Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Pengaruh Durasi Waktu Pengangkatan (Hauling) Bingkai Jaring Pipa Pvc Terhadap Berat Total Tangkapan Serta Komposisi Jenis Ikan Pada Bagan Tancap Saputra, Bonis Andrei Tri; Jabbar, Meuthia Aula; Baskoro, Mulyono Sumitro
Jurnal Penyuluhan Perikanan dan Kelautan Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Penyuluhan Perikanan Politeknik Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33378/jppik.v17i2.394

Abstract

Alat tangkap bagan tancap digunakan dengan cara mengangkat jaring dari kedalaman tertentu di pinggiran pantai yang dibantu lampu untuk mengumpulkan ikan. Bagan tancap ini dipengaruhi faktor waktu pengangkatan yang berperan besar pada jumlah ikan hasil tangkapan di mana kecepatan durasi waktu hauling yang lebih cepat mampu menghasilkan jumlah ikan yang lebih banyak. Penggunaan pipa bahan PVC sebagai bahan rangka jaringan berhasil mengatasi masalah lamanya waktu pengangkatan jaringan dan peningkatan kinerjanya. Tujuan dari kegiatan penelitian ini yaitu melihat pengaruh penggunaan bingkai jaring menggunakan pipa bahan PVC terhadap lama waktu pengangkatan (hauling) serta jumlah dan komposisi ikan hasil tangkapan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen di mana penangkapan langsung dilakukan di lapangan dengan rangka jaring berbahan PVC dan rangka jaring komposit (PVC-bambu) dan penarikan sebanyak 15 kali selama 10 trip penangkapan. Analisis regresi linier sederhana dan uji F simultan digunakan untuk mengambil keputusan dari hasil penelitian yang dilakukan. Hasil analisis uji regresi linier didapatkan nilai persamaan Y = 27,370-0,111X dengan waktu hauling secara signifikan berpengaruh terhadap berat total hasil tangkapan sebesar 23%. Untuk durasi waktu hauling terhadap komposisi jenis ikan berpengaruh signifikan sebanyak 20% dengan persamaan regresi Y = 9,581-0,028X
Biodiversity and Vulnerability of Fisheries Resources in Berau Bay, West Papua Province Maulana, Riyan; Jabbar, Meuthia Aula; Yonvitner
Jurnal Pengelolaan Perikanan Tropis (Journal of Tropical Fisheries Management) Vol 8 No 1 (2024): Jurnal Pengelolaan Perikanan Tropis (Journal Of Tropical Fisheries Management)
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jppt.v8i1.55908

Abstract

Teluk Berau, yang terletak di Provinsi Papua Barat, merupakan salah satu wilayah perairan yang kaya akan keanekaragaman hayati di Indonesia. Ekosistem perairan ini menjadi habitat penting bagi berbagai jenis ikan, yang memiliki nilai ekologi dan ekonomi bagi masyarakat lokal yang bergantung pada perikanan. Namun, peningkatan aktivitas manusia termasuk penangkapan ikan intensif, polusi, dan perubahan iklim, menimbulkan ancaman serius terhadap kelestarian sumberdaya ikan di wilayah ini. Penelitian ini bertujuan mengkaji biodiversitas dan tingkat kerentanan sumberdaya ikan di Perairan Teluk Berau. Metode yang digunakan meliputi survei lapangan, pengambilan sampel ikan, dan analisis identifikasi spesies serta menghitung indeks keanekaragaman. Tingkat kerentanan sumberdaya ikan diperoleh dengan mengkategorisasikan status konservasi pada IUCN redlist. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Teluk Berau memiliki tingkat biodiversitas relatif tinggi dengan dominansi yang rendah. Nilai indeks biodiversitas pada perairan Teluk Berau tertinggi sebesar 3.35 yang didominasi oleh famili Carangidae, dan Scombridae. Hasil analisis tingkat kerentanan menunjukkan sebanyak 85.71% memiliki tingkat kerentana yang rendah. Namun, beberapa spesies menunjukkan tingkat kerentanan tinggi akibat aktivitas penangkapan ikan berlebihan, polusi, dan perubahan iklim. Temuan ini menekankan pentingnya penerapan langkah-langkah konservasi yang efektif untuk menjaga keberlanjutan sumberdaya ikan di kawasan ini. Upaya perlindungan habitat, pengelolaan penangkapan ikan yang berkelanjutan, serta edukasi kepada masyarakat lokal diharapkan dapat mengurangi kerentanan dan meningkatkan keberlanjutan ekosistem perairan Teluk Berau.
STRUKTUR KOMUNITAS ECHINODERMATA PADA EKOSISTEM LAMUN DI GILI GEDE, LOMBOK BARAT, NUSA TENGGARA BARAT Darma Prasetio; Ratna Suharti; Hendra Irawan; Aditya Bramana; Meuthia Aula Jabbar; Dadan Zulkifli; Siti Mira Rahayu
Jurnal Perikanan Unram Vol 14 No 1 (2024): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v14i1.709

Abstract

Ecologically Echinoderms plays a role as a eater of organic waste or detritus originating from animal and plant remains to clean organic waste in the ocean, one of the echinoderm habitats is in the seagrass ecosystem. The aim of this research is to determine seagrass density and abundanceechinoderms, biological index (Diversity, uniformity and dominance) of seagrasses and echinoderms and water conditions. The seagrass and echinoderm data collection method uses a 100 meter perpendicular transect with a 1 x 1 m² quadrant tansec plot toechinoderms and quadrant 50 x 50 cm² for seagrass. Density of seagrass species at station II Halophila ovalis with a value of 1,294.2 ind/m2 and station III of the type Halophila minor, Halodule pinifolia, andSyringodium isoetifolium and station IV typeHalophila ovalis with a specific density of 0 ind/m2. The distribution of echinoderms found at the four observation stations was divided into 18 types from the 5 classes of echinoderms found, the highest type found was at station IV with a total of 588 ind/m² and the lowest was at station III with a total of 85 ind/m².
Efektivitas Ukuran Bukaan Mulut Bubu Karang terhadap Hasil Tangkapan Ikan di Perairan Sorong Siaila, Max; Ruchimat, Toni; Jabbar, Meuthia Aula
Jurnal Penyuluhan Perikanan dan Kelautan Vol 19, No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Penyuluhan Perikanan Politeknik Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33378/jppik.v19i2.508

Abstract

Pada tahun 2016, produksi perikanan tangkap di Kota Sorong tercatat sebesar 47.328 ton, namun pada tahun 2017 mengalami penurunan menjadi 44.710 ton (BPS, 2017). Penurunan dan fluktuasi hasil produksi tersebut umumnya dipengaruhi oleh jenis alat tangkap yang digunakan serta kapasitas kapal yang beroperasi. Berangkat dari kondisi ini, penelitian dilakukan untuk mengkaji sejauh mana variasi ukuran bukaan mulut bubu memengaruhi hasil tangkapan ikan di perairan Sorong, Papua Barat Daya. Penelitian menerapkan metode experimental fishing dengan membandingkan tiga ukuran bukaan mulut bubu, yakni Ø30 cm, Ø40 cm, dan Ø50 cm, selama periode enam bulan (Januari–Juni 2024). Hasil penelitian memperlihatkan adanya pengaruh signifikan dari perbedaan ukuran bubu terhadap jumlah dan komposisi ikan yang tertangkap. Secara total diperoleh 124 ekor ikan dengan berat kumulatif 122,4 kg yang terdiri atas 20 spesies. Bubu dengan bukaan Ø50 cm memberikan hasil paling tinggi, ditandai dengan dominasi tangkapan Kakap Timor (Lutjanus timorensis) sebesar 19 kg. Analisis data menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) menguatkan temuan bahwa ukuran bukaan bubu berpengaruh nyata terhadap produktivitas hasil tangkapanKata
ANALISIS KUALITAS AIR SEBAGAI INDIKATOR PELABUHAN PERIKANAN BERWAWASAN LINGKUNGAN DI PPN MUARA ANGKE Liana, Lina; Jabbar, Meuthia Aula; Nurhudah, Moch
Jurnal Penelitian Perikanan Laut (Albacore) Vol 8 No 3 (2024): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.8.3.245-254

Abstract

PPN Muara Angke adalah salah satu sentral perikanan yang memenuhi kebutuhan ikan Provinsi DKI Jakarta dan wilayah sekitarnya. Kegiatan perikanan, pembuangan limbah cair langsung ke kolam pelabuhan dan adanya sampah di kolam pelabuhan, apabila terus dibiarkan dapat menimbulkan penurunan kualitas air. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kualitas air di pelabuhan sebagai salah satu indikator pelabuhan perikanan yang berwawasan lingkungan (eco-fishing port). Data kualitas air diambil dua kali pada bulan Oktober dan Desember 2023 pada 4 stasiun. Parameter kualitas air yang diukur secara in situ adalah salinitas, kecerahan, suhu, keberadaan sampah dan lapiran minyak. Selanjutnya parameter TSS, amonia total (NH3-N), surfaktan, raksa (Hg), kadmium (Cd), timbal (Pb) dan total coliform diukur di laboratorium PT. Unilab Perdana. Data kualitas air hasil pemeriksaan dibandingkan dengan baku mutu air laut untuk pelabuhan perikanan yang mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021. Penghitungan Indeks pencemaran bagi peruntukan air (Plj) mengacu pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 115 Tahun 2003. Hasil survei parameter yang sesuai dengan baku mutu adalah TSS, suhu, salinitas, pH, surfaktan, raksa, kadmium, timbal dan total coliform sedangkan yang telah melebihi baku mutu adalah kecerahan, lapisan minyak, sampah dan amonia total. Hasil penghitungan indeks pencemaran berkisar 1,054-2,645 yang berarti termasuk dalam kategori tercemar ringan sehingga PPN Muara Angke perlu melakukan perbaikan agar dapat dinyatakan sebagai pelabuhan perikanan berwawasan lingkungan. Kata kunci: Eco-fishing port, indeks pencemaran, kualitas air
EFFECT OF USING POLYETHYLENE TERAPLAHATE AS SQUID FISHING AIDS IN WANGI-WANGI WATERS, SOUTHEAST SULAWESI Hadi, Andre Pangestu; Jabbar, Meuthia Aula; Yusrizal
Jurnal Penelitian Perikanan Laut (Albacore) Vol 9 No 1 (2025): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.9.1.051-062

Abstract

Squid fishing is traditionally done in Indonesia, especially in the Eastern region such as the Wakatobi Islands. Deep sea squid fishermen on this island use hand line fishing equipment (squid fishing rods) with the help of LED lights which are still quite limited, because they only use one mini LED light with a battery that can last for 4 days. This research aims to utilize used Polyethylene Terephthalate (PET) mizone bottle waste as a squid catching tool that can be used repeatedly, as well as reusing PET waste. The research used the experimental method of fishing in Wangi-wangi waters, the lamp design used a PET waste frame using blue-green LEDs, rechargeable batteries, and was operated in water. PET waste has a hard, strong and waterproof material, this waste is used to reduce waste of used mizone bottles. This test uses three boats with sixteen repetitions. The data were analyzed using the Randomized Block Design (RAK) method. Based on the test results, different catches were obtained, where blue light was 35% (1697 fish), control light (combination of red, white, blue) was 34%, and green light was 31% (1447 fish). The calculated F value > F Table (2.92 > 2.02) which means that there is a real influence of the use of LED lights made from PET waste on fishermen catches. Key words: fishermen, LED, PET waste, squid
Evaluasi Habitat Peneluran Penyu Pada Tiga Kawasan Konservasi Penyu Di Sumatera Barat Farah Deshan Pasokawati; Meuthia Aula Jabbar; Toni Ruchimat; Basuki Rachmad; Yuwanda Ilham; Yendri Yendri
Jurnal Kelautan Vol 18, No 3: Desember (2025)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v18i3.32395

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik habitat pendaratan dan keberhasilan penetasan telur penyu di tiga kawasan konservasi penyu di Sumatera Barat, yaitu Pulau Pandan, Pulau Karabak Ketek, dan Ampiang Parak. Pengumpulan data dilakukan dengan pendekatan berbeda pada masing-masing lokasi, menyesuaikan kondisi ekologi dan akses lapangan. Pengamatan primer dilakukan di Pulau Pandan karena aktivitas pendaratan penyu masih terjadi dan lokasi dapat dijangkau selama penelitian. Sementara itu, pengumpulan data primer tidak dapat dilakukan di Pulau Karabak Ketek akibat kondisi gelombang tinggi, dan di Ampiang Parak tidak ditemukan penyu yang mendarat karena abrasi yang menyebabkan kemiringan pantai menjadi curam. Oleh karena itu, data pada kedua lokasi tersebut diperoleh melalui data sekunder dari laporan monitoring pengelola kawasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pulau Pandan memiliki tujuh sarang aktif (satu sarang alami dan enam semi-alami), sedangkan informasi dari Karabak Ketek dan Ampiang Parak diperoleh melalui monitoring tahunan pengelola. Variasi keberhasilan penetasan di Pulau Pandan (11-98%) berasal dari sarang bulan Januari-Desember 2024, sedangkan nilai 54-99% pada Karabak Ketek dan 73-100% pada Ampiang Parak merupakan rekapitulasi sarang semi-alami yang dikelola sepanjang tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pulau Pandan masih memiliki habitat yang sesuai untuk peneluran, sementara dua lokasi lain menunjukkan penurunan fungsi habitat akibat abrasi dan gelombang tinggi. Penelitian ini merupakan evaluasi komparatif terbaru yang memadukan data primer dan monitoring tahunan untuk melihat pergeseran fungsi habitat penyu di Sumatera Barat.Kata Kunci: habitat peneluran, konservasi, penyu lautABSTRACTThe study aims to evaluate sea turtle nesting habitat characteristics and hatching success in three conservation areas in West Sumatera: Pandan Island, Karabak Ketek, and Ampiang Parak. Data collection methods differed among locations based on ecological conditions and field accessibility. Primary observations were conducted on Pandan Island, where active nesting was still occurring and field access was feasible. In contrast, primary data collection could not be conducted on Karabak Ketek Island due to high wave conditions, and no nesting activity was observed at Ampiang Parak due to coastal abrasion that caused steep beach slopes. Therefore, data from Karabak Ketek and Ampiang Parak were obtained from secondary monitoring records maintained by conservation staff. The findings show that Pulau Pandan recorded seven active nests (one natural nest and six semi-natural nests), while information from Karabak Ketek and Ampiang Parak was sourced from annual monitoring records. The variation in hatching success on Pandan Island (11-98%) represents nest outcomes recorded from January to December 2024, whereas the 54-99% range in Karabak Ketek and the 73-100% range in Ampiang Parak reflect semi-natural hatchery results managed throughout the monitoring year. Overall, the analysis indicates that Pandan Island still maintains suitable ecological conditions for natural nesting, while the other two locations have experienced a decline in habitat function due to abrasion and high wave exposure. This study presents the most recent comparative evaluations integrating primary field observations with annual monitoring data to identify shifts in sea turtle nesting habitat functionality in West Sumatera.Keywords: nesting habitat, conservation, sea turtle
TINGKAT PENCEMARAN AIR SUNGAI WISO JEPARA PROVINSI JAWA TENGAH BERDASARKAN PENDEKATAN INDEKS PENCEMARAN DAN INDEKS SAPROBIK Padang, Rafliansyah -; Suharti, Ratna; Bramana, Aditya; Jabbar, Meuthia Aula
Buletin Jalanidhitah Sarva Jivitam Vol 7, No 2 (2025): September 2025
Publisher : POLITEKNIK AHLI USAHA PERIKANAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bjsj.v7i2.16722

Abstract

Kabupaten Jepara memiliki dua sungai utama yang membelah wilayah kota, yaitu Sungai Wiso dan Sungai Kanal. Meskipun keduanya berasal dari hulu yang sama, masing-masing mengalir ke muara yang berbeda dan melewati kawasan dengan karakteristik pemanfaatan lahan yang bervariasi. Penurunan kualitas air khususnya pada Sungai Wiso dipengaruhi oleh limpasan limbah domestik dan aktivitas penggunaan lahan di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas air Sungai Wiso berdasarkan parameter fisika, kimia, dan biologi, serta untuk menilai tingkat pencemaran melalui Indeks Pencemaran (IP) dan Indeks Saprobik. Pengumpulan data dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu pengambilan data primer (in-situ dan ex-situ) pada empat titik penelitian, serta data sekunder yang diperoleh dari studi literatur. Parameter yang dianalisis meliputi TSS, fosfat, nitrit, nitrat, amonia, DO, BOD, COD, dan fitoplankton. Analisis menunjukkan bahwa status pencemaran air Sungai Wiso berada dalam kategori tercemar ringan berdasarkan nilai Indeks Pencemaran. Koefisien saprobik sebesar -0,3 mengindikasikan bahwa sungai berada pada fase α/β mesosaprobik, yang menunjukkan tingkat pencemaran sedang. Sementara itu, nilai Makropoulos Saprobic Index (MSI) sebesar 2,60 menunjukkan status oligosaprobik, yang berarti tingkat pencemaran organik dan anorganik sangat rendah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun Sungai Wiso telah mengalami pencemaran, tingkat pencemarannya masih tergolong rendah hingga sedang. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengelolaan kualitas air secara berkelanjutan, termasuk penyuluhan kepada masyarakat, pemantauan rutin, dan kajian lanjutan untuk mencegah peningkatan degradasi lingkungan di masa mendatang.
Biological aspects of squid (Loligo edulis) in the waters of Eastern North Sumatra, Indonesia Dadan Zulkifli; Ratna Suharti; Yuni Fast Track Anjeli Sihombing; Meuthia Aula Jabbar; Siti Mira Rahayu; Aditya Bramana; Hendra Irawan; Deni Aulia
Depik Vol 12, No 1 (2023): APRIL 2023
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.12.1.28602

Abstract

Squid is one of the non-fish resources that have economic value and is a target species in demersal fisheries activities with squid fishing gear and stick-held deep net. This research aims to determine the biological aspects of squid (Loligo edulis) such as length frequency distribution, length-weight relationship, sex ratio, gonadal maturity level, gonadal maturity index, size at first caught, and size at first maturity of the gonads. The method used in this research was a descriptive survey. The sample collection method used systematic random sampling and purposive sampling techniques. This observation was carried out on March 7 to July 30, 2022, at the Belawan Ocean Fishing Port and Tanjung Balai Port. The results showed that the average length distribution of squid was 17.73 cm. The relationship between the length and weight of squid is negative allometric. The sex ratio is 1:1.05. The negative allometric growth pattern is dominated by Gonadal Maturity Level (GML) I and GML II. The highest GML value for male squid was 2.06% at GML III, and the highest GML value for female squid was 1.92% at GML III. The average size of the caught squid length (Lc) is 10.42 cm. The size of the first gonad maturity (Lc) was 13.32 cm.Keywords:SquidBiological aspectsFisheries aspectManagement effort
The Conservation Management Model For Mangrove Forest Management And Ecotourism On Wangi-Wangi Island, Wakatobi, Indonesia: A Moderated-Mediation Approach Involving Community Empowerment And Institutional-Motivational Barriers Sahari, Sariamin; RUMPA, ARHAM; FERLIN, AKHMATUL; ADMAJA, ALFI KUSUMA; ASUHADI, SUNARWAN; Musrianton, Muhammad; ISMAN, KHAIRUDIN; MANSYUR, LA ODE; NORMAYASARI, NORMAYASARI; Ikhsan, Nur; NASRUN, NASRUN; HARUDIN, HARUDIN; JABBAR, MEUTHIA AULA
Proceedings of The Vocational Seminar on Marine & Inland Fisheries Volume 3 Nomor 1 Tahun 2026
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/voc_seminar.v3i1.20776

Abstract

The management of mangrove conservation and ecotourism on Wangi-Wangi Island in Wakatobi employs a Moderated-Mediation approach using Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM) to understand the complex mechanisms between conservation and ecotourism efforts, community empowerment, and the sustainability of ecotourism. This study also examines the moderating role of institutional barriers and motivation. Mangrove ecosystems are threatened by anthropogenic factors and the lack of management institutions, particularly in Wakatobi, which possesses the local wisdom of its indigenous communities but faces challenges related to infrastructure and community participation, often limited to a tokenistic level. The research method involved a survey with a 5-point Likert questionnaire administered to 100 respondents from various stakeholders across four coastal villages. Data analysis was performed using SEM-PLS 4.0 software to test for validity, reliability, and model hypotheses, alongside descriptive qualitative data interpretation. Results indicate that although the direct impact of conservation and ecotourism on sustainability is not significant, community empowerment significantly mediates this relationship with an indirect effect of 0.587. Furthermore, institutional barriers and motivation were not found to be significant moderators, even though they remain contemporary issues. Thus, the sustainability of mangrove ecotourism in Wangi-Wangi largely depends on effective community empowerment as a key mediator, rather than direct conservation and ecotourism efforts. Consequently, policy recommendations should focus on strengthening community empowerment, particularly through political and participatory dimensions, enhancing citizen oversight, and improving structural governance, including infrastructure and regulations, to address existing barriers
Co-Authors Acacia Zeny Araminta Mourniaty Acacia Zeny Araminta Mourniaty Aditya Bramana Aditya Bramana Aditya Bramana, Aditya Admaja, Alfi Kusuma Akhmatul Ferlin Albertus Guntur Arsetyanto Labupili Ali Suman Alifa Egitia Nuringtyas Alya Putri Larasati Arief Wujdi Arief Wujdi, Arief Asuhadi, Sunarwan Awaludin Syamsuddin Basuki Rachmad Bonis Andrei Tri Saputra Dadan Zulkifli Dadan Zulkifli Dadan Zulkifli Darma Prasetio Deni Aulia Farah Deshan Pasokawati Futra Septian Hadi, Andre Pangestu Halim, Sugianto sugianto Harudin, Harudin Hendra Irawan Hendra Irawan Hendra Irawan I Nyoman Suyasa I Nyoman Suyasa I Nyoman Suyasa I Nyoman Suyasa Ikhsan, Nur Ilham Mulyana Iya Purnama Sari Khairudin Isman Labupili, Albertus Guntur Arsetyanto Liana, Lina Mansyur, La Ode Mennofatria Boer Mira Rahayu Mohammad Mukhlis Kamal Mourniaty, Acacia Zeny Araminta Muhammad Musrianton Mulyono S Baskoro Mulyono S. Baskoro Nasrun Nasrun Normayasari Nunung Sabariyah Nurhudah, Moch Padang, Rafliansyah - Patrisius Toma Prasetio, Darma Priyanto Rahardjo Ratna Suharti Ratna Suharti Riyan Maulana Ruchimat, Toni Rumpa, Arham Sahari, Sariamin Saputra, Bonis Andrei Tri Setiawan, Rafi Siaila, Max Silvika Ivana Sari Aritonang Siti Mira Rahayu Sugianto sugianto Halim Suharti, Ratna Toni Ruchimat Triyono, Heri Tuty Maria Wardiny Tyas Dwi Bekti Diningrum Waode Israwati Winda Nainggolan Wudianto Wudianto Wudianto Wudianto, Wudianto Wudianto Yendri Yendri Yonvitner - Yuni Fast Track Anjeli Sihombing Yusrizal Yuwanda Ilham Zulkifli, Dadan