Claim Missing Document
Check
Articles

Sampul JSS Vol 7 No 5 Edisi Oktober 2024 Satriadi, Trisnu
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 5 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 5 Edisi Oktober 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i5.13966

Abstract

Produksi Madu dan Identifikasi Tumbuhan Sumber Pakan Lebah Kelulut Heterotrigona itama pada Meliponikultur di Desa Padang Panjang Kamilya, Siti Rezqina; Kadarsah, Anang; Satriadi, Trisnu
Jurnal Natural Scientiae Vol 4, No 2 (2024): November 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jns.v4i2.12852

Abstract

-Produksi madu adalah jumlah madu yang dihasilkan lebah. Produksi madu oleh lebah kelulut Heterotrigona itama sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sumber makanan. Sumber makanan lebah H.itama adalah nektar, serbuk sari dan resin pada tumbuhan. Salah satu budidaya lebah kelulut H.itama atau meliponikultur di Kalimantan Selatan terdapat di Desa Padang Panjang, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis jenis tanaman sumber makanan lebah kelulut, mengetahui produksi madu, dan mendeskripsikan kondisi lingkungan meliputi suhu, kelembaban dan kecepatan angin pada budidaya meliponi di Desa Padang Panjang. Prosedur penelitian dibagi menjadi tiga, yaitu 1) menganalisis tanaman sumber makanan lebah kelulut H.itama dengan menggunakan kombinasi metode purposive sampling dan nesting plot, 2) menghitung produksi madu lebah kelulut H.itama dan 3) mendeskripsikan kondisi lingkungan termasuk suhu , kelembaban, dan kecepatan angin dalam budidaya meliponi di Desa Padang Panjang. Tanaman sumber makanan lebah H.itama pada budidaya meliponi di Desa Padang Panjang berjumlah 20 jenis tanaman dari 16 famili. Produksi madu lebah H.itama pada budidaya meliponi di Desa Padang Panjang pada bulan Oktober 2023, November 2023, Desember 2023 dan Januari 2024 berkisar antara 49,6 ml/stup sampai dengan 136,7 ml/stup. Kondisi lingkungan di lokasi penelitian untuk suhu, kelembaban udara, dan kecepatan angin masing-masing sebesar 28,3-31,9ºC, 65-70%, dan 4,4-5,7 mph.
Struktur Koloni Dan Bentuk Sarang Lebah Kelulut Heterotrigona itama Mendukung Praktik Meliponikultur Berkelanjutan Di Desa Padang Panjang Ulanda, Novilia; Kadarsah, Anang; Satriadi, Trisnu
Jurnal Natural Scientiae Vol 4, No 2 (2024): November 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jns.v4i2.12854

Abstract

Penelitian ini menganalisis struktur koloni dan bentuk sarang lebah kelulutHeterotrigona itama untuk mendukung praktik meliponikultur berkelanjutan di Desa PadangPanjang, Kabupaten Banjar. Sampel lebah diambil dari kebun karet dan cempedak kemudiandiawetkan. Struktur koloni dianalisis berdasarkan parameter warna, sifat fisik, jumlah koloni,serta aktivitas keluar masuk sarang. Pengamatan dilakukan pukul 10.00–11.00. Aktivitas keluarmasuk lebah banyak didapati di kebun cempedak. Pintu masuk berbentuk corong di kebun karetdengan diameter ±3,1 cm lebih besar dibandingkan di kebun cempedak sekitar ±0,6 cm. Rata-ratapanjang corong di kebun karet adalah ±4,3 cm, lebih panjang dibandingkan di kebun cempedak±2,6 cm. Warna corong umumnya kuning kecoklatan 60% di kebun cempedak. Jumlah pot madudi kebun karet sebanyak ±25 pot, lebih banyak dibandingkan kebun cempedak. Volume pot madudi kebun karet ±4,1 ml/pot, lebih sedikit dibanding kebun cempedak. Volume log berbentuksilinder di kebun karet ±7,8 liter, lebih rendah dibandingkan di kebun cempedak. Rata-rata volume ukuran topping adalah ±11,2 liter di kebun karet, lebih besar dibanding di kebun cempedak. Rata-rata jarak sarang dari sumber air di kebun karet 10,4 m lebih jauh dibanding kebun cempedak sekitar ±9,4 m. Struktur koloni lebah H.itama sangat kompleks dan dinamis. Mereka hidup dalam kelompok, dengan masing-masing memainkan peran yang berbeda dalam produksi madu dan propolis.
ANALISIS GENDER PADA PENGELOLAAN HUTAN OLEH MASYARAKAT DAYAK MERATUS (Studi Kasus di Desa Loklahung Kecamatan Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan) Raudhah, Raudhah; Satriadi, Trisnu; Hafianor, Hafizianor
Jurnal Hutan Tropis Vol 13, No 1 (2025): Jurnal Hutan Tropis Volume 13 Nomer 1 Edisi Maret 2025
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v13i1.22182

Abstract

The modern era now opens up wide and open opportunities for women to develop their potential in all fields to the maximum, of course it has shifted the role of women from previously only domestic roles to now expanding to public roles. The role og managing forests, which was previously considered the job of men only, has now changed, evenone the who led Ministry of Forestry in regulating all forestry and environmental policies during the two terms of President Jokowi’s administration was a women. The role of managing forests is not only carried out by men but also women, this is even provenby the many successes of women in managing forests. Based on 2015 KLHK data, Mollo women in Fatumnasi Village, NTT, women carried out a peaceful weaving movement to save the environment from the marble mining industry. Kenyan women have also, throught the greenbelt movement, since 1997 planted more than 40 million trees and employed 80.000 people in nurseries to ensure a sufficient stock of trees for reforestation and improving the women’s economy. Forest management in Loklahung village is carried out by the Dayak Meratus community, both men and women in the form of farming activities, cinnamon gardening, and haunting and gathering forest products. This research aims to analyze the role of women and men in decision making on forest activities in Loklahung Village, Loksado District, HSS Regency. The object of research is the Dayak Meratus Community of Loklahung Village whose activities are farming, cinnamon gardening, and haunting and gathering forest products. Based on the research results, the role of decision making in forest management activities (farming, cinnamon gardening, and haunting and gathering forest product), decision making in financial matters and decision making in social and domestic family activities, are predominantly decided jointly by husband and wife. Decision making on farming activities in forest management is 73,40% decided jointly by husband and wife, 11,70% decided by husband, and 14,09% is decided by wife. Decision making in cinnamon gardening activities was 62,82% decided jointly by husband and wife, 22,56% decided by husband, and 14.62% decided by wife. Decision making in hunting and gathering and forest products is 60% decided jointly by husband and wife, 26,44% is decided by husband, and 13,46% is decided by wife. Decision making in financial matters is 45,33% decided jointly by husband and wife, 14,84% is decided by husband and 39,83% decided by wife. Decision making in social and domestic family activities by husband is 45,33% decided jointly by husband and wife, 14,84% is decided by husband and 39,83% is decided by wife.     
KUALITAS TEH DAUN GAHARU (Aquilaria malaccensis) DARI GUNUNG LANGKARAS KABUPATEN TANAH LAUT Nihayah, Sofia; Satriadi, Trisnu; Sari, Noor Mirad
Jurnal Sylva Scienteae Vol 8, No 6 (2025): Jurnal Sylva Scienteae Vol 8 No 6 Edisi Desember 2025
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v8i6.17783

Abstract

Gaharu merupakan tanaman tahunan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Salah satu pemanfaatan tanaman ini adalah sebagai bahan baku pembuatan teh herbal. Teh gaharu sendiri dibuat dari olahan pucuk daun gaharu yang diproses menjadi minuman. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis kualitas teh yang dihasilkan berdasarkan parameter pengujian kadar air, pengujian kadar abu total dan uji organoleptik, (2) menganalisis tingkat kesukaan responden terhadap warna, rasa, dan aroma teh daun gaharu. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 3 perlakuan yaitu pada daun yang terletak di bagian pucuk, tengah, dan pangkal ranting dengan ulangan 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan A1 (daun bagian pucuk) : kadar air 8,69%, kadar abu total 5,63%, berwarna agak merah, tidak berasa dan tidak beraroma. A2 (daun bagian tengah) : kadar air 6,00%, kadar abu total 4,56%, berwarna merah, berasa khas gaharu dan tidak beraroma. A3 (daun bagian pangkal) : kadar air 7,15%, kadar abu total 3,66%, berwarna sangat merah, berasa khas gaharu dan tidak beraroma. Hasil pengujian tingkat kesukaan responden di ketahui bahwa teh daun gaharu daun bagian tengah adalah yang paling disukai oleh responden baik dari segi warna, rasa, dan aroma.
Evaluasi Indeks Vegetasi Merah Hijau Biru dari Citra UAV untuk Pemantauan Tutupan Tajuk pada Area Revegetasi Pascatambang Batubara di Kalimantan Selatan: Evaluation of Red Green Blue Vegetation Index (RGBVI) from UAV Imagery for Monitoring Canopy Cover in Post Coal Mining Revegetation Areas of South Kalimantan Noor Hadi, Wirawan; Satriadi, Trisnu
JURNAL HUTAN TROPIKA Vol 20 No 2 (2025): Volume 20 Nomor 2 Tahun 2025
Publisher : Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36873/jht.v20i2.23206

Abstract

The success of revegetation in post-coal mining areas is generally evaluated through manual field surveys, which are time-consuming, costly, and often subjective. This study offers an alternative quantitative approach using the Red-Green-Blue Vegetation Index (RGBVI) calculated from high-resolution drone imagery to monitor canopy cover in coal mine reclamation areas. The research was conducted on a 1-hectare reclamation site located in Tabalong District, South Kalimantan, Indonesia. UAV flights were carried out using a DJI Phantom 4 Pro at an altitude of 100 meters and analyzed with QGIS 3.34. Vegetation cover was classified using the RGBVI formula with a threshold value of 0.30 and validated through field measurements of canopy diameter. The results showed that canopy cover derived from image analysis reached 69%, while the ground check data indicated 75%, yielding an accuracy level of 92%. The RGBVI effectively distinguished between vegetated and non-vegetated areas and demonstrated a strong correlation with field data. These findings confirm that RGB drone imagery is a reliable, efficient, and low-cost ecological monitoring tool that supports the development of digital reclamation evaluation systems in tropical mining regions.
Pengelolaan dan pemanfaatan kemiri (Aleurites moluccana) di Kebun Hutan (Forest Garden) oleh masyarakat suku dayak meratus di desa Emil Baru Kecamatan Mantewe Agustino, Agustino; Abidin, Zainal; Satriadi, Trisnu
ULIN: Jurnal Hutan Tropis Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32522/ujht.v10i1.25870

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengelolaan dan pemanfaatan kemiri (Aleurites moluccana) sebagai hasil hutan bukan kayu (HHBK) dalam sistem kebun hutan yang dipraktikkan oleh masyarakat Dayak Meratus di Desa Emil Baru, Kecamatan Mantewe, Kalimantan Selatan. Data dianalisis menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk mengidentifikasi tahapan pengelolaan, pola pemanfaatan, dan kontribusi pendapatan rumah tangga. Penelitian ini menggunakan metode observasi lapangan, wawancara mendalam, serta teknik purposive sampling terhadap 10 orang petani kemiri aktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan kemiri dilakukan melalui tahapan yang beradaptasi dengan kearifan lokal, meliputi persiapan lahan dengan sistem tebas bakar terkendali, penggunaan sumber benih lokal, penanaman manual tanpa jarak tanam tetap, pemeliharaan minimal, serta pemanenan tradisional dengan cara mengumpulkan buah yang gugur secara alami. Kebun hutan yang dikelola memiliki luas lahan antara 2–6 ha dan telah diusahakan selama 6–13 tahun oleh petani berusia 35–52 tahun. Produksi kemiri berkisar antara 22–35 kg per rumah tangga per tahun, dengan rata-rata produksi sebesar 28,5 kg per rumah tangga dan frekuensi panen sekitar dua kali per tahun. Harga jual kemiri berada pada kisaran Rp17.500–Rp40.000 per kg. Produksi tersebut menghasilkan tambahan pendapatan rumah tangga sebesar Rp385.000–Rp1.400.000 per tahun, dengan rata-rata kontribusi pendapatan rumah tangga sebesar Rp1.116.000 per tahun. Kontribusi pendapatan kemiri terhadap total pendapatan rumah tangga mencapai 4,0–6,4%, dengan rata-rata kontribusi sebesar 5,4%. Secara ekologis, kebun hutan berbasis kemiri berperan dalam mendukung konservasi tanah, pemeliharaan keanekaragaman hayati, pengendalian erosi, serta stabilitas lanskap pada ekosistem pegunungan. Penelitian ini menegaskan pentingnya kebun hutan kemiri sebagai model pengelolaan HHBK berbasis kearifan lokal yang mendukung keberlanjutan ekosistem pegunungan.
Diversifikasi Produk Kolang-Kaling Sebagai Upaya Peningkatan Ekonomi Masyarakat KTH Padang Liwar Adistina Fitriani; Dina Naemah; Adi Rahmadi; Badaruddin; Mahrus Ariyadi; Trisnu Satriadi; Akhmad Yamani
Repong Damar: Jurnal Pengabdian Kehutanan dan Lingkungan Vol. 5 No. 1 (2026): June
Publisher : Magister of Forestry, Department of Forestry, Faculty of Agriculture, University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/rdj.v5i1.12917

Abstract

Kelompok Tani Hutan (KTH) Padang Liwar di Kecamatan Bajuin, Pleihari, memiliki potensi besar dalam produksi kolang-kaling. Namun, kendala rendahnya harga jual bahan mentah yang hanya berkisar Rp15.000/kg serta daya simpan yang sangat singkat, di mana produk mengalami kerusakan tekstur dan aroma hanya dalam waktu satu minggu. Pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan perekonomian anggota KTH melalui strategi diversifikasi produk dan perbaikan teknik pengemasan.Metode yang digunakan meliputi pelatihan intensif pengolahan kolang-kaling dengan penambahan variasi warna alami dan rasa buah-buahan untuk meningkatkan daya tarik konsumen, serta edukasi teknik pengemasan (packing) yang higienis. Hasil pengabdian menunjukkan adanya peningkatanpada nilai jual produk dengan harga Rp 10.000. pouch. Melalui diversifikasi rasa dan pewarnaan menarik, kolang-kaling yang telah dikemas mampu menarik minat pembeli lebih luas dibandingkan saat dijual mentah. Selain itu, inovasi pada proses pengolahan dan penyimpanan di suhu dingin (kulkas) terbukti efektif memperpanjang masa simpan produk hingga satu bulan tanpa mengalami kerusakan dari rasa dan warna. Kesimpulannya, program diversifikasi ini berhasil memberikan nilai tambah ekonomi dan menjadi solusi atas permasalahan daya simpan, sehingga mampu memperkuat ketahanan finansial anggota KTH Padang Liwar.
Perubahan Ekologis Pasca-Kebakaran di Kawasan Hutan Lindung Liang Anggang: Analisis Komprehensif tentang Kelangsungan Hidup Satwa dan Pemulihan Habitat Shiba, Yasinta Nur; Rama, Juli; Fithria, Abdi; Satriadi, Trisnu
ULIN: Jurnal Hutan Tropis Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32522/ujht.v10i1.19195

Abstract

Indonesia's peat swamp areas account for approximately 10.8% of the country's land area, with the Lianganggang Protected Forest in South Kalimantan being one of the key sites. Over-exploitation of peatlands leads to significant environmental impacts, such as forest fires, which alter forest structure and communities, thereby severely affecting wildlife populations. This study aims to evaluate the effects of forest and land fires on wildlife survival in the Lianganggang Protected Forest. Using a line transect observation method, both direct wildlife sightings and indirect signs such as footprints, feces, and sounds were monitored. The results revealed a notable decline in wildlife diversity, categorized into four types: birds, mammals, amphibians, and reptiles. In 2020, 40 bird species were observed, but only 15 remained by 2023. Mammal species dropped from 10 to 5, amphibians from 5 to 2, and reptiles from 5 to 3. These findings underscore the profound impact of forest fires on wildlife populations, highlighting the urgent need for effective conservation strategies to mitigate biodiversity loss.
UJI FITOKIMIA DAUN KAYU MANIS (Cinnamomum cassia) DARI GUNUNG LINTANG Ganjar Satria Andika S; Budi Sutiya; Trisnu Satriadi
Jurnal Sylva Scienteae Vol 8, No 3 (2025): Jurnal Sylva Scienteae Vol 8 No 3 Edisi Juni 2025
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v8i3.15921

Abstract

This research aims to determine the potential of chemical compounds contained in cinnamon (Cinnamomum cassia) by carrying out phytochemical tests. Analyze the phytochemical content of cinnamon leaves based on the position of the leaf, namely the tip/shoot, middle and base of the leaf. Analyzing the phytochemical content of cinnamon leaves based on location/land cover. This research was carried out for 2 months in the wood science laboratory of the Faculty of Forestry, Lambung Mangkurat University, Banjarbaru, South Kalimantan. The cinnamon leaf samples studied were taken from Gunung Lintang, Martadah village, Tambang Re district, Tanah Laut district, South Kalimantan. Test result data by giving a plus two sign (++) if it contains active chemical compounds (strong/sharp indication), giving a plus one sign (+) if it contains active chemical compounds (weak indication), not detected/not containing active chemical compounds in it will be marked with a minus (-), then analyzed descriptively. Tabulation of data from observations of phytochemical tests on cinnamon leaves which observed flavonoids, saponins, quinones, tannins, steroids, triterpenoids, alkaloids. The research results show that cinnamon that grows under stands has phytochemical compounds in the leaves. The results of phytochemical tests on the leaves were characterized by the presence of saponin (+), quinone (-), steroid (+), alkaloid (+) compounds. The results of qualitative phytochemical tests on cinnamon leaves in the open were flavonoids (-), saponins (+), quinones (-), tannins (-), steroids (+), while the middle and base of the leaves indicated (++) triterpenoids (-), alkaloids in the shoot, middle and base are indicated (+).Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi senyawa kimia yang terkandung dalam kayu manis (Cinnamomum cassia) dengan melakukan uji fitokimia. Menganalisis kandungan fitokimia daun kayu manis berdasarkan kedudukan daun yakni ujung/pucuk, tengah dan pangkal daun. Menganalisis kandungan fitokimia daun kayu manis berdasarkan lokasi/tutupan lahan. Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan di laboratorium ilmu kayu Fakultas kehutanan Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru Kalimantan selatan. sampel daun kayu manis yang diteliti diambil dari gunung lintang, desa Martadah kecamatan Tambang ulang kabupaten Tanah laut Kalimantan selatan. Data hasil pengujian memberi tanda plus dua (++)terdapat kandungan senyawa kimia aktif di dalamnya (indikasi kuat/tajam), memberi tanda plus satu (+) apabila kandungan senyawa kimia aktif di dalamnya (indikasi lemah), tidak terdeteksi/tidak mengandung senyawa kimia aktif di dalamnya akan ditandai dengan minus (-), kemudian dianalisis secara deskriptif. Tabulasi data hasil pengamatan uji fitokimia daun kayu manis yang di amati flavonoid, saponin, quinon,tanin, steroid, triterpenoid, alkaloid. Hasil penelitian menunjukan bahwa kayu manis yang tumbuh di bawah tegakan memiliki senyawa fitokimia pada bagian daunya. Hasil uji fitokimia pada daun ditandai dengan adanya senyawa saponin (+), quinon (-), steroid (+), alkaloid (+). Hasil uji kualitatif fitokimia pada daun kayu manis di tempat terbuka flavonoid (-), saponin (+), quinon (-), tannin (-), steroid (+), sedangkan bagian tengah dan pangkal daun indikasi (++) triterpenoid (-), alkaloid bagian pucuk, tengah dan pangkal indikasi (+)
Co-Authors A.A. Ketut Agung Cahyawan W Abdi Fithria Abdi Fithria Adi Rahmadi Adistina Fitriani Agustino Agustino, Agustino Ahmad Jauhari Akhmad Rozami Syahru Alam Akhmad Yamani Alfin Chandra Anang Kadarsah, Anang Anggy Widya Firdaus Arfa Agustina Rezekiah Ayu Aulia Kurnia Putri Badaruddin Badaruddin Badaruddin Badaruddin Badaruddin Basir Achmad Budi Sutiya Damaris Payung Danang Biyatmoko Dany Prianto Nugroho Diana Ulfah Diana Ulfah Diana Ulfah Dina Naemah Dina Naemah Dina Naemah Dwi Rinda Maisarah Dyah Novita Sari Tarakanita Eko Suhartono Eny Dwi Pujawati Erika Septiani Theresia Evita Sari Fatriani Fatriani Fikri, Hendriannur Fitri Ramadhanti Ganjar Satria Andika S Gatot Subandono Gusti Abdul Rahmat Thamrin Hadi, Wirawan Noor Hafianor, Hafizianor Hafizianor Hafizianor Hamdani Fauzi Hanna Paramita Dewi Henny Arryati Iin Mariska Immanuel Jordan Hutabarat Indri Septika Tari Kamilya, Siti Rezqina Kissinger Kissinger Kurdiansyah Limbong, Melani Lusyiani Lusyiani Mahrus Ariyadi Mahrus Aryadi Mahrus Aryadi Mahrus Aryadi Marsela Angelica Maulana Malik Miftahul Hafiza Rahim Miftahul Jannah Mufidah Asy’ari Muhammad Dhuha Muhammad Faisal Mahdie Muhammad Hasbi Muhammad Humaidi Muhammad Mirza Muhammad Safi’i Muhammad Syaiful Anwar Nadilah Wahyuni Nafta Hazama Nihayah, Sofia Noor Mirad Sari Normela Rachmawati Nova Purwanti Parman Parman Rahmiyati Rahmiyati Rama, Juli Raudhah, Raudhah Rosidah - Saputra, Debi Imam Sarwani Abdan Setiani Rahma Pratiwi Setiani Rahma Pratiwi Shiba, Yasinta Nur Sika Handayani Barus Siti Hamidah Siti Hamidah Siti Hamidah Siti Hamidah Sofia Nihayah Susilawati Susilawati Susilawati Susilawati Syaifuddin Syaifuddin Syamani D. Ali Tampubolon, Waldy Samuel Payaman Thamrin, Gusti Abdul Rahmat Tommy Kimli Ulanda, Novilia Violet Burhanuddin Violet Violet Wiwin Tyas Istikowati Yalina Elsi Yazid Busthami Yuniarti Yuniarti Yuniarti Yuniarti Yusanto Nugroho Yusanto Nugroho Zainal Abidin Zainal Abidin