus, Telescopium, and Nerita. The percentage increasing on sands and clays fraction would be more gastropods. Otherwise on silts fraction.   
ANALISIS STATUS TROFIK PERAIRAN WADUK JATIBARANG DENGAN MENGGUNAKAN DATA CITRA SATELIT SENTINEL-2A (Analysis of the Trophic Status of Jatibarang Reservoir Waters Using Sentinel-2A Satellite Image Data) Rajib Jaka Dwinta Chandra; Churun Ain; Sigit Febrianto; Siti Rudiyanti; Frida Purwanti
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 16, No 2 (2020): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.16.2.%p

Abstract

Waduk Jatibarang yang berlokasi di Kelurahan Kandri, Kota Semarang memiliki potensi perikanan. Kondisi pemantauan kualitas air dapat diketahui dengan berbagai cara salah satunya yaitu dengan analisis status trofik. Tujuan penelitian ini untuk  mengetahui gambaran spasial parameter kualitas air diantaranya kecerahan, fosfor dan klorofil-a serta sebaran status trofik di Waduk Jatibarang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, data citra Satelit Sentinel-2A pada rekaman tanggal 04 Maret 2019 untuk menentukan status trofik dengan pengolahan menggunakan aplikasi ErMapper serta algoritma kecerahan, total fosfor, dan klorofil-a. Pengambilan data lapangan dilakukan pada tanggal 26 Maret 2019 sebagai uji akurasi. Pengambilan data lapangan dilakukan di 7 stasiun 3 kali pengulangan dengan waktu pagi siang dan malam. Analisa akurasi data dilakukan dengan pendekatan standart error (SE) sedangkan status trofik dengan Metode Indeks Carlson. Hasil yang diperoleh untuk uji akurasi (SE) setiap variabel yaitu : kecerahan 0,163, total fosfor 0,882 dan klorofil-a 1,011, nilai kecerahan berkisar antara 0,4 – 1 meter, nilai total fosfor berkisar antara 0,01 – 0,2 µg/l dan nilai klorofil-a berkisar antara 0,1 – 1,2 µg/l. Nilai status trofik Carlson Waduk Jatibarang berdasarkan pengolahan data satelit sentinel 2A berkisar 48,46 – 59,58 dan nilai TSI tertinggi berada pada titik 4 pada inlet Waduk Jatibarang. Secara keseluruhan tingkat kesuburan waduk Jatibarang termasuk kedalam mesotrofik sampai eutrofik ringan. Jatibarang Reservoir, located in the Kandri village, Semarang City has potential for fisheries. The monitoring of water quality can be known in various ways one of which is by the trophic status analysis. The purpose of this study were to know the water quality parameters including brightness, phosphorus and chlorophyll-a and to determine the distribution of trophic status in the Jatibarang Reservoir. This research uses descriptive method, with Sentinel-2A Satellite imagery data recorded on March 4, 2019 to determine trophic status by processing using the ErMapper application as well as the brightness, total phosphorus, and chlorophyll-a algorithms.Field data collected on March 26, 2019 as an accuracy test. Field data retrieval was done at 7 stations and with 3 repetitions in the morning afternoon and evening time. Data accuracy analysis was done by standard error (SE) while trophic status by Carlson Index Method. The results obtained for testing the accuracy (SE) of each variable were: brightness 0.163, total phosphorus 0.882 and chlorophyll-a 1.011, brightness ranged from 0.4-1 meters, total phosphorus ranged between 0.01 - 0.2 µg / l and chlorophyll-a ranged from 0.1 - 1.2 µg / l. The Carlson Trophic Jatibarang trophic status value ranges from 48.46 - 59.58, the trophic level includes mesotrophic to mild eutrophic.
KONDISI HABITUS Rhizophora sp DI PANTURA KOTA SEMARANG BERDASARKAN NILAI HUE DAUN (Habitus Condition of Rhizophora sp in the Northern Coast of Semarang City based on the Hue Number) Frida Purwanti; Siti Rudiyanti; Agung Suryanto
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 9, No 1 (2013): JURNAL SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.745 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.9.1.75-79

Abstract

Mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir penting yang berfungsi untuk melindungi daerah pesisir dan untuk mendukung produktivitas primer. Keanekaragaman hayati mangrove di Propinsi Jawa Tengah didominasi oleh Rhizopora sp. Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mendeteksi ksehatan hutan mangrove adalah daun. Nilai hue dapat digunakan untuk menunjukkan kondisi habitus mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah hue dari daun Rhizopora sp. baik di areal terbuka maupun daerah teduh, untuk menganalisis hubungan hue dengan parameter lingkungan, dan untuk mengidentifikasi kondisi habitus dari Rhizopora sp di pantai utara Kota Semarang. Purposive random sampling digunakan untuk mengumpulkan spesimen daun Rhizopora sp dan untuk mengukur kualitas perairan Kabupaten Tugu, kemudian nilai Hue dari masing-masing daun mangrove dianalisis menggunakan program komputer Adobe photoshop CS2. Korelasi Pearson digunakan untuk analisis korelasi nilai daun Hue terhadap paramater lingkungan. Penelitian ini dilakukan dari bulan September sampai November 2011, di Tugu, Semarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Hue Rhizophora apiculata di stasiun Mangunharjo lebih rendah dari stasiun Mangkang Kulon, baik di areal terbuka maupun ternaungi. Korelasi nilai Hue untuk suhu dan salinitas perairan memiliki korelasi yang sangat lemah untuk kedua kondisi areal.Habitus terbuka dan ternaungi dari Rhizophora apiculata di Tugu District menunjukkan nilai perbedaan Hue yang dipengaruhi oleh suhu udara dan substrat. Kata kunci: Mangrove, hue, korelasi, habitus Mangrove is one of the important coastal ecosystem that have function to protect coastland and to support primary productivity. Mangrove biodiversity at the Central Java Province is dominated by Rhizophoraceae. One indicator that can be used to detect the health of mangrove forest stands is the leaf. Hue number correspond to the color can be used to indicate mangrove habitus condition. The research aims to know the Hue number from the Rhizophora sp leaf on the open and shading areas; to analyse correlation its Hue to the environmental parameter; and to identify habitus condition of Rhizophora sp at the northern coast of Semarang city. Purposive random sampling was used to collect Rhizophora leafs specimen and to measure waters quality of the Tugu District, then Hue value from each mangrove leaf stand was analised using Adobe photoshop CS2 computer program. Pearson correlation was used to analysed correlation of Hue leaf value to environmental paramater. The research was conducted from September to November 2011, at Tugu District, Semarang. The result indicated that Hue value of Rhizophora apiculata at Mangunharjo station  is lower than Mangkang Kulon station, both at the open and shading areal.  Correlation of Hue value to water temperature and water salinity have a very weak correlation for both of open and shading areal.Habitus condition of Rhizophora apiculata at Tugu District show a difference value of Hue that affected by air temperature and substrat. Key words : Mangrove, Hue, correlation, habitus
The Growth of Skeletonema costatum on Various Salinity Level’s Media Siti Rudiyanti
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 6, No 2 (2011): Jurnal Saintek Perikanan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.265 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.6.2.70-77

Abstract

ABSTRACT Skeletonema costatum is a good species phytoplankton for natural food since it has high chemical contents.  The research aims to know salinity influence to the growth of S costatum’s and its optimum salinity. Experimental method  is used with 4 treatments and 1 control. The primary research done to identify observation time and accurate interval salinity. Result of the primary research showed that S costatum’s growth can be observed clearly in every 18 hours and salinity level with interval of 3 0/00.  The salinity treatments used 230/oo, 260/oo, 290/oo, 320/oo, and 350/oo because of it’s salinity range of    S costatum. Cell density in each bottle sample is 20.000 cell/liter. The maximal population growth of       S costatum at salinity 23 0/00  is 2,5 x 104 cell /mL, salinity 26 0/00  is 2,58 x 104 cell/mL, salinity 29 0/00  is 3,03 x 104cell/m, and at control salinity 32 0/00  is 4,08 x 104 cell/mL, while at salinity 35 0/00  is 3,16 x 104 cell/mL. From the observation found that water quality of media is suitable to support population growth of S costatum. The best salinity for the growth of S costatum population is on the treatment of 32 0/00 salinity where the cell grown very fast and only need short time to reach out the top population. Whereas the optimum salinity is 33,26 0/00 on density of 3,48 x 104 cell/mL.                 Keywords : Skeletonema costatum, growth, optimum salinity.
ANALISIS MUTU SEDIMEN HABITAT KERANG DARAH (Anadara granosa L) DENGAN REBURIAL TEST (Sediment Quality Analysis for Habitat of Blood Cockle (Anadara granosa L) by Reburial Test) Haeruddin Haeruddin; Djoko Suprapto; Siti Rudiyanti
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 12, No 2 (2017): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.658 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.12.2.81-85

Abstract

 Penelitian dilakukan untuk mengkaji mutu sedimen habitat kerang darah (Anadara granosa L) berdasarkan preferensi reburial. Uji dilakukan terhadap sedimen yang berasal dari Estuari Wakak-Plumbon di Kabupaten Kendal dan sedimen dari Pulau Panjang, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.Hasil pengujian menunjukkan bahwa kerang darah yang dipapar dalam sedimen dari estuari Wakak-Plumbon dan Pulau Panjang tidak menunjukkan kegagalan dalam upaya membenamkan diri (reburial failured) setelah dipapar selama 48 jam. Perbedaan hanya terjadi dalam waktu adaptasi sebelum membenamkan diri. Kerang darah umumnya membutuhkan waktu yang lebih lama untuk adaptasi sebelum membenamkan diri pada sedimen yang berasal dari Estuari Wakak-Plumbon dibanding dari Pulau Panjang. This research conducted to determine quality of sediment for habitat of blood cockle based on reburial reference. Test done to sediment from Wakak-Plumbon estuary on Kabupaten Kendal and from Panjang Island, Kabupaten Jepara, Central Java. The results showed that blood cockle exposed to sediment from two location are not different in reburial failured, but different in time needed for adaptation before reburial. Anadara granosa needed more time to adapted, before reburial in Wakak-Plumbon sediment. 
Co-Authors 'Ain, Churun - Revika, - A'in, Churun Abdul Ghofar Adi, Micael Tri Anggoro Adriani, Arina Afifatul Isroliyah Afifatul Isroliyah agung Suryanto Agus Hartoko Alfizhari, Ananda Erza Putra Ali Djunaedi Amalo, Nancy Marcelina Reinatha Anhar Solichin Aninditia Sabdaningsih Aprilia Kukuh Dwijayati, Aprilia Kukuh Aqil Mushthofa Arif Aji Nugroho Arif Rahman Asih, Dilia Puspita Astri Diana Ekasari Aulia, Namira Aurumitha, Fatikhasiwi Nur Awita, Rida Azzahra, Rizqina Nafa Nur A’in, Churun ‘Ishmah, Amalina Zata Bambang Sulardiono Boedi Hendrarto Brenda Sabrina Marsha Putri Churun Ain Churun Ain Churun Ain Churun Ain Churun Ain Churun A’in Dafit Ariyanto Delianis Pringgenies Devi Asmiyatna Sari Deviana, Desi Avinda Dewi, Kartika Puspita Dewi, Mayda Anggita Dewi, Prasasti Anugrahini Dian Tri Pramesti Dian Wijayanto Djoko Suprapto Dominig, Amryta Dwi Banu Purnomo Dyah Prajna Swayati, Dyah Prajna Elok Faiqoh Faizin, Khabib Ahsanul Fajar Sidik Pamungkas Febrianto, Sigit Febrilia, Anggita Yohana Fian Anggrita Prabandini FITRIYAH, AINUN Frida Purwanti Fristiwi Silvi Melinda Gozion, Akwila Haeruddin Haeruddin Haeruddin Haeruddin Halimatus Sa’diyah Hanifah, Nisrina Nurfitria Harjanto, Wirawan Harry Saxena Saragih Helmi Ardi, Helmi Henny Liestiana, Henny Herda Mustika Sari, Herda Mustika Herimawan M.F. Ika Rianita Azizah, Ika Rianita Ikhsan, Muhammad Khoirul Isna Yunita Rahmawati Isnanda, Angghardian Kafin Aulia Mayagitha Kartika Putri Kusumaatmaja, Kartika Putri Kukuh Prakoso, Kukuh Lestari, Abid Lubis, Denisya Alyifiya Gusfa Mahaka, Titan Yuri Mardani, Arif Marsaoly, Micail Max Rudolf Muskananfola Max Rudolf Muskanonfola Mei Larasati Meina Siska Prihatin, Meina Siska Menur Rumanti Mohammad Gilang Nur Fajar, Mohammad Gilang Nur Muhammad Dwi Hudoyo Swarto Mustofa Nitisupardjo Nailirohmah, Ulya Melly Nela Sukmawati Nilna Almuna Rizqi Niniek Widyorini Norma Afiati Novananda Nadia Oktavianto Eko Jati Panjaitan, Theresia Pintya Dwanita Ayu Pratesthi, Pintya Dwanita Ayu Prasasti Nusa Pertiwi Nur Fatimah Prijadi Soedarsono Pujiono Wahyu Purnomo Purba, Raymond Doresmas Puspitaningtyas, Indrie Hapsari Putri Dellia Mukhtar, Putri Dellia Putri, Nanda Bunga Sukma Wijaya Rahma, Dwi Aprilia Rahmadhati, Kharisma Yulia Rahmawan, Dimas Yoga Rajib Jaka Dwinta Chandra Rendra Rini Rismatul Chusna Rina Mariana Rini Pramesti Riska Apriliana Salsabila, Ananda Tania Saputro, Danang Adi Sari, Dita Yuliana Setiaji Nugroho Siahaan, Debora Ernika Sinulingga, Hiskia Arapenta Siraj, Ahmad Zhafran Sonia Wulan, Sonia Subiyanto Subiyanto Sulistiyani, Heni Supriharyono Supriharyono Suradi Wijaya Saputra Suryanti Suryanti - Suryanti Suryanti Susi Sumartini Sutrisno Anggoro Sutrisno Anggoro Suwandana, Achmad Fuad Taufani, Wiwiet Teguh Tiara Esha Kinanti Triantoro, Dian Dwi Untung Ismoyo Utami, Sri Aulia Ramaddini Wilis Ari Setyati Wiwiet Teguh Taufani Zevriawan, Aldhimas Bagus