Claim Missing Document
Check
Articles

Monitoring of Sedimentation on Geosynthetic Bags Installation Area in Banyuurip Mangrove Center, Ujung Pangkah, Gresik, Indonesia Aida Sartimbul; Safitri Widya Ningtias; Citra Satrya Utama Dewi; Muhammad Arif Arif Rahman; Defri Yona; Syarifah Hikmah Julinda Sari; Nurin Hidayati
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 26, No 3 (2021): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ik.ijms.26.3.173-181

Abstract

Banyuurip is one of the villages in Ujung Pangkah District which has potential natural resource that is mangrove forests. However, the occurrence of abrasion and conversion of mangrove land has impacted mangrove ecosystem. Rehabilitation efforts by replanting mangroves have been carried out, but they have not been effective in overcoming the current problems. The reduction of mangrove area that led the decreased of mangrove’s function can affect the livelihood of the local community, including fishermen. The installation of geosynthetic bags, which are sand-filled bags arranged on the ground, is done as an alternative solution in Banyuurip Village which functions as coastal protection and a sediment trap. The utilization of geosynthetic material is often used to help the coastal problem, the used of geosynthetic material is rarely carried out in mangrove areas. This study aims to determine the sediment characteristics, sedimentation rates, and sedimentation process based on the relationship between current velocity and sedimentation rate. The result shows that generally the type of sediment fraction in this location is silt (79,12% - 80,12%) and the rest is clay. The current installation of geosynthetic bags can result in the land extension from the trapped sediment behind the structure. In addition, the current velocity conditions and the sediment transport process also affect the sedimentation process that occurs. The average sedimentation rates around the geosynthetic bags installation area ranged from 150.72-305.01 mg.cm-2.day-1. This study may provide a basic information for further development in Banyuurip Mangrove Center and other mangrove conservation area.  
Pemetaan Sebaran Mangrove di CMC Tiga Warna, Malang Selatan Anwan Rahmat Ardiansyah; Arik Anggara; Aida Sartimbul
Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 1 (2022): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v11i1.37238

Abstract

Mangrove merupakan tumbuhan yang hidup di garis pantai pasang surut, zonasi tumbuhan mangrove memiliki berbagai variasi pada lokasi yang berbeda, ditentukan oleh jenis tanah, kedalaman dan periode genangan, kadar garam dan daya tahan terhadap ombak serta arus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sebaran spesies mangrove dan juga Indeks Nilai Penting spesies mangrove pada Kawasan Clungup Barat 1 dengan pendekataan pemetaan lahan Supervised Classification dengan algoritma Maximum Likelihood. Penelitian dilakukan sejak 3 Agustus sampai dengan tanggal 29 September 2020. Penelitian ini menggunakan citra Landsat 8 dengan komposit band 573 (RGB). Metode pemetaan klasifikasi Supervised Maximum Likelihood digunakan untuk mendapatkan hasil kawasan hutan mangrove dan selanjutnya dianalisis menggunakan software ENVI 5.1 dan ArcGIS 10.3. Dari analisis data diketahui luas hutan mangrove pada Kawasan CMC Tiga Warna adalah seluas ± 51,5 ha dari total luasan wilayah konservasi hutan mangrove CMC Tiga Warna yaitu 74,59 ha dan spesies yang ditemukan terdapat 16 spesies mangrove di Clungup Barat 1 yaitu Achantus ilicifolius, Aegisceras floridum, Bruguiera cylindrical, Bruguiera gymnorhiza, Ceriops tagal, Clerodendrum inerme, Derris trifoliata, Excoecaria agallocha, Hibiscus tiliaceus, Ipomoea pes-caprae, Lumnitzera littorea, Rhizopora apiculata, Sonneratia alba, Thespesia populnea, Xylocarpus granatum, dan Xylocarpus rumphii. Indeks Nilai Penting yang tertinggi yaitu 126,27% pada spesies Ceriops tagal. INP terendah yaitu dengan nilai 2,39% pada spesies Clerodendrum inerme. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada usaha konservasi  dan pengembangan eduwisata yang berkelanjutan di CMC Tiga Warna. Mangroves are plants that live on tidal shorelines, the zoning of mangroves has various variations at different locations, determined by soil type, depth and period of inundation, salinity and resistance to waves and currents. The purpose of this study was to determine the distribution and extent of mangrove forests in CMC Tiga Warna using Landsat 8 satellite imagery. The study was conducted from 3 August to 29 September 2020. This study used Landsat 8 imagery with a composite band 573 (RGB). The method of mapping the Supervised Maximum Likelihood classification was used to obtain the results of mangrove forest areas and then analyzed using ENVI 5.1 and ArcGIS 10.3 software. From the data analysis, it is known that the mangrove forest area in the CMC Tiga Warna area is ± 51.5 ha of the total area of the CMC Tiga Warna mangrove forest conservation area, which is 74,59 ha and the species found are 16 mangrove species in West Clungup 1 Achantus ilicifolius, Aegisceras floridum, Bruguiera cylindrical, Bruguiera gymnorhiza, Ceriops tagal, Clerodendrum inerme, Derris trifoliata, Excoecaria agallocha, Hibiscus tiliaceus, Ipomoea pes-caprae, Lumnitzera littorea, Rhizopora apiculata, Sonneratia alba, Thespesia populnea, Xylocarpus granatum, dan Xylocarpus rumphii. The highest Importance Value Index is 126.27% in the Ceriops tagal species. The lowest IVI value is 2.39% in the Clerodendrum inerme species. The results of this study are expected to contribute to conservation efforts and the development of sustainable education at CMC Tiga Warna
Pemetaan Bahaya Tsunami Wilayah Kabupaten Serang Bagian Barat Menggunakan Sistem Informasi Geografis Padma Paramita; Sesa Wiguna; Fathia Zulfati Shabrina; Aida Sartimbul
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 3 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i3.37228

Abstract

Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi tinggi akan kejadian tsunami. Salah satu wilayah tersebut adalah Kabupaten Serang bagian barat. Saat ini evolusi teknologi penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat dimanfaatkan untuk membantu upaya mitigasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis potensi tsunami dan menyediakan peta bahaya tsunami sebagai salah satu upaya mitigasi bencana berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) berdasarkan panduan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode matematis yang dikembangkan oleh Berryman-2006. Metode ini merupakan metode yang sederhana namun cukup akurat dalam memperkirakan daerah yang berpotensi terdampak tsunami. Data Digital Elevation Model (DEM) dan shapefile rupa bumi yang bersumber dari Badan Informasi Geospasial (BIG) Indonesia merupakan data utama yang digunakan. Hasil analisis menunjukkan bahwa potensi bahaya tsunami di Kabupaten Serang bagian barat terdiri dari 3 kelas yaitu kelas rendah, sedang, dan tinggi yang didominasi oleh kelas bahaya tinggi dengan total luas area terdampak sebesar 377,64 ha. Peta bahaya tsunami ini selanjutnya dapat dijadikan sebagai salah satu basis informasi dalam perencanaan mitigasi bencana di Kabupaten Serang.  Indonesia is a country that has a high potential for tsunami events. One of these areas is the western part of Serang Regency. Currently, the evolution of remote sensing technology and Geographic Information Systems (GIS) can be utilized to assist mitigation efforts. The purpose of this study is to analyze the potential for tsunamis and provide a tsunami hazard map as one of the efforts to mitigate disasters based on Geographic Information Systems (GIS) based on guidelines from the National Disaster Management Agency (BNPB). The method used in this research is a mathematical method developed by Berryman-2006. This method is a simple but fairly accurate method for estimating areas potentially affected by a tsunami. Digital Elevation Model (DEM) data and the shapefile of the earth's appearance sourced from the Indonesian Geospatial Information Agency (BIG) are the main data used. The results of the analysis show that the potential tsunami hazard in the western part of Serang Regency consists of 3 classes, namely low, medium, and high classes which are dominated by high hazard classes with a total area of 377.64 ha affected. This tsunami hazard map can then be used as one of the information bases in disaster mitigation planning in Serang Regency.
Dapatkah Megabentos Epifauna Tumbuh pada Geobag? Studi Kasus di Desa Banyuurip, Gresik Aida Sartimbul; Rafika Devi Agustin; Dhira Khurniawan Saputra; Defri Yona; Syarifah Hikmah Julinda Sari; Feni Iranawati; Nurin Hidayati
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 2 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i2.34971

Abstract

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi masalah abrasi di wilayah pesisir pantai Desa Banyuurip, Gresik. Upaya yang dilakukan salah satunya adalah reboisasi mangrove, namun upaya tersebut belum efektif, sehingga salah satu solusinya adalah dengan dipasangnya geosyntheticbag (geobag), yang merupakan kantong ramah lingkungan berisi pasir yang disusun dan dapat berfungsi sebagai perangkap sedimen dan pelindung pantai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pada bulan ke berapa biota dapat tumbuh pada geosintetik dan struktur komunitas biota yang tumbuh menggunakan metode random transek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa megabentos epifauna dapat tumbuh pada geobag pada bulan ke-4 setelah pemasangan, yang terdiri dari 3 spesies yaitu Metopograpsus sp., Ostrea edulis, dan Fistulobalanus albicostatus. Kelimpahan jenis megabentos pada bulan ke-4 rata-rata mencapai 198 individu/m2, sedangkan kelimpahan pada bulan ke-5 mencapai 259 individu/m2. Hasil perhitungan indeks struktur komunitas megabentos pada bulan ke-4 dan ke-5 secara berurutan meliputi indeks keanekaragaman (H’) bernilai 0,10 dan 0,11; indeks keseragaman (c) bernilai 0,09 dan 0,10; dan indeks dominansi bernilai 0,96 dan 0,96. Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa geobag berfungsi sebagai pencegah abrasi serta sekaligus dapat menyatu dengan media di sekitarnya sehingga diklaim ramah lingkungan, karena dapat ditumbuhi biota yang tidak mengganggu atau merubah struktur komunitas biota di wilayah tersebut. Various attempts have been made to solve the abrasion in the coastal area of Banyuurip Village, Gresik. To overcome this problem, the community planted the mangroves, but these have not been effective. One solution to this problem is to install a geosynthetic bag (geobag), which is an environmentally friendly bag that is arranged and can be function as a sediment trap. The purpose of this study was to determine when the megabenthos can grow in the geosynthetic and how the community structure grow using the quadrant random transect method. The result showed that epifaunal megabenthos could grow on geobag at the fourth month after installation, which consisted of 3 species. The abundance of megabenthos at the 4th month averaged 198 individuals/m2, while the abundance at the 5th month reached 259 individuals/m2. The structure index (H’) in January and February were 0.10 and 0.11, respectively.  The similarity index (C) were 0.09 and 0.10, and while the dominance index was 0.96 and 0.96. This study is suggested that the geobag can be function both as a deterrent to abrasion and simultaneously integrate with the surrounding media and be claim as environmentally friendly, because it can be overgrown with biota that does not disturb or change the structure of the biota community in the area.
Pemanfaatan Penginderaan Jauh sebagai Upaya untuk Rehabilitasi Hutan Mangrove di Kecamatan Brondong, Lamongan, Jawa Timur Raisa Tria Shalsabella; Muji Wasis Indriyawan; Aida Sartimbul
Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 1 (2022): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v11i1.38450

Abstract

Hutan mangrove merupakan kumpulan vegetasi mangrove yang tumbuh pada wilayah intertidal dan mempunyai banyak fungsi. Seiring dengan meningkatnya populasi manusia, kerusakan mangrove juga banyak terjadi, salah satunya di Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan. Salah satu upaya konservatif untuk mengembalikan fungsi hutan mangrove adalah dengan rehabilitasi mangrove. Keterbatasan informasi jenis mangrove yang cocok untuk rehabilitasi dan luasan mangrove, serta sulitnya akses ke hutan mangrove menjadi alasan dilakukannya penelitian ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis mangrove dan mengetahui luasan mangrove yang dapat ditanami di Kecamatan Brondong dengan menggunakan metode penginderaan jauh. Metode penginderaan jauh digunakan untuk proses digitasi tipe sedimen dan mangrove existing. Analisis harmonik digunakan untuk menentukan nilai pasang surut. Sedangkan, penentuan daerah genangan menggunakan metode Sistem Informasi Geografis (GIS).  Hasil analisis menunjukkan bahwa di Kecamatan Brondong terdapat mangrove existing dengan tipe sedimen berpasir, berlumpur dan berbatu. Analisis pasang surut menghasilkan rata-rata pasang 0,57±0,19 dan surut -0,53±0,21. Jenis mangrove yang dapat ditanam meliputi jenis Rhizophora sp., Avicennia sp, Sonneratia sp, Bruguiera sp., Aegiceras sp., Ceriops sp., dan Xyocarpus sp. Luas wilayah yang tidak dapat ditanami mangrove memiliki total sebesar 330,093 Ha. Sedangkan total luasan dari mangrove yang dapat ditanami adalah sekitar 872,483 Ha, sehingga total keseluruhan dari luasan mangrove pada wilayah tersebut adalah sebesar 1.202,577 Ha. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu referensi dan pertimbangan dalam rehabilitasi hutan mangrove di Kecamatan Brondong maupun di wilayah lainnya. Mangrove forest is a collection of mangrove vegetation that grows in intertidal areas and has many functions. Along with the increase in human population, there is also a lot of damage to mangroves, one of which is in Brondong District, Lamongan Regency. One of the conservative efforts to restore the function of mangrove forests is mangrove rehabilitation. The limited information on the types of mangroves suitable for rehabilitation and the extent of mangroves, as well as the difficulty of accessing mangrove forests are the reasons for conducting this research. The purpose of this study was to determine the types of mangroves and to determine the extent of mangroves that can be planted in Brondong District by using remote sensing methods. Remote sensing method is used for digitizing the existing sediment and mangrove types. Harmonic analysis is used to determine tidal values. Meanwhile, the determination of the inundation area uses the Geographic Information System (GIS) method. The results of the analysis show that in Brondong District there are existing mangroves with sandy, muddy and rocky sediment types. Tidal analysis resulted in an average tide of 0.57±0.19 and a low tide of -0.53±0.21. The types of mangroves that can be planted include Rhizophora sp., Avicennia sp, Sonneratia sp, Bruguiera sp., Aegiceras sp., Ceriops sp., and Xyocarpus sp. The total area that cannot be planted with mangroves is 330,093 Ha. While the total area of mangrove that can be planted is around 872.483 Ha, so that the total area of mangrove in the area is 1,202.577 Ha. The results of this study are expected to be one of the references and considerations in the rehabilitation of mangrove forests in Brondong District and in other areas.
Kelimpahan Mikroplastik Pada Insang Dan Saluran Pencernaan Ikan Lontok Ophiocara porocephala Valenciennes, 1837 (Chordata: Actinopterygii) di Ekosistem Mangrove Dubibir, Situbondo Defri Yona; Billy Arif Mahendra; Mochamad Arif Zainul Fuad; Aida Sartimbul; Syarifah Hikmah Julinda Sari
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 1 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i1.12341

Abstract

Mangrove as a transitional ecosystem between land and sea is threatened with microplastic pollution. It could lead to the accumulation of microplastic in mangrove organisms, including ikan lontok (snakehead gudgeon fish-Ophiocara porocephala) as one of the seasonal fish found in mangrove ecosystem. This study aimed to analyze the occurrence of microplastic in the gills and gastrointestinal tracts of the fish caught from Dubibir mangrove ecosystem, Situbondo. The fish were caught using gillnet (17 individuals) and measured its length and body weight. Organic matter digestion was conducted using hydrogen peroxide solution (H2O2 30 % and Fe (II) 0,05 M) for 24 h. Samples were then filtered using Whatman filter paper and types of microplastic were identified using microscope (Olympus CX33). In total, 192 particles of microplastic were retrieved from both gills and gastrointestinal tracts with the domination of fibers, followed by fragments, films and beads. Microplastics abundance was observed higher in the gills than in the gastrointestinal tracts and it might be due to the different of organ functionality and the input process of microplastics into each organ. Microplastic with the size of 500 – 1000 µm dominated the result, while the size of < 300 µm were found more in the gastrointestinal tracts than in the gills. It showed that gastrointestinal tracts have less preference in the accumulation process of microplastics. Blue is the most common of microplastic color found in both of the fish organs, followed by black, red and other colors with a smaller number of particles. The results of this study show that concern over the occurrence of microplastics in the snakehead gudgeon fish is needed since the fish is also consumable for human and could influence human health. Ekosistem mangrove yang terletak diantara wilayah darat dan laut tidak luput dari pencemaran mikroplastik. Hal ini dapat mengakibatkan akumulasi mikroplastik pada biota mangrove, termasuk ikan lontok (Ophiocara porocephala) yang merupakan ikan musiman pada ekosistem mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keberadaan mikroplastik pada insang dan saluran pencernaan ikan lontok pada ekosistem mangrove Dubibir, Situbondo, Jawa Timur. Sebanyak 17 ekor ikan lontok ditangkap menggunakan jaring dan diukur panjang dan beratnya. Analisis mikroplastik pada sampel organ ikan dimulai dengan melakukan penghancuran bahan organik dengan merendam sampel pada larutan H2O2 30 % dan larutan Fe (II) 0,05 M selama 24 jam. Sampel selanjutnya disaring menggunakan kertas Whatman dan diidentifikasi jenis mikroplastiknya menggunakan mikroskop (Olympus CX33). Sebanyak 192 partikel mikroplastik ditemukan pada sampel ikan lontok yang dianalisis dan didominasi oleh jenis fiber diikuti oleh fragmen, film dan beads. Kelimpahan total mikroplastik ditemukan lebih tinggi pada insang dibandingkan pada saluran pencernaan. Hal ini diduga karena perbedaan fungsi organ dan juga proses masuknya mikroplastik pada masing-masing organ. Mikroplastik yang ditemukan pada kedua organ ikan paling banyak berukuran 500 – 1000 µm dan mikroplastik berukuran < 300 µm lebih banyak ditemukan pada saluran pencernaan dibandingkan pada insang. Perbedaan komposisi ukuran mikroplastik antar organ menunjukkan bahwa saluran pencernaan kurang selektif dalam penyerapan partikel mikroplastik. Biru merupakan warna mikroplastik yang mendominasi kedua organ, diikuti oleh warna hitam, merah dan warna lainnya dengan jumlah yang lebih sedikit. Berdasarkan hasil penelitian ini, keberadaan mikroplastik perlu mendapat perhatian khusus karena ikan lontok termasuk jenis ikan konsumsi agar tidak memberikan dampak kesehatan terhadap manusia.
ANALISIS KARBON TERSIMPAN PADA LAMUN Enhalus acoroides DI PERAIRAN PACIRAN, KECAMATAN PACIRAN, KABUPATEN LAMONGAN Eva Falantika Ndari; Aida Sartimbul; Citra Satrya Utama Dewi
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 3, No 1 (2019): JFMR VOL 3 NO.1
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.021 KB) | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2019.003.01.7

Abstract

Pemanasan global merupakan fenomena yang menjadi perhatian sejak masa pra-industri. Konsentrasi gas CO2 yakni sekitar 280 ppm hingga 379 ppm pada 2005. Pengetahuan masyarakat mengenai kemampuan penyerapan CO2 yang tersimpan pada lamun dalam bentuk biomassa, dapat menjadi langkah awal dalam mitigasi perubahan iklim melalui pengurangan kadar CO2 di atmosfer. Fungsi ekologi lamun terdapat di Pantai Paciran, Lamongan yang salah satunya sebagai penyerap CO2 di atmosfer, masih perlu adanya data akan potensi tersebut. Untuk itu, penulis melakukan penelitian dengan Judul Analisis Karbon Tersimpan Pada Lamun Enhalus acoroides Di Pantai Paciran, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, bertujuan mengetahui luasan penutupan, kerapatan, jumlah biomassa, dan total karbon yang terdapat di Pantai Paciran, Kabupaten Lamongan. Penelitian ini dilakukan pada Juni 2017 yang berlokasi di perairan Pantai Paciran, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan dengan kondisi lamun yang membentuk kelompok-kelompok atau tidak merata. Penghitungan biomassa dan karbon pada lamun dilakukan di Laboratorium Ekologi, Fakultas MIPA Universitas Brawijaya dengan menerapkan metode Loss on Ignition. Kondisi penutupan lamun di Pantai Paciran termasuk dalam kategori baik karena ketiga stasiun memiliki nilai penutupan lebih dari 60%, yakni dengan kisaran rata-rata 75±15 – 96,67±5,77%. Nilai kerapatan lamun berkisar antara 116,67 - 216,67 ind/m2 sehingga kondisi tersebut termasuk pada kategori Rapat hingga Sangat Rapat. Biomassa lamun tertinggi mencapai 1859 gbk/m2 dan terendah yakni 1101,03 gbk/m2. Jumlah karbon pada lamun dengan nilai tertinggi sebesar 246,99gC/m² sedangkan yang terendah sebesar 145,58 gC/m².
DESAIN DAN PEMASANGAN RUMAH IKAN SEBAGAI ALTERNATIF PENINGKATAN HASIL TANGKAPAN DI SENDANGBIRU KABUPATEN MALANG Aida Sartimbul; Feni Iranawati
J-Dinamika : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 2 No 2 (2017): Desember
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/j-dinamika.v2i2.570

Abstract

The objective of community service project activity is produce fish housing to be owned by local fishermen. This device will be jointly managed and supervised by fisherman membership-based community known as Mina Rukun and Duyung Maju. This activity was performed in order to increase the fishermen involvement and community engagement to produce environmentally friendly collecting fish tool known as fish housing. The program was implemented in several stages, the first stage is the agreement confirmation with the fishermen community targeted, the second stage is open sea survey area to find the potential location for the fish housing, the third is the design manufacture and installation of fish housing and the last is the workshop for the fishermen to give information on how to make logbook for their fishing capture that will be beneficial for future management. The program was conducted over seven months i.e. from April – November 2017.
Pemantauan Perubahan Garis Pantai Jangka Panjang dengan Teknologi Geo-Spasial di Pesisir Bagian Barat Kabupaten Tuban, Jawa Timur M. Arif Zainul Fuad; Nena Yunita; Rarasrum D. Kasitowati; Nurin Hidayati; Aida Sartimbul
JURNAL GEOGRAFI Vol 11, No 1 (2019): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v11i1.11409

Abstract

AbstrakPesisir Tuban bagian barat berpotensi mengalami perubahan garis pantai yang dipengaruhi oleh adanya pembangunan di wilayah pesisir berupa pelabuhan, permukiman, budidaya perikanan, dan reklamasi. Oleh karena itu perlu adanya pemantauan dinamika pesisir, kerusakan pesisir, dan perencanaan pembangunan pada kawasan pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tren perubahan garis pantai jangka panjang dalam kurun waktu 1973-2018 dan memprediksi garis pantai di Tuban bagian barat. Penelitian ini memanfaatkan teknologi penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk pemantauan perubahan garis pantai di pantai dengan Citra Landsat tahun 1973, 1988, 1998, 2008, 2017, and U.S Army Map Service tahun 1964. Perhitungan perubahan garis pantai menggunakan aplikasi Digital Shoreline Analysis System (DSAS) dengan menggunakan metode Net Shoreline Movement (NSM) dan End Point Rate (EPR) untuk menganalisis perubahan garis pantai yang telah terjadi, sedangkan metode Linear Regression Rate (LRR) digunakan untuk memprediksi perubahan garis pantai pada 10 tahun mendatang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Pantai Tuban bagian barat akresi terbesar terjadi di Desa Remen yaitu sejauh 323 m dengan laju akresi sebesar 7,32 m/tahun. Sebaliknya abrasi tertinggi dialami oleh Desa Mentosa dengan rata-rata jarak abrasi sebesar 181,90 m dan rata-rata laju abrasi sejauh 4,11 m/tahun. Prediksi perubahan garis pantai untuk 10 tahun kedepan mengindikasikan terjadinya akresi di Desa Glodonggede dan abrasi di Desa Mentosa.Kata kunci: Garis Pantai, Akresi, Abrasi, Pemantauan, DSASAbstractThe western Tuban coast has the potential to experience shoreline changes influenced by the development in coastal areas in the form of ports, settlements, aquaculture and reclamation. Therefore, it is necessary to monitor coastal dynamics, coastal damage, and development planning in coastal areas. This study aims to determine the trend of long-term shoreline changes in the period 1973-2018 and predict coastlines in the western part of Tuban. This study uses remote sensing technology and Geographic Information System (GIS) to monitor changes in coastlines on the western coast of Tuban Regency with Landsat imagery in 1973, 1988, 1998, 2008, 2017, and US Army Map Service in 1964. Calculation of shoreline changes using Digital Shoreline Analysis System (DSAS) application using Net Shoreline Movement (NSM) and End Point Rate (EPR) methods to determine shoreline changes, while the Linear Regression Rate (LRR) method is used to predict shoreline changes in the next 10 years. The results showed that in the western part of Tuban Beach the largest accretion occurred in the village of Remen which was 323 m with an accretion rate of 7.32 m / year. Conversely, the highest abrasion was experienced by Mentosa Village with an average abrasion distance of 181.90 m and an average abrasion rate of 4.11 m / year. Predictions of shoreline changes for the next 10 years indicate the occurrence of accretion in Glodonggede Village and abrasion in Mentosa Village Keywords: Shoreline, Accretion, Abrasion, Monitoring, DSAS 
Fluks Co2 di Perairan Pesisir Timur Pulau Bintan, Propinsi Kepulauan Riau Faridz R. Fachri; Afdal -; A. Sartimbul; N. Hidayati
Jurnal Segara Vol 11, No 1 (2015): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1604.124 KB) | DOI: 10.15578/segara.v11i1.9084

Abstract

Proses pertukaran CO2  yang terjadi antara permukaan air laut dengan atmosfer merupakan aspek yang penting terhadap siklus karbon di samudera. Wilayah pesisir memiliki kontribusi besar dalam proses ini, karena kompleksnya interaksi yang terjadi antara atmosfer, daratan dan lautan. Proses penting dalam dinamika gas CO2 antara atmosfer dan air laut diawali dengan fungsi daya larut CO2 dan kecepatan transfer gas CO2 di permukaan laut atau disebut fluks CO2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fenomena fluks CO2  antara permukaan air laut dengan atmosfer di pesisir timur Pulau Bintan beserta komponen sink dan source-nya, serta mengetahui parameter yang paling dominan terhadap proses tersebut, meliputi parameter fisika-kimia oseanografi, serta parameter sistem CO2 pada kurun waktu 16-18 Maret 2013. Permodelan OCMIP digunakan untuk mengidentifikasi nilai pCO2 air laut dalam penentuan nilai fluks CO2. Hasil analisis menunjukkan secara kesuluruhan perairan pesisir timur Pulau Bintan berperan sebagai penyerap CO2 (sink) dengan  rata-rata  emisi  CO2   dari  atmosfer  yang  masuk  ke  wilayah  permukaan  laut  sebesar  -0,43mmolC/m2/hari.  Analisis  statistik  Principal  Component  Analysis  (PCA)  menunjukkan  parameter  yangdominan terhadap perubahan nilai fluks CO2 adalah salinitas, konsentrasi Dissolved Inorganic Carbon (DIC), pCO2 air laut, serta nilai selisih tekanan parsial CO2 antara air laut dengan atmosfer (ΔpCO2). Kondisi fluks CO2  di pesisir timur Pulau Bintan lebih dipengaruhi oleh variasi musim dan dinamika oseanografi perairan Natuna serta Laut Cina Selatan dibandingkan dengan pengaruh dari daratan.
Co-Authors Abdullah Hamid Abu Bakar Sambah, Abu Bakar Afdal - Agita Dwi Rosmalia Putri Aliviyanti, Dian Anwan Rahmat Ardiansyah Apri Arisandi Apri Arisandi Apri Arisandi Ardelia Annisa Larasati Ardelia Annisa Larasati, Ardelia Annisa Arik Anggara As'adi, Muhammad Arif Ating Yuniarti Ayuningsih, Tarisa Lestari Bambang Semedi Billy Arif Mahendra Citra Satrya Utama Dewi Citra Satrya Utama Dewi Dedi Pardiansyah Defri Yona Dewi, Citra Satrya Utama Diana Arfiati Dumatubun, Innocentius Arya Panji Pramudewata Dwi Candra Pratiwi Eko Sulkhani Yulianto Endang Yuli Herawati Erfan Rohadi Eva Falantika Ndari Evy Afriyani Sidabutar Fahreza Okta Setyawan Faridz R. Fachri Fathia Zulfati Shabrina Felixtha Robertus Ginting Feni Iranawati Feni Iranawati Feni Iranawati, Feni Fuad, Mochamad Arif Zainul Gde Raka Angga Kartika Ginting, Felixtha Robertus Handoko, Dadang Handoko, Lugu Tri Handoko, Lugu Tri Handoko Happy Nursyam Haq, Nuril Annisa Hartanto, Hartanto Hendiari, I Gusti Ayu Diah Hidayatullah, Fathurrosyid I Gusti Ayu Diah Hendiari I Wayan Arthana I Wayan Arthana Johar Setiyadi Julianinda, Yanida Azhari Krisnanto, Wahyu Fajar Luhur Bangun Prayoga M Marsoedi M. Marsoedi Maheno Sri Widodo, Maheno Sri Malik, Kurnia Marsoed Marsoed Marsoedi Marsoedi Mimit Primyastanto Mochamad Arif Zainul Fuad Muh. Arif Rahman Muji Wasis Indriyawan Mujiadi, Mujiadi Muliawati Handayani N. Hidayati Ndari, Eva Falantika Nena Yunita Nurhabib, Asro Nurin Hidayati Nurin Hidayati Nurin Hidayati Nurul Muslihah Padma Paramita Prabowo, Seto Sugianto Pratiwi, Dwi Candra Priyanka Mondal Putra, Pranata Candra Perdana R. Puspasari Rafika Devi Agustin Rahayu, Andra Rejekineng Rahayu, Andra Rejekining Raisa Tria Shalsabella Rarasrum D. Kasitowati Rarasrum Dyah Kasitowati, Rarasrum Dyah Risnita Tri Utami Rudianto Ruly Isfatul Khasanah S. Suhartati Sabrina Maysarah Safitri Widya Ningtias Saputra, Dhira Kurniawan Sesa Wiguna Setiyadi, Johar Setyawan, Fahreza Okta Setyo Tri Wahyudi Sidabutar, Evy Afriyani Sriwidodo, Maheno Suharun Martudi Suryono, Antonius Susanto, Raden Dwi Syarifah Hikmah Julinda Sari Syarifah Hikmah Julinda Sari Syarifah Hikmah Julinda Sari Syarifah Hikmah Julinda Sari Syarifah Julinda Saria Syarifah Julinda Saria, Syarifah Julinda Tsania Humairoh Ussania, Qoirunnisa W Widodo Widodo S Pranowo Widodo Setiyo Pranowo Widodo Setiyo Pranowo Winata, Victor Adi