Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Biological aspects of squid (Loligo edulis) in the waters of Eastern North Sumatra, Indonesia Zulkifli, Dadan; Suharti, Ratna; Sihombing, Yuni Fast Track Anjeli; Jabbar, Meuthia Aula; Rahayu, Siti Mira; Bramana, Aditya; Irawan, Hendra; Aulia, Deni
Depik Jurnal Ilmu Ilmu Perairan, Pesisir, dan Perikanan Vol 12, No 1 (2023): APRIL 2023
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.12.1.28602

Abstract

Squid is one of the non-fish resources that have economic value and is a target species in demersal fisheries activities with squid fishing gear and stick-held deep net. This research aims to determine the biological aspects of squid (Loligo edulis) such as length frequency distribution, length-weight relationship, sex ratio, gonadal maturity level, gonadal maturity index, size at first caught, and size at first maturity of the gonads. The method used in this research was a descriptive survey. The sample collection method used systematic random sampling and purposive sampling techniques. This observation was carried out on March 7 to July 30, 2022, at the Belawan Ocean Fishing Port and Tanjung Balai Port. The results showed that the average length distribution of squid was 17.73 cm. The relationship between the length and weight of squid is negative allometric. The sex ratio is 1:1.05. The negative allometric growth pattern is dominated by Gonadal Maturity Level (GML) I and GML II. The highest GML value for male squid was 2.06% at GML III, and the highest GML value for female squid was 1.92% at GML III. The average size of the caught squid length (Lc) is 10.42 cm. The size of the first gonad maturity (Lc) was 13.32 cm.Keywords:SquidBiological aspectsFisheries aspectManagement effort
Evaluasi Habitat Peneluran Penyu Pada Tiga Kawasan Konservasi Penyu Di Sumatera Barat Farah Deshan Pasokawati; Meuthia Aula Jabbar; Toni Ruchimat; Basuki Rachmad; Yuwanda Ilham; Yendri Yendri
Jurnal Kelautan Vol 18, No 3: Desember (2025)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v18i3.32395

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik habitat pendaratan dan keberhasilan penetasan telur penyu di tiga kawasan konservasi penyu di Sumatera Barat, yaitu Pulau Pandan, Pulau Karabak Ketek, dan Ampiang Parak. Pengumpulan data dilakukan dengan pendekatan berbeda pada masing-masing lokasi, menyesuaikan kondisi ekologi dan akses lapangan. Pengamatan primer dilakukan di Pulau Pandan karena aktivitas pendaratan penyu masih terjadi dan lokasi dapat dijangkau selama penelitian. Sementara itu, pengumpulan data primer tidak dapat dilakukan di Pulau Karabak Ketek akibat kondisi gelombang tinggi, dan di Ampiang Parak tidak ditemukan penyu yang mendarat karena abrasi yang menyebabkan kemiringan pantai menjadi curam. Oleh karena itu, data pada kedua lokasi tersebut diperoleh melalui data sekunder dari laporan monitoring pengelola kawasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pulau Pandan memiliki tujuh sarang aktif (satu sarang alami dan enam semi-alami), sedangkan informasi dari Karabak Ketek dan Ampiang Parak diperoleh melalui monitoring tahunan pengelola. Variasi keberhasilan penetasan di Pulau Pandan (11-98%) berasal dari sarang bulan Januari-Desember 2024, sedangkan nilai 54-99% pada Karabak Ketek dan 73-100% pada Ampiang Parak merupakan rekapitulasi sarang semi-alami yang dikelola sepanjang tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pulau Pandan masih memiliki habitat yang sesuai untuk peneluran, sementara dua lokasi lain menunjukkan penurunan fungsi habitat akibat abrasi dan gelombang tinggi. Penelitian ini merupakan evaluasi komparatif terbaru yang memadukan data primer dan monitoring tahunan untuk melihat pergeseran fungsi habitat penyu di Sumatera Barat.Kata Kunci: habitat peneluran, konservasi, penyu lautABSTRACTThe study aims to evaluate sea turtle nesting habitat characteristics and hatching success in three conservation areas in West Sumatera: Pandan Island, Karabak Ketek, and Ampiang Parak. Data collection methods differed among locations based on ecological conditions and field accessibility. Primary observations were conducted on Pandan Island, where active nesting was still occurring and field access was feasible. In contrast, primary data collection could not be conducted on Karabak Ketek Island due to high wave conditions, and no nesting activity was observed at Ampiang Parak due to coastal abrasion that caused steep beach slopes. Therefore, data from Karabak Ketek and Ampiang Parak were obtained from secondary monitoring records maintained by conservation staff. The findings show that Pulau Pandan recorded seven active nests (one natural nest and six semi-natural nests), while information from Karabak Ketek and Ampiang Parak was sourced from annual monitoring records. The variation in hatching success on Pandan Island (11-98%) represents nest outcomes recorded from January to December 2024, whereas the 54-99% range in Karabak Ketek and the 73-100% range in Ampiang Parak reflect semi-natural hatchery results managed throughout the monitoring year. Overall, the analysis indicates that Pandan Island still maintains suitable ecological conditions for natural nesting, while the other two locations have experienced a decline in habitat function due to abrasion and high wave exposure. This study presents the most recent comparative evaluations integrating primary field observations with annual monitoring data to identify shifts in sea turtle nesting habitat functionality in West Sumatera.Keywords: nesting habitat, conservation, sea turtle
TINGKAT PENCEMARAN AIR SUNGAI WISO JEPARA PROVINSI JAWA TENGAH BERDASARKAN PENDEKATAN INDEKS PENCEMARAN DAN INDEKS SAPROBIK Padang, Rafliansyah -; Suharti, Ratna; Bramana, Aditya; Jabbar, Meuthia Aula
Buletin Jalanidhitah Sarva Jivitam Vol 7, No 2 (2025): September 2025
Publisher : POLITEKNIK AHLI USAHA PERIKANAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bjsj.v7i2.16722

Abstract

Kabupaten Jepara memiliki dua sungai utama yang membelah wilayah kota, yaitu Sungai Wiso dan Sungai Kanal. Meskipun keduanya berasal dari hulu yang sama, masing-masing mengalir ke muara yang berbeda dan melewati kawasan dengan karakteristik pemanfaatan lahan yang bervariasi. Penurunan kualitas air khususnya pada Sungai Wiso dipengaruhi oleh limpasan limbah domestik dan aktivitas penggunaan lahan di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas air Sungai Wiso berdasarkan parameter fisika, kimia, dan biologi, serta untuk menilai tingkat pencemaran melalui Indeks Pencemaran (IP) dan Indeks Saprobik. Pengumpulan data dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu pengambilan data primer (in-situ dan ex-situ) pada empat titik penelitian, serta data sekunder yang diperoleh dari studi literatur. Parameter yang dianalisis meliputi TSS, fosfat, nitrit, nitrat, amonia, DO, BOD, COD, dan fitoplankton. Analisis menunjukkan bahwa status pencemaran air Sungai Wiso berada dalam kategori tercemar ringan berdasarkan nilai Indeks Pencemaran. Koefisien saprobik sebesar -0,3 mengindikasikan bahwa sungai berada pada fase α/β mesosaprobik, yang menunjukkan tingkat pencemaran sedang. Sementara itu, nilai Makropoulos Saprobic Index (MSI) sebesar 2,60 menunjukkan status oligosaprobik, yang berarti tingkat pencemaran organik dan anorganik sangat rendah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun Sungai Wiso telah mengalami pencemaran, tingkat pencemarannya masih tergolong rendah hingga sedang. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengelolaan kualitas air secara berkelanjutan, termasuk penyuluhan kepada masyarakat, pemantauan rutin, dan kajian lanjutan untuk mencegah peningkatan degradasi lingkungan di masa mendatang.