Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Distribusi Kelimpahan dan Pola Pertumbuhan Kepiting Bakau (Scylla spp.) di Kawasan Mangrove Golo Sepang, Nusa Tenggara Timur Siti Mira Rahayu; Patrisius Toma; Awaludin Syamsuddin; Iya Purnama Sari; Meuthia Aula Jabbar; Dadan Zulkifli; Aditya Bramana; Ratna Suharti
Jurnal Kelautan Vol 16, No 3: Desember (2023)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v16i3.23128

Abstract

ABSTRACTKepiting bakau (Scylla spp.) merupakan salah satu komoditas sumberdaya perikanan yang potensial untuk dikembangkan karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Kawasan mangrove di Golo Sepang merupakan penghasil kepiting bakau terbesar di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis distribusi dan pola pertumbuhan kepiting bakau (Scylla spp.) di perairan Golo Sepang, Nusa Tenggara Timur. Sampel kepiting bakau diambil pada bulan Maret–Mei 2022 di lokasi yang biasa digunakan nelayan untuk menangkap kepiting bakau dengan menggunakan alat tangkap bubu lipat. Terdapat tiga spesies kepiting bakau dari total 870 individu yang diukur, yaitu S. serrata, S. paramamosain, dan S. olivicea. Sebaran kelimpahan kepiting bakau lebih banyak terdapat di area yang suhu dan salinitasnya lebih tinggi. Pertumbuhan kepiting bakau jenis S. serrata di lokasi penelitian memiliki pola isometrik sedangkan S. paramamosain dan S. olivacea memiliki pola alometrik positif. Pertumbuhan kepiting jantan lebih cepat dan lebih besar daripada pertumbuhan kepiting betina.Kata kunci: Distribusi, kepiting bakau, mangrove, pertumbuhan, salinitasABSTRACTMud crab (Scylla spp.) is one of the potential fishery commodities to be developed due to its high economic value. The mangrove area in Golo Sepang Waters is the largest producer of mangrove crabs in West Manggarai, East Nusa Tenggara. This study was conducted to analyze the distribution and growth pattern of mud crabs (Scylla spp.) in Golo Sepang, East Nusa Tenggara. Mud crab samples were captured in March – May 2022 at the sites regularly used by fishermen to catch the crabs using folded traps (bubu). A total of 870 measured samples consisting of three species of mud crabs: S. serrata, S. paramamosain, and S. olivicea. The distribution pattern of mud crabs at the study location as per salinity and temperature patterns. The growth of S. serrata at the study site had an isometric pattern while S. paramamosain and S. olivacea had a positive allometric pattern. The growth of male crabs is faster and bigger than the growth of female crabs.Keywords: Distribution, mud crab, mangrove, growth, salinity
Pengaruh Durasi Waktu Pengangkatan (Hauling) Bingkai Jaring Pipa Pvc Terhadap Berat Total Tangkapan Serta Komposisi Jenis Ikan Pada Bagan Tancap Saputra, Bonis Andrei Tri; Jabbar, Meuthia Aula; Baskoro, Mulyono Sumitro
Jurnal Penyuluhan Perikanan dan Kelautan Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Penyuluhan Perikanan Politeknik Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33378/jppik.v17i2.394

Abstract

Alat tangkap bagan tancap digunakan dengan cara mengangkat jaring dari kedalaman tertentu di pinggiran pantai yang dibantu lampu untuk mengumpulkan ikan. Bagan tancap ini dipengaruhi faktor waktu pengangkatan yang berperan besar pada jumlah ikan hasil tangkapan di mana kecepatan durasi waktu hauling yang lebih cepat mampu menghasilkan jumlah ikan yang lebih banyak. Penggunaan pipa bahan PVC sebagai bahan rangka jaringan berhasil mengatasi masalah lamanya waktu pengangkatan jaringan dan peningkatan kinerjanya. Tujuan dari kegiatan penelitian ini yaitu melihat pengaruh penggunaan bingkai jaring menggunakan pipa bahan PVC terhadap lama waktu pengangkatan (hauling) serta jumlah dan komposisi ikan hasil tangkapan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen di mana penangkapan langsung dilakukan di lapangan dengan rangka jaring berbahan PVC dan rangka jaring komposit (PVC-bambu) dan penarikan sebanyak 15 kali selama 10 trip penangkapan. Analisis regresi linier sederhana dan uji F simultan digunakan untuk mengambil keputusan dari hasil penelitian yang dilakukan. Hasil analisis uji regresi linier didapatkan nilai persamaan Y = 27,370-0,111X dengan waktu hauling secara signifikan berpengaruh terhadap berat total hasil tangkapan sebesar 23%. Untuk durasi waktu hauling terhadap komposisi jenis ikan berpengaruh signifikan sebanyak 20% dengan persamaan regresi Y = 9,581-0,028X
Biodiversity and Vulnerability of Fisheries Resources in Berau Bay, West Papua Province Maulana, Riyan; Jabbar, Meuthia Aula; Yonvitner
Jurnal Pengelolaan Perikanan Tropis (Journal of Tropical Fisheries Management) Vol 8 No 1 (2024): Jurnal Pengelolaan Perikanan Tropis (Journal Of Tropical Fisheries Management)
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jppt.v8i1.55908

Abstract

Teluk Berau, yang terletak di Provinsi Papua Barat, merupakan salah satu wilayah perairan yang kaya akan keanekaragaman hayati di Indonesia. Ekosistem perairan ini menjadi habitat penting bagi berbagai jenis ikan, yang memiliki nilai ekologi dan ekonomi bagi masyarakat lokal yang bergantung pada perikanan. Namun, peningkatan aktivitas manusia termasuk penangkapan ikan intensif, polusi, dan perubahan iklim, menimbulkan ancaman serius terhadap kelestarian sumberdaya ikan di wilayah ini. Penelitian ini bertujuan mengkaji biodiversitas dan tingkat kerentanan sumberdaya ikan di Perairan Teluk Berau. Metode yang digunakan meliputi survei lapangan, pengambilan sampel ikan, dan analisis identifikasi spesies serta menghitung indeks keanekaragaman. Tingkat kerentanan sumberdaya ikan diperoleh dengan mengkategorisasikan status konservasi pada IUCN redlist. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Teluk Berau memiliki tingkat biodiversitas relatif tinggi dengan dominansi yang rendah. Nilai indeks biodiversitas pada perairan Teluk Berau tertinggi sebesar 3.35 yang didominasi oleh famili Carangidae, dan Scombridae. Hasil analisis tingkat kerentanan menunjukkan sebanyak 85.71% memiliki tingkat kerentana yang rendah. Namun, beberapa spesies menunjukkan tingkat kerentanan tinggi akibat aktivitas penangkapan ikan berlebihan, polusi, dan perubahan iklim. Temuan ini menekankan pentingnya penerapan langkah-langkah konservasi yang efektif untuk menjaga keberlanjutan sumberdaya ikan di kawasan ini. Upaya perlindungan habitat, pengelolaan penangkapan ikan yang berkelanjutan, serta edukasi kepada masyarakat lokal diharapkan dapat mengurangi kerentanan dan meningkatkan keberlanjutan ekosistem perairan Teluk Berau.
STRUKTUR KOMUNITAS ECHINODERMATA PADA EKOSISTEM LAMUN DI GILI GEDE, LOMBOK BARAT, NUSA TENGGARA BARAT Darma Prasetio; Ratna Suharti; Hendra Irawan; Aditya Bramana; Meuthia Aula Jabbar; Dadan Zulkifli; Siti Mira Rahayu
Jurnal Perikanan Unram Vol 14 No 1 (2024): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v14i1.709

Abstract

Ecologically Echinoderms plays a role as a eater of organic waste or detritus originating from animal and plant remains to clean organic waste in the ocean, one of the echinoderm habitats is in the seagrass ecosystem. The aim of this research is to determine seagrass density and abundanceechinoderms, biological index (Diversity, uniformity and dominance) of seagrasses and echinoderms and water conditions. The seagrass and echinoderm data collection method uses a 100 meter perpendicular transect with a 1 x 1 m² quadrant tansec plot toechinoderms and quadrant 50 x 50 cm² for seagrass. Density of seagrass species at station II Halophila ovalis with a value of 1,294.2 ind/m2 and station III of the type Halophila minor, Halodule pinifolia, andSyringodium isoetifolium and station IV typeHalophila ovalis with a specific density of 0 ind/m2. The distribution of echinoderms found at the four observation stations was divided into 18 types from the 5 classes of echinoderms found, the highest type found was at station IV with a total of 588 ind/m² and the lowest was at station III with a total of 85 ind/m².
LEVEL OF UTILIZATION AND EFFORTS TO MANAGE MALE MACKEREL (Rastrelliger kanagurta) RESOURCES IN THE WATERS OF BANTEN BAY Labupili, Albertus Guntur Arsetyanto; Jabbar, Meuthia Aula; Wardiny, Tuty Maria
Jurnal Perikanan Unram Vol 15 No 2 (2025): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v15i2.1318

Abstract

Tangkapan utama nelayan di Teluk Banten dengan nilai komersial yang tinggi salah satunya adalah ikan kembung laki-laki (Rastrelliger kanagurta). Penurunan populasi terjadi pada ikan kembung lelaki dari tahun ke tahun karena eksploitasi yang intensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bebrapa aspek yaitu biologi, reproduksi perikanan, perikanan tangkap, dan upaya pengelolaan berdasarkan status pemanfaatan R. kanagurta di Teluk Banten. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli – Oktober 2023 di 4 TPI yaitu, TPI Lontar, PPN Karangantu, TPI Teratai, TPI Wadas Bojonegara. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian survey dan bersifat kuantitatif. Hasil penelitian pada aspek biologi menunjukan pola pertumbuhan alometrik negatif dengan sex ratio 1:1,14 serta nilai TKG pada TKG III dan TKG IV, dengan nilai Lc > Lm. Pada aspek perikanan tangkap, alat tangkap yang dominan berupa trammel net, bagan perahu, dan pancing ulur dengan trend menurun pada CPUE terhadap effort. Nilai MSY berada pada 451 ton serta JTB pada 361 ton. Sehingga upaya pengelolaan yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian sumberdaya ikan kembung lelaki adalah dengan melakukan pembatasan penangkapan hingga mencapai upaya optimum, penutupan musim dan daerah penangkapan, pembatasan tangkapan pada ukuran ikan terkecil, pengaturan ukuran mata jaring, dan yang paling utama pengawasan yang memadai serta sosialisasi kepada nelayan terkait pengelolaan yang berkelanjutan.
Efektivitas Ukuran Bukaan Mulut Bubu Karang terhadap Hasil Tangkapan Ikan di Perairan Sorong Siaila, Max; Ruchimat, Toni; Jabbar, Meuthia Aula
Jurnal Penyuluhan Perikanan dan Kelautan Vol 19, No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Penyuluhan Perikanan Politeknik Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33378/jppik.v19i2.508

Abstract

Pada tahun 2016, produksi perikanan tangkap di Kota Sorong tercatat sebesar 47.328 ton, namun pada tahun 2017 mengalami penurunan menjadi 44.710 ton (BPS, 2017). Penurunan dan fluktuasi hasil produksi tersebut umumnya dipengaruhi oleh jenis alat tangkap yang digunakan serta kapasitas kapal yang beroperasi. Berangkat dari kondisi ini, penelitian dilakukan untuk mengkaji sejauh mana variasi ukuran bukaan mulut bubu memengaruhi hasil tangkapan ikan di perairan Sorong, Papua Barat Daya. Penelitian menerapkan metode experimental fishing dengan membandingkan tiga ukuran bukaan mulut bubu, yakni Ø30 cm, Ø40 cm, dan Ø50 cm, selama periode enam bulan (Januari–Juni 2024). Hasil penelitian memperlihatkan adanya pengaruh signifikan dari perbedaan ukuran bubu terhadap jumlah dan komposisi ikan yang tertangkap. Secara total diperoleh 124 ekor ikan dengan berat kumulatif 122,4 kg yang terdiri atas 20 spesies. Bubu dengan bukaan Ø50 cm memberikan hasil paling tinggi, ditandai dengan dominasi tangkapan Kakap Timor (Lutjanus timorensis) sebesar 19 kg. Analisis data menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) menguatkan temuan bahwa ukuran bukaan bubu berpengaruh nyata terhadap produktivitas hasil tangkapanKata
ANALISIS KUALITAS AIR SEBAGAI INDIKATOR PELABUHAN PERIKANAN BERWAWASAN LINGKUNGAN DI PPN MUARA ANGKE Liana, Lina; Jabbar, Meuthia Aula; Nurhudah, Moch
Jurnal Penelitian Perikanan Laut (Albacore) Vol 8 No 3 (2024): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.8.3.245-254

Abstract

PPN Muara Angke adalah salah satu sentral perikanan yang memenuhi kebutuhan ikan Provinsi DKI Jakarta dan wilayah sekitarnya. Kegiatan perikanan, pembuangan limbah cair langsung ke kolam pelabuhan dan adanya sampah di kolam pelabuhan, apabila terus dibiarkan dapat menimbulkan penurunan kualitas air. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kualitas air di pelabuhan sebagai salah satu indikator pelabuhan perikanan yang berwawasan lingkungan (eco-fishing port). Data kualitas air diambil dua kali pada bulan Oktober dan Desember 2023 pada 4 stasiun. Parameter kualitas air yang diukur secara in situ adalah salinitas, kecerahan, suhu, keberadaan sampah dan lapiran minyak. Selanjutnya parameter TSS, amonia total (NH3-N), surfaktan, raksa (Hg), kadmium (Cd), timbal (Pb) dan total coliform diukur di laboratorium PT. Unilab Perdana. Data kualitas air hasil pemeriksaan dibandingkan dengan baku mutu air laut untuk pelabuhan perikanan yang mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021. Penghitungan Indeks pencemaran bagi peruntukan air (Plj) mengacu pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 115 Tahun 2003. Hasil survei parameter yang sesuai dengan baku mutu adalah TSS, suhu, salinitas, pH, surfaktan, raksa, kadmium, timbal dan total coliform sedangkan yang telah melebihi baku mutu adalah kecerahan, lapisan minyak, sampah dan amonia total. Hasil penghitungan indeks pencemaran berkisar 1,054-2,645 yang berarti termasuk dalam kategori tercemar ringan sehingga PPN Muara Angke perlu melakukan perbaikan agar dapat dinyatakan sebagai pelabuhan perikanan berwawasan lingkungan. Kata kunci: Eco-fishing port, indeks pencemaran, kualitas air
EFFECT OF USING POLYETHYLENE TERAPLAHATE AS SQUID FISHING AIDS IN WANGI-WANGI WATERS, SOUTHEAST SULAWESI Hadi, Andre Pangestu; Jabbar, Meuthia Aula; Yusrizal
Jurnal Penelitian Perikanan Laut (Albacore) Vol 9 No 1 (2025): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.9.1.051-062

Abstract

Squid fishing is traditionally done in Indonesia, especially in the Eastern region such as the Wakatobi Islands. Deep sea squid fishermen on this island use hand line fishing equipment (squid fishing rods) with the help of LED lights which are still quite limited, because they only use one mini LED light with a battery that can last for 4 days. This research aims to utilize used Polyethylene Terephthalate (PET) mizone bottle waste as a squid catching tool that can be used repeatedly, as well as reusing PET waste. The research used the experimental method of fishing in Wangi-wangi waters, the lamp design used a PET waste frame using blue-green LEDs, rechargeable batteries, and was operated in water. PET waste has a hard, strong and waterproof material, this waste is used to reduce waste of used mizone bottles. This test uses three boats with sixteen repetitions. The data were analyzed using the Randomized Block Design (RAK) method. Based on the test results, different catches were obtained, where blue light was 35% (1697 fish), control light (combination of red, white, blue) was 34%, and green light was 31% (1447 fish). The calculated F value > F Table (2.92 > 2.02) which means that there is a real influence of the use of LED lights made from PET waste on fishermen catches. Key words: fishermen, LED, PET waste, squid
Sea turtle management in three conservation areas of West Sumatera using EVIKA approach Deshan, Farah; Jabbar, Meuthia Aula; Ruchimat, Toni
JURNAL MINA SAINS Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Mina Sains
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/jmss.v11i2.19910

Abstract

Sea turtles are keystone species in coastal ecosystems, playing an essential role in maintaining ecological balance by regulating the population of certain marine organisms and sustaining the quality of critical habitats such as seagrass beds and coral reefs. Their presence not only reflects the health of marine ecosystems but also serves as a key indicator of the success of marine conservation initiatives. This study evaluates the effectiveness of conservation area management in three sites in West Sumatera Province using the Evaluation of Marine Protected Area Management Effectiveness (EVIKA) framework, namely the Pieh Marine Protected Area on Pandan Island, Karabak Ketek Island, and the Ampiang Parak Conservation Area. A descriptive analysis was applied to assess the performance of each EVIKA criterion and indicator. The results show that the Pieh Conservation Area achieved a sustainable management status with the highest score in the input component, while Karabak Ketek Island and Ampiang Parak were categorized as optimally managed. The effectiveness of management across these areas is influenced by several key factors, including the strength of legal frameworks, the availability and competence of human resources, institutional capacity, and the level of community participation. This study recommends enhancing multi-stakeholder collaboration, strengthening the role of community-based monitoring groups (pokmaswas), and implementing participatory monitoring systems that are community-driven and adaptive to the dynamic changes of coastal environments.
Biological aspects of squid (Loligo edulis) in the waters of Eastern North Sumatra, Indonesia Zulkifli, Dadan; Suharti, Ratna; Sihombing, Yuni Fast Track Anjeli; Jabbar, Meuthia Aula; Rahayu, Siti Mira; Bramana, Aditya; Irawan, Hendra; Aulia, Deni
Depik Jurnal Ilmu Ilmu Perairan, Pesisir, dan Perikanan Vol 12, No 1 (2023): APRIL 2023
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.12.1.28602

Abstract

Squid is one of the non-fish resources that have economic value and is a target species in demersal fisheries activities with squid fishing gear and stick-held deep net. This research aims to determine the biological aspects of squid (Loligo edulis) such as length frequency distribution, length-weight relationship, sex ratio, gonadal maturity level, gonadal maturity index, size at first caught, and size at first maturity of the gonads. The method used in this research was a descriptive survey. The sample collection method used systematic random sampling and purposive sampling techniques. This observation was carried out on March 7 to July 30, 2022, at the Belawan Ocean Fishing Port and Tanjung Balai Port. The results showed that the average length distribution of squid was 17.73 cm. The relationship between the length and weight of squid is negative allometric. The sex ratio is 1:1.05. The negative allometric growth pattern is dominated by Gonadal Maturity Level (GML) I and GML II. The highest GML value for male squid was 2.06% at GML III, and the highest GML value for female squid was 1.92% at GML III. The average size of the caught squid length (Lc) is 10.42 cm. The size of the first gonad maturity (Lc) was 13.32 cm.Keywords:SquidBiological aspectsFisheries aspectManagement effort