Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Optimalisasi Kegunaan Ruang Pada Area Kerja dan Sirkulasi Untuk Memaksimalkan Kegiatan Pengguna Pada SD Darul Hikam, Dago, Bandung Fajarsani Retno Palupi; Rizka Rachmawati; Titihan Sarihati
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jb.v5i1.8105

Abstract

Lembaga pendidikan dimulai dari tingkat yang paling dasar sampai paling atas sudah sepatutnya memiliki fasilitas pendidikan yang memenuhi kebutuhan pengguna dan aktivitasnya. Hal ini dapat dipenuhi dengan mempertimbangkan banyak aspek desain. Beberapa diantaranya dengan menerapkan analisis dan prinsip ergonomi, estetika, serta fungsi kepada beberapa aspek desain yang ada pada area atau ruang administrasi serta area sirkulasi. Program PKM ini diawali dengan adanya kegiatan pengambilan data pada lokasi institusi mitra, selanjutnya data diolah untuk mendapatkan beberapa alternatif desain yang akan diajukan kepada mitra dan sekaligus mendata beberapa masukan terkait alternative desain. Tim PKM  Telkom University dalam hal ini mendampingi mitra dalam segi desain untuk pengisi kelengkapan ruangan dengan mempertimbangkan aktivitas yang dilaksanakan dari awal hari sampai kegiatan selesai.
Transformasi gebyok Kudus dengan pendekatan hermeneutika dan intertekstualitas Titihan Sarihati; I Made Gede Arimbawa; Rexha Septine Faril Nanda
ARSNET Vol. 3 No. 2 (2023)
Publisher : Department of Architecture Faculty of Engineering Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/arsnet.v3i2.83

Abstract

Artikel ini membahas tentang proses transformasi gebyok Kudus sebagai elemen tradisi dan penerapannya pada berbagai konteks. Gebyok Kudus merupakan elemen tradisi Indonesia yang kerap dijumpai pada hunian maupun ruang publik dan telah mengalami penyesuaian dari masa ke masa. Penelitian terdahulu terkait gebyok membahas mengenai ragam hias dan makna, namun kajian mengenai proses transformasi gebyok pada masa lalu dan masa kini belum banyak dibahas. Studi ini menggunakan pendekatan hermeneutika dan intertekstualitas untuk memersepsikan objek kajian dan mengkaji transformasi yang terjadi. Telaah lebih lanjut dilakukan terhadap data objek gebyok Kudus lama maupun baru melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara terhadap pemilik rumah, tokoh budaya setempat, dan pelaku industri ukir kayu untuk mengetahui latar belakang sosial budaya perubahan gebyok. Penelitian ini mengidentifikasi proses transformasi dan transposisi gebyok Kudus yang ditunjukkan dengan adanya perubahan wujud, fungsi, makna, dan penempatan. Gebyok Kudus sebagai elemen tradisi yang sarat dengan simbolisme menjadi objek dengan makna yang berbeda secara estetika dan fungsi. Pemahaman ini memperlihatkan evolusi elemen tradisi arsitektur berdasarkan perubahan kebutuhan perancangan dari masa ke masa.   This article explores the transformation process of Kudus gebyok as a traditional element based on hermeneutic and intertextuality. Kudus gebyok is an Indonesian traditional element that commonly found in domestic or public space which have adapted from time to time. Previous studies about gebyok have discussed about the various aesthetic and meanings of gebyok, but there is limited discussion on the transformation of gebyok from the past to the present. This study employs hermeneutics and an intertextual approach to explore gebyok as the object of study and its transformation process. Further exploration is done to new and older gebyok through observation, documentation, and interviews with house owners, local cultural figures, and local wood carving craftsmen to understand about the socio-cultural background of gebyok and its changes. This study identifies the transformation and transposition of Kudus gebyok that is demonstrated through changes in its form, function, meaning, and placements. Kudus gebyok as a traditional element is imbued with symbolism into objects with different meanings in terms of aesthetics and usage. Such understanding demonstrates the evolution of traditional architecture based on changes in design needs from time to time.
Optimalisasi Kegunaan Ruang Pada Area Kerja dan Sirkulasi Untuk Memaksimalkan Kegiatan Pengguna Pada SD Darul Hikam, Dago, Bandung Fajarsani Retno Palupi; Rizka Rachmawati; Titihan Sarihati
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jb.v5i1.8105

Abstract

Lembaga pendidikan dimulai dari tingkat yang paling dasar sampai paling atas sudah sepatutnya memiliki fasilitas pendidikan yang memenuhi kebutuhan pengguna dan aktivitasnya. Hal ini dapat dipenuhi dengan mempertimbangkan banyak aspek desain. Beberapa diantaranya dengan menerapkan analisis dan prinsip ergonomi, estetika, serta fungsi kepada beberapa aspek desain yang ada pada area atau ruang administrasi serta area sirkulasi. Program PKM ini diawali dengan adanya kegiatan pengambilan data pada lokasi institusi mitra, selanjutnya data diolah untuk mendapatkan beberapa alternatif desain yang akan diajukan kepada mitra dan sekaligus mendata beberapa masukan terkait alternative desain. Tim PKM  Telkom University dalam hal ini mendampingi mitra dalam segi desain untuk pengisi kelengkapan ruangan dengan mempertimbangkan aktivitas yang dilaksanakan dari awal hari sampai kegiatan selesai.
PENGARUH WARNA PADA ELEMEN INTERIOR RUANG TUNGGU RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK TERHADAP PSIKOLOGIS PENGUNJUNG, Studi Kasus Rumah Sakit Ibu dan Anak Melinda Bandung Ardini, Endy Nahya; Sarihati, Titihan
Ide dan Dialog Desain Indonesia (Idealog) Vol 2 No 3 (2017): Jurnal Idealog vol 2 nomor 3
Publisher : Universitas Telkom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/idealog.v2i3.1235

Abstract

Rumah sakit merupakan sarana kesehatan yang vital di setiap wilayah. Sebagai sarana yang memberikan jasa kesehatan, rumah sakit sering menimbulkan efek psikologis pada penggunanya. Salah satu yang memberi efek psikologis adalah warna. Rumah sakit ibu dan anak menuntut desain khusus yang lebih steril dan memiliki efek psikologis sesuai dengan kebutuhan mereka. Psikologis setiap pengguna dirumah sakit berbeda baik pasien wanita, anak, pengantar, mauppun petugas di rumah sakit itu sendiri. Bangunan rumah sakit memiliki fungsi pemeriksaan dengan waktu yang dapat dibilang sementara (non permanen). Diantara area-area yang ada pada rumah sakit, ruang tunggu merupakan area yang berpengaruh besar untuk dijadikan penilaian sebuah rumah sakit dikarenakan area ini yang dapat dimasuki oleh semua kalangan pengunjung. Dengan segala fungsi dan sifatnya, maka desain yang terdapat pada area ruang tunggu haruslah dapat cepat ditangkap dan direspon oleh pengguna. Warna merupakan salah satu aspek visual tercepat yang dapat ditangkap dan direspon oleh manusia diantara aspek visual lain. Oleh karena itu, warna memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk suasana dan mempengaruhi psikologis pengguna dalam sebuah ruangan. Termasuk di Rumah Sakit Ibu dan Anak Melinda Bandung yang merupakan Rumah Sakit Ibu dan Anak kelas A yang . Metode observasi dan analisa terhadap pengunjung di area tunggu Rumah Sakit Ibu dan Anak Melinda dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh warna terhadap psikologis pengunjung.
PERANCANGAN BARU MUSEUM SEJARAH KAGAUA KOTA PALU DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL Rizki, Fahrisyah Mohamad; Hanafiah, Ully Irma Maulina; Sarihati, Titihan
eProceedings of Art & Design Vol. 12 No. 2 (2025): April 2025
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Museum Sejarah Kagaua Kota Palu dirancang sebagai upaya pelestarianwarisan sejarah dan budaya Kota Palu, ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah, yang memilikiakar sejarah dari Kerajaan Kagaua. Museum ini bertujuan tidak hanya sebagai tempatpenyimpanan artefak, tetapi juga sebagai pusat edukasi dan interaksi masyarakat.Dengan koleksi yang mencakup periode prasejarah hingga era kerajaan modern,museum ini diharapkan menjadi sumber pengetahuan yang komprehensif. Desain padamuseum ini mempertimbangkan kebutuhan masyarakat akan ruang edukasi interaktif,fasilitas publik multifungsi, dan area penelitian akademis. Pendekatan desain moderndengan mempertimbangkan konteks lokal memastikan museum ini informatif sekaligusmenarik bagi berbagai kalangan pengunjung. Warisan budaya Kota Palu dipresentasikansecara inovatif, menjadikan museum ini tidak hanya sebagai tempat belajar tetapi jugaikon baru kota. Museum ini berpotensi menarik wisatawan domestik dan internasional,sekaligus mendorong perkembangan ekonomi kreatif melalui promosi wisata budaya.Dengan perancangan matang dan partisipasi aktif berbagai pihak, Museum SejarahKagaua diharapkan menjadi institusi yang relevan dan berkelanjutan bagi masyarakatKota Palu. Selain pelestarian sejarah, museum ini juga menjadi referensi penting bagiperancangan museum tematik lainnya.Kata Kunci: Kota Palu, Kerajaan, Museum
PERANCANGAN ULANG INTERIOR KANTOR BAPPEDA KOTA SUKABUMI DENGAN PENDEKATAN AKTIVITAS Azzahra, Nadine Putri; Sarihati, Titihan; Maulana, Teddy Ageng
eProceedings of Art & Design Vol. 12 No. 2 (2025): April 2025
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Penyusunan rencana pembangunan di tingkat kota dilakukan oleh BadanPerencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). Unsur pembangunan mencakup sosial,ekonomi dan politik, hingga adanya penyesuaian dengan konservasi lingkungan untukmendorong pembangunan yang berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan didukungdengan ditetapkannya Sustainable Development Goals (SDGs) oleh PBB untuk mencapaipembangunan yang berkelanjutan di tingkat global. Pemerintah Indonesia menjadikanSDGs sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional, dengan dikeluarkannyaPeraturan Presiden (Perpres) Nomor 59 Tahun 2017. Hingga saat ini, pemerintah daerahtelah melaksanakan SDGs secara mandiri berdasarkan kapasitasnya. Salah satunya adalahPemerintah Kota Sukabumi. Namun berdasarkan Scorecard pencapaian indikator padaKesiapan SDGs Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat, Kota Sukabumi menghadapibeberapa tantangan untuk mencapai SDGs tahun 2030. Penguatan fondasi kelembagaanyang tepat fungsi dan kolaboratif serta peningkatan kualitas ASN berkontribusi besarsebagai pendorong pencapaian indikator SDGs lainnya. Dalam hal ini, produktivitaspegawai pemerintah dan tata ruang kantor yang baik perlu ditingkatkan. Berdasarkanobservasi lapangan, ditemukan beberapa permasalahan dalam lingkup interior yangmenghambat kenyamanan dan aktivitas para pegawai. Maka dari itu, diperlukannyaperancangan ulang pada interior Kantor Bappeda Kota Sukabumi dengan menggunakanpendekatan aktivitas.Kata Kunci: SDGs, produktivitas, Bappeda Sukabumi, aktivitas
Akulturasi Kolonial dan Sunda pada Rumah K.A.R Bosscha Sarihati, Titihan; Prastiwi, Fasya; Febrina, Naura Wafa; Arvina, Aliyya Meirissa
Waca Cipta Ruang Vol. 9 No. 2 (2023): Waca Cipta Ruang : Jurnal Ilmiah Desain Interior
Publisher : Program Studi Desain Interior Unikom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34010/wcr.v9i2.10919

Abstract

This study aims to determine the acculturation of Sundanese and colonial culture taken from the results of documentation and analysis of concepts applied to the K.A.R Bosscha House. Rumah K.A.R Bosscha is a cultural heritage site in the Bandung Regency area, precisely located in Pangalengan District, in the Malabar tea plantation area. The condition of K.A.R Bosscha's house is currently functioning as a villa and museum that can be visited by the public. Until now, the building has not been researched in terms of architecture or interior. Therefore, research is needed with research limitations starting from the concept of architecture in general, the concept of interior elements (floors, walls, and ceilings), the concept of space organization, the concept of furniture, the concept of lighting, to the concept of air. This research was conducted using descriptive qualitative methods by conducting field surveys at the location of Rumah K.A.R Bosscha, conducting interviews with the person in charge and coordinator of the agrotourism unit PTPN VIII Malabar, and references from journals and books as literature studies. The results of the analysis show that K.A.R Bosscha House has the application of Sundanese and colonial cultural acculturation in the form of architectural and interior concepts. Thus, the results of this analysis can be used as a form of contribution to preserve the cultural heritage of the archipelago and colonials in Indonesian cultural heritage buildings.
Perancangan Interior Hotel Grand Cempaka Resort And Convention Di Tamansari Bogor Dengan Pendekatan Lokalitas Utami Kusuma, Dwi; Sarihati, Titihan; Puspa Nabila, Ganesha
eProceedings of Art & Design Vol. 11 No. 5 (2024): Oktober 2024
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In recent years, Bogor has seen an increase in the number of tourists coming to the city, which creates significant opportunities for the accommodation sector. Lodging accommodations are needed for such needs, hence the construction of a new branch of lodging accommodations in Tamansari. The area is well known for its natural beauty and cultural heritage. However, several issues arose when planning this new branch. First, there is no concept of locality in the existing interior design of Grand Cempaka Resort and Convention Hotel and similar resort hotels in the Bogor area, even though there are regulations from the government to promote the concept of locality in tourism venues. Second, there are problems in the comfort aspect of the existing hotel, which is related to sound conditioning, lighting, and ventilation. Third, there is a problem of facilities at the existing Grand Cempaka Resort and Convention Hotel which is not in accordance with 3- star hotel standards. Local government regulations emphasize the importance of local culture to increase tourism competitiveness. The design of this resort hotel has the aim that guests feel comfortable and have a different tourist experience in Bogor by using the local traditions of the Tamansari Bogor area, namely in the Sindang Barang Cultural Village, especially in the Serentaun Ceremony which is implemented in the form of interior space using the tradition transformation method, namely the ATUMICS method. Keywords: Resort Hotel, Tamansari Bogor, ATUMICS method, Sindang Barang, Serentaun Ceremony
Perancangan Ulang Interior House Of Sangkuriang Dengan Pendekatan Lokalitas Kota Bandung Wulandari Hidayat, Cahya; Sarihati, Titihan; Bayu Perdana, Aditya
eProceedings of Art & Design Vol. 11 No. 5 (2024): Oktober 2024
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hotels are buildings that provide accommodation, food, drinks, and other services for the general public. Boutique hotels are a type of luxury hotel with a limited number of rooms and unique designs that reflect local culture and history. House Sangkuriang is a 3-star boutique hotel in Bandung that promotes an Art Deco concept with a lush atmosphere. However, the application of Art Deco in its interior is not yet fully evident, and some facilities do not meet the 3-star standard. This design aims to strengthen the application of Art Deco in the interior, align facilities with 3-star standards, and create a unique and comfortable experience for visitors with a lush Art Deco ambiance. Keywords: boutique hotel, Bandung, House Sangkuriang, art deco
Perancangan Ulang Sekolah Luar Biasa Negeri-a Pembina Tingkat Nasional Jakarta Dengan Pendekatan Multisensory Terhadap Mobilitas Tunanetra Najla Munifa Polem, Cut; Sarihati, Titihan; Puspa Nabila, Ganesha
eProceedings of Art & Design Vol. 11 No. 5 (2024): Oktober 2024
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Article 28H stated that citizens have the right to receive special treatment for equality. However, there are still educational gaps, especially for children with disabilities, thus showing that there is still injustice in educational equality. In Indonesia, education specifically for people with disabilities is Special Schools (SLB). Even though we already have SLB, there are still deficiencies in providing education rights services for those with disability status. This is caused by facilities that are considered not in accordance with needs. Existing facilities should be able to accommodate people with disabilities according to their needs. Because of this, a review and redesign are needed with special attention to designing Special Schools (SLB). This statement also applies to State Special Schools – A National Level Pembina Jakarta. The design approach that will be used is multisensory which is related to psychology in the mobility of the blind. Multisensory is a method that has been previously researched and proven to be effective in helping blind children become more independent and skilled in their living environment. This research aims to enable blind people to live independently and can be used as a benchmark in designing Special Schools (SLB) for blind people. Keywords: blind, school for the blind, multisensory.