Claim Missing Document
Check
Articles

Human’s Relationship with Technology in Nick Land’s Accelerationism Wijarnarko, Andrean Ferry; Maharani, Septiana Dwiputri
Jurnal Filsafat "WISDOM" Vol 34, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jf.86596

Abstract

Technology exists as a manifestation of human awareness of fulfilling needs and helping with daily human activities. Even in their daily lives, humans cannot be separated from the existence of technology. The presence of technology encourages human access to solve various modern problems that are closely related to technology. This is emphasized by Nick Land that technology is an expression of the human drive to overcome the limitations of nature and improve the quality of nature, even humans. Technology is present as a way for humans to enhance their living conditions. Developments in this contemporary era are faced with further developments in the relationship between humans and technology, namely; technology has the potential to replace the role of humans in various fields. This research aims to explore the rapid advancement of technology through accelerationism, which can potentially influence humans in solving a problem related to human relations with technology. The research method used is philosophical hermeneutics on actual problems. Nick Land through accelerationism, provides a view that technological development must be accelerated and allowed to run. Land believes that technology will bring humans to the next stage of evolution to a better life. The problem of human relationships with accelerationism in technology can impact the development of human life. Humans and technology can work together for the benefit of mankind.
“CONFLICT OF INTEREST” DALAM PENDAFTARAN MEREK DI LINGKUNGAN DJKI (STUDI KASUS ETIKA DALAM PENDAFTARAN MEREK CITAYAM FASHION WEEK) Canggih Gumanky Farunik; Septiana Dwiputri Maharani; Annisa Daniati
Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 29 No. 4 (2023): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/paradigma.v29i4.465

Abstract

Trademark registration is an effort to protect intellectual property rights (HAKI) which is regulated, approved, and managed by the Directorate General of Intellectual Property, Ministry of Law and Human Rights of the Republic of Indonesia (DJKI Kemenkumham RI). Trademark is one of intellectual property, where the problem that often occurs in trademark registration is that the trademark registrar is not the creator of the mark. This study seeks to see the Conflict of Interest behind trademark registration as an ethical issue. The urgency of this research is to determine the ethical basis to policy recommendations that can overcome conflicts of interest that occur between brand registrants and brand creation as a creative process. This research is a literature research with a case study approach of Citayam Fashion Week, to examine the Conflict of Interest between brand creators in the interest of protecting creative works and brand registrants in the interest of utilizing economic value. It is hoped that this Conflict of Interest can provide an overview of ethical issues in trademark registration, so that later it can provide policy recommendations that can help resolve disputes over intellectual property registration, especially trademarks.
Relasi Jiwa dan Badan Dalam Tradisi Ngaben Di Bali Perspektif Filsafat Advaita Vedanta Adi Sankaracarya Siswadi, Gede Agus; Maharani, Septiana Dwiputri
Satya Widya: Jurnal Studi Agama Vol 8 No 2 (2025): Studi Agama
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/swjsa.v8i2.1221

Abstract

Penelitian ini mengkaji relasi jiwa dan badan dalam tradisi ngaben di Bali dari sudut pandang filsafat Advaita Vedanta Adi Sankaracarya. Tradisi ngaben merupakan upacara kematian dalam kebudayaan Hindu Bali, yang bertujuan sebagai proses pengembalian unsur pembentuk manusia yang terdiri dari lima unsur, yakni Pertiwi, Apah, Teja, Bayu dan Akasa. Dalam filsafat Advaita Vedanta, Adi Sankaracarya mengajarkan bahwa jiwa (atman) adalah bagian dari kesadaran universal (Brahman) yang tak terbatas dan abadi, serta tidak terpisah dari Tuhan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menganalisis teks-teks klasik Advaita Vedanta, serta berbagai literatur tentang tradisi ngaben. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi ngaben di Bali mencerminkan pemahaman akan sifat abadi jiwa dan keberadaan sementara badan fisik. Prosesi ngaben memiliki makna sebagai bentuk transformasi, di mana badan fisik yang terbakar mewakili sifat fana manusia, sementara jiwa yang abadi melepaskan diri dari keterikatan dengan dunia materi. Upacara ngaben sesungguhnya mengandung pemahaman bahwa jiwa individu adalah bagian yang tak terpisahkan dari kesadaran universal, sesuai dengan ajaran Advaita Vedanta. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya ngaben dalam konteks spiritual dan sosial masyarakat Bali, di mana upacara tersebut bukan hanya merupakan penghormatan terakhir bagi yang meninggal, tetapi juga kesempatan untuk merenungkan hakikat eksistensi manusia dan tujuan sejati hidup. Implikasi dari penelitian ini adalah bahwa pemahaman akan sifat abadi jiwa dapat memberikan pandangan yang lebih dalam tentang makna kematian dan pemaknaan hidup dalam tradisi ngaben, serta relevansi filsafat Advaita Vedanta dalam konteks budaya Bali yang kaya akan spiritualitas Hindu.
The Max Scheler's Hierarchy of Values in the Gandrung Sewu Festival of Banyuwangi: Hierarki Nilai Max Scheler dalam Festival Gandrung Sewu di Banyuwangi Sudarman, Mei Ariani; Maharani, Septiana Dwiputri
Jurnal Budaya Vol. 6 No. 1 (2025): Jurnal Budaya
Publisher : Department of Language and Literature, Faculty of Cultural Studies, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Festival Gandrung Sewu merupakan salah satu kegiatan tahunan yang dilaksanakan di Banyuwangi. Tari Gandrung yang ada pada festival ini bertujuan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat Banyuwangi atas hasil panen melimpah yang mereka peroleh dari Dewi Sri atau Dewi pembawa rejeki. Seiring perkembangan jaman, nilai yang terkandung dalam kegiatan festival ini bukan hanya sekedar sebagai peringatan atas rasa syukur saja dan bukan lagi persoalan spiritualitas saja, melainkan terdapat nilai-nilai filosofis lain yang masih dijaga oleh para pelaku budaya di Banyuwangi. Lantas, bagaimana hierarki nilai yang terdapat pada festival ini? Penelitian ini disusun untuk mengetahui bagaimana hierarki nilai yang ada pada kegiatan tahunan di Banyuwangi tersebut. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif-analisis, yang mana penulis mengumpulkan data akademik, kemudian kumpulan data ini di analisis menggunakan teori hierarki nilai Max Scheler. Hasil dari penelitian ini adalah festival Gandrung Sewu di Banyuwangi merupakan kegiatan yang menekankan pengalaman spiritual sebagai wujud rasa syukur. Menurut perspektif Max Scheler, festival Gandrung Sewu ini memiliki makna simbol dalam setiap kegiatannya dan mengandung empat hierarki nilai: nilai kenikmatan, nilai vitalitas, nilai spiritual, dan nilai kesucian.
MENGEMBANGKAN SENI KARAWITAN MELALUI PENYELENGGARAAN FESTIVAL: DARI KAMPUS KE MASYARAKAT Sartini, Sartini; Supartiningsih, Supartiningsih; Maharani, Septiana Dwiputri; Muthmainnah, Lailiy
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 9, No 1 (2026): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v9i1.66831

Abstract

Traditional arts tend to lose popularity compared to pop culture. This also applies to Javanese gamelan art. Many gamelan instruments are in disrepair, and the public's desire to participate in preserving gamelan is declining. One reason is the lack of performance spaces, even though the potential of gamelan instruments, supporting artists, and gamelan enthusiasts still exists in the community. The program's goal is to initiate gamelan festivals on campus and in the community. The methods used include holding festivals with multi-collaborations, ensuring campus support, collaborating with artists, holding regular festivals, building interaction with gamelan groups, evaluating and improving program quality, and collaborating with relevant institutions. The program's results include the implementation of gamelan festivals at UGM from 2017 to the present, increased public interest in participating in gamelan festivals, increased community enthusiasm for gamelan practice, more functional gamelan instruments in the community, university institutions playing an increasing role in cultural preservation, and support for government institutions in programs to advance traditional culture. The conclusion of the implementation of the gamelan festival program is that there are increasingly more activities to preserve the art of gamelan on campus and in the community, gamelan instruments in the community are becoming more functional, and the enthusiasm of institutions in advancing traditional culture is increasing.Seni tradisional cenderung kalah pamor dibanding budaya pop. Hal ini juga terjadi pada seni karawitan Jawa. Perangkat gamelan banyak yang mangkrak dan keinginan masyarakat untuk terlibat dalam melestarikan karawitan menurun. Salah satu sebabnya adalah minimnya ruang pementasan padahal potensi perangkat gamelan, seniman pendukung, dan peminat karawitan masih ada di masyarakat. Tujuan program adalah menginisiasi kegiatan festival karawitan di kampus dan masyarakat. Metode yang dilakukan: memastikan dukungan kampus, bekerja sama dengan seniman, menggelar festival secara rutin, membangun interaksi dengan kelompok-kelompok karawitan, mengevaluasi dan meningkatkan kualitas program, dan kerjasama dengan lembaga terkait. Hasil program yang telah dilakukan: terselenggaranya kegiatan festival karawitan di UGM dari tahun 2017 hingga kini, semakin meningkatnya animo masyarakat untuk mengikuti kegiatan festival karawitan, meningkatnya semangat masyarakat dalam berlatih karawitan, perangkat gamelan di masyarakat lebih berfungsi, institusi universitas semakin berperan dalam pelestarian budaya, dan mendukung semangat lembaga pemerintah dalam program pemajuan kebudayaan tradisional. Kesimpulan hasil penyelenggaraan program festival karawitan  adalah semakin maraknya kegiatan melestarikan seni karawitan di kampus dan masyarakat,  perangkat gamelan di masyarakat semakin berfungsi, dan meningkatnya semangat institusi dalam memajukan kebudayaan tradisional.