Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Efektifitas ekstrak daun sukun (Artocarpus Altilis F.) terhadap jumlah total spermatozoa tikus jantan diabetik yang diinduksi streptozotosin Triandini, Erdieny Fahliza; Fauziah, Cut; Yusmaini, Hany; Bahar, Meiskha
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hspj.v8i3.996

Abstract

Indonesia mengalami prevalensi diabetes mellitus yang meningkat setiap tahun. Diabetes mellitus sebagai penyakit metabolisme dapat meningkatkan produksi ROS (reactive oxygen species) dan berpotensi menyebabkan penyakit komplikasi seperti penyakit pada sistem reproduksi yaitu infertilitas. Hal ini salah satunya dapat dicegah dengan pengobatan herbal yang saat ini sedang banyak dimaksimalkan penggunaannya. Daun sukun menjadi salah satu tanaman herbal dengan kandungan senyawa metabolit sekunder yang dapat digunakan sebagai sumber antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh ekstrak daun sukun (A. altilis F.) terhadap peningkatan jumlah total spermatozoa. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain kelompok control post-test-only dan menggunakan subjek yang diinduksi oleh streptozotosin (STZ). Kelompok perlakuan dibagi menjadi 3 dengan dosis ekstrak daun sukun 200 mg/KgBB, 400 mg/KgBB, dan 800 mg/KgBB diuji bersama dengan kontrol negatif (diberikan pakan standar, minum, dan tidak diberikan induksi STZ dan kontrol positif (diberikan pakan standar, minum, dan diberikan induksi STZ tanpa ekstrak daun sukun). Dengan menggunakan uji Kruskal-Wallis dan Uji Pos-Hoc Mann Whitney, hasil yang didapatkan adalah signifikan (P Value <0,05) pada kelompok kontrol positif dengan kelompok kontrol negatif dan kelompok perlakuan 1,2, dan 3. Ekstrak duan sukun dengan dosis 200 mg/KgBB memberikan efek yang hampir sama dengan kelompok kontrol negatif. Dapat dismpulkan bahwa pemberian ekstrak daun sukun dapat memberikan pengaruh terhadap jumlah total spermatozoa pada tikus diabetik.
PENGARUH EKSTRAK BUAH PEDADA PUTIH (Sonneratia alba) TERHADAP MOTILITAS MENCIT (Mus musculus) JANTAN GALUR DDY Nabila, Laksmiwati; Fauziah, Cut; Yusmaini, Hany; NurCita, Boenga
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.47125

Abstract

Partisipasi pria dalam program KB di Indonesia masih rendah dibandingkan dengan negara lain. Hal ini disebabkan kontrasepsi pria non-hormonal bersifat permanen seperti vasektomi. Oleh karena itu, penting untuk menyelidiki strategi alternatif kontrasepsi yang aman dan efektif. Buah pedada putih (Sonneratia alba) saat ini sedang diteliti potensinya sebagai alternatif kontrasepsi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Buah Pedada Puith (Sonneratia alba) terhadap motilitas spermatozoa. Penelitian eksperimental ini dilakukan di iRATco Veterinary Laboratory Services Bogor pada bulan Mei-Juli 2023. Subyek yang digunakan adalah mencit jantan (Mus musculus) strain DDY. Kriteria inklusi sampel penelitian adalah mencit jantan sehat dan aktif, berumur 8-12 minggu, dengan berat ± 20-40 gram. Tikus dengan kelainan anatomi dan yang telah digunakan untuk percobaan sebelumnya dieksklusikan. Mencit yang memenuhi kriteria restriksi kemudian dibagi menjadi lima kelompok yaitu kontrol negatif (pemberian NaCl 0,9%), kontrol positif (pemberian NaCMC 1%), serta kelompok perlakuan 1 (dosis 200mg/KgBB), perlakuan 2 (dosis 300mg/KgBB), dan perlakuan 3 (dosis 400 mg/KgBB). Pengujian bivariat menggunakan Kruskal-Wallis dan Post Hoc didapatkan hasil p<0.05 antara kontrol negatif dengan perlakuan 2 dan perlakuan 3 yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kontrol negatif dengan perlakuan 2 (p=0.038) dan perlakuan 3 (p=0.038).Pemberian ekstrak buah pedada (Sonneratia alba) dengan konsentrasi 300mg/KgBB (Perlakuan 2) dan dosis 400mg/KgBB (Perlakuan 3) dapat memengaruhi motilitas spermatozoa mencit jantan galur DDY. Kata kunci: Sonneratia alba, motilitas spermatozoa, galur DDY
Peningkatan Kualitas Hidup Masyarakat Pangkalan Jati terhadap Kadar Kolesterol dengan Tanaman Herbal Wafa; Revina, Rika; Anggarany, Ariska; Aprilia, Citra Ayu; Yusmaini, Hany
Jurnal Abdimas Mahakam Vol. 9 No. 02 (2025): Juli
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24903/jam.v9i02.3519

Abstract

Kelurahan Pangkalan Jati, Kecamatan Cinere, Kota Depok, didominasi oleh penduduk lanjut usia yang rentan terhadap penyakit degeneratif akibat tingginya kadar kolesterol. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai upaya penurunan kadar kolesterol secara alami melalui pemanfaatan tanaman berkhasiat. Metode yang digunakan meliputi penyampaian materi edukatif mengenai bahaya kolesterol tinggi serta manfaat tanaman seperti jahe, daun salam, daun sirsak, daun alpukat, dan daun kelor, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif dan pemeriksaan kadar kolesterol. Kegiatan dilaksanakan pada 26 September 2024 dengan jumlah peserta sebanyak 50 orang. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan masyarakat, dengan penurunan kategori pengetahuan rendah dari 60% menjadi 10%, serta peningkatan kategori pengetahuan tinggi dari 10% menjadi 50%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kegiatan edukasi mengenai pengelolaan kolesterol melalui pemanfaatan tanaman herbal ini terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat lanjut usia di Kelurahan Pangkalan Jati. Peningkatan pemahaman ini diharapkan dapat mendorong perubahan perilaku menuju pola hidup sehat sebagai upaya pencegahan penyakit tidak menular.
PREVALENSI EFEK SAMPING GANGGUAN GASTROINTESTINAL TERAPI METFORMIN PADA PASIEN DM TYPE 2 DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA DI PUSKESMAS KECAMATAN PASAR REBO TAHUN 2020: THE PREVALENCE OF GASTROINTESTINAL SYMPTOMS SIDE EFFECTS IN TYPE 2 DM PATIENTS IN METFORMIN THERAPY AND THE AFFECTING FACTORS AT HEALTH CENTER, PASAR REBO DISTRICT IN 2020 Ayu, Laily Afika; Yusmaini, Hany; Herardi, Ryan
Quality : Jurnal Kesehatan Vol. 17 No. 1 (2023): Quality : Jurnal Kesehatan
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes RI Jakarta I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36082/qjk.v17i1.327

Abstract

Diabetes melitus (DM) merupakan kelompok penyakit metabolik ditandai dengan hiperglikemia, yang disebabkan oleh kelainan sekresi insulin, kelainan kerja insulin, atau dari keduanya. Metformin adalah obat lini pertama yang diberikan sebagai monoterapi apabila pasien tidak memiliki kontraindikasi dengan metformin. Sayangnya, pemberian obat metformin seringkali menyebabkan reaksi yang tidak diinginkan dan berbahaya dari obat yang diberikan dalam dosis standar (ROM), seperti efek samping gastrointestinal sebesar 25% dan sekitar 5% penderita yang tidak dapat mentolerir metformin sama sekali. Terdapat beberapa faktor risiko yang dapat mempengaruhi terjadinya efek samping gastrointestinal, seperti usia, jenis kelamin, BMI, dan dosis obat metformin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi efek samping gejala gastrointestinal pada pasien DM Tipe 2 dalam terapi metformin dan faktor-faktor yang mempengaruhi di Puskesmas Kecamatan Pasar Rebo tahun 2020. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional retrospektif dengan desain cross-sectional. Penelitian dilakukan pada bulan April 2021. Sampel penelitian menggunakan data rekam medis sebanyak 79 rekam medis pasien di poli DM Puskesmas Kecamatan Pasar Rebo Tahun 2020. Dari 79 responden, sebanyak 46 orang (58,2%) mengalami efek samping gastrointestinal. Faktor usia (p value= 0,0006), BMI (p value= 0,002), dan dosis obat (p value= 0,001) berkorelasi terhadap terjadinya efek samping gejala gastrointestinal, sedangkan faktor jenis kelamin tidak berkorelasi (p value= 0,372). Usia, BMI, serta dosis obat berpengaruh pada kejadian efek samping gejala gastrointestinal pada pasien DM Tipe 2 yang diberikan terapi metformin di Puskesmas Kecamatan Pasar Rebo tahun 2020
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS BIAYA TERAPI KOMBINASI OBAT ANTIDIABETIK METFORMIN-GLIMEPIRIDE DAN ACARBOSE-GLIMEPIRIDE Tresnawati, Nden Ajeng; Hany Yusmaini; Mila Citrawati; Erna Harfiani
Jurnal Ilmiah Farmasi Vol. 20 No. 1 (2024): Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.vol20.iss1.art9

Abstract

Background: Type 2 diabetes mellitus (DM) is one of the cardiometabolic diseases with the highest prevalence worldwide, including Indonesia. The increasing number of type 2 DMs is known to have become an economic burden on Indonesia's health sector. There are several options for treating type 2 DM, either with monotherapy or in combination. At present, metformin, sulfonylurea, and acarbose have become common drugs in the treatment of type 2 DM. Variations in antidiabetic drugs will cause differences in therapy cost and effectiveness.Objective: The purpose of this study is to analyze the cost-effectiveness of the combination therapy of metformin-glimepiride and acarbose-glimepiride antidiabetic drugs in patients with type 2 DM at RSUD Sumedang in 2021 based on the hospital's perspective.Method: This study collected data by documenting medical records and patient costs from January to December 2021 using a cross-sectional design on 60 samples.Results: Findings from the statistical analysis showed that the combination of metformin and glimepiride did not make a difference in GDS (mean difference 10.70 mg/dL-1; p-value = 0.457). The average total direct medical costs of the acarbose-glimepiride group were higher than that of the metformin-glimepiride group, and there was a significant difference between the average costs of the antidiabetic drugs (p-value = 0.000).Conclusion: The combination of metformin-glimepiride therapy is more cost-effective than acarbose-glimepiride, with an ACER value of metformin-glimepiride Rp. 3,037.48.Keywords: Acarbose, cost effectiveness analysis, glimepiride, metformin, type 2 DM Intisari Latar belakang: Diabetes Melitus (DM) tipe 2 merupakan salah satu penyakit kardiometabolik dengan prevalensi tertinggi di seluruh dunia termasuk Indonesia. Peningkatan jumlah DM tipe 2 diketahui telah menjadi beban ekonomi bagi sektor kesehatan di Indonesia. Terdapat beberapa pilihan terapi dalam pengobatan DM tipe 2 baik secara monoterapi maupun kombinasi beberapa obat. Saat ini obat metformin, sulfonilurea, dan acarbose telah menjadi obat umum dalam pengobatan DM tipe 2 di Indonesia. Variasi terapi obat antidiabetik akan menyebabkan adanya perbedaan biaya dan efektivitas terapi. Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk menentukan efektivitas biaya terapi kombinasi obat antidiabetik metformin-glimepirid dan acarbose-glimepirid pada pasien DM tipe 2 Instalasi Rawat Jalan di RSUD Sumedang Tahun 2021 berdasarkan perspektif rumah sakit.Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi potong-lintang pada 60 sampel dengan pengambilan data dilakukan secara dokumentasi terhadap data rekam medis dan biaya pasien periode Januari-Desember 2021. Hasil: Hasil analisis statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna selisih GDS pada kombinasi metformin-glimepirid dan acarbose-glimepirid (rata-rata perbedaan 10,70 mg/dL-1; nilai-p=0.457). Rata-rata total biaya langsung medis kelompok acarbose-glimepirid lebih tinggi dibandingkan metformin-glimepirid serta terdapat perbedaan bermakna rata-rata biaya obat antidiabetik (nilai-p=0.000).Kesimpulan: Kombinasi terapi metformin-glimepirid lebih cost-effective dibandingkan acarbose-glimepirid dengan nilai ACER metformin-glimepirid Rp. 3.037,48.Kata Kunci: Acarbose, analisis efektivitas biaya, DM tipe 2, glimepirid, metfotmin
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS TERAPI RANITIDINE DAN OMEPRAZOLE TERHADAP LAMA RAWAT INAP PASIEN DISPEPSIA Nabilah, Ayi; Harfiani, Erna; Hasanah, Uswatun; Yusmaini, Hany
Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 22 No 03 (2023): Jurnal Ilmiah Kesehatan terbitan Desember Volume 22 Nomor 03 Tahun 2023
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33221/jikes.v22i03.2972

Abstract

Dispepsia merupakan gangguan saluran pencernaan atas yang sering dikeluhkan oleh berbagai kalangan masyarakat. Konsensus Nasional Penatalaksanaan Dispepsia dan Infeksi Helicobacter pylori merekomendasikan tata laksana awal dispepsia salah satunya adalah obat antisekresi asam lambung. Obat antisekresi asam lambung yang paling sering digunakan pada pasien dispepsia rawat inap yaitu omeprazole dan ranitidine. Mekanisme obat yang berbeda menyebabkan efektivitas obat yang berbeda pula yang memengaruhi lama rawat inap pasien. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan terapi omeprazole dan ranitidine terhadap lama rawat inap pasien dispepsia dewasa. Penelitian ini merupakan penelitian deksriptif – analitik observasional dengan pendekatan potong lintang terhadap pasien dispepsia di RSUD dr. Dradjat Prawiranegara Serang. Penelitian dilakukan pada 64 pasien yang memenuhi kriteria dan diperoleh hasil rata-rata lama rawat inap pasien dispepsia dengan terapi omeprazole adalah 1,91 (±0,893) hari. Sedangkan, rata-rata lama rawat inap pasien dispepsia dengan terapi ranitidine adalah 2,16 (±1,194) hari. Hasil analisis bivariat perbandingan lama rawat inap terhadap kedua kelompok menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna/signifikan dengan nilai p>0,05 (p-value=0,542). Hasil penelitian ini menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang bermakna lama rawat inap pasien dispepsia yang diberikan terapi omeprazole dengan ranitidine di RSUD dr. Dradjat Prawiranegara Serang.
PERBANDINGAN ANTARA PEMBERIAN REMDESIVIR DAN FAVIPIRAVIR TERHADAP LAMA RAWAT INAP PASIEN COVID-19 Herindar, Alliza; Yusmaini, Hany; Fauziah, Cut; Nurcita, Boenga
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 1 (2024): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Coronavirus disease 2019 (COVID-19) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat global yang diperkirakan memiliki progresivitas penyakit parah dan memerlukan rawat inap. Terapi farmakologik berupa antivirus yang dianjurkan dalam buku panduan tatalaksana COVID-19 di Indonesia adalah remdesivir dan favipiravir. Tujuan terapi farmakologik adalah untuk memperbaiki klinis pasien yang dirawat inap yang keberhasilannya dapat diukur melalui durasi atau lama rawat inap. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana perbandingan antara pemberian terapi remdesivir dan favipiravir terhadap lama rawat inap pasien COVID-19. Desain penelitian adalah cross-sectional dengan sampel 42 rekam medis pasien didiagnosis COVID-19 yang dirawat inap selama periode Mei sampai dengan November 2021. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antara pemberian remdesivir dan favipiravir terhadap lama rawat inap pasien COVID-19 (p<0,05). Rerata lama hari rawat inap pasien COVID yang menerima terapi favipiravir lebih singkat yaitu 7,33 ± 1,983 (mean ± SD) dibandingkan remdesivir yaitu 9,29 ± 1,927 (mean ± SD). Kesimpulan dari penelitian ini adalah favipiravir lebih efektif dibandingkan remdesivir dalam mengurangi lama rawat inap pasien COVID-19 yang sesuai dengan kriteria pada penelitian ini. Kata kunci: COVID-19, favipiravir, lama rawat inap, remdesivir DOI : 10.35990/mk.v7n1.p57-67
Efek Penggunaan Antikoagulan Dalam Menurunkan Kematian Pasien Covid-19 Di Rumah Sakit: Literature Review Salsabila, Sapphira Mazaya; Yusmaini, Hany; Makiyah, Feda Anisah
Journal of Religion and Public Health Vol. 4 No. 1 (2022)
Publisher : Journal of Religion and Public Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jrph.v4i1.28832

Abstract

Introduction: The incidence of coagulopathy is one out of many cause of death due to endothelial damage caused by hyperinflammatory state in COVID-19 patients. COVID-19 treatment guidelines by the Indonesian Association of Pulmonary, Cardiovascular, and Internal Medicine Doctors widely recommend the use of anticoagulants in hospitalized COVID-19 patients even though there is no evidence of thrombosis or only suspected thrombosis by looking at the contraindication. This literature review was conducted to analyze the effect of anticoagulant use on mortality in hospitalized COVID-19 patients.Keywords: Anticoagulant, coagulopathy, COVID-19, mortalityAbstrakSalah satu penyebab kematian pasien COVID-19 adalah kejadian koagulopati dengan manifestasi trombosis akibat dari kerusakan endotel oleh keadaan hiperinflamasi pada pasien COVID-19. Pedoman tatalaksana COVID-19 yang disusun oleh Perhimpunan Dokter Paru, Kardiovaskuler, dan Penyakit Dalam Indonesia merekomendasikan penggunaan antikoagulan pada pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit, meskipun tidak terlihat adanya trombosis maupun baru dicurigai trombosis dengan mempertimbangkan kontraindikasi pada pasien. Tinjauan literatur ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh penggunaan antikoagulan terhadap mortalitas pasien COVID-19 dengan risiko koagulopati. Kata Kunci: Antikoagulan; COVID-19; koagulopati; mortalitas
Penyuluhan Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga dan Penanaman Tanaman Obat Keluarga di Kampung Mekar Bakti 01/01, Desa Mekar Bakti Kabupaten Tangerang Harjono, Yanti; Yusmaini, Hany; Bahar, Meiskha
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 3 No. 1 (2017): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v3i1.1933

Abstract

Beberapa tahun terakhir obat dari bahan alam kembali menjadi tren di masyarakat karena adanya anggapan bahwa bahan alam lebih aman dan ekonomis dibandingkan dengan obat-obat kimia. Anggapan bahwa obat dari bahan alam lebih aman dibandingkan dengan obat kimia tidaklah sepenuhnya benar karena hal tersebut harus dibuktikan melalui uji toksikologi dan uji klinis. Saat ini cukup banyak penelitian yang telah dilakukan untuk membuktikan adanya efek farmakologi bahan alam. Badan Pengawas Obat dan Makanan sendiri menetapkan sembilan tanaman obat keluarga (TOGA) unggulan yang telah diteliti dan diuji secara klinis. Sembilan tanaman obat itu adalah sambiloto, jambu biji, jati belanda, cabe jawa, temulawak, jahe merah, kunyit, mengkudu dan salam. Hal ini perlu disosialisasikan kepada masyarakat agar mereka dapat memanfaatkan sembilan tanaman obat yang telah melalui uji klinis tersebut. Metode kegiatan yang dilakukan pada pengabdian kepada masyarakat ini adalah penyuluhan dengan menggunakan metode ceramah dan menggunakan media slide power point yang berisi penjelasan mengenai sembilan jenis tanaman obat keluarga unggulan serta dengan cara mengajak masyarakat untuk menanam TOGA. Keberhasilan dari pengabdian kepada masyarakat ini dinilai dari target jumlah peserta 75%, ketercapaian tujuan 80%, ketercapaian target materi 80% dan keberhasilan penanaman TOGA di rumah 80%. Kesimpulan dari pengabdian kepada masyarakat ini adalah penyuluhan TOGA meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang TOGA dan 9 tanaman yang telah mengalami uji klinik.Kata Kunci : Tanaman Obat Keluarga, TOGA, Uji Klinik
Metformin Effectiveness in Reducing Mortality among Covid-19 Patients with Type 2 Diabetes Mellitus at a Tertiary Hospital in Indonesia Zihono, Yudivaniel; Yusmaini, Hany; Hasanah, Uswatun; Harfiani, Erna; Mokoagow, Md Ikhsan; Budiman, Dicky
Folia Medica Indonesiana Vol. 59, No. 3
Publisher : Folia Medica Indonesiana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Highlights: 1. As there is a scarcity of publications on the use of metformin for COVID-19 in Indonesia, the findings of this present study may contribute more insight to the existing body of research and provide data specific to the Southeast Asian population. 2. This study revealed a decreased mortality rate associated with metformin use in diabetic patients with mild to moderate COVID-19 infection. 3. This study suggests that diabetic patients may continue metformin treatment during a COVID-19 infection as the medication has sustained therapeutic effects. Abstract COVID-19 patients with comorbidities, such as type 2 diabetes (T2DM), have a higher mortality rate compared to those without any comorbidities. T2DM patients usually receive metformin as their first-line treatment. However, the effectiveness of metformin in reducing mortality rates still requires further analysis. The objective of this study was to analyze the effectiveness of metformin in reducing mortality rates among COVID-19 patients with T2DM. An analytic observational design with a retrospective cohort approach was used in this study. Samples were acquired from hospitalized COVID-19 patients with T2DM medical records at Fatmawati Central General Hospital, Jakarta, Indonesia, throughout 2020–2021. The samples were collected using a purposive sampling technique and analyzed using Chi-square test (p<0.05; RR<1). This study comprised 137 samples, with 56 samples receiving metformin and 81 not receiving metformin. The mortality rate in the sample group that received metformin was lower (19.6%) compared to the group that was not given the medication (38.3%). The Chi-square test results indicated a statistically significant relationship between metformin treatment and a lower mortality rate among COVID-19-contracted individuals with T2DM (p=0.020; RR=0.513). Therefore, this study concludes that the administration of metformin treatment reduces mortality among COVID-19 patients with T2DM.