Claim Missing Document
Check
Articles

Urban Energy Scenario: the Case of Kathmandu Valley Shrestha, Maria E. I.; Sartohadi, Junun; Ridwan, Mohammad Kholid; Hizbaron, Dyah R.
Journal of Engineering and Technological Sciences Vol 49, No 2 (2017)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.eng.technol.sci.2017.49.2.4

Abstract

Rapid urbanization has made Kathmandu Valley one of the fastest growing metropolitan cities in South Asia, resulting in the need of additional facilities and infrastructure. The local energy crisis is one of the issues to be addressed. High dependence on imported fossil fuels and the sluggish development of hydropower for electricity generation despite abundant water resources are the major causes to be blamed for the energy crisis in Nepal. This study investigated possible strategies to be implemented in Kathmandu Valley to deal with the discrepancy between energy demand and supply. Several scenarios have been developed and analyzed, both quantitatively and qualitatively. The Comprehensive Scenario, which borrowed from all other developed scenarios, seems superior to the others. It reduces the energy demand by 32.36%, the GHG emission by 44.12%, and the social cost by 33.79%. This scenario implies that the Kathmandu Valley authority will support the installation of photovoltaic solar panels, the use of electric vehicles and electric cookers, and convert solid waste into energy. However, the EV Scenario (electric vehicles) is the one to be given priority in the implementation for its better performance than the other individual scenarios.
PENILAIAN KERENTANAN BANGUNAN TERHADAP TSUNAMI MENGGUNAKAN MODEL PTVA-4 DI KAWASAN WISATA BATUHIU, KABUPATEN PANGANDARAN Nisaa', Ratri Ma'rifatun; Sartohadi, Junun; Mardiatno, Djati
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 21, No 2 (2019)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1077.81 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2019.21-2.905

Abstract

Model PTVA-4 perlu dikaji lebih lanjut untuk wilayah pesisir di Indonesia. Tujuan utama penelitian ini adalah menilai kerentanan bangunan terhadap tsunami menggunanan PTVA-4. Namun, diperlukan penyesuaian parameter dan atribut PTVA-4 sesuai dengan kondisi bangunan di kawasan wisata Batuhiu. Model genangan tsunami dibuat dengan menggunakan formula Hawke?s Bay. Interpretasi foto udara dan survei lapangan dilakukan untuk mendapatkan infromasi karakteristik bangunan. Model PTVA-4 diterapkan dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil yang didapatkan adalah mayoritas bangunan di pesisir Batuhiu terklasifikasikan kerentanan tinggi (51 bangunan) dan kerentanan sedang (41 bangunan) dari total 180 bangunan. Sebanyak 88 bangunan terklasifikasikan kerentanan rendah karena berlokasi jauh dari pantai dan juga dihalangi oleh sebuah bukit kecil. Parameter yang memerlukan penyesuaian adalah material bangunan dan kedalaman fondasi. 
Erosi Pantai, Ekosistem Hutan Bakau dan Adaptasi Masyarakat Terhadap Bencana Kerusakan Pantai Di negara Tropis (Coastal Erosion, Mangrove Ecosystems and Community Adaptation to Coastal Disasters in Tropical Countries) Akbar, Aji Ali; Sartohadi, Junun; Djohan, Tjut Sugandawaty; Ritohardoyo, Su
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 15, No 1 (2017): April 2017
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (808.806 KB) | DOI: 10.14710/jil.15.1.1-10

Abstract

ABSTRAK Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji terjadinya kerusakan lingkungan pantai di negara tropis dan sebagian negara subtropis akibat perilaku manusia. Perilaku manusia yang menyebabkan kerusakan lingkungan adalah memanfaatkan sumberdaya alam pesisir tanpa memperhatikan keberlanjutan sumber daya alam dan daya dukung lingkungannya. Kerusakan lingkungan pantai yang umum terjadi di negara tropis dan sebagian subtropis adalah erosi pantai dan degradasi ekosistem hutan bakau. Kerusakan lingkungan pantai ini akibat alih fungsi lahan menjadi jaringan jalan, permukiman, lahan pertanian/ perkebunan, pertambakan, dan pertambangan pasir. Kerusakan lingkungan pantai mempengaruhi kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat seperti hilangnya badan jalan, permukiman, lahan pertanian, dan fasilitas umum akibat abrasi pantai. Upaya penanggulangan kerusakan lingkungan pantai sebagai bagian dari adaptasi manusia mempertahankan kehidupannya berupa pembangunan pemecah gelombang (breakwaters) dan rehabilitasi ekosistem hutan bakau. Upaya penanggulangan bencana tersebut tentunya membutuhkan biaya yang besar dan waktu lama daripada upaya pencegahan. Oleh karena itu, perubahan pola pikir baik pemerintah dan masyarakat dalam memanfaatkan, mengelola dan melestarikan sumber daya alam perlu ditingkatkan melalui perbaikan informasi, ilmu pengetahuan, dan strategi perencanaan yang holistik.Kata kunci: erosi pantai, kerusakan ekosistem hutan bakau, alih fungsi lahan, pemecah gelombang, rehabilitasiABSTRACTThis paper aims to assess the coastal degradation in tropical and subtropical countries in part due to human behavior. Human behavior is causing coastal degradation is to utilize natural resources without regard to the sustainability of coastal natural resources and the carrying capacity of the environment. Degradation of coastal common in most tropical and subtropical countries are coastal erosion and degradation of mangrove ecosystems. This coastal degradation as a result of land conversion into roads, settlements, agricultural/ plantation, aquaculture, and sand mining. Coastal degradation affects the socio-economic conditions of local communities such as loss roads, settlements, land and public facilities as a result of coastal erosion. Efforts to cope to the coastal degradation as part of human adaptation to sustain life in the form of construction of breakwaters and rehabilitation of mangrove ecosystems. The disaster relief certainly require a plenty of cost and time than prevention. Therefore, changes in the mindset of both the government and the public in using, managing and conserving natural resources should be increased through improvement of information, knowledge, and holistic planning strategies.Keywords: coastal erosion, mangrove ecosystem degradation, land use, breakwaters, rehabilitationCara sitasi: Akbar,A.,A., Sartohadi., J., Djohan, T.S. and Ritohardoyo, S. (2017). Erosi Pantai, Ekosistem Hutan Bakau dan Adaptasi Masyarakat Terhadap Bencana Kerusakan Pantai Di negara Tropis. Jurnal Ilmu Lingkungan,15(1),1-10, doi:10.14710/jil.15.1.1-10
The Development of Interpretataion Method For Remote Sensing Imagery In Determining The Candidate of Landslide In Leitimur Paninsula, Ambon Island Puturuhu, Ferad; Danoedoro, Projo; Sartohadi, Junun; Srihadmoko, Danang
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 15, No 1 (2017): April 2017
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1346.048 KB) | DOI: 10.14710/jil.15.1.20-34

Abstract

ABSTRAKPenginderaa jauh merupakan salah satu metode yang digunakan untuk menjawab permasalahan penelitian tentang teknologi perolehan data spasial dan sekaligus permasalahan kewilayahan serta manajemen sumber daya laha. Pemanfaatan metode penginderaan jauh untuk penelitian landslide dianataranya metode interpretasi citra secara visual dan digital.  Tujuan penelitian ini adalah membandingkan akurasi metode interpretasi dan menentukan lokasi kejadian landslide. Citra yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra Landsat 8, Quickbird dan SRTM. Metode yang digunakan untuk menentukan kandidat landslide adalah interpretasi visual berlapis, Interpretasi citra digital dengan NDVI, OBIA, Toposhape, dan kombinasi NDVI-OBIA, dan NDVI-OBIA-Toposhape. Penggunaan metode interpretasi kejadian landslide yang terbaik adalah interpretasi visual berlapis dengan presentase 90 %. Interpretasi digital dengan NDVI mempunyai ketelitian 47 %, OBIA ketelitiannya  45 %, Toposhape 47 %, kombinasi NDVI-OBIA 47 %, dan Kombinasi NDVI-OBIA-Toposhape 53 %. Dari interpretasi visual berlapis dan pengamatan lapangan diperoleh tipe landslide yang ditemukan yaitu nendatan/slump (soil rotational slide) dalam jumlah yang banyak 7 titik (38.9%), rayapan tanah (soil creep),  aliran bahan rombakan (debris flow), longsor translasi dengan material tanah (earths Slide), dan  nendatan majemuk (multiple rotational slide).Kata kunci: Pengembanga, Metode, Interpretasi Citra, Penginderaan Jauh, Kandidat,    Landslide, Paninsula LeitimurABSTRACTRemote sensing is one of the methods used to address the problem of research on spatial data acquisition technologies and is also acquiring the problems of territorial and land resource management. The utilization of remote sensing method for the landslide research is visual and digital imagery interpretation. The purpose of this study was to compare the accuracy of the method of interpretation and determine the location of the landslide event. The imagery that used in this study was Landsat 8, Quickbird and SRTM. The method that used to determine the candidate of landslide was the layered visual interpretation, digital imagery interpretation with NDVI, OBIA, Toposhape, and combination-OBIA NDVI and NDVI-OBIA-Toposhape. The use of the interpretation method for the landslide event is the best of layered-visual interpretation with a percentage of 90%. Digital interpretation with NDVI has a 47% of its accuracy, thoroughness OBIA 45%, Toposhape 47%, the combination of NDVI-OBIA 47%, and the combination of NDVI-OBIA-Toposhape 53%. From  the layered-visual interpretation and field observations were obtained type of landslide found that soil rotational slide in large quantities 7 points (38.9%), creep soil (soil creep), the flow of material destruction (debris flow), landslides translation with soil materials (earths slide) and multiple rotational slide.Keywords: Development, Method, Imagery Interpretation, Remote Sensing, Candidate of Landslide, Landslide and Leitimur JaizirahCitation: Puturuhu, F., Danoedoro, P., Sartohadi, J. and Srihadmoko, D. (2017). The Development of Interpretataion Method for Remote Sensing Imagery In Determining The Candidate of Landslide In Leitimur Paninsula, Ambon Island. Jurnal Ilmu Lingkungan, 15(1), 20-34, doi:10.14710/jil.15.1.20-34
The Dynamics of Flow Discharge and Suspension Flow Discharge in Volcano Watershed with Agroforestry Land Cover Hadini, La Ode; Sartohadi, Junun; Setiawan, Muhammad Anggri; Mardiatno, Djati
Civil and Environmental Science Journal (CIVENSE) Vol 4, No 2 (2021): IN PRESS
Publisher : Fakultas Teknik UB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The suspension flow from the upper part of a volcano watershed, which has a very thick soil condition, is sensitive to landuse form. Agroforestry is the dominant landuse form in the volcanic landscape of Indonesia. There is a lack of detailed studies about suspension flow in the upper watershed where agroforestry is the land cover. This research, performed in agroforestry area, covered the correspondence between flow discharge and suspension flow discharge, the time lag of initial rain events and the formation of suspension flow; and the characteristics of the grain size of the suspensions during the flow. The suspension flow was measured at the outlet of a gully in key watershed areas, which yielded a total of 436 suspension data. The measurement analysis was conducted at every rain event in the field and in the laboratory. The crop characteristics in the rain catchment area were recorded in details during the field survey. The characteristics of the channels converging toward the gully system were observed during the field survey. There were three relationship patterns between the peak flow discharge and the peak suspension discharge, namely (1) the peak flow discharge corresponded to the peak suspension discharge, (2) the peak flow discharge preceded the peak suspension discharge, (3) the peak flow discharge occurred after the peak suspension discharge. The average time interval between the rain events and the occurrence of suspension flow was 17.7 minutes. The peak suspension content varied from 0.0016 g/L up to 4.71 g/L with an average of 1.03 g/L. The grain size of the suspension was dominated by 71-76% of clay fraction with an average of 73% at the rising phase and 68-71% of clay fraction with an average of 69% at the falling stage.
Analisis Karakteristik Sosial Ekonomi Petani Lahan Gambut di Kabupaten Barito Kuala Khairisa, Noor Husna; Sartohadi, Junun; Setiawan, M.Anggri
JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi) Vol 5, No 1 (2021): JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jagat.v5i1.17857

Abstract

Abstrak: Pertambahan jumlah penduduk, peningkatan kebutuhan, perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan diikuti dengan perkembangan usaha peningkatan kesejahteraan penduduk mengakibatkan pemusatan perhatian lebih kepada fungsi sosial ekonomi dan pemanfaatan lahan gambut dibandingkan dengan fungsi ekologinya. Masyarakat lahan gambut pada umumnya bekerja sebagai petani yang merupakan pekerjaan yang diwariskan secara turun temurun sejak awal penggunaannya. Lahan gambut di Kabupaten Barito Kuala dominan digunakan sebagai lahan pertanian padi, perkebunan karet dan perkebunan kelapa sawit dengan jumlah penduduk yang bekerja pada sektor pertanian sebanyak 18.023 jiwa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik sosial ekonomi petani yang menggunakan lahan gambut untuk pertanian di Kabupaten Barito Kuala. Penelitian ini menggunakan metode survei. Sampel penelitian ditentukan dengan menggunakan Accidential Sampling. Metode deskriptif kuantitatif digunakan untuk menganalisis sosial ekonomi data petani yang dibagi menjadi 3 kelas data berdasarkan komoditas yang dominan diusahakan, yaitu padi, karet dan kelapa sawit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman usaha tani yang paling lama dimiliki oleh petani padi. Umur petani pada ketiga komoditas yang diusahakan adalah 45-59 tahun, anggota keluarga petani berkisar antara 2-6 orang. Petani memiliki tingkat pendidikan yang rendah, terutama petani padi, mereka dominan bahkan tidak lulus Sekolah Dasar (SD). Luas kepemilikan lahan adalah sedang (0,5 - 1 ha) dan luas (>1 ha). Semua petani memiliki pendapatan rendah (< 1.500.000 Rupiah), sehingga petani perlu memiliki pekerjaan tambahan entah yang masih dalam maupun diluar sektor pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kontribusi pendapatan dari pekerjaan lain pada keseluruhan pendapatan petani adalah sebesar 70% - 91%. Kata kunci: Petani, Lahan Gambut, Sosial-Ekonomi, Pertanian
Perhitungan Volume dan Karakterisasi Material Endapan Erupsi Gunungapi Kelud Tahun 2014, di Sungai Bladak Bagian Hulu Dengan Metode Geofisika Anastasia Neni Candra Purnamasari; Junun Sartohadi; Wahyudi Wahyudi
Majalah Geografi Indonesia Vol 29, No 2 (2015): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2011.109 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13111

Abstract

ABSTRAK Erupsi Gunungapi Kelud pada 13 Februari 2014 menghasilkan material endapan di hulu Sungai Bladak dalam jumlah yang sangat besar.Endapan hasil erupsi yang terdapat di hulu sungai berpotensi sebagai material lahar bagi wilayah di hilir.Upaya mitigasi untuk mengurangi bencana banjir lahar memerlukan informasi volume material endapan. Selain itu, informasi karakteristik fisik material endapan juga penting untuk pemanfaatannya bagi masyarakat. Penelitian untuk mengetahui volume material endapan dilakukan dengan menggunakan metode geofisika pada pengukuran ketebalan dari material endapan.Metode geofisika yang digunakan adalah metode mikroseismik dan metode seismik refraksi.Hasil yang didapatkan dari pengolahan data lapangan mikroseismik adalah nilai frekuensi natural (f0) dari setiap titik pengukuran mikroseismik. Hasil yang didapatkan dari pengolahan data lapangan seismik refraksi adalah kecepatan gelombang P dari material endapan, dimana kecepatan gelombang P akan diturunkan sehingga didapatkan kecepatan gelombang S. Kecepatan gelombang S akan digunakan untuk penghitungan ketebalan material endapan yang digabungkan dengan nilai frekuensi natural dengan rumus h=Vs/4f0. Berdasarkan ketebalan material endapan yang didapatkan dari hasil penghitungan setiap titik mikroseismik, kemudian dibuat kontur ketebalan material endapan dan dilakukan penghitungan volume material endapan. Karakterisasi material endapan dilakukan dengan cara menghitung persentase pumice dan nonpumice secara fisual menggunakan foto lapangan. Ketebalan endapan pumice di permukaan lahan dianalisis persebarannya menurut satuan-satuan lereng. Volume material endapan yang didapatkan dari hasil penelitian sebesar 27,6 juta m3. Hasil karakterisasi material diketahui bahwa pumice pada material endapan yang ada di hulu Sungai Bladak 91,82 % dan sisanya 7,18 % adalah nonpumice. Jumlah pumice yang sangat banyak tersebut merupakan sumberdaya alam yang bernilai ekonomi tinggi. Pumice dapat digunakansebagai bahan bangunan ringan, tembok kedap suara, dan juga dapat sebagai bahan penggosok kain jean/denim dan mungkin masih ada jenis pemanfaatan lainnya. Ketebalan endapan pumice tidak berkorelasi dengan satuan-satuan lereng permukaan lahan. ABSTRACT Kelud volcano had erupted on February, 13th2014, it produced a huge ammount of material at the upstream of Bladak River. That materials potentially to be material flood in downstream area. The mitigation efforts to minimize flood hazard require volume information of the materials at the upstream. Moreover, information of physical characteristics of the materials is valuable for people at the surrounding areas. Volume assessment and materials characteristics were carried out through field measurements. The volume assessment of materials was done by using geophysical methods to estimate sediment thickness. Kind of geophysical methods applied was microseismic method and seismic refraction. The results obtained from microseismic data processing was the value of natural frequency (f0) at each microseismic measurement point. The results obtained from seismic refraction data processing was the P wave velocity of sediment material, in which the P wave velocity will be derivatived to obtain the S wave velocity. The S wave velocity used for calculating the thickness of sediment combined with the value of natural frequency through the formula of h = Vs/4f0. The isopach line was produced through interpolation of sediment thickness measurement points. Later, the isopach lines were applied for volume assessment. Characterization of sediment material was done by calculating the percentage of pumice and non-pumice. The sediment material characterization data was processed manuallythrough field photoes analysis. The data processing result were then analyzed descriptively.Materials thickness of pumice in land surface was analyzed according to slope classes. The result of volume assessment of the sediment materials at the upper stream of Bladak River was 27.6 million m3. The sediment at the upper stream of Bladak River consisted of 91.8% of pumice material. The pumice materials might be valuable for local economical generator as those materials have serveral purposes, but should be investigated thoroughly through research. The community in the area surrounding of Bladak River may exploid the materials for building materials or lightweight concrete materials, abrasive cloth jean or denim, etc. There were no significant correlation between land surface slope with the thickness of materials in the upper river catchment of Bladak.
GEOMORFOLOGI TANAH DAS SERAYU JAWA TENGAH Junun Sartohadi
Majalah Geografi Indonesia Vol 18, No 2 (2004): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.121 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13273

Abstract

ABSTRAK Tujuan dari penyusunan tulisan ini adalah untuk membahas kondisi geomorfologi dengan tekanan pada persebaran satuan-satuan bentuklahan dalam kaitannya dengan persebaran satuan-satuan tanah yang mungkin terdapat padanya. Tulisan ini juga membahas mengenai proses-proses geomorfologi yang terjadi pada satuan-satuan bentuklahan-tanah yang ada di daerah penelitian. Metode yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah metode interpretasi citra Landsat ETM yang dilengkapi dengan pengecekan lapangan. Pengecekan lapangan dilakukan menurut jalur-jalur pengamatan yang dipilih dengan mempertimbangkan keragaman satuan bentuklahan-tanah dan kemudahan dijangkau. Pengungkapan data dan analisis pada tulisan ini dilakukan secara deskriptif. Pemahaman mengenai kondisi geomorfologi dengan menekankan pada proses geomorfologi yang membentuk satuan bentuklahan sangat bermanfaat untuk memahami pembentukan tanah setiap satuan bentuklahan yang ada di DAS Serayu. Untuk selanjutnya persebaran satuan-satuan tanah dapat dipahami melalui analisis geomorfologi untuk mendapatkan informasi mengenai asal bahan induk tanah dan morfodinamik bentuklahan. Pembentukan tanah dapat dipandang sebagai bagian integral dari proses geomorfologi (morfodinamik). Pembentukan tanah di daerah penelitian terkait erat dengan proses-proses erosi-sedimentasi, pelongsoran (gerakan massa), penggenangan, intrusi air laut (air asin), entisolisasi, dan kekeringan litologis.
PEMANFAATAN INFORMASI KERAWANAN GERAKAN MASSA UNTUK PENILAIAN KEMAMPUAN LAHAN DI SUB-DAS MAETAN, DAERAH ALIRAN SUNGAI LUK ULA JAWA TENGAH Junun Sartohadi
Majalah Geografi Indonesia Vol 19, No 1 (2005): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.427 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13286

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bermaksud mengkaji pemanfaatan inform as! kerawanan gerakan massa untuk penilaian kemampuan lahan. Secara rind penelitian ini bertujuan untuk: (I) mengkaji kondisi geomorfologi-tanah daerah penelitian, (2) mengkaji tingkat kerawanan gerakan massa di daerah penelitian, (3) melakukan evaluasi kemampuan lahan daerah penelitian, dan (4) memberikan rekomendasi bentuk penggunaan lahan yang sesuai.Metode yang diterapkan dalam penelitian ini disusun dengan menggunakan pendekatan geomorfologi-tanah. Satuan bentuklahan-tanah dijadikan dasar sebagai satuan evaluasi tingkat kerawanan gerakan massa dan kemampuan Iahan di daerah penelitian. Penelitian ini menerapkan teknik penginderaanjauh dan SIG untuk memudalikan dalam melakukan analisis morfologi, molfoarrangement, dan marfob-onalogi satuan bentuklahan-tanah yang ada di daerah penelitian. Tingkat kerawanan gerakan massa ditentukan berdasarkan teknik pembobotan dan pengharkatan (skoring). Evaluasi kemampuan lahan dilakukan dengan menerapkan metode matching menurut kriteria Arsyad (2000) yang dimodifikasi dengan memanfaatkan data tingkat kerawanan gerakan massy. Bentuk penggunaan lahan beserta teknik konservasi yang sesuai di daerah penelitian dirumuskan berdasarkan pendekatan teoritis untuk tujuan pengendalian erosi dan gerakan massa.Berdasarkan penerapan kriteria klasifikasi kemampuan lahan menurut Arsyad (2000) daerah penelitian mempunyai klas kemampuan lahan II, III, IV, VI, VII, dan VIII. Jika kriteria klasifilcasi Arsyad (2000) ditambah dengan gerakan massa, maka kemampuan lahan di Sub DAS Maetan berkisar dart klas VI hingga klas VIII. Bentuk penggunaan lahan untuk usaha pertanian tanaman padi adalah kurang sesuai di daerah penelitian. Penerapan teknik konservasi secara mekanik dengan (eras juga kurang sesuai karena telah terbulai meningkatkan kerawanan gerakan massa. Penggunaan lahan untuk usaha penggembalaan adalah yang disarankan agar pemanfaatan lahan di daerah penelitian dapat lestari. Lahan penggembalaan perlu dikombinasikan dengan teknik konservasi secara mekanik berupa sistem drainase menuruni lereng.
Membangun Metode Identifikasi Longsor Berbasis Foto Udara Format Kecil di DAS Bompon, Magelang, Jawa Tengah Heni Masruroh; Junun Sartohadi; Anggri Setiawan
Majalah Geografi Indonesia Vol 30, No 2 (2016): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4541.735 KB) | DOI: 10.22146/mgi.15640

Abstract

Co-Authors . Awaluddin, . Adhera Sukmawijaya Adhitama, Adib Prima Aditya Saputra Afid Nurkholis Ahmad Priyo Sambodo Ahmad Syukron Prasaja Ajun Prayitno Akbar, Aji Ali Amir Noviyanto Anastasia Neni Candra Purnamasari Andi Sungkowo Andi Syahputra Andri Kurniawan Anggri Setiawan Anggri Setiawan Ardila Yananto Awaluddin Azwar Maas Christanto, Nugroho Christanto, Nugroho Christopher Gomez Christopher Gomez Christopher Gomez, Christopher D Daryono Danang Sri Hadmoko Danang Sri Hadmoko Danang Sri Hadmoko Danang Sri Hadmoko Daryono, D Dema Azmir Hatta Didik Indradewa Didik Indradewa Djarot Sadharto Djarot Sadharto, Djarot Djati Mardiatno Djati Mardiatno Djati Mardiatno Dyah R. Hizbaron Dyah Rahmawati Hizbaron Edhi Martono Edhi Martono Ekha Yogafanny Erika Galih Ayu Priyawati Ernitha Panjaitan Erny Wibawanti Estuning Tyas Wulan Mei Fathia Lutfiananda Ferad Puturuhu Franck Lavigne Franck Lavigne, Franck Hairil Adzulyatno Hadini Harlin Jennie Pulungan, Nur Ainun Hartanti Hartanti Hero Marhaento Hero Marhaento, Hero Hizbaron, Dyah R. Hizbaron, Dyah R. Ihsan, Haikal Muhammad Jetten, Victor G Junita Saragih Junita Saragih, Junita Khairisa, Noor Husna Kuswaji Dwi Priyono Lies Rahayu M Pramono Hadi, M Pramono M. Anggri Setiawan Makruf Nurudin Maola Maqdan Maria E. I. Shrestha Marshanda Sasmita Putri Masruroh, Heni Maulana, Edwin Meiarti, Rini Mohammad Kholid Ridwan Mohammad Pramono Hadi Mr. Suwarno, Mr. Mudrajat Kuncoro Muhammad Anggri Setiawan Muhammad Anggri Setiawan Muhammad Anggri Setiawan Muhammad Anggri Setyawan Nehren, Udo Ngadisih Ngadisih Ngadisih Ngadisih Nisaa', Ratri Ma'rifatun Nugroho Crhristanto Nurul Hidayati Nurwihastuti, Dwi Wahyuni Pertiwi, Rianita Praharto, YB Pramasti Dyah Nhindyasari Projo Danoedoro Pulungan, Nur Ainun Harlin Jennie Punuf, Defritus Aldrin Puspita Indra Wardhani R. Rijanta Ratri Ma&#039;rifatun Nisaa&#039; Retnadi Heru Jatmiko Rimawan Pradiptyo Rina Purwaningsih Rina Purwaningsih, Rina Rini Meiarti Rosalina Kumalawati S Sudibyakto S Sunarto Saidah Istiqomah Samodra Wibawa Samodra Wibawa Samodra, Guruh Santika Purwitaningsih Seftiawan Samsu Rijal Seftiawan Samsu Rijal Setiawan, Anggri Setiawan, M Anggri Setiawan, M. Anggri Setiawan, M.Anggri Setiawan, Muhammad Anggri Setiawan, Muhammad Anggri Seto, Toshikazu Setyawan, Muhammad Anggri Shrestha, Dhruba Phika Shrestha, Druba Phika Shrestha, Maria E. I. Su Ritohardoyo Sudibyakto, S Sunarto Sunarto Sunarto Sunarto Sunarto Sunarto Sunarto, S Surya Sabda Nugraha Suryanto Susatio, Raja Suwarno Suwarno Syarifah Aini Dalimunthe Syarifah Aini Dalimunthe, Syarifah Aini Tjut Sugandawaty Djohan Toshikazu Seto Trida Ridho Fariz Tris Sugiarto Tris Sugiarto Victor Jetten, Victor Wahyu Wardhana Wahyu Wilopo Wahyudi Wahyudi Waode Asryanti Wida Yeni Astuti, Yeni Yoga Darmajati