Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

STATUS GIZI, KESEHATAN DAN IMMUNISASI ANAK BALITA PENGUNJUNG DAN BUKAN PENGUNJUNG POSYANDU DI DUA DESA WILAYAH KERJA PUSKESMAS SINDANG BARANG Effendi Rustan; Dewi Permaesih; Inti Krisnawati; Muhilal Muhilal
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 15 (1992)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2253.

Abstract

Telah dilakukan penelitian mengenai status gizi, kesehatan dan immunisasi anak Balita pengunjung dan bukan pengunjung posyandu di dua desa wilayak kerja Puskesmas Sindangbarang, yaitu desa Sindangbarang yang terlatak dekat dengan Puskesmas dan banyak fasilitas kesehatan lainnya, serta kemudahan transportasi, dan desa Bubulak yang letaknya jauh dari Puskesmas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan Posyandu di desa Singdangbarang (77.4%) lebih rendah daripada di desa Bubulak (80.1%). Hal ini mungkin karena adanya fasilitas kesehatan lainnya maupun kemudahan transportasi. Gambaran status gizi, kesehatan dan immunisasi anak Balita secara keseluruhan di kedua desa memperlihatkan keadaan yang hampir sama. Tetapi bila dilihat per kelompok berdasarkan frekuensi kehadiran anak Balita ke Posyandu di kedua desa, ternyata frekuensi kehadiran anak Balita hanya berpengaruh nyata terhadap status immunisasi. Anak yang lebihs ering ke Posyandu mempunyai status immunisasi yang lebih baik.
EFEK PEMBERIAN BETA KAROTENA TAKARAN TINGGI TERHADAP STATUS VITAMIN A ANAK BALITA Dewi Permaesih; Komala Komala; Effendi Rustan; Endi Ridwan; Muhilal Muhilal
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 14 (1991)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2205.

Abstract

EFEK PEMBERIAN BETA KAROTENA TAKARAN TINGGI TERHADAP STATUS VITAMIN A ANAK BALITA
PENINGKATAN MUTU PROTEIN MI MELALUI PENAMBAHAN KEDELAI Dewi Permaesih; Hermana Hermana
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 14 (1991)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2212.

Abstract

PENINGKATAN MUTU PROTEIN MI MELALUI PENAMBAHAN KEDELAI
PENGARUH PEMBERIAN KONSENTRAT MINYAK KELAPA SAWIT TERHADAP STATUS VITAMIN A DAN PEMBESARAN KANKER MAMMAE MENCIT Endi Ridwan; Yudith Herlinda; Sudarto Pringgoutomo; Puspita Puspita; Dewi Permaesih; Muhilal Muhilal
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 14 (1991)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2215.

Abstract

Telah dilakukan penelitian pengaruh pemberian konsentrat minyak kelapa sawit pada mencit terhadap status vitamin A dan perkembangan kanker mammae. Mencit strain C3H dikelompokkan menjadi 7 kelompok perlakuan dengan 6 kali ulangan. Masing-masing perlakuan adalah (1) Kontrol tanpa diberi apa-apa. (2) Kontrol, dicekok minyak 0.1 ml/hari selama 14 hari. (3) Kontrol, dicekok minyak 0.1 ml/hari selama penelitian. (4) Dicekok karotin 120 ug (0.1 ml)/hari selama 14 hari. (5) Dicekok karotin 120 ug (0.1 ml)/hari selama penelitian. (6) Dicekok karotin 500 ug (0.1 ml)/hari selama 14 hari. (7) Dicekok karotin 500 ug (0.1 ml)/hari selama penelitian. Makanan untuk semua kelompok adalah makanan basal dalam bentuk pellet dan diberikan ad libitum. Pengambilan darah dilakukan pada hari pertama setelah pencekokan, pengambilan kedua bersamaan dengan inokulasi bibit kanker dan pengambilan ketiga pada akhir penelitian atau pada waktu terjadi perubahan pada pertumbuhan kanker sesudah inokulasi. Inokulasi bibit kanker dengan cara disuntikkan secara sub cutis di daerah axilla. Pengamatan pada mencit dilakukan terhadap pembesaran tumor, dengan mengukur besar tumor menggunakan caliper. Pemeriksaan histopatologis dilakukan terhadap jaringan tumor. Kadar vitamin A serum, tertinggi didapatkan pada kelompok yang diberi 500 ug karotin/hari selama penelitian yaitu sebesar (40.69 ± 4.48) ug/dl dibandingkan dengan kelompok tanpa diberi apa-apa (17.28 ± 0.99) ug/dl. Ukuran tumor terkecil juga didapatkan pada kelompok yang diberi 500 ug karotin/hari selama penelitian yaitu (5.38 ± 3.85) cm3, dibandingkan dengan kelompok kontrol (9.50 ± 5.72) cm3. Keadaan ini menunjukkan bahwa konsentrat minyak kelapa sawit dapat meningkatkan status vitamin A dan menghambat terjadinya perkembangan kanker mammae. Hasil ini diperkuat dengan pemeriksaan mikroskopis dari sel tumor yang menunjukkan deferesiasi lebih baik pada kelompok yang diberi karotin dengan takaran lebih tinggi dan waktu lebih lama.
PERUBAHAN KANDUNGAN YODIUM DALAM ASI SETELAH PEMBERIAN YODIUM DOSIS TINGGI PER ORAL PADA IBU MENYUSUI Muhilal Muhilal; Dewi Permaesih; Suci Suwarti Suwardi
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 19 (1996)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2293.

Abstract

Telah dilakukan penelitian pengaruh pemberian kapsul iodium dosis tinggi pada ibu menyusui terhadap kadar iodium dalam ASI di Kecamatan Dukun dan Srumbung, Jawa Tengah. Ibu menyusui dibagi dalam 2 kelompok: kelompok perlakuan dan kelompok pembanding. Urine dan ASI pada kelompok perlakuan dan pembanding dikumpulkan pada hari 0, 2, 7, 30, 90 dan 180. Analisis iodium dilakukan dengan cara Kolhoff and Sanders. Pola perubahan kandungan iodium ASI sama dengan pola perubahan iodium dalam urin dengan koefisien korelasi sebesar 0.96. Kandungan iodium dalam ASI pada kelompok perlakuan ditemukan pada hari kedua dengan nilai 16350 ug/L dibandingkan dengan 75 ug/L pada kelompok pembanding, kemudian menurun secara perlahan sampai mendekati nilai normal pada hari ke 180 setelah pemberian kapsul iodium. Diperkirakan kandungan iodium dalam ASI sekitar 60% dari kandungan iodium dalam urin. Dengan dugaan adanya kelebihan masukan iodium pada bayi yang menerima dari dua sumber, yaitu ASI dan kapsul yang diberikan langsung pada bayi dalam program IDD, perlu dipertimbangkan kemudian timbulkan efek sampingan pada bayi karena kelebihan iodium.
DAMPAK SUPLEMENTASI YODIUM PADA IBU ATAU BAYI TERHADAP STATUS YODIUM, STATUS GIZI DAN KADAR HEMOGLOBIN BAYI Ance M. Dahro; Dewi Permaesih; Yuniar Rosmalina
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 20 (1997)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2365.

Abstract

plementasi yodium pada ibu menyusui dan bayi di 2 kecamatan Magelang. Responden adalah ibu menyusui sebanyak 216 orang dan bayinya yang berumur 7-12 minggu dalam keadaan sehat. Responden dibagi ke dalam empat kelompok perlakuan yaitu I: ibu dan bayi diberi kapsul yodium; II: hanya ibu yang diberi kapsul yodium; III: hanya bayi yang diberi kapsul yodium; IV: ibu dan bayi sebagai pembanding. Yodium yang diberikan pada ibu menyusui dosis 200 mg, sedangkan untuk bayi dosis 100 mg. Dilihat dampaknya pada status yodium melalui pemeriksaan yodium dalam urin bayi pada hari ke 0, 1, 7, 60, 90 dan 180 dihitung dari hari pertama intervensi; kadar hemoglobin pada hari ke 180 dan status gizi bayi berdasarkan hasil pengukuran anthropometri pada hari ke 0, 90 dan 180. Dari hasil penelitian didapati median kadar yodium dalam urin bayi kelompok I, II dan III naik mencapai puncaknya pada hari pertama setelah pemberian kapsul yodium masing-masing yaitu 27450 ug/l, 15500 ug/l dan 26000 ug/l. Bila dibandingkan dengan awal pemeriksaan kenaikan ekskresi yodium dalam urin kelompok I, II dan III masing-masing adalah 283 kali, 152 kali dan 245 kali. Yodium dalam urin bayi kelompok I dibandingkan dengan kelompok II diasumsikan tidak sama pada setiap waktu pemeriksaan ternyata cenderung tidak terlalu berbeda. Yodium dalam urin bayi pada hri pertama kelompok II dan kelompok III yang bila dibandingkan dengan ekskresi yodium urin kelompok I menunjukkan bahwa ekskresi kadar yodium urin bayi makin tidak konsisten bila dosis suplemen makin tinggi. Ekskresi yodium dalam urin bayi yang mendapat yodium dosis hanya 100 mg ternyata jumlahnya cenderung sama dengan ekskresi yodium dalam urin ibu yang memperoleh dosis 200 mg, yang menunjukkan adanya perbedaan toleransi penyerapan yodium oleh tubuh bayi dan dewasa. Bayi yang hanya mendapat ASI saja (kelompok II) ekskresi yodium dalam urinnya sudah menggambarkan kecukupan perolehan yodium pada bayi hingga hari ke 180. Pada akhir penelitian bayi dengan status gizi baik (standar BB/U, WHO-NCHS) dari ketiga kelompok perlakuan jumlahnya turun sekitar 5-8% dan kelompok pembanding naik 1%, sedangkan bayi dengan status gizi kurang pada ketiga kelompok perlakuan jumlahnya naik 5-10% dan kelompok pembanding turun 1%. Riwayat penyakit seminggu sebelum pemeriksaan menunjukkan bahwa pada kelompok perlakuan angka sakit pada setiap kali pemeriksaan meningkat jumlahnya, tidak demikian pada kelompok pembanding. Hal ini sesuai dengan data status gizi baik pada kelompok perlakuan yang cenderung menurun, sehingga pemberian yodium tidak terlalu berpengaruh terhadap status gizi. Kadar hemoglobin setiap kelompok bayi pada hari ke 180 cenderung sama dan tidak berbeda bermakna (Fsign=0.919). Kadar Hb kelompok I, II, III dan IV masing-masing yaitu 11.1±1.07, 11.2±1.03, 11.1±1.12 dan 11.1±1.17 ug/dl, sehingga dapat dikatakan pemberian yodium tidak berpengaruh pada kadar hemoglobin.
HASIL ANALISIS VITAMIN A DAN β-KAROTEN BAHAN MAKANAN SUMBER VITAMIN A DAN KAROTEN DENGAN METODE HPLC Yuniar Rosmalina; Dewi Permaesih
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 20 (1997)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2371.

Abstract

Telah dilakukan analisis vitamin A DAN β-Karoten terhadap beberapa jenis pangan dengan menggunakan metode HPLC. Analisis dilakukan terhadap 9 jenis serealia dan umbi-umbian, 3 jenis kacang-kacangan, 40 jenis sayuran, 11 jenis daging dan hasilnya, 7 jenis telur dan hasilnya, 8 jenis ikan, 12 jenis buah-buahaan, dan 7 jenis kelompok lain-lain. Hasilnya menunjukkan sumber β-Karoten yang tinggi pada kelompok serealia dan umbi-umbian adalah umbi jalar, pada kelompok sayuran adalah daun katuk, daun pepaya, daun singkong, daun melinjo, daun talas dan daun sintrong, pada kelompok telur adalah telur bebek, pada kelompok buah-buahan adalah mangga golek dan mangga gedong. Sedangkan kelompok kacang-kacangan dan kelompok daging kandungan β-Karotennya rendah. Hati ayam, hati bebek, dan hati kambing merupakan sumber vitamin A yang tinggi, sedangkan pada kelompok ikan didapati ikan lele mempunyai kandungan vitamin A yang lebih tinggi dibandingkan jenis ikan lainnya.
DAMPAK PENGGUNAAN "SLOW RELEASED RHODIFUSED - IOD" UNTUK IODISASI AIR TANAH TERHADAP KANDUNGAN IODIUM AIR MINUM, URINE ANAK SEKOLAH DAN IBU HAMIL Yuniar Rosmalina; Ance Murdiana; Moecherdiyantiningsih Moecherdiyantiningsih; Dewi Permaesih; Muhilal Muhilal
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 17 (1994)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.1938.

Abstract

Telah dilakukan penelitian mengenai iodisasi air menggunakan sistim Rhodifused-Iod yang dilakukan di desa Cigadog, kabupaten Garut Subyek penelitian adalah anak sekolah dasar, 100 anak di daerah perlakuan dan 100 anak di daerah kontrol. Diperoleh 30 ibu hamil sebagai subyek penelitian di  daerah perlakuan dan 16 ibu hamil di daerah kontrol. Bahan yang digunakan untuk iodisasi air ialah Polymer Silikon Rhodifuse Iod yang diletakkan di dalam sumber air minum (mata air) yang kemudian air tersebut dialirkan ke masing-masing MC (mandi cuci) sebagai sumber air minum. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan kandungan iodium air dari 4-5 ug/l menjadi 17,6-34,6 ug/l. Namun pada 5 bulan setelah iodisasi mulai terjadi penurunan kandungan iodium. Hasil analisis kandungan iodium urin pada anak sekolah menunjukkan prosentase perubahan status iodium urin sebelum dan sesudah iodisasi adalah 45,5% di daerah perlakuan dan 38,6% di daerah kontrol. Sedangkan prosentase perubahan status iodium urin pada ibu hamil sebelum dan sesudah iodisasi adalah 58,6% di daerah perlakuan dan 36,4% di daerah kontrol.
STATUS GIZI BALITA DI KABUPATEN BOGOR PADA KRISIS EKONOMI Dewi Permaesih; Yuniar Rosmalina; Reviana Christijani; Sri Martuti; Susilowati Herman
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 23 (2000)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.1489.

Abstract

NUTRITIONAL STATUS OF UNDERFIVE YEARS CHILDREN DURING ECONOMIC CRISIS AT BOGOR DISTRICT.Background: The relationships between nutritional status, growth and development of vital organ have been published else where. The increasing of body weight and height can be used as indicators of good nutritional status of ctildren under five of age. The prevalence of severe malnutrition of children under five years lends to increase. Vitamin A deficiency and anemia were also still problems in Indonesia. The periodic information about nutritional status of children less than five years of age is important.Method: The assessment of nutritional status of under five children had been conducted in the area of 10 Puskesmas in Kabupaten Bogor. The selection of these areas based on the survey in 1992. Data collection was carried out twice in April 1999 and November 1999. The assessment included vitamin A status, anthropometry and hemoglobin level.Results: The result shows there was no case of xerophthalmia among the children. However, analysis shows that 7.3% children under five of age have serum vitamin A level below 10 ug/dl in April 1999 and 6.8 in November 1999.The prevalence of severe malnutrition based on weight for age tend to increase 3.1% (in 1992), 3.9% (in April 1999), and 4.4% (in November 1999). The prevalence of underweight significantly increased (p<0.05) from 11.4% to 24%. The prevalence of wasting also shows significantly increased both at 0-23 months and 24-60 months of age from 4.7% to 13.9% and 6.3 to 11.6% respectively. The prevalence of stunting not significantly increased. The prevalence of anemia increased from 41.7% in 1992 to 48.7% in April 1999 and 49.2% in November 1999. However, the increase was not significant statistically.Key Words: underfive years old, nutritional status, vitamin A status, anemia status.
PERUBAHAN PREVALENSI GONDOK DARI TAHUN 1980 SAMPAI TAHUN 1998 Muhilal Muhilal; Dini Latief; Djoko Kartono; Dewi Permaesih
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 22 (1999)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.1521.

Abstract

Change in The Goitre Prevalence among School Children 1990-1998.Iodine deficiency disorders (IDD) is major nutritional problem in many part of Indonesia. Iodised oil distribution and salt iodination are the two programs to control IDD. Surveys to evaluate the impact of IDD control programs have been conducted three times in 1982, 1990 and 1998. Indicator used in the survey was Total Goitre Rate (TGR) amongst school children at sub-district level. This paper analysed data of three surveys for the same sub-district only. Fifty-nine sub-districts surveyed in 1980 and then resurveyed in 1988 and 1998 were analysed to observe the changes in the TGR over the time. The results showed that the mean TGR in 1980, 1988 and 1998 were 33.1%, 30.3% and 17.7% respectively. Overall percentage of sub-district with TGR less than 5% in the 3 surveys was 0%, 13.6% and 32.2% respectively. For Java-Bali region that represent the better development in communication infrastructure, the mean TGR in the 3 surveys were 31.6%, 25.7% and 9.9% respectively. Percentage of sub-district with TGR less than 5%, for Java-Bali region, was 0%, 16.7% and 44.0%. For outside Java-Bali region, the mean TGR were 33.7%, 32.3% and 21.1% respectively. Percentage of sub-district with TGR less than 5%, for outside Java-Bali region, was 0%, 12.2% and 26.8%. In 1998, about two-third of salt consumed by household contained adequate iodine (30 ppm). The relationship between TGR and percentage of salt with 30 ppm of iodine was fairly high (r=0.66).Keywords: goitre, school children, change, region