ABSTRAK Merokok seringkali dipersepsikan sebagai perilaku yang merepresentasikan maskulinitas khususnya di kalangan pria. Persepsi tersebut masih banyak ditemukan pada remaja masa kini, yang memandang merokok sebagai simbol kedewasaan dan identitas maskulin. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kesadaran remaja terhadap bahaya merokok serta menghapus imaji positif merokok yang kerap dikaitkan dengan citra maskulinitas. Selain itu, kegiatan ini juga mengembangkan keterampilan komunikasi asertif melalui pembelajaran ungkapan bahasa Inggris untuk menolak ajakan merokok. Metode yang digunakan adalah Community-Based Participatory Research (CBPR), yang menekankan kolaborasi aktif antara peneliti, fasilitator, dan peserta dalam setiap tahapan kegiatan. Sebanyak 19 remaja masjid dari Mesjid Jami’ Al-Muttaqin, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, ikut berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan pengabdian berupa ceramah interaktif, diskusi, dan simulasi percakapan. Data dikumpulkan melalui observasi dan kuesioner kepuasan peserta. Hasil menunjukkan respon sangat positif; mayoritas peserta menyatakan puas hingga sangat puas terhadap materi, narasumber, dan sarana kegiatan. Seluruh peserta (100%) berminat mengikuti kegiatan serupa dan menunjukkan peningkatan pemahaman tentang bahaya merokok serta kemampuan menolak ajakan merokok secara asertif dalam bahasa Inggris. Kegiatan ini juga mengubah persepsi peserta terhadap citra merokok, dari perilaku yang dianggap simbol maskulinitas menjadi kebiasaan yang merugikan kesehatan. Integrasi edukasi kesehatan dan komunikasi asertif terbukti membantu mendorong perilaku sehat dan menghapus imaji positif merokok pada remaja.Kata kunci: Penelitian Berbasis Masyarakat; Pengabdian Masyarakat; Perilaku Merokok; Komunikasi Asertif. ABSTRACTSmoking is commonly viewed as a masculine practice, particularly among men. This attitude persists among today's youth, who see smoking as a sign of maturity and masculine identity. This community service activity attempts to enhance adolescent understanding of the dangers of smoking while also dispelling the favorable image of smoking that is frequently connected with masculinity. This activity also improves assertive communication skills by teaching English terms for declining requests to smoke. The method employed is Community-Based Participatory Research (CBPR), which emphasizes active collaboration among researchers, facilitators, and participants throughout the process. A total of 19 mosque youth from Masjid Jami’ Al-Muttaqin, Cempaka Putih, Central Jakarta, participated in a series of community service activities, including interactive lectures, discussions, and conversation simulations. Data were collected through observation and participant satisfaction questionnaires. The results showed a very positive response; the majority of participants expressed satisfaction to very satisfaction with the material, speakers, and activity facilities. All participants (100%) expressed interest in participating in similar activities and demonstrated an increased understanding of the dangers of smoking and the ability to refuse invitations to smoke assertively in English. This activity also changed participants' perceptions of smoking, from a behavior perceived as a symbol of masculinity to a habit detrimental to health. The integration of health education and assertive communication has been found to help encourage healthy behaviors and dispel unfavorable attitudes toward smoking among adolescents. Keywords: Community-Based Research; Community Service; Smoking Behavior; Assertive Communication.