Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

OPTIMASI LAMA PERENDAMAN LARUTAN DAUN PEPAYA (Carica papaya) TERHADAP PREVALENSI SERANGAN JAMUR DAN DAYA TETAS TELUR IKAN LELE (Clarias batrachus) Rachman, Siti Hardiningsih; Khaeriyah, Andi; Salam, Nur Insana
OCTOPUS: JURNAL ILMU PERIKANAN Vol. 12 No. 2 (2023): OCTOPUS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/o.v12i2.14965

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lama waktu optimal perendaman larutan daun pepaya guna mengetahui dampaknya terhadap prevalensi infeksi jamur dan daya tetas telur ikan lele (Clarias batrachus). Penelitian tersebut menggunakan teknik pemanfaatan telur ikan lele yang diperoleh melalui pemijahan alami yang bersumber dari Pusat Benih Ikan Bontomanai di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Sebanyak 100 butir telur ikan lele dimanfaatkan per wadah, beserta 10 liter air yang mengandung nutrisi. Wadah penelitian berjumlah 12 buah, yaitu toples plastik yang mampu menampung 15 liter air. Percobaan dilakukan untuk mengetahui pengaruh perendaman lama dalam larutan daun pepaya terhadap keberadaan jamur dan kelangsungan hidup telur lele dumbo. Penelitian ini terdiri dari empat perlakuan yaitu perlakuan A yaitu perendaman selama 5 menit, perlakuan B yaitu perendaman selama 10 menit, perlakuan C yaitu perendaman selama 15 menit, dan perlakuan D yaitu perendaman selama 20 menit. Temuan penelitian yang diperoleh selama kurang lebih satu bulan menunjukkan bahwa perlakuan D menunjukkan kejadian infeksi jamur pada telur ikan lele paling rendah, dengan angka prevalensi sebesar 3,33%. Sedangkan daya tetas telur ikan lele pada perlakuan D mencapai angka 82,67%. Disarankan untuk melakukan pengujian efektivitas perendaman dengan durasi lebih dari 20 menit untuk memberikan penilaian yang lebih akurat terhadap efektivitas waktu perendaman yang berbeda. Saat melakukan penelitian atau budidaya, sangat penting untuk memantau dan menjaga kualitas air dengan cermat untuk memastikan stabilitasnya dan mencapai hasil yang ideal.
PENINGKATAN KANDUNGAN NUTRISI TEPUNG ECENG GONDOK YANG DIFERMENTASI DENGAN CAIRAN RUMEN SAPI (Eichhornia crassipes)SEBAGAI PAKAN IKAN IKAN AIR TAWAR Novitaszari, Reni; Burhanuddin, Burhanuddin; Akmaluddin, Akmaluddin; Hamsah, Hamsah; Salam, Nur Insana
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 11 No 2 (2023): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29406/jr.v11i2.5700

Abstract

Eceng gondok (Eichomia crassipes)adalah tanaman air yang dapat diolah menjadi pakan ikan. baik untuk ikan yang sifatnya pemakan tumbuhan, hewan, maupun keduanya. Jenis ikan yang sifatnya pemakan keduanya adalah ikan Nila, selain itu, jenis ikan ini juga memiliki nilai ekonomis tinggi serta mudah untuk dibudidayakan. Tanaman eceng gondok (Eichomia crassipes) eceng gondok memiliki kandungan nilai gizi yang sangat baik dapat dengan mudah dicerna oleh ikan. Pengolahan eceng gondok menjadi pakan, dapat dilakukan dengan proses fermentasi. Penggunaan tanaman eceng gondok (Eichomia crassipes) sebagai pakan, memiliki kandungan nutrisi cukup tinggi yaitu bahan kering 8,05%, protein kasar 13,86%, serat kasar 21,10%, lemak kasar 0,98%, abu 1,65%, bahan eksrak tanpa nitrogen (BETN) 29,16%. Salah satu kegunaan fermentasi merupakan untuk menurunkan kadar serat yang terdapat pada bahan seperi tepung eceng gondok dengan bantuan mikrooerganisme. Salah satu sumber mikroorganisme yang dapat digunakan dalam proses fermentasi adalah cairan rumen sapi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Kualitas Nutrisi Tepung eceng gondok (Eichomia crassipes) yang difermentasi cairan rumen sapi. Penelitian ini akan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan menggunakan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Adapun perlakuan yang diuji. Berdasarkan dari hasil penelitian Peningkatan Kandung tepung eceng gondok yang dimanfaatkan cairan rumen sapi dapat disimpulkan bahwa tepung eceng gondok yang di fermentasi mengunakan cairan rumen dengan dosisng 1,5% mampu menikatakan derajat hidrolisis protein, derajat hidrolisis karbohidrat dan derajat hidrolisis serat dan derajat hidrolisis lemak dan mampu juga meningkatkan kadar protein kasar dan mampu meningkatkan kadar serat bahwa dosis 1,5% yang terbaik untuk dijadikan sebangai bahan baku pakan.
Peningkatan Kesehatan Lingkungan Masyarakat Petani Tambak Garam melalui Edukasi Pemenuhan Gizi Keluarga di Desa Bulu Cindea Yani, Fitri Indah; Rahmi, Rahmi; Ibrahim, Juliani; Syarif, Asriyanti; Susanty, Nurbiah Eka; Salam, Nur Insana; Wahyu, Farhanah; Anwar, Andi Rahayu; Saleh, Syaiful
Jurnal SOLMA Vol. 14 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/solma.v14i3.20391

Abstract

Latar Belakang: Wilayah pesisir rentan terhadap masalah kesehatan lingkungan dan gizi keluarga akibat keterbatasan akses sanitasi dan kurangnya pemanfaatan pangan lokal. Desa Bulu Cindea menghadapi prevalensi stunting 28% dan 40% rumah tangga tanpa sanitasi layak. Program ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran petani garam melalui edukasi partisipatif tentang sanitasi dan gizi keluarga berbasis potensi lokal. Metode: Kegiatan berlangsung selama enam minggu (Mei–Juni 2025) dengan frekuensi pertemuan mingguan. Metode yang digunakan adalah pendidikan masyarakat, pelatihan, dan difusi ipteks. Partisipan terdiri dari 32 orang (12 ibu rumah tangga, 10 petani tambak garam, 5 kader kesehatan, 5 tokoh masyarakat). Mahasiswa berperan sebagai enumerator kuesioner, fasilitator diskusi, dan dokumentator kegiatan. Data dikumpulkan melalui pre-test dan post-test, observasi partisipatif, serta wawancara semi-terstruktur dengan 10 responden (direkam audio). Hasil: Skor pengetahuan meningkat dari rata-rata 45,6 menjadi 83,2. Sebanyak 75% responden mulai memilah limbah domestik, 60% tidak lagi membuang limbah ke laut, dan 68% keluarga mulai mengonsumsi ikan, rumput laut, serta sayuran lokal minimal tiga kali seminggu. Kesimpulan: Edukasi berbasis praktik partisipatif efektif dalam meningkatkan literasi sanitasi dan gizi masyarakat pesisir. Model ini fleksibel untuk direplikasi di desa pesisir lain dengan penyesuaian konteks lokal.