Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Potensi Kapsul Bee Pollen Plus Sebagai Food Supplement Inovatif Peningkat Stamina dalam Rangka Pencegahan Penggunaan Doping pada Atlet Makassar : Uji Coba Pada Mahasiswa UKM Sepak Bola Emilia Utomo; Lia Nurmilatun Saidah; Iin Fadhilah Utami; Sartini Sartini
Hasanuddin Student Journal VOLUME 1 NOMOR 1, JUNI 2017
Publisher : Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Doping used for stamina enhancement and athletes' performance is actually a medicine that has negative effects on health and potentially causes an addiction. Therefore, it is necessary supplements that can increase the stamina and endurance of an athlete and at the same time could minimize the possibility of doping usage. Bee pollen is one of the products of bees which is rich nutrients. The nutrients content of Bee pollen such as carbohydrates, proteins, lipids, minerals, vitamins, and polyphenols is needed by athletes to increase the endurance and stamina in their activities. To enrich its bioactive components, bee pollen extract and fresh bee pollen powder are combined and called Bee Pollen Plus. The current study was Quasi-Experimental with Non-randomized Pre-Post Test Control Group model design by comparing before and after of bee pollen plus intervention. The preparation of bee pollen plus capsule is started with bee pollen extraction followed by the preparation of bee pollen capsule. By the process, it is obtained 18.48% of rendamen percent. The chemical compound analysis showed the protein, carbohydrate and polyphenol levels of bee pollen plus two times higher than bee pollen powder. The intervention of bee pollen plus capsule was provided for 1 week to the student in football activity unit of Hasanuddin University. The running time, blood pressure, pulse rate, body temperature, and breathing frequency were calculated after physical exercise by using the treadmill. The result obtained shows the increased physical performance especially for running time and pulse rate. It can be concluded that the bee pollen plus capsule has been effective to increase the stamina and endurance of the athlete after physical exercise.Keywords: athlete, doping, bee pollen extract, bee pollen powder, nutrient
The Production of Chitosan from Shrimp Shell Waste and Its Formulation in Patch DosageForm Combined with Aloe vera Extract as Antiinfection Agent Haeriah Haeriah; Muhammad Rahmatullah; Andi Indardaya; Emilia Utomo; Novianti Novianti; Sartini Sartini
International Journal of Applied Biology Vol. 1 No. 1 (2017): International Journal of Applied Biology
Publisher : Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/ijab.v1i1.2277

Abstract

Chitosan can be obtained from chitin isolated from shrimp waste through the process of deacetylation of chitin. Chitosan can be used as a patch base material because of its biocompatibility and biodegradability, and has antibacterial activity. The combination of Chitosan and Aloe vera extracts may be useful in patch dosage forms as wound dressings that have antiinfective activity. The research methods was laboratory experimental which consists of : chitosan was obtained from shell waste sequentially by deproteinisation, demineralisation, and deacetylation processes, and analyzed its characteristic, respectivel; Aloe vera gel was extraction by maceration methods using ethanol as solvent; patches were formulated using 2 % chitosan in 1.5 % glacial acetic acid,  1.6 %  Aloe vera extracts and 10 % glycerin and evaluated its physical propoperties,  skin iritation test, and antibacterial test against S.aureus. The results showed that percentage yield of chitosan was 32.67%, with characteristics; Its viscosity 93.33 cps, pH 4, 30 % deacetylation degree.  Percentage yield of Aloe vera  extract was 22.73%, containing acemannan, and had antibacterial activity against S.aureus.  The result of patch evaluation showed that the thickness of patch was 0.45 mm, 114 times folding endurance, moisture uptake of 45.03%, moisture content of 23.64%, safe to use, and  diameter of inhibition zone was 6.39 mm against S.aureus. So, combination of Aloe vera and Chitosan from shrimp shell as patch may use as antiinfection wound healing.  Keywords : Aloe vera L.; chitosan; wound dressing; patch; shrimp shell waste
PENGENALAN BIOTEKNOLOGI MELALUI PELATIHAN ISOLASI DAN EKSTRAKSI DNA PADA GURU DAN SISWA SMA NEGERI 13 DI KABUPATEN BONE SULAWESI SELATAN Herlina Rante; M.Natsir Djide; Sartini; Risfah Yulianty; Ermina Pakki; Aisyah Fatmawaty; Rosany Tayeb; Elly Wahyudin
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 5 No. 4 (2021): Jurnal Panrita Abdi - Oktober 2021
Publisher : LP2M Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/pa.v5i4.8100

Abstract

Workshop in isolation and DNA extraction for teachers and students is one way to provide basic knowledge to understand biotechnology with a simple method. This workshop aims to make the target audience capable and skilled at isolating and extracting DNA using simple equipment. In addition, it introduces teachers and students to DNA as a primary key in understanding biotechnology or what is known as the threads of life. The method used in this workshop is the Kitchen Kit method. This method is considered simple because it only uses kitchen utensils such as spoons, forks, table salt, and so on to obtain DNA. All students involved in community service activities could extract DNA from fruits using the Kitchen Kit method. ---  Pelatihan isolasi dan ekstraksi DNA pada guru dan siswa merupakan salah satu cara untuk memberi pengetahuan dasar dalam upaya memeberikan pemahaman mengenai bioteknologi dengan metode sederhana. Pelatihan ini bertujuan agar khalayak sasaran mampu dan terampil mengisolasi dan mengekstraksi DNA dengan menggunakan peralatan sederhana. Selain itu memperkenalkan kepada guru dan siswa mengenai DNA sebagai kunci dasar dalam memahami bioteknologi atau yang disebut sebagai benang-benang kehidupan. Metode yang digunakan dalam pelatihan ini adalah metode Kitchen Kit. Metode ini dianggap sederhana karena hanya menggunakan perangkat peralatan dapur saja seperti sendok, garpu, garam dapur dan sebagainya untuk memperoleh DNA. Seluruh siswa yang terlibat dalam kegiatan pengabdian mampu mengekstraksi DNA dari buah-buahan menggunakan metode Kitchen Kit.
PREPARASI FITOSOM EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH KAKAO (Theobroma cacao L.) MENGGUNAKAN VARIASI KONSENTRASI FOSFATIDILKOLIN Karlina Amir Tahir; Sartini Sartini; Agnes Lidjaja
Jurnal Farmasi UIN Alauddin Makassar Vol 4 No 4 (2016): Jurnal Farmasi
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jurfar.v4i4.2253

Abstract

Kulit buah Kakao diketahui memiliki kandungan senyawa bioaktif flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan, akan tetapi senyawa ini bersifat polar dan merupakan makromolekul yang tidak dapat berpenetrasi dengan baik ke dalam stratum korneum. Penelitian ini bertujuan untuk membuat Drug Delivery System nanopartikel dengan sistem vesikular yaitu fitosom dari ekstrak kulit buah kakao menggunakan dua perbandingan konsentrasi fosfatidilkolin. Fitosom dibuat dari ekstrak etanol buah kakao dengan metode dispersi mekanik dan penguapan pelarut. Digunakan fosfatidilkolin sebagai polimer dengan perbandingan 0,5 dan 0,75 (g) terhadap 1 gram sampel ekstrak kulit buah kakao. Pengukuran nanopartikel ini menggunakan Alat Particle Size Analyzer (PSA). Hasil penelitian ini, diperoleh bahwa, dengan perbandingan fosfatidilkolin dan ekstrak kulit buah kakao 0,5 : 1 (g) dan 0,75 : 1 (g) secara berturut-turut menghasilkan ukuran nanopartikel dan efisiensi penjerapan sebesar 184,99 nm 95,597% dan 199,97 nm 99,182%. Disimpulkan bahwa kulit buah kakao dapat dibuat dalam bentuk sistem vesikular yaitu fitosom .
Nata de coco patch miringoplasti pada ruptur membran timpani Syahrijuita s; Abdul Kadir; Sartini s; Marhaen Hardjo
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 48, No 2 (2018): Volume 48, No. 2 July - December 2018
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.318 KB) | DOI: 10.32637/orli.v48i2.276

Abstract

Latar belakang: Patch miringoplasti transkanal yang dapat dilakukan di Poli Klinik Telinga Hidung Tenggorok-Kepala Leher (THT-KL), saat ini merupakan pilihan yang didambakan bagi penatalaksanaan ruptur maupun perforasi membran timpani. Tindakan ini sederhana, praktis, tidak memerlukan alat, dan keterampilan khusus, dan dengan biaya yang murah. Membran yang terbuat dari air kelapa dengan bantuan Acetobacter xylinum yang dikenal dengan sebutan Patch Nata de Coco (PNC) memiliki karakteristik mirip kulit manusia yang elastis, biokompabilitas yang baik, non alergenik, dan dapat disterilkan tanpa merusak sifat fisiknya, direkomendasikan menjadi kandidat patch menggantikan patch kertas. Tujuan: Untuk menilai efek penggunaan PNC sebagai patch miringoplasti secara in vivo dan menilai efeknya terhadap waktu penutupan membran timpani (MT) ayam yang ruptur. Metode: Enam membran timpani ayam petelur dengan umur 72-96 minggu, berat badan 1500-2000 gram, telah dilakukan ruptur sejak 3 hari sebelumnya. Dipasangkan PNC transkanal pada 3 MT dan 3 lainnya dibiarkan tanpa perlakuan. Proses dan waktu penutupan didokumentasikan secara elektronik menggunakan otoskop digital. Hasil: Ruptur MT dengan pemasangan  PNC 67% (2MT) menutup pada hari ke-4 dan 100% pada hari ke-5. Ruptur MT tanpa pemasangan  PNC (kontrol) 33% (1MT) menutup pada hari ke-8 dan 100% pada hari ke-10. Waktu penutupan ruptur MT dengan pemasangan PNC  lebih cepat 2x dibanding ruptur MT tanpa pemasangan PNC (kontrol). Kesimpulan: Patch nata de coco dapat digunakan sebagai patch miringoplasti dan dapat mempercepat penutupan ruptur membran timpani pada ayam. Background: The transcanal miringoplasty patch that can be performed at Ear Nose Throat–Head & Neck  Clinic, is currently an ideal choice for the management of rupture and perforation of the tympanic membrane (TM). This procedure is simple, practical, does not require special tools and skill and low cost. The membrane which is made of  coconut water processed with Acetobacter xylinum, is known as  Nata de Coco Patch (NCP). It has    characters of human skin elasticity, good biocompatibility, non-allergenic and can be sterilized without damaging  its physical nature. PNC is recommended to be a  candidate for replacing the paper patch. Purpose: To evaluate  NCP usage in vivo on ruptured chicken TM and the closing time of ruptured TM. Method: Six TM of laying pullet aged 72-96 weeks and body weight 1500-2000 grams were ruptured 3 days previously. Transcanal NCP was installed at 3 perforations, and  3 others were left untreated. The process and TM closuring time was documented electronically using a digital otoscope.  Results: Ruptured  TM with  NCP was closuring 67%  (2 TM) on day 4, and total 100% had closured on the 5th day. Ruptured TM  without NCP (control) was closuring 33%  (1 TM) on day 8, and total 100%  had closured on the 10th day. Ruptured  TM with NCP closed twice faster  than ruptured  TM without NCP (control). Conclusion: Nata de coco patch (NCP) can be used as patch miringoplasty, and it accelerates the closure of the ruptured chicken tympanic membrane.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK AIR ROSELLA (Hibiscus sabdariffa L) TERENKAPSULASI MALTODEXTRIN TERHADAP PEROKSIDASI LIPID HATI DAN GINJAL TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIINDUKSI ISONIAZID-RIFAMPISIN Jumasni Adnan; Yulia Yusrini Djabir; Mufidah Mufidah; Sartini Sartini
Majalah Farmasi dan Farmakologi Vol. 22 No. 1 (2018): MFF
Publisher : Faculty of Pharmacy, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1010.899 KB) | DOI: 10.20956/mff.v22i1.5695

Abstract

Isoniazid dan rifampisin merupakan obat lini pertama antituberkulosis, namun kombinasi dari keduanya dapat meningkatkan resiko toksisitas pada hati dan ginjal. Kelopak bunga Rosella memiliki kandungan senyawa antioksidan yang dapat bersifat sitoprotektif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi efek protektif ekstrak air bunga rosella terenkapsulasi maltodextrin terhadap peroksidasi lipid organ hati dan ginjal tikus jantan yang diinduksi isoniazid-rifampisin dosis toksik melalui pemeriksaan kadar malondialdehid (MDA). Sebanyak 25 ekor tikus wistar jantan dibagi ke dalam 5 kelompok. Kelompok I merupakan kontrol sehat, kelompok II diberi penginduksi isoniazid-rifampisin dosis toksik (50 mg/kg dan 100 mg/kg), kelompok III diberi isoniazid-rifampisin dan ekstrak rosella 62.5 mg/kgBB, kelompok IV diberi isoniazid-rifampisin dan ekstrak rosella 125 mg/kgBB, dan kelompok V diberi isoniaid-rifampisin dan ekstrak rosella 250 mg/kgBB. Tikus diberi ekstrak Rosella secara peroral 4 jam sebelum induksi isoniazid-rifampisin. Setelah 35 hari perlakuan, tikus dieutanasia dan dilakukan pemeriksaan MDA organ hati dan ginjal menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Pemberian isoniazid-rifampisin dosis toksik selama 35 hari mampu meningkatkan MDA hati dan MDA ginjal lebih dari 3x lipat MDA hati tikus kontrol (p<0.01). Sedangkan, pemberian perlakuan ekstrak Rosella dosis 62.5 mg/kgBB, 125 mg/kgBB, 250 mg/kgBB mampu mempertahankan kadar MDA hati dan ginjal tikus setara dengan kontrol sehat. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak rosella terenkapsulasi maltodextrin mampu mencegah peningkatan aktivitas peroksidasi lipid hati dan ginjal tikus yang diinduksi isoniazid-rifampisin pada dosis 62.5 mg/kgBB, 125 mg/kgBB, dan 250 mg/kgBB.
POTENSI ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL DAUN SAMBUNG NYAWA (Gynura procumbens) TERENKAPSULASI MALTODEXTRIN DAN PENGARUHNYA TERHADAP KADAR MDA DARAH TIKUS WISTAR (Rattus novergicus) JANTAN YANG DIINDUKSI CCl4 Sulfiyana H. Ambo Lau; Sartini Sartini; Subehan Lallo
Majalah Farmasi dan Farmakologi Vol. 22 No. 3 (2018): MFF
Publisher : Faculty of Pharmacy, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.966 KB) | DOI: 10.20956/mff.v22i3.5847

Abstract

CCl4 merupakan senyawa yang dapat mengakibatkan toksisitas. Daun sambung nyawa (Gynura procumbens) merupakan salah satu tanaman yang memiliki senyawa antioksidan yang memiliki banyak berpotensi dalam bidang pengobatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi antioksidan ekstrak etanol daun sambung nyawa (Gynura procumbens) yang dienkapsulasi maltodextrin terhadap kadar MDA darah tikus Wistar (Rattus novergicus) jantan yang diinduksi CCl4. Penelitian ini menggunakan 20 ekor tikus Wistar jantan yang terbagi dalam 4 kelompok yaitu kelompok 1 (kontrol sehat), kelompok 2 (CCl4), kelompok 3 (CCl4 + ekstrak 150mg/kgBB), dan kelompok 4 (CCl4 + ekstrak 300mg/kgBB). Kadar MDA diperiksa sebelum dan setelah 14 hari perlakuan. Hasil pengujian dimana ekstrak etanol daun sambung nyawa mengandung senyawa alkaloid, fenolik, flavonoid, saponin, steroid, tanin, dan terpenoid, serta kadar flavonoid total dan polifenol totalnya masing-masing yaitu 0,482% dan 2,12 %. Pengujian awal rata-rata kadar MDA tidak berbeda signifikan. Peningkatan kadar MDA yang signifikan (p<0,05) terjadi setelah perlakuan hari 14. Pemberian ekstrak dosis 150mg/kgBB dan 300mg/kgBB mencegah peningkatan kadar MDA secara signifikan, namun dosis 300mg/kgBB paling efektif menghambat peningkatan kadar MDA. Kesimpulannya bahwa ekstrak etanol daun sambung nyawa terenkapsulasi maltodextrin mampu mencegah peningkatan aktivitas peroksidasi lipid MDA paling baik pada dosis 300mg/kgBB
EFEK PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL RIMPANG TEMU PUTIH (Curcuma zedoaria (Berg.) Roscoe) TERHADAP PERUBAHAN KADAR PROTEIN TOTAL DAN ALKALI FOSFATASE PADA TIKUS (Rattus norvegicus) YANG DIPAPARKAN ASAP ROKOK Fauziah Amin; Nur Inda Yanti; Sartini Sartini; Sumarheni Sumarheni
Majalah Farmasi dan Farmakologi Vol. 22 No. 3 (2018): MFF
Publisher : Faculty of Pharmacy, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.821 KB) | DOI: 10.20956/mff.v22i3.5861

Abstract

Temu putih (Curcuma zedoaria (Berg.) Roscoe) telah banyak digunakan secara tradisional sebagai pengobatan penyakit. Temu putih diketahui memiliki aktivitas antioksidan yang berpotensi memperbaiki kerusakan sel. Tujuan penelitian ini yaitu mengevaluasi efek ekstrak temu putih (ETP) melalui perubahan kadar protein total dan alkali fosfatase (ALP) pada tikus yang dipaparkan asap rokok. Sebanyak 15 ekor tikus dibagi menjadi 5 kelompok (n=3) yaitu kelompok kontrol negatif, kontrol positif, kelompok induksi asap rokok dan ETP 70 mg/200gBB, kelompok induksi asap rokok dan ETP 105 mg/200gBB, dan kelompok pemberian ETP 105 mg/200gBB. Perlakuan dilakukan selama 30 hari. Pada hari ke-0 dan hari ke-30, diambil darah tikus untuk mengevaluasi perubahan kadar protein total dan ALP. Hasil penelitian menunjukkan pemberian ETP secara peroral pada hewan coba tikus yang telah dipaparkan asap rokok menurunkan kadar protein total secara signifikan dengan nilai p=0,038 dan 0,004 (p<0,05) masing-masing setelah pemberian ETP dosis 70 mg/200gBB dan 105 mg/200gBB. Pemberian dosis yang sama juga menunjukkan signifikansi penurunan kadar ALP dengan nilai p= 0,003 dan 0,001 (p<0,05) pada tikus yang terpapar asap rokok. Kesimpulan penelitan ini adalah ekstrak temu putih 70 mg/200gBB dan 105 mg/200gBB dapat menurunkan kadar protein total dan ALP tikus yang terpapar asap rokok selama 30 hari.
PREPARASI ETOSOM EKSTRAK ETANOL BIJI KOPI (Coffea arabica L.) MENGGUNAKAN VARIASI KONSENTRASI SOYA LESITIN DAN ETANOL Andi Nur Zam Zam; Latifah Rahman; Sartini Sartini; Subehan Lallo; Asnah Marzuki
Majalah Farmasi dan Farmakologi Vol. 23 No. 1 (2019): MFF
Publisher : Faculty of Pharmacy, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1155.717 KB) | DOI: 10.20956/mff.v23i1.6457

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan perbandingan konsentrasi antara soya lesitin dan etanol agar menghasilkan etosom ekstrak etanol biji kopi hijau dengan efisiensi penjerapan terbaik serta mengetahui perbedaan permeasi antara gel etosom ekstrak etanol biji kopi hijau dan gel ekstrak etanol biji kopi. Ekstraksi biji kopi hijau dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Selanjutnya ekstrak diformulasikan dalam bentuk etosom menggunakan soya lesitin dengan konsentrasi yang divariasikan. Selanjutnya etosom diformulasikan dalam bentuk gel kemudian diuji laju permeasinya dan dibandingkan dengan gel ekstrak etanol biji kopi. Lipid yang digunakan adalah soya lesitin dan alkohol yang digunakan adalah etanol 95%. Perbandingannya dipilih berdasarkan formula yang paling banyak menjerap ekstrak etanol biji kopi hijau. Optimasi penjerapan dilakukan dengan menaikkan konsentrasi soya lesitin dan etanol hingga diperoleh penjerapan optimum. Pengujian permeasi dilakukan dengan sediaan gel etosom berbasis karbopol dan menggunakan kulit manusia secara in vitro. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh etosom ekstrak etanol biji kopi hijau dengan bentuk Large Unilamellar Vesicles (LUV) dengan ukuran 0,63–12,08 µm. Formula dengan perbandingan b/b soya lesitin : etanol (1:10) dapat menjerap ekstrak etanol biji kopi (EEBK). Uji permeasi menunjukkan bahwa total polifenol EEBK dalam sediaan gel etosom adalah 2,03 mg dalam waktu 240 menit dengan kecepatan lintas membran 1,37 mg/menit cm2. Sedangkan permeasi EEBK dalam sedian gel ekstrak adalah 3,12 mg dalam waktu 240 menit dengan kecepatan lintas membran 1,23 mg/menit cm2.
PENGARUH KETINGGIAN TEMPAT TUMBUH PADA TANAMAN SEREH (Cymbopogon citrus) DAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI Streptococcus mutans Andi Nurpati Panaungi; Subehan Lallo; Herlina Rante; Gemini Alam; Sartini Sartini; Yulia Yusrini Djabir
Majalah Farmasi dan Farmakologi Vol. 23 No. 1 (2019): MFF
Publisher : Faculty of Pharmacy, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1098.14 KB) | DOI: 10.20956/mff.v23i1.6459

Abstract

Tanaman sereh Cymbopogon citrus (DC.) Stapf merupakan salah satu tanaman sereh penghasil minyak atsiri yang digunakan sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ketinggian tempat tumbuh dan aktivitas antibakteri. Masing-masing sampel dari ketinggian 935 m dol, 260 m dpl, dan 10 m dpl didestilasi dengan metode destilasi uap air kemudian dilanjutkan pengujian antibakteri, analisis kualitatif menggunakan GCMS. Aktivitas antibakteri menggunakan metode Disc Diffusion Kirby-Bauer menggunakan medium MHA dengan waktu inkubasi selama 24 jam pada suhu 37°C terhadap bakteri Streptococcus mutans. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak atsiri dari sereh yang paling baik aktivitas antibakteri terdapat pada ketinggian 935 m dpl yang memiliki adaya hambat terhadap Streptococcus mutans sebesar 11,5 mm.